Chapter 16 : The First Time I Killed Another Race

Disclaimer : RF Online by CCR and Cabal online by ESTsoft

Bellato Headquarter, 06:30 A.M.

Suasana pagi dimarkas Bellato terlihat masih sepi. Hanya terlihat beberapa prajurit yang berlalu lalang sepanjang area markas. Tidak terkecuali seorang pemuda berambut hitam bernama Lech. Lech saat ini sedang mengecek beberapa perlengkapan sebelum berangkat ke Elan.

"Potion siap. Pedang baru oke. Intense Scale Sword juga masih bagus. Lumayan buat jaga-jaga. Armor Berserker set SE juga siap sedia. Hehehe lumayan dapet armor gratis lagi." Gumam Lech.

Setelah merasa yakin dengan persiapannya, Lech membeli portal scroll Pit-Boss Elan. Setelah itu dia menteleportkan diri menuju Elan.

Elan Field, 07 : 00 A.M.

Pagi ini misiku untuk menyelidiki energi Elan akan kulanjutkan. Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Kurasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk berangkat. Setidaknya jika barangkat sekarang kemungkinan bertemu bangsa lain sangat kecil. Dengan Stealth Potion, akupun berangkat menyusuri jalan setapak Elan menuju tempat yang sama seperti kemarin, Lazhuwardian Agora.

Sementara aku berangkat seorang diri. Sedangkan teman-temanku akan menyusul datang sesuai tempat yang kuberitahu. Sonsane dan Celica kemungkinan akan datang lebih siang karena mereka mau mengurus administrasi kenaikkan pangkat. Darko dan Cosmin masih belum tahu akan datang kapan. Informasi yang kudapat mereka sudah naik menjadi Aranel meski mereka sempat dibuat mati kutu oleh atasan mereka. Aku tidak tahu apa yang sudah mereka lewatkan. Tapi yang pasti hanya aku seorang saja yang masih di tingkat Taralom. Milia, dia sudah jadi Anclaime. Setelah misi di Istana Haram Milia sudah dipromosikan jadi Aranel. Tapi sayangnya aku tidak tahu kapan dia naik jadi Anclaime. Mungkin sekitar tiga minggu yang lalu. Hebat! Keluarga bangsawan elit memang luar biasa. Bakat lahir sudah pasti ada didalam dirinya.

Kadang aku merasa iri dengan keluarga bangsawan. Pasti enak lahir dari kalangan elit. Dipandang terhormat, dikagumi banyak orang, diberkati bakat lebih saat lahir, punya kekuatan tidak terbatas, terkenal, banyak teman dan pastinya kaya raya. Apa-apa pasti mudah untuk didapat. Tidak seperti diriku yang jika ingin mendapatkan sesuatu tidak jarang harus bersusah payah. Harus berani mati-matian hanya demi menumbuhkan passion sebagai tentara. Bahkan kadang harus rela menyabung nyawa hanya karena sesuatu yang nilainya tidak sebanding dengan perjuangannya. Termasuk ketika aku mendapat skill Supercharged.

Yah, namanya juga kalangan pinggiran. Kalangan rendah kelas medioker. Tapi meski dilanda serba kekurangan, sesuai janjiku dulu akan kubuktikan kalau orang rendahan juga bisa menjadi hebat. Kalangan pinggiran juga bisa menjadi pemimpin. Tidak boleh ada kesenjangan antara bangsawan dan kalangan biasa. Kalangan biasa harus bisa memberanikan diri berteman dengan kalangan elit agar mereka tidak mengalami nasib yang sama seperti diriku. Aku yakin dimasa depan nanti impian itu pasti akan terwujud.

Ngomong-ngomong berjalan sambil memikirkan banyak hal tidak terasa telah membawaku ke tempat tujuan. Cepat,ya? Rasanya seperti masuk ke pintu kemana saja ala anime Cora Doramemon. Lazhuwardian Agora. Tempat ini adem karena tebing yang menghalangi sinar Lumen. 800 ratus meter kedepan ada air terjun tempat kemarin aku mengintip wanita mandi. Akupun berjalan kearah air terjun itu dengan maksud untuk melihat mana tahu ada wanita lagi yang mandi disana. Sayang ketika sampai tidak ada siapa-siapa yang kulihat.

TAP! TAP! TAP!

Terdengar suara langkah kaki yang mendekat , akupun menengok kebelakang.

"Yo, Slask. Selamat pagi." Rupanya Cosmin dan Darko. Untung bukan bangsa lain.

"Cosmin, Darko. Kalian sudah sampai?" sapaku pada mereka.

Akupun menghampiri mereka untuk ngobrol-ngobrol.

"Jadi kalian sudah naik jadi Aranel,nih?

"Ya, begitulah. Meski mendapat rintangan,kami berhasil melewati semua. Dan kini seperti yang kau tahu kami sudah resmi jadi Aranel." Jelas Cosmin.

"Kau sendiri gimana, Slask? Masih betah jadi Taralom? Atau jangan-jangan kau sudah puas dengan pangkatmu yang sekarang? Benar-benar berpikiran sempit?" Sindir Darko dengan nada menghina.

Mendengar perkataannya itu membuat hatiku sedikit jengkel. Tapi aku memilih untuk pura-pura tidak dengar.

"Selamat, ya! Kalian sudah jadi Aranel. So, apa sekarang sudah siap dengan misi sekarang?" ucapku.

"Aku, sih siap-siap saja." Kata Cosmin

Kami bertiga berjalan menuju sebuah area yang cukup luas. Tempat ini menurut informasi harusnya tempat bersemayam Calliana Queen. Tapi sejak tadi kami tidak melihat monster tersebut. Lalu sekitar 200 meter didepan ada sebuah bangunan tinggi yang berdiri kokoh. Kemungkinan energy misterius tersebut ada didalamnya.

"Jadi dimana letak keberadaan energy itu?" Tanya Cosmin sambil melihat kiri-kanan.

"Entahlah aku juga tidak tahu. Tapi kalau menurut divisi intelijen kabarnya ada di sekitar sini." Jawabku.

"Kalau tidak ada disini, kemungkinan ada didalam sana." Ucap Darko sambil menunjuk kedepan.

"Aku setuju. Mau coba periksa kesana?" usul Cosmin.

Aku mengangguk setuju. Lalu kami berjalan masuk menuju bangunan itu. Tapi bangunan yang kami masuki tidak seperti bangunan yang kupikirkan. Saat kami masuk disana hanya ada jalan biasa. Dikiri dan kanan bangunan hanya ada tembok saja. Tidak ada tanda –tanda adanya ruangan lain maupun anak tangga.

"Hanya jalan setapak?" kata Darko.

Meski begitu kami bertiga tetap menyusuri jalan itu.

"Sebenarnya ini bangunan apa, sih?" kembali Darko bertanya.

"Hmm, ini semacam terowongan. Mungkin diujung sana kita bisa menemukan sesuatu." Jawabku.

Sementara kulihat Cosmin wajahnya agak pucat. Penasaran, akupun coba bertanya.

"Cosmin kok kau terlihat pucat? Ada apa?"

"Aduh, kok perasaanku tidak enak, ya? Seperti ada sesuatu tidak terlihat yang sedang mengawasi kita. Apa disini ada hantu, ya? Sudah begitu jalan ini gelap banget lagi." Ujar Cosmin sedikit merinding.

"Kau terlalu mengada-ngada. Di planet ini mana ada yang namanya hantu." Bantah Darko menepis anggapan Cosmin.

Aku coba berpikir tentang ucapan Cosmin.

"Kalian berdua apa kalian pernah mendengar ada rumor tentang monster dengan wujud tak terlihat?"

"Belum pernah, tuh." Kata Cosmin.

"Itu hanya dongeng anak-anak saja. Tidak ada yang namanya monster tak terlihat." Kata Darko.

"Aku pernah mendengarnya. Menurut rumor ada daerah dimana monster jenis tersebut hidup. Lokasinya ada dikutub utara planet Novus. Hanya saja populasinya sangat-sangat sedikit." Aku memberi penjelasan sesuai dengan informasi yang pernah kubaca.

"Alah, itu 'kan Cuma rumor. Masih simpang siur. Lagian memangnya ada yang pernah kesana." Bantah Darko.

"Slask, kau sendiri percaya dengan yang begituan?" Tanya Cosmin.

"Percaya gak percaya, sih. Tapi tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Novus masih menyimpan banyak misteri. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk ditemukan. Mungkin saja hari ini kita menemukan salah satunya."

"Yah, silahkan saja. Toh, itu menurutmu bukan menurutku." Ejek Darko sambil menyandarkan tangannya di tembok sebelah.

Namun ketika Darko menyandarkan tangannya, tiba-tiba terjadi keanehan. Temboknya mengeluarkan suara.

GRAK! GRAK! GRAK!

"Eh, ada apa ini?" kata Darko panik.

Tembok yang tadi disentuh Darko mendadak terbuka. Ternyata dibalik tembok itu ada ruangan tersembunyi.

"Wih, ada ruangan didalam ruangan." Ucap Cosmin takjub.

"Barusan kau menyentuh apa, Darko?" tanyaku penasaran.

"Mana kutahu. Tiba-tiba temboknya terbuka sendiri." Jawab Darko.

Tanpa buang waktu, kami bertiga coba melihat-lihat ruangan tersebut. Ruangannya cukup luas kira-kira seukuran markas. Tapi sayangnya disini tidak ada apa-apa.

"Kosong?" ucap Darko.

"Perasaanku tidak mengatakan demikian. Pasti ada petunjuk tersembunyi disini." Kataku.

"Mau berkeliling dulu?" tawar Cosmin.

"Boleh."

Kamipun sepakat untuk menyelidiki ruangan ini. Namun, disaat operasi akan dimulai sebuah roket meluncur cepat ke arah kami.

WUNGG!

"AWAS ROKET!" Teriak Darko yang jadi orang pertama yang melihat roket.

DUARRR!

Untung saja kami bias menghindarinya dengan melompat kesamping. Aku ingin tahu siapa pelaku yang main tembak roket sembarangan itu. Ada 3 unit Accretia yang terdiri 2 Warrior dan 1 Striker. Mereka sama-sama memakai armor berwarna putih.

"I never thought there were three Cora here." Kata unit Accretia yang memegang Launcher.

"Perhaps they were the same purpose. They must search for the mysterious energy in Elan." Tambah unit yang memegang tombak.

"Celaka! Ada Accretia. Kita harus gimana, nih?" ucap Cosmin.

"Kayanya mau gak mau harus kita lawan deh. Tidak mungkin kita negosiasi dengan kaleng-kaleng itu." Jawab Darko

Tidak ada cara lain selain bertarung. Aku dan Cosmin saling mengeluarkan senjata masing-masing. Aku memakai Hora Sword buatan Sonsane ditambah dengan pedang Osmium. Sedang Cosmin memakai Hora Axe dan pedang berwarna putih. Sementara Darko dia cukup percaya diri dengan hanya bermodalkan satu set pisau lempar dan kemampuan beladiri tangan kosong.

Sementara lawan didepan kami Accretia baru dua unit yang mengeluarkan senjata. Tapi yang membuatku penasaran adalah senjata dua unit itu. Menurutku bentuknya sangat "cantik". Tidak sesuai dengan pola pikir mereka yang suka menghancurkan. Senjata mereka terlalu indah untuk dipakai membunuh.

"Slask, aku mengincar pemakai tombak. Aku yakin dia Assaulter. Aku ingin tahu siapa yang pantas disebut sebagai job pertengahan terbaik." Ucap Cosmin sambil berbisik. Tatapan Cosmin benar-benar penuh dengan ambisi. Assaulter. Itulah kata yang membuatnya beralih menjadi Guardian.

"Oke. Kalau begitu aku warrior disamping kirinya." Kataku menyetujui.

Setelah saling menentukan target, kamipun memasang kuda-kuda.

Dan maju menerjang.

"MAJUUUU!"

Dengan kecepatan penuh aku dekati warrior itu.

"THRRUST!"

SYUNGGG!

Namun seranganku tidak mengenainya. Dia justru menghilang entah kemana.

"Apa? Dia menghilang!?"

.

"Above you!"

Aku mendengar sebuah suara. Asalnya diatas kepalaku. Ketika aku mendongakkan kepala, Accretia itu mengeluarkan pedangnya dan bersiap menghancurkanku.

"PRESSURE BOMB!"

DUARR! TRANG! BLEGAARRR!

Sekuat tenaga aku coba menahan Pressure Bomb miliknya. Tapi serangannya sangat dahsyat hingga membuat lantai pijakanku hancur hingga membentuk kawah kecil.

"Pretty well!"

"Aku tidak akan kalah semudah itu. Sekarang bersiaplah kau!"

Aku mengkonsentrasikan force ditubuhku. Lalu kualirkan forceku ke kedua senjataku. Setelah dirasa mantap, aku mengaktifkan buff andalanku.

"Art Of Templar!"

Tubuhku serasa mendapat tambahan energy baru. Hal ini juga sekaligus menambah kepercayaan diriku. Kemudian aku berlari keluar kawah dan menerjang Accrretia itu sambil menggunakan skill.

"FURY SWIPE!"

TRANG!

Serangan skill berputar dan menghujam target rupanya masih sanggup ditahan olehnya. Tapi, aku punya rencana lain. Aku tendang tubuhnya dengan kakiku hingga dia terpental beberapa ratus meter.

DUAKK!

"Bagus! Rasakan itu Accretia!"

Masih belum selesai. Aku berlari dan melompat ke udara. Aku perkirakan ketinggianku 900 meter. Merasa mendapat posisi yang mantap,aku melebarkan kedua tanganku dan mengeluarkan skill terbaikku. Skill ciptaanku sendiri saat masih Champion.

"INFINITY SUPERFALL!"

Aura biru gelap menenyelimuti kedu pedangku. Aku memutar badanku saat menukik kebawah. Perlahan tapi pasti posisiku sudah mendekati lawan. Sementara Accretia yang jadi lawanku karena terlalu takjub dia hanya bias menahan dengan pedangnya. Tapi itu percuma karena…

CTANGG!

Putaranku sangat cepat bagaikan kincir angin. Akibatnya, senjata yang digunakan untuk bertahan patah. Tapi itu belum selesai. Klimaksnya saat akan mendarat kedua pedangku sukses memotong tangan kirinya.

SRINGGG! DUARRR!

Dan hancur.

"Hap!"

Akupun mendarat dengan mulus.

"I..impo..sible! I.. as the best young Warriors.. defeated so… easily!?"

Accretia itu terlihat tidak percaya dengan hasil pertarungan tadi. Saking tidak percaya, dia tertunduk lesu hingga kedua lututnya tak sanggup menahan tubuhnya.

BRUKK!

Aku dekati Accretia itu. Sambil mengarahkan kedua pedangku aku berkata.

"Sayang sekali, Accretia. Kau sudah kalah. Kau terlalu percaya diri hingga meremehkan lawanmu."

ZLEBB!

Kuhunuskan kedua pedangku diperutnya dengan posisi menyilang. Lalu dengan sekuat tenaga aku belah badannya menjadi dua bagian. Atas dan bawah.

SRING!

"Do… not be… obsessed with.. strength!" kata Accretia itu dengan terbata-bata.

'Masa bodo dengan ocehanmu. Mau mati aja masih ngoceh apalagi nanti kalau selamat.' Batinku. Entah mengapa aku masih belum puas menyiksa Accretia ini. Aku potong kepalanya hingga putus. Setelah memisahkan kepala dari badannya aku tusuk kepalanya sampai hancur tak tersisa.

ZLEB! DUARR!

Puas? Belum. Setelah kepalanya aku memutilasi semua anggota tubuhnya hingga menjadi potongan kecil. Entah kenapa aku merasa senang dengan perbuatanku ini. Mungkin ini yang namanya kepuasan dalam berperang. Lalu aku angkat kedua senjataku. Tiba-tiba entah apa yang terjadi aura berwarna orange menyelimuti tubuhku.

"Hell Disaster!" gumamku sambil menghempaskan pedangku ke tanah.

DUARR!

Dampak dari ledakan tadi sukses membuat bangunan ini bergetar hebat meski tidak membuatnya menjadi hancur.

"SLASK!" kata Cosmin menengok kearahku.

"No time to see the other, Corite!"

.

.

.

"No time to see the other, Corite!"

BLEGARR!

"Waduh! Sial, hampir saja!" ujar Cosmin setelah lolos dari maut.

Cosmin sekarang sedang melawan satu unit Accretia Warrior.

"Interesting. What is your name , the two arms Corite?" katanya sambil menunjuk Cosmin. Cosmin berpikir kalau Accretia itu mungkin menanyakan identitasnya.

"Namaku Cosmin Roty. Jobku Guardian! Kau sendiri siapa, Accretia?" ujar Cosmin sambil menepuk dada.

"My Name's NS-63. You may call me Novi Sad or NS - 63 . It's up to what you want! I'm Assaulter." Jawab Accretia itu.

"Senang berkenalan denganmu, Novi Sad."

Mereka saling pandang dengan tatapan tajam. NS-63 memang tinggi, tapi Cosmin juga memiliki badan yang tinggi meski masih seukuran dada NS-63. NS-63 sendiri pun merasa tertantang karena baru kali ini dia melihat Corite yang memiliki tinggi badan sekitar 212 cm.

Setelah mereka saling pandang, dengan kuda-kuda mantap mereka pun saling menerjang lawan dihadapannya.

DASH.

To Be Continued

"

"Well , aside about that . At least we are getting closer to our dreams to become soldiers." (Slask Wizarski in Chapter 1)