About Us

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

Rated : T

"Kurasa, kalian bisa bertemu dengannya sekarang. Terima kasih telah merawatnya selama ini, Hiashi jii-san... Nadeshiko baa-san." Ujar Sasori pada Hiashi dan Nadeshiko ketika ia sudah keluar dari ruang rawat Sakura dan digantikan oleh Hanabi dan Neji.

"Maafkan kami Sasori, Kami tidak-"

"Tidak apa-apa Jii-san. Aku sungguh berterima kasih kepada kalian, dan aku paham kenapa kalian menyembunyikan ini dari Kaa-san dan Tou-san. Meski aku menyesalkan sikap kalian yang sama sekali tidak memberi kabar apapun padaku atau Kaa-san, tapi aku sungguh berterima kasih. Dengan begini, Sakura dapat hidup bahagia..."

"Kurasa... tidak sepenuhnya benar, Sasori... masih ada sedikit masalah yang..." Nadeshiko menggelengkan kepalanya sendu, tak melanjutkan kata-katanya.

"Hn, untuk masalah Hyuuga Ryuu... kurasa aku akan menanganinya. Untuk sekarang, aku ingin Sakura tenang dulu." Ujar Sasori sambil melirik Sakura yang sedang bersenda gurau bersama Neji dan Hanabi.

"Tapi aku tidak menyangka dia akan menebak siapa aku secepat ini, hahaha..." Sasori tertawa sumbang. Antara sedih dan gembira.

"Aku sampai tidak tahu harus berkata apa..." ujar Sasori.

"Lalu.. apa kau akan memberitahu keluargamu?" tanya Nadeshiko khawatir. Bagaimana pun, sebentar lagi Hizashi dan Mebuki akan datang, dan tidak baik mempertemukan mereka dengan Hana.

"Entahlah Baa-san. Tapi aku sangat ingin Sakura bisa bertemu dengan Kaa-san. Sudah saatnya mereka bertemu... aku tidak tega melihat Kaa-san yang terus-terusan bersedih" ujar Sasori lagi.

"Tapi-"

"Aku yakin semuanya akan baik-baik saja sayang, meski mereka bertemu dengan Hana" ujar Hiashi menenangkan Nadeshiko.

.x.o.x.

"Bagaimana keadaan Sakura?" tanya Mebuki khawatir. Dia sangat khawatir hingga langsung berangkat ke Konoha begitu mendengar kabar bahwa Sakura pingsan setelah bertemu Ryuu karena traumanya kambuh. Bagaimana pun, Mebuki sangat menyayangi Sakura, meski Sakura bukan putri kandungnya.

"Dia baik-baik saja, Nee-san. Dia baru saja beristirahat setelah bersenda-gurau dengan Hanabi dan Neji. Keadaannya sangat stabil, tenanglah..." ujar Nadhesiko sambil menepuk-nepuk punggung Mebuki untuk menenangkan kakak iparnya itu.

"Syukurlah..." Mebuki menghembuskan nafas lega. Berbeda dengan Hizashi yang dari tadi terdiam.

"Aku masuk dulu untuk menemaninya" ujar Mebuki kemudian berlalu memasuki kamar rawat Sakura.

"Apa yang sudah Ryuu lakukan? Apa dia sudah tahu?" tanya Hizashi menatap Hiashi dan Nadeshiko meminta penjelasan. Keduanya mengerti arah pembicaan Hizashi.

"Ya... mereka bertemu di restoran, sepertinya lagi-lagi Ryuu memaksa Sakura. Dan Sasori-"

"Sasori? Akasuna Sasori?" Hizashi menatap Hiashi terkejut. Meski tahu bahwa cepat atau lambat hal ini akan terjadi, namun ia tetap saja meresa belum siap.

"Ya... Sasori dan Ryuu bertengkar, karena Sasori marah melihat Ryuu bertindak kasar pada Sakura. Lalu... Sakura histeris, traumanya kambuh..." jawab Hiashi.

Hizashi langsung terduduk. Ah, ia sangat bingung harus bagaimana sekarang. Tangannya mengacak-acak rambutnya frustasi. Apakah... sekarang saatnya ia melepaskan Sakura? Rasanya sangat sulit karena ia sudah sangat menyayanginya seperti putri mereka sendiri. Belum lagi Mebuki. Bagaimana dengan Mebuki?

"Apa... Sakura juga sudah tahu?" tanyanya was-was. Ia berharap belum, karena dengan begitu ia bisa membawa Sakura sejauh mungkin dari Konoha. Setidaknya sampai Mebuki rela melepaskannya. Ia benar-benar tidak ingin Mebuki depresi karena kehilangan Sakura. Ia ingat bagaimana keadaan Mebuki ketika mereka kehilangan putri mereka yang berusia balita karena sakit, Hyuuga Minana.

"Ya..." jawab Nadeshiko mewakili suaminya. Mereka sama-sama berat memberitahukan ini. Apalagi mereka juga mengingat keadaan Mebuki. Ah... entah bagaimana jadinya nanti. Apalagi jika Hana datang kesini melihat putrinya.

"Apa dia akan membawa Sakura?" tanya Hizashi menatap keduanya. Matanya sarat akan ketakutan kehilangan Sakura. Hiashi dan Nadeshiko melihat jelas hal itu.

"Tidak... " ujar Hiashi sambil melangkah menuju saudara kembarnya itu dan duduk di sampingnya.

"Tidak?" Hizashi menatap Hiashi tidak percaya.

"Secara teknis mungkin tidak. Sasori bilang ia ingin Sakura bahagia, karena itu ia masih ragu untuk memberi tahu keluarganya. Hanya saja... ia ingin mempertemukan Sakura dengan Hana... " perkataan terakhir Hiashi membuat Hizashi membelalakkan matanya tak percaya.

"Hana?" Tanyanya terkejut.

.x.o.x.

"Tadaima~" Suara Sasori menggema sampai pintu dapur.

"Okaeri~ Sasori-kun..." Jawab Hana dengan senyuman manisnya. Disampingnya, Karin juga memberikan senyuman.

"Okaeri~ Sasori-nii..." Ucapnya dengan nada semangat, tidak lupa menghambur pada saudara tiri yang sangat ia sayangi itu. Membuat Sasori mau tidak mau tersenyum, mengingat Karin yang sikapnya mirip dengan Sakura. Ceria, energik, baik hati, meski kadang suka berlebihan jika berhadapan dengan orang yang ia sukai. Namun Sasori bersyukur, tidak ada sikap Karin yang mirip dengan Sara. Karin benar-benar baik seperti Hana, Kaa-sannya. Dan mereka benar-benar saling menyayangi. Mungkin, karena dari kecil Karin lebih sering bersama Kaa-sannya yang selalu dirumah, berbeda dengan Sara yang sering keluar bersama teman-temannya.

"Kalian sudah makan?" Tanya Sasori.

"Belum, kami baru saja selesai membuat puding strawberry. Nii-chan mau?" Jawab Karin setelah melepaskan pelukannya dan menghampiri Hana yang sedang menyiapkan beberapa tempat untuk puding mereka.

"Hn. Aku akan ganti baju dulu" Ujar Sasori sebelum berlalu ke kamarnya.

Di kamar Sasori...

Sasori menghempaskan tubuhnya di ranjang king size miliknya. Pikirannya berkutat tentang bagaimana caranya ia bisa memberitahu Kaa-sannya tanpa membuat yang lain tahu, dan tidak terburu-buru.

Bagaimana pun, ia tahu siapa orang tua angkat Sakura sekarang. Akan berbahaya jika sampai Tou-sannya tahu, dan ia tidak ingin membuat Sakura kembali trauma.

"Kami-sama... Bagaimana ini?" Tanyanya dengan tatapan menerawang. Ia sangat ingin berteriak pada dunia jika ia berhasil menemukan Sakura, adiknya. Namun ia tidak mampu. Ia tidak bisa membuat dua orang yang paling berharga dalam hidupnya terluka lagi. Karena Sasori tahu apa yang akan terjadi jika Kaa-sannya bertemu dengan Sakura disaat ada keluarga angkat Sakura.

"Tuhan... Kenapa sulit sekali menemukan kebahagiaan untuknya? Tidakkah selama ini cukup membuatnya menderita?" Lirihnya pedih. Tidak, Sasori tidak menyalahkan Tuhan atas takdir yang terjadi pada keluarganya. Dia hanya kasihan kepada adiknya, dan dia tidak tahu harus curhat kepada siapa lagi. Dia percaya, Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk adiknya. Dia percaya itu.

.x.o.x.

TBC

Gomenne~ Kali ini pendek banget, hehehe Peace (-_-)\/