About Us

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

Rated : T


"tapi-"

"aku tidak memaksamu menjawab sekarang" ujar Sasuke melepas pelukannya dan menatap emerald Sakura lembut.

"tapi tolong pikirkan permintaanku..." ujar Sasuke sambil menggenggam tangan Sakura.

"e... kurasa... aku-"

"Kruuk..." Sasuke membuang muka menahan malu. Sementara Sakura terdiam menahan tawa. Kuso. Batin Sasuke berang. Ia ingat tadi hanya sempat minum kopi sebelum keluar aparTemen, padahal dari kemarin ia belum makan.

"ehm. Kurasa kita cari tempat untuk makan dulu, sambil kau bisa bercerita dimana kita pernah bertemu, kalau kau tidak membohongiku, tentunya" ujar Sakura setelah mampu menguasai diri.

"Hn" Sasuke pun melajukan mobilnya menuju sebuah restoran. Mereka kemusian memilih tempat duduk di dekat jendela yang menghadap jalan. Sambil menunggu pesanan mereka diantar, Sasuke memulai ceritanya. Kali ini, ia akan menceritakan segalanya pada gadisnya, setidaknya, ini adalah kesempatan yang benar-benar Tuhan berikan untuknya, dan ia tidak akan menyia-nyiakannya.


Flashback...

Amerika, 4 tahun yang lalu...

Pagi yang cerah mengawali hari Uchiha bungsu kita. Dengan langkah pasti ia berjalan menuju fakultasnya, hari ini ia akan menyerahkan tugas ujian akhirnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat siluet merah jambu di bawah pohon yang tak jauh darinya. Tampak seorang gadis sedang melepaskan topinya dan membuat rambut pink panjangnya tergerai membingkai wajah rupawannya. Dengan tergesa gadis itu mengikat rambutnya dan menutupinnya kembali dengan memakai topi hitamnya ketika melihat ada seorang gadis berambut indigo yang menghampirinya.

"U'r late, Hinata-chan" ujar gadis pink itu cemberut. Wajahnya lucu, dan hal itu membuat Sasuke tersenyum dalam diam, melupakan tujuan awalnya menuju kampus.

"Gomen ne, Saki~" gadis bersurai indigo yang dipanggil Hinata mengambil nafas panjang. "Tadi Hanabi-chan menelponku, dan menyuruhku untuk pulang bulan depan" lanjutnya.

"Really? Why?" tanya gadis pink yang dipanggil Saki.

"Well, her birth day" jawab si Indigo. Dan mereka pun membicarakan banyak hal sambil tertawa bersama.

"Suke... Sasuke!" sebuah teriakan yang memanggil namanya mengalihkan pandangannya.

"Shit! Berisik, Dobe" desis Sasuke kesal. Pandangannya kembali menatap tempat gadis pink tadi, tapi dia sudah pergi. Sasuke mendengus kesal dan berjalan meninggalkan pemuda pirang dengan mata sejernih biru laut itu kembali ke tujuan awalnya, Economy Faculty.

"Oi, Teme~ tunggu" ujar Si pirang mengikuti Sasuke.

"Hey, kenapa kau marah begitu? Aku hanya memanggilmu tadi..." tanya Naruto, si pirang, heran.

"Hn" jawab Sasuke cuek.

"Aish... maaf-maaf telah mengejutkanmu. Tapi kau diam di tengah jalan hingga membuat orang-orang menatapmu bingung karena melihatmu tersenyum-senyum sendiri. Kau tadi melihat apa, Teme?" tanya Naruto ingin tahu.

"bukan apa-apa" jawab Sasuke. Baru menyadari jika ia tadi sempat tersenyum, benarkah? Hanya dengan melihat gadis itu dapat membuatnya tersenyum?

"hey, jangan-jangan kau melihat hantu?" tanya Naruto yang dijawab jitakan di kepalanya oleh Sasuke.

"apa yang kau lakukan? Sakit, Teme" kesal Naruto sambil mengusap-usap kepalanya.

"Hn. Kau pantas mendapatkannya" jawab Sasuke acuh.

"Kau benar-benar menyebalkan, Teme. Tahu begini aku menghampiri Hinata-Chan saja, dari pada menyadarkanmu yang-" Naruto berhenti melihat Sasuke berhenti dan melihatnya penuh tanya.

"Apa?" tanya Naruto kesal.

"Siapa Hinata?" tanya Sasuke, dia jadi ingat pembicaraan kedua gadis yang dilihatnya tadi, dan salah satunya ada yang bernama Hinata.

"Pacarku" jawab Naruto acuh, masih mengusap kepalanya.

"Apa dia berambut... pink?" tanya Sasuke tidak yakin, entah kenapa dihatinya berharap jika gadis pink yang dilihatnya tadi bukanlah pacar Naruto.

"Bukan, warnanya bukan pink, yang pink itu-" kata-kata Naruto terhenti, mencerna pertanyaan Sasuke. Untuk apa pangeran es sepertinya mempertanyakan seorang gadis berambut pink? Dan di sini dia hanya mengenal satu orang berambut pink.

"Siapa?" tanya Sasuke masih menunggu.

"Kenapa kau ingin tahu?" tanya Naruto, dikepalanya mulai muncul ide untuk menjahili sahabat emonya yang tidak biasanya bertanya mengenai masalah seorang gadis. Bukankah ini kemajuan?

"Tidak apa, lupakan" ujar Sasuke kembali berjalan menuju fakultas. Dia tidak ingin diolok-olok oleh sahabat pirangnya.

"Sayang sekali, padahal aku kenal betul dengan gadis berambut pink yang kau maksud" langkah Sasuke terhenti.

"Sangat kebetulan, karena dia saudara kekasihku." Naruto menghampiri Sasuke yang terdiam.

"Kau tertarik padanya, eh?" Goda Naruto dengan senyum jahilnya.

"Urusai..." ujar Sasuke kesal dan kembali meninggalkan Naruto yang kali ini terbahak.

"hahaha... " Naruto mengampiri Sasuke dan membisikinya "Namanya Sakura, dan dia masih single" Naruto pun meninggalkan Sasuke dengan tawa puas, sementara Sasuke mendengus kesal dan kembali melangkah, meski pikirannya dipenuhi nama gadis pink itu. Sakura...


Sejak itu Sasuke selalu memperhatikan Sakura, gadis pinknya (?) bersama Naruto yang terus-terusan menggodanya. Namun, entah kenapa Sasuke tidak pernah mau menerima ajakan Naruto untuk bertemu Sakura. Padahal Naruto sering mengajaknya ketika dia mengunjungi Hinata. Entahlah... tapi Sasuke ingin jika ia bertemu dengan Sakura dengan sendirinya, bukan karena ia yang berusaha mendekatinya. Ia ingin segalanya berjalan alami? Entahlah.

Hingga setahun kemudian, gadis pink itu dikabarkan memasuki fakultasnya. Sasuke bertanya-tanya, apa gadis itu pindah jurusan? Kenapa? Pertanyaan itu hanya bisa ia simpan dalam hati karena ia cukup senang Sakura berada satu fakultas dengannya, yang itu artinya mereka bisa sering bertemu, meski tidak lama lagi Sasuke harus pulang ke Konoha karena pendidikannya hampir selesai, tinggal menghitung bulan hingga hal itu terjadi.

Hufft... memikirkannya saja membuat Sasuke merasa takut, takut kehilangan dan tak dapat berjumpa lagi. Dan hal itu sukses mengundang perhatian Naruto yang notabene sahabat dekat Sasuke.

"Kau kenapa, Teme?" tanya Naruto yang baru datang dan duduk disamping Sasuke yang menyantap makan siangnya tanpa minat.

"Hn" jawab Sasuke seperti biasa, membuat Naruto merotasikan bola matanya bosan.

"Kau ini, mana mungkin orang seperti Sakura mau denganmu?!" candanya yang sukses mendapatkan deathglare dari Sasuke.

"Ah-ya. Aku jarang melihatmu dikampus beberapa waktu ini, kemana saja kau?" tanya Naruto mengabaikan tatapan membunuh Sasuke.

"Sibuk" jawab Sasuke meminum jus tomatnya.

"Benarkah? Jadi hal itu benar? Kau menyelesaikan studimu tahun ini juga, Suke? Astaga, tega sekali kau meninggalkanku-"

"Berisik, Dobe. Diamlah atau-"

"apa? Aku sebal padamu. Kenapa kau jahat sekali? Hinata juga. Dia dan saudaranya akan menyelesaikan studinya tahun ini, dan kalian meninggalkanku sendiri..." Sasuke tidak lagi mendengarkan keluhan Naruto. Otak jeniusnya sedang mencerna kata-kata Naruto barusan. Hinata dan saudaranya? Apakah mungkin Sakura? Mungkinkah?

"Oi, Teme. Teme~"

"Hn" Sasuke menatap Naruto datar.

"Kau melamunkan apa? Dari tadi diam terus?"

"Bukan apa-apa!" jawab Sasuke acuh.

"Ah, jangan-jangan gara-gara aku bilang kalo Hinata dan Sakura akan wisuda bersamamu, eh?" tepat sasaran, dan hal itu membuat Naruto mendapat bahan godaan untuk menjahili Sasuke.

"wah, berarti kau punya kesempatan untuk berkenalan dengannya disana, jangan sia-siakan, Suke. Aku pasti akan memfotomu ketika itu" lanjutnya diiringi tawa.

"Diamlah, Dobe. Atau aku akan membuatku tidur di luar malam ini!" ancam Sasuke yang sukses membuat Penerus Namikaze Corp. itu bungkam. Ya, selama beberapa minggu ini Naruto tinggal di aparTemen Sasuke karena aparTemennya sedang dipakai adiknya, Namikaze Naruko dan teman-temannya yan berlibur di Amerika.

"Aish... kau sama sekali tidak asyik, Teme" Sasuke menyeringai karena berhasil membalas sahabat berisiknya agar bungkam dan tidak lagi mengoloknya masalah Sakura.

"Sakura benar-benar jenius, tahu? Kemarin dia baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya dan didaulat sebagai desainer muda berbakat. Sekarang? Dia akan menyelesaikan studinya disini bersamamu. Wow... " Kata-kata Naruto membuat Sasuke semakin menyukai Sasuke. Dan Sasuke hanya diam mendengarkan Naruto yang kembali bercerita.

"Gadis itu benar-benar jenius kan, Suke?" ujarnya sambil nyengir kuda, yang membuat Sasuke membuang muka sebal karena kembali lagi sahabat pirangnya itu menggodanya.

"Hahaha..." Naruto pun tertawa puas karena berhasil menggoda sahabatnya itu.

Beberapa bulan kemudian berlalu. Namun Sasuke tidak juga mendapat moment untuk dapat berbicara secara langsung dengan Sakura, karena entah sejak kapan ada seorang pemuda berambut hitam yang selalu menempel padanya. Hingga ia kembali ke Konoha, tak pernah sekali pun Sasuke bericara dengan Sakura, hanya melihat dari kejauhan, dan ia merasa cukup, setidaknya ketika ia masih disana. Dan sekarang, ketika ia sampai di bandara... ia merasa sangat menyesal, kecewa dan sedih. Meski hal itu tertutupi oleh wajah stoicnya.

"Kau yakin tidak ingin bertemu dan berbicara dengan Sakura, Teme?" tanya Naruto prihatin melihat keadaan Sasuke, meski Sasuke tidak menunjukkan bagaimana perasaannya, namun ia tahu jika pemuda itu menderita karena harus berpisah dengan Sakura.

"Hn" jawab Sasuke tanpa menatap Naruto. Pandangannya menatap langit Amerika yang sebentar lagi akan ia tinggalkan, menuju tanah kelahirannya.

"Hah~ baiklah, hati-hati Suke, segera kabari aku jika kau sudah sampai, dan sampaikan salamku pada baa-san, jii-san dan Itachi-nii" ujar Naruto.

"Hn" jawab Sasuke sambil memeluk sahabat karibnya sekilas.

"Kapan-kapan aku akan mengajaknya ke Konoha, sekalian aku ingin melamar Hinata begitu aku lulus tahun depan. Karenanya, bersabarlah" pesan Naruto.

"Hn. Thanks, Dobe. Aku titip padamu" ujar Sasuke dengan senyum sekilas, berterima kasih, membuat Naruto menganga tidak percaya. Baru kali ini ia melihat Sasuke tersenyum, tulus maksudnya, dan disertai kata ajaib 'terima kasih'. Wow.

"kau kenapa, Dobe?" tanya Sasuke heran melihat Naruto terdiam dengan mulut menganga.

"Kau-baru saja-tersenyum." Naruto menelan ludahnya susah payah. "dan kau juga baru saja mengucapkan-kalimat ajaibmu" lanjut Naruto sambil tertawa melihat wajah sebal Sasuke.

"Baka!Dobe" ujar Sasuke yang kemudian ikut tertawa. Sudah lama mereka tidak tertawa bersama.

"Aku harus pergi, dan segeralah pulang untuk melamar Hinata" ujar Sasuke menarik kopornya.

"Ha'i hai'i. Dan saat itu, berjanjilah menyatakan perasaanmu pada Sakura" ucap Naruto serius.

"Hn" jawab Sasuke, dalam hatinya ia bersumpah akan mengungkapkan perasaannya pada gadis itu jika mereka bertemu nanti.

"Hati-hati, Suke. Aku janji akan menjaganya" ujar Naruto sambil melambai.

Mereka tidak menyadari bahwa setelahnya mereka tidak akan bertemu lagi karena beberapa bulan kemudian, Naruto dan Hinata meninggal karena kecelakaan ketika akan berangkat ke Konoha untuk mendatangi keluarga Hyuuga. Ya, Naruto berniat melaksanakan janjinya untuk melamar Hinata dan membawa serta Sakura, namun kecelakaan itu mengakibatkan keduanya meninggal, sementara Sakura selamat karena tidak semobil dengan keduanya.

Dan sejak saat itu, Sasuke tidak mengetahui kabar tentang gadis musim semi yang diam-diam dicintainya.


"Benarkah?" Tanya Sakura sambil mengerjapkan kedua matanya, tidak percaya mendengar cerita Sasuke tentang dirinya. Sebegitu dalam kah, perasaan pemuda dihadapannya ini padanya? Bohong jika dia tidak menyukai Sasuke yang selalu membuatnya terkejut dengan segala perlakuannya. Tapi untuk jatuh cinta? Ia tidak tahu.

"Hn" jawab Sasuke memalingkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah tipis yang tersembunyi di wajahnya.

"Wow. U make me... Speechless" Sakura memilih kata-katanya, tidak ingin menyakiti pemuda dihadapannya. Sakura terbiasa dengan para pemuda yang mengejar danmenyatakan perasaannya secara gamblang, karena kecantikannya, karena kekayaannya, tapi pemuda ini... Dia rela menanti selama itu, menantikan pertemuan dengannya yang memang terjadi secara tidak sengaja, karena benang takdir, karena dia percaya jika... Sakura tidak berani melanjutkan pikirannya.

Dia memang takdirnya?

Namun kata-kata itu tetap terpikirkan olehnya, membuatnya menggelengkan kepalanya.

"Jadi, bagaimana keputusanmu?" tanya Sasuke. Membuat Sakura menatapnya bingung karena pikirannya masih melayang memikirkan Sasuke?

"Kau-"

"Ah-ha'i... aku mengerti. Maaf tadi aku melamun. Mm..." Sakura memotong ucapan Sasuke ketika dilihatnya pemuda itu sedikit kesal. Tangannya mengaduk-aduk jus strawberi miliknya. Jawaban apa yang akan diberikannya pada pemuda itu? Padahal kedua orang tuanya telah...

"Hah~" Sakura menghela nafas panjang. Mengumpulkan keberaniannya untuk jujur.

"Dengar. Kau harus tahu sesuatu. Sebenarnya... aku..." Sakura terlihat gugup sementara Sasuke menunggu dengan harap-harap cemas.

Apa aku terlamabat? Batin Sasuke takut.

"Aku... aku telah dijodohkan" Sakura menatap Sasuke takut-takut. Pandangannya sedikit tak percaya melihat kesedihan yang terpancar di kedua mata Onyx Sasuke. Sebegitu besarkah pemuda itu mencintainya? Tanyanya dalam hati.

"Ehm, tapi aku belum tahu siapa dia" jawab Sakura mengalihkan pandangannya dari Sasuke. Ia takut melihat Sasuke, takut melukai perasaan pemuda yang diam-diam telah mulai ia sukai, ah mungkin benih-benih cinta telah tertanam dihatinya?

"Karena itu... aku-aku tidak ingin melukaimu. Jadi... maaf, aku tidak bisa" Sakura berkata lirih tanpa berani melihat Sasuke.

Sasuke menegakkan bahunya dan bersandar ke kursi restoran, pandangannya melayang ke beberapa tahun lalu ketika bersama Naruto, sahabatnya.

"Jangan menunda-nunda, Suke. Jangan sampai kau terlambat" pesannya kala itu yang hanya ia tanggapi kata-kata andalannya 'Hn' tanpa ada usaha yang berarti.

"Sasuke... aku-"

"Hn. Tak apa. Mungkin kita memang tidak berjodoh" ujar Sasuke pahit, meski nadanya terkesan datar, namun hatinya sedang menahan perasaan tercabik-cabik yang menyesakkan dadanya.

Sementara Sakura membelalakkan matanya mendengar ucapan Sasuke. Mungkin kita memang tidak berjodoh? Pemuda ini benar-benar berbeda, dan dugaan Sakura tadi benar, Sasuke ingin mereka bertemu bukan karena rekayasa Naruto agar mereka bisa bertemu, namun karena Sasuke yakin bahwa ia adalah... Jodohnya? dan bukankah jodoh tidak kemana?

"Kurasa aku harus pergi" ujar Sasuke memanggil pelayan untuk membayar pesanan mereka.

"Kita masih bisa bersahabat, bukan?" tanya Sakura pelan, hampir tak terdengar, namun telinga Sasuke dapat menangkapnya.

"Hn" jawab Sasuke pahit.

Sahabat? Apakah kita hanya bisa menjadi sahabat?

Dan mereka pun berpisah tanpa berani berharap satu sama lain. Sakura tak berani menatap kepergian Sasuke, meski ia berharap Sasuke berbalik dan berusaha memintanya pada orang tuanya. Sakura tahu betul jika Otou-san dan Kaa-sannya tidaklah memaksakan keputusan mereka, bahkan ia datang ke Konoha juga dikarenakan untuk memberikan keputusan pada calon mertuanya mengenai lamaran itu, serta berkenalan dengan calon suaminya kelak. Tapi ia tidak punya alasan menolak bukan? Toh selama ini ia tidak memiliki kekasih.


Sakura menghela nafas pasrah menatap pintu tempat Sasuke keluar tadi. Dan satu lagi alasan yang mengharuskan ia segera menikah. Kakaknya. Hyuuga Ryuu. Kakaknya yang pergi karena kedua orang tuanya marah ketika Ryuu berkata bahwa ia mencintai Sakura, sesuatu yang Sakura tidak mengerti. Bagaimana mungkin kakaknya itu mencintainya? Mereka kan saudara? Dan Sakura harus dikejutkan ucapan Ryuu yang sedang emosi bahwa...

"Kau bukan adikku. Kau bukan putra Tou-san dan Kaa-san" dan Ryuu sukses mendapatkan tamparan keras dari Hizashi Hyuuga, ayah mereka. Sedangkan Sakura terisak di dalam pelukan Kaa-sannya. Saat itu ia bertanya-tanya, benarkah ia bukan putri mereka? Selama ini Sakura tidak pernah tahu karena Rambut Sakura dan Mebuki sama persis, meski warna mata mereka tidak sama, namun Sakura tidak pernah mempertanyakannya, karena baginya Hizashi adalah Tou-sannya dan Mebuki adalah Kaa-sannya.

"Kenapa jadi rumit begini? Sebenarnya siapa aku?" gumamnya gelisah. Ia tidak mencintai Anikinya, namun ia juga tidak ingin menerima lamaran itu. Matanya terpejam, mengatur nafasnya yang mulai sesak menahan tangis. Apakah aku... mencintainya? Batinnya melihat air mata yang jatuh membasahi jarinya. Sasuke...


"Karin, darimana saja kau?" tanya Sara ketika melihat Karin pulang tanpa semangat. Namun Karin mengabaikannya dan tetap berjalan menuju kamarnya. Sara hanya menghela nafas melihat putrinya mengabaikannya. Mungkin dia patah hati? Batinnya melanjutkan kegiatan minum tehnya tanpa ada niat untuk menghibur Karin.

Di dalam kamar Karin mulai terisak mengingat Sasuke dan gadis yang diciumnya tadi. "Beruntung sekali_hiks gadis itu_hiks bisa_hiks menjadi kekasih Sasuke-kun" ujarnya disela-sela isak tangisnya. Kenapa bukan aku? Batinnya sedih.

Isakan Karin yang cukup keras mengundang Hana untuk menengok putri tirinya. Hatinya yang lembut membuatnya ingin menghibur Karin. Wanita bersurai merah jambu itu memasuki kamar Karin dan duduk di tepi ranjang Karin.

"Karin-chan... kenapa menangis?" tanya Hana sambil membelai lembut rambut Karin.

"Okaa-sama..." Karin bangkit dan memeluk Hana, dirinya butuh tempat untur mencurahan isi hatinya dan bersandar. Dan ia tahu, Hana adalah orang yang tepat.

"Ada apa sayang? Ceritalah, siapa tahu Kaa-sama bisa membantu" ujar Hana lembut. Karin pun menceritakan kejadian tadi dengan diselingi isakan tangis. Hana tersenyum maklum melihat putri tirinya mengalami masalah percintaan. Usia Karin masih tergolong remaja, belum genap 20 tahun.

"Kenapa Sasuke-kun tidak menyukaiku, Kaa-sama? Padahal aku sangat mencintainya..." tanya Karin. Lagi, Hana membelai rambut panjang Karin.

"Sayang... Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kamu tidak bisa memaksa seseorang untuk menyukaimu, jika hatinya tidak memilihmu..." Karin menatap Hana tidak mengerti.

"Kamu memang sudah besar sayang, tapi jalanmu masih panjang... jika Sasuke-kun tidak menyukaimu, bukan berarti duniamu berakhir... masih banyak pemuda di luar sana yang menyukaimu, dan kamu hanya perlu menunggu cinta sejatimu datang menjemputmu..." ujar Hana menghapus jejak air mata di wajah Karin, menangkup wajahnya dan mendekatkan kening mereka.

"Kamu akan tetap bahagia... meski tidak bersama Sasuke-kun sayang, meski itu butuh waktu. Tapi... jangan jatuh dan terus bersedih. Kamu harus bangkit..."

"Apa Kaa-sama pernah mengalami patah hati?" tanya Karin yang sudah mulai tenang. Hana tersenyum dan mengangguk.

"Tentu, Kaa-sama juga pernah remaja sayang. Dan sejak itu Kaa-san belajar untuk menerima apapun yang Tuhan berikan pada Kaa-san. Termasuk kehadiran kamu dan Kaa-sanmu..." Hana menyembunyikan sebersit kesedihan yang dirasakannya dengan tersenyum. Karin kagum pada Hana. Dia mengetahui segalanya, mengenai keluarga mereka, bahkan apa yang Sara, Kaa-sannya lakukan pada saudara tirinya, Sakura, putri bungsu Hana yang sekaligus kakak tirinya. Meski Sara telah begitu jahat padanya, Hana tetap menerima dan memperlakukan mereka dengan baik, dan itu membuat Karin sangat menyayangi Hana, lebih dari pada Sara, karena pribadi Hana yang sangar lambut dan penyayang, bertolak belakang dengan Sara yang ambisius dan apatis, meski sejak menghilangnya Sakura Kaa-sannya tidak pernah lagi melakukan hal yang buruk pada Hana.

"Kaa-sama... " Karin memeluk Hana, membuat Hana heran. "Kaa-sama bisa menangis jika Kaa-sama ingin. Tapi Karin lebih senang jika Kaa-sama tersenyum. Karin sayang Kaa-sama" ujar Karin mengeratkan pelukannya. Kata-kata Karin membuat Hana tak mampu menahan tangisannya, ia pun mulai terisak. Ia butuh bersandar, sama seperti Karin, dan ia tidak bisa selalu terlihat tegar karena sebenarnya hatinya juga rapuh. Dia masih sangat sedih atas menghilangnya sang putri bungsu.

"Kaa-sama..." Karin menepuk-nepuk punggung Hana. Ia tahu, Hana sudah terlalu lama menahannya, dan Hana butuh menangis untuk meringankan bebannya. Karena Karin tahu, Hana tidak bisa menangis dihadapan Tousan dan Anikinya, karena itu akan membuat mereka membuka luka lama.

"Jika Sakura masih disini... keluarga kita pasti akan lengkap..." gumam Hana disela tangisannya.

Benar... jika Sakura-nee ada disini... keluarga kita akan lengkap.

Karin membenamkan wajahnya di rambut pink Hana. "Maafkan Kaa-san... Kaa-sama" bisik Karin mewakili Sara.


Sasori mulai menjalankan perusahaan keluarganya. Skillnya sebagai seorang Akasuna tak diragukan lagi, meski ia lebih menyukai bidang kesehatan untuk digelutinya, namun itu tidak mengurangi kinerjanya sebagai seorang Executive Muda.

Siang itu setelah melakukan beberapa rapat, ia ingin makan siang di luar. Jauh dari pekerjaan yang sebenarnya tidak disukainya. Mobil sportnya melaju menuju sebuah restoran. Dia pun masuk ke dalam restoran, pandangannya menyapu sekeliling untuk mencari tempat duduk. Namun pandangannya terkunci pada satu sosok, sosok yang tengah menunduk menutupi wajahnya. Pink? Mungkinkah?

Sasori berjalan dengan pandangan yang tetap terkunci pada sosok itu. Mungkinkah itu Dia? Langkahnya terhenti ketika melihat sosok itu memakai topinya, berdiri dan berbalik akan keluar. Wajah Sasori mengeras. Dia menangis... tangan Sasori berusaha menggapai ketika sosok itu berjalan menuju dirinya.

"Sakura-nee" sebuah Suara semakin membuatnya tersentak. Mengurungkan niatnya untuk menyentuh gadis bersurai pink yang terdiam tak jauh darinya. Matanya terlihat sembab, namun sisa-sisa air mata telah terhapus.

Sakura...?

"Hanabi-chan..." Gadis itu tersenyum hingga seorang gadis bersurai indigo dengan seragam SMAnya memeluk gadis itu sayang.

"Nee-san... Nee-san baru saja menangis? Kenapa? Siapa yang melakukannya?" Tanya gadis indigo itu menggebu-gebu, sangat tidak terima melihat kakaknya menangis.

"Ne, Hanabi-chan. Nee-san tidak apa-apa. Tadi mata Nee-san kemasukan debu" jawab gadis pink itu sambil membelai rambut indigo itu lembut.

Dia... sangat mirip... Kaa-san... mungkinkah dia...

"Tuan, silahkan duduk" seorang pelayan mempersilahkan Sasori duduk, karena tempat duduk di sebelahnya berdiri telah kosong. Dengan enggan Sasori duduk disana, meski pandangannya tidak lepas dari kedua gadis berbeda warna rambut tersebut. Menyebutkan segera pesanannya sehingga pelayan itu menghilang dari pandangannya, setidaknya tidak ada orang yang menghalangi pandangannya dari kedua gadis itu.

Bahkan namanya juga Sakura...

"tidak mungkin... Nee-san-"

"ayo duduk, kamu pasti belum makan siang. Temani Nee-san sebentar ya" potong Sakura kembali duduk di tempatnya. Hanabi hanya bisa pasrah dan mengikuti Sakura.

"Pesanlah sesuatu, Nee-san mau ke toilet dulu" ujar Sakura segera beranjak menuju toilet.

Melihat Sakura berjalan menuju toilet, Sasori mengikutinya. Selama perjalanan Sasori bertanya dalam hati, apa yang akan ia lakukan? Bagaimana caranya ia tahu bahwa itu Sakuranya, bukan yang lain. Mungkinkah ia akan bertanya?

Langkah Sasori terhenti ketika melihat sosok Sakura bersama pemuda berambut hitam. Sasori pun bersembunyi dan memilih untuk mendengarkan, siapa tahu ia bisa dapat petunjuk.

TBC


Hai minna-san ^_^

Gomenasai karena lama updatenya...

Ceritanya semakin GJ ya? Maaf ya... kasih saran dong... Aq bingung bgt nih...

Semoga kalian suka dan jangan lupa R&R ya...

Arigatou buat semua yang sudah membaca dan memberikan support buat cerita ini

See u later :D