Love Me

Matahari cukup terik membuat kota cukup panas, Yunho sudah cukup kelelahan, bahkan ini sudah sangat 'memaksakan diri'.

"Yunho-ya! Bisakah bekerja yang serius!" bentak seorang mandor di sana, lagi dan lagi Yunho harus menunduk memohon maaf, jika saja nasib berkata lain, seharusnya merekalah yang menunduk pada Yunho, tapi jangan salahkan nasib, ini adalah takdir yang harus Yunho jalani bukan? bisa saja ini yang terbaik untuk Yunho dan keluarga kecilnya kelak.

Keluarga kecil?

Yunho mengharapkan hal itu, tapi itu ketidakmungkinan, sampai detik ini pun Jaejoong tak menunjukan sikap bersahabatnya pada Yunho, bahkan cacian dan hinaanya semakin menjadi membuat sesak di hati Yunho.

Hari ini pun ia mendapat kabar kalau appanya akan ketempat ini, fikirannya sangat tak konsen, ingin rasanya hari ini ia izin, akan tetapi, jika izin darimana ia akan mendapatkan uang? Sementara Jaejoong tak pernah memahami kaadaan ekonominya saat ini, ia pun tak ingin jaejoong bahkan anaknya kekurangan gizi.

"hyung, kau di marahi lagi? Sepertinya kau sedang tidak baik, pekerjaanmu hari ini sedikit kacau." Ujar Joo woon

"aku hanya sedang tak konsen saja, ya sudah kembali ketempatmu, nanti ada yang melihatmu, kau akan kena masalah."

"baiklah."

Yunho kembali akan aktivitasnya, tak berapa lama hal yang sangat Yunho takuti pun tiba, beberapa mobil mewah memasuki kawasan proyek tersebut, Yunho pun menutupi sebagian wajahnya dengan handuk kecil, ia tak mau appanya sampai tau dirinya.

Braakk

Sebuah papan pun terjatuh, lagi dan lagi itu ulah Yunho, Tuan Shin, mandor tersebut pun menghampiri Yunho untuk yang kesekian kalinya

"kau lagi!"

"maaf."

"hahh, bukankah kau pekerja terbaik Yun, mengapa hari ini banyak sekali kesalahan yang kau perbuat, jika kau merasa tak enak badan atau apapun bukankah kau dapan izin." Yunho hanya terdiam tertunduk, Il woo pun menghampiri mereka saat itu.

"jangan memaksakan dirimu anak muda." Il woo pun menyentuh lembut bahu Yunho, rasa sesak karena senang pun muncul, mata musang itu memandang sang ayah yang kini ada di hadapannya, ingin rasanya langsung memeluk sosok tersebut, tapi tidak, jika saja Il woo tau itu Yunho, ia tak akan memperlakukannya dengan baik, Yunho hanya menunduk dan lekas pergi meninggalkan mereka, pertama kali, air mata Yunho pun mencelos, ia kini duduk di tempat peristirahatan, ia membuka penutup wajahnya tersebut, kemudian ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya, ia menangis dalam diam, hanya air mata yang keluar tanpa isakan atau getaran tubuh lainnya.

"tuan muda." Sapa seseorang, Yunho pun menoleh, ternyata itu Shindong, supir pribadi appanya, Yunho pun berdiri, sementara Shindong membungkuk di hadapan Yunho, Yunho tersenyum

"tidak usah membungkuk seperti itu Shindong hyung." Ujar Yunho ramah

"bagaimana anda bisa disini tuan muda? Nyonya sangat mencemaskan kondisi anda, pulanglah, kasihan nyonya."

"aku bekerja sebagai pekerja bangunan disini, aku baik-baik saja hyung, aku tidak bisa kembali, kau sangat tau bukan appa sangat membenciku, dan lagi jangan beritahu umma aku di sini."

"ini pekerjaan kasar tuan muda, tak sepantasnya anak pemilik pe-.." ucapan Shindong terhenti saat Yunho menyuruhnya berhenti

"sejak kapan aku di anggap anak oleh tuan Jung, hyung? Sudahlah, ini sudah jalan hidupku, apapun pekerjaanku, asalkan aku bisa menghidupi istri dan anakku, itu cukup."

Shindong hanya terdiam, Yunho pun menepuk pelan bahu Shindong

"jaga appa kemana pun ia pergi hyung." Yunho pun berjalan dan membali memasang penutup wajahnya, ia harus kembali bekerja, Shindong hanya mengangguk patuh.

Tak lama Il woo mengunjungi tempat tersebut, ia harus kembali untuk mengurus perusahaannya yang lain, Yunho tersenyum di balik kain penutup wajahnya tersebut.

"hati-hati appa." Gumannya pelan.

Sementara itu di lain tempat Jaejoong sedang menganti-ganti chanel televisi, tak ada acara yang menurutnya bagus, hanya acara TV lokal, ia pun membanting remot tersebut

"sampai kapan aku harus hidup seperti ini!" desahnya, ia pun berniat keluar rumah saat itu, padahal dengan jelas Yunho selalu melarang Jaejoong untuk keluar sendiri, tapi peduli apa Jaejoong dengan ucapan Yunho, siapa Yunho? Suami? Hanya status, dan sering kali Jaejoong meminta Yunho untuk menceraikannya setelah anak itu lahir, bahkan Jaejoong ingin Yunho dan anak itu tak muncul lagi di hadapannya. Jaejoong mengambil beberapa uang yang selalu Yunho berikan setiap harinya, Jaejoong pun keluar rumah tersebut, hari yang cukup panas untuk Jaejoong, bahkan tak ada mobil untuknya berpergian kini, ia harus berjalan di tengah panasnya matahari.

Jaejoong kini berjalan ke supermarket terdekat, ia pun membeli banyak sanck dan minuman kaleng, cukup boros yang Jaejoong keluarkan, tapi baginya itu cukup jauh dari kata boros, ia hanya membelanjakan sedikit, uang yang ia punya pun hanya sedikit, Jaejoong pun kembali kerumahnya yang sederhana tersebut, ia menghabiskan 10 snack yang ia beli tersebut, bahkan bungkus snack tersebut berhamburan kemana-mana, sementara Jaejoong kini terlelap tidur karena letih.

Senja pun tiba, Yunho sudah sampai dirumahnya saat ini, ia sangat letih menghadapi hari ini, rasanya ingin sekali ia tidur sejenak, akan tetapi ia ingat, hari ini ia harus mengantar Jaejoong memeriksakan kandungannya untuk pertama kalinya. Yunho pun memasuki kamar Jaejoong, emosinya nyaris tak terkontrol saat melihat kamar yang sangat berantakan.

"Astaga KIM JAEJOONG!" Jaejoong pun terkejut bangun, ia menatap Yunho yang sedang tampak kesal

"ck, bisakah tak usah berteriak Jung? Menggangguku saja." Ujar Jaejoong, sesekali ia pun menguap malas

"mengapa kau biarkan kamarmu seperti ini, sampah dimana-mana? Dan, astaga Jae, mengapa kau membeli banyak makanan? Hari ini bukankah kita harus memeriksakan kandunganmu? Jae, kita bukan orang kaya, mengertilah."

"Jung! Jika bukan ulahmu aku pun tak menjadi miskin seperti ini!" lagi-lagi Jaejoong melimpahkan kesalahan pada Yunho

"buat apa memeriksa anak ini, mau dia sehat atau mati sekalipun aku tak peduli."

"Jae!" tangan Yunho pun kini melayang hendak menampar wajah cantik tersebut, akan tetapi terhenti

"kenapa berhenti?! Tampar aku kalau bisa Jung!"

"aaakhh!" Yunho pun meninju tembok untuk meluapkan amarahnya, tangannya memar kini, Jaejoong hanya terdiam tak mampu berkata apapun

"jika kau tak ingin anak itu, sekarang aku hanya memohon padamu sebagai seorang ayah Jae! Aku mau anakku, dan aku mohon jaga dia, aku akan memberikanmu apapun, bahkan nyawaku sekalipun agar kau membiarkannya hidup." Yunho menghampiri dan menggenggam erat bahu Jaejoong, raut wajahnya tampak memilukan, tetapi tak ada air mata disana, mata Jaejoong pun sudah berair, ia tak mau menatap Yunho sama sekali

"lihat aku Jae!" Jaejoong tetap pada pendiriannya, ia tak menatap Yunho sama sekali, Yunho hanya mendesah kesal, ia melepaskan genggaman tersebut, ia berjalan keluar menianggalkan Jaejoong sendiri dikamarnya.

"Hiks, ini semua karena mu! Kau brengsek Jung! Hiks!" Jaejoong menangis meraung dengan sangat kerasnya, Yunho hanya duduk menutup wajahnya dengan telapak tangannya, pusing pun menghantam Yunho,ia terus menahannya dengan memaksa mata itu terpejam tidur. Jaejoong merasa menjadi pihak dirugikan di sini? Bukannya sama dengan Yunho?.

.

.

Love Me

.

.

Yunho dan Jaejoong kini sudah berada di Klinik dekat rumah mereka, akhirnya pun Jaejoong mau di ajak Yunho untuk memeriksa kandungannya tersebut, Yunho harus membobol tabungannya untuk pemeriksaan kali ini.

Jaejoong kini sedang berbaring, layar monitor pun menujukkan sosok gumpalan pada perut Jaejoong

"apa itu anakku?" tanya Yunho semangat

"ya tuan Jung, itu anak anda, cukup sehat." Yunho tak hentinya tersenyum dan mengusap lembut rambut Jaejoong dengan sayang, sementara itu Jaejoong melirik sekilas layar monitor tersebut, hatinya seakan tentram melihatnya, dan entah, mulai detik itu juga Jaejoong berjanji akan menjaga nyawa dalam tubuhnya tersebut.

Mereka keluar bersama dari Klinik tersebut, Yunho menggenggam erat tangan Jaejoong, sementara Jaejoong hanya menanggapinya malas, tangan Yunho terasa panas di tangan Jaejoong, ia ingin bertanya apa Yunho sakit? Tetapi egonya lebih besar, genggaman itu pun menguat, dan semakin keras membuat Jaejoong sakit

"Jung sak-.." Ucapan Jaejoong terhenti saat ia melihat wajah kesakitan Yunho, Yunho pun melepas genggaman tersebut, karena secara tak langsung ia menyakiti Jaejoong

"Jung kau tak apa?" khawatir Jaejoong, Yunho hanya menggeleng, Jaejoong tau Yunho berbohong kali ini, Yunho mencoba tersenyum pada Jaejoong dibalik wajah pucatnya tersebut

"aku tak apa, k-kajja." Yunho mencoba menetralkan rasa sakitnya, ia kembali menggenggam tangan Jaejoong, Jaejoong terus memperhatikannya sampai mereka berdua tiba di dalam rumah tersebut, Yunho segera mengantarkan Jaejoong ke kamarnya

"tidurlah, sudah malam." Ujar Yunho, ia pun menyelimuti tubuh Jaejoong

"kau tidur dimana?" tanya Jaejoong, ini pertama kalinya jaejoong menanyakan Yunho tidur dimana, yunho pun tersenyum

"aku tidur di luar Jae." Jaejoong pun terdiam sejenak

"sepertinya kau sedang sakit, aku perbolehkan kau tidur bersamaku di sini,untuk malam ini saja." Ujar Jaejoong, Yunho pun terkejut mendengarnya

"k-kau bilang apa Jae?"

"kau tuli atau otakmu lama merespon Jung, kau boleh tidur denganku malam ini."

Yunho tersenyum mendengarnya, ia pun segera mengambil posisi nyaman di samping Jaejoong kini

"Jangan macam-macam padaku, jika terjadi matilah kau Jung." Ancam Jaejoong, Yunho tersenyum dan mengangguk

"tak akan Jae." Jaejoong pun memejamkan matanya, sebenarnya ia belum mengantuk, ia hanya menghindari percakapan dengan Yunho, sementara itu Yunho tersenyum melihat sikap jaejoong menjadi sedikit melunak. Lagi-lagi sakit itu menghantam Yunho, ia pun membelakangi Jaejoong, ia terus memegangi kepalanya yang terasa pusing serta tubuhnya yang begitu sakit, Jaejoong melihat Yunho, ingin ia menanyakan kondisi Yunho, tapi ia sangat enggan.

Yunho kini sudah terlelap dalam tidurnya, kepalan tisu penuh darah pun ada di tangan Yunho, Jaejoong tak dapat tidur nyaman, jujur ia sangat penasaran dengan kondisi Yunho

"jangan pukul Yunho appa, sakit, sakit." Jaejoong pun melirik Yunho, ternyata Yunho sedang mengiggau, wajahnya tampak kesakitan, keringat pun membanjiri wajah tampannya

"kau kenapa Jung? Mengapa sikap mu sungguh aneh? Apa yang kau sembunyikan selama ini?" guman Jaejoong pelan.

….

Pagi pun tiba, Yunho pun terbangun, ia tak melihat Jaejoong disampingnya, ia pun bangun dan mencari sosok yang selama ini menemani hari-harinya

"jae." Ujarnya mancari dimana sosok namja cantik tersebut

"kau sudah bangun?" tanya Jaejoong yang masih terkesan dingin, tapi Yunho yakin Jaejoong mulai berubah

"ne, tumben kau bangun pagi." Ledek Yunho

Plukk

Jaejoong pun melempar gelas plastik pada Yunho

"menghina sekali kau Jung." Kesal Jaejoong, Yunho hanya terkekeh melihatnya

"aku sudah menyiapkanmu sarapan, kau pergi bekerja jam 7 bukan, ada waktu 30 menit, cepat mandi dan makan." Ujar Jaejoong dengan meminum susu yang ia buat sendiri, Yunho tersenyum melihat ini semua, Yunho pun mendekati Jaejoong dan memeluk tubuh tersebut dari belakang

"Yak Jung, lepaskan aku! Jangan menyentuhku bodoh! Aroma tubuhmu membuatku mual!" Yunho tak pedulikan ucapan Jaejoong, ia semakin kuat memeluk tubuh tersebut

"terima kasih." Ucap Yunho membuat Jaejoong bingung

"untuk apa? cepat lepaskan aku bodoh!" Jaejoong pun memberontak melepaskan pelukan Yunho, Yunho masiht erus tersenyum

"berhenti tersenyum, aku mau muntah melihatnya." Yunho hanya terkekeh

"aku mencintaimu Jae." Yunho pun mengambil kecupan pada bibir Chery Jaejoong, membuat sang pemilik sangat marah akan sikap tak sopan Yunho.

Yunho sangat berharap kebahagian akan menghampirinya, ia sangat berharap tuhan mengizinkannya merasakan indahnya keluarga di sisa waktunya.

.

.

Love Me

.

.

Yunho terus tersenyum pagi ini, ia sangat senang dengan sikap Jaejoong, Joo woon yang mengetahui hal ini pun segera menggurau Yunho

"aa~ hyung kau senyum-senyum seperti itu, habis mendapat apa kau dari namja galak itu?"

Yunho hanya terkekeh pelan

"kau ini Joo woon-ah mau tau saja urusanku." Ujar Yunho

"jelaslah, bagaimana pun aku sudah menganggap kau hyung ku sendiri, wajar aku ingin tau." Yunho tersenyum kecut mendengarnya.

"memangnya kau mau memiliki hyung miskin sepertiku?"

"hyung, miskin atau kaya tetap sama dimata tuhan, kau orang baik, maka dari itu aku menganggapkau hyungku."

Yunho tersenyum mendengar penuturan Joo Woon, ia sangat senang memiliki orang yang sangat baik, bahkan menganggap keluarga. Proyek pembangunan perusahaan ini sebentar lagi selesai, Yunho harus mencari pekerjaan lagi setelah ini, sudah berbagai lamaran ia masukan pada sejumlah perusahaan, tapi tak satupun yang berhasil, sang appa benar-benar menutup semua peluang pekerjaan pada sejumlah perusahaan untuk 'Jung Yunho', tetapi nasib berkata lain, Joo Woon mengajak Yunho untuk bekerja di bengkel milik pamannya, Yunho menerima tawaran itu lantaran mengingat kondisi Jaejoong dan calon bayinya kini.

Seminngu setelan itu, kegiatan proyek telah selesai, bahkan kini Yunho sudah bekerja di bengkel bersama Joo Woon, cukup beruntung bagi Yunho karena ia mengerti dunia Otomotif, Yunho sangat berterima kasih kepada Joo Woon karena selalu membantunya. Jaejoong pun sedikit melunak, dia memang masih tak menyukai Yunho, tapi paling tidak Jaejoong kini menerima kehadiran sosok bayi dalam tubuhnya.

.

.

Love Me

.

.

3 bulan berlalu begitu cepat, perut Jaejoong pun sudah menunjukan sang bayi tumbuh dengan sehat, seperti biasanya setelah kejadian 3 bulan yang lalu, Jaejoong bangun pagi untuk menyiapkan sarapan Yunho dan dirinya, kini Jaejoong benar-benar seperti wanita, lihat saja, rambutnya yang agak memanjang, dan piyama yang ia kenakan adalah milik seorang wanita,ia menolak awalnya mengnakan pakaian itu, tapi apa boleh buat, pakaian sebelumnya membuat Jaejoong tak nyaman beraktivitas.

Yunho tersenyum manis melihat sang istri melakukan aktivitas paginya di dapur, ia segera menghampiri dan memeluk Jaejoong dengan lembut dari belakang, walau sering di tolak dan di perlakukan kasar oleh Jaejoong, Yunho tak jera melakukannya.

"pagi istriku sayang." Yunho bahkan kini mengungkapkan perasaannya pada Jaejoong, jujur dalam hati Yunho, ia mengagumi Jaejoong dari dulu, hanya saja sikap angkuh Jaejoong yang membuat Yunho menjauhinya.

"yaakkk! Lepaskan aku!" Jaejoong pun memukuli tangan Yunho yang kini melingkar pada perut besarnya, Yunho hanya menggeleng pada bahu Jaejoong

"tidak mau." Ujar Yunho terdengar manja

"ck! Jangan bertingkah seperti anak kecil Jung!"

"biar saja." Ujar Yunho kembali dengan menyesap aroma Jaejoong yang sangat ia sukai

"yak Jung!"

"berhenti berteriak Jae, kuping ku sakit mendengarnya, kasian pula babynya, mendengar kau terus berteriak." Kekeh Yunho, membuat Jaejoong semakin kesal

"apa peduliku, cepat lepaskan aku Jung!" ujar Jaejoong, Yunho kembali menggeleng pada bahu tersebut

"terserah!" ujar Jaejoong, Yunho pun tersenyum senang, Jaejoong membiarkan Yunho menyentuhnya, jika saja ego Jaejoong tak besar, ia sangat suka akan sentuhan lembut Yunho, dan semua sikap Yunho padanya. Selang beberapa menit Yunho melepaskan pelukan tersebut, ia pun berjalan menuju kamar mandi, Jaejoong hanya melirik sebal Yunho.

Sementara itu di lain tempat, Kim Hyun Joong sangat tersiksa merindukan anak sematawayangnya yang sangat manja, hanya saja egonya sangat besar, ia tak mau mencari dan memohon Jaejoong untuk kembali pulang, mengingat kini Jaejoong menjalin hubungan dengan anak dari orang yang paling ia benci, Jung Il woo, lelaki yang sudah merebut kekasihnya Shin Min ah, Il woo yang memaksa Min ah menikahinya karena hutang keluarga gadis tersebut pada Il woo.

Hyun Joong menikmati secangkir coffe di café dekat perusahaannya tersebut, fikirannya terus memikirkan nasib Jaejoong kini.

"Hyun Joong-ah?" ujar suara lembut membuat Hyun Joong menoleh dan terkejut dengan siapa pemanggil suara tersebut.

"Min ah?" wanita itu pun tersenyum

"boleh aku bergabung?" tanyanya di sambut anggukan dan senyum lembut dari Hyun Joong

"apa kabar? Sudah lama kita tak pernah bertemu ya." Ujar Min ah

"baik, kau sendiri?"

"tak cukup baik untuk saat ini." Hyun Joong pun menyeritkan dahinya karena heran, ia pun berniat menanyakan kondisi Jaejoong, karena ia sangat yakin Jaejoong berada di kediaman Jung kini,

"mengapa tak cukup baik, apa anak dan menantumu menyusahkanmu?" ujar Hyun Joong, Min ah hanya tersenyum kecut

"dari mana kau tau anakku sudah menikah ?"

"hanya menebak."

"aku bahkan tak tau kondisi putraku saat ini, Il woo mengusirnya."

Deg

Hati Hyun Joong pun berdegup

"sejak dulu Il woo tak pernah menyukai Yunho,Il woo selalu memperlakukannya secara kasar, ia melukai fisik dan batin Yunho, Il woo selalu menuduh Yunho anak mu Hyun Joong, sudah sering ku katakana padanya bahwa Yunho anaknya, tapi percuma." Mata Min ah pun mulai berkaca

"mengapa tak suruh saja dia melakukan DNA? Bukannya itu bisa membuktikan semuanya?"

"Il woo tidak mau, ia tetap pada pendiriannya."

"ck, dasar bodoh." Kini Hyun Joong tau kondisi anaknya jauh dari kata senang, ia pun berniat kembali menarik Jaejoong pulang ke rumahnya, ia fikir selama ini Jaejoong tinggal dengan masih bergelimang harta, tapi nyatanya tidak. Setelah pertemuannya dengan Min ah, Hyun Joong pun menyuruh pengawalnya mencari keberadaan Jaejoong, dan segera menarik Jaejoong kembali pulang, perintah itu pun di sambut anggukan oleh pengawal tersebut.

Kini Yunho bersiap-siap akan ke tempat dimana ia bekerja saat ini, ia punberpamitan pada Jaejoong

"aku pergi ya Jae." Ujar Yunho, menghampiri Jaejoong yang duduk manis dengan menikmati snacknya

"hmmmmm" hanya itu ucapan yang di terima Yunho

"appa pergi kerja dulu sayang, jangan nakal ya." Ujar Yunho mengusap dan menciumi perut buncit Jaejoong, bayi dalam perut itu pun merespon denganpergerekan kecilnya yang membuat Yunho tersenyum.

"Jae jangan nakal saat ku pergi ya." Jaejoong pun mendelik sebal pada Yunho

"kau fikir aku anak kecil Jung?" Yunho hanya terkekeh melihat tampang itu, tampang menggemaskan bagi Yunho

"yay a ya, yasudah aku pergi."

Chu~

Yunho pun mengambil kecukap lagi di bibir cherry tersebut, dan kemudian berlari

"Yak! Jung bodooohhhhhhh!"

Jaejoong kesal apabila Yunho mengambil kecupan di bibirnya, akan tetapi Jaejoong pun marah saat Yunho lupa mengecupnya, Jaejoong hanya mengusap lembut bayi dalam perutnya

"semoga kau tak mewarisi sikapnya."

.

.

Love Me

.

.

Yunho kini telah sampai di tempatnya bekerja, senyum sumeringahnya membuat ia di ledek oleh beberapa temannya

"lihatlah calon ayah muda ini, sepertinya sangat senang." Ujar Kang In, boss tempatnya bekerja saat ini yang tak lain paman dari Joo Woon, Yunho hanya membalasnya dengan senyuman

"Jelas saja ajushi, pasti semalam mereka habis-.." Yunho hanya tersenyum menanggapi ucapan Joo Woon

Ccckkkiiitttt

Sebuah mobil mewah pun datang, perbincangan merekapun terhenti

"ada pelanggan, jja!" ujar Kang In, Yunho terus memperhatikan mobil tersebut, mobil yang taka sing baginya, seseorang pun muncul membuat Yunho terkejut, begitu pun seseorang yang keluar dari mobil tersebut.

TBC

Maaf banyak Typo, merem melek ngetiknya –v

Iya, sekilas FF ini agak mirip dengan FF yang aku suka "Please love our baby" karya Jaejoong Love kalau ga salah, mungkin karena aku kangen ff dia jadi ga sadar alur mirip dengannya, tapi cerita di sini beda, di ff sana/? Jaejoong dan Yunho ga saling kenal awalnya, dan ada konflik pihak ke 3, yaitu Seunghyun, di ff ini aku hanya Fokus pada konflik keluarga Jung dan Kim saja.

Makasih untuk Reviewnya