PROLOG
Hetalia (c) Himaruya Hidekazu
Hawa dingin yang menusuk menampar mukaku, membuatnya bersemu merah. Mengencangkan sarung tanganku, Aku mengambil posisi di tengah es. Kulihat di kaca pantulan diriku sendiri. Rambut coklat kemerahanku kontras dengan warna es yang putih. Julukan 'malaikat merah' terlintas di pikiranku. Memang kalau dilihat sekilas, warna merah dominan pada diriku. Tapi malaikat? oh tidak. Dengan permainanku yang agresif and cepat, mungkin 'setan merah' lebih cocok padaku.
Aku memandang ke arah kakak laki-lakiku yang berada di kursi rodanya dan memberikannya aba-aba. Stereo tua dipangkuannya pun mulai mengalunkan suara musik. Lagu bertempo tiga perempat itu membimbing gerakanku.
Programku dimulai dengan sedikit gerakan sensual, membangun antisipasi para penonton. Aku mulai menambah kecepatan, menyesuaikan diriku dengan ritme melodinya. Jantungku berdetak keras, nafasku makin memburu. Di sudut mataku dapat kulihat ekspresi kakakku—Lovino, yang masam.
Lovino memerhatikan setiap gerakanku secara teliti. mungkin menyusun komentar dan kritik di kepalanya. Triple Flip dan Double Toeloop sudah ku lewati dengan mudah. Kedua pendaratan mulus sesuai standar Lovino. Camelku agak sedikit lemah tetapi tempoku tetap terjaga. Terakhir, ku melompat dan—
Hening. Lovino telah menghentikan musik sebelum kakiku menyentuh es
Jancuk— pendaratan gagal.
Bokongku terasa dingin dan basah akibat bersentuhan dengan es. Triple Axel memang kelemahanku. Lomba junior nasional 3 tahun lalu? gagal. Lomba persahabatan tahun lalu? gagal. Lomba regional bulan lalu? gagal. Dapat dihitung dengan jari tangan jumlah Triple axel sempurna yang telah kulakukan.
"Fokus." Suara Lovino yang menggelegar terdengar sampai seluruh gelanggang. Lovino mendorong kursi rodanya lebih dekat pada tepian gelanggang es. Ia memberikan isyarat untuk mendekat.
"Tahun ini ada Beilschmidt masuk kompetisi. Hari-hari jayamu akan berakhir kalau kau selalu mengacaukan programnya."
"…Beilschmidt? Gilbert Beilchmidt? rivalmu?" Aku mengingat-ingat matanya yang mencolok dan rambut putihnya yang serasi dengan es. "Bukankah dia terlalu tua untuk masuk kategori junior?"
"Semua Beilschmidt patut ditakuti nak," Lovino memijat jidatnya, kebiasaan dari masa remaja yang terbawa sampai sekarang. "Mereka seperti setan. Gerakan kaki yang teliti, pendaratan mulus dan akurat. Nafsu mereka seakan dapat melelehkan es"
Puitis. Tampaknya Lovino punya banyak waktu luang untuk membaca novel-novel roman milik Francis.
"Jadi ada Beilschmidt baru?"
Lovino menatapku dengan masam. "Ulangi dari awal."
Jawabannya akan ku anggap sebagai 'ya'
Flip- Lompatan dengan bantuan pick, melompat menggunakan bagian dalam sepatu dan mendarat dengan kaki yang berbeda
Toeloop- Lompatan dengan bantuan pick, melompat menggunakan bagian luar sepatu dan mendarat dengan kaki yang sama
Camel- Putaran dengan satu kaki diangkat dan bada parallel dengan permukaan
Axel- Lompatan maju dengan melontarkan diri ke udara
a/n: aaa EYD is so hard i cry. komentar dan kritik ditunggu ;)))
