Sebelumnya

"hiks ku mohon, ampuni aku tuhan, jangan kau kabulkan ucapanku, aku mau suami dan anakku bersamaku, kumohon." Batin Jaejoong, Jaejoong meringis kesakitan, lelaki paru baya tersebut segera datang dan memanggil dokter dan membawa Jaejoong untuk di tangani.

Jaejoong menyesal dengan ucapannya, ia tak siap jika anaknya dan Yunho pergi, telat untuk mengungkapkannya, tapi Jaejoong tak sanggup untuk Yunho pergi.

Bertahanlah.

Bertahan bersama cinta yang tumbuh dalam perut Jaejoong.

Love Me

Jaejoong sendiri kini di taman yang begitu indah, pakaian putih yang ia kenakan dan harum berbagai bunga membuat hatinya begitu sangat tentram, terdengar suara anak kecil pun sedang tertawa riang disana, Jaejoong tersenyum melihat bocah gembul tersebut, ia tertawa lepas saat pria dewasa itu mengangkat tubuh bocah tersebut ke atas, Jaejoong terkejut saat melihat pria dewasa tersebut adalah Yunho, tak lama setelah itu, Yunho dan anak kecil itu menatapnya dengan wajah menyesakan hati, kemudian Yunho tersenyum, dan melepas anak tersebut berlari kearah Jaejoong, Jaejoong melihat anak itu, wajahnya mengikuti wajah Yunho, tampan sekali.

"ummaa." Panggil anak itu, hati Jaejoong pun berdegup begitu cepat, ia sangat senang saat bocah itu memanggilnya 'umma', Jaejoong pun berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka, air mata Jaejoong pun tak bisa tertahan untuk keluar, Jaejoong mengusap lembut wajah anak yang menggemaskan tersebut.

"apa umma tidak menginginkan Minnie?" hati Jaejoong sakit mendengarnya, Jaejoong pun menggeleng, ia ingin sekali berkata, 'tidak, umma sangat menginginkanmu, maafkan umma' tetapi lidah Jaejoong tak mampu ia gerakan sama sekali.

"umma kenapa tidak inginkan Minnie hidup? Apa Minnie sangat jahat sama umma?" air mata Jaejoong terus mengalir, kepalanya terus menggeleng mengisyaratkan bahwa ucapan bocah tersebut salah.

"Min takut umma, kalau umma tolak Minnie biar Minnie sama appa saja." Jaejoong kini terisak semakin keras, ia tidak mau Yunho atau anaknya pergi darinya. Jaejoong pun memeluk dengan sangat erat anak tersebut, ia tak mau melepaskan anak tersebut.

"Minnie." Ujar Yunho dari kejauhan, tangan Yunho pun mengulurkan ke arah mereka, Jaejoong lagi-lagi menggeleng, anak itu tampak sangat senang, ia melepas kan pelukan Jaejoong dan segera berlari ke arah Yunho. Jaejoong berusaha menggapainya tetapi sulit.

Jaejoong membuka matanya, lampu dan warna putih mengelilinginya

"Pasien sudah sadar dok." Ujar salah seorang perawat disana, sang dokter pun segera memeriksa kondisi Jaejoong saat itu juga

"apa, anakku baik-baik saja dok?" tanyanya ragu

"syukurlah tuan, bayi anda bisa di selamatkan, kondisinya sangat lemah sampai saat ini, jangan terlalu letih dan stress." Jaejoong pun dapat bernafas lega kini, tuhan masih menyayanginya, ia tak mengambil apa miliknya kini, dan kini ia teringat Yunho.

"bagaimana Yunho, suami saya?" tanya Jaejoong

"Pasien Jung Yunho masih belum sadarkan diri, tetapi ia sudah melewati masa kritisnya." Sekali lagi Jaejoong pun berterima kasih kepada tuhan dengan menyelamatkan Yunho. Jaejoong pun meminta untuk bertemu dengan Yunho, Jaejoong pun di antar oleh perawat disana menuju kamar Yunho, sebelum sampai kamar tersebut, ia pun melihat 2 orang tengah beradu bicara, Jaejoong meminta perawat tersebut berhenti, ia ingin tau apa yang mereka bahas, karena ia sangat tau, ini pasti seputar Yunho.

"bukan aku yang melakukannya Min ah, anakmu yang datang dan mendorongku sehingga tubuhnya yang tertabrak."

"aku tak pernah mempercayaimu, kau sering melukai Yunho dari dulu, mana mungkin aku mempercayaimu!"

"ck! Terserahmu!"

"aku tak menyangka, ada seorang ayah yang tega dengan putra kandungnya sendiri!"

"dia bukan putraku!"

Jaejoong pun terkejut mendengarnya, ternyata benar Yunho tak pernah di anggap oleh ayahnya sendiri

"sampai kapan kau terus menolak Yunho? Saat Yunho butuhkan darah bukankah darahmu cocok dengannya? Dan mengapa kau hanya diam saja membiarkan Yunho menderita? Kau tau Il woo? Sejak aku menikah denganmu, hanya untukmu lah aku berikan hatiku! Bukankah sudah ku katakan,jika kau ragukan Yunho, lakukan tes DNA."

"percuma Min ah, karena pasti hasilnya tidak cocok, Yunho itu anak hasil perselingkuhanmu."

Plakk

Min ah pun menampar keras Il woo

"kau akan menyesali semuanya." Min ah pun pergi, sementara Il woo menahan emosi dan pergi, Jaejoong hanya tertunduk, ia pun menyuruh perawat itu kembali meneruskan perjalanannya ke kamar rawat Yunho, Jaejoong melihat Yunho tidur membelakanginya kini, dapat Jaejoong pastikan Yunho sudah sadar, Jaejoong menyuruh perawat tersebut keluar, perlahan ia berdiri dari kursi roda tersebut dengan menegangi perutnya yang masih terasa nyeri, Jaejoong mengambil kursi dan duduk di hadapan Yunho kini, tatapan Yunho pun kosong, bahkan ia tak merespon Jaejoong yang kini duduk di hadapannya.

"Yun." Ujar Jaejoong, tapi tak ada tanggapan dari Yunho sama sekali, bahkan Yunho tak menatap Jaejoong, pandangannya hanya lurus dan kosong, Jaejoong takut di buatnya, Jaejoong yang mudah mengalirkan air mata itu kembali mengalirkan air matanya lagi. Jaejoong mendekati wajah Yunho yang penuh luka tersebut, dan mengecup cukup lama bibir hati tersebut, mata Yunho pun mulai mengalirkan air mata, Jaejoong maupun Yunho memejamkan mata dan membiarkan bibir mereka bersentuhan, air mata mereka yang mengalir, serta isakan Jaejoong. Jaejoong melepas sentuhan bibir tersebut, ia pun menghapus air mata yang mengalir di wajah Yunho.

"kau kuat Yun." Ujar Jaejoong tersenyum, Yunho menatap Jaejoong dengan tatapan sedih kini, Jaejoong tau, Yunho pasti mendengar obrolan kedua orangtuanya tadi.

"kau masih mempunyai aku, dan bayi kita Yun, kau harus kuat, kami membutuhkanmu." Yunho pun tersenyum mendengar ucapan Jaejoong

"jangan pernah pergi meninggalkanku lagi yun, hiks, aku takut, sangat takut." Jaejoong pun menangis sejadinya, Yunho tersenyum dan menghapus air mata Jaejoong dengan tangannya yang lemah tersebut.

"ma-maafkan aku Yun, aku selalu menyakitimu, mulutku begitu kejam mencacimu, hiks." Jaejoong semakin terisak, sementara Yunho membelai lembut wajah cantik istrinya tersebut

"sstttss jangan menangis." Ucap Yunho sangat pelan, Jaejoong pun menggenggam erat tangan Yunho, ia kecup punggung tangan tersebut dengan penuh sayang.

"a-aku mencintaimu Yun, aku tau ini sangat terlambat, tapi aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku." Yunho sangat senang mendengarnya.

"aku lebih mencintaimu Jae." Jaejoong tersenyum dan menangis haru mendengarnya, cinta datang tanpa ia ketahui, Jaejoong hanya membutuhkan Yunho dan anaknya di sampingnya kini, tak peduli dengan harta, kenyamanan, atau pun kehormatan, hanya Yunho dan anaknya yang berharga kini.

.

.

Love Me

.

.

Yunho tertidur dengan merangkul tubuh Jaejoong, mereka tidur bersama dalam tempat tidur Rumah sakit tersebut, para perawat tak berani mengganggu karena Min ah melarangnya, Min ah hanya membiarkan anaknya merasakan kebahagiannya dengan cara apapun. Jaejoong terbangun dari tidurnya karena hari sudah sangat siang, ia menyingkirkan tangan Yunho yang memeluk pinggangnya yang lebar kini, Jaejoong turun dari kasur tersebut. Yunho terbangun karena aktivitas Jaejoong.

"kau mau kemana Jae?" ujar Yunho terdengar takut, Jaejoong pun tersenyum

"aku ke kamar mandi sebentar Yun."

Yunho pun mengangguk, Yunho sangat bersyukur pada tuhan, Jaejoong telah membalas cintanya, dan tak membenci anak dalam kandungannya kini, kepala Yunho kembali pusing, ia terus memejamkan matanya dan mencengkram kepalanya, berharap rasa pusing itu menghilang, ia meringkuk dalam selimut tersebut sambil menahan rasa sakitnya, darah segar kembali mengalir dari hidung mancungnya.

Jaejoong sudah kembali dari kamar mandi kini, ia pun melihat Yunho yang bersembunyi di balik selimut tebal tersebut, Jaejoong segera menghampirinya dan membuka paksa selimut tersebut.

"astaga Yunho." Jaejoong tampak panik melihat kondisi Yunho, ia segera memanggil dokter tetapi Yunho menahannya, cengkraman Yunho begitu kuat, Jaejoong sangat tau Yunho kesakitan, tetapi Yunho tak memperbolehkan Jaejoong memanggil dokter.

10 menit Yunho mengalami rasa sakit itu, sebentar bagi kita yang tak mengalaminya, tetapi bagaimana jika kita yang merasakan sakit itu? Tubuhmu seakan di tusuk seribu jarum, kepalamu seakan di hantam, dan lagi nafasmu, oksigen seakan habis untuk kau hirup. Yunho sudah tenang, ia terlihat sangat letih, bagaimana tidak, itu sangat melelahkan kawan, melawan rasa sakit itu melelahkan. Jaejoong menghapus darah dari hidung Yunho dengan tangan gemetar, hatinya sakit, ia sangat takut Tuhan mengambil Yunho darinya dengan cepat.

"masih terasa sakit?" tanya Jaejoong, Yunho pun menggeleng

"tidak, hanya sedikit pusing Jae."

"appa dan umma mu harus tau Yun agar kau bisa sembuh." Yunho hanya tersenyum kecut

"tak perlu Jae, aku tak mau menyusahkan mereka."

"ta-.." Yunho pun menutup mulut Jaejoong dengan telunjuknya, tak berapa lama pintu kamar pun terbuka, wanita paru baya pun datang dengan sang suami di belakangnya, Jaejoong menatap mereka, ia pun segera berdiri untuk memberi hormat kepada kedua mertuanya tersebut.

"duduk saja sayang, kau sedang hamil." ujar Min ah, Jaejoong hanya mengangguk menurutinya, Min ah menghampiri Yunho dan membelai wajah penuh memar sang anak

"sudah membaik nak?" ujarnya,Yunho hanya mengangguk, Jaejoong merasa tak nyaman dengan situasi ini, ia berniat meninggalkan Yunho dan keluarganya untuk sementara, tapi yunho menahannya, tangan Jaejoong di genggam erat oleh Yunho.

"setelah kembali dari rumah sakit, kau kembali pulang ya, umma mencemaskanmu." Yunho kemudian melirik sosok angkuh di belakang umma-nya yang tak lain ayahnya sendiri.

"tidak, rumahku adalah rumah bersama Jaejoong dengan uangku sendiri."

"ck, uangmu, bukannya rumah tersebut hasil penjualan mobil mu?." Yunho terdiam kemudian, benar, rumah itu hasil penjualan mobilnya, tangan Yunho gemetar, Jaejoong pun menatap Yunho kini, wajah Yunho datar, tapi ia sangat tau hati Yunho sangat sakit.

"ya tuan, itu memang hasil penjualan mobil, jika anda niat mengambil rumah itu baiklah, aku dan Jaejoong akan meninggalkan rumah tersebut, tapi beri aku waktu untuk mencari tempat tinggal lain." Hati Jaejoong kembali perih, Yunho memanggil ayahnya sendiri dengan sebutan 'tuan' bukan 'appa'.

"baguslah jika kau faham. Kau pun masih muda, tak seharusnya mengandalkan hartaku, percuma tuhan memberikanmu kesehatan hanya untuk menikmati hartaku tanpa bersusah payah." Getaran gemetar tangan Yunho semakin kuat terasa, Jaejoong seakan ingin menangis mendengarnya, selama ini Yunho bersusah payah bekerja keras, kondisinya pun jauh dari kata sehat.

"Il woo, jika kau kemari hanya untuk menjatuhkan Yunho, pergilah." Ujar Min ah tampak kesal dengan sikap suaminya tersebut.

"ckck, anak dan umma yang menyebalkan, baiklah, aku kemari hanya mau berterima kasih, karena dirinya nyawaku tak melayang, sebagai imbalannya, biaya adminitrasi rumah sakit sudah ku lunasi." Il woo pun segera meninggalkan kamar tersebut, min ah hanya membelai lembut sang anak

"sebaiknya umma pulang saja, sudah ada Jaejoong yang menemani Yunho kini." Min ah pun melirik Jaejoong kini

"baiklah jika itu maumu Yun, cepat sembuh, besok umma kemari lagi." Min ah mengecup kening Yunho dengan sangat lama, Min ah pergi setelah itu.

Setelah mereka pergi pegangan Yunho pada tangan Jaejoong pun terlepas, Jaejoong mengusap bahu Yunho dengan lembut, ia mencoba tersenyum, Yunho mengusap tangan lembut Jaejoong dan membalas senyum tersebut.

…..

Seminggu kemudian Yunho keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan Min ah, Yunho kembali ke rumah kecil tersebut dan sebentar lagi ia pun harus keluar dari rumah yang sudah ia tempati selama 6 bulan tersebut. Jaejoong sudah meninta Joo woon untuk mencarikan mereka sebuah rumah kontrakan untuk Yunho dan Jaejoong tinggali, itu pun atas perintah Yunho, akhirnya Kang In pun menyuruh Yunho dan Jaejoong tinggal di tempat tinggalnya, awalnya Kang In hanya niat membantu, ia tak memaksa Yunho untuk membayar, tetapi Yunho tak mau, ia tetap konsisten, ia mengontrak di rumah tersebut, dengan kata lain Yunho harus membayarnya.

Kehidupan Yunho dan Jaejoong berjalan dengan baik, bahkan cinta mereka pun semakin tumbuh, Jaejoong tak pernah mempermasalahkan jika Yunho memberikannya uang sedikit, Jaejoong pun sering mengunjungi Yunho di bengkel tersebut untuk membawakan Yunho bekal. Usia kandungan Jaejoong sudah memasuki bulan ke 8 kini, sangat terlihat jelas perut itu semakin membesar, bahkan tubuh Jaejoong sangat terlihat gemuk kini, ia sering merajuk pada Yunho karena dirinya yang sangat jelek, tetapi Yunho selalu merayunya dan membuat pipi itu merah merona. Untuk penyakit Yunho, Jaejoong angkat tangan, mereka tak banyak uang untuk berobat, tetapi Jaejoong terus berusaha tak menambah beban fikiran Yunho yang dapat memancing kondisi buruk pada Yunho. Siang ini seperti biasa Jaejoong akan mengantarkan bekal makan siang Yunho ke bengkel, Jaejoong tak membiarkan Yunho makan sembarangan, Jaejoong datang ke bengkel tersebut dengan senyum yang membuat mabuk orang-orang disana.

"Hyuuuuunggggggggg istri galakmu sudah datang." Teriak Joo woon membuyarkan para lelaki yang menatap Jaejoong, Jaejoong merasa ingin membunuh Joo woon saat itu juga, Joo woon tak pernah lepas mengatainya galak, Yunho pun keluar dari bawah mobil yang sedang ia service tersebut, dapat kita lihat, para lelaki yang melihat Yunho menghampiri Jaejoong lesu, apalagi Jaejoong dengan lembut mengelap wajah Yunho yang berlumuran oli, mereka sangat iri dengan pasangan yang mereka lihat serasi tersebut.

"lanjutkan pekerjaanku." Ujar Yunho, Joo woon tersenyum riang

"ay, ay captain." Yunho pun segera membawa Jaejoong kedalam, ia tau para lelaki itu sedang menatap lapar istrinya.

Jaejoong membuka bekal tersebut, Yunho pun tersenyum melihat masakan Jaejoong yang sangat ia sukai, Yunho melahap makanan tersebut sampai habis, dan Jaejoong hanya tertawa melihat Yunho yang sangat kelaparan.

"appa-mu rakus sekali sayang." Kekeh Jaejoong sambil mengusap lembut perut buncitnya, Yunho hanya tersenyum, ia pun ikut mengusap lembut perut Jaejoong.

"setidaknya appa hanya makan pemberian umma-mu saja, tidak seperti dirimu, masih dalam perut saja sudah makan banyak sekali." Seketika bayi dalam perut Jaejoong bergerak, Jaejoong mengaduh karena pergerakan tiba-tiba sang bayi, sementara Yunho terkekeh

"marah dengan ucapan appa hn?" bayi itu terus tak mau diam, Jaejoong kualahan di buatnya, Jaejoong terus mengusap lembut sampai bayi dalam perutnya tersebut kembali tenang. Setelah tenang, Jaejoong menggeleng dan tersenyum

"awas saja jika dia sudah lahir Yun, aku akan mencubitnya." Ujar Jaejoong, Yunho pun tersenyum dan mengecup singkat bibir cherry Jaejoong

"awas Jae dia mendengar, dan kau di buat merintih kembali." Jaejoong hanya mendelik sebal Yunho

"yasudah, pelanggan hari ini cukup banyak, kasihan Joo woon melayani sendiri." Ujar Yunho, bergegas kembali bekerja

"biar saja, sesekali kerjai dia, seenaknya saja mengataiku galak. Memangnya Kang In ajhusi kemana?"

"menjemput anaknya ke stasiun," Jaejoong pun mengangguk

"baiklah sayang, aku kembali ya." Yunho mengecup lembut kening tersebut, Jaejoong merapikan rantang bekal tersebut, dan bergegas kembali pulang, ia berpamitan dengan Yunho, lagi-lagi mereka menjadi objek tontonan.

"beruntungnya dia mendapatkan istri secantik itu." Guman salah seorang disana

"jadi montir tampan itu sudah punya istri, aaahhhhh aku patah hati." Yunho hanya tersenyum mendengar ocehan orang-orang yang sudah biasa ia dengar.

Jaejoong berjalan dengan sangat senang

Tinnn

Tiiinnnn

Jaejoong pun sebal dengan mobil yang terus mengklaksonnya, ia jalan di tempat yang benar, Jaejoong pun membalikan badannya.

"Tidak bisakah kau berhenti mengklakson? Kau fikir ini jalanan milikmu!" maki Jaejoong, sang pemilik mobil pun keluar, Jaejoong terkejut melihatnya

"Joongie."

"a-appa" lelaki itu mengangguk, ia pun merentangkan tangannya, Jaejoong segera menghampirinya dengan riang, Hyun Joong mendapatkan info keberadaan Jaejoong dari orang suruhannya, awalnya ia menyuruh orang itu menarik Jaejoong pulang, tetapi saat tau kondisi Jaejoong yang sedang berbadan dua, ia pun membiarkan dirinya sendiri yang mengajak Jaejoong pulang, ia takut Jaejoong terluka nantinya. Hyun Joong memeluk Jaejoong dengan sangat erat.

"Joongie kangen appa." Hyun Joong membelai rambut Jaejoong dengan lembut

"appa juga sayang, apa kabarmu? Kau terlihat kurus dengan perut membesar seperti ini, jelek sekali anak appa ." ujar Hyun Joong meledek, Jaejoong pun cemberut di buatnya

"Joongie sangat baik, Yunho menjaga Joongie dengan sangat baik."

"benarkah? Kau ini tak bisa hidup sulit sayang, bagaimana bisa kau bahagia dengan hidup susah?" Jaejoong tersenyum mendengarnya

"tak semua kebahagian itu berasal dari uang appa, Yunho memberikan Joongie cintanya yang sangat membuat Joongie bahagia." Hyun Joong hanya mengangguk

"sekarang kembali pulang dengan appa ya?" Jaejoong terdiam sebentar, ia memandang ayahnya kini

"bagaimana dengan kondisi Joongie sekarang?"

"mudah saja sayang, setelah anak ini lahir, berikan pada ayahnya, appa fikir Yunho bukanlah orang baik." Mata Jaejoong pun membulat sempurna mendengarnya.

"apa maksud appa? Sampai kapanpun Joongie tak akan mau berpisah dengan anak Joongie dan Yunho!"

"Joongie dengarlah sayang, Yunho atau anakmu itu hanya menyusahkanmu saja."

"TIDAK! Jika tidak ada yang mau appa bicarakan lagi, sebaiknya appa jangan temui Joongie lagi, sampai kapanpun Joongie akan terus bersama Yunho!" Jaejoong pun pergimeninggalkan Hyun Joong yang terus berteriak memanggil nama Jaejoong, sungguh tak menyangka apa yang di ucapkan Hyun Joong membuat Jaejoong sangat sakit.

.

.

Love Me

.

.

Seorang maid pun kini memberikan Il woo sebuah kotak yang ia temui di kamar Yunho saat membereskan kamar tersebut, yang nantinya Il woo ubah menjadi kamar tamu.

"apa ini?" tanyanya

"aku tidak tau tuan, sepertinya ini milik tuan muda, saya rasa itu sangat penting." Ujarnya menunduk

"baiklah." Il woo pun membuka kotak tersebut setelah maid tersebut pergi. Banyak fotonya di dalam sana, serta beberapa surat dari rumah sakit, tunggu, rumah sakit? Il woo pun penasaran dan membuka isi surat tersebut.

Jung Yunho

17 tahun

Diagnose : Kanker darah stadium 1

Mata Il woo pun membulat sempurna melihat hasil tersebut, ia pun menemui beberapa obat di sana, dapat ia simpulkan itu obat milik Yunho, ia kembali membuka surat kedua.

Mother : Shin Min Ah

Child : Jung Yunho

Allaged Father : Jung Il Woo

Combined parentage index : 1296873920. 3577

Probability of parentage : 99.999943325%

Il woo sangat terkejut melihat surat ini, ini bukti akurat Yunho adalah anaknya, anak kandungnya, surat ini seakan menamparnya, mengapa Yunho tak pernah memberinya surat ini, air mata Il woo terus mengalir, meremas surat tersebut sampai tak berbentuk lagi, ia terus memanggil nama sang putra, Yunho.

Semua kenangan yang ia lalui hanya membuat sakit Yunho, Il woo benar-benar merusak batin dan fisik Yunho, penyakit yang Yunho derita adalah penyakit yang membunuh ayahnya, Il woo sangat tidak mau sampai yunho merasakan hal yang sama.

"appa celamat ulang tahun ya, ini kado dali uno buat appa." Yunho tersenyum memberikan sebuah gambar berisi Yunho, appanya, dan Yunho, akan tetapi Il woo malah merobek gambar tersebutdi depan bocah 5 tahun tersebut.

"pergi dari sini, kau sangat menggangguku anak bodoh!"

"huwwweeeee appa jahatt." Yunho berlari menangis mengadu ke Min ah

Air mata Il woo kembali menangis sambil melihat robekan gambaran yang Yunho kumpulkan tersebut.

Menyesal?

Hanya itu yang Il woo rasakan

TBC

Huaaaahhhh entahlah, ini bikin kilat

Jujur aku ga tega giniin Yundad, tapi aku lebih ga tega lagi kalau yang banyak yang cela Yundad, XD lebih baik gini, bela Yundad XD –di tabok Yun dad-

Maaf jika banyak Typo, -v

Gimana ya kalau req, anak YunJae cewek '-')a soalnya aku suka kalau baby min yang jadi anak Yunjae, tapi apa kira-kira ada aktris cewek yang mirip Yundad apa JaeMom ya
Makasih buat responnya :')

Lop yu all