Sebelumnya
"cepat bawa bayi atas nama Jaejoong, bawa pergi bayi tersebut, sejauh mungkin." Samar-samar Yunho pun mendengar ucapan seseorang, matanya membelalak sempurna saat orang yang ia lihat Ayahnya sendiri menyuruh seseorang membuang anaknya, anaknya dengan Jaejoong, sesegera mungkin pun Yunho menuju ruangan bayi sebelum orang suruhan ayahnya mengambil bayinya tersebut.
Sementara itu di lain tempat, Jaejoong pun terbangun, ia ingin sekali melihat anaknya, rasa perih sehabis melahirkan pun tak ia fikirkan, ia membuka pintu tersebut, dan pemandangan mengejutkan pun ia dapati, sang ayah sedang memberi uang pada wanita yang tadi bersama Yunho.
Love Me
Yunho berjalan keluar Rumah Sakit tersebut dengan sangat hati-hati, ia sangat tau mata-mata Ayahnya sangat banyak, bayi yang masih merah itu pun mulai mengeluarkan tangisannya, Yunho terlihat panik, ia mencoba menenangkan bayi tersebut tapi bayi itu tak kunjung diam, dan yang ada tangisan itu semakin kencang membuat Yunho menjadi objek perhatian orang yang melintasinya tersebut.
"sssttttssss tenang sayang, sebentar lagi kita keluar dari sini." Ujar Yunho dengan menimang bayi tersebut, Yunho tak bisa keluar saat ini, banyak sekali anak buah Appa-nya yang sedang berjaga, sulit sekali untuk pergi keluar saat ini, apalagi dengan masih berpakaian pakaian pasien seperti ini sangat mudah terciri oleh mereka. Kini Yunho masih bersembunyi di bawah tangga pintu keluar Rumah Sakit tersebut, bayinya tak kunjung diam, Yunho sudah sangat frustasi, ia terus menimang bayi tersebut agar diam, ia terus berfikir bagaimana cara dia keluar dari sana.
Puk
Sebuah tangan pun menyentuh bahu dari belakang Yunho kini, jantung Yunho berdegup dengan begitu cepatnya, ia coba menetralkan jantungnya yang terus berdegup dengan begitu cepatnya, ia menoleh untuk melihat siapa yang menepuk bahunya tersebut.
"Yunho-ah." Ujar namja berjidat lebar tersebut, ternyata itu Yoochun, Yunho dapat bernafas lega kini, Yoochun hanya menatap heran Yunho seperti buronan yang sedang bersembunyi kini, kemudian mata Yoochun melihat bayi dalam gendongan Yunho kini, matanya pun berbinar melihatnya.
"Oh Tuhan, Jaejoong sudah melahirkan Yun? Tampan sekali anakmu." Yoochun pun membelai lembut pipi bayi tersebut dengan sangat senang. Yunho hanya menatap Yoochun yang kini fokus pada bayi Yunho kini, sebuah ide pun muncul dalam otak Yunho, ia akan menggunakan bantuan Yoochun untuk keluar dari Rumah Sakit tersebut.
"Yoochun-ah mau membantuku?" ujar Yunho, Yoochun kini menatap Yunho bingung.
"Membantu? Apa?."
"Bantu aku keluar dari sini, aku tak banyak waktu menjelaskan semuanya, ini demi putraku, ku mohon." Yoochun hanya menyeritkan dahi karena bingung dengan ucapan Yunho, sementara Yunho kini menatap Yoochun dengan penuh harap.
Di tempat lain, seorang perawat pun berlari panik, ia memberitahu tentang bayi yang hilang, bayi dari Jaejoong, Jaejoong yang sedang beradu debat dengan sang Appa pun sangat shock mendengar berita hilang bayinya tersebut.
"Bagaimana sampai hilang?!" bentak Jaejoong kesal pada perawat tersebut, sementara sang perawat tersebut hanya menunduk dan mengucapkan maaf berulang kali. Hyun Joong sudah tau hal ini akan terjadi, rencana dirinya dan Il Woo berhasil, anak Yunho dan Jaejoong mereka hilangkan agar tak ada ikatan lagi antara Yunho dan Jaejoong.
"Joongie, tenanglah sayang." Ujar Hyun Joong dengan mengusap bahu Jaejoong, Jaejoong menyingkirkan tangan tersebut.
"Appa tak usah ikut campur, bagaimana aku bisa tenang saat anakku hilang!"
"Tuan Kim, sepertinya bayi anda di bawa pasien bernama Jung Yunho, tadi ada seseorang yang melihatnya membawa seorang bayi." Seorang perawat berlari tergesa-gesa menghampiri Jaejoong kini, mata Jaejoong pun membulat saat ia mendengar penuturan perawat lain tersebut.
"Y-Yunho?" ujar Hyun Joong terkejut, tiba-tiba ia pun melihat Il Woo dan para anak buahnya seperti mencari seseorang, Hyun Joong dapat menebak ucapan perawat itu benar, dan kini Il Woo mencari Yunho. Hyun Joong terus diam dalam fikirannya sampai ia tak menyadari Jaejoong pergi meninggalkannya.
"Joongie! Mau kemana?" tanyanya melihat Jaejoong yang berjalan berusaha cepat, Jaejoong terus memaksakan diri mencari anaknya dalam kondisi yang masih terbilang lemah tersebut. Hyun Joong pun mengejar dan menghampiri Jaejoong, ia melarang Jaejoong untuk mencari, tapi Jaejoong sangat marah saat ini, ia cukup kecewa dengan sikap Ayahnya tersebut.
"Appa tak usah cemaskan Joongie! Anggap Joongie bukan bagian dari kalian!" Jaejoong menatap Hyun Joong dengan tatapan penuh amarah kini.
"Joongie dengarlah, Appa lakukan ini semua demi kebaikanmu."
"kebaikan? Kebaikan apa?! hiks yang ada kau menyengsarakanku Tuan Kim, kau menyiksaku, hiks-… kau menyiksaku." Jaejoong sudah tak sanggup lagi menahan tangisnya, bahkan ia tak sanggup untuk menahan tubuhnya kini, tubuhnya pun merosot pada tembok, ia terus menangis terisak, nama Yunho pun terus terucap dari bibirnya yang kini memucat. Hyun Joong menjadi sangat sakit mendengar tangisan anak sematawayangnya yang sangat ia sayangi.
"jangan bawa bayiku Yun, hiks-.. jangan bawa bayiku." Hanya kata-kata itu yang terus Jaejoong ucapkan, Hyun Joong pun berjongkok di hadapan Jaejoong yang tampak mengenaskan kini, air mata Hyun Joong pun kini terjatuh, Hyun Joong melihat tatapan kosong Jaejoong kini, sementara mulutnya terus menerus mengucap 'jangan bawa bayiku'.
"Joongie, m-maafkan Appa sayang." Ujar Hyun Joong yang kini tertunduk, tubuhnya gemetar menahan tangis, Jaejoong kini menatap Hyun Joong, Jaejoong tersenyum dan mulai tertawa saat itu, Hyun Joong terkejut melihat perubahan sikap anaknya.
"J-Joongie?"
"Yunho benar-benar membawa anakku, hahahhaha, dia be-benar membawa bayiku, bayiku hiks." Hyun Joong menatap Jaejoong dengan takut kini.
"Joongie, kau kenapa sayang, jangan buat Appa takut." Hyun Joong menggenggam bahu Jaejoong kini, ucapan Jaejoong terus menerus tak jelas, Hyun Joong yang mulai panik pun berteriak dan memanggil perawat disana, Jaejoong sempat melakukan pemberontakan saat dirinya di bawa oleh 2 orang perawat, Hyun Joong terus menatap kondisi Jaejoong kini, ia mengusap kasar wajahnya, ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri saat ini.
Di tempat tak Jauh dari keberadaan Hyun Joong, Il Woo dan para anak buahnya pun mencari keberadaan Yunho.
"Bodoh! Bagaimana Yunho bisa kabur? Kondisinya sangat lemah, jika terjadi sesuatu pada anakku, aku akan tuntut Rumah Sakit ini." Ujar Il Woo yang berjalan cepat bersama salah seorang perawat disana.
"Maaf Tuan Jung." Ujar perawat tersebut tampak sangat takut, sementara Min ah datang dengan tergesa-gesa saat tau Yunho menghilang bersama cucunya.
"B-bagaimana, apa Yunho sudah kalian temui?" tanya Min ah dengan wajah sangat cemas, ia tak mau lagi-lagi kehilangan Yunho.
"Belum." Ujar Il Woo, Il Woo melihat raut wajah takut pada Istrinya, ia pun mengusap lembut wajah Min ah
"Tenanglah, aku yakin Yunho baik-baik saja, Yunho itu anakku, dan aku tau dia kuat." Ujar Il Woo, air mata Min ah pun mencelos, saat kata 'anakku' yang di ucap Il Woo untuk Yunho, Min ah sangat bersyukur Tuhan telah menunjukan pada Il Woo kenyataan yang sesungguhnya.
"Aku takut terjadi hal buruk pada Yunho." Min ah pun mendekap tubuh Il Woo, ini hal pertama yang mereka lakukan, saling membagi rasa di depan umum, Min ah memeluk erat Il Woo, ia terus menangis menyalurkan rasa takutnya, sementara itu Il Woo mengusap punggung Min ah dengan lembut, serta mengecup pucuk kepala wanita paru baya tersebut.
Kondisi Rumah Sakit itu sangat menegangkan, tak boleh ada yang keluar dari Rumah Sakit tersebut tanpa pengecekan Security disana bersama anak buah yang Il Woo kerahkan.
Di tempat lain, Yunho dan Yoochun hanya memperhatikan orang-orang yang sibuk mencari Yunho. Sesak pun sudah menghampiri Yunho, tubuhnya kembali melemah, wajahnya semakin pucat, sementara Yoochun terus memperhatikan sahabatnya tersebut.
"Kau baik-baik saja Yun?" tanya Yoochun cemas
"Ya, aku baik-baik saja." Ujar Yunho lemah, Yunho terus memperhatikan orang-orang dalam pintu gerbang tersebut.
"Sepertinya Appa sudah mengerahkan seluruh anak buahnya, Yoochun-ah, sekarang kau bawa anakku, tunggu aku, mereka tak akan mencurigai anak ini karena dibawa olehmu." Ujar Yunho
"lalu kau?"
"aku akan menyamar, tolong jaga anakku, aku percaya padamu." Ujar Yunho
"baiklah." Yoochun pun akan berusaha membantu Yunho kini, demi kebahagian sahabatnya tersebut. Yunho menyerahkan bayi tersebut kepada Yoochun kini, tatapannya sangat penuh rasa takut, sebelum menyerahkan bayi tersebut, Yunho menciumi bayi tersebut dengan sangat penuh rasa kasih sayang.
"Appa akan segera menemuimu sayang, percayalah." Yunho sangat tak kuat untuk melepas anaknya kini, ia sangat takut hal buruk terjadi nantinya.
"Jaga anakku Chun." Yoochun pun mengangguk
"aku keluar dulu Yun, aku tunggu kau di parkiran." Ujar Yoochun, Yunho mengangguk. Yoochun pun pergi bersama bayi Yunho kini, Yunho terus melihat Yoochun yang membawa anaknya, sampai ia lihat Yoochun sudah berhadapan dengan Security disana.
"Maaf Tuan, boleh kami lihat bayi tersebut." Ujar security disana, Yoochun panas dingin mendengarnya
"M-memang ada apa, ini keponakanku."
"Baru saja kami kehilangan bayi, tenang saja, kami hanya mengecek gelang nama bayi tersebut." Ujarnya, Yoochun pun mengangguk, ia memperlihatkan gelang nama dari Rumah Sakit tersebut.
"Baiklah tuan, anda bisa pergi." Ucap security tersebut, Yoochun bernafas lega mendengarnya, Yunho hanya tersenyum melihat Yoochun yang berhasil keluar dengan aman. Bagaimana bisa Yoochun aman? Yunho sudah memikirkan semuanya, sebelum mengutarakan idenya pada Yoochun, Yunho menyuruh Yoochun untuk mengambil gelang bayi lain, dan memakaikan di pergelangan tangan bayinya saat itu, dengan kata lain, mereka terkecoh dengan bayi tersebut. Yoochun sudah berada di parkiran kini, ia sudah memasuki mobil, ia mencoba menetralkan nafasnya, jujur saja tindakannya seperti Kriminal kini.
Yunho kini sudah bergegas keluar, ia pun memakai jaket, masker dan topi milik Yoochun kini, ia berjalan menuju keluar Rumah Sakit tersebut, langkah yang coba ia terus kuatkan demi sang anak, tak berapa lama Il Woo pun muncul di pintu keluar tersebut, hati Yunho pun sangat berdegup cepat, ia takut Appa-nya tau penyamarannya tersebut.
"Maaf tuan, bisa buka topi dan masker anda?" ujar security disana, Yunho kini berlagak terbatuk, Il Woo dan security disana pun memperhatikan Yunho dalam penyamarannya tersebut. Yunho segera mengambil pena pada saku security tersebut, lalu ia menulis di tangannya sebuah kalimat, ia tau, jika sampai ia berbicara, Il Woo akan tau penyamarannya kini.
'Maaf saya terkena HIV, jika saya membuka masker saya, saya takut kalian terkena penyakit serius saya' ujar tulisan tersebut
"begitu? Baiklah, anda boleh keluar." Ujar security tersebut, Yunho pun bernafas lega mendengarnya, ia pun berjalan keluar dari Rumah Sakit tersebut, seorang remaja berlari menabraknya, Yunho pun sedikit kehilangan keseimbangannya, topinya terjatuh, Yunho tak menyadari di hadapannya ada Shindong supir pribadi Ayahnya, Shindong yang sangat apal mata musang tersebut pun segera menyapa Yunho, membuat Il woo yang mendengar pun bergegas menghampirinya, Yunho tau Il Woo mengarah padanya, ia pun segera berlari.
"Yunho!" teriak Il Woo, Il woo pun berlari mengejar Yunho kini, beberapa anak buahnya pun ikut mengejar Yunho saat itu, nafas Yunho sudah sangat terengah-engah, rasa sakit di seluruh badannya pun sangat menyiksa.
Ssrettt
Tangan Yunho pun berhasil di tangkap oleh salah seorang anak buah Il woo, Yunho mencoba memberontak dan meninju orang tersebut, tapi tak bisa, tenaganya sangat lemah dan terkuras.
"Yunho, kembalilah ke dalam, kondisimu sangat lemah nak." Ujar Il Woo memohon
"Tidak!" ujar Yunho
"kembali, atau perlu Appa bertindak kasar untuk memaksamu masuk?!" bentak Il woo
"Aku mohon, biarkan aku pergi! Bukankah selama ini kau pun tak pernah mengharapkanku? Kapan kau berhenti menyiksaku!" kata-kata Yunho begitu menyakitkan hati Il Woo, pertama kalinya Yunho mengungkapkan kekecewaannya.
"Maafkan Appa Yun, Appa tau selama ini Appa salah padamu, maka dari itu Appa ingin menebus semua kesalahan Appa." Il Woo pun berjalan mendekati Yunho kini, Yunho enggan untuk menatap Il Woo kini
"Kalau begitu, kenapa kau ingin memisahkan aku dan anakku? Aku tak mau sampai anakku berfikir macam-macam jika ia besar nanti, a-aku sangat menyayanginya, aku tak ingin dia menganggap aku membencinya dan membuangnya!" Il Woo terkejut saat Yunho tau akan rencananya, Il Woo hanya terdiam.
"Rasa terabaikan itu sangat menyakitkan, saat aku ingin menunjukan pada dunia sosok yang sangat ku hormati dan sayangi tetapi tidak bisa itu menyakitkan, mereka-.. mereka bercerita tentang Appa mereka, sementara aku hanya selalu diam, mereka berkata aku pewaris, dan banyak yang menghampiriku karena harta, pewaris? Bahkan sakit mendengarnya, mendapat pengakuanmu saja itu mustahil, apalagi mewarisi hartamu." Air mata Yunho pun terjatuh, begitu pun Il woo
"aku tak membawa apapun kini, ku mohon, biarkan aku pergi, aku tak mau putraku bernasib sama denganku, aku hanya ingin ia selalu mendapat perlindungan seorang ayah." Il Woo masih terdiam.
Ttttiiiiiiiiiiiiinnnnnnnn
Sebuah mobil pun menghampiri mereka, Yunho tersenyum saat melihat mobil tersebut, pintu mobil itu terbuka, Yunho segera berlari masuk mobil tersebut, Yoochun segera menancap gas full, Il Woo dan para anak buahnya pun tak dapat mengejar Yunho, mobil yang di kendarai Yoochun begitu cepat dan mereka kehilangan jejak.
Yunho dapat bernafas lega kini, ia pun menciumi bayinya yang kini berada dalam pelukannya kembali. Wajah Yunho semakin memucat.
"Yun, sepertinya kondisimu semakin drop-.."
"Tidak apa-apa Chun, bawa aku jauh dari sini."
"B-baik, aku akan membawa kau ke tempat Junsu, tapi kini dia sedang berada di Seoul di tempat Ayahnya, aku akan mengantarmu ke sana dulu, Junsu seorang dokter, jadi dia bisa menjaga mu." Ujar Yoochun, Yunho pun mengangguk pasrah.
.
.
Love Me
.
.
Jaejoong mengalami depresi berat, mentalnya pun terganggu, dokter berkata kondisi sehabis melahirkan memang sangat rentan untuk mendapatkan tekanan, semakin tertekan dan banyak yang di fikirkan mental tersebut akan terganggu. Hyun Joong hanya menatap iba pada anaknya kini, Jaejoong yang sedang memeluk guling bayi disana, ia tak sampai terfikir kalau hal seperti ini bisa terjadi. Hyun Joong pun mendekati Jaejoong kini.
"Joongie." Ujar Hyun Joong, Jaejoong hanya menatap Hyun Joong dengan mata tak terartikan kini.
"ssttttsss, jangan berisik, kau bisa bangunkan anakku." Jaejoong kembali membelai bantal bayi tersebut, Hyun Joong sangat sakit melihatnya, anak kesayangannya 'Gila' karena ulahnya sendiri.
"ada Umma sayang, kau disini saja, jangan pergi, hiks." Jaejoong kembali terisak, Hyun Joong tak kuat melihat anaknya seperti ini, ia pun segera merebut bantal bayi itu dan membuangnya, mata Jaejoong pun membulat.
"A-anakku, kenapa kau kejam pada anakku, jahattt! Kau jahatt!" teriak Jaejoong dengan memukuli Hyun Joong, Hyun Joong pun mencengkram kuat kedua lengan Jaejoong kini.
"Joongie! Appa mohon hentikan! Hentikan! Sadarlah sayang." Jaejoong pun kini menatap Hyun Joong, tangisnya pun mulai histeris, ia pun berteriak membuat Hyun Joong semakin sakit melihatnya, dokter dan beberapa suster pun berlari, Jaejoong pun kembali di suntikan obat penenang, tak lama Jaejoong pun tertidur, Dokter pun menghampiri Hyun Joong kini.
"Mentalnya benar-benar terganggu saat ini, jangan buat ia marah, harus ekstra sabar menjaganya, jika emosinya terus terpancing, kondisi mentalnya susah untuk kembali normal." Hyun Joong hanya terdiam mendengar semuanya.
Kebencian dan dendam pada saingan masing-masing pun membuat Il Woo dan Hyun Joong menyiksa dirinya sendiri akan penderitaan anak mereka masing-masing kini, sebenarnya apa sulit memaafkan dan mengakui kesalahan, tak usah memikirkan ego masing-masing. Kini lihatlah Il Woo harus menderita kehilangan anak yang baru saja ia akui selama 21 tahun lamanya, dan lebih buruknya lagi, kondisi Yunho yang semakin buruk dengan penyakitnya. Di sisi lain Hyun Joong, ia harus tersiksa melihat kondisi Jaejoong yang terluka mentalnya karena ulahnya. Mereka berdua hanya bisa menyesal kini, ibaratkan nasi telah menjadi bubur, sudah tak mungkin kembali menjadi nasi kembali. Tuhan tak pernah tertidur, ia membiarkan kita terlena akan segalanya, tapi ingat, suatu saat ia pun akan menegur kita dengan caranya sendiri.
.
.
Love Me
.
.
5 tahun pun berlalu, Il Woo atau pun Hyun Joong sudah menyadari segala kesalahannya kini, bahkan Il Woo pun kini mengakui Jaejoong sebagai menantunya, menantu kesayangannya. Jaejoong tinggal bersama Il Woo sejak 3 tahun silam setelah ia dinyatakan sehat 100% mentalnya, Jaejoong menempati kamar Yunho kini, sejak sembuh, Jaejoong menjadi sangat pendiam, bahkan ia tidak pernah untuk bersosialisasi, tatapannya selalu dingin dan kosong, hanya berbicara saat ditanya, dan setelah itu ia terus terdiam, ia pun selalu mengurung diri di kamar, keluar jika dirinya di suruh untuk makan saja. Sebenarnya hati Jaejoong masih sangat sakit, saking sakitnya ia memilih diam, karena percuma, menangis pun orang-orang tak akan mengerti dengan kondisinya.
Kini Jaejoong duduk di tengah keluarga Jung yang sedang menikmati makan malamnya.
"Jae, besok Umma dan Appa, serta Appamu akan menghadiri sebuah perayaan ulang tahun gedung sekolah milik Appa, kau ikut ya." Ujar Min ah, Jaejoong pun mengangguk, Min ah tersenyum mendapati respon Jaejoong. Jaejoong seperti boneka hidup saat ini, jujur saja Hyun Joong masih miris mendapati kondisi Jaejoong saat ini, tapi sekali lagi, hanya tinggal penyesalan.
….
Di tempat lain, di rumah yang sangat sederhana terdengar teriakan melengking yang membuat 3 orang dalam rumah tersebut menutup telinga mereka.
"Minniieeeee bisakah tak usah berteriak-teriak, kupingku sakit." Pekik seorang namja imut disana
"setuju dengan Suie hyung." Sementara anak yang di panggil Minnie tersebut hanya berkacak pinggang menatap kesal 2 orang yang memarahinya tersebut, sementara satu di antara mereka yang bejidat lebar hanya terdiam tak mau ikut campur.
"bica ga cih ga ucah teliak-teliak dan ngomel, belicik tau!" ujar bocah gembul tersebut yang balik memarahi kedua namja di sana
"eeiing, kenapa bocah ini yang berbalik marah, kau yang terus teriak-teriak Jung Changmin."
"ciapa yang teliak-teliak, Min cuma bellatih buat becok nyanyi, calah?" ujar bocah tersebut menantang
Tok
Tok
Ke 4 pasang mata itu pun melirik pintu tersebut, sosok yang selalu di nantikan Changmin, bocah gembul tersebut pun muncul.
"Appppppppppppppppppaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa." Teriaknya dan berlari memeluk sosok yang sangat ia sayangi, sementara sang Ayah pun menggendong tubuh berat Changmin, tawa dan senyum pun terpancar di wajah lelahnya sehabis bekerja.
Hal terindah untuk seorang Ayah adalah melihat senyum buah hatinya yang menyambutnya saat ia pulang, dan itu membuat dirinya lupa akan rasa letihnya.
TBC
Fuih, mendekati Ending, sebelumnya aku sangat berterima kasih sama kalian yang selalu memberikan saran, kritik bahkan saran kalian sangat berarti sekali, aku akan terus berusaha belajar dari kalian yang membaca ff aku dan memberi kritik dan saran yang membantu, hehe
Part kemarin cukup kacau bagi saya, -a typo dimana-mana….
Oiya 8 bulan buat Mpreg ga terhitung frematur-kayaknya- wkwkwkw
Dulu pas main Rp Yaoi usia melahirkan Uke ga sampai 9 bulan kok :v, tapi ya mana tau lah XD
Sekali lagi Jje sangat terima kasih buat responnya.
Love u ~
