*Chapter sebelumnya*

"Serius kau akan berpindah haluan?"

"Tentu. Aku sangat ingin mencoba dan kalau aku diterima maka aku akan meninggalkan klub ini."

"Tapi... wow Luhan! Itu klub dance. Kau...?"

"Apa aku tidak cocok?"

"Bukan! Kau sangat cocok. Tetapi apa kau memang bisa menari?"

"Kau meragukanku?"

"Tunjukkan."

Luhan yang merasa tertantang oleh ucapan teman se-klubnya akhirnya mencoba untuk menunjukkan penampilan perdananya. Mulai dari gerakan bodywave, armwave hingga gerakan dasar lainnya semua telah ia tunjukkan.

"Bagaimana?"

"Yeah... kurasa tidak ada salahnya kau mencoba."


"Seandainya dahulu tak seperti ini"

"Kita memang tidak seharusnya bersatu"

HUNHAN FANFICTION

****THE CARTIER BRACELET****

by ludorado

.

.

Menendang. Menendang dan menendang lagi. Sehun tak khayalnya bagaikan pemuda penuh ambisi dan obsesi. Semenjak keputusan dari pria tua itu terlontar, ia berlatih seperti orang kesetanan. Setiap hari ia merenungkan diri akan apa yang telah ia perbuat sebelumnya dan dia akan merasa bahwa semuanya tidak ada kesalahan. Sehun telah berlatih sebaik mungkin.

Pikiran itu terus mengganjalnya. Luhan, si pria yang bahkan tak layak untuk disebut pria itu telah menghancurkan impiannya. Sehun tetap akan berfikir jika Luhan menggunakan taktik busuk. Ya, Sehun yakin benar akan hal itu.

Merasa terlalu lama berkecamuk dengan batinnya sendiri, ia menendang bola lebih keras lagi dari sebelumnya. Berharap ada pria tua itu muncul dan melihatnya lalu mengatakan bahwa ia telah menyesal tidak meloloskannya. Tapi yang justru didengarnya adalah...

"Kau tidak akan bisa membuat gol jika seperti itu"

Si Luhan keparat bintang sepak bola kebanggan kampus.

Sehun menoleh ke belakang mendapati Luhan tengah berjalan kearahnya sambil sesekali tersenyum yang mana malah ingin membuat Sehun ingin menonjoknya.

Luhan berpakaian tampak tidak seperti ingin berlatih tetapi seperti habis mengikuti... kontes? Aura idola seketika menebar pada seluruh tubuh Luhan membuatnya bercahaya bagaikan kilauan bintang. Sehun terpesona padanya. Walaupun sedetik kemudian ia kembali tertarik ke dunia nyata bahwa Luhan adalah si bajingan yang telah merebut impiannya.

"Kau mengayunkan kakimu terlalu tinggi untuk sekedar..."

"Aku tak butuh ajaranmu."

Sehun segera memotong pembicarannya saat Luhan telah berdiri tegap didepannya. Kedua insan itu saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat sebelum pada akhirnya Luhan tersenyum menawan menampilkan mata rusa beningnya yang berkilau dan indah juga ikut tersenyum.

"Aku memang bukan gurumu..."

Lalu ia berlari kecil mengambil bola yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri dan menendangnya lurus menuju gawang. Ia menoleh pada Sehun yang tengah menampilkan senyum remehnya.

"Aku memang bukan gurumu tapi... kita bisa jadi teman baik bukan?"

Hancur sudah mood Sehun untuk berlatih. Si pendek itu benar-benar membuatnya jengkel bukan main. Dengan langkahnya yang cepat ia meraih tas latihannya lalu berjalan keluar lapangan. Luhan yang melihatnya pun hanya mampu terdiam menatap langkahnya sambil tersenyum prihatin.


"Luhan!"

"Oh hai Xiumin!"

Luhan menampilkan senyumnya yang kelewat manis hingga membuat semua orang menjadi diabetes seketika.

"Lama tak bertemu"

Berhigh-five dan berpelukan ala sahabat karib yang sudah lama tak berjumpa. Memang itu kenyataannya.

"Duduklah."

Luhan mempersilahkan ia duduk lalu memberitahu Xiumin agar memesan apa yang dia mau di café tersebut.

"Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau menjadi bintang atlet di kampus."

Goda Xiumin sambil memainkan alisnya yang mana langsung membuat Luhan tersipu malu dan tertawa manis. Seperti menggoda gadis perawan yang lugu dan mudah terpengaruh. Xiumin tertawa dalam hati.

"Memang. Aku terlalu bersinar sampai-sampai seluruh orang memandangku."

Luhan mengakuinya dengan percaya diri yang kelewat batas tapi dalam sekejap dia mengingat tentang kejadian sebelumnya di lapangan. Membuat senyumnya sedikit luntur dan menunduk dengan samar.

"Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu lagi khawatir tentang kau yang diirikan oleh seseorang."

Luhan mengangkat satu alisnya. Pernyataan yang membuat sudut hatinya berkedut keras. Dengan memasang tampang pura-pura bingung bercampur dengan perasaan tak menentu didalam hatinya ia bertanya..

"Memang siapa yang iri padaku?"

"Dulu waktu kau sekolah. Kau pasti ingat dengan Jaehyung yang ingin mencideraimu. Dan tak menutup kemungkinan kalau sekarang kau juga diirikan oleh seseorang. Walaupun bukan masalah besar, sih."

Xiumin tanpa sadar berceloteh panjang lebar membuat Luhan hilang dalam pemikirannya yang kalut. Tak lama ia terkekeh perlahan menyadari Xiumin yang berubah.

"Wah.. wah.. pergi ke Cina membuatmu pandai berbicara sekarang?"

"Mungkin. Thanks to you, man."

"Apa hubungannya denganku?"

"Tidak ada. Hanya ingin mengucapkan terimakasih saja. Just it."

Mereka berdua lalu tertawa bersama dan saling memukul pelan untuk hanya sekedar bercanda.

"Jadi.. kapan kau akan pindah ke kampusku?"

"Sesegera mungkin. Dokumennya masih butuh proses yang panjang untuk finalisasi."

"Kalau begitu cepatlah. Aku tidak sabar melihatmu bergabung dengan tim kami."

"Jadi, kau mengharapkanku hanya demi aku memasukki tim bola kebanggaanmu?"

"Hm. Bisa dibilang begitu."

Lalu mereka terkekeh dengan ucapannya masing-masing. Menghabiskan senja dengan saling mengobrol hangat tentang perjalanan bagaimana hidup mereka yang terpisah selama beberapa bulan. Kadang Xiumin juga mencoba menertawakan lelucon garing Luhan. Atau Xiumin yang benar-benar tertawa karena Luhan tidak sengaja tersedak bubble tea saat berbicara. Semuanya terasa begitu hangat dan membuat kerinduan terbalas dengan canda dan tawa.

Setelah berperang dengan mengeluarkan bubble yang menyangkut di tenggorokannya. Luhan mencoba meraih oksigen sebanyak-banyaknya karena nafasnya hampir saja tidak ada. Dia mengendus pelan melihat Xiumin yang tertawa dikala dirinya berjuang melawan bubble.

"Puas kau melihatku menderita? Tidak membantu malah tertawa gila."

Xiumin terkekeh pelan selanjutnya lalu berusaha meredam tawa yang masih ingin bergejolak keluar dari mulutnya. Tapi ia menahannya dengan baik karena melihat Luhan yang benar-benar kesal bukanlah kemauannya.

"Tidak-tidak. Oke aku minta maaf Lu. Wajahmu tadi terlihat lucu seperti ikan hasil pancingan."

"Kau mengataiku seperti ikan?"

"Mungkin ikan duyung yang lebih tepat."

"Maksudmu putri duyung? A mermaid?"

"Kau ingin mengakuinya?"

Sontak Luhan langsung menjauhkan wajahnya terlihat begitu ilfeel. Lalu ia menggelengkan kepala kuat-kuat. Merasa pembicaraan ini jauh lebih tolol dengan membahas ikan apalagi putri duyung.

Luhan mengalihkan pandangannya saat pintu café terbuka dengan bunyi gemerincing tanda adanya pelanggan yang masuk. Namun hatinya berdetak kencang tak karuan dan tubuhnya membeku seketika. Seketika Luhan memaki dirinya yang tidak beres seperti ini. Seperti aliran darah yang tersumbat misalnya.

Itu hanya seseorang dan Luhan menjadi salah tingkah ketika orang itu juga secara tidak sengaja menatap tepat pada matanya. Kedua insan itu saling berpandangan lama menghantarkan aliran aneh pada tubuh Luhan. Sampai-sampai Luhan tidak sadar bahwa Xiumin tengah melambaikan tangan daritadi didepan mukanya. Luhan dengan cepat mengerjap memutuskan kontak mata lalu beralih fokus menatap Xiumin.

"Apa yang kau lihat dari dia?

"Apa?"

"Pria itu. Yang berbadan tinggi seksi."

Luhan seketika kikuk dan tersenyum aneh. Menormalkan debaran jantungnya yang masih berdetak tak karuan. Sial. Dia mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa dengan hanya melihat saja memberikan efek seperti ini.

Luhan mencoba melirik sebentar ke objek semula tetapi objeknya sudah menghilang. Membuat dia sedikit bernafas lega dan seketika darahnya mulai terasa mengalir lagi.

"Itu Sehun. Mahasiswa di kampusku."

"Lalu?"

"Ah tidak apa-apa. Ayo pulang."

Dengan seenak kemauannya, dia menggeret Xiumin pergi dari café tersebut. Bahkan aroma Sehun masih menguar di dekat pintu masuk membuat ia tersenyum manis dan agak merona hanya karena dapat merasakan aroma khas Sehun.


Sehun melangkahkan tungkainya yang panjang ke ruang latihan dance. Niatnya tadi dia ingin membeli bubble tea untuk mengusir kebosanannya dengan Jongin saat selesai dari berlatih. Tapi yang dia dapat malah tangan kosong dan hembusan nafas marah.

"Sehun-ah! Mana bub… eh kau tidak jadi membelinya?"

"Beli di tempat lain. Atau kau beli sendiri. Aku pulang duluan."

Dengan tergesa ia meraih tasnya dan berlalu meninggalkan Jongin yang masih bingung kenapa. Tapi tak lama Jongin masa bodoh akan hal tersebut.

Sehun ingin pulang secepatnya namun dia melewati kedai bubble tea sialan itu lagi. Dia sudah meyakinkan diri untuk tidak masuk kesana tapi dengan tidak tau malunya dia sangat haus dan ingin membeli minuman itu untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering.

Lama bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia akhirnya mengalah pasrah dan memilih untuk memasukki dan membeli satu minuman lalu keluar secepatnya.

Rasa coklat memang menjadi favoritnya selama ini. Dia tidak pernah menggantinya dengan rasa yang lain. Karena hanya rasa itulah yang cocok di lidahnya. Sambil menunggu pesanan, dia memainkan ponselnya hanya untuk sekedar menghilangkan rasa bosan.

Disaat pesanannya sudah disajikan, bunyi gemerincing terdengar. Sehun tidak peduli akan hal itu, dia masih fokus terhadap ponselnya sampai suatu suara terdengar familiar.

"Satu bubble tea rasa taro, please."

Sehun menolehkan wajahnya dengan sigap lalu membulatkan mata saat mengetahuinya. Si sialan itu lagi. Apa yang dilakukannya disini? Lagi? Membeli lagi? Kira-kira kata itulah yang berkecamuk di pikiran buntu seorang Oh Sehun.

Namun orang tersebut seolah tidak menyadari kehadirannya sampai pesanannya diantarkan. Bahkan sampai Sehun tidak sadar telah menghabiskan minumannya dengan cepat.

Melihat Luhan keluar dari café menarik perhatian Sehun. Ia ingin mengikuti Luhan sampai rumahnya namun pemikiran bodoh itu cepat-cepat ia hapus dari otaknya. Astaga, apa yang kau pikirkan Oh Sehun!

Tapi rasa penasarannya begitu besar sehingga Sehun mampu menghilangkan pemikiran bodohnya tadi. Ia berjalan mengikuti Luhan yang dengan santai menunggu kedatangan bus di halte.

Begitu bus yang dinanti telah sampai didepan mata. Sehun segera mengikuti Luhan masuk kedalamnya. Dan tanpa ragu sedikitpun langsung duduk di sebelah kursinya.

Luhan tidak sedang dalam mood yang baik. Ia tidak memperdulikan siapa yang duduk di sebelahnya dan tetap memandang lurus kesamping jendela. Namun aroma ini, bau ini terasa begitu familiar mengganggu indra penciumannya. Dia mengendus sesaat lalu terkejut setelah mengetahuinya. Jangan bilang dia ada disampingku!

Ia menolehkan cepat kepalanya ke samping dan segera membulatkan matanya menemukan fakta yang begitu mengejutkan terpampang didepan matanya sendiri.

Sehun juga menoleh ke arahnya dan bertemu tatap dengannya. Membawanya hanyut dalam pandangan mata itu sekilas. Namun segera ditepisnya tentang perasaan yang mulai menggerogoti hatinya.

"Apa kau lihat-lihat?"

Sehun berusaha setenang mungkin.

"S-s-sehun?"

Busnya perlahan berjalan melambat lalu kemudian berhenti. Sehun segera melepaskan kontak matanya dengan Luhan lalu berjalan keluar bus. Tidak memperdulikan Luhan yang masih mematung menatapnya.

Bus lalu berjalan kembali setelah menurunkan penumpang. Sehun akhirnya bisa bernafas lega. Dia mengambil nafas sebentar dengan duduk di kursi halte.

Entah karena apa nafasnya tercekat dan pandangannya tiba-tiba memburam berkabut karena tertahan air mata. Sialan. Kenapa ada air mata disaat seperti ini. Sehun mendongakkan kepalanya mencegah agar lelehan tersebut tidak turun. Berhasil.

Ia mengeluarkan ponselnya dan memandang layarnya lama. Sehun menghembuskan nafas pasrah dan tersenyum lirih kala mengingatnya. Mengusap layar ponselnya sayang seolah dia merindukan benda itu. Memang dia merindukan, tapi pada objek yang menjadi lockscreen-nya.

"Aku melihatmu, sayang."

TBC/END?

.

.

.

Maaf banget ini lewat dari ngaret updatenya. Tapi ga pada nungguin juga kan? Maklum ini ff abal, berkutu dan bosenin jadi ngapain ditunggu ;) *curhat alay mode on

Yasudah biarkan saja lah yang penting update. Ini mau dilanjut kaga? Yang mau review dikit aja leh ugha lah.

Btw ini makasih loh ada tanggapannya ya walaupun cuma dikit sih tapi SUJUD SYUKUR GUE SENENG BANGET *tebar selca/?

Gak nyangka ff abal kaya gini juga ada yang ngereview yaoloh. Okelah no bacot kepanjangan cuss ada yang bisa nebak siapa yang dimaksud Sehun disitu?

Gue juga belom tau jadi jangan tanya gue bhak xD pokoknya intinya itu ada kaitannya sama Luhan/?

Halah tauk dah gue ngomong apaan pasti kaga ditanggepin. Review aja yang penting oke bebih :))

Special Big Thanks to:

Arifahohse | bambii | fifioluluge | Menglupi