About Us
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku
Rated : T
Bahkan namanya juga Sakura...
"tidak mungkin... Nee-san-"
"ayo duduk, kamu pasti belum makan siang. Temani Nee-san sebentar ya" potong Sakura kembali duduk di tempatnya. Hanabi hanya bisa pasrah dan mengikuti Sakura.
"Pesanlah sesuatu, Nee-san mau ke toilet dulu" ujar Sakura segera beranjak menuju toilet.
Melihat Sakura berjalan menuju toilet, Sasori mengikutinya. Selama perjalanan Sasori bertanya dalam hati, apa yang akan ia lakukan? Bagaimana caranya ia tahu bahwa itu Sakuranya, bukan yang lain. Mungkinkah ia akan bertanya?
Langkah Sasori terhenti ketika melihat sosok Sakura bersama pemuda berambut hitam. Sasori pun bersembunyi dan memilih untuk mendengarkan, siapa tahu ia bisa dapat petunjuk.
"Nii-san" Sakura terkejut melihat kakaknya berdiri menghadangnya ketika ia akan menuju toilet. Ryuu langsung memerangkap tubuh Sakura, mengurungnya dengan kedua tangannya di dinding.
"Kau, apa yang kau lakukan disini? Apa yang kau lakukan dengan si bungsu Uchiha itu?" tanya Ryuu geram. Ia tidak suka melihat gadis yang berstatus sebagai adik angkatnya itu dekat dengan orang lain, karena baginya, Sakura hanya untuknya. Sakura hanya boleh menjadi miliknya.
"Apa maksud Nii-san? Aku tidak mengerti" bantah Sakura mencoba melepaskan diri. Ia tidak mengerti dengan ucapan kakaknya, ia tidak merasa bertemu dengan keluarga Uchiha.
"Kau tahu apa yang ku maksud, Sakura. Kau baru saja bertemu dengannya. Kau tidak boleh bertemu dengan orang lain, hanya aku. Kau hanya boleh bersamaku" ujar Ryuu mencoba mencium Sakura.
"Stop it, Nii-san. I'm u'r Sister. U can't doing something like this to me, U-"
"U aren't My sister. U just child that Tou-san Find in the Forest. U Aren't My SISTER!" teriakan Ryuu membuat Sakura dan Sasori mematung. Sakura tahu bahwa ia bukan putri keluarga Hyuuga sejak pertengkaran yang menyebabkan kakaknya meninggalkan rumah. Namun ia tetap terkejut mendengar Ryuu mengungkitnya lagi, ia tahu ia bukan keluarga Hyuuga, namun ia hanya menganggap Ryuu sebagai kakaknya, tidak lebih.
Hutan... jadi Dia... Sasori menahan diri untuk tidak berlari dan memukul siapapun pemuda yang ada dihadapan Sakuranya. Kini ia percaya, gadis bersurai pink itu adalah adiknya.
"No..." isak Sakura menutup kedua telinganya sambil menggelengkan kepalanya, tidak ingin mendengar apa yang Ryuu katakan.
"Kau bukan adikku. Jadi aku bisa memilikimu. Kau-"
"Lepaskan dia!" suara lantang Sasori menghentikan kata-kata Ryuu, membuat keduanya menoleh menatap Sasori.
"jangan ikut campur. Ini bukan urusanmu" ujar Ryuu menantang.
"ku bilang lepaskan dia" ujar Sasori dingin.
"Shit kau mau cari mati, hm? Majulah!" tantang Ryuu. Sasori yang tidak dapat menahan diri lagi segera menerjang Ryuu. Mereka pun saling memukul tanpa ada yang mau mengalah.
"Hentikan..." ujar Sakura dalam isakannya.
"buagh"
"plak"
"bugh" keduanya tetap saja saling memukul. Sasori membalas pukulan Ryuu pada wajahnya dengan menedang perutnya. Tidak terima Ryuu meninju perut Sasori, namun Sasori berkelit dan lagi-lagi memukul rahang Ryuu. Perkelahian mereka membuat beberapa orang datang, namun tidak mampu untuk menghalau mereka.
"Nee-san" Hanabi menghampiri Sakura yang menangis sambil menutupi kedua telinganya.
"Nee-san... apa yang terjadi?" tanya Hanabi Khawatir melihat keadaan Sakura yang seperti sangat ketakutan. Hanabi ingat, ketika pertama kali bertemu Sakura, Sakura cukup pendiam, dan langsung histeris jika melihat pertengkaran, bahkan perkelahian seperti ini. Ia akan langsung down, sepertinya Sakura memiliki trauma masa lalu.
"Hentikan!" teriakan Sakura histeris sebelum ia pingsan.
"Nee-san" teriak Hanabi panik.
"Sakura" Ryuu dan Sasori segera menghampiri Sakura, mengabaikan orang-orang disekitar mereka. Ryuu berniat membawa Sakura pergi dari sana.
"Jangan sentuh adikku!" dengan kasar Sasori menepis tangan Ryuu yang akan menyentuh Sakura.
"Adik?" tanya Ryuu bingung.
"Nee-san..." Hanabi mulai terisak ketika Sasori mengangkat tubuh Sakura dan membawanya ala bridal style.
"Lepaskan dia, apa maksudmu dengan adik?" tanya Ryuu mencoba menghalangi Sasori.
"Dia. Adikku. Dia..." Sasori memandang Sakura sayang. "Akasuna Sakura, adikku yang hilang 12 tahun yang lalu" ujar Sasori.
"Dan aku tidak akan membiarkan seorang pun melukainya, bahkan jika itu Kau. Orang yang sempat menjadi kakak angkatnya. Jangan dekati adikku atau aku akan menghancurkanmu. Hyuuga Ryuu" ujar Sasori meninggalkan Ryuu yang terdiam di tempatnya.
"Kuso. Seharusnya aku segera membawanya pergi sebelum dia bertemu keluarganya. Kenapa ini harus terjadi?" Ryuu melampiaskan kekesalannya pada tembok di depannya.
"Apa lihat-lihat? Pergi!" bentakan Ryuu sukses membuat orang-orang yang tadi mengerubunginya bubar.
Di dalam mobil...
"Ano... apakah benar, anda kakak kandung Sakura-nee?" tanya Hanabi sambil membelai rambut pink Sakura yang terbaring di pangkuannya.
"Hn" jawab Sasori sambil berusaha fokus menyetir. Pikirannya benar-benar khawatir pada sosok Sakura yang terbaring di pangkuan gadis bernama Hanabi di kursi penumpang.
"Sakura-nee... selama ini hilang ingatan..." Hanabi bercerita tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Sakura yang pucat. Sasori bergeming, namun telinganya dapat dengan jelas menangkap certita Hanabi. Dan perjalanan panjang mereka menuju Rumah sakit akibat jalanan yang macet diisi dengan cerita Hanabi akan Sakura.
Flashback...
Hutan Konoha, 12 tahun yang lalu...
"Bugh..." "plung" suara benda jatuh yang menghantam tanah dilanjutkan jatuh ke dalam sungai.
"Suara apa itu?" tanya laki-laki berambut indigo, Hizashi pada saudara kembarnya, Hiashi.
"Entahlah... sepertinya benda itu besar. Mungkin pohon?" ujar Hiashi tidak terlalu peduli. Namun entah mengapa, Hizashi merasa penasaran dan berjalan menuju suara benda jatuh tadi. Langkahnya terhenti ketika melihat warna darah yang hanyut di air. Dengan langkah tergesa ia menghampiri semak-semak tempat darah itu berasal, dan...
"Astaga... Hiashi! Hiashi! Kemarilah!" teriaknya panik sambil berjalan memasuki air dan merengkuh tubuh mungil bersurai pink. Tubuh mungil Sakura yang penuh luka, bahkan bajunya terkoyak dimana-mana.
"Ada apa kau panik begi-" Hiashi menatap horor saudaranya. "Astaga, anak siapa itu?" tanya Hiashi ikut panik.
"Entahlah. Tapi kita harus cepat kembali ke rumah..." Ujar Hizashi sambil menggendong tubuh mungil Sakura di kedua lengannya. Tubuh itu sudah mulai dingin, dan sepertinya Sakura banyak kehilangan darah.
"Ha'i..." dan mereka berdua pun segera pulang tanpa melanjutkan acara Hiking mereka.
Di Rumah keluarga Hyuuga...
Sakura segera dirawat oleh dokter keluarga mereka yang terpercaya, Tsunade.
"Kenapa kalian membawanya ke rumah? Bukan ke Rumah Sakit?" Tanya Nadhesiko heran ketika mendengar cerita dari suaminya tentang Sakura.
"Entahlah... tapi kurasa tidak aman membawanya ke Rumah Sakit. Gadis ini bukan jatuh dengan sendirinya, tidak mungkin seorang anak kecil bermain di hutan sendirian." Ujar Hizashi sambil menatap tubuh Sakura yang sedang diobati oleh Dr. Tsunade. Pandangannya terlihat sendu.
"Bagaimana Keadaannya?" tanya Hizashi begitu Tsunade selesai membalut luka terakhir Sakura. Tubuh Sakura segera dipakaikan pakaian Hinata, putri Hiashi dan Nadhesiko yang kebetulan seumuran dengan Sakura.
"Buruk. Dia bisa selamat merupakan sebuah keajaiban, namun dia banyak kehilangan darah. Pendarahannya sangat parah. Dan lagi, dia sepertinya diracuni sebelum dibuang. Untunglah kalian cepat membawanya kepadaku, sehingga racun dalam tubuhnya dapat segera aku netralkan. Jika terlambat beberapa menit saja, nyawanya tidak akan tertolong. Kalian harus segera membawanya ke rumah sakit untuk menjalani perawatan lebih lanjut." ujar Tsunade sambil menyesap secangkir teh yang telah disediakan Nadhesiko untuknya.
"Hn. Aku akan membawanya bersamaku ke Amerika" ujar Hizashi membuat ketiganya terkejut.
"Apa maksudmu, Hizashi?" tanya Tsunade.
"Ya, apa maksudmu Hizashi? Bagaimana mungkin kau membawa anak orang pergi? Keluarganya pasti akan- "
"Mereka tidak akan mencarinya" kata-kata Hizashi lagi-lagi membuat mereka terkejut.
"Apa maksudmu? Bagaimana-"
"Aku tahu betul siapa dia, Brother. Maaf tadi aku berbohong." Hizashi meminum tehnya hingga habis.
"Mungkin mereka akan mencarinya, namun aku tidak ingin mengembalikannya pada mereka, setidaknya untuk saat ini" Hizashi menyesap tehnya pelan sementara semua mata memandangnya tidak percaya.
"Kau akan tahu nanti, Hiashi. Tapi kuharap, kalian bisa menyembunyikan jati diri Sakura hingga waktu yang tepat. Aku ingin ia bahagis, aku ingin ia bisa melihat dunia" panngannya menatap Hiashi, Nadeshiko dan Tsunade serius.
"Aku akan merawatnya di Amerika, sekalian mencarikan donor mata yang cocok untuknya"
"Maksudmu, dia buta? Jangan bilang kalau dia..."
"Hn. Dia Sakura, Akasuna Sakura. Putri dari Haruno Hana dan Akasuna Shiryu" ujar Hizashi menatap langit di luar jendela kamar tamu keluarga Hyuuga.
Dan ketiganya hanya bisa saling tatap pasrah. Mereka tahu betul siapa Haruno Hana dan apa hubungan Hyuuga Hizashi ketika mereka masih remaja. Dan mereka juga tahu keadaan gadis itu, Akasuna Sakura yang terpenjara di rumah megah keluarga Akasun bersama Sara, ibu tirinya. Mereka tahu betul karena mereka dekat dengan keluarga itu, terutama Nadeshiko yang merupakan sahabat Hana, meski setelah menikah mereka tidak pernah bertemu dan kehilangan kontak.
"Aku tahu kau berniat baik, Hizashi" Hiashi memandang Tsunade yang menggantung ucapannya.
"Kurasa, Tuhan sedang berbaik hati padamu, karena dengan keadaannya yang seperti ini, kecil kemungkinan ia akan mengingat keluarganya, apalagi di umurnya yang masih kecil. Dia bisa selamat saja, merupakan sebuah keajaiban besar untuknya. Ku harap, ia akan baik-baik saja nanti..." ujarnya menjelaskan.
"Semoga... " jawab Semuanya.
Kasihan sekali kamu nak, padahal usiamu baru 9 tahun, tapi kamu sudah mengalami banyak sekali cobaan... batin Nadeshiko sendu.
Sejak hari itu, Sakura menjadi bagian dari keluarga Hyuuga. Keluarga Hyuuga menerima kehadiran Sakura dengan senang hati, apalagi mereka mengetahui keadaan Sakura. Bahkan kehadiran Sakura menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Keluarga besar Hyuuga. Gadis itu tumbuh menjadi gadis yang energik, riang dan cantik.
Namun, adakalanya Sakura kecil berubah histeris jika melihat atau mendengar orang berteriak dengan kasar, mungkin trauma yang dimilikinya akibat perbuatan Sara, dan hingga sekarang hal itu tidak bisa hilang sepenuhnya.
Sasori dan Hanabi duduk di kursi depan ruang ICU (aku bingung, apa korban trauma sampe di bawa ke ICU apa g, tp biarlah, namanya juga cerita, hehehe) menunggu Sakura dengan cemas.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Sasori pada dokter yang baru saja menangani Sakura, dibelakangnya Hanabi diam mendengarkan dengan cemas.
"Tidak apa-apa. Dia hanya shock dan lelah. Sepertinya gadis itu banyak pikiran..." ujar Dokter berambut biru dengan hiasan bunga mawar diatasnya.
"Syukurlah... terima kasih, Konan" ujar Sasori lega. Hanabi pun ikut bernafas lega.
"Ano... apakah saya boleh melihatnya?" Tanya Hanabi memberanikan diri. Membuat Konan menatapnya bingunng.
Siapa gadis ini?
"Kau-"
"Dia saudara kami. Konan, bisakah kami bertemu dengannya?" Tanya Sasori memotong kata-kata Konan. Sasori tahu, Konan pasti akan bertanya macam-macam. Mengingat Sahabatnya itu tahu mengenai kehidupannya, dan pastinya dokter muda itu sudah mengira siapa Sakura. Namun dia tidak mengenal siapa Hanabi, dan dia tahu betul sikap overprotective Konan pada pasiennya, apalagi keluarga sahabatnya yang sudah ia anggap keluarganya sendiri.
"Ya, setelah ini kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat. Kalian bisa menemuinya disana" ujar Konan sebelum berlalu meninggalkan Sasori dan Hanabi.
"A-ano..." Sasori mengalihkan pandangannya menuju Hanabi.
"Apakah... Apakah kalian akan membawa pergi Sakura-nee?" Tanya gadis itu polos. Sasori bisa melihat ketakutan dan kesedihan dari tatapan mata gadis dihadapannya. Gadis itu pasti sangat menyayangi Sakura sebagaimana dirinya, dan gadis itu pasti takut kehilangan Sakura.
Tangan Sasori mengusap lembut kepala Hanabi, membuat Hanabi sedikit terkejut, namun tidak melakukan penolakan.
Hangat
"Tenanglah, Sakura berhak berada dimana pun yang dia mau, asal dia bahagia. Aku tidak akan mengambilnya dari kalian. Aku hanya..." Sasori terdiam sejenak. Melepaskan tangannya yang sedang mengusap kepala Hanabi, tersadar akan tindakannya yang tidak seperti dirinya.
"Aku hanya ingin bisa berkumpul dengannya kembali... Aku sangat merindukannya, begitu juga dengan Kaa-san" Ujar Sasori sendu. Ia selalu sedih jika mengingat Kaa-sannya, meski ia tidak pernah melihat Kaa-sannya menangisi Sakura, namun ia tahu, Kaa-sannya sangat merindukan Sakura, hingga diam-diam di tengah malam akan menangisinya dalam diam, tanpa sepengetahuan siapapun.
"Bagaimana keadaan Sakura?" Tanya Neji pada Hanabi begitu sampai di Rumah Sakit bersama kedua orang tuanya.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Nadeshiko khawatir.
"Sakura-nee baik-baik saja Kaa-san, hanya sedikit shock dan kelelahan..." Jawab Hanabi sambil memperhatikan Sasori yang sedang menggenggam tangan Sakura dari balik pintu.
"Siapa dia? Kenapa orang itu ada di dalam bersama Sakura?" Tanya Neji lagi ketika Hanabi menghalanginya untuk melihat Sakura.
"Eto... Ano..."
"Tenanglah, Neji. Pemuda itu tidak akan mungkin menyakiti Sakura" Ujar Hiashi sambil menepuk bahu putranya.
"Bagaimana ayah tahu? Kita bahkan tidak mengenal-" Neji menghentikan kata-katanya begitu melihat senyum kedua orang tuanya dan kemungkinan siapa pemuda berambut merah yang ada di dalam kamar rawat Sakura.
"Jangan bilang... dia... Sasori? Kakak kandung Sakura?" Tanyannya yang dijawab anggukan oleh ayahnya.
"Sudah saatnya mereka bertemu, Nak" ujar Hiashi dengan senyum menenangkan.
"Tapi... kenapa Sakura sampai mengalami hal seperti ini?" tanya Nadeshiko.
"Ano... itu karena..." Hanabi pun menceritakan hal yang telah terjadi pada mereka tadi. Membuat seluruh keluarganya menghela nafas lelah.
"Kuso. Akan ku hajar anak itu jika aku bertemu dengannya. Dasar Ryuu Baka!" geram Neji. Dan mereka hanya bisa menyesalkan sikap Ryuu yang membuat Sakura drop, serta sikapnya yang memaksakan untuk memiliki Sakura.
Sasori POV
"Sakura... bangunlah sayang... Nii-san disini..." ujar Sasori lirih. Tangan kirinya menggenggam tangan kiri Sakura, sedangkan tangan kanannya membelai wajah Sakura lembut. Ia sangat rindu pada adik merah jambunya itu.
"Onii-Chan... ?" Sakura kecil mencari-cari Sasori ketika mereka sedang di taman. Saat itu Sakura kecil berusia 8 tahun, dan Sasori berusia 14 Tahun. Setahun sebelum hilangnya Sakura.
"Kau bisa menemukanku, Saki... ayooo... dimana aku?" Teriak Sasori yang berada tak jauh dari Sakura. Ya, Sasori sering bermain petak umpet dengan Sakura untuk melatih kepekaannya.
"Onii-Chan..." Sakura berusaha mencari keberadaan Sasori. Meski ia sudah tahu tempat Sasori, Sasori pasti akan berpindah, dan itu yang membuatnya harus mencari lagi.
"Onii-Chan curang!" Sakura kecil duduk dirumput sambil memberenggut. Dia kesal karena dipermainkan oleh kakaknya.
"Hahaha..." Sasori segera menghampiri Sakura. Berjalan pelan agar Sakura tidak mendengar langkahnya, sekalian berniat untuk mengagetkan adik kecilnya yang lucu itu.
"Tuk" Diluar dugaan Sakura melempari Sasori dengan batu yang tepat mengenai kepalanya.
"Ittai... Sakit Sakura" teriak Sasori kesal.
"Biarin! Week..." Sakura menjulurkan lidahnya.
"Dasar gadis nakal" Sasori pun menghampiri Sakura berniat untuk membalasnya dengan menggelitiki sakura yang tidak tahan geli. Namun belum sampai ia menggelitiki, Sakura sudah memeluk tubuhnya dan terisak, membuat Sasori bingung.
"Kenapa Saki?" tanya Sasori sambil membelai surai merah jambu Sakura lembut.
"Onii-chan... hiks... Jangan meninggalkanku... hiks... aku takut..." ujar Sakura sesenggukan.
"Nii-san tidak kemana-mana Saki..." jawab Sasori sambil membelai lembut kepala Sakura.
"Saki rindu Kaa-san... hiks..." ujar Sakura masih menangis sesenggukan. Ya, sejak kecelakaan itu, Sakura belum pernah bertemu dengan Hana, karena Tou-sannya mmelarang siapapun membawa Sakura menemui ibunya.
"Kenapa... Kenapa Saki tidak boleh bertemu Kaa-san? Kenapa Nii-chan... hiks..." adu Sakura. Dan Sasori hanya bisa menatap sendu adiknya. Apa yang harus ia katakan? Tidak mungkin ia mengatakan yang sesungguhnya, bahwa Tou-san melarang siapapun mempertemukan Sakura dengan Hana karena Tou-san mereka menganggap Sakura lah, penyebab kecelakaan Hana. Namun Sasori juga tidak tega melihat Sakura bersedih seperti ini.
"Sabar ya Saki... Kaa-san sekarang sedang sakit, jadi tidak bisa ditemui. Lagi pula, dirumah sakit dilarang membawa anak kecil..." Sakura mendongak seolah menatap Sasori.
"Jadi, kalau Saki sudah besar, Saki bisa bertemu dengan Kaa-san?" Tanya Sakura dengan semangat.
"Hn, tentu saja" Jawab Sasori sambil mengusap air mata Sakura.
"Kalau begitu, Saki akan makan yang banyak supaya cepat besar dan bisa bertemu Kaa-san" ujar Sakura kecil dengan senyum mengembang.
Sasori menitikkan air mata menatap Sakura yang terbaring lemah dihadapannya.
"Bahkan ketika kau sudah dewasa, kau belum bisa bertemu dengan Kaa-san Saki..." ujar Sasori sambil mencium punggung tangan Sakura. Betapa kejam dunia kepada adiknya. Adiknya yang tidak tahu apa-apa harus berpisah dari keluarganya.
"Ngg~" Suara Sakura yang mulai bangun. Matanya mulai terbuka, berkedip-kedip menyesuaikan dengan keadaan ruangan itu.
Dimana aku? Batinnya menyadari bahwa ia berada pada ruangan putih.
"Kau sudah sadar Saki? Syukurlah..." Sakura menatap seseorang yang baru saja berbicara padanya dengan bingung. Apalagi saat menyadari tangannya berada dalam genggaman tangan pemuda asing dihadapannya, meski perasaannya mengatakan bahwa ia mengenal pemuda bersurai merah dihadapannya.
"Kau... Siapa?" Tanya Sakura, dan matanya sedikit terkejut melihat air mata yang meleleh di pipi Sasori.
"Kenapa kau menangis?" tanya Sakura menarik tangannya pelan dari genggaman Sasori. Tanpa sadar, tangannya bergerak sendiri menghapus air mata Sasori.
"Apa kita saling kenal?" tanya Sakura yang kemudian tersadar dan menarik tangannya. Membuat Sasori tersenyum dan berdiri dari kursi yang telah didudukinya sejak 3 jam yang lalu.
"Kau terlalu banyak bertanya Saki. Sejak kapan kau jadi cerewet begini, he?" tanya Sasori sambil tersenyum dan membelai lembut surai merah jambu Sakura.
Sakura terdiam dengan perlakuan Sasori. Pikirannya sebal dengan sikap Sasori yang sok kenal, namun batinnya mengatakan jika ia mengenal pria dihadapannya. Terlebih lagi, belaiannya terasa sangat nyaman, sangat familiar dan Sakura tidak ingin hal itu terhenti.
"Kau...?"
"Nii-san, kau bisa memanggilku Nii-san jika kau mau" ujar Sasori sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya sambil tersenyum.
Sakura membulatkan matanya.
Mungkinkah? Mungkinkah dia...
"Ya, aku kakak kandungmu"
"Okaeri, Akasuna Sakura..." Senyum lembut Sasori membuat Sakura menitikkan air mata. Terharukah? Entahlah, ia hanya merasa seperti ada sesuatu yang membuatnya ingin menangis dan tertawa disaat bersamaan.
"Ta-tadaimaa... Ni-Nii-san..." ujarnya sambil tersenyum dengan air mata berlinang yang menemani senyum manisnya. Senyuman yang selama 12 tahun ini Sasori rindukan.
"Kurasa, kalian bisa bertemu dengannya sekarang. Terima kasih telah merawatnya selama ini, Hiashi jii-san... Nadeshiko baa-san." Ujar Sasori pada Hiashi dan Nadeshiko ketika ia sudah keluar dari ruang rawat Sakura dan digantikan oleh Hanabi dan Neji.
"Maafkan kami Sasori, Kami tidak-"
"Tidak apa-apa Jii-san. Aku sungguh berterima kasih kepada kalian, dan aku paham kenapa kalian menyembunyikan ini dari Kaa-san dan Tou-san. Meski aku menyesalkan sikap kalian yang sama sekali tidak memberi kabar apapun padaku atau Kaa-san, tapi aku sungguh berterima kasih. Dengan begini, Sakura dapat hidup bahagia..."
"Kurasa... tidak sepenuhnya benar, Sasori... masih ada sedikit masalah yang..." Nadeshiko menggelengkan kepalanya sendu.
"Hn, untuk masalah Hyuuga Ryuu... kurasa aku akan menanganinya. Untuk sekarang, aku ingin Sakura tenang dulu." Ujar Sasori sambil melirik Sakura yang sedang bersenda gurau bersama Neji dan Hanabi.
"Tapi aku tidak menyangka dia kan menebak siapa aku secepat ini, hahaha..." Sasori tertawa sumbang. Antara sedih dan gembira.
"aku sampai tidak tahu harus berkata apa..." ujar Sasori.
"Lalu.. apa kau akan memberitahu keluargamu?" tanya Nadeshiko khawatir. Bagaimana pun, sebentar lagi Hizashi dan Mebuki akan datang, dan tidak baik mempertemukan mereka dengan Hana.
"Entahlah Baa-san. Tapi aku sangat ingin Sakura bisa bertemu dengan Kaa-san. Sudah saatnya mereka bertemu... aku tidak tega melihat Kaa-san yang terus-terusan bersedih" ujar Sasori lagi.
"Tapi-"
"Aku yakin semuanya akan baik-baik saja sayang, meski mereka bertemu dengan Hana" ujar Hiashi menenangkan Nadeshiko.
TBC
Hwaaa... gomenasai minna-san jika cerita ini tambah GJ. Aku benar-benar bingung dengan ideku yang kebat-kebut dan timbul tenggelam. Semoga kalian tetap suka…
Jangan lupa R&R ya…
Kritik sarannya ku tunggu banget lho… biar ceritanya cepet selesai, hehehe
Arigatou minna-san…
See u Later... ^_^
