Chapter 2!

.

.

.

"Mikuo-nii!" pekikku begitu melihat Mikuo-nii yang bisa nyengir kuda di atas blankar rumah sakit sambil melambaikan tangan.

Kaito memukul kepalaku pelan dan mengacungkan satu jarinya, menyuruhku untuk diam.

Aku menghampiri Mikuo-nii dan memeluknya lalu menangis. "Mikuo-nii no baka!" isakku sambil memukul punggungnya pelan. "Kalau sesuatu terjadi sama Mikuo-nii, a-apa-"

Tangan Mikuo-nii mengelus kepalaku. "Sudahlah, aku nggak apa-apa. Io pasti bilang sesuatu yang berlebihan, 'kan?"

"Io?"

"Nanti kalian juga ketemu, dia yang minta aku untuk memberikan kasus ini sama kalian," Mikuo-nii menepuk kepalaku. Aku melepaskan pelukanku sambil mengusap wajahku. "Ah, Kaito, makasih udah nganterin Miku."

Kaito hanya mengangguk. Wajahnya masih terlihat serius. Apa dia masih memikirkan soal si Shinigane Oliver itu?

"Mikuo-san," tanya Kaito dengan nada serius. "Kenapa Mikuo-san bisa kecelakaan?"

Dia ini bodoh, 'ya?!

"Mikuo-san tidak bawa kendaraan, 'kan?" sambungnya.

Mikuo-nii mengangguk.

"Aku nggak begitu ingat, sih. Yang kuingat cuma saat aku hendak menyebrang, tanganku dipegang oleh seseorang. Tangannya sangat dingin," jelas Mikuo-nii sambil mengusap tangannya. "Entah kenapa, tiba-tiba, aku ingat waktu pertama kali menembak orang. Kejadian waktu Miku dan Rin diculik dan hampir ditenggelamkan itu. Waktu itu, tembakanku meleset dan mengenai perut penculik itu. Saat itu, aku merasa sangat takut."

Mikuo-nii mengusap tengkuknya. Wajahnya tambah pucat. Mikuo-nii menghela napas dan mengelus keningnya yang diperban.

Dia menelan ludahnya dan melanjutkan kalimatnya dengan nada ragu. "Karena kaget aku melompat ke depan dan tidak sempat menghindari mobil. Lalu, yah, seperti yang kau lihat aku terluka."

"Apa Mikuo-san sempat melihat siapa yang memegang tangan Mikuo-san?" tanya Kaito lagi. Mikuo-nii menggelengkan kepalanya.

Dengan menyesal Mikuo-nii menjawab. "Aku tidak sempat melihat, maaf."

Mata Kaito menyipit dan tangannya terkepal.

Kurasa dia sedikit-banyak mendapat pencerahan soal kasus-kasus ini.

Aku mengalihkan pandanganku pada Mikuo-nii yang tampak sedang berusaha mengingat-ingat untuk mendapat petunjuk pelaku.

Dengan tegas aku bertanya. "Ah, Mikuo-nii soal kasus itu. Bisa dibicarakan sekarang?"

Kaito mengangkat kepalanya dan berseru. "Miku! Kau yakin?"

Aku mengangguk cepat. "Semakin cepat, semakin baik, bukan?"

"Kasus ini permintaan dari Shimamoto Orion, singkatnya permintaan dari teman kampusku, Io," Mikuo-nii berdeham sebentar lalu melanjutkan kalimatnya. "Adik perempuan Io yang bernama Uni menghilang seminggu yang lalu-"

"Sebentar, Mikuo-san," Kaito menginterupsi. "Adik perempuan Io-san itu masih SMP atau SMA?"

"Uni-chan masih SMP. Ah, kulanjut. Uni-chan sudah menghilang selama seminggu dan Io sudah meminta bantuan pada polisi untuk mencarinya. Tapi seperti yang kalian ketahui, deretan siswa-siswi SMP dan SMA yang menghilang ini belum ditemukan satu pun petunjuknya. Maka dari itu, dia juga meminta kalian untuk mencarinya. Pencarian kalian bisa lebih luas, 'kan? Kalian bisa mencari informasi mudah tanpa takut dihindari oleh masyarakat."

Kami mengangguk-angguk mengerti. Kami sudah sering mencari informasi ke masyarakat tanpa takut dicurigai, apalagi kalau kami pakai seragam sekolah.

Aku melipat tangan di depan dada dan berkata dengan nada serius. "Singkatnya, Io-san ingin kami menemukan adiknya?"

Mikuo-nii mengiyakan dengan mengangguk.

Aku dan Kaito bertukar pandang sebentar tapi Mikuo-nii menginterupsi kami. "Jangan bilang kalau kalian juga sedang menangani kasus lain?"

"Ah, bukan kasus penting, sih. Tapi ini berkaitan dengan sekolah kami," aku menjawab sambil mengibas-ngibas tanganku.

Mikuo-nii mengerutkan keningnya. "Permintaan dari guru lagi?"

"Bukan. Ada kasus yang menarik perhatian Len dan Len merasa jika kasus ini harus diselesaikan," jawabku lalu mendesah ringan. "Entah kenapa, kasus menghilangnya sejumlah siswa-siswi SMP dan SMA juga kasus kecelakaan-kecelakaan aneh ini dengan Shinigane-kun itu berhubungan."

Tunggu sebentar...

... Kok rasanya aku pernah mendengar nama ini, 'ya?

Shinigane?

"Miku, apa kau memberitahu Kaa-san dan Tou-san kalau aku disini?" tanya Mikuo-nii tiba-tiba.

"Kau mau rumah sakit ini mengalami pencemaran suara akibat suara Kaa-san? Kalau kau mau aku bisa telepon Kaa-san sekarang."

Aku mengeluarkan ponselku dan Mikuo-nii tertawa.

Pintu ruang inap Mikuo-nii terbuka oleh seorang perawat cantik yang membawa papan jalannya.

"Maaf, tapi jam besuk sudah habis. Anda bisa membesuknya lagi esok hari. Oh, sebentar lagi Hatsune-san akan ada pemeriksaan. Saya permisi."

Perawat itu membungkukkan badannya yang dibalas bungkukkan dariku dan Kaito.

"Kami harus pulang, Mikuo-nii," ucapku sambil menyandangkan tasku. "Semoga cepat sembuh."

Mikuo-nii menggaruk kepalanya salah tingkah. "Kau tau Miku, ketika aku mendengar kata-kata baik dari mulutmu itu, aku merasa jika Jepang akan berubah menjadi negara tropis."

Kata-kata Mikuo-nii juga disambut anggukan dari Kaito. ORANG-ORANG INI BERSEKONGKOL, 'YA?!

"Kurang ajar!"

PLETAK!

Tinjuku mendarat di kepala Kaito. Tenang, tenang. Aku meninjunya pakai perasaan, kok.

"Aduh! Kenapa aku yang dipukul?!" dia mengusap kepalanya kesakitan sementara aku mendengus sebal.

Aku meraih tangan Kaito dan melambaikan tanganku sambil berjalan keluar. "Kami pulang dulu, Mikuo-nii!"

"Serahkan kasusnya pada kami!" seru Kaito sesaat sebelum pintu tertutup. Mikuo-nii mengangguk sambil melambaikan tangannya.

.

.

.

Aku dan Kaito berjalan keluar dari rumah sakit. Kaito tampak masih serius berpikir. Bahkan, ketika kami sudah mendekati stasiun, Kaito mulai sering menengok ke belakang, atau ke kiri dan kanan.

"Ada apaan, Kai?" tanyaku jengah dengan Kaito yang terlihat sangat paranoid. "Masih takut kita diikutin sama Shinigane-kun?"

"Bagus kalau kau paham," Kaito menghela napas sambil menggosok tangannya. "Malam ini kau tidur akan tidur agak larut?"

A-apa maksudnya?! Apa Kaito akan mampir ke rumahku malam ini?

Sambil memalingkan wajahku terasa panas, aku menjawab. "Mu-mungkin. Kenapa?"

"Mau bahas soal si Shinigane itu. Ng, apa sebaiknya besok waktu sekolah saja, 'ya?"

O-oh.. Kukira...

Kaito mengerutkan keningnya berpikir dan sesaat kemudian dia menepuk bahuku, membuatku tersadar kembali ke dunia nyata. "Besok datang agak pagian. Jam enam tiga puluh, setuju?"

"O-Oke!" sahutku sambil menganggukkan kepala.

Kami masuk ke dalam stasiun setelah memindai kartu kereta kami di pintu depan dan menunggu di bangku di dekat peron.

"Miku, kalau dipikir-pikir kita sudah lama berteman, 'ya. Dengan Len, Rin, Mikuo-san, juga Akaito," ucap Kaito sambil mengendurkan syal yang dikenakannya. "Sekarang kita sudah kelas dua SMA, Mikuo-san di universitas, dan Akaito... menghilang."

Jakun Kaito naik turun saat mengatakan kata 'menghilang' untuk status kakaknya itu.

"Percayalah jika Akaito-nii menghilang bukan karena melarikan diri dari sesuatu," aku berusaha menghibur Kaito. "Akaito-nii, seperti yang kau ing-maksudku-tahu, dia orang baik, 'kan?"

"Aku mau cerita sesuatu, Miku," Kaito menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kujelaskan. "Sebelas tahun yang lalu, kau ingat, 'kan, aku pernah dirawat di rumah sakit karena kepalaku terluka?"

Dia menyentuh kepala belakangnya. "Kau tahu, setelah kuingat-ingat, beberapa jam setelah siuman, Kaa-san menanyakan pertanyaan-pertanyaan mengenai ingatanku. Seperti siapa namaku, siapa Akaito, dan sebagainya. Jika kupikir-kupikir, apa aku pernah mengalami peristiwa yang ditakutkan akan menghilangkan ingatanku atau semacamnya?"

"Aku juga ingat, pokoknya, setelah aku pulang dari rumah sakit, Akaito juga menderita banyak luka lebam. Memang, hubungan Akaito dan Tou-san sangatlah sulit tapi setelah ulang tahunku yang keenam, Akaito menghilang sampai aku bertemu dengannya di AppMaker Fest di Tokyo waktu aku berumur tiga belas." sambung Kaito sambil menelan ludahnya dalam. "Aku merasa pernah kehilangan sesuatu yang berharga tapi aku tak tahu apa itu. Mungkin, kau bisa memberitahuku?"

"Kenapa kau tanya aku?" tanyaku sambil menghidari pandangannya itu. "Masih ada Len dan Rin, 'kan? Juga Akaiko-san dan Shion-san yang bisa ditanya. Bu-bukannya aku menolak pertanyaanmu. Aku memang tak tahu apa-apa."

Sekuat mungkin, aku berbicara seolah-olah aku memang tak tahu apa-apa. Aku tahu masalah itu. Akaito-nii menceritakannya pada kami berempat, aku, Len, Rin, dan Mikuo-nii, karena kami tak sengaja melihatnya menangis di sungai yang waktu itu hampir saja menjadi penyebab kematianku.

Waktu itu, kedua pipi Akaito-nii lebam dan menghitam. Matanya bengkak sebelah sebesar bola. Kepalanya juga diperban dan beberapa bagian tangannya dibebat kencang.

Mikuo-nii yang menyangka ini perbuatan pelaku penculikan itu dan hampir saja Mikuo-nii lari ke police box terdekat tapi aku, Rin, dan Len, segera menahannya. Kami menceritakan jika ini perbuatan Kaitou-san. Akaito-nii membantah sekeras-kerasnya dan mengaku jika dia dipukuli anak SMP tapi Mikuo-nii lebih mempercayai cerita kami. Mikuo-nii menuntut kebenaran cerita kami pada Akaito-nii dan Akaito-nii menceritakan segalanya pada kami. Dari mulai segala perbuatan Kaitou-san dan cerita mengapa dia menjatuhkan Kaito dari tangga.

Aku ingat betul saat itu, aku dan Rin menangis hebat dipelukan Mikuo-nii dan Len yang memeluk lututnya dan membenamkan kepalanya untuk menyembunyikan air matanya akibat mendengar penuturan Akaito-nii tentang kekerasan yang selama ini dialaminya.

Melihat kami menangis, Akaito-nii terlihat terkejut sampai meminta maaf berkali-kali. Mikuo-nii memeluk Akaito-nii (duh, untung saat itu aku masih polos) dan meminta Akaito-nii agar melaporkan kekerasan yang dialaminya pada petugas lain tapi Akaito-nii hanya menggeleng. Dia tidak mau memperuwet masalah yang dimilikinya.

"...Ku... Miku?" Kaito mengguncang bahuku dan itu membuatku terlonjak kaget sampai melompat berdiri dari bangkuku. "I-iya?!"

Kaito memincingkan matanya curiga dan bertanya. "Serius amat ngelamunnya? Ada yang kau pikirkan?"

Aku menggaruk pipiku sambil menghindari tatapan Kaito. "Bukan apa-apa, kok. Cuma tiba-tiba teringat sesuatu."

"Bohong," Kaito berkata sambil menatapku tajam. "Ada yang kau sembunyikan dariku, 'kan?"

Aku menggeleng kencang sebagai refleks. Kaito meraih tanganku dan aku menepisnya.

"Ma-maaf." sesalku setelah ekspresi kecewa Kaito.

Tak lama kemudian, kereta tiba dan kami pulang bersama tanpa mengatakan apapun lagi.

.

.

.

[16 September 20xx]

.

.

.

Keesokan harinya, saat weker dan alarm ponselku berbunyi dengan bisingnya pukul enam pagi, aku membuka mataku dan turun dari tempat tidur. Semalam aku langsung tidur tanpa sempat mengerjakan apapun. Aku bahkan tidak makan malam.

Aku mengambil ponselku dan melihat notifikasinya yang sudah menggunung.

Aku membuka salah satu e-mail dari Kaito yang muncul pukul satu dini hari dan setelah membaca pesannya, aku segera melesat menuju kamar mandi dan bersiap-siap.

'Kaito sialan! Kenapa nggak telepon aja sih?! Duh, bakal diamuk sama Len lagi kalau datang telat!' umpatku.

.

.

.

"MAAF AKU TERLAMBAT!" aku berseru di depan pintu sambil mengatur napasku.

Apa yang kulihat membuatku menyesal membuang-buang tenaga untuk sprint ke sekolah. Yang datang baru Len dan Rin!

Aku mendecih sebal sambil melangkah menuju tempat Rin dan Len dan duduk sambil menekuk muka.

"Kenapa?" tanya Len sambil menyedot susu berperisa pisangnya.

"Si BaKaito itu menyuruhku untuk datang ke sekolah jam setengah tujuh tapi dia sendiri belum datang!" ucapku geram sambil memukul meja.

Pintu terbuka, menampilkan Gakupo yang seragamnya acak-acakan yang biasa.

"Kukira sudah kumpul semua," ucapnya kecewa sambil duduk di atas meja di samping kami. "BaKaito mana?"

Kami mengedikkan bahu kompak.

"Kaito sudah tahu banyak soal kasus ini. Tadi malam kami sudah sempat diskusi sebentar. Jadi, nggak masalah dia datang telat," putus Len sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya. "Kita bahas identitas-"

BRAK!

Pintu tergeser dengan kuat dan Kaito menampilkan diri dengan rambutnya yang acak-acakan. Sambil mengatur napas dia berseru dengan keras.

"MAAF AKU TERLAMBAT!"

Rin menggembungkan pipinya, terlihat seperti sedang menahan senyum-senyum nista yang selalu ditunjukkannya jika aku dan Kaito melakukan hal yang sama.

"Buruan masuk! Keburu banyak yang datang." ucap Len merusak suasana.

Kaito berjalan lesu dan duduk di bangku Kokone yang letaknya di bawah meja yang diduduki Gakupo.

"Kau kenapa?" tanyaku.

"Biasalah, telat bangun. Kemarin ada game seru yang harus kutunggu instalannya," dia mengacungkan satu jarinya. "Kau harus tau bagaimana lelahnya mengklik seribu 'OK' hanya untuk sebuah game!"

"Kenapa nggak cari yang otomatis aja?" sahut Gakupo yang biasa jadi rival Kaito dan Len dalam bermain game.

Len dan Rin berdeham, meminta atensi kami agar kembali ke pokok persoalan.

"Kita bahas identitasnya terlebih dahulu," dengan nada serius Len berbicara memulai sesi diskusi ini. "Namanya Shinigane Oliver. Umur 16 tahun. Anak kelas 1-C-"

Tanpa mendengar penjelasan Len, aku, Gakupo dan Rin memilih langsung untuk membaca kertas berisi profil lengkap Oliver. Kaito yang sudah tahu banyak hanya mendengarkan dengan seksama lagi.

"Ada pertanyaan?" tanya Len mengakhiri diskusi sesi pertama.

Aku mengacungkan tanganku. "Aku bukan mau ngasih pertanyaan. Tapi aku mau diskusi soal kasus yang diberikan Mikuo-nii."

Len berpikir sebentar dan mengangguk.

"Mikuo-nii memberikan kami kasus. Kasus ini berasal dari permintaan teman kampusnya, Shimamoto Orion. Io-san meminta kami berdua untuk menemukan adiknya, Uni-chan, yang menghilang seminggu lalu."

Len menautkan alisnya. "Berarti ini ada sangkut pautnya dengan siswa-siswi yang menghilang secara random itu, 'ya?"

Aku mengangguk.

"Mungkin untuk alasan tertentu, Mikuo-nii hanya meminta dua dari kita berlima untuk menyelesaikan kasus ini. Lagipula, aku sedikit-banyak yakin jika Shinigane-kun berhubungan dengan kasus ini. Apalagi kasus kecelakaan aneh di daerah kampus Mikuo-nii. Karena, kemarin, dia ketahuan membuntuti kami."

Rin, Len, dan Gakupo terkesiap. Mereka mengalihkan pandangan mereka pada Kaito dan Kaito hanya mengangguk tegas.

Len bertanya dengan nada tidak percaya.

"Shinigane mengikuti kalian?"

Aku mengangguk, mengiyakan. "Kemarin juga Mikuo-nii kecelakaan-"

"KECELAKAAN?!" pekik mereka bersamaan.

"Mikuo-nii kecelakaan kemarin dan beberapa warga di sana, membahas anak itu sebagai pelakunya,"

"Ditambah keterangan Mitsu-san, si Shinegane ini selalu terlihat setiap kecelakaan. Biasanya dia ada di belakang korban. Itu makanya kemarin dia ditangkap di sekolah karena dia selalu kabur jika kepergok dengan petugas," sambung Kaito serius. "Tapi sepertinya, kemarin dia hanya dimintai keterangan dan dibiarkan bebas lagi. Bahkan, dia mengikuti kami."

"Ng, lama-kelamaan aku membahas Shinigane-kun, rasanya aku ingat sesuatu. Rasanya aku pernah mendengar namanya di suatu tempat," ujar Rin dengan pose berpikirnya.

"Shinigane itu berumur enam belas di kelas satu SMA? Dia pernah gagal, 'ya? Atau telat masuk sekolah?" timpal Gakupo.

Rin menyahuti sambil merapikan pitanya. "Yang jelas memang ada yang salah dengan anak itu."

"Bagaimana kalau kita menemui anak itu saja? Tapi jangan keroyokan, satu atau dua orang saja."

Rin, Len, dan Gakupo bertukar pandang dengan cepat sambil senyum-senyum sendiri.

Aku menghela napas dan menjawab dengan nada malas.

"Baiklah, nggak usah senyum-senyum gitu. Aku dan Kaito yang akan menemuinya."

"Kenapa harus denganku?"

Aku mendengus mendengar pertanyaan yang sarat akan nada penolakan Kaito itu.

"Satu karena dari tampang-tampang mereka sudah menunjukkan jika mereka nggak mau menemui anak itu. Dua, karena sekarang kita sudah jadi partner untuk menyelesaikan kasus ini."

Senyum Rin, Len, dan Gakupo tambah lebar.

Dengan polos Kaito bertanya."Kenapa kalian senyum-senyum gitu? Kesambet?"

Oh, Kami-sama, sadarkanlah ketidakpekaan Kaito.

Rin terkikik geli. Len dan Gakupo hanya membuang muka menyembunyikan tawa.

"Aku nggak mau tau! Tapi kalau aku minta bantuan kalian jika terjadi sesuatu kalian membantu!"

Mereka mengangguk setuju.

.

.

.

Saat jam makan siang, aku dan Kaito memutuskan untuk mencari Oliver secara terpisah. Aku mencari di seputar gedung dan Kaito berkeliling di taman, lapangan, dan sebagainya.

Dengan sebatang lolipop di mulut, aku mengunjungi kelas 1-C yang masih dihuni beberapa siswa-siswi yang sedang menyantap makan siangnya.

"Hai! Ada Shinigane Oliver-kun disini?" tanyaku ramah. Mereka semua menggeleng.

"Hatsune-senpai, dia ada di atap," sahut salah satu siswi yang kukenal dari ekskul panahan yang beberapa bulan lalu masih sering kuikuti. "Coba cari kesitu aja, Senpai."

"Sip! Makasih, 'ya!"

Aku berlari menuju atap dan baru sampai di lantai tiga sekolahku, ponsel di saku rokku bergetar.

Sebuah e-mail dari Kaito. Dia mengatakan jika Oliver ada atap. Tanpa membalasnya, aku meneruskan lariku menuju atap.

Aku membuka pintu atap dengan sedikit bantingan, karena awalnya kukira pintu itu dikunci. Aku menyapukan pandang dan aku melihat Oliver yang duduk sibuk sendirian di dekat tangki air.

Aku mendekatinya (dia bahkan tidak menyadari kehadiranku!) dan menaiki tangga menuju tangki air.

Aku berdiri di belakangnya, berdeham beberapa kali, dan dia tetap bergeming ditempatnya sambil memunggungiku.

"Shinigane Oliver-kun," aku memanggil namanya. Aku tak bisa melihat apa yang sedang dilakukannya. Yang jelas, tangannya sibuk melilit sesuatu dengan perban. Aku duduk di sebelahnya dan menepuk bahunya.

Dia terlonjak dan menjerit kencang sekali sambil menunjuk wajahku dengan tatapan horornya.

"HUWAAA!"

"Ah! Jangan teriak!" seruku sambil menarik tangannya yang baru setengah dibelit perban tapi dia menampar tanganku kuat sekali.

"Jangan seenaknya sentuh tanganku!" sentaknya sambil menatapku tajam dengan sebelah matanya yang tidak tertutup eyepatch.

"Ma-maaf." sesalku meminta maaf yang hanya dijawab dengan sebuah dengusan tak senang.

Jujur, aku belum pernah dibentak sekeras barusan.

"Ada perlu apa?" dia bertanya ketus.

"Hanya ingin duduk," aku mengemut lolipopku dan mengeluarkan sebatang lainnya dari sakuku. "Kau mau?"

Dia menolak tawaranku itu dengan sebuah gelengan singkat.

Aku memperhatikan tangan kanan yang memiliki bekas luka bakar hebat. Sepertinya perawatan kurang baik sewaktu lukanya masih basah sehingga meninggalkan bekas yang sama sekali jelek untuk dilihat.

Perban yang asal-asalan dililit untuk menutup bekas lukanya itu terlihat sudah menguning dan kotor, mungkin dia menggunakan perban bekas.

"Mau kubantu?" aku meraih pergelangan tangannya dan dia tak menunjukkan reaksi penolakan seperti yang ditunjukkannya di awal. Dia mengangguk tanpa menatapku.

Dengan wajah menunduk, dia berkata. "Jangan sentuh telapak tanganku."

Aku mengiyakan dengan anggukan kecil sambil tersenyum. Aku melepas perban itu hati-hati dan mulai melilitnya dengan rapi sampai ke pergelangan tangannya. Dia memberiku plester miliknya dan aku segera merekatkannya.

"Jarinya, bagaimana?" tanyaku setelah aku menggunting sisa perbannya sambil memperhatikan jari tangan kanannya yang pucat dan hanya berjumlah tiga setengah.

Dia menarik tangannya dan mengucapkan terima kasih dengan volume suara kecil tapi masih bisa kudengar.

"Boleh kutanya sesuatu?" tanyaku bimbang. Dia memalingkan wajahnya ke arahku dan mengangguk.

"Maaf, kemarin aku mengikutimu. Apa ini soal itu?"

Aku menggeleng.

"Atau soal luka ini?" dia mengerling pada tangan kanannya.

Aku mengangguk pelan. "Itu pun kalau kau mau cerita. Seandainya, kau tak mau, aku tak memaksa."

Dia mendesah pelan dan menggaruk kepala belakangnya. Tangannya bergerak menuju mata kirinya yang dipasang eyepatch dan mengangkat eyepatch itu perlahan.

"Ah!" pekikku kaget sampai menjatuhkan lolipop dari mulutku.

Iris matanya berwarna merah!

"Aku seorang psychometrer," ucapnya sambil memasang kembali eyepatchnya. "Aku bisa membaca memori orang lain atau sesuatu hanya dengan menyentuhnya dengan telapak tanganku."

Untuk sesaat, aku benar-benar mengiyakan persepsi orang-orang tentang Oliver yang merupakan seorang chuunibyou kronis.

.

.

.

Oliver terkikik sambil melihat ekspresiku yang menurutnya menggelikan.

"Senpai, nggak percaya?" tanyanya.

Dia mengulurkan tangan kanannya. "Berikan tangan Senpai."

Dengan ragu, aku menyambut tangannya yang terulur itu. Jari-jari yang kurus dan pucat dengan bekas luka bakar itu menyentuh tanganku.

Rahang Oliver mengeras. Badannya bergetar hebat dan napasnya berat. Dia mencengkram tanganku erat.

Tiba-tiba ingatan saatku aku hampir mati di sungai muncul dan itu membuat kepalaku berdenyut menyakitkan.

"Akh!"

Aku mengerang kesakitan, sementara Oliver mulai mimisan tanpa sebab.

"Senpai pernah hampir ditenggelamkan waktu umur lima atau enam tahun oleh seorang pria yang menyatakan dirinya kehilangan puterinya di sungai itu," dia berkata dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. "Senpai diselamatkan oleh sahabat kakak senpai yang bernama Shion Akaito. Karena kasus itu, senpai punya luka di bahu kanan senpai."

Aku menarik tanganku dari cengkramannya dan menyentuh bahu kananku. Entah kenapa, aku mulai merasa takut dengannya.

A-aku belum pernah menceritakan pengalaman itu pada siapapun selain pada Mikuo-nii, Akaito-nii, Rin dan Len. Kaito dan Gakupo bahkan tidak kuberitahu karena bagiku, pengalaman hampir mati itu sangat menakutkan.

Tanpa sadar aku menitikkan air mataku saking takutnya.

"Ba-bagaimana kau tahu?" aku bertanya takut-takut. Air mataku semakin deras jatuhnya saat aku mengingat lebam-lebam yang diderita Akaito-nii setelah mengusut kasus ini untuk menyelamatkanku. Aku menekan sebelah mataku dan menggigit bibirku.

Kenapa aku menangis?

"Hatsune Miku-senpai, adik perempuan Hatsune Mikuo-san, bukankah aku sudah memberitahumu jika aku seorang psychometrer?"

Dia mengusap darah yang keluar dari hidungnya dan menatapku seolah mengejek sambil menyeringai.

"Aku bisa dengan mudah membaca ingatanmu, ingatan orang lain, ingatan benda mati, hanya dengan menyentuhnya." sambungnya.

Dia berdiri setelah sebelumnya mengumpulkan benda-benda yang dibawanya.

"Miku..."

Kaito datang dan melihatku yang masih menangis. Dia mengalihkan pandangannya pada Oliver yang kembali bersikap dingin.

"Apa yang lakukan, brengsek?!"

Kaito mengangkat sebelah tangannya yang terkepal dan Oliver hanya memutar matanya malas.

"Terserah jika Hatsune-senpai ingin mengatakanku sebagai chuunibyou seperti yang selama ini digosipkan seluruh siswa di sekolah ini," dia berjalan meninggalkanku yang masih terisak tanpa mempedulikan Kaito yang mulai kesal dengan sikapnya. "Aku pergi dulu, Hatsune-senpai."

Dia pergi meninggalkan kami. Kaito berjongkok di depanku dan menepuk bahuku.

"Kau terluka?" tanyanya lembut. Aku menggeleng sambil mengusap air mataku.

"Rasanya sakit, Kaito," aku memukul dadaku yang masih sesak. Rasa sakit, menyesal, takut, dan sedih semua bergabung menjadi satu. "Sakit sekali..."

Aku kembali menangis. Sejujurnya aku sudah tak sanggup merahasiakan apa yang sebenarnya dialami Kaito sebelas tahun yang lalu. Aku sudah tak sanggup lagi! Setiap kali aku melihat foto kami saat menerima penghargaan, setiap kali aku melihat bagaimana Akaito-nii tersenyum pada kamera saat itu, dadaku selalu sesak.

Aku sudah berbohong pada Kaito selama sebelas tahun terakhir. Tak hanya aku. Ada Rin, Len, dan Mikuo-nii yang tahu tentang penderitaan Akaito-nii.

Tapi bagaimana reaksi Kaito jika dia mengetahui kejadian yang sesungguhnya?

Aku mengusap air mataku kasar dan membungkuk dalam.

"Sumimasen!" ucapku serak.

"Untuk apa kau meminta maaf?" tanya Kaito bingung.

Aku menegakkan kembali badanku dan memaksa diriku untuk tersenyum. "Karena tiba-tiba aku ingin melakukannya."

Kaito mendengus dan menepuk kepalaku. "Ayo kita kembali ke kelas."

"Aku ke toilet terlebih dahulu. Kau ke kelas saja duluan." aku mendorongnya pelan.

"Se-serius? Kau nggak apa-apa?"

"Kau mau mengantarku ke toilet perempuan dan dipukuli begitu saja oleh anak perempuan?"

Dia mendecih pelan. "Nggak. Makasih."

Dia berdiri dan menepuk kepalaku lagi. "Aku duluan. Nanti ceritakan hasil interograsimu pada kami."

Kaito berjalan menuju pintu keluar tanpa berbalik lagi.

Aku menyandarkan diri pada teralis dan menghela napas.

... Maaf telah membohongimu selama ini, Kaito.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

Author's Note :

Hai! Hai! SHINTARO ARISA KEMBALI!~

Yup, ini rekor update tercepat yang pernah kubuat selama aku kelas sebelas, mwahahahaha~

Hm, ini masih belum masuk ke dalam masalah. Masih memperkenalkan kekuatan Oliver.

Ini mungkin akan sedikit uhukpsychologicaluhuk. Yah, Oliver juga mungkin bakal lebih banyak dibahas.

Ah, aku juga mau bilang untuk Yana-san kalau Mikuo bakal lebih keliatan mendekati ending #spoiler, itu juga masih kemungkinan. Tiap kali ngetik TMA bawaannya selalu kalau nggak LenRin, KaitoMiku, pasti brothershipnya AkaitoKaito :v Jadi maaf kalau hubungan Mikuo-Miku nggak segreget AkaitoKaito :v

Makasih untuk CelestyaRegalyana-san, cyberloid, Kak Satsuki21as, dan Mikurin Nya, KA aka CarolMegumi atas review, favorite, dan follownya! ARIGATOUGOZAIMASHITA!

Yup, segini dulu bacotnya!~

.

.

.

Shintaro Arisa, out!