Love Me Harder

Oneshoot final :)

.

.

.

You're always on my mind

All day just all the time

You're everything to me

Brightest star to let me see

Senyum itu lagi, salah satu yang ku suka darinya adalah senyumnya. Manis, membuat hatiku damai. Senyumnya mampu membuatku melupakan segala hal yang ada untuk sejenak.

Tidak pernah lepas dari ingatanku, tentangmu, sosokmu, senyummu, dan yang paling berarti bagiku, yaitu cintamu.

Sering kali aku berpikir jika diriku ini tidak pantas dan tidak akan pernah pantas memiliki hatimu. Tapi kau tahu, kau selalu tersenyum meski ku lihat sinar kesedihan saat aku mengutarakannya. Tapi lagi-lagi sinar cintamu yang sangat terang mampu menelan sisi gelap dalam diriku,mengusir semua pikiran negatifku,dan membuatku dapat melihat akan cahayamu yang tak pernah redup.

Apa kau tahu? Kau adalah anugrah yang Tuhan berikan padaku.

Bintang paling terang yang membuatku bisa melihat akan segala sesuatu hal...

Tuhan... Engkau benar-benar maha segala-galanya. Aku bersyukur Engkau menciptakan makhluk seindah dirinya, dengan komposisi tepat dan pahatan yang sempurna Engkau menghadiahi ku sosoknya yang sangat luar biasa.

Aku bahkan tidak pernah bosan memandangnya, memperhatikan tiap lekuk di wajahnya, sepasang mata bak mutiara yang beningnya, hidung mancung yang selalu membuatku iri, pipi gembil berisi yang halus dan bibir kucing berwarna merah yang selalu basah, menggoda.

Kini bibir itu tertarik membentuk senyuman tipis, dan aku tidak akan pernah bosan.

"Yifan-ge ia memanggilku, ada nada geli di suaranya.

Aku mengerjap beberapa kali, tersadar dari lamunan kecilku tentangnya. Yeah, selalu.

Alisku terangkat satu melihatnya yang tersenyum aneh padaku. Ada yang salah denganku?

Karena merasa tidak nyaman dengan tatapannya itu, aku menunduk menyelidik tubuhku atau lebih tepatnya menyelidik pakaian yang ku kenakan.

Tidak ada yang aneh kok, kemeja, dasi, jas, dan celana...ya Tuhan, resleting celanaku belum ku tutup! Pantas.

Sial!

"Ahahahahahahahahaha!" Tao tergelak.

Aku mendengus masam. Gila, aku benar-benar malu. Sialan! Bagaimana bisa aku lupa tidak menutup resleting celanaku kembali?! Stupid Wu!

Gara-gara tergesa keluar dari kamar mandi sampai aku lupa dengan hal yang paling fatal, untungnya aku belum keluar kamar, bisa-bisa semua pegawai disini memiliki bahan untuk menggosip.

"Kenapa kau ada disini? Bukannya mengantar Tuan dan Nyonya?" tanyaku, berusaha merubah suasana aneh yang ku rasakan.

"Hmpfh...itu..haha" Tao berusaha menghentikan tawanya. Dasar, apa dia tidak tahu kalau aku benar-benar malu?

Rasanya aku ingin lari saja.

"Hm?" ku naikkan satu alisku.

Tao mengatur nafasnya, meski begitu bibir kucingnya tidak tahan untuk tidak tersenyum geli.

Oh great, seharian ini ia akan memiliki bahan tertawaan.

"Itu...hehe...aku datang untuk memanggilmu Fanfan-ge" ujarnya menyeringai.

"Lagipula kenapa tidak ke kamar mandi di luar sih?" alisnya naik sebelah menatapku.

"Tadi antri, aku sudah tidak kuat" kataku, Tao tertawa lagi namun lebih pelan.

"Terus saja tertawa" aku mendengus, pura-pura kesal.

"Ehehe, maaf gege~" Tao berdiri dari tempat tidur, memeluk pinggangku dengan memamerkan senyum lebarnya.

"Ya sudah ayo" ajakku, melepas tangannya di pinggangku.

Tenang, resleting celanaku sudah ku tutup kok. Haha.

Tao memeluk lengan kananku sembari ku tutup pintu kamar dengan tangan kiriku yang bebas. Kami memang mesra jika sedang berdua, tidak mungkin juga 'kan kami mesra-mesraan di depan Tuan dan Nyonya Huang? Bisa-bisa aku di tembak mati.

"Kenapa kamu tidak ikut mereka?" tanyaku. Kami sengaja berjalan pelan menuju pintu utama.

"Kalau aku ikut aku tidak bisa berduaan dengan gege dong?" ia balas menatapku dengan mata berbinar.

Ya, memang sih. Frekuensi kami berduaan lumayan jarang. Maklum, aku masih agak takut jika berduaan dengannya, takut jika ada yang memergoki kami.

"Tidak takut ada yang melihat?" aku melirik tangannya yang mendekap lengan kananku.

"Biarkan saja, silahkan mengadu ke Baba kalau ingin di pecat dari rumah ini" ucapnya santai, aku hanya tersenyum tipis.

Tao memang putra semata wayang di rumah ini, jadi apapun yang berkaitan dengan rumah ini dan isinya, Ruki turut ambil andil, bahkan soal pegawai pun dia tidak ingin di lancangi, begitulah.

"Tapi ngomong-ngomong, bukankah Tuan dan Nyonya akan lama di Shenyang?" tanyaku lagi. Tao mengangguk.

"Memang, kalau tidak salah, sekitar seminggu. Kenapa?" mata bulatnya menatapku polos. Ku lemparkan tatapanku ke depan, aku tidak tahan jika Tao sudah menatapku seperti itu.

"Tidak, apa tidak kesepian nanti?" godaku, menoleh padanya sekilas.

"Kan ada Fanfan-ge, kita bisa berduaan. Aku sudah tidak sabar lagi"

"Tidak sabar untuk apa?"

"Untuk apa saja"

"Tidak takut kalau Chen melapor?"

"Tidak" sahutnya mantap.

"Sungguh?"

Tao berhenti berjalan, begitu pula denganku yang mengikutinya karena lenganku yang masih di dekapnya.

"Baiklah...aku takut" ucapnya dengan wajah sedikit murung.

Ah, aku sudah berdosa membuatnya berwajah seperti itu.

Ku lepas dekapannya di lenganku dan ku raih tubuhnya, ku peluk dan Tao balas memelukku.

"You still love me, right?" tanyaku agak berbisik, Tao mengangguk.

"Forever love you"

Aku tersenyum. Ia melepas pelukanku, menatapku dan tersenyum iseng. Aku tersentak kecil saat dia mengecup bibirku kilat, tapi saat akan ku balas dia sudah berkelit menjauh dariku dengan menjulurkan lidah.

"Tao!Mama dan Baba akan berangkat nih~!"

"Aku datang Mama!" sahutnya lantang.

Tao mengejekku dengan menjulurkan lidahnya dan berlari keluar, aku hanya mendengus kecil.

Awas saja nanti.

.

.

.

You touch me in my dream

We kiss in every scene

I pray to be with you through

Rain and shiny days

Hangat, damai dan tenang.

Itulah yang ku rasakan saat bersamamu. Menentramkan hatiku, meredam semua ketakutanku akan kehangatan tubuhmu. Sentuhan lembutmu membuaiku, seolah membimbingku jauh ke alam mimpi. Dan aku tidak mau semua ini cepat berakhir.

Aku tidak peduli meski angin kencang menerpa dan hujan mengguyur, selama masih bersamamu aku akan terus berdo'a agar kita selalu bersama.

Melalui segala hal bersama, saat bahagia, sedih dan bahkan saat-saat sulit sekalipun. Aku tidak butuh jawaban dari mulutmu, karena aku sudah mendapatkannya, dari tatapan matamu dan kehangatan tubuhmu yang selalu melindungiku.

Aku tidak keberatan seerat apa kau memelukku, dengan begitu aku akan dengan senang hati menyandarkan kepalaku di dada bidangmu. Hangat.

Bibirku terkunci rapat, menatap ke dalam matamu yang tajam, dan bibirmu merekat di bibirku. Apa kau dengar? Hatiku bersorak riang, darahku berdesir memberi semangat.

Hangat lidahmu menyapu permukaan bibirku. Lembut kau mainkan bibirmu, membuatku terbuai dan harus ku buka mulutku.

Lidahku menyambut lidahmu, bergulat di dalam mulutku. Aku menikmatinya ge, sangat. Hanyutkan aku, jadikan aku milikmu, miliki aku seutuhnya. Aku menginginkanmu.

Tak bosannya lidahku berkelit, tapi aku tidak menemukan lidah hangatmu. Enggan ku buka mataku dengan kening mengerut, tapi yang ku lihat hanya dada telanjangmu.

Eh? Bukankah baru saja kita berciuman?

Kerutan di keningku semakin dalam, aku mendongak dan ku lihat wajah tidurmu yang tenang. Tunggu! Berarti ciuman tadi itu hanya mimpi?

Aku menggerutu merutuki kebodohanku. Bisa-bisanya aku tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Cih, bodohnya aku!

Kurasa wajahku sudah sangat merah saat ini. Kusandarkan kepalaku ke dada Yifan-ge, aku benar-benar malu. Untung saja dia tidak melihat wajah tidurku tadi, aku tidak bisa membayangkannya jika seandainya dia melihat wajah tidurku yang mungkin sangat aneh.

Suara detak jarum jam di kamarku ini tidak mampu meredam suara detak jantungku, sepertinya aku tidak bisa tidur nyenyak malam ini, padahal gege sudah sangat lelap bahkan merelakan lengan bisepnya menjadi bantalku.

Ku rapatkan tubuhku ke tubuhnya, tatapan mataku tak lepas memperhatikan wajah tidur Yifan-ge yang tetap tampan.

Aku penasaran, kenapa dia selalu memakai kain penutup itu? Padahal dia tetap tampan tanpa kain pengganggu itu.

Ku lihat matanya bergerak-gerak dan beberapa detik kemudian matanya terbuka, kulepaskan tangan kananku dari pinggangnya dan menyentuh pipi tirusnya. Yifan-ge langsung menunduk menatapku, aku tersenyum dan keningnya mengerut samar.

"Tidak tidur?" tanyanya dengan suara serak.

"Aku terbangun" jawabku, menyusuri rahangnya dengan telunjukku.

"Kenapa? Dingin?"

Aku menggeleng pelan. "Hangat kok"

"Lalu?"

Ku tatap matanya, telunjukku beralih ke bibir tebalnya. Gege hanya diam menatapku.

"Ge" suaraku kubuat sesengau mungkin.

"Hm?" tangannya yang ku jadikan bantal mendorong kepalaku menempel ke dadanya.

"Bisa kita..." sengaja tak ku lanjutkan kalimatku. Aku terlalu malu mengatakannya.

Tapi aku yakin Yifan-ge paham akan kalimatku yang menggantung itu. Tangannya melonggar, ia kembali menunduk menatapku yang memang sejak tadi mendongak menatapnya. Satu alisnya terangkat, tatapan matanya seperti sedang mencari jawaban di dalam mataku.

"Tidak" ucapnya tegas. Aku merengut.

"Kenapa?"

"Aku mencintaimu apa adanya, apa itu harus?"

"Tapi 'kan―"

"Apa cintaku kurang?"

"Bukan begitu ge, aku hanya ingin kita..."

Gege melepas pelukannya sebelum ku selesaikan kalimatku, sepertinya dia marah.

Akupun bangkit duduk, mendekatinya yang duduk memunggungiku, ku lingkarkan tanganku memeluk lehernya dan meletakkan daguku ke pundaknya, Yifan-ge diam tak bergeming.

"...aku tidak mau melakukannya bukan berarti aku tidak benar-benar mencintaimu peach" ujarnya, suaranya terdengar sedih.

"Aku tahu ge, aku hanya ingin bersatu denganmu" kataku merajuk. Ia megangi tanganku yang melingkari lehernya.

"Apa semua pasangan kekasih wajib melakukan itu?"

Aku menggeleng pelan.

"Dengar..." ― "Aku tidak mau menyuntuhmu untuk saat ini, karena cintaku tulus dan aku tidak mau menodaimu"

Aku tak berkomentar. Jujur saja aku agak kecewa, padahal aku menginginkannya. Apa aku harus menunggu sampai Yifan-ge mau?

"....i'll love you till i die" gumamku di telinganya. Yifan-ge meremas tanganku.

"Deep as sea, wide as sky" ucapnya lembut.

Satu alisku terangkat, aku berusaha melihat wajahnya dan Yifan-ge menoleh padaku.

"Darimana kata-kata itu?" tanyaku, tertarik dengan kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya. Ia tersenyum tipis.

Aku berusaha mencari kata-kata untuk membalas kalimatnya.

"Gege mencintaiku?"

Ia mengangguk. "Sangat"

"Aku juga sangat mencintaimu. The beauty of our love paints rainbows everywhere we go..." ku kecup pipi kirinya cepat. Yifan-ge tertawa kecil.

Tangannya menarik tanganku yang berada di lehernya, membuatku harus bangkit memutar dan duduk di pangkuannya, gege melingkarkan tangannya ke pinggangku saat ku sandarkan punggungku ke tubuhnya.

"Need you all my life" ia berbisik, aku terkikik karena merinding. Nafasnya terasa hangat, kurasakan sesuatu yang basah menyentuh telingaku.

"You're my hope" lanjutnya di telingkau.

"You're my pride" sahutku tidak mau kalah.

Ku pegang tangannya erat. "In your arms i find my heaven"

Aku pasrah saat Yifan-ge merobohkan tubuhnya ke ranjang, ia membalikkan posisi kami dengan cepat dan kini ia berada di atasku, membelai rambutku lembut. Dan mataku tidak bisa berpaling menatap mata abu-abunya.

"In your eyes, my sea and sky" desisku, ia tersenyum.

Gege mengecup keningku,lanjut ke masing-masing kelopak mataku,pindah ke hidungku. Dan aku menunggu, ku pejamkan mataku untuk menyambut kecupan selanjutnya. Kehangatan itu ku rasakan menyapa bibirku. Lembut.

Segera ku buka bibirku memberikan akses untuk lidahnya yang tanpa ragu mengabsen gigi-gigiku dengan teliti, lidahnya melilit lidahku, menuntun lidahku agar melawan lidahnya.

Tanganku meremas rambut pirangnya, otomatis mendorong kepalanya, membuat ciuman kami semakin dalam. Aku tidak kuasa menahan gejolak nafsuku membalas ciumannya, kurasa Yifan-ge mendengar deru nafasku yang mulai berat.

.

.

Semakin panas ciuman sepasang kekasih itu, semakin membuat Tao mengeram di dalam ciuman. Nafasnya mulai tersendat-sendat,Reita yang menyadari akan gelagat kekasih mungilnya yang kehabisan nafas, melepas bibirnya, menjilat saliva yang merembes dari sudut bibir si manis Huang.

"Aah! Nghh~" Tao cepat menggigit bibir bawahnya saat lidah Reita menyapa rahangnya dan turun ke leher putihnya.

Pemuda cantik itu refleks menutup mulutnya, berusaha meredam desahan lirih yang dengan nakal terus keluar dari mulut mungilnya.

"Gegeehhh~ nnhh..." ia meracau.

Sang pemilik nama asyik mencecap leher kekasih hingga menimbulkan bekas merah yang disebut kissmark. Saat bibirnya sibuk dengan kulit leher Tao, tangan kirinya bergerak menelusup di balik t-shirt kekasihnya. Menjelajah perut rampingnya dan naik ke nipple Tao yang sudah mengeras.

"Aahh...uuhhh..gegeehhh~"

Yifan tersenyum tipis melihat wajah Tao yang memerah, di kecupnya bibir kucing menggoda milik kekasihnya itu yang terbuka―sibuk mendesah.

"May life our love paradise" bisik Yifan basah.

Tao membuka matanya, menatap wajah Yifan dengan wajah pasrah. Bibirnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi tanpa di duga pemuda mungil itu, Yifan malah menarik kembali tangannya dan mengangkat tubuhnya untuk bangkit.

"Ge?" panggil Tao drngan keningnya mengerut heran melihat Yifan.

"Cukup sampai disini" ucapnya seraya turun dari ranjang.

Tao menggembungkan pipinya kesal, Yifan tertawa melihat wajah kesal kekasihnya yang menurutnya lucu itu. Pemuda cantik semampai itu menyambar bantal dan melemparkannya pada sang bodyguard.

"I hate gege!" Tao melotot kesal, di sambut gelak tawa Yifan.

FIN

Current Song: Love Paradise

By: Kelly Chan

Tamaaaatt~ semoga suka :3

Regards, Skylar