Chapter 17 : Sir Minesta Training Book
"Lagi! Masih belum! Aku belum puas! Hah!"
Apa ini? Sensasi ini rasanya begitu hebat. Belum pernah aku merasakan kenikmatan seperti ini. Gelap tanpa ada sedikitpun cahaya.
"Bunuh! Bunuh! Hancurkan! Bantai sampai tak tersisa!"
Ada perasaan aneh didalam tubuhku. Aku tidak tahu itu apa tapi ada dalam diriku.
"Hihihi, UGH!" rasa sakit yang hebat tiba-tiba menyerang kepalaku. Tak lama pandanganku yang tadinya gelap perlahan memudar seperti semula.
"Eh? Barusan itu apa, ya?" gumamku setelah aku melihat penglihatan pertamaku.
Tadi aku bertarung dengan Accretia. Apa aku berhasil mengalahkannya? Accretia tadi juga tidak ada. Ada apa sebenarnya?
"PRESSURE BOMB!"
BLEGARR!
Aku menoleh ke arah sumber ledakkan. Disamping kananku ada Cosmin yang bertarung melawan Assaulter.
"Cosmin!?"
"Slask. Kau selamat rupanya? Kukira kau hancur." Ujar Cosmin melihatku tanpa mengurangi kuda-kuda bertempurnya.
DUAR!
"UARGH. Sial, untung tidak kena. Ngomong-ngomong tadi itu apa, Slask? Jurus baru, ya?" tanyanya sambil berusaha santai. Bisa-bisanya dia bersikap tanpa beban begitu. Kalau nanti dia tewas, aku tidak mau menggotong mayatnya.
"Bukan waktunya berbasa-basi, Cosmin. Aku akan membantumu. UGH!" disaat aku ingin membantu Cosmin, tiba-tiba dadaku serasa sakit. Pedih sekali seperti ditusuk perlahan dengan pedang.
"Hei, santai saja, kawan. Sudah kubilang dia itu lawanku. Kau cukup nonton disitu saja. Itung-itung kau bisa istirahat untuk memulihkan diri." Sanggah Cosmin.
Ingin rasanya aku bisa berduet dengan Cosmin. Tapi apa boleh buat tubuh ini juga tidak bisa dibohongi. Lagian, Cosmin itu bukan prajurit kacangan.
"Ayo lawan aku, Accretia!" Cosmin menerjang NS-63 dengan tenaga penuh.
"BASH EXPLOSION!" hantaman Cosmin menghujam dengan deras membuat NS-63 merapatkan pegangannya untuk menangkis.
BRANG!
"Not bad, Corite." Setelah itu NS-63 mendorong Cosmin dan mundur selangkah.
"Now, my turn to attack you."NS-63 gantian menyerang Cosmin.
"Oke Kalau itu maumu, Accretia!Heah!" tidak mau kalah, Cosmin pun balas menyerang NS-63.
TRANG! TRANG! TRANG!
Kedua pihak saling baku hantam dengan senjata masing-masing. Mereka terlihat ngotot saling unjuk kebolehan seolah-olah ingin membuktikan siapa yang pantas disebut Warrior pertengahan paling kuat. Akupun turut merasakan kuatnya aura pertarungan mereka.
"POWER CLEAVE!" skill tebasan bergelombang Cosmin masih mampu dihindari NS-63.
"Sesuai perkiraan!" gumam Cosmin sambil tersenyum penuh kemenangan. Setelah mengeluarkan skill tadi, Cosmin kembali menyerang NS-63 yang sedikit lengah. Tapi NS-63 tidak takut. Terbukti dengan cepat dia mampu mengembalikan kondisi dan mencoba memanfaatkan momentum Cosmin menyerang dengan balas menyerang.
Sepertinya mereka akan saling beradu senjata. Namun, saat keduanya hampir berbenturan NS-63 langsung melompati Cosmin.
"APA!"Kaget Cosmin melihat lawannya melompati dirinya.
"Now, NP-88!" ternyata maksud NS-63 melakukan aksi tersebut untuk membuat NP-88 menembak Cosmin dengan launchernya.
"Come and feel my launcher! DOOM BLAST!"
BOOM! BOOM!BOOM!
"Gawat!" Cosmin yang terkejut kemungkinan hampir mustahil menghindari tembakan dari Launchertersebut
"COSMIN, AWAS!" teriakku begitu melihat Accretia temannya menembakkan missil kearah skill Doom Blast hanya menembakkan 3 missil baru kali ini aku melihat Doom Blast itu bisa memuntahkan 9 roket. Launcher itu pastinya bukanlah Launcher biasa.
Missil-missil itu entah dengan kecepatan berapa meluncur deras kearah Cosmin. Tapi ketika roket tersebut akan mengenai Cosmin, beberapa pisau lempar menghancurkan roket-roket tadi.
DUAR! DUAR! DUAR!
Dan wow apa yang barusan aku lihat? Senjata yang dulu sempat kupandang sebelah mata sanggup menghancurkan roket Accretia. Pelakunya bisa ditebak siapa lagi kalau bukan Darko Volkovic.
"He destroyed that's? Impossible!" kata Accretia pemegang Launcher dengan nada kecewa.
Dengan tatapan santai, Darko berjalan pelan sambil berkata "Kesalahan kalian adalah melupakan keberadaanku. Tidak Cora tidak Accretia semua sama saja. Padahal ini adalah pertarungan 2 lawan 2."
Cih, bisaan aja nih orang ngomongnya. Pake kata-kata sok keren segala lagi. Dan setelah mengatakan hal tersebut Darko kembali mengeluarkan pisau pisau itu tampak biasa saja. Tapi tak lama muncul aura hitam keunguan yang kuasumsikan sebagai Dark Force.
"Cukup dengan pisau lempar ini, aku bisa menghabisi kalian berdua." Ucap Darko sambil menunjuk kedua Accretia itu.
.
.
.
Istana Numerus waktu yang sama
Di Istana Numerus dua orang pria dan seorang wanita tampak sedang berbicara serius. Son adalah salah satunya.
"Jadi apa yang membuatmu berpikir kalau Darko itu unik?" tanya seorang wanita kepada Son.
"Pertama dia itu etnis Bisk. Sebelumnya aku tidak pernah melihat etnis Bisk yang memilih jalan hidup sebagai prajurit. Atau bisa dibilang sangat jarang. Kau mungkin tahu kalau Bisk itu kebanyakan berkarier di dunia olahraga. Kedua selama di akademi kabarnya dia tidak punya mentor. Ketiga kau dulu pernah bercerita tentang perkelahian Vegalta dengan Darko. Kau juga bilang kalau Darko bertarung dengan senjata lempar dan beladiri. Itu juga menurutku sangat jarang ada ranger yang menjadikan pisau lempar sebagai senjata andalan." Jelas Son.
"Tapi kalau menurutku, sih itu tergantung orangnya juga. Kalau mau jadi tentara ya mau pakai bisa lempar juga tidak masalah. Mungkin Darko itu hanya tipe langka saja." Ujar salah seorang pria.
"Memang benar, Sevisevic. Tapi gaya bertarungnya itu mengingatkanku akan sosok dua orang Bellato yang pernah kuhadapi." Jelasnya kepada pria berambut blonde bernama Sevisevic.
"Siapa mereka?" tanya seorang wanita berambut maroon.
"Pertanyaan yang bagus, Anastasya. Pertama –tama Roseblood. Tepatnya Sabilla Roseblood. Klan yang terkenal dengan keahliannya sebagai pemburu. Aku pernah bertemu dengannya sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu aku sedang misi Sette Desert untuk meneliti reruntuhan kapal induk. Kalau tidak salah waktu ada empat personil yakni aku, Chamtalion Nikola Yugovic, Nemanja Alovic dan Dejan Sapovic."
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Sevisevic penasaran.
"Kami bertemu dengannya. Wanita berambut putih dengan tatapan dingin. Ada sedikit warna kemerahan di iris matanya. Waktu itu dia seorang diri. Tapi yang namanya jumlah tidak selalu menjadi penentu sebuah hasil akhir. Buktinya? Gadis itu sukses membuat Alovic dan Sapovic kewalahan bahkan mereka berdua nyaris tewas. Dengan menghunuskan pisau lempar nyaris tepat dimata target. Sangat brutal. Bahkan Yugovic dibuat jatuh bangun. Beruntung aku, Yugovic dan dua orang tersebut bisa selamat."
"Ow. Setidaknya aku beruntung belum pernah bertemu psikopat macam itu." Kata Sevisevic merinding.
"Terus terus yang kedua-dua gimana?" ujar Anastasya dengan ekspresi pengen tahu banget.
"Yang kedua-dua? Banyak amat?" Son bingung dengan ucapan Anastasya.
"Lho,tadi kan yang pertama-tama. Terus sekarang yang kedua-dua. Gitu." Jelas Anastasya.
"Oh gitu ya? Ada yang model kaya gitu, ya? Oke yang kedua-dua masih di area Sette Dessert tapi waktunya lupa kapan. Yang pasti aku hanya bersama Chamtalion Kasanic. Ketemunya sama wanita juga tapi yang ini dengan ciri-ciri berambut coklat sedikit agak panjang. Endingnya sama-sama kalah dengan cerita pertama. Tapi ironisnya kami kalah dengan lawan yang hanya menggunakan tangan kosong. Saat-saat terakhir dia menyebut dirinya sebagai Elkanafia Nordo."
"Oke. Jadi intinya itu apa?" kata Sevisevic.
"Entah kebetulan atau tidak sosok kedua wanita tadi ada dalam diri Darko. Pertama dia menggunakan pisau lempar. Kedua dia juga menganut aliran beladiri. Aku jadi berpikir apa mungkin saling kenal? Kekuatan mereka juga tidak main-main." Simpul Son menurut analisanya.
"Menarik. Semakin hari ada saja hal-hal tidak terduga yang ada disekitar kita. Awalnya kita seperti tidak peduli tapi ketika dicari tahu beragam misteri muncul menunggu untuk dipecahkan." Kata Anastasya sambil tersenyum.
"Oh iya. Ngomong-ngomong sejak kapan kalian jadi mesra begini? So sweet banget, sih? Undang-undang ya kalo mau nikah." tanya Son yang dari tadi agak heran mereka berdua duduk terlalu dem;pet.
Mendengar perkataan Son, Anastasya dan Sevisevic jadi Blushing.
.
.
"Cukup dengan pisau lempar ini aku bisa menghabisi kalian. Bersiaplah!"
Darko memajukan badannya dan berlari kedepan sambil memegang pisau lempar dikedua tangannya. Kedua Accretia itu bersiaga menghadapi serangan.
SYUNG! TRING!
Darko melempar pisau pertamanya yang bisa ditangkis NS-63. Setelah itu Darko melompat keudara.
"EDGE OF DISCIPLINE!"
SYUNG! SYUNG SYUNG! SYUNG SYUNG SYUNG!
"Gila! Skill apaan, tuh!?" aku kaget Darko mengeluarkan skillnya. Sepertinya itu skill ciptaannya sendiri. Mulanya dia melempar satu yang kedua dia melempar dua pisau dan begitu seterusnya secara berturut-turut.
TRANG! TRANG! DUAR DUAR DUAR!
Beberapa berhasil ditangkis tapi efek ledakannya membuat kedua Accertia itu kewalahan.
"Ini masih belum. Berikutnya adalah ini. DUAL DESTRUCTIVE SHOT!"
SYUNG! ZLEBB!
Dua pisau yang dilempar Darko berhasil mengenai sendi lengan Accretia.
"Sekali lagi! EDGE OF DISCIPLINE!" sekali lagi Darko mengeluarkan skill yang pertama tadi.
ZLEB! ZLEB ZLEB! ZLEB ZLEB ZLEB!
Hebat. Pisau-pisau Darko sukses bersarang di sendi-sendi lawan hingga membuat lawan tidak bisa bergerak. Dari mulai lengan,bahu hingga lutut. Akupun dibuat terpukau oleh keahliannya. Inikah kekuatan Aranel? Sekuat itukah job Stealer? Luar biasa sekali. Lagi-lagi kawan-kawanku melangkahiku hingga lebih jauh.
"Bagaimana, Accretia? Apa kalian menikmati pestanya? Jangan khawatir ini tidak akan lama,kok. Sesaat lagi aku akan meledakkan kalian. Apa ada pesan terakhir?" ucap Darko sambil memainkan pisaunya.
"…"
"…"
"Tidak ada pesan kuanggap kalian sudah siap mati. So, Sayonara Accretia."
Namun ketika Darko mau melempar pisaunya, terjadi suatu -tiba saja ruangan diselimuti oleh kabut. Perlahan namun pasti kabutnya semakin tebal.
"Eh,ada apa ini? Kok ada kabut disini?" ucap Cosmin keheranan.
Akupun berdiri untuk memastikan apa yang terjadi. Untung saja kondisi sudah jauh lebih baik.
"Perasaanku mengatakan akan ada sesuatu yang datang." Gumam Cosmin sambil melihat kanan kiri
"Waspada, teman-teman. Aku yakin pasti ada yang datang. Tapi kita belum tahu itu kawan atau lawan. Sekarang aku yang akan mengambil komando. Apa kalian keberatan, Cosmin, Darko?" kataku. Kadang-kadang aku bisa menunjukkan sisi kepemimpinanku. Ayahku selalu mengatakan kalau aku ingin menjadi tentara, maka aku harus memiliki jiwa kepemimpinan karena suatu saat aku pasti akan menjadi pemimpin meski kecil-kecilan. Ajarannya itu selalu terpatri dengan kuat didiriku.
"Santai saja, bung!"
"Tapi jangan hanya karena kau pemimpin kau bisa menyuruh seenaknya. Aku bukan anak buahmu." Ketus Darko mendengar perkataanku.
"Terima kasih. Sederhana saja, pertama Darko aku tahu pandanganmu paling jauh diantara kami bertiga. Aku mau dengan skill penglihatanmu kau amati area pintu masuk."
"Aku mengerti." Angguk Darko. Ada kalanya Darko itu gampang diatur walaupun orangnya keras kepala.
"Cosmin kau berdiri disamping kanan Darko. Musuh mungkin sudah lebih dulu masuk bisa menyerang dari mana saja. Terakhir aku berjaga dikiri sekaligus belakang."
"Sip!"
Darko menutup matanya. Kedua tangannya diagkat setinggi dada lalu dia menggerakkan tangannya untuk semacam membuat segel.
"SIX SENSE!" setelah membentuk segel, Darko membuka matanya. Kulihat warna iris matanya berubah oranye.
"Aku tidak melihat ada orang selain kita. Sayangnya, jurusku masih belum sempurna. Jadi aku hanya bisa melihat sejauh 700 meter saja." Kata Darko menganalisa keadaan.
WHUSSSHHH!
"AWAS!
DUARR!
"APA ITU!?" entah darimana asalnya, sebuah tombak es berukuran menghantam Darko. Untung saja bisa sempat menangkisnya. Kalau tidak sudah dipastikan kalau Darko pasti akan belubang tubuhnya.
"Tak kusangka sudah ada orang lain yang lebih dulu datang kesini. Tambah lagi si jangkung itu memakai penglihatan jarak jauhnya. Makanya aku menembaknya dengan tombak es tapi tak kusangka dia bisa menahannya."
Kabut yang tadi menyelimuti ruangan perlahan mulai menipis. Accretia yang tadi kami lawan sudah menghilang entah kemana. Sebagai gantinya didepan kami sudah berdiri 3 orang dengan yang terdiri 2 pria dan 1 wanita. Yang paling depan pria dengan ciri-ciri memakai armor berwarna kombinasi hitam-emas dengan jubah seperti rompi dan berambut coklat diikat ekor kuda. Ditangannya ada semacam core yang bercahaya dengan bentuk seperti segitiga.
Disamping kanan perempuan warrior dengan armor tebal membawa pedang berwarna emas dan ditangan kirinya juga tertempel core yang sama dengannya kawannya. Dia juga memakai jubah tapi modelnya berbeda dengan prianya. Yang satu lagi pria juga tapi aku yakin dia Cora. Dia memegang tongkat Dark Staff dengan nyala api yang berkilat-kilat. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup syal yang dikenakannya. Dia berambut putih jabrik.
"Hei, mau apa kalian kesini!?" tanyaku pada mereka.
"Kami hanya ingin mengambil harta karun yang tersimpan disini. Kalau kalian mempersilahkan kami untuk lewat, kami berjanji tidak akan menyakiti kalian. Lebih baik kita damai-damai saja." Jawab si pria berambut ekor kuda sambil senyum tapi seperti ada maunya.
"Tunggu kenapa kau bisa mengerti ucapan kami? Aku yakin kau bukan dari bangsa Cora." Kali ini giliran Cosmin yang penasaran.
"Aku menggunakan sihir penterjemah. Dibangsa kami sihir ini adalah sihir yang paling dasar. Siapa saja bisa mempelajarinya bahkan orang paling bodoh sekalipun. Cora yang dibelakangku ini bahkan tidak sampai tiga menit." Jawabnya masih dengan senyum palsunya.
"Lalu untuk apa kalian mengambilnya? Kalau tujuan kalian untuk kejahatan, kami tidak akan membiarkannya." Gertakku sambil memasang kuda-kuda. Darko yang baru bangkit juga bersiaga begitu juga dengan Cosmin.
"Hoh, jadi kalian lebih memilih melawan daripada bekerjasama? Oke tidak masalah tapi kalian sendiri yang akan tanggung akibatnya. Kalian majulah darimana saja." Tantangnya.
Sesuai permintaanya, kamipun menyerang bertiga sekaligus. Targetku adalah pria didepanku.
"HEAHH SHININGCUT!
WHUSH!
Tidak kena. Dari caranya menghindar kemungkinan dia pengguna senjata jarak jauh. Tapi aku coba untuk mendesaknya dengan mengeluarkan skill-skillku.
"POWER CLEAVE!"
SRING!
"Wow harus kuakui kemampuanmu cukup hebat. Kalau saja aku tidak menghindar mungkin aku sudah terpotong-potong. Ngomong-ngomong boleh aku tahu siapa namamu? Namaku Niel Froya. Kau boleh memanggilku Niel atau Froya terserah yang mana yang kau suka." Katanya sambil menghindari seranganku.
Cih, dia itu sempat-sempatnya ngajak kenalan. Tapi aku ini tipe orang yang menghormati lawan jadi aku beritahulah namaku padanya. "Namaku Slask Wizarski. Tidak perlu repot-repot memikirkan nama panggilanku karena sebentar lagi aku akan membunuhmu."
Akupun mengatur posisiku. Setelah mantap aku serang dia secara frontal.
"TERIMA INI, DEATH HACK!"
WHUS! WHUS! WHUS!
Sial, lagi-lagi dia bisa menghindarinya. Mau tidak mau aku haru pakai skill andalanku. Setelah pakai skill tadi, aku melompat melompat keudara bersiap mengaktifkan jurus mautku.
"INFINITY SUPERFALL!"
TRANG!
"APA?" kenapa lagi ini? Apa dia menangkisnya juga? Kalau iya ini pertama kalinya ada yang bisa menahan Infinity Superfall.
"Luar biasa. Jurus yang mengagumkan. Darimana kau mendapatkannya? Atau ini jurus originalmu?" ujarnya tenang menahan kedua pedangku. Hal kedua Yang membuatku terkejut adalah dia menahan pedangku dengan sebuah busur panah. Sekarang aku mengerti, core yang menempel ditangannya ternyata adalah senjatanya. Busur panahnya itu kemungkinan adalah perubahannya. Aku ingat sekarang dulu Sonsane mengatakan tentang senjata itu. Ada 2 macam namanya, satu orb dan satu lagi…
"Crystal!?" gumamku pelan.
"Hmm? Kau tahu tentang senjata ini? Luar biasa. Kukira tidak ada satupun penghuni Novus yang mengetahui senjata ini. Benar katamu, senjata ini bernama Crystal. Berfungsi untuk mengontrol aliran force ditubuh dan alam sekitar. Untuk jobku yang Force Archer Crystal akan berubah menjadi bentuk busur. Sedangkan bagi class Force Shielder berubah menjadi perisai. Seperti Aegean yang sedang kawanmu hadapi." Jelasnya singkat sambil menunjuk rekannya yang wanita.
"Aku tidak butuh informasimu. HEAHHH!" aku tidak suka orang yang gemar berbasa-basi jadi lebih baik aku menyerangnya.
"Dasar tidak sabaran. Rasakan ini, CRITICAL SHOT!" Froya menembakkan anak panahnya ke arahku. Tapi bukan anak panah biasa yang ditembakkannya melainkan anak panah yang terbuat dari Force.
TRANG! DUARR!
Kutangkis serangannya tersebut dengan pedang osmiumku hingga meledakkannya.
"Lumayan. Bagaimana kalau ini? MULTI CRITICAL SHOT!" kembali dia menembakkan amunisi yang sama tapi dengan jumlah yang lebih banyak. Tapi itu tidak masalah buatku. Kutangkis semua tembakkannya dengan kedua pedangku. Semuanya tanpa satupun yang lolos dari pedangku. Penglihatanku sama tajamnya dengan Adventurer. Menari bagaikan seorang penari profesional.
Tapi meski dia menyerangku bukan berarti aku diam saja. Tanpa dia menyadarinya, diam-diam aku memperpendek jarak dengannya. Kurasa dia sudah masuk jarak serangku, akupun menyerangnya dengan jurusku.
"FURY SWIP…"
"GRAVITY SHOT!"
DUAR!
"ARGH!" sial dia bisa menembak dari jarak dan waktu yang sepersekian detik lebih cepat dari seranganku. Tembakkannya tadi membuatku jatuh berguling-guling. Akupun mencoba untuk berdiri lagi.
"Jangan kira aku tidak mengetahui rencanamu. Kau mencoba memperpendek jarak denganku. Tapi itu sia-sia. Perbedaan kekuatan kita sangatlah jauh."
Setelah berkata, dia menarik tali busurnya dan mengarahkan busurnya kearahku. Kemudian dibusurnya muncul aura biru muda yang membentuk seperti sayap.
"CHAIN ATTACK, ETHERNAL CHAOS SHOT!"
Hanya dengan sekali tarikan busur, Froya mampu menembak panah force dalam jumlah banyak. Akupun berusaha menangkis sebanyak-banyaknya. Untuk menghindar cukup sulit karena posisiku yang membentur tembok.
TRANG! TRANG! TRANG! ZLEB! ZLEB! ZLEB!
Meski berusaha menangkis, akupun akhirnya keteteran juga hingga panah-panah ini menancap ditubuhku.
"ARGH!" tidak perlu ditanya bagaimana rasanya. Panas dari panah force tersebut cukup buatku merasakan sensasi sakit terbakar. Karena tidak tahan akupun jatuh dengan posisi tertelungkup. Meski hal itu tidak membuatku pingsan.
.
.
.
sementara itu Cosmin sedang bertarung dengan Aegean si wanita beramor tebal dengan pedang satu tangan dan perisai sedang Darko menghadapi pria Cora yang kemungkinan berjob Warlock. Keadaan mereka berdua tidak bisa dibilang baik.
"Hosh…Hosh… seranganku tidak satupun yang bisa melukai tubuhnya. Seperti ada sesuatu yang tidak terlihat melindunginya." Keluh Cosmin yang tangan kirinya sudah memerah karena luka dilengannya.
Sementara lawannya terlihat masih gagah berdiri. Meski wanita hal itu tidak membuatnya terlihat lemah. Justru tatapannya itu lebih terlihat seperti sudah kenyang pengalaman bertempur.
"Tidak ada cara lain. Aku harus mencoba cara ini apapun resikonya."
Cosmin memejamkan matanya untuk berkonsentrasi. Setelah itu dia membuka matanya. Aliran force ditubuhnya meningkat berkali lipat.
"SUPER LIGHTWEIGHT! ULTIMATE HYPER LEGGERRA!"
"HERE WE GO!"
Cosmin melesat dengan kecepatan tinggi ke arah lawan. Kemudian dia melakukan lompatan tinggi.
"HEAVY PRESSURE BOMB!"
BRANG!
Suara tangkisan perisai menggema dengan kerasnya hingga membuat ruangan bergetar.
"Ditahan!?" kaget Cosmin melihat serangannya dengan mudah ditangkis lawan.
"Force Kick!"
DUAGH!
Cosmin mental setelah ditendang lawannya. Cosmin tidak menyerah dan bangkit untuk balas menyerang.
"Shock Pulsar!"
Aegean memberi Cosmin skill debuff tidak bisa bergerak. Pergerakan Cosmin pun terkunci.
"Mortal Bane!" Aegean mengaktifkan buffnya yang memunculkan aura kemerahan. Lalu dia berjalan ke arah Cosmin. Cosmin sendiri hanya bisa terpaku melihatnya.
"Finisher Lock, SHIELD GRANADE!" seketika muncul bola api berjumlah sepuluh buah menyerang Cosmin.
BOOM! BOOM! BOOM!
"ARGH!"
Bola-bola api itu meledak hingga membuat armor bagian atas Cosmin hancur tak tersisa. Cosmin sendiri tubuhnya dipenuhi luka bakar yang parah. Dia pun jatuh tak sadarkan diri. Setelah menghabisi lawannya Aegean berjalan sambil membelakangi Cosmin.
"Cosmin?" Darko kaget melihat Cosmin dengan mudah kalah.
"AQUA BLADE!" warlock mengeluarkan Force airnya ketika pandangan Cosmin lengah. Untung saja serangannya tidak kena.
"Huh, beraninya menyerang saat lawan lengah. Nih, gantian!" Darko mengeluarkan dua pisau lemparnya.
"DUAL DESTRUCTIVE THROW!"
WHUSH! WHUSH!
"UGH!" dua serangan Darko sukses mengenai bahu lawan.
"Heh, kena kau!" gumamnya mantap. Kembali Darko mengeluarkan pisau lemparnya yang kali ini dengan jumlah lebih banyak.
"EDGE OF DISCIPLINE!"
SYUNG! SYUNG! SYUNG! SYUNG! SYUNG!
"ARGH!"
Lagi-lagi dengan gemilangnya pisau Darko bersarang ditubuh lawan. Sekarang Darko menargetkan kepala lawannya.
"Dan terakhir, selamat tinggal!" ucap Darko sambil melempar pisaunya.
WHUSH!
"Sial! Hanya dengan cara itu yang bisa menyelamatkanku." Gumamnya. Dia mengangkat tongkatnya dan menghentakkannya ke tanah.
"Keluarlah, Eufrat!"
Tiba-tiba muncul sosok mahkluk misterius berbentuk humanoid berjubah merah dan bersayap serta memiliki kepala seperti naga. Makhluk itu menepis pisau Darko dengan sabitnya.
"Apa-apaan itu?" Darko terkejut dengan munculnya mahkluk misterius dihadapannya.
"Serang dia, Eufrat!" perintahnya pada makhluk bernama Eufrat itu.
GROAARRR!
Dengan kecepatan yang sukar dipercaya, makhluk itu mendekati Darko dan memotong putus tangannya.
CRATSS!
"ARGH!"
"Kuhabisi kau dengan ini. METEOR!"
DUARRR!
Warlock itupun mengalahkan Darko dengan force api Meteor. Froya mendekatinya dan berkata "Bagus! Yang terakhir sudah kau habisi."
"Maaf Taxiarhos aku agak sedikit terkejut dengan gaya bertarungnya itu. Akupun jadi babak belur begini." Sesal Warlock itu.
"Tidak perlu kau pikirkan, Goldbet. Tujuan kita sudah didepan mata. Aku sudah tahu dimana letak harta karun itu."
Mereka bertiga berjalan menyusuri ruangan itu. Tak lama kemudian mereka sudah mendapatkan apa yang mereka cari. Rupanya harta yang mereka maksud ada didalam perut Elan dan ruangan itu memiliki tangga bawah tanah yang tersembunyi yang mengantarkannya ke perut Elan.
"Akhirnya misi pertama kita berhasil. Inilah harta karun yang kita cari-cari. Sir Minesta Training Book. Hahaha!" setelah itu mereka pun menghilang.
.
.
.
Rubishy Tower, Elan Field
"Sial. Gara-gara portal maintenance aku jadi kesiangan. Bisa-bisa Accretia dan Cora sudah lebih dulu mendapatkan energy misterius itu." Keluh Lech dalam perjalanan.
Ketika dia sampai di Rubishy tower, dia dikejutkan dengan adanya bekas pertempuran didekat situ.
"Hah, berantakkan banget disini. Habis ada perang, ya?"
Lech menyelidiki area tersebut dan dia menyimpulkan kalau beberapa saat yang lalu ada pertempuran.
"Hmm, tanahnya masih hangat. Berarti ada keributan disini. Tapi siapa melawan siapa ya?"
Saat Lech menyesuri perjalanan, Lech melihat ada noda darah dan nodanya bercecer membentuk garis yang mengarahkannya ke suatu tempat. Penasaran, Lech mengikuti jejak darah itu. Betapa kagetnya Lech begitu tahu jejak darah itu mengarah kemana.
"Astaga! Ini… siapa yang tega melakukan ini!?" kaget Lech sambil menutup mulutnya. Dia melihat sepasang Cora disalib dengan kondisi sangat mengenaskan. Yang laki-laki lehernya terluka seperti diiris. Lehernya terus menerus mengeluarkan darah. Sedang yang wanitanya perutnya sobek parah dan bagian dadanya nyaris terekspos. Lech tidak bisa memastikan apa mereka berdua masih hidup atau tidak.
Tiba-tiba Lech merasakan ada aura dengan tekanan membunuh yang sangat kuat. Lech yakin aura ini pernah dirasakannnya.
"Tekanan ini? Mungkinkah dia disini?" tatapan Lech menunjukkan kekesalan karena aura inilah yang telah merenggut sahabatnya. Lech tambah yakin lagi kalau pemiliknya pasti ada dibelakangnya.
Lech pun menyiapkan pedang barunya yang masih disarungkan. Kemudian dia membalikkan badan.
"SANTORINI!"
Tapi bukan Santorini yang dilihatnya. Melainkan sesosok wanita berambut biru dengan iris berwarna biru.
"Wanita? Tapi apa-apaan ini? Kenapa auranya bisa sekuat ini?" gumam Lech pelan. Wanita itu tatapannya sangat dingin. Matanya sendiri sedikit agak turun.
'Tunggu, jangan bilang kalau dia yang melakukannya.' Batinnya.
"Kau. Apa kau yang melakukan ini semua?" Tanya Lech tanpa mengurangi kewaspadaannya.
Lawan bicaranya tidak mengatakan apa-apa. Dia justru menarik kedua pedang yang tersemat dipunggungnya.
"Elliminated target!"
"Celaka!" panic Lech melihat lawan bersiap menyerang.
"Moon Slash!"
SLASH!
.
.
.
Bellato Headquarter satu jam setelah Lech pergi
"Maximus Karina, ada hal penting yang ingin kubicarakan pada anda." kata seorang gadis Warrior Bellato berambut pink.
"Ada apa, Conquest Vinia? Kenapa kau seperti marah begitu?" kata Maximus Karina.
"Tolong jelaskan padaku kenapa kau suruh Lech pergi ke Elan?" tatapan gadis itu sedikit menahan marah.
"Aku hanya menyuruhnya untuk menyelidiki energi misterius yang muncul di Elan."
"Dan kenapa kau menyuruhnya untuk berangkat sendirian. Kenapa tidak minta tolong kepadaku juga, Maximus? Kau tahu 'kan kalau Elan itu tempat yang penuh bahaya bagi prajurit sepertinya. Setidaknya dia harus butuh bimbingan." Tukas Vinia kesal.
"Aku hanya menjalankan perintah dari Maximus Khortenio. Tentu tadinya dia tidak ingin kusuruh sendirian. Tapi divisi Supporting sedang kekurangan personil. Jadi mau tidak mau setiap misi hanya bisa dijalankan maksimal 2 orang. Belum lagi hari ini hari jatahmu untuk libur." Jelas Maximus Karina berusaha pengertian.
"Maximus, aku 'kan sudah bilang tidak masalah meminta tolong kepadaku meskipun aku libur. Apa kau tahu bahaya apa yang bakal menimpan Lech? Masih ingatkah anda ketika Lech hamper mati. Aku tidak ingin dia mengalami nasib seperti itu untuk kedua kalinya."
Maximus Karina sejenak terdiam mendengar perkataan bawahannya. "Vinia, apa kau mempercayai kemampuannya? Lech itu biar begitu dia juga kuat. Dia bukanlah Berserker lemah seperti yang kau kira. Aku yakin dia bisa melewati bahaya apapun."
"Percaya? Sudah pasti aku percaya. Tapi kita bukan bicara soal kepercayaan. Kita bicara soal Lech yang sendirian. Sampai saat ini aku belum pernah melihat dia bicara yang anggota Divisi Brigade Supporting. Dia selalu menjalankan misi seorang diri. Dan aku tidak mau hal itu berlarut larut." Jelas Vinia sambil membalikkan badan dan berjalan pergi.
"Tunggu kau mau kemana, Vinia? Jangan kau coba untuk menyusul Lech ke Elan." Teriak Maximus Karina sedikit kesal
"Maaf, Maximus. Untuk sekali saja aku menolak perintahmu. Aku harus pergi ke Elan. Aku tidak ingin dia tewas." Vinia mempercepat langkah kakinya dan pergi dari ruangan Maximus Karina.
Sebelum jalan, Vinia menyiapkan perbekalannya. Armor dan senjata sudah siap digunakan tidak ketinggalan perisai andalannya. Setelah semunya lengkap, Vinia pergi ke Elan.
To Be Continued
"Interesting. Everyday there are unexpected things that exist around us. Originally we did not care but when it sought out a variety of mystery appears waiting to be solved." (Anastasya Levanovic in Chapter 17).
Akhirnya Chapter 17 berhasil dibuat. Berikut pengenalan karakter baru dichapter 17.
Niel Froya
Nevarethian berjob Force Archer pangkat Taxiarhos. Pembawaanya agak santai. Usia sekitar 29 tahun dengan tinggi 178cm.
Greece Aegean
Nevarethian berjob Force Shielder pangkat Taxiarhos. Pendiam dan agak kaku. Usia sekitar 27 tahun tinggi badan 176cm.
Sylvania Blanc
Nevarethian berjob Blader. Kekuatannya berada diposisi kedua setelah Santorini. Usianya paling muda diantara Nevarethian lainnya yakni 22 tahun. Meski penampilannya cukup cantik, dia adalah mesin pembunuh yang tidak kenal ampun. Konon ditempat asalnya dia pernah memusnahkan sekumpulan monster hanya dalam kurun waktu 20 menit.
Chris Goldbet
Masih ingat dengan kasus parasit yang menjangkiti wilayah Cora? Tahukah siapa nama pelakunya? Dialah Chris Goldbet. Warlock yang sanggup men"summon" animus ini dulunya adalah calon dewan Cora termuda. Tapi belakangan diketahui kalau dia menganut aliran sesat. Eufrat merupakan salah satu aliran sesatnya. Monster yang disummonnya bukanlah animus melainkan disebut sebagai Satanic. Jika animus adalah pengawal Decem yang mengikat ontrak dengan Grazier maka Satanic justru tidak ada kontrak yang mengikatnya. Versi lain mengatakan kalau Satanic merupakan wujud lain dari animus yang bercampur dengan Gothic Force.
Setelah sekian lama terbengkalai akhirnya cerita ini bisa diselesaikan. Perlu diinfokan kalau Author lama update bukan lantaran sedang tidak ad aide. Author terlambat mengupdate cerita karena author sedang mengalami masalah keuangan jadi biaya untuk ke warnet harus dikurangi. Mungkin hanya saya satu-satunya author yang mengupdate cerita lewat warnet. Maklum saya masih belum punya laptop. Sekarang sedang menabung agar bisa beli laptop. Oke itulah sedikit curhatan dari saya. Kritik dan saran selalu diterima dengan pintu terbuka.
Salam
Slask Wroclaw Wizarski
