Jatuh cinta lagi

By : CountessCaroline

Rated : M

Disclamair : Harry potter series milik J.K Rowling dan 18 vs 29 adalah drama korea, selebihnya fanfic ini khayalan diriku yang kelewat tinggi.

A/N : Hiiiii guys aku kembali. Maaf karena hiatus cukup lama, dan muncul tiba-tiba seperti ini. Aku enggak terlalu banyak berharap ada yang menungguku hehehhe. Mungkin ada yang lupa denganku dan bahkan tidak kenal, maka ayo kenalan singkat. Aku lebih senang dipanggil CC dan aku author somvlakk pecinta kpop yang nulis london gossip. Selebihnya kalian bisa lihat di fb ku linda caroline. Tanpa berlama-lama aku mau katakan klo aku penulis fanfic dengan banyak sekali typo, ide cerita pasaran, geje, dan sama sekali gak masuk akal. Bagi yang gak suka, kalian bisa back dan bacalah fanfic yang kalian suka...

Happy reading!

Chapter 3

Benarkah itu aku?

Flasback

Hermione pov,

Aku melihat kesekitar dan benar-benar merasa bingung kenapa aku ada disini? Aku bukan enggak tau lingkungan ini, aku tentu saja tau dan sangat mengenal seluk beluk disekitarku ini. Lagipula aku lahir disini, dan sekolah hingga tingkat kuliah disini. Keterlaluan jika aku sampai tidak tau. Tapi bukan itu masalahnya. Aku terus terang enggak mengerti bagaimana bisa aku disini dengan eu...sebuah seragam sekolah?

Apa-apaan ini? Kuperhatikan baik-baik seragam itu. Keningku berkerut memerhatikan rok kotak-kotak yang kugunakan serta kemeja putih, dasi, dan rompi bewarna abu-abu ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Dengan kepanikan yang tiba-tiba muncul, aku mempercepat langkahku dan menuju sebuah butik dengan kaca etalase yang begitu super besar. Disitu aku dapat melihat pantulan diriku dengan wajah kebingungan yang begitu tampak. Ini hari minggu kan? Kenapa aku justru mengenakan seragam?

"yaaaa Mione!" suara memekik yang tidak asing itu tiba-tiba terdengar disertai pukulan begitu keras mengenai punggungku.

"Aowww!" pekikku kesal sekali, belum lagi punggungku begitu sakit. Kuberbalik dan segera melototi seseorang dengan rambut merah terurai dengan senyum lebar tampa rasa bersalah menghiasi wajahnya. Dia tetap tersenyum sambil menjulurkan sebuah tas ransel padaku.

"Nih! Bawalah tasmu sendiri"

Raut kesalku seketika menghilang. "Ini hari minggukan?" tanyaku sambil mengambil tasku itu darinya. Berkat pertanyaanku itu Ginny sontak tertawa.

"Yang benar saja?" Ginny makin tertawa terbahak-bahak namun rautnya bingung."Ada apa denganmu heh? Aku benar-benar gak percaya bagaimana bisa seorang Hermione granger bertanya seperti itu?"

Aku menghembuskan napasku. "Aku serius Gin, apa menurutmu aku tengah benrcanda"

Tatapan Ginny kali ini menatapku serius. "entahlah ada apa denganmu oke, tapi Hermione hari ini adalah hari senin dan kita harus segera berangkat jika kau tak ingin Snape menghukum kita"

"jadi ini seninnnnn?" nada suaraku berubah meninggi.

"oh my goodness Hermione kita sudah enggak ada waktu lagi, jadi ayolahhhh" Ginny tampa berbasa-basi menarik tangannku dan membawaku berlari bersamanya. Langkah-langkah kami makin cepat melewati kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Ada beberapa yang juga berlari. Senin benar-benar hari yang sibuk. Jujur saja aku selalu menyukai tiap hari yang kujalani, tapi rasanya pengecualian untuk saat ini. Ginny begitu keterlaluan menarikku selayaknya aku adalah benda yang sama sekali tidak ada artinya. Ini membuatku kesal dan semakin kesal ketika kami harus terpisah. Ginny dengan kepanikannya berlari begitu saja tanpa sempat untuk menoleh kebelakang. Terkadang aku bertanya-tanya apakah dia menganggapku sahabatnya atau bukan? Bagaimana bisa melakuakan hal semacam itu pada sahabatnya?

"Weasley kau benar-benar menyebalkan!"

Author pov

"Telat lagi Granger?"

Suara menyebalkan itu sangat mengusik Hermione. Pria yang tengah dihadapannya ini orang yang paling mengusik semua kehidupannya. Dengan menghela napas terlebih dahulu, Hermione baru menatap pria tersebut. Hermione menghentikan kegiatan mengelap kacanya dan sepenuhnya menatap penuh kebencian."Bisa kau pergi dari hidupku Malfoy?"

Pria berambut pirang dengan wajah yang siapapun akui merupakan wajah tertampan yang ada di hogwarts school ini lantas tersenyum. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Sudah jelas dengan gaya seperti itu dia semakin terlihat tampan. Hermione mendegus. "Jangan tersenyum seperti itu malfoy. Itu sama sekali tidak mumpan untukku"

Senyum itu segera menghilang dari wajahnya. Seorang Draco lucius malfoy, siswa tertampan, terpintar, terfavorite, dan langganan penghargaan siswa teladan itu kini menatap Hermione dengan raut begitu dingin. Dia melangkah mendekat menyebabkan Hermione harus melangkah mundur. Di langkah ketiga Draco berhenti. Itu cukup membuat Hermione menelan ludahnya. Seberapapun seringnya ia bertengkar dengan Draco, tapi Hermione harus akui tak pernah seperti ini sebelumnya. Lagipula ada apa dengan tatapannya itu?

"Jujurlah granger kalau kau mulai menyukaiku" ucap Draco hampir seperti bisikan yang mungkin saja tak akan terdengar oleh Hermione.

"huh" kening Hermione mengerut seketika itu juga. Alisnya bahkan menyatu menjadi sebuah garis. Dia pun mendegus ketika Draco sama sekali tidak merubah raut wajahnya. Pria itu tetap saja menatapnya dengan serius."Pikiranmu sebenarnya kemana Malfoy? Apa kau lupa membawa otak mu atau gimana huh?"

"Berhentilah berpura-pura begitu, Granger! Aku tau kalau kemarin kaulah yang meletakkan surat beserta tiket nonton di lokerku, mengakulah!"

Hermione tersedak mendengar itu. Ia diam sejenak mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. "Aku katamu?" otaknya masih berpikir, mencoba mengingat-ingat.

"Ya kau. Jangan mengelak lagi Granger, karena itu emang tulisan tanganmu dan ada cap bibirmu. Belum lagi kau menulis namamu disurat itu beserta nomor handphonemu"

Oh my godnesss...Hermione mengerti sekarang.

"Iya itu emang aku...ta...tatttapi itu tentu saja itu bukan lokermu idiot. Itu jelas-jelas loker Cedric. Jadi jangan terlalu percaya diri surat dan tiket itu untukmu"

Draco tertawa sinis yang bercampur kesal yang tiba-tiba melandanya. "Jadi itu untuk Cedric?"

"Tentu saja. Tingkat percaya dirimu itu terlalu tinggi Malfoy, lagipula bagaimana bisa kau berpikir kalau aku seorang Hermione granger menyu..."

"Hermione!" suara memanggil mengalihkan keduanya dan menoleh kearah Ginny yang berlari-lari menghampiri. Wanita itu tersenyum ceria, sebelum akhirnya terdiam menyadari siapa yang tengah berbicara dengan Hermione sejak tadi. "Draco" suara Ginny bergetar dan memelan. Wajahnya memerah hampir percis dengan warna rambutnya. Ia mencengkram roknya dengan tangan bergetar dan kepala menunduk malu. Hermione mendengus melihat tingkah sahabatnya tersebut.

Hermione lalu menatap draco. "Ini salah paham Malfoy. Sangat-sangat salah paham. Itu memang tulisan tanganku dan juga cap bibirku. Tapi perlu kau tau. Bukan aku yang mengantarnya. Ginny lah yang mengantarnya"

"Huh" Ginny mendongak terkejut. "Aku?"

"Ya tentu saja kau Gin. Kau pura-pura lupa atau apa. Aku menyuruhmu memasukkan suratku di loker Cedric tapi nyatanya kau malah memasukkannya kedalam loker Malfoy. Huffff..." Hermione menghela napasnya dengan kekesalan. Tatapannya kembali pada Draco. "Apa sekarang kau percaya bahwa ini hanyalah salah paham"

Mulut Draco yang sejak tadi tertutup rapat, kini terbuka dan hanya mengeluarkan pertanyaan yang begitu ketus. "Jadi kau menyukai Diggory?"

"Iya tentu saja" Hermione menjawab dengan mengangkat bahunya seolah itu adalah soal ulangan yang begitu gampang untuknya. "Jadi kembalikan surat dan tiket nontonku"

Draco mendengus. "Sudah kubuang"

"Apa?" pekik Hermione berterik. Emosinya seketika telah berada di puncaknya. Hermione menghembuskan napasnya. Ingin rasanya ia menonjok Draco atau bahkan melakukan hal lebih selain sebuah pukulan. Akal sehatlah yang membuat Hermione memutuskan untuk tak melakukannya. Ia hanya menatap tajam Draco. Draco sendiri balas menatap dengan tanpa sedikitpun penyesalan dari raut wajahnya. "Kau sungguh pria luar biasa." Ucap Hermione ketus. Wanita berambut cokelat tersebut pun menatap Ginny dengan kekesalan. "Aku tak tau kenapa kau menyukainya Gin, tapi dia memang luar biasa sekali."

"Eu.. Her... Mione kkkau..." wajah Ginny makin memerah. Tangannya semakin gemetar, dan ia sama sekali tak berani menatap Draco.

Hermione menatap draco. Untuk kesekian kalinya mereka bertatapan. "Ganti tiketku dengan pergilah kencan bersama Ginny. Dengan begitu aku baru akan memaafkanmu"

"ya Hermione" ginny setengah menjerit. Dia terkejut bukan main dengan apa yang baru saja dikatakan Hermione. Hermione tersenyum dan diam-diam berkedip padanya. Well harus diakui otak Hermione begitu pintar dalam memanfatkan kesempatan. "Oke baiklah. Kurasa sudah saatnya aku meninggalkan kalian. Have fun" ucap Hermione dengan segera membalikkan badannya dan melangkah pergi. Draco mendengus melihat Hermione pergi. ia benar-benar telah dipermalukan. Rasanya ia sudah cukup marah.

"eu...Draco...aku..eu..aku"

Draco dengan begitu cepat menoleh pada Ginny. Percaya atau tidak itu tatapan yang jauh lebih dinggin dari sebelumnya. Tersirat kemarahan disitu. Dengan masih memasukkan kedua tangannya didalam saku celana, ia bicara kepada Ginny. "Jadi kau menyukaiku?"

"Eu... itu... eu..."

"Kenapa kau menyukaiku?" Draco langsung menyela. Nada suaranya meninggi.

"Aku..." Ginny buru-buru menunduk. Rasa percaya dirinya tak ada lagi yang tersisa. Tiap ada draco itulah yang akan terjadi padanya.

Draco untuk kesekian kalinya mendengus. Ia sudah terlalu kesal dengan Hermione dan sekarang ditambah yang satu ini. Hari yang luar biasa. "Aku sama sekali tidak menyukaimu weasley. Pergilah. Aku benar-benar muak melihatmu."

"Draco?" Ginny mendongak terkejut. Walau Draco tak membentaknya tetapi ucapan barusan sudah bagai tamparan untukknya. Tampran yang begitu keras.

"Damn for you Malfoy!" suara teriakan menggelegar dari arah belakang. Draco menoleh bertepatan dengan Hermione yang melempar sepatunya. Itu hampir saja tepat sasaran jika Draco tidak menunduk dan menghindar. Kemarahan hermione memuncak, sementara Ginny hanya mematung melihat apa yang baru saja terjadi. Ini adalah hari yang mengejutkan. Ginny tak bisa memikirkan apapun ketika Draco maupun Hermione berjalan untuk saling berhadapan. Perang dunia ketiga akan segera terjadi.

"Kau benar-benar mencari mati huh?" omel Hermione segera mempercepat langkah-langkahnya.

"Katakan pada dirimu sendiri Granger. Kaulah yang mencari mati denganku" ucap Draco dengan memepercepat langkahnya.

Hermione menggulung lengan kemejanya. Ia telah bersiap-siap memberikan pukulan. Masa bodo dengan resikonya. Ia siap bila harus dikucilkan oleh seluruh penghuni Hogwart."Hey kau...aku tak akan main-main Malfoy, aku akan memberimu puku..."

Langkahnya terhenti. Kepalan tangan yang begitu kuat seketika melemas. Semua tubuhnya melemas, dan otaknya tidak dapat berpikir apapun selain bertanya-tanya apakah ini mimpi atau bukan seorang Malfoy merengkuh wajahnya dan menciumnya. Kedua mata Hermione yang terbuka berkedip. Ia masih kebingungan. Sementara itu draco yang sejak tadi telah memejamkan matanya kini memcoba membuka bibir Hermione. Itu ciuman pertama Hermione, jadi jangan salahkan Hermione apabila dia tak tau harus berbuat apa. Ia hanya terdiam mematung, sedangkan pria pirang itu seakan merebut semuanya. Rengkuhannya semakin erat. Salah atu tangannya bergerak perlahan menuju pinggul Hermione. Ia menarik Hermione lebih dekat ketubunhya.

Semuanya sulit untuk dipercayai. Hermione kehilangan pikirannya untuk sesaaat sebelum suara bentakkan dari guru mereka, Snape, memulihkan kembali kesadaran Hermione maupun Draco.

Hermione sontak mendorong Draco. "Mr. Snape aku..."

"Keruanganku!" bentak guru bermuka datar itu. "sekarang juga! Termasuk kau Draco"

Bagus salahkan pria berambut pirang itu. Ferret sialan yang telah mencuri ciuman pertamaku dan menghantui kehidupanku. Sampai kapan aku terperangkap bersamanya?

Lokasi syuting,

"Cut" teriak sutradara. Semua bertepuk tangan. "Kerja bagus Draco. Itu akting yang luar biasa" Draco tersenyum. Ia menjabat tangan sang sutradara. Semua staf pun menghampiri dan mengucapkan selamat atas akting dan beresnya proses pembuatan film ini.

"Selamat!" ucapan selamat pun diberikan si pemeran utama wanita, Astoria Greengrass ketika dia menghampiri Draco. Ia tersenyum lebar dan menjulurkan tangannya memberikan Draco segelas sampanye. Draco menatap sampanye tersebut, tanpa sedikitpun mengambilnya.

Astoria memiringkan kepalanya dan tertawa pelan. "Ayolah kak, aku tak memasukkan apa-apa kedalam sampanye ini. Come on"

"Berhenti memanggilku kakak. Istriku tidak menyukainya" ucap Draco sambil mengambil sampanye itu dari tangan astoria, dan dalam sekejap dia menghabiskan segelas sampanye tersebut. Astoria tertawa melihatnya." Well aku suka memanggilmu kakak"

"Astoria"

Astoria menghela napasnya. "Hermione bahkan tak pernah mempermasalahkannya."

"Dia tidak menyukainya"

"Lalu kenapa dia tak pernah katakan padaku?"

Kali ini Draco yang menghela napasnya. Ia merasa muak dan lelah harus memberitahu hal yang sama. Untung saja Blaise, manager pribadinya datang menghampiri. Pria berkulit hitam manis itu berlari-lari dengan raut gembira. "Oh dude kau harus mendengar ini. Kau pasti akan loncat-loncat kegirangan kalau mendengarnya. Aku berani bersumpah"

"Berita apa huh?" tanya astoria penasaran. Blaise menoleh padanya. "Bukan urusanmu" ia tersenyum kecut, dan kembali menoleh pada Draco. Blaise menyerahkan sebuah handphone pada Draco. "Bicralah, itu Ginny" jelas blaise ketika Draco menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.

"Iya Gin?"

"Segeralah kemari. Hermione sadar"

"Apa?"

"Aku serius Malfoy. Dia telah sadar. Cepat kemari. Aku bingung untuk menjelaskan padanya"

"Bbbb...baiklah" suara Draco bergetar. Ia begitu bahagia. Ini yang dia harapkan telah lama. Hermionenya sadar. Ia harus segera mengucapkan apapun pada Blaise maupun Astoria, Draco berlari menuju parkiran.

"Aisssshh ya Malfoy! Kau benar-benar ya..."

Rumah sakit,

"Maaf paman ini siapa ya?"

Itulah pertanyaan yang terlontar dari mulut Hermione ketika melihat Draco dihadapannya. Draco yang keheranan dan sulit menerima ini lantas menoleh kearah Ginny. "Apa-apaan ini?"

Wajah ginny berubah panik. "Percayalah Malfoy, aku pun tidak tau kenapa dia bisa amnesia. Dia bahkan tak mengenalku."

"Lalu apa kata dokter? Bagaimana dia akan bertanggung jawab soal ini huh?" tanpa sadar suara Draco mengeras.

"Dokter bilang itu adalah hal yang wajar, mengingat dia telah koma selama berbulan-bulan lebih. Lagipula kita harusnya bersyukur dia setidaknya tidak lupa dengan dirinya sendiri, iyakan?"

Draco seketika mengepal tangannya dan menatap Ginny dengan tatapan tajam. "Bersyukur katamu? dia tidak ingat padaku dan kau bilang aku harus bersyukur?"

Blaise yang ada di ruangan ViP itu juga segera menghampiri temannya dan mengelus bahunya mencoba menenangkan. "Tenanglah Drake. Kau justru membuat Hermione takut"

Benar saja. Tubuh hermione bergetar ketakutan ketika Draco menoleh padanya. Itu membuat Draco semakin frustasi akan semua ini. Dengan kemarahan yang tertahan dia menghampiri Hermione dan mencengkram bahunya. "Hermione ini aku. Bagaimana mungkin kau tak mengenalku. Lihatlah baik-baik.

"Paman ini siapa sebenarnya?"

Draco menghela napasnya."Ini sama sekali tidak lucu Hermione, apa kau bermaksud memberikan kejutan setelah kecelakaan huh?"

"Aku tidak mungkin bercanda dengan pria yang sama sekali tak kukenal. Percayalah padaku paman" Hermione terdiam memeperhatikan Draco. Paman ini semakin lama diperhatikan semakin tidak asing untuknya. Rambut pirangnya yang tertata rapi, hidungnya yang mancung, bahunya yang tegap, dan sorot mata abu-abunya itu. Dia seperti...

Draco langsung memegang wajah Hermione. Tatapannya begitu frustasi. "Apa katamu? coba katakan sekali lagi"

"Aku sama sekali tidak mengenalmu paman. Jadi lebih baik anda lepaskan aku sebelum aku teriak."

"Berhenti memanggilku paman! Kau bahkan lebih tua sebulan dariku"

"Candaanmu sama sekali tidak lucu tau, jelas-jelas usiaku baru 18 tahun, dan aku masih kelas 3 sma di hogwarts school"

"Oh yang benar saja" Draco mendengus. Kesabarannya habis. Ia menarik Hermione turun dari ranjang. "Akan kutunjukkan padamu"

"Astaga lepaskan aku" Hermione yang telah turun dari ranjang, meronta-ronta menarik tangannya. "Lepaskan kubilang"

"Drake" ucap Blaise maupun Ginny bersamaan, ada rasa khawatir yang terdengar.

"Jangan khawatirkan kami. Aku hanya akan menunjukkan padanya siapa dia sebenarnya" Draco bersikeras menarik Hermione bersamanya. Draco membuka pintu kamar mandi yang ada diruangan itu. Ia mendorong Hermione masuk. Dengan kekesalan dia mengarahkan Hermione pada cermin besar dihadapan mereka berdua. "Kau lihat itu. Itulah dirimu"

Seketika Hermione terdiam terpaku. Dia mengucek matanya dan berkedip beberapa kali. Orang yang dilihatnya di cermin itu seperti baru pertama dilihatnya. Wajah yang sangat berbeda membuatnya bingung dengan dirinya sendiri. Biasanya, rambut panjangnya dia ikat, tetapi yang dilihatnya sekarang adalah seorang wanita yang berbeda yang memiliki rambut panjang kecoklatan yang begitu indah. Dia tidak mengenali siapa wanita berpakaian pasien yang memiliki mata yang sama percis dengannya ini.

"Masih berpikir usiamu delapan belas tahun"

Hermione berbalik dan menatap Draco di hadapannya. Ekspresi Hermione masih menunjukkan ketidakpercayaan. "Jadi aku bukan delapan belas tahun?"

"Tentu saja. Usiamu 25 tahun sekarang. Dan aku bukan pamanmu, jadi berhenti memanggiku dengan paman."

"Jadi kau siapa?"

Draco menghela napasnya. Haruskah dia mengulang proses berkenalan bertahun-tahun yang lalu? "Kenalkan namaku Draco malfoy dan aku adalah suamimu"

Cukup dengan satu kalimat itu, Hemione merasa hidupnya sudah berakhir. Dia akan teperangkap dengan pria paling dibencinya yang sekarang ini adalah suaminya untuk selamanya. SELAMANYA!

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaawwwwwaaaaa..."

TBC

Nah sekian dariku. Semoga ini udah jauh lebih baik dari chapter-chapter sebelumnya. Untuk yang masih berkenan membaca kelanjutannya, aku akan usahakan untuk secepatnya update. By the way aku akan senang sekali kalau ada yang mau menuliskan komentar. Aku pasti akan membacanya hehehe. So see you next chapter. Gomawo for read my fanfic. Saranghae...

XOXO. YOU KNOW YOU LOVE ME.