About Us

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

Rated : T


Astaga... jangan bilang dia...

"nii-san..." Sakura berteriak memanggil sosok yang ada diseberang jalan, mangabaikan orang yang memeluknya.

"nii-san..." sakura melepaskan diri dari pelukan orang itu dan berusaha mengejar sosok yang ia rindukan.

"Ryuu-nii..." Sakura berusaha untuk menyeberang sebelum kehilangan sosok kakaknya. Namun...

"ckitt..." bunyi rem sebuah mobil yang berhenti tiba-tiba. Sakura terdiam ditempatnya. Tubuhnya gemetar karena kaget, namun pandangannya tetap mengarah pada pemuda berambut hitam yang ada diseberang jalan, melihatnya dengan kecewa karena tak lama kemudian pemuda itu hilang di tengah kerumunan orang.

"Sakura" suara Neji terdengar panik melihat Sakura yang hampir tertabrak mobil di hadapannya.

"kau tidak apa-apa?" tanya Neji khawatir. "a-aku... tidak... apa-apa" ujar Sakura berusaha menetralisir detak jantungnya.

"nee-san..." Hanabi memeluk Sakura khawatir.

"aku tidak apa-apa, Hanabi..." ujar Sakura sambil mengusap punggung Hanabi menenangkan. Ia tahu, Hanabi sangat takut kehilangannya sebagaimana ia takut kehilangan Hinata, kakaknya yang meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan mobil.

"kau" seseorang keluar dari dalam mobil Saleen S7 Twin-Turbo hitamnya dengan wajah datar.

"gomenasai... saya kurang hati-hati sehingga merepotkan anda. Saya benar-benar menyesal..." ujar Sakura sambil membungkukkan badannya kearah pemilik mobil yang hampir menabraknya tanpa melihat sosok pemuda berambut pantat ayam dihadapannya.

"Sasuke..." Neji tampak terkejut melihat sahabatnya. Karena setelah mereka lulus KHS, Sasuke melanjutkan studi di Amerika.

"Hn, Neji. Lama tidak bertemu..." ujar Sasuke datar.

"astaga, begitu caramu menyapa teman lama?" kesal Neji sambil memutar bola matanya.

"Hn" lagi-lagi Neji memutar bola matanya mendengar kalimat andalan sahabatnya yang irit bicara dan irit ekspresi itu. Astaga dia tidak berubah. Batinnya kesal.

"ano... Neji-kun. Kau mengenal orang itu?" tanya Sakura melihat interaksi keduanya, melupakan sejenak kerinduannya pada kakaknya yang telah lama menghilang karena kejadian itu.

"ah-ya. Dia teman KHS-ku. Namanya Sasuke..." ujar Neji memperkenalkan. Sakura mengangguk mengerti.

"salam kenal, Sasuke-san. Namaku-"

"Neji, aku buru-buru. Kita bicara lain kali" ujar Sasuke memotong ucapan Sakura, membuat Neji mendelik jengkel karena meotong ucapan Sakura , namun tidak dihiraukan Sasuke yang langsung masuk mobilnya dan pergi.

"anak itu... maafkan dia Saku. Anaknya memang seperti itu" ujar Neji tak enak hati.

"Neji-nii benar Nee-san. Sasuke-nii memang menyebalkan" tambah Hanabi yang cukup kenal dengan sahabat kakaknya itu.

"hahaha... aku tidak apa-apa. Lagi pula, aku hanya ingin meminta maaf tadi" jawab Sakura dengan senyum manisnya. Itu benar, dia hanya ingin meminta maaf, meski ada sedikit perasaan kesal dihatinya pada pemuda 'pantat ayam' itu yang menurutnya tidak sopan. Hei Sakura, kau tidak memperhatikan wajah tampannya(?)

"hah~ kau memang seperti itu..." ujar Neji kembali memeluk sepupu kesayangannya itu. Cuek namun perhatian. Berbeda dengan Sasuke yang berhati dingin. Batinnya membandingkan sikap Sakura dan Sasuke.

"kau tahu, aku rindu sekali padamu..." ujarnya lirih namun cukup terdengar ditelingan Sakura dan Hanabi.

"aku juga..." balas Sakura

"ehm" Hanabi berdehem dan memasang tampang pura-pura sebal. Membuat Sakura dan Neji tertawa melihatnya.

"Neji-nii selalu mengacuhkanku jika sudah bertemu Sakura-nee..." gerutunya.

"hahaha... sepertinya adik kecilmu ini cemburu padaku, Neji" Sakura mencubit pipi Hanabi gemas, membuat Hanabi cemberut.

"hah~ kalian tahu, kalian adalah orang-orang yang sangat berharga untukku..."' ujar Neji memeluk keduanya.

Tanpa mereka ketahui bahwa ada sepasang mata yang menatap perbuatan Neji itu tak suka.


Ditempat lain...

"Dasar baka Aniki, tunggu pembalasanku" ujar Sasuke geram mengingat ulah kakaknya yang menyebalkan. Padahal ditelpon tadi kakaknya mengatakan bahwa ia butuh bantuan untuk rapat dengan klien penting dari London. Tapi jangankan bertemu klien penting, Anikinya itu malah dengan sengaja meningglakan Sasuke berdua bersama seorang gadis pirang yang centil dan berisik. Modus menjodohkan Sasuke yang tak kunjung memiliki kekasih.

Belum lagi rengekan kaa-sannya yang menginginkannya segera menikah. Ck, memikirkan makhluk bernama wanita saja sudah membuat moodnya buruk, apalagi jika harus menikah? Baginya mereka hanyalah makhluk berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya. (Hei... jika tidak ada mereka, bagaimana mungkin kau bisa ada di dunia ini?) #dichidori*

Pandangannya beralih ke jendela apartemennya yang menunjukkan langit malam. Pink. Batinnya mengingat gadis bersurai pink yang hampir di tabraknya tadi. Sepertinya dia pernah melihat gadis itu, tapi dimana?

"Siapa... dia?" gumamnya lirih. *huh, tdi aja cuek gitu, sekarang tanya2 # digampar. Plakk.


"Sasori, mulai besok ini kau akan memimpin perusahaan Akasuna. Sementara ayah akan membantu kakekmu mengurus perusahaan Haruno" ujar Shiryu, ayahnya.

"Hn" jawab Sasori datar. Mengingat tentang perusahaan itu, Sasori merasakan sesak didadanya. Perusahaan. Kekayaan mereka. Hal yang membuatnya kehilangan Sakura. Gadis musim seminya.

"nii-san... bisakah nii-san mengajariku Logaritma? Aku bingung sekali mengerjakan tugas yang diberikan Kurenai-sensei..." rengek Karin pada kakaknya. "Hn" dan Sasori segera membantu adiknya itu mengerjakan tugas, meski ia merasakan sakit setiap kali melihat Karin dan Sara yang hidup berkecukupan disini, sementara adiknya, Sakuranya...

"nii-san..." panggilan Karin membuatnya tersadar dari lamunannya. "terima kasih sudah membantuku mengerjakannya..." senyum Karin pada Anikinya. Membuat Sasori menepuk pelan pucuk kepala imoutonya itu.

Sakura... ku harap, dimana pun kau berada. Kau dapat merasakan kebahagiaan. Aku benar-benar merindukanmu, Imouto.


"yeei... aku menang..." teriak Sakura ketika dia berhasil merebut potongan terakhir cake Strawberi buatan bibinya.

"yah... lagi-lagi kalah..." keluh Neji dan Hiashi bersamaan.

Membuat Nadeshiko dan Hanabi menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka. Namun tak urung senyum terpatri di wajah keduanya, mengingat hal ini hanya terjadi jika ada Sakura. Sakura yang sangat menyukai cake Strawberi, akan selalu berebut dengan Neji dan Hiashi. Padahal, jika tak ada Sakura, Neji dan Hiashi hanya akan mengambil kue itu tanpa minat, meski sangat menyukainya.

"ara-ara... setiap ada Sakura-chan, rumah kita jadi semakin ramai. Sakura-chan, kau harus tinggal lama disini" ujar Nadeshiko ketika sudah hening.

"ne, baa-chan... aku tidak bisa lama-lama tinggal disini. Okaa-san akan sangat sedih jika tahu aku tidak menempati apartemen miliknya" jawab Sakura. Mengingat bagaimana Okaa-sannya itu sangat ingin Sakura menempati apartemen yang menjadi saksi bisu masa mudanya ketika tinggal di Konoha.

"ah-ha'i... kau benar... Mebuki-nee memang sangat menyayangi apartemen itu, karena di apartemen itu dia bertemu dengan Otou-sanmu" ujar Nadeshiko mengulum senyum mengingat masa lalu kakak iparnya.

"tapi nee-san harus sering-sering kemari..." ujar Hanabi mengingatkan. Ia tidak mau jauh dari Sakura, karena ia sudah menganggapnya Sakura seperti kakaknya sendiri. Menggantikan sosok Hinata yang hilang, dan ia tidak mau kehilangan lagi.

"ha'i ha'i... aku pasti akan kemari lagi..."

"dan kita akan bertanding cake Strawberi lagi" ujar Neji yang segera disetujui Sakura dan Hiashi. Sementara Nadhesiko hanya menggelengkan kepala melihat sifat kekanakan suami dan putranya yang kekanakan jika bersama Sakura.

Selesai makan malam dan membantu Nadeshiko membersihkan meja makan, Sakura undur diri untuk pulang ke apartemennya diantar oleh Neji, yang dengan tegas mengatakan waktu sudah malam dan tidak baik bagi seorang perempuan untuk berjalan sendiri, meski Sakura sudah menolaknya, namun perkataan paman dan bibinya membuatnya terpaksa menerima tawaran Neji.


Paginya...

Sakura segera membersihkan diri begitu bangun. Setelahnya dia segera membereskan barang-barangnya, menata pakaiannya yang masih ada di dalam koper dan meletakkannya di dalam lemari. Tidak banyak barang yang dibawanya, karena apartemen itu dulunya milik ibunya, sehingga semua barang yang diperlukannya sudah tersedia.

Setelah semua beres, Sakura berniat pergi berbelanja untuk keperluan dapur. Mengingat ia baru datang dan sempat melihat isi kulkas yang kosong.

Dengan memakai celana jeans panjang, kaos lengan pendek berwarna hitam dan jaket kulit berwarna cream, membuatnya terlihat manis. Meski cenderung terlihat tomboy, apalagi dengan topi army yang dipakainya menutupi rambut merah jambunya, membuatnya terlihat seperti anak laki-laki. Yah, pada dasarnya Sakura memang tomboy, namun kadang kala ia begitu feminim.

"moshi-moshi..." sapa Sakura ketika mengangkat teleponnya yang berdering.

"..."

"Oh, God. Sorry, Mom. I very forget to call U, yesterday." Ujar Sakura menyesal karena lupa mengabari Okaa-sannya begitu ia sampai di Konoha. Untunglah bibinya memberikan kabar pada ibunya.

". . ."

"Ha'i ha'i... i know. I'm promise" sahut Sakura yang sepertinya baru saja mendapatkan kuliah pagi dari Kaa-sannya. Tangan kanannya memukul jidat lebarnya cepat mengingat kecerobohannya karena membuat kaa-sannya khawatir.

"ha'i... i'll finalize that" ujarnya mengingat tujuan awalnya ke Konoha.

". . ."

"Ok. Bye, Mom. Miss U..." ujar Sakura menutup teleponnya.

"huh... aku benar-benar lupa karena terlalu senang bertemu dengan Hanabi dan yang lainnya..." ujarnya sambil menatap jam di pergelangan tangan kirinya.

"yosh... aku harus segera berbelanja sebelum menyelesaikan tugas dari kaa-san" ujarnya melangkahkan kakinya keluar apartemennya.


Sakura POV

Aku berlari menuju lif yang hampir tertutup dan berusaha menahan pintunya dengan tanganku hingga tanpa sengaja tanganku bersentuhan dengan tangan orang yang sudah lebih dulu ada di dalam sana.

"ah, gomenasai..." ujarku serak menirukan suara anak laki-laki dan berdiri disampingnya. Suasana lif yang hening karena hanya ada kami berdua berakhir begitu ada telepon dari Hanabi.

"moshi-mosh"

"nee-san... dimana nee-san sekarang? Kenapa tidak ada di kamar tamu" teriaknya membuatku menjauhkan smartphonku dari telingaku.

"ara-ara... Hanabi-chan. Kau lupa jika aku pulang ke apartemen kemarin malam?" tanyaku dengan suara menenangkan jika berbicara dengan orang yang ku kenal. Yah, aku memang cenderung menyesuaikan cara bicaraku dengan keadaan. Jika mengenal mereka, aku akan menggunakan suaraku sebagaimana biasanya, dan jika bertemu orang yang belum ku kenal dengan pakaian seperti laki-laki begini, aku cenderung bersuara serak menirukan suara laki-laki.

"tapi nee-san harus segera kemari. Aku ingin bermain dengan nee-san. Kita kan jarang bertemu nee-san..." rajuknya dengan suara manja, membuatku mengulum senyum.

"ha'i ha'i Hanabi-chan... aku akan segera kesana begitu urusanku selesai. Salam untuk jii-san, baa-san dan Neji ya, jaa" ujarku sebelum menutup telepon.

Suasana kembali hening hingga pintu lif terbuka, menunjukkan sesosok gadis berambut merah yang pernah ku temui di bandara kemarin.

"Karin?" tanyaku yang bebarengan dengan pemuda disampingku. Emerald bertemu onyx. Astaga... matanya sangat menawan, dan sesaat seolah menarikku dalam pesonanya.

"kau" ujarnya datar, membuatku kikuk dan hanya bisa tersenyum sambil mengangkat tangan kananku menggantikan sapaan-hai. Tapi, kenapa matanya terlihat terkejut, ya? Entahlah.

"Sasuke-kun..." kudengar Karin memanggil pemuda itu Sasuke. Ah ya, aku lupa jika namanya Sasuke, teman Neji.

"untuk apa kau kesini?" tanya Sasuke dingin. Astaga... jahat sekali dia pada Karin.

"a-aku... mau ngajak Sasuke-kun sarapan di restoran..." ujar Karin dengan senyum terbaiknya.

"hn, aku tidak bisa" ujar Sasuke ketus. Pemuda ini benar-benar tidak punya perasaan. Menyebalkan. Batinku sebal. Nilai plus dari wajahnya hilang karena sikap menyebalkannya. Bagaimana mungkin ada orang se-menyebalkan dia?

"kenapa? Sasuke-kun sudah sarapan?" tanyanya lagi. Sepertinya mereka kenal dekat. Aku harus segera pergi dari pada mengganggu mereka. Batinku sambil melangkah keluar.

"belum, tapi aku akan sarapan dengannya" ujarnya asal sambil menarikku yang hampir keluar dari lif. Apa-apan dia?

"e-eh... apa yang kau, mmmph" pertanyaanku terpotong karena tiba-tiba dia menciumku. Mataku terbelalak menatapnya tak percaya. Apa yang dia lakukan? Ini ciuman pertamaku.

"dia pacarku" ujarnya seenak jidatnya sambil menarikku yang masih terdiam karena terkejut. Meninggalkan Karin yang menatap kami sendu.

Sakura End POV

TBC


Kyaaa... aku bingung mau gimana lagi ini. Lanjut gak ya? Kasih saran dan kritiknya dong. Aku masih pemula, jadi masih belum begitu tahu gimana bikin fic yang baik n benar, hehehe

Minta bantuannya ya minna-san... arigatou gozaimasss...