Chapter 15 : Cosmin, Darko and One Member of The Black Hawk
Note : Chapter ini hanyalah Chapter sampingan tentang Cosmin dan Darko yang mendapat misi dari salah satu anggota Guild Black Hawk. Settingnya menggunakan orang ketiga.
"Yo, Slask. Pagi-pagi udah lemes aja, nih? Kurang tidur, ya?"Kata Cosmin menyapa kawannya si Templar berambut coklat.
"Iya. Semalam aku bermimpi buruk. Ketika terbangun aku sudah mandi keringat." Jawab si Templar bernama Slask.
"Yasudah. Aku duluan, ya? Ada misi yang harus kuselesaikan." Kata Cosmin sambil berjalan pergi.
"Oke."
Meski jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Cosmin terlihat begitu bersemangat memulai hari. Tidak biasanya dia begitu bersemangat. Ada apa dengannya? Rupanya sebab mengapa Cosmin begitu bahagia karena hari ini dia akan mendapat misi yang ke 100 kalinya. Apabila dia sukses, Cosmin akan naik pangkat ke Aranel.
Sejauh ini catatannya cukup bagus. Semua misi yang sebelumnya dia terima berhasil dia tuntaskan termasuk ketika ditugaskan menjaga Istana Haram. 80% diantaranya diselesaikan dengan solo alias seorang diri. Luar Biasa untuk seorang yang biasa-biasa saja!
Cosmin berjalan menuju ruang administrasi. Sesampainya disana, dia menemui seorang petugas yang kebetulan adalah wanita. Sejatinya untuk mendapatkan kenaikan pangkat, tidak selalu berdasarkan berapa banyak misi yang bisa diselesaikan. Asal dia mendapat rekomendasi dari Race Manager, Archon, maupun orang-orang berpengaruh lainnya dia bisa naik pangkat.
"Selamat pagi." Sapa Cosmin masih dengan semangat pagi.
"Selamat pagi, prajurit! Ada yang bisa kubantu dihari yang cerah ini?" jawab petugas wanita itu tidak kalah semangat. Melihat itu, Cosmin tersenyum.
"Hahaha, kayanya kita sama-sama bersemangat, ya? Aku Cosmin Roty. Atas rekomendasi dari Chamtalion Nikola Yugovic, saya dicalonkan untuk naik jadi Aranel. Kira-kira apa ada misi yang bisa kukerjakan?" Tanya Cosmin to the point.
"Wah, persiapan untuk kenaikkan, ya? Ada sih, misi yang bisa kau ambil."Kata wanita itu sambil memberikan sebuah dokumen kepada Cosmin.
Cosmin membaca isi dokumen itu yang hanya -kira isi pesannya seperti ini:
"Silahkan temui Elrond Son Lee Hon."
"Note :Misi berantai. Hanya untuk yang serius. Terima kasih."
"Son Lee Hon? Kayanya aku pernah mendengar nama itu." Ucap Cosmin sambil menerawang keatas.
"Anggota Guild Black Hawk Mirai Kasanic."
Cosmin coba mengingat-ingat memori lampau diotaknya."Ah aku ingat sekarang. Dulu pernah join waktu misi Istana Haram. Kalo gak salah orangnya yang sipit-sipit itu, ya?"
"That's Right!"
Cosmin pun segera keluar dari ruang administrasi. Setelah itu dia berkeliling untuk mencari Elrond Son. Sesekali ia bertanya-tanya dengan orang-orang sekitar untuk mencari tahu keberadaannya.
"Son Lee Hon? Dia ada di Istana Numerus. Dari portal kau ambil kekanan tepat dipojokkan ada kantor kecil. Disanalah dia biasa bekerja." Kata salah seorang petugas.
"Oh begitu, makasih atas infonya." Ujar Cosmin sambil berjalan menuju portal markas.
"Sama-sama.''
Cosmin meneleportkan diri ke Istana Numerus. Setelah sampai, sesuai petunjuk Cosmin mengambil kearah kanan. Seperti ucapan petugas tadi, diujung sana terdapat sebuah kantor kecil yang sepertinya hanya untuk satu orang.
Tok! Tok! Tok!
"Silahkan masuk!" jawab seseorang didalam.
Ceklek!
"Permisi." Kata Cosmin setelah membuka pintu.
"Ya? Ada perlu apa datang kemari?" Tanya seorang pria yang tidak salah lagi adalah Elrond Son. Meski fisik Son lebih pendek, tidak membuat dirinya minder. Sebaliknya wajahnya tampak dingin plus mata sipit dengan tatapan tanpa rasa takut meski tahu didepannya Cosmin memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi.
"Saya ingin mengambil misi sesuai yang ada didokumen ini."Jawab Cosmin sambil menyerahkan dokumen ke Son.
Son membaca isi dokumen itu. Kemudian sambil menatap Cosmin dia berkata "Kau yakin ingin mengambil misi ini?"
"Sangat yakin, Elrond!" jawab Cosmin mantap.
"Misinya berantai, lho?" Son masih merasa sangsi.
"Saya pasti bisa." Cosmin teguh pada pendiriannya.
"Kata siapa?"
"Barusan saya bilang." Jawab Cosmin agak heran dengan pertanyaan Son.
"Kapan?" Son bertanya dengan muka bego tanpa dosa.
"5 menit yang lalu." Mulai ada asap menguap dari tubuh Cosmin.
"Begini. Karena ini misi berantai mungkin bakalan kelar sampai malam. Apa itu tidak mengganggu kesehatanmu? Mana tahu kau punya penyakit serius, ya 'kan?"Kata Son bertele-tele.
"Puji Decem. Saya ini masih sehat. Tidak ada satu pun penyakit ringan maupun berat yang bersarang ditubuhku. Segala resiko sudah siap saya tanggung lahir dan batin!" jawab Cosmin sambil menahan kesabaran.
"Masa?"
"iya!" Cosmin sambil mengangguk.
"Bodo'!"
Cosmin yang rada panas mulai kehilangan kesabarannya. Sambil menggebrak meja dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Son.
BRAK!
"BOS, ente dari tadi kok ngomong mulu, ya!? Ente niat gak sih ngasih misi!? Kalo gak niat mending bantu Race Manager aja, gih! Daripada kerja gak jelas Cuma ngomporin orang doang!"
"Woi, woi tenang dong. Jabatan Saya ini lebih tinggi derajatnya dari kamu." Kata Son sedikit gemeteran. Berbeda 180 derajat dengan tadi.
"Udah. Mending ente segera kasih ane misi! Jangan ngomong doang!"
"Lho, kalo gak ngomong gimana caranya saya ngasih tahu ke kamu? Masa pake bahasa isyarat? Hello?"
BRAK!
"HEH, ENTE KALO MASIH NGELUNJAK MENDING KITA RIBUT AJA DILUAR! MUMPUNG SEPI, NOH! BERANI, GAK?!" Cosmin meledakkan amarahnya saking keselnya mendengar ucapan Son.
"Oke, oke saya nyerah. Nih, dokumen misinya. Sono baca diluar." Son panik sambil naruh dokumen diatas meja.
Setelah amarahnya reda, Cosmin mengambil dokumennya. Setelah itu dia keluar tanpa sepatahpun ucapan keluar dari mulut Cosmin.
"Dasar jangkung. Mentang-mentang badan tinggi enak banget maen bentak-bentak orang. Aku kasih SP (Surat Peringatan) barutahu rasa, lu." Maki Son setelah Cosmin pergi dari ruangannya.
Lalu Son membereskan meja kerjanya yang tadi dipukul 2 kali oleh Cosmin. Sekilas senyuman kecil nampak tersungging dari mulutnya entah apa maksudnya.
.
.
.
"Oke mari kita buka apa isi amplop coklat ini?" kata Cosmin sambil membuka tali penutup amplop
Srett!
"Hm? Mengumpulkan kulit Villain Cannibal sebanyak 20 buah dan jika selesai segera kirim ke Elli Leeda? Gampang sekali." Cosmin melihat ada tulisan penjelasan dan ia membacanya.
"Dikenal sebagai bahan pembuat pakaian. Saingan berat kain sutra. Sangat bagus untuk bahan kelas atas. Wow sepertinya kalau dijual bakal sangat mahal, nih."
Tanpa membuang waktu Cosmin berjalan keluar Istana Numerus. Habitat Villain Cannibal ada di sekitar Numerus Highland. Cukup dekat dari pintu Istana Numerus sehingga Cosmin tidak perlu repot-repot mencari. Kebetulan hari ini suasana sepi jadi tidak perlu pusing-pusing rebutan lahan.
"Monster-monster ini sebenarnya kurang pas untuk sekedar pemanasan. Tapi tak apalah aku tidak sabar mengetes senjata baruku." Gumam Cosmin.
Cosmin melihat kumpulan Villain. Dia coba menghitung ada berapa jumlah yang terlihat.
"Jumlah terdekat ada 10 ekor. Siplah kalau begitu." Cosmin mengeluarkan pisau lempar dari inventorynya.
Setelah itu Cosmin mengaktifkan skill buffnya.
"Wild Rage!"
"Extend Rage!"
"Accuracy!"
"Bulls Eye!"
"Swiftness!"
Setelah buffnya aktif Cosmin berlari menghampiri salah satu Villain Cannibal. Lalu, ia melempar pisau lemparnya kearah Villain Cannibal.
"Pertama!"
Syungg! ZLEBB!
"GRAUU!"
"Kedua!"
Syungg! ZLEBB!
Agar misinya cepat selesai, Cosmin memakai strategi mob monster. Satu persatu dia serang monsternya dengan pisau lempar. Kini sepuluh Villain Cannibal mengincar Cosmin. Cosmin berlari mencari tempat aman. Lalu Cosmin mengganti senjatanya dengan Hora Axe.
"Sekarang waktunya kalian beraksi. Bantu aku, SI Hora Axe Special Edition!"
Setelah mengeluarkan kapaknya, Cosmin mengaktifkan buff andalannya.
"Super Lightweight!"
Lalu dikeluarkannya satu senjata lagi dari inventorynya. Senjata berbentuk pedang yang mirip Hora Sword.
"Kau juga bantu aku, Exotic Sonsane Sword!"
Rupanya Hora Sword itu adalah senjata tipe Exotic. Pedang itu lalu berubah warnanya yang tadi berwarna perak berganti jadi warna biru Kristal plus ditambah aura putih seperti salju. Perkiraan Cosmin suhu pedang ini adalah -10 derajat Celcius. Pedang yang sangat dingin. Sementara Hora Axe Special Editionnya mengeluarkan aura merah membara seperti api.
"Ayo kita mulai!"
Cosmin berlari kearah kerumunan monster dengan kecepata tinggi. Setelah itu dia melompat ke udara dan menukik ke bawah sambil menggunakan skillnya.
"HEAVY DEATH BLOW!"
DUARRR!
"GRAAUUU!"
Cukup satu serangan sepuluh Villain Cannibal berhasil dibunuhnya. Tapi Cosmin hanya menggunakan 20% tenaganya agar kulit Villain Cannibal tidak rusak parah. Setelah Villain Cannibalnya mati, Cosmin menguliti bangkai-bangkainya untuk diambil kulitnya. Sepuluh kulit sudah didapat tinggal setengahnya lagi Cosmin harus mendapatkannya.
"HEAVY TORNADO!"
WUNGG!
Jurus Tornado yang memakai dua senjata yang berbeda aura menghasilkan kombinasi warna merah dan putih seolah-olah seperti api dan es yang menyatu.
"Huft akhirnya selesai juga. Tidak sampai tiga puluh menit waktunya. Oke waktunya mengirim orderan." Cosmin balik ke Istana Numerus dan meneleportkan diri ke Markas Cora.
Dimarkas Cosmin segera mencari Elli Leeda yang kalau tidak salah adalah wanita pemilik toko armor. Setelah agak lama berkeliling Cosmin akhirnya menemukan sang penjaga toko yang sedang mengobrol dengan salah satu pembeli yang juga wanita.
"Selamat siang dengan nona Elli Leeda?" Tanya Cosmin sopan.
"Benar saya Elli Leeda. Ada apa, ya?"
"Ini saya membawakan pesanan anda. 20 buah kulit Villain Cannibal yang berharga."
Cosmin menyerahkan kulit itu ke Elli Leeda. Namun, Elli Leeda bukannya senang malah menatap bingung bin heran. Sekilas ia menatap pembeli wanitanya tadi dan wanita itu juga tak kalah herannya. Lalu mereka berdua sama-sama menatap Cosmin. Cosmin sendiri agak bingung dengan mereka berdua.
"Kenapa? Pesanannya salah, ya?" kata Cosmin polos.
"Pfft, AHAHAHAHAHA. ADUH-ADUH APAAN INI? INI MAH SAMPAH. MASIH ADA TOH YANG PERCAYA KALO NGUMPULIN GINIAN BISA JADI KAYA." Tawa Elli Leeda terbahak-bahak.
"Hah, maksudnya apa?"
"Aduh, mas-mas. Kalau lagi butuh uang bilang aja atuh. Pasti kukasih, kok. Sudah biasa juga ada yang minta uang sama aku. Gak usah bela-belain ngumpulin sampah beginian juga. Kasihan banget sih kamu. Kamu lagi putus asa, ya? HAHAHA!" kata Elli Leeda sambil diselingi tawa.
"Lho, saya Cuma menjalankan misi doang. Saya disuruh ngumpulin kulit Villain Cannibal jadi saya kerjakan. Kan katanya situ sendiri yang pesan." Bela Cosmin yang mulai keringet dingin menahan malu.
"Masa? Kata siapa? Saya gak pernah minta begituan. Kamunya kali mau aja ditipu orang."
"Eh, tahu gak, mas? Tadi juga ada lho orang yang ngumpulin sampah yang sama kaya mas sendiri. Pas dianya ngasih ke orang yang disangka kliennya, dia jadi bahan tertawaan juga satu Markas lho. Hati-hati, mas sekarang banyak aksi tipu-tipu bermodus cepat kaya." Timpal pelanggan Elli Leeda.
"Maksudnya saya ditipu gitu?" kata Cosmin Shock.
"Sudah pasti, !"
"Sialan bisa-bisanya ditipu gini. Awas aja tuh orang kalau ketemu akan kubuat babak belur nanti. Bangsat."
"Udah, mas. Gak usah marah-marah. Nanti darah tinggi, lho. Nih, saya kasih deh sedikit uang receh." Kata Elli Leeda sambil memberikan uang koin yang kalau dijumlahkan 100 ribu pun tidak sampai. Cosmin pun menerima pemberian Elli Leeda dengan muka melas.
.
.
.
Cosmin yang tidak mengerti permasalahan ini coba menuju ke Istana Numerus. Maksud Cosmin hanyalah meminta penjelasan tentang misi yang diterimanya. Dan orang yang pantas dimintai keterangan sudah pasti Elrond Son Lee Hon.
BRAKK!
"Boss, ente nipu saya, ya?" kata Cosmin sambil masuk tanpa ketok pintu.
"Nipu? Nipu apaan?" jawab Son tanpa dosa.
"Katanya suruh ngumpulin kulit Villain Canniball. Tapi pas item sudah didapat kok katanya dia ngaku gak pesan apa-apa? Saya sampai jadi bahan tertawaan, tahu!" kata Cosmin kesal sambil melempar dokumen misi tadi ke meja.
Saat Son hendak membaca dokumen Cosmin, tiba-tiba datang seorang pria mendobrak pintu sambil marah-marah.
BRAKK!
"WOI, APA-APAAN NIH!? MAU NIPU SAYA!? NGASIH MISI ENGGAK BENER GINI!?"
"Ini lagi. Si jangkung nomor 2." Keluh Son sambil melihat pria yang tidak lain adalah Darko Volkovic.
"Darko? Ngapain kau disini?" kata Cosmin heran.
"Lagi protes sama si blangsak ini! Bisa-bisanya dia menipuku! Ngaku-ngaku ada misi darurat suruh cari bahan obat. Pas sudah dapat langsung kukasih ke klien bukannya dapat bayaran malah dapat tertawaan satu markas disangka lagi butuh duit." Jawab Darko menunjuk Son "Kau sendiri ngapain ada disini?"
"Oh, jadi kau orang yang jadi bahan tertawaan satu markas itu? Sama kawan. Aku juga ditipu sama nih orang. Gara-gara dia harga diriku turun drastis. Habis dipermalukan didepan wanita."
"Oh, emang pantas dikasih pelajaran nih orang." Setelah berkata Darko langsung berjalan ke meja kerja Son. "Heh, Cepat jelasin maksud semua ini! Maksudnya apa kau ngerjain kami!? Kau mau ngerasain tangan juara dunia, hah!?" sambung Darko sambil meremaskan jari-jarinya.
Dilain pihak Son bukannya takut justru terlihat tenang-tenang saja. "Tangan juara dunia? Terus ane mesti bilang "WAU" gitu?" ujar Son sambil nyengir mamerin gigi putihnya.
Dapat jawaban begitu sudah pasti bikin Darko meradang dan pengen buru-buru nonjok nih orang. Untung saja Cosmin sigap menahan amarah Darko. "Sabar, bung. Coba kita dengerin dulu penjelasan dia."
Sebenarnya Cosmin juga pengen banget ngeratain muka si Son. Tapi pikiran bijak masih mendominasi dirinya sehingga dia tidak mudah terpancing emosi.
"Oke-oke saya jelaskan. Jujur saya sih Cuma pengen ngetes kalian aja. Pantas gak orang-orang kaya kalian naik jabatan? Jadi saya kasih kalian tes misi. Eh tahunya kalian mau-mau aja saya begoin. Pft hahahahha."
"Sialan. Bisaan aja dia bego-begoin kita." Tukas Cosmin.
"Kita? Kau aja sana yang bego. Aku sih ogah." Bantah Darko.
"Udah-udah cukup debatnya. Kali ini saya kasih misi yang asli. Kebetulan banget nih misi cocok dikerjakan dua orang." Ucap Son sambil mengeluarkan amplop coklat dari laci kerjanya.
"Gak bisa. Saya ogah ditipu lagi." Cosmin udah malas mikirin misi.
"Yang mau nipu juga siapa. Lihat dong diamplopnya ada stempel dan tanda tangan resmi. Sudah pasti asli dan gak tipu-tipu." Son coba menyakinkan mereka.
Darko awalnya ragu-ragu mengambil misi itu. Tapi dipikir-pikir kalau ada stempel dan tanda tangan pasti ini surat resmi. "Baik. Kami ambil misi ini. Tapi kalau kau nipu lagi jangan harap kau bisa lihat hari esok. Paham?"
"Terserah!" Son acuh tak acuh.
Cosmin yang masih agak ragu coba bertanya "Darko, kau yakin mau ambil? Kalau ditipu lagi gimana?"
"Gak akan. Stempel dan tanda tangan ini sudah cukup membuktikannya." Jawab Darko pede. Cosmin pun menghilangkan keraguan yang tadi dihinggapinya. Mereka berdua pun keluar dari ruangan Son.
Setelah mereka pergi, Son menggelengkan kepalanya sambil tawa-tawa sendiri. Namun, mendadak dada son terasa sakit.
"Ugh! Hoekkk! Ohok-ohok!"
Son memuntahkan darah dari mulutnya. Tanpa buang waktu dia membuka lemari mejanya dan mengambil sebuah botol. Lalu Son menuangkan isi botol itu yang ternyata adalah pil obat sebanyak sepuluh butir. Setelah itu Son meminum semuanya sekaligus.
GLUK! GLUK! GLUK!
"Ahhh."
Setelah meminum obat, Son kembali duduk untuk menenangkan pikirannya. Sambil membenamkan kepalanya dia bergumam "Waktuku masih panjang. Tambah dosis lagi mungkin menambah waktuku."
.
.
.
"Asli apa palsu tuh? Kalau sampai ketipu lagi ini bakal jadi sejarah kelam dalam hidupku. Gimana aku harus jelasin ke anak cucuku kelak?" ucap Cosmin bimbang melihat amplop yang dipegang Darko.
Tanpa menjawab pertanyaan Cosmin, Darko membuka isi amplop itu dan membaca isinya.
"Title : Monumen agung yang hidup"
"Isi : Seperti yang diketahui Bangsa Cora meyakini Thunder Lizard adalah monster agung kepercayaan Decem. Decem menciptakan monster tersebut untuk melatih bangsa Cora agar menjadi kuat dan siap terjun di medan perang. Barang siapa yang bisa mengalahkan Thunder Lizard, maka dia sah menjadi prajurit pembela Alliance."
"Misi : Kalahkan Thunder Lizard dan laporkan ke Rays Kadasha seorang utusan Novus dari planet Cora."
"Hmm, jadi kita disuruh membunuh Thunder Lizard hanya untuk mendapat pengakuan kalau kita sudah pantas membela Alliance? Menurutmu bagaimana, Cosmin?" Tanya Darko setelah membaca isi pesan.
"aku baru tahu kalau Thunder Lizard adalah monster agung Cora? Kok gak diajarin ya waktu diakademi?" sangsi Cosmin.
"Mungkin memang hal itu belum masuk kurikulum jadi tidak diajarkan. Udahlah kita cabut aja ke Beast Mountain."
Cosmin meski merasa ragu akhirnya menyetujuinya. Mereka berdua membeli portal scroll menuju Beast Mountain dan langsung meneleportkan diri. Setelah sampai mereka segera mencari keberadaan monster tersebut . Meski hujan terus mungguyur ditambah gangguan monster agresif, mereka pantang menyerah melewatinya. Setelah setengah jam melakukan pencarian mereka menemukan monster tersebut yang penampilannya mirip Lizard yang ada dimarkas. Hanya saja wujudnya lebih besar dan pastinya lebih galak. Mungkin disebabkan perbedaan habitat dan proses evolusi yang panjang.
"Tidak salah lagi itu monsternya. Ayo kita beraksi, Darko!" semangat Cosmin.
"Sip!"
Cosmin lebih dulu menyerang monster itu. Kuat memang tapi mereka tidak mau kalah. Wajar memang jika monster agung sangat kuat jadi mereka sudah memperkirakannya.
SRASHH! SRASHH!
"Sekarang, Darko!" perintah Cosmin.
Darko melakukan lompatan setinggi 15 meter. Setelah mendapat momentum, Darko menukik tajam sambil menghunuskan sepasang Marlin 001C-nya mengincar ubun-ubun Thunder Lizard.
"FALLING KNIFE!"
BRAKK! CRESSS!
Marlin 001C Darko sukses menusuk ubun-ubunnya hingga menembus dagu Thunder Lizard. Monster itupun mati dalam sekejap.
"Yes, misi selesai. Dengan ini tidak lama lagi kita akan naik jabatan. Hahahaha." Ucap Cosmin sambil tertawa.
"Ayo kita lekas pulang. Terlalu lama disini juga berbahaya. Accretia dan Bellato bisa saja ada didekat kita." Ujar Darko tak ingin buang-buang waktu.
"Oke."
Mereka pulang ke markas menggunakan scroll masing-masing. Dimarkas Cosmin dan Darko mencar Rays Kadasha untuk melapor.
"Selamat sore." Sapa Darko.
"Ya? Ada yang bisa kubantu?" tanya Rays Kadasha sopan.
"Kami berdua mau melapor tentang misi." Cosmin to the point.
"Misi? Misi apa, ya?" Rays Kadasha sedikit bingung.
Darko mengeluarkan amplop dokumen dari inventorinya. Sambil menyerahkan dia berkata "Kami telah menyelesaikan misi ini. Tertulis kalau untuk lulus ujian kami harus membunuh Thunder Lizard yang merupakan monumen hidup bangsa Cora."
Mendengar penjelasan Darko, Rays membaca isi surat itu. Tapi bukan pujian yang didapat, justru (lagi-lagi) tertawaan yang dikasih.
"Pft Ahahahaha! Aduh ada-ada aja. Thunder Lizard monumen hidup bangsa Cora? Yang benar aja, mas. Kita tuh gak punya yang namanya monument. Kalaupun ada ya pastinya bukan makhluk hidup. Hahahahha!"
"Lho, tapi bukannya ini dokumen misi yang resmi? Harusnya asli, dong. Lihat, nih ada cap stempel sama tanda tangannya." Darko coba berargumentasi.
"Stempel? Ini tuh cap stempel kuno. 100 tahun yang lalu. Gak mungkin dipakai lagi. Terus aduh, ini tuh tanda tangan siapa? Race Manager maupun para dewan-dewan Archon gak ada yang tanda tangannya kaya rumput kering begini. Ahahaha!" Rays menjelaskan sambil tertawa.
"Ah, yang benar?"
"Saya jauh lebih tahu dari kalian berdua. Kalian tuh masih anak kemarin sore. Tahu gak seminggu yang lalu ada juga lho prajurit yang dapat misi yang sama kayak kalian berdua. Endingnya? Dia jadi bahan ledekan satu markas dan sampai sekarang dia jadi gila. Ahhahhaha!"
"Wah, berarti kita kena tipu lagi, dong?"
"Gara-gara kau untuk yang kedua kalinya harga diriku jadi terjun bebas. Mau taruh dimana coba mukaku ini? Rusak sudah reputasiku." Protes Cosmin.
"Udah-udah gak usah ribut. Nih, kalian kuberi 2 medali emas. Itung-itung kalian sanggup mengalahkan Thunder Lizard. Jarang sekali prajurit seusia kalian yang bisa bunuh monster Beast Mountain." Hibur Rays sembari kasih dua medali emas.
Meski mendapat hadiah hiburan, tidak membuat Cosmin dan Darko adem. Tanpa ba bi bu mereka bergegas ke kantor Son. Kesal? Sudah pasti. Siapa juga yang gak kesal dan malu setelah dua kali dikerjain oleh orang yang sama? Ibarat kata seperti jatuh dilubang yang sama.
GEDUBRAK!
"WOI, MAKSUDMU APAAN LAGI, NIH!? BILANGNYA MISI RESMI TAHUNYA CUMA MISI BODONG! MAU KUBUNUH, HAH!?" teriak Darko berapi-api.
"GAK TAHU DIRI! MATI AJA KAU!" Cosmin juga kesal setengah mati.
Son yang sedang mengelap senjata tampak terlihat (lagi-lagi) santai-santai saja.
"Gimana rasanya?" hanya itu yang terucap dari mulut Son.
"MAKSUDMU APA, HAH!?" jawab Darko.
"Dua kali datang dua kali juga kena tipu. Entah emang bego atau emang udah begitu dari sananya? Mau aja jadi bahan tertawaan. Mungkin kalian ada bakat jadi pelawak. Hahahaha!" ucap Son sambil tertawa.
Darko yang dari tadi pengen banget nabok orang langsung mencengkram kerah Son.
"Wow, wow. Inget aku lebih tinggi derajatnya dari kau. Mau macam-macam kau bisa kupulangkan ke Planet Cora." Ancam Son.
Darko pun mengendurkan cengkramannya.
"Oke. Seperti semula alasanku memberi misi ini sama seperti sebelumnya. Ingin mengetes kecerdasan kalian. Tapi yang kulihat ternyata… pft.. kalian.." Son nyaris meledakkan tawanya tapi urung setelah Cosmin dan Darko menatap tajam.
"Tapi setidaknya kalian memang benar-benar kuat. Jadi kuputuskan kalian sudah siap naik jabatan jadi Aranel." Son berkata sembari memberikan 2 buah surat pernyataan. Mereka menerima surat tersebut. Amarah mereka sudah mulai reda.
"Silahkan beri surat itu ke Race Manager Quaine Khan." Tambahnya.
Mereka segera menuju pintu untuk pergi. Namun, tiba-tiba Son memanggil mereka.
"Ah, tunggu. Ada yang ingin kuberikan."
Son memberikan mereka 2 buah Armor Card Bone Set dan Azl Raiment Set.
"Tukarkan ke Rays Kadasha. Kalian akan dapat Armor baru sesuai class kalian."
Cosmin menatap Son yang sedang mengelap senjata berupa pedang dan busur panah. Keduanya terlihat bagus dan sepertinya mahal.
"Senjatanya enggak?" Tanya Cosmin. Darko juga melihat busur itu.
"Ini? Gak bisa. Enak aja! Punya orang, nih. Ngimpi aja kalian mau punya ini." Balas Son.
Cosmin dan Darko kembali panas dengar perkataannya. Tapi mereka urungkan toh mereka setidaknya sudah dapat hadiah sebelumnya.
.
.
.
Ruang Pemimpin Bangsa
"Dengan ini kalian kunyatakan sah menjadi Aranel." Kata Quaine Khan.
Cosmin dan Darko terlihat senang dengan kenaikkan pangkatnya. Setidaknya ini bisa menambah semangat untuk mengabdi kepada Alliance.
"Terima kasih, Yang Mulia. Kalau begitu kami permisi dulu." Kata Cosmin.
"Silahkan. Jadilah prajurit harapan Alliance."
Cosmin dan Darko sudah resmi jadi Aranel. Hari sudah malam dan mereka memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing. Esok mereka ditugaskan pergi ke Elan untuk menyelidiki adanya pancaran energy misterius. Itu artinya mereka akan bertemu dengan Slask.
.
.
.
Sementara itu di Numerus, Son terbaring dilantai dengan posisi miring. Matanya terpejam dan diwajahnya terlihat dia tersenyum bahagia. Ditangan kanannya dia memegang sebuah botol yang kemungkinan adalah obatnya. Terbaring sendirian tanpa ada yang menemani dimalam yang semakin dingin ini.
To Be Continued.
"But at least you are really strong. So, I decided you are ready to move up to Aranel." (Son Lee Hon in Chapter 15).
Hari ini Chapter 15 berhasil diselesaikan. Mungkin hanya saya saja yang terlambat mengupdate cerita. Tapi setidaknya saya membuktikan kalau saya masih lanjut membuat cerita. Chapter ini terinspirasi author setelah memainkan Cabal Online (yang menjadi crossover Under Attack). Char author memang dikerjain oleh NPC sampai membuat saya sedikit kesal tapi kalau dipikir-pikir lucu juga soalnya jarang ada game yang mana NPC-nya benar-benar nyeleneh. Spesial juga karena saya memasukkan char yang lama tidak muncul kembali yakni Son Lee Hon. Berikut biodatanya:
Nama : Son Lee Hon
Hangul : 아들 리 혼
Nickname : Son
Usia : 26 tahun
Klan : Lee
Pangkat dan Job : Elrond Grazier
Guild : Black Hawk
Info singkat : Merupakan anggota terakhir klan Lee yang memiliki ciri-ciri berkulit kuning langsat dan bermata sipit. Anggota pendahulu dikabarkan telah musnah akibat serangan wabah penyakit ebola dan cacar di Crag Mine. Kerja sampingannya adalah pembalap sepeda dengan brand Akayama RF Enduro series.
Oke chapter kedepan kita kembali bertemu Slask dan kawan-kawan. Terima kasih sudah menbaca dan mereview cerita saya. Selamat Hari Raya Kemerdekaan RI yang ke-70. Semoga kelak Negara kita bisa bersaing dengan Negara yang sudah maju dan menjadi macan dunia bersanding dengan yang lainnya.
Salam
Slask Wroclaw Wizarski
