Sebelumnya

Ccckkkiiitttt

Sebuah mobil mewah pun datang, perbincangan merekapun terhenti

"ada pelanggan, jja!" ujar Kang In, Yunho terus memperhatikan mobil tersebut, mobil yang tak asing baginya, seseorang pun muncul membuat Yunho terkejut, begitu pun seseorang yang keluar dari mobil tersebut.

Love Me

Kaki Yunho ingin sekali berlari, tapi ia tak mampu sama sekali.

"Yunho." Ujar wanita yang baru saja keluar dari mobil mewah tersebut, ia menghampiri Yunho dengan air mata yang berlinang, Kang In dan Joo woon hanya memperhatikan tindakan Yunho dan wanita paru baya tersebut

"apa kabar mu nak? Hiks, tidakkah kau merindukan umma hn?" ujarnya mengusap lembut wajah Yunho, Yunho hanya tertunduk, hatinya sudah sangat sakit, tapi ia enggan untuk menangis

"kau marah dengan umma hn? Mengapa kau tak menatap umma?" Yunho kini menatap wanita yang sangat ia hormati dan sayangi tersebut, ia melepas sentuhan lembut tangan wanita tersebut dari wajahnya.

"maaf nyonya, ada yang bisa kami bantu?" ucap Yunho, Min ah terkejut dengan sikap anaknya, Yunho tak memeluknya atau memanggilnya umma, bahkan kini Yunho hanya berlalu darinya, Min ah terus menatap Yunho yang berjalan menuju mobil mewah tersebut, bahkan supir pribadi Min ah pun membungkuk memberi hormat padanya tak ia hiraukan, Kang In dan Joo Woon masih belum mengerti situasi ini.

"Sejak kapan Yunho bekerja di tempat ini?" tanya Min ah, sementara tatapannya tak pernah lepas dari Yunho yang sedang menservice mobilnya.

"Sudah 3 bulan, sebelumnya ia bekerja dengan keponakanku sebagai kuli bangunan." Jelas Kang In

"Apa? kuli?" Min ah pun menatap horror Kang In, ia sungguh tak menyangka anaknnya sangat tersiksa

"Jika aku boleh tau, anda siapanya Yunho?"

"aku umma-nya, Yunho pergi dari rumah, aku kehilangan jejaknya, dan aku bersyukur Yunho baik-baik saja." Min ah pun tersenyum kecut, ia melihat Yunho menghampirinya kini.

"mobil anda sudah beres." Yunho berbicara tanpa menatap Min ah, ia sibuk membersihkan oli yang ada di tangannya, kemudian ia berlalu dan segera masuk, Min ah hanya mendesah frustasi, ia tak mengerti apa salahnya pada Yunho, Min ah hanya pasrah dan menuruti kemauan Yunho, Min ah segera pergi setelah membayar biaya service tersebut.

Yunho hanya bersandar di sofa dalam bengkel tersebut, wajahnya ia tutupi dengan handuk kecil, Joo woon pun menghampiri Yunho

"Hyung."

"hn?" sahut Yunho

"apa benar dia ummamu?" tanya Joo woon tapi tak ada sahutan sama sekali

"Hyung." Ujar Joo woon kembali, Yunho pun membuka handuk yang menutupi wajahnya

"Hari ini aku izin pulang cepat ya, aku kurang sehat sepertinya." Ujar Yunho

"kau sakit hyung ?" tanya Joo woon sedikit cemas

"sepertinya." Yunho pun berdiri dari sofa tersebut

"bilang ajushi ya, maaf merepotkan." Joo woon hanya mengangguk, baru beberapa jam Yunho di bengkel tersebut, sungguh ia tak enak hati harus meninggalkan pekerjaannya, tapi hatinya kini sedang kacau, emosinya pun memancing penyakitnya kambuh.

Yunho berjalan dengan sangat lesu menuju rumahnya, fikirannya sangat begitu kacau, ia tak marah terhadap umma-nya, ia hanya kecewa akan jati dirinya yang sesungguhnya, anak siapakah dia? Mengapa sang ayah benar-benar tak menganggapnya anak.

Yunho sudah tiba di rumahnya kini, ia pun membuka pintu tersebut, ia lihat Jaejoong yang heran melihatnya pulang dengan begitu cepat.

"Jung? Kau pulang cepat sekali? Ada yang tertinggal?" ujar Jaejoong, Yunho hanya terdiam, wajahnya sangat menunjukan rasa perih di hatinya, Yunho berjalan memasuki kamar mereka kini, sejak Yunho di perbolehkan tidur bersama Jaejoong, mereka pun tidur bersama dalam kamar yang sama. Jaejoong pun menutup pintu sebelum mengikuti Yunho masuk kedalam kamarnya.

"Jung, aku bicara padamu, bisakah kau jawab?" Jaejoong kini berdiri di hadapan Yunho yang sedang duduk di tepi kasur tersebut, tapi Yunho enggan bicara, ia masih terdiam.

"kau bisu apa tuli sih?" Jaejoong sudah sangat kesal di buat Yunho, kini Jaejoong pun duduk tepat di samping Yunho

"lihat aku! Kau ini kerasukan apa sampai seperti ini?" Yunho pun kini menatap Jaejoong, mata musang dan doe eyes itu saling bertemu, perlahan demi perlahan Yunho pun mengecup bibir cherry milik Jaejoong, tangan Yunho menahan kepala Jaejoong agar ia tidak menolak ciuman tersebut, kecupan itu berubah menjadi lumatan nikmat untuk Yunho, Jaejoong terus memberontak menolak ciuman yang tak seharusnya ia lakukan dengan Yunho, akan tetapi Yunho menahan Jaejoong dengan kuat, air mata Yunho pun mengalir, Jaejoong pun terdiam, ia merasa basah pada wajahnya, ia melihat air mata yang keluar dari mata Yunho yang terpejam.

Deg

Jantung Jaejoong berdegup dengan begitu cepat, tangan yang sebelumnya mendorong tubuh Yunho menjadi memegang erat pada kemeja Yunho.

Bau amis pun mulai tercium, Yunho pun melepas ciuman penuh nafsu tersebut, ia melihat darah pada wajah Jaejoong kini

"m-maaf." Ujar Yunho, Yunho segera mengambil tisu dan menghapus darah pada wajah Jaejoong, ia bahkan tak mempedulikan darah yang mengalir pada hidungnya, Jaejoong hanya terus menatap Yunho, Yunho tersenyum saat wajah Jaejoong kembali bersih.

"maaf sudah membuat kotor wajahmu." Ujar Yunho, kemudian ia membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya, sesekali Jaejoong melihat Yunho meringis menahan sakit yang coba ia sembunyikan.

"kau kenapa Yun?" tanya Jaejoong, Yunho pun menatap Jaejoong dengan mata membulat

"kau bilang apa? Yun?" Yunho pun tersenyum, karena Jaejoong menyebut namanya

"Ya, kau ini kenapa? Bukan sekali saja aku temui dirimu seperti ini, tapi sering Yun." Jaejoong terlihat sangat mengkhawatirkan Yunho saat ini, Yunho hanya tersenyum, ia mengusap dan membelai rambut hitam Jaejoong.

"Aku tak apa-apa." ujar Yunho

"ini hanya terlalu letih, sudah biasa." Lanjutnya lagi

"bohong!" bentak Jaejoong, ia menatap Yunho dengan pandangan penuh harap Yunho menceritakan tentangnya yang tak Jaejoong ketahui. Yunho tersenyum, ia pun memandang lurus kedepan saat ini.

"aku mengidap kanker darah Jae." Ujar Yunho, Jaejoong sangat terkejut mendengarnya, matanya panas saat ini, bahkan air matanya pun tak segan untuk terjatuh.

"se-sejak kapan?" tanya Jaejoong, Yunho menoleh ke arah Jaejoong dan tersenyum lembut

"sejak kita menginjak sekolah menengah."

"a-apa? itu sudah lama Yun? Mengapa kau biarkan saja? Apa kedua orang tuamu tau?"

"tidak ada yang tau Jae, orang yang tau penyakitku hanya kau saat ini." Yunho pun menarik nafasnya

"awalnya aku kira ini hanya letih seperti biasa, tapi aku tak sangka saat dokter berkata ini kanker Jae, rasanya aku ingin berteriak ini salah, tapi ini nyata. Untuk apa kedua orang tuaku tau Jae? Untuk apa?" Yunho pun menatap Jaejoong dengan penuh makna kini.

"mereka bisa segera mengobatimu Yun." Yunho hanya tersenyum meledek pada Jaejoong

"apa perasaanmu saat appa-mu mengusirmu Jae?" tanya Yunho, Jaejoong hanya menyeritkan dahinya

"maksudmu? Sudah sangat jelas sakit Yun."

"sakit?" tanya Yunho, Jaejoong pun mengangguk

"apa jadinya jika selama 21 tahun kau tak pernah dianggap anak oleh appa-mu sendiri Jae, bahkan kau di anggap sebagai anak hasil dari perselingkuhan?" tangan Yunho pun mengepal gemetar, Jaejoong hanya diam membisu

"menangislah Yun, jangan kau tahan, kau menyakiti dirimu sendiri dengan menahannya." Seketika air mata itu pun kembali keluar dari mata musang Yunho, isakan pun mulai terdengar, Yunho pun menunduk, bahunya gemetar dengan sangat hebatnya, Jaejoong merasa sesak melihat Yunho, lelaki yang ia benci ternyata sangat rapuh.

"sakit Jae, sesak." Hanya kata itu yang Yunho terus ucapkan, Jaejoong pun merangkul tubuh Yunho, ada rasa tak ingin melihat sosok Yunho menangis, tapi dengan cara inilah Yunho bisa meluapkan perasaannya, Jaejoong baru menyadari semuanya, Yunho selalu menyembunyikan perasaannya, entah senang, sedih atau apapun itu, ia selalu bersikap datar, ia suka menyendiri, bahkan setiap kegiatan olah raga saat sekolah dulu Yunho selalu izin, Jaejoong sangat telat menyadari semua ini, bahkan ia merasa bersalah saat ia sering menyuruh Yunho 'mati', Jaejoong berfikir, bagaimana perasaan Yunho mendengarnya.

.

.

Love Me

.

.

Jaejoong kini sedang duduk di tepi ranjang sambil mengompres Yunho, suhu badan Yunho sangat tinggi, sementara tadi Yunho merintih kesakitan sampai tak sadarkan diri, Jaejoong terus menatap tubuh tak berdaya Yunho kini. Air mata Jaejoong kembali terjatuh saat ia harus mengingat ucapan kasarnya terhadap Yunho, bahkan demi kehidupannya Yunho rela bekerja keras sampai ia kelelahan. Jaejoong mengusap lembut perutnya kini dan menatap Yunho yang tertidur.

"Apa aku terlalu kejam pada appa-mu?" ujarnya bermonolog.

Sementara itu di lain tempat, seorang bertubuh kekar pun berdiri di hadapan Il woo, Il woo sepertinya tampak senang mendengar apa yang orang itu sampaikan, ia pun segera memberikan uang pada lelaki tersebut sebelum pergi.

"ahahaha, aku akan terus memastikan anak itu terus menderita, tak akan ada perusahaan manapun yang menerimanya."

Il woo benar-benar menutup semua peluang Yunho untuk bekerja secara layak di perusahaan mana pun, ia sangat tak menyukai Yunho akan hidup nyaman setelah keluar dari rumahnya tersebut.

"Kau fikir anak Min ah itu anakmu Il woo? Jangan pernah bermimpi, ingat kau menikah dengan Min ah bukan dasar saling mencintai bukan? kau menjebak keluarga Min ah agar terlilit hutang banyak padamu, ingat sebelumnya Min ah kekasih siapa? Aku sangat yakin di belakangmu Min ah sering menemui Hyun Joong."

Kata-kata itu terus saja menjadi tamparan keras untuk Il woo, karena ucapan itulah Il woo meragukan Yunho, bahkan ia tak ingin mengetes kecocokan DNA mereka, karena Il woo tau, atau takut? Takut hasil tes tersebut benar, dan hatinya tak pernah siap sakit.

…..

Hari sudah berganti malam kini, suhu badan Yunho sudah normal, Jaejoong tampak kelelahan, ia tertidur di samping Yunho dengan tangan merangkul pinggang lelaki bermata musang tersebut, Yunho terbangun dari tidurnya, ia menatap sekitar, kemudian melirik pinggangnya yang terasa berat, tak lama setelah itu ia tersenyum melihat tangan Jaejoong yang berada di atas tubuhnya, Yunho segera memposisikan miring tubuhnya menatap wajah cantik Jaejoong, ia tersenyum dan merapikan rambut Jaejoong yang menghalangi wajah cantiknya, aktivitas Yunho pun membuat Jaejoong terbangun dari tidurnya.

"Yun." Ujarnya, Yunho tersenyum

"sudah bangun, biar aku si-.." Jaejoong yang sebelumnya ingin beranjak bangun untuk menyiapkan makanYunho terpaksa untuk diam di atas kasur tersebut karena Yunho menahannya.

"temani aku saja disini Jae." Yunho pun menggenggam erat tangan Jaejoong kini, mata mereka pun saling bertatapan

"kau belum makan dari tadi, aku akan siapkan makan mu dulu." Ujar Yunho, tetapi Yunho menggeleng

"temani aku saja disini."

"ck! Keras kepala." Kesal Jaejoong, dan seperti biasa Yunho menanggapinya dengan senyum.

"Jae." Ujar Yunho dengan menggenggam erat tangan mulus Jaejoong berbanding terbaling dengan tangannya yang kasar, sesekali Yunho menciumi tangan mulus tersebut, dan tak ada penolakan sedikitpun dari Jaejoong.

"Ya?" jawab singkat Jaejoong

"Maaf." Ujar Yunho, Jaejoong pun menyeritkan dahinya

"untuk?"

"Hidup susah, dan kini karena ulahku kau menanggung semuanya, bahkan kau harus bersusah payah dengan kehamilanmu."

Hening tak ada jawaban dari Jaejoong, Yunho pun melepas genggaman tersebut, ia tau kekecewaan Jaejoong padanya tak dapat terampuni,.

"bodoh!" ucapan Jaejoong pun membuat Yunho sadar benar jika Jaejoong masih marah padanya, Yunho tak bersuara kini.

"Ternyata kau tak pintar yang ku bayangkan Yun, untuk apa meminta maaf." Ucapan Jaejoong pun membuat mata Yunho kembali menatap Jaejoong kini dengan wajah penasaran.

"buat apa minta maaf? Ini sudah takdirku denganmu, bahkan aku yang seharusnya meminta maaf Yun, hiks." Isakan pun mulai terdengar dari mulut Jaejoong, matanya sudah memerah dan menangis kini

"aku terlalu kasar padamu Yun, hiks, sedari dulu aku selalu mengusikmu, bahkan berkata jahat untukmu, maafkan aku Yun, hiks, maafkan aku." Jaejoong pun semakin menjadi menangis, Yunho membelai lembut wajah tersebut, mata Yunho pun sudah berair kini.

"ssstttsss sudahlah, kita jangan mengenang masa lalu, mulai dari sekarang kita jalani kehidupan kita." Ujar Yunho, Jaejoong pun mengangguk, Yunho tersenyum dan mengecup kening Jaejoong

"aku mencintaimu Jae." Ujar Yunho, Jaejoong masih terdiam, dan Yunho tau arti kediamannya, Jaejoong belum mencintai dirinya, saat ini yang Jaejoong rasakan hanya kasihan dan sesal. Sementara itu Jaejoong hanya terus berfikir dan bingung akan perasaannya pada Yunho.

…..

Suasana sudah malam, akan tetapi Yunho dan Jaejoong masih mengitari jalan, Jaejoong yang tiba-tiba ingin bubble ice, dan keinginannya itu tak bisa di tunda, mau tidak mau Yunho pun menuruti permintaan Jaejoong.

"besok saja pulang bekerja aku belikan untukmu Jae, sekarang sudah sangat malam, tak ada toko yang buka." Ujar Yunho, Jaejoong hanya menggeleng dan menatapnya kesal

"aku ingin saat ini, bukan besok!"

"ta-.."

"Jika tak bisa yasudah, biar aku sendiri yang mencari." Yunho hanya mendesah frustasi, bukan kali ini saja ia harus meladeni Jaejoong yang sedang mengidam, sebelumnya lebih gila lagi menurut Yunho, Jaejoong menginginkan ice cream cone jam 2 dini hari, untung saja Yunho tau satu tempat yang menjual ice cream sampai malam. Yunho dan Jaejoong masih berjalan mencari toko penjual bubble, tapi tak kunjung mereka temui, sampai…

Pluk

"Yunho?" ujar seseorang dengan menepuk pelan bahu Yunho, Yunho pun menoleh

"Yoochun-ah?" seketika Yoochun pun merangkul Yunho yang ia anggap teman terbaiknya tersebut

"apa kabarmu?" tanya Yoochun riang, Jaejoong hanya memperhatikan kedua teman tersebut, Yunho tersenyum

"cukup baik." Seperti biasanya Yunho selalu berkata singkat pada hal yang di tanyakan saja, Yoochun pun melirik Jaejoong kini

"kau? Jaejoong kan?" tanya Yoochun dengan menunjuk Jaejoong, Yunho pun menanggapi Yoochun

"ya dia Jaejoong."

"mengapa gemuk sekali?" tanya Yoochun polos, Yunho hanya terkekeh dengan menutup mulutnya, Jaejoong pun sebal melihatnya

"Masalah jika aku gemuk?" ketus Jaejoong

"waaaahhh benar, kau si angkuh itu ya, ahaha." Ujar Yoochun kembali, Jaejoong sangat jengkel di buat Yoochun kini, sementara Yunho terus terkekeh, Jaejoong pun memukul lengan Yunho menandakan dia sangat kesal

"sakit Jae." Ujar Yunho mengusap lengannya, sementara Yoochun hanya memperhatikan mereka

"mengapa kalian akrab sekali, dan bisa bersama? Bukannya namja ini sering buat masalah dengan mu Yun?" ujar Yoochun

"kami sudah menikah Yoochun-ah."

"APA?!" Yoochun sangat terkejut mendengarnya, kini ia benar-benar menatap Yunho dan Jaejoong secara bergantian

"ba-bagaimana bisa Yun? Apa ini sebabnya kau menghilang selama 6 bulan?" Yunho mengangguk

"ceritanya panjang, tidak enak bicara di tengah jalan seperti ini." ujar Yunho

"baiklah, sekarang kita ke café ku saja, kau harus jelaskan semuanya Yun."

"maaf Yoochun, aku sedang mencari bubble ice untuk Jaejoong." Yoochun lagi-lagi melirik Jaejoong

"di tempatku ada Yun, kajja." Mata Yunho pun berbinar, akhirnya perjalananya berakhir, mereka pun pergi ke tempat Yoochun dengan mobil Yoochun.

Sesampainya di sana Buble ice pesanan Jaejoong pun di siapkan, sementara Yunho hanya meminum green tea. Yoochun pun menagih Yunho bercerita, Yunho menceritakan semuanya, dari Yunho yang meminum soju pemberian Yoochun sampai ia mabuk dan memperkosa Jaejoong dengan kaadaan tidak sadar, sampai mereka di usir saat tau Jaejoong hamil, Yoochun cukup merasa bersalah, jika saja ia tidak memaksa Yunho untuk meminum soju tersebut, Yunho tak akan seperti ini, Yunho tersenyum menanggapinya.

"aku meyesal Yun, kau menderita karena ulahku."

"tidak-.."

"Ya, ini semua karena mu! Karena mu pula aku harus hamil seperti ini." ujar Jaejoong, Yunho kembali terdiam, ternyata Jaejoong belum bisa menerima kehadiran bayi mereka

"maaf Jae, aku tak tau akan seperti ini."

"ck! Setidaknya aku tak akan hidup sesusah ini, tinggal di rumah kecil dan serba kekurangan." Sekali lagi ucapan Jaejoong membuat sesak di dada Yunho, Yunho masih terdiam menunduk, menatap gelas Green Tea miliknya.

"ya Jae aku mengerti, aku pun menyesal, saat aku tau kondisi Yunho drop akibat minuman-minuman seperti itu,aku merasa menjadi teman yang sangat buruk." Jaejoong pun menyeritkan dahinya

"drop?"

"ya, pagi itu, setelah aku kehilangan Yunho semalaman, Yunho kembali ke tenda dengan wajah pucat, dan tak sadarkan diri beberapa saat, dan saat Yunho terjaga, aku cukup lega, dan ia hanya berkata tak akan mengulangi minum minuman tersebut, dengan tertawa." Yunho masih terdiam melamun, ia bahkan tak mendengarkan apa yang Yoochun katakan, Jaejoong melirik Yunho sekilas.

Hari sudah semakin malam, Yunho dan Jaejoong pun pulang, Yoochun mengantarkan Yunho dan Jaejoong, Yunho sangat berterima kasih pada Yoochun.

Yunho masuk terlebih dahulu ke dalam rumah tersebut setelah Yoochun pergi, Jaejoong hanya memandang Yunho yang terus terdiam sedari tadi.

"Yun, sepertinya Yoochun sangat baik padamu ya?" tanya Jaejoong untuk menghindari suasana canggung di antara mereka

"ya." Jawab Yunho singkat

"Bubble Ice tadi pun sangat lezat."

"baguslah jika kau suka."

"Yun."

"hn?"

"lain kali ajak aku makan di tempat seperti itu lagi ya, aku ri-.."

"aku orang susah Jae! Mana sanggup aku mengajakmu ke tempat seperti itu!" entah mengapa Yunho membentak Jaejoong saat itu, Jaejoong pun diam terpaku, matanya pun sudah mengambang air kini.

"y-yun?"

"apa?! ya bukan? aku ini orang tak mampu Jae! Bahkan kau pun tak suka hidup seperti ini!"

"Ya! Aku tak suka hidup melarat seperti ini! jika bukan ulahmu aku pasti hidup senang, dan tak akan mengalami kehamilan yang cukup memalukan ini!"

Sakit, itu yang Yunho rasakan.

"mengapa kau tak pernah menerima anak itu Jae! Dia darah dagingmu juga!"

"karena ini bukan kodrat ku Yun! Seandainya aku harus mengandung anak, itu pun bukan anakmu!"

Deg

Yunho tak bisa berkata-kata apapun, ia pun menuju keluar rumah kini

"Jung! Mau kemana kau!" teriak Jaejoong, akan tetapi Yunho tak menanggapinya sama sekali, Yunho pergi tak tentu arah, ia hanya penat, dan ia hanya ingin mencari udara segar, fikirannya sangat kacau kini, sesak yang ia rasakan saat ini, semua tak menginginkannya, ayahnya bahkan istrinya sendiri, lebih buruknya yang membuat Yunho semakin sesak adalah Jaejoong tak pernah menerima anaknya. Jaejoong pun menangis histeris di rumah tersebut.

"brengsek kau Jung, hiks! Pergi dan bawa anak menyusahkanmu ini! aku membenci kalian!"

.

.

Love Me

.

.

Yunho duduk di tepi jalan kini, otaknya sangat penat, inikah rasanya cinta yang tak berbalas? Dan inikah rasa tak diinginkan oleh orang-orang yang kita sayangi? Sakit dan sesak.

Ia memandangi seseorang di tepi jalan tersebut, lelaki paru baya yang keluar dari mobilnya untuk mengambil sesuatu di tengah jalan tersebut, Yunho pun melirik samping, truk sedang melaju dengan cepatnya, mata Yunho pun membulat sempurna, iya segera berlari dan berteriak awas pada lelaki itu.

Brraaaaaaaaakkk

Sebuah tubuhpun terpental akibat truk dan tubuh yang lain terdorong ke trotoar akibat dorongan orang lain.

…..

Tok

Tok

Tok

"hyung buka pintunya cepat!"

Jaejoong pun membuka pintu tersebut dengan cepat, awalnya ia sangat berharap itu Yunho, akan tetapi ia salah, itu Joo woon

"Joo woon-ah? Yunho sedang tidak ada di rumah saat ini." ujar Jaejoong, karena ia tau Joo woon pasti mencari Yunho

"Yunho hyung, hyung." Wajah Joo woon pun tampak cemas, seketika hati Jaejoong berdegup cepat

"Yunho? Yunho kenapa? Katakan!"

"Yunho hyung tertabrak truk untuk menyelamatkan seseorang." Kaki Jaejoong pun melemas, Jaejoong tak menyadari air matanya terjatuh

"d-dimana Yunho, antar aku ke Yunho sekarang!"

Jaejoong tampak sangat mencemaskan Yunho kali ini, mulutnya terus berkata 'bertahanlah Yun' dengan air mata yang terus mengalir, ia terus berlari bahkan ia tak memperdulikan rasa perutnya yang sakit akibat berlari. Setibanya di sana Jaejoong melihat lelaki paru baya yang berdiri di ruang UGD.

"bagaiman Yunho?" tanya Jaejoong

"kau siapanya Yunho?"

"aku istrinya, bagaimana kondisi suamiku." Ini pertama kali Jaejoong mengaku status mereka di depan umum, dokter pun keluar

"bagaimana kondisi Yunho?" tanya lelaki tua tersebut bersama Jaejoong

"pasien banyak kehilangan darah, kondisinya sangat kritis kini." Jelas Dokter, Jaejoong seakan ingin berteriak dan masuk ke ruang tersebut untuk membatu hidup suaminya, tapi ini mustahil. Tak lama kemudian seorang wanita cantik di usianya kini sedang menangis datang menghampiri kami dan memanggil Yunho.

"apa yang kau lakukan pada anakku, hiks." Wanita itu tampak marah pada lelaki tua yang sedari tadi berdiri dengannya, perut Jaejoong pun terasa sangat sakit, ini bukan masa kelahiran bayinya, tapi bayinya seakan berontak, ia meremas perut tersebut dan mengaduh kesakitan.

"hiks ku mohon, ampuni aku tuhan, jangan kau kabulkan ucapanku, aku mau suami dan anakku bersamaku, kumohon." Batin Jaejoong, Jaejoong meringis kesakitan, lelaki paru baya tersebut segera datang dan memanggil dokter dan membawa Jaejoong untuk di tangani.

Jaejoong menyesal dengan ucapannya, ia tak siap jika anaknya dan Yunho pergi, telat untuk mengungkapkannya, tapi Jaejoong tak sanggup untuk Yunho pergi.

Bertahanlah.

Bertahan bersama cinta yang tumbuh dalam perut Jaejoong.

TBC

Huuuaaaaaaaa rasanya di part ini numpuk masalah -_-

Makasih buat reviewnya teman-teman :')

Maaf dengan typo dan EYD ancur XD

Salam YJS

-poppo chwang-