Notes and Words
Sequel from Take My Heart. And this Yifan version :)
.
.
.
I wanna dance like no one's watching me
I wanna love like it's the only thing i know
I wanna laugh from the bottom of my heart
I wanna sing like every single
Note anda word it's all for you
Is this enough?
I'm not perfect, yes i'm.
Rasanya aku ingin menghilang, lenyap, tak muncul di depanmu. Tapi apa aku bisa?
Senang, bahagia, takut dan hina bercampur menjadi satu di dalam hatiku dan kepalaku.
Aku tidak pantas, aku tahu itu. Tarian, tawa dan cinta yang ku miliki seolah tak sanggup mewakili semuanya.
Tak bosannya ku lantunkan nyanyian isi hatiku. Tapi apakah itu cukup?
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya yang tengah ku pikirkan, apa yang ku bingungkan, dan apa yang ku takutkan. Rasanya semua rasa yang ada mendera pikiran dan hatiku secara bertubi-tubi sampai aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.
Satu yang pasti. Aku mencintainya, lebih dari apapun, lebih dari diriku sendiri. Aku akan berusaha sekuat tenaga menjaga kepercayaan yang ia berikan padaku.
Dengan keadaan dan sosokku saat ini, tidak banyak yang bisa ku lakukan selain selalu membuatnya nyaman saat bersamaku.
"Gege..." suara serak Tao menyeret ku ke alam nyata.
Aku menoleh dengan gugup, karena ketahuan melamun, padahal aku sedang berada di kamarnya.
"Ya?"
Wajah manisnya terlihat pucat, bibir kucingnya yang berwarna merah muda itu kini agak memutih, dan sudah dua hari aku menemaninya di kamar ini karena demam tinggi yang menyerangnya.
Aku terdiam merasakan tangannya yang terasa panas menggenggam tangan kananku. Aku tidak tahu pasti, tapi saat ini aku melihat kecemasan di matanya.
Kenapa?
"Ada yang kau inginkan?" tanyaku lembut, mengusap tangannya yang menggenggam tanganku.
Tao menggeleng lemah. Tatapan matanya itu seolah menelanjangi pikiranku.
"Apa yang sedang gege pikirkan?" tanyanya lirih, namun aku cukup mendengarnya dengan jelas karena kamar ini terlalu hening.
Aku mengulum senyum tipis, walau aku yakin aku tidak tersenyum dengan baik saat ini, dan aku tahu anak manis yang sedang sakit ini tidak sebodoh itu untuk mempercayai senyuman 'palsu' ku.
"Aku sedang berpikir..." shit, aku benar-benar bingung. "...bagaimana bisa kau hujan-hujanan di tengah badai seperti itu"
Yah, aku tidak harus mengutarakannya sekarang.
Ku lihat Tao menggembungkan pipinya lucu. Walau dalam keadaan sakit seperti ini dia tetap terlihat manis.
"Kalau aku tidak hujan-hujanan, pasti kucing itu akan mati" ujarnya dengan bibir manyun.
"Tapi sekarang kau jadi sakit 'kan?"
"Biarkan saja, aku tidak tega melihat kucing lucu itu di jalan" ia tak menatapku, lebih tepatnya menghindari tatapan mataku. Aku tahu dia takut aku marah.
"Lalu sekarang?"
Tao menggigit bibirnya. "...tidak masalah aku sakit, supaya gege memperhatikan aku. Yifan-ge terlalu sibuk akhir-akhir ini" ia merajuk.
Ku akui aku senang mendengarnya.
"Mau aku tidur di sebelahmu?" tanyaku, Tao menatapku kaget. Kemudian mengangguk dengan wajah merona.
Ku lepas jas yang ku kenakan dan meletakkannya ke pinggir tempat tidur, lalu merangkak naik dan berbaring di sebelahnya.
Tao mendekat padaku dan tak sungkan melingkarkan tangannya ke pinggangku, akupun begitu.
"Baba tidak mencarimu 'kan?" suaranya teredam di dadaku.
"Tidak, tugasku sudah selesai" ku lesakkan wajahku ke lehernya. Hangat.
"Kalau begitu temani aku tidur, jangan pergi"
Aku tersenyum tipis, mengecup telinganya ringan.
"With pleasure my majesty" bisik ku.
Tao semakin erat memelukku.
Kamu senang? Tapi apa ini semua cukup?
.
.
.
I wanna tell you and this is the only way i know
And hope one day you'll learn the words and say
That you finally see what i see
Aku cemas, dan kecemasan itu semakin besar ku rasakan. Tapi sungguh aku tidak mau membuatmu bersedih, apalagi sampai membuatmu menangis.
Namun sungguh, aku ingin kamu tahu, apa ketakutanku. Dan ku harap kamu mengerti, dan melihat semua ini dari posisiku.
Maafkan aku...
Aku merasa waktu berlalu sangat amat lambat saat aku berada di dalam satu ruangan dengan Tuan Huang. Padahal beliau hanya menagih laporan rutinku untuk hari ini, tapi aku merasa sangat tertekan.
Dan tidak dapat ku bayangkan jika beliau mengetahui hubungan khusus yang terjalin antara aku dan putranya.
"Yifan-ge!" suara yang sangat ku suka itu memanggil namaku lantang.
Ku hentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Tao berlari kecil ke arahku, wajahnya tampak berseri. Senang rasanya melihatnya sehat seperti ini.
"Gege mau kemana?" tanyanya, dengan tatapan yang berbinar. Indah sekali.
"Aku mau menjemput Nyonya, kenapa?"
"Sebentar, aku ada sesuatu" ia merogoh saku celana pendeknya.
Ku lihat sebuah gelang yang terbuat dari tali berwarna hitam dengan liontin kunci yang berkelap-kelip oleh gliter berwarna silver.
"Sini tangan kanan gege" pintanya, ku ulurkan tangan kananku. Tao memakaikan gelang tersebut dan tersenyum puas.
"Ah cocok! Kita kembaran!" ia sangat semangat memperlihatkan gelang yang sama menghiasi tangan kirinya dengan hiasan yang berbeda, berbentuk gembok.
"Jangan sampai hilang"
Aku mengangguk kecil.
"Pasti"
Jujur saja aku masih memikirkan kecemasanku, meski aku tengah memperhatikan gelang di tangan kananku.
"Aku tahu apa yang gege pikirkan" ucap Tao, membuatku mengangkat wajah cepat.
Ia tersenyum manis, mengamit pipiku dengan tangannya yang halus. Dan tak bisa ku tolak saat bibirnya melekat di bibirku. Hanya ciuman singkat, tapi mampu menenangkan hatiku.
"Just think about me and us, 'kay?" ia menempelkan keningnya dengan berjinjit.
Aku mengangguk pelan, menggenggam tangannya di pipiku.
"I love you" aku berbisik.
"Love you more~"
Apa aku bisa lega sekarang?
.
.
.
Another song for you about your love
'Cause you love the me that's full of faults
I wish you could see it from this view
'Cause everything around you is a little bit
Brighter from your love
Aku terus bernyanyi, meski bibirku tak berucap namun hatiku melantunkan bait demi bait lagu cinta yang sebenarnya tak mampu mewakili seluruh isi hatiku.
Cahayamu telah menelanku, hangat dan menenangkan. Tapi di balik itu rasa takut tetap ada.
Aku terus bertanya-tanya. Benarkah kau menerimaku apa adanya? Meski masa lalu ku tergolong buruk? Bisakah?
Karena kau tahu, cahaya cintamu berhasil menelanku.
Hari ini benar-benar melelahkan, pikiran dan tenagaku terkuras habis. Bagaimana tidak? Hari ini banyak sekali hal yang terjadi, mulai dari masalah perusahaan Tuan Huang yang harus ku bereskan, masalah bawahanku, dan masalah perasaanku yang semakin hari semakin menjadi.
Ku gantungkan kemejaku pada hanger di dalam lemari, dan membuka celana yang ku kenakan tapi urung ku lakukan karena pintu kamarku tiba-tiba terbuka cepat.
Aku berbalik, mengangkat satu alis melihat Tao yang berdiri di dekat pintu yang mengenakan piyama biru muda. Ok, malam ini memang sudah pukul sembilan malam, tapi kenapa dia juga menbawa gulingnya?
Ku lihat matanya tak lepas menatap tubuhku yang lumayan berotot dan wajahnya bersemu.
"Kenapa diam disana?" tanyaku menyadarkannya. Ia mengerjap lalu menatapku malu-malu. Manis sekali.
"Eh...ah..sepertinya a-aku masuk di saat yang tidak tepat ya" bola matanya lari kemana-mana. Dia pasti sangat malu.
"Tidak, ada yang bisa ku bantu?" tanyaku seraya menutup pintu lemari.
Tao menundukkan kepalanya memainkan jemari-jemari tangannya. Aku diam menunggu.
"Uhm...bo..boleh aku tidur bersama gege malam ini?" suaranya terdengar agak pelan. Aku tersenyum.
"Berdiri di sana dulu, ku bereskan tempat tidur" kataku berjalan ke tempat tidur.
Ranjangku tidak sebesar tempat tidurnya, tapi bisa ku pastikan terlihat rapi dan nyaman untuk di tiduri. Aku hendak meletakkan bantal kembali saat ku rasakan sesuatu yang hangat menempel di punggungku, tepat di bekas lukaku.
Aku menoleh ke balik punggungku, ku lihat Tao sudah berdiri di belakangku. Ah, hangat itu tangannya ya, pantas.
"Bekas apa ini ge?" tanyanya meraba luka di punggungku.
"Itu luka lima tahun yang lalu" jawabku santai.
"Ada yang melukai gege?" suaranya terdengar cemas.
Aku harus bercerita tentang ini. Semoga Tao tidak menjauhiku karena hal ini.
"Dulu aku bukan orang baik-baik" aku berbalik menatapnya, tatapan Tao seolah sedang mencari sesuatu di dalam mataku.
"Lalu?"
Ku genggam kedua tangannya, menunduk.
"Aku mantan petarung jalanan, berkelahi untuk mencari uang" semoga suaraku tidak terdengar bergetar.
"Tapi gege sudah berubah. Yifan-ge yang ku kenal sekarang orang yang baik dan sampai kapanpun tetap orang baik" ia berkata lembut.
Ku angkat wajahku, menatapnya sendu.
"Aku sering melukai orang. Aku bukan orang baik, aku kotor, tidak pantas untukmu"
Tao menggeleng pelan, melepaskan tangannya dari tanganku dan memegang pipiku.
"Aku mencintaimu apapun dirimu, itu bukan alasan. Tidak ada kata tidak pantas dalam hidupku. Kau tidak takut?"
"Takut apa?"
"Apa saja bisa terjadi, apalagi―"
"Aku tidak pernah memikirkan hari esok, aku ingin menikmati saat ini detik ini. Kenapa aku harus takut pada orang yang kucintai?"
Bolehkah aku bahagia saat ini? Mendengarnya mengatakan itu membuatku tidak tahu harus berkomentar apa.
"Apapun gege, siapapun diri gege, aku tetap mencintai gege dan jangan pernah meragukan hal itu" ucapnya agak berbisik. Aku mengangguk kecil.
Tao tersenyum tipis, tanpa ragu ku lahap bibir ranumnya yang menggoda itu. Ia memeluk leherku dan membalas lidahku yang saat ini menjelajahi rongga mulutnya.
See? Sekali lagi cahayamu berhasil menelanku.
I wanna dance the night away with you
I wanna love because you tought me too
I wanna laugh all you tears away
I wanna sing cause every single
Note and words it's just for you
Hope it's enough?
Lega. Mungkin saat ini itulah yang ku rasakan. Perasaanku jauh lebih baik, berkat dirimu. Kau adalah anugrah terindah dalam hidupku.
Maukah kau menari bersamaku menghabiskan malam ini? Jika tidak, aku akan tertawa. Menertawakan diriku yang bodoh ini dan menghapus kesedihanmu. Berharap cukup akan itu semua, karena aku mencintaimu dan kau lah yang telah mengajariku.
Suara nafas Tao yang teratur mampu membuat rileks otot-otot tubuhku, ku peluk tubuhnya erat tapi tidak membuatnya merasa sesak, aku ingin dia nyaman berada di dalam pelukanku. Dan terbukti, karena Tao tertidur pulas meski petir menggelegar di luar sana, sedikitpun ia tidak terusik.
Ku tundukkan wajahku untuk menatap wajah tidurnya. Menangkan, manis, dan polos. Aku benar-benar bahagia, malam ini aku bisa menghabiskan malam bersamanya.
Ku kecup keningnya, Tao menggumam lirih dan melesakkan wajahnya ke dadaku. Tuhan, jangan biarkan malam ini cepat berlalu, kumohon.
"I love you" bisikku, mendekap lembut kepalanya.
Aku tidak pernah bosan mengatakannya, namun sayangnya aku tidak pintar bernyanyi, menyanyikan tentang perasaanku. Tapi jika ia mau, aku bisa mengatakan tiap kalimat dan kata hanya untuknya.
Aku mencintainya...
.
.
.
Not a day goes by that i don't think
About you and the love you've given me
I wish you could see it from this view
'Cause everything around you is a little bit
Brighter from your love
Life is just so much better from your love
Apa yang bisa ku berikan? Apa? Apa yang bisa ku lakukan?
Aku tidak tahu, aku tidak memiliki apapun. Sosokmu dan cintamu, semuanya menjadi satu di dalam kepalaku.
Apa kau mengerti? Kalau kau mengerti, katakan padaku apa yang harus ku berikan padamu, untukmu, untuk cintamu.
Semuanya terlalu absurd, akankah cahayamu dapat menerangiku? Menelanku kembali? Dan membuat hidupku lebih baik dengan cintamu...
"Yifan-ge!"
Suara itu melempar ku kembali, aku menoleh ke sisi kiriku. Menatap ling-lung Tao yang keheranan menatapku.
"Gege menyetir sambil melamun?" tanyanya heran.
"Maaf, aku hanya..." aku menelan ludah, berusaha fokus menyetir.
Dapat ku rasakan tatapan intens Tao. Duh, apa mungkin dia menyadari kegelisahan ku?
"Apa yang akhir-akhir ini gege pikirkan? Gege seperti orang ling-lung" ujarnya, mampu menusuk dadaku. Tapi aku harus mengatakan padanya?
"Aku...aku berpikir apa yang harus ku berikan padamu" kataku.
"Maksut gege?"
"Sejauh ini aku sudah banyak menerima apa yang ku butuhkan darimu, tapi aku tidak bisa memberikan apapun"
"Kata siapa gege tidak memberikan apapun padaku?"
"Aku?"
"Dengar, bukankah kita sudah membahas hal ini sebelumnya? Apa lagi yang Yifan-ge pikirkan?"
Aku juga tidak tahu kenapa peach.
"Aku merasa―"
"Tidak pantas untukku? Kita berbeda?"
Aku terdiam mendengarnya. Aku tahu hal itu akan menyakitinya.
"Aku sudah menerima semua yang ku inginkan dari gege, Yifan-ge tidak perlu lagi memikirkannya karena aku sudah mendapatkannya" suaranya melembut.
Jujur, aku bingung mau mengatakan apa.
"Tepikan mobilnya" pintanya, membuatku menoleh menatapnya.
"Tepikan saja!" ia memaksaku.
Aku tidak punya pilihan, ku tepikan mobil ini di tempat yang menurut ku aman.
Alisku terangkat satu melihatnya melepas safety belt dan menuju ke arahku, aku tidak berkutik saat ternyata Tao tiba-tiba duduk di pangkuanku dan memeluk leherku.
"Aku tidak mau gege memikirkan hal itu lagi, aku sudah mendapatkannya" suaranya terdengar lembut. Tanganku bergerak ragu memeluk pinggangnya.
"Apa itu cukup?" ku letakkan daguku di pundaknya.
"Lebih dari cukup ge, aku sudah menerimanya, mendapatkan hati dan cintamu, aku tidak menginginkan apa-apa lagi"
"Aku merasa tidak pantas"
"Aku tidak akan menyerahkan hatiku pada orang yang tidak pantas ge, ingat itu"
Ku eratkan pelukanku di pinggangnya, berkatnya pikiranku jauh lebih jernih saat ini. Aku tidak mau kehilangannya.
"Jangan berhenti memberikan cahayamu, percayakan hatimu padaku, karena hidupku jauh lebih baik dengan cintamu..." aku berbisik di telinganya.
"Aku juga, ingat hati gege sudah gege berikan padaku, aku yang memilikinya"
Aku mengangguk, menghirup wangi tubuhnya yang manis.
Aku berjanji sampai kapanpun akan ku jaga hati yang sudah kau percayakan padaku.
Aku mencintaimu, tidak akan bosan aku menyanyikan kalimat dan kata itu.
I wanna sing like every single
Note ane words it's all for you...
FIN
Current Song: Notes and Words
By: One Ok Rock
Dan sekuelnya masih sisa satu :)
Regards, Skylar
