Chapter 3!

.

.

.

[Masih 16 September 20xx]

.

.

.

Aku kembali ke kelas setelah memastikan wajahku tidak terlihat seperti habis menangis di cermin toilet sekolah.

Aku berjalan sambil menggumamkan sebait lirik lagu penambah semangat sampai ke koridor kelas. Di depan kelas berdiri Kaito, dengan tangan yang menjepit pangkal hidung mancungnya dan kening berkerut. Tangan yang satunya lagi memegang ponsel biru kesayangan berfitur lengkap setara komputer.

"Kai?" aku menepuk pundak tegap pemuda berambut biru itu sampai dia terlonjak kaget dan melepaskan .

"Miku!" dia berseru sambil memungut ponselnya yang malang. Aku tertawa kecil sambil meminta maaf.

Tiba-tiba dia menepuk kepalaku. "Aku tahu sesuatu tentang anak itu."

"Hah? Serius?!" cecarku nggak sabar.

Dia menarikku masuk ke dalam kelas yang masih ribut karena anak-anak yang sibuk membahas isu tentang anak itu. Len, Rin, dan Gakupo juga berdiskusi tentang sesuatu di meja paling pojok di kelas, daerah kekuasaan si shota pirang maniak pisang.

Kami menghampiri mereka dan baru saja akan bertanya tapi sayang guru bidang studi fisika kami datang.

Aku kembali ke tempat dudukku yang terletak tiga bangku di depan bangku Len dan mengeluarkan buku-buku fisika. Saat guru fisika kami sedang menulis ringkasan kecil untuk materi gerak harmonik kami, tiba-tiba ponsel di saku rokku bergetar. Layarnya menampilkan sebuah notifikasi tentang sebuah e-mail yang masuk dari Kaito.

Aku membaca pesan dari si maniak es krim itu dan membelalakkan mata. Aku memalingkan wajahku ke arahnya, menatapnya dengan tatapan meminta kepastian dan dia mengangguk serius.

Shinigane Oliver adalah seorang psychometrer.

.

.

.

Sepulang sekolah, kami berlima berkumpul di kelas setelah kelas dibersihkan petugas piket yang kebetulan (atau mungkin sial) bekerja di hari ini.

"Aku baru diberitahu Mitsu-san kalau ada temuan baru soal kasus hilangnya anak-anak SMP dan SMA itu," ucap Len sambil menjepit dagunya.

"Sudah diteliti forensik?" Rin bertanya sambil mengulum permen di mulutnya.

"Ya. Sedang dalam proses, tepatnya." jawab Len singkat.

"Terus apa tujuanmu mengumpulkan kita disini?" aku bertanya sambil menduduki sebuah meja.

Len menghela napas. "Kita harus bertemu dengan Mitsu-san untuk melihat siapa-siapa saja korban yang hilang selain adiknya Shimamoto Io, eh, maksudku, Orion-san."

"Aku tidak bisa ikut. Aku dan Miku masih ingin menyelediki soal si Shinigane itu. Aku baru menemukan sebuah fakta baru soal dirinya dan aku ingin membuktikannya." sahut Kaito sambil melipat tangan.

"Aku juga nggak bisa pergi, Len. Ibuku harus menemani ayahku pergi ke Shizuoka dan aku harus di rumah untuk menemani sepupuku sampai bibiku menjemputnya. Gomen, ne?"

Len melirik Gakupo tajam. "Nggak jadwal apel ke Yukari-san, 'kan, Gakupo?"

"Ah, Len emang tahu aja! Ya udah, aku balik duluan!" tangkas Gakupo sambil balik kanan bubar jalan tapi tangan Len keburu menarik surai ungu, panjang, indah, lebat impian semua wanita milik Gakupo dengan cepat.

"Yukari-san pasti di markas. Jadi, ayo ke markas. Kau akan sedikit berguna di sana."

Gakupo mau protes tapi tarikan maut Len pada rambut indahnya memaksanya untuk mengikut kaki pendek si shota banana.

Rin tertawa-tawa melihat kejadian itu sementara aku dan Kaito hanya tersenyum kecil.

Dia menyudahi tawanya sambil mengemut lagi lolipopnya. "Haahh, aku pulang dulu ya, Micchan! Kaito! Mata ashita!~" Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu kelas sambil melambaikan tangan.

Hening melanda. Tak ada satupun dari kami yang membuka suara sementara tangan kami melambai kaku dan tersenyum kikuk bak robot untuk mengantar pulangnya Rin ke rumah. Yah, nggak penting sih.

"Miku," suara baritone si maniak es krim dan komputer itu menginterupsi lamunan kosongku.

"Y-ya?" sahutku sambil memandang Kaito yang tingginya lebih 20 senti dariku itu. Dia duduk di salah satu kursi dan memasang wajah serius. Dia emang pengertian.

"Ini soal Shinigane-kun, 'ya?" tanyaku bimbang sambil mengurut-ngurut jari tanganku. Dia mengangguk.

"Waktu kemarin, aku, Len, dan Gakupo 'meminta' data-data Shinigane pada wali kelasnya via petugas tata usaha," dia mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi biodata Oliver dan menyerahkannya padaku. "Maaf, aku tidak membicarakan soal ini padamu saat kita sedang berjalan menuju rumah sakit kemarin. Pikiranku sangat kalut saat aku mengetahui kita sedang dibuntuti."

Aku membaca data-data itu dengan seksama.

"Dia tinggal di daerah kumuh, sekitar satu atau dua kilometer dari rumah kita. Orang tuanya tidak diketahui dan dia memiliki seorang adik perempuan yang tinggal di rumah sakit."

Oke, kemampuan stalking dan mengumpulkan informasi Kaito tidak usah diragukan lagi. Dia dan Len dalam urusan kumpul dan mengumpulkan data adalah ahlinya.

"Wow, detail sekali. Sempat wawancara dengan guru konseling tadi siang?" tanyaku dengan nada menyindir sambil cekikikan dan dia hanya mengangguk.

Kaito di mode serius memang mengerikan. Apalagi sejak kejadian Mayonaka Forest dan hilangnya Akaito-san, Kaito juga lebih sering berada di mode serius ketimbang di mode konyolnya.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" tanyaku dengan nada serius. Sepertinya aku terbawa-bawa oleh sikap Kaito.

"Kita bagi pekerjaan. Aku akan mencari si Shinigane dan menanyakan beberapa hal padanya sementara kau coba ke rumah sakit dan menemui adiknya."

Tiba-tiba pintu kelas kami tergeser dengan kasar dan Nana-senpai berdiri di sana dengan napas terengah-engah.

"Ah! Untung ada kalian! Hatsune-chan, Shion-kun, aku butuh bantuan kalian!" ucapnya cepat sambil mengatur napasnya.

Aku melompat dari meja dan meraih tasku sementara Kaito mengambil ponselnya di kolong meja.

"Ada apa, Senpai?" tanyaku.

"Shinigane!" jeritnya. "Shinigane Oliver kejang di koridor dekat loker sepatu!"

Kami berdua segera berlari keluar kelas sementara Nana-senpai sudah berlari duluan untuk memimpin jalan.

Aku dan Kaito melompati tiga demi tiga anak tangga untuk segera sampai (demi es krim basi Kaito, kecepatan Nana-senpai dalam berlari itu luar biasa!) di tempat kejadian.

Sesampainya di sana, kami melihat Oliver yang kejang dengan hidung dan mulut yang mengeluarkan darah sementara tangannya menggenggam sehelai kain dengan sangat erat.

Aku melirik Nana-senpai yang terlihat panik sambil menggigiti kuku jarinya dan lututnya yang bergetar. Aku mengalihkan pandanganku pada Kaito yang sedang berusaha membuat Oliver sadar dan melepaskan kain itu.

"Nana-senpai-"

Ucapanku segera terpotong saat Nana-senpai yang menjerit sambil menutup kedua telinganya. "INI BUKAN SALAHKU!"

Kaito menatap tajam pada Nana-senpai.

"Miku bantu aku," ucapnya sambil membaringkan Oliver lagi. Dia mengisyaratkan padaku untuk menarik kain itu dari Oliver selagi dia menahan tubuh kurus si psychometrer.

Aku mengangguk, mengiyakan perintah sang ahli teknologi di kelompok kami.

Kami bertukar pandang sebentar lalu mengangguk bersamaan. "Se, no!~"

Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan kain itu dari tangan Oliver semetara Kaito sibuk menarik tubuh Oliver yang selalu meringkuk bila kain itu ditarik. Tangannya juga sibuk mengurut satu demi satu jari Oliver agar sang tangan itu melepaskan kain yang dipegangnya.

Sayang, usaha kami sia-sia saat jemari-jemari kurus nan dingin Oliver menggaet tangan kami berdua menggengamnya dengan super kuat.

Rasa dingin menyengat tengkukku. Kepalaku tiba-tiba berat dan berdenyut sakit seiring dengan memori ketakutan akan kematian yang muncul di dalam kepalaku.

... Kumohon, jangan memori itu lagi...

Aku berusaha menarik tanganku bersamaan dengan aku menarik kain itu dari tangan Oliver.

"... Apa.. yang.. Onii-chan kata.. kan?" ucap Oliver tanpa sadar dengan suara bergetar dan serak.

"Akh!" jerit Kaito yang duluan berhasil melepaskan tangannya dari Oliver. Dia mengatur napasnya sambil memegang kepalanya dan menatap ngeri pada Oliver yang bola matanya bergerak-gerak liar akibat kejang.

Kaito mengeraskan rahangnya dan menampar Oliver sangat kuat sampai Oliver berhenti kejang. Genggamannya pada tanganku dan kain itu mengendur. Tiga setengah jari tangan kanannya yang terbakar terjatuh lemas ke perutnya. Darah dari hidung dan mulutnya sudah mengotori seragamnya juga kain itu.

"Kai," aku berkata lemas sambil mengulurkan tanganku untuk menyentuh ujung helaian biru rambut depannya yang lepek oleh keringat dingin.

Dia menurunkan tangannya dari kepalanya dan melonggarkan dasinya lalu melepas blazernya.

"Kekuatannya gila," ucapnya. "Dia bisa memproyeksikan memori orang lain dan mengubah karakternya dengan orang yang kita kenal."

"Eh?" aku memiringkan kepalaku dan bertanya. Kaito justru memintaku untuk mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan darah di mulut dan hidung Oliver.

"Bicara soal itu bisa belakangan. Sekarang, ayo kita bawa dia dulu ke ruang kesehatan. Momo-sensei mungkin belum pulang," Kaito mengeluarkan sapu tangannya dan ikut membantu. "Ah, Macne-senpai bisakah bertanya sesuatu?"

Nana-senpai yang sejak awalnya cuma berdiri bersandar di tembok dengan kaki gemetaran sambil menggigiti jari, kini menatap Kaito sambil mengangguk.

"Aku yakin ini milik Nana-senpai," Kaito mengangkat kain itu. "Karena di sekolah ini, hanya dua orang anak dari pasangan dokter forensik, yaitu Kagamine Len dan Macne Nana-senpai,"

Nana-senpai terperanjat sampai mundur beberapa langkah. "I-itu bukan salahku." ucapnya dengan suara bergetar.

"Aku tidak tahu apa dendam Macne-senpai dengan Shinigane tapi kurasa Macne-senpai sudah tahu banyak soal kemampuan Shinigane, 'kan?"

Nana-senpai membulatkan matanya dan jatuh berlutut sambil menjambak rambutnya yang dibuat bergelombang. "Bu-bukan salahku!"

"BERHENTILAH BERKATA, 'BUKAN SALAHKU!' SEMENTARA KAU MEMBERIKAN KAIN PENUTUP WAJAH JENAZAH PADA SEORANG PSYCHOMETRER!" Kaito berkata penuh emosi.

Aku menghentikan gerakan tanganku yang membersihkan darah dari hidung Oliver dan menatap Kaito.

Nana-senpai merebut kain itu dari Kaito dan berlari keluar tanpa mengganti sepatunya.

Kaito mengelus kepala belakangnya dan meringis. "Sepertinya aku pernah melupakan sesuatu yang penting," dia berkata lalu berdecak dan merangkul Oliver. "Miku, bantu aku sebentar."

Aku mengiyakan dengan sebuah anggukan kecil dan ikut merangkul Oliver bersama Kaito menuju ruang kesehatan.

.

.

.

Aku berjalan menuju stasiun kereta, hendak pergi ke rumah sakit tempat adik Oliver dirawat. Kebetulan, rumah sakit itu juga merupakan rumah sakit yang sama dengan rumah sakit yang merawat Mikuo-nii.

Aku memindai kartu kereta bawah tanahku di gerbang depan dan berjalan menuju peron. Dengan telinga tersumpal sebuah earphone dan tangan yang kusembunyikan di balik mantel musim gugurku, aku duduk di bangku tunggu.

Aku mulai berpikir.

Pertama, tentang fakta bahwa seorang psychometrer, seseorang yang bisa psychometry (melihat memori sesuatu atau bahkan seseorang).

Jika benar dia yang selama ini menyebabkan kecelakaan misterius di jalan di dekat kampus Mikuo-nii, untuk apa tujuannya?

Aku teringat soal pernyataan Mikuo-nii tentang apa yang dialaminya sebelum kecelakaan. Dia mengaku jika tangannya dipegang oleh seseorang yang bertangan dingin lalu dia melompat saat mengingat masa lalunya, 'kan? Kenapa ciri-cirinya sama seperti saat aku 'dibaca' Oliver?

Jangan-jangan Oliver membaca tangan Mikuo-nii?! Tapi, sekali lagi, untuk apa?

Aku terus memikirkan alasan-alasan itu sampai kereta tiba dan membawaku ke stasiun dekat rumah sakit.

.

.

.

Aku menghentikan langkahku di sebuah toko bunga yang terletak beberapa belas meter dari rumah sakit.

Aku berjongkok di depan sebuah pot berisi bunga-bunga lily putih yang segar.

Tiba-tiba sebatang mawar merah muncul di depan mataku.

"Bunganya, Oujo-sama."

Aku mendongak lalu tersenyum pada pria paruh baya di depanku yang menyodorkan bunga padaku. Aku berdiri dan mengamati beberapa potong huruf kanji pada name tag pria itu.

"Shini-ga-ne," gumamku.

SHINIGANE?!

"Eh, oh, tolong dua buket bunga lily putihnya." ucapku salah tingkah. Dia mengangguk dan mengambil beberapa tangkai lily juga plastik pembungkus dan pita.

Aku berjalan mengikutinya menuju counter tempat dia merangkai bunga.

"Untuk siapa, Oujo-sama?" tanya pria itu ramah sambil mengggunting tangkai bunga lalu menyusunnya dengan cepat.

Aku menjawab sambil menggaruk belakang telingaku yang tidak gatal. "Satu untuk kakakku dan satu lagi untuk adik.. temanku,"

Dia mengangguk-angguk paham.

Aku meremas-remas tanganku dan menatap pria itu ragu-ragu.

'Ayolah, Mikuu!' innerku menjerit-jerit.

Aku menelan ludahku dalam-dalam dan menarik napas dalam-dalam.

"Shinigane-san?"

Pria itu mendongak dan menghentikan gerakan tangannya membungkus bunga. "Ya?"

"Anda kenal dengan Shinigane Oliver?" aku bertanya dengan ragu.

Wajah pria bermarga Shinigane itu berubah muram. "Ah, ya, dia keponakanku." dia menjawab dengan nada seolah-olah tak ingin melanjutkan percakapan itu.

Aku tak bertanya lagi dan memutuskan untuk diam saja.

Dia memberikan dua buket bunga cantik itu dan aku segera membayarnya.

"Kamu temannya?" dia bertanya sambil memberikan kembalian.

Aku mengambil kembalian tersebut dan menjawab. "Cuma kenalan, kok. Kebetulan, saya kakak kelasnya."

Dia keluar dari counter lalu membungkuk. "Maaf, karena keponakan saya sudah merepotkan."

Aku terperanjat dan nyaris menjatuhkan satu buket bungaku. "Ja-jangan membungkuk begitu, sa-saya jadi merasa bersalah."

Pria itu menegakkan kembali badannya dan menghela napas. "Si cacat itu memang tak berguna."

Aku tertegun sambil membelalakkan mataku. Kata-katanya kejam sekali!

"Ke-kenapa Anda bilang begitu?!"

Pria itu duduk di kursi di depan counter dan mengambil sebatang rokok. Dia menjepit filter batang tembakau yang mengandung nikotin itu di bibirnya dan sepertinya dia berniat tidak menyalakannya.

Mungkin pria ini sengaja menambah efek keren pada dirinya dengan cara seperti itu.

Hening. Dia justru memain-mainkan tangkai-tangkai bunga yang barusan dia potong. Aku menunggu, aku benar-benar penasaran tapi aku tak berani mengulangi pertanyaanku.

"Anak itu sudah membunuh keluarganya dalam sebuah kecelakaan." ucapnya tiba-tiba sampai aku memekik dan benar-benar menjatuhkan satu buket bungaku.

Aku mengambil buket bunga yang diperuntukkan untuk adik Oliver. Beberapa helai kelopak lily putih berjatuhan. Aku merapikan bunga itu dan bertanya. "Apa maksudnya?"

"Kau pasti tahu jika Oliver itu 'aneh', 'kan?" dia menggerakkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan. "Dia itu bisa melakukan psy.. uhm, psychic.."

"Psychometry, maksudnya?" ralatku.

Dia menjentikkan jarinya dan menggangguk. "Ah, apapun itu namanya! Kenapa istilah asing sulit sekali disebutkan?!"

Pria itu menatapku, seolah-olah memintaku untuk tertawa untuk lelucon yang bahkan sama sekali tidak mengandung unsur humor. Aku lalu tertawa terpaksa dan bertanya lagi. "Lalu?"

"Aku juga tidak tahu pasti. Tapi aku yakin, penyebab meninggalnya kakak perempuan juga kakak iparku pasti karena dia menyentuh orang tuanya saat mengemudi." ujarnya sambil melepas rokok itu dari jepitan mulutnya.

Dia menggosok kedua telapak tangannya lalu merokok .

"Kau... pernah disentuh olehnya? Maksudku 'dibaca'nya, 'kan?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk. "Ah, iya. Waktu itu aku hanya ingin membuktikan bahwa dia bukan seorang chuunibyou seperti yang dituduh orang-orang."

Dia tertawa nyaring. "Jadi, banyak yang mengira dia seorang chuunibyou, 'ya?" dia tertawa lagi. "Pasti dia membaca pengalamanmu yang paling menakutkan. Betul, 'kan?"

Aku mengangguk.

"Adiknya, Olivia, sudah hampir setahun koma di rumah sakit sejak kejadian itu. Aku tidak tahu pasti darimana Oliver bisa membiayai rumah sakit adiknya," pria itu menatapku dan menyentuh pundakku. "Bisakah aku minta tolong padamu, Hatsune Miku-san?"

Aku terkesiap. Darimana dia tahu namaku? Perasaan hari ini aku tidak membawa name tag-ku.

"Da-darimana-"

Dia mengangkat tangannya, memotong ucapanku dengan cepat. Dia mengeluarkan sebuah lencana dari saku celananya. "Aku Shinigane Tonio, detektif kepolisian untuk daerah Shibuya. Kau salah satu anak muda produktif yang beberapa bulan lalu mendapat penghargaan untuk pengusutan kasus Mayonaka Forest, 'kan? Kau tergabung dalam kelompok detektif ilegal bernama, ngh, Vocasky."

Aku terkesiap. Wups, kami sudah terkenal rupanya.

"Kalau begitu kenapa Anda bekerja di toko bunga?" tanyaku, bermaksud mengalihkan topik pembicaraan.

"Ini milik istriku. Istriku minggu lalu melahirkan dan dia ingin aku mengurus toko bunganya untuk sementara. Aku mengambil cuti dan bekerja di sini sampai dua hari ke depan. Hei, kau mengalihkan topik pembicaraan, 'ya?!"

Aku terkekeh sambil menggaruk pipiku lagi.

"Jadi, bisakah aku meminta bantuanmu?" dia bertanya lagi. Aku berpikir, menimang-nimang permintaan tak berupah ini.

Kalian jangan menatapku seperti itu. Aku juga manusia, butuh uang. Hmph!

"Apa ini sangkut pautnya dengan Shinigane-kun?"

Dia mengangguk.

Dengan nada tegas, dia menjawab. "Aku ingin kau dan kelompokmu untuk membantuku menyelidiki soal kematian orang tua Oliver. Aku ingin tahu siapa pelakunya dan kejadian sesungguhnya."

"Ha?! Maksudnya?!"

Aku benar-benar tak paham dengan permintaannya.

.

.

.

Aku membuka pintu bangsal tempat Mikuo-nii dirawat. Aku menyibak tirai berwarna hijau tua di depan blankar bernomor 001 dan mendapati Mikuo-nii sedang tertidur pulas. Aku mendengus. Aku tahu dia sudah baik-baik saja.

Aku meletakkan salah satu buket bungaku di atas mejanya dan mengguncang tubuh Mikuo.

"Mikuo-nii," aku menyebut namanya. "Mikuo-nii, bangun. Ada Kaa-san."

Kelopak matanya segera terbuka, pupilnya melebar dan dia segera bangun dengan gaya macam orang bangkit dari kubur.

Dia celingukan dan hanya mendapati aku yang setengah mati menahan tawa akibat ekspresi terkejutnya yang sedari dulu terlihat lucu di mataku.

"Ah, Miku bercandanya nggak lucu!" Mikuo-nii merajuk sambil memunggungiku.

Aku yang sudah kejang perut hanya bisa meminta maaf dan masih menahan tawa.

"Udah dong, Mikuo-nii," aku mengguncang bahunya sambil mencubiti pipinya. "Aku ke sini juga mau ngasih tahu info baru."

"Info?" dia berbalik dan menatapku. "Soal kasus itu?"

Aku mengangguk. Dia turun dari blankar dengan hati-hati lalu meraih tiang infusnya.

"Mikuo-nii mau kemana?!" aku meraih tangan Mikuo-nii yang tidak memegang apa-apa. "Kita bicara di luar." tukasnya sambil mendelikkan bola matanya pada seorang anak SMP yang kepalanya di perban yang sedang menatap kami dengan tatapan penasaran.

Aku segera menyusul Mikuo-nii yang berjalan menuju kursi-kursi di koridor ruang inap.

"Kita bicara di sini saja, Miku." Mikuo-nii berkata sambil mendudukkan dirinya di bangku besi bercat silver itu dan aku segera duduk di sebelahnya.

Mikuo-nii memandangku dengan tatapan ingin tahu.

"Orang yang menyebabkan Mikuo-nii kecelakaan itu adik kelasku, Shinigane Oliver," aku mulai menjelaskan. "Dia seorang psychometrer alias pengguna psychometry. Dia adalah pembaca masa lalu seseorang atau sesuatu, secara singkatnya."

"Aku tidak tahu apa alasan Shinigane-kun menyentuh Mikuo-nii atau orang-orang yang menjadi korban kecelakaan yang lain," aku menjeda kalimatku sambil meremas saku mantelku. "Tapi kurasa ini ada hubungannya dengan kematian orang tuanya tahun lalu. Dia ingin mencari orang yang menyebabkan orang tuanya meninggal dalam kecelakaan itu."

Mikuo-nii mengerutkan keningnya.

"Hmm, jadi maksudmu, orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan yang terjadi di sekitar kampus dan dia sedang mencari informasi atau semacamnya?" tebaknya.

Aku mengangguk-angguk. "Untuk sementara, kurang lebih seperti itu. Aku harus bertanya pada Jo-san untuk kepastiannya."

Mikuo-nii berdiri dan menggeret tiang infusnya lagi. "Miku, kita pulang."

"Eh?! Kondisi Mikuo-nii memang sudah membaik?!" selaku sambil mensejajarkan langkahku dengan Mikuo-nii. "Nanti kalau Mikuo-nii tiba-tiba pingsan terus amnesia terus melupakan aku, gimana?!"

Dia mendecakkan lidahnya. "Kepalaku cuma tergores dan tanganku lecet. Nggak lebih. Jadi, nggak usah khawatir."

Dia menepuk kepalaku dan merangkulku. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." katanya sambil tersenyum.

Aku balas tersenyum dan menggenggam tangan Mikuo-nii.

Tiba-tiba aku teringat soal hubungan Akaito-nii dengan Kaito. Mereka tidak mungkin melakukan hal seperti ini, 'kan? Haha, nggak mungkin. Akaito-nii dan Kaito, 'kan, masih lurus.

Saat aku membukakan pintu bangsal untuk Mikuo-nii, aku teringat sesuatu.

"Mikuo-nii!" aku berseru dengan suara kecil karena mendapat lirikan sinis dari perawat pria yang menjaga pintu. "Sebelum pulang, kita harus melakukan sesuatu!"

"Eh?"

"Ah, pokoknya Mikuo-nii ganti baju, selesai administrasi dan tunggu aku di lobby depan, oke?" aku berbalik dan memperbaiki posisi tas di bahuku. "Oh ya, buket bunga di kamar Mikuo-nii juga tolong dibawa, 'ya! Aku tunggu Mikuo-nii di lobby!"

Mikuo-nii geleng-geleng kepala dan aku hanya menghiraukannya sambil berlari menuju lobby.

"Nona, jangan lari-lari di koridor!" tegur perawat itu dari mejanya.

.

.

.

Di sinilah kami sekarang. Di depan sebuah ruang rawat jalan yang dihiasi oleh berbagai jenis alat penyokong hidup. Sosok kurus kering pucat di atas blankar itu terlihat menyedihkan. Aku menggenggam buket bunga untuk remaja bernama Olivia itu dengan erat.

"Kalian mau menjenguknya?"

Kami terlonjak kaget dan berbalik. Di depan kami sekarang, seorang dokter paruh baya yang masih terlihat cantik dengan tatanan rambut coklatnya, tersenyum lebar.

"Eh, oh, kalau dibolehkan sih, kami ingin menjenguknya." aku menjawab sambil menunjukkan buket bunga lily putih itu.

"Ayo, ikut saya. Ah, iya, saya Sachiko, dokter spesialis bedah anak di sini."

Belum sempat aku dan Mikuo-nii memperkenalkan diri kami, Sachiko-sensei keburu membuka pintu dan masuk ke ruangan itu.

Suasana dingin dan semua bunyi-bunyian dari alat-alat penyokong hidup itu membawa kami ke atmosfer lain.

Mikuo-nii mendorong bahuku pelan, menyuruhku untuk mengganti bunga di vas yang sudah layu dengan bunga di tanganku.

"Jadi, kalian siapanya Olivia-chan?" tanya Sachiko-sensei sambil mendata sesuatu.

Mikuo-nii melirikku, memintaku untuk menjawab. Aku menghela napas pendek dan mulai menjawab.

"Sa-saya temannya Shinigane-kun," jawabku canggung.

Sachiko-sensei menaikkan sebelah alisnya. "Eh? Setahuku Oliver-kun tidak punya teman?"

Sachiko-sensei menatapku curiga. Aku mulai memikirkan alasan-alasan yang kira-kira bisa menghapus kecurigaan Sachiko-sensei.

"I-itu.."

"Baiklah, kami akan mengaku," sela Mikuo-nii. "Kami bermaksud untuk menanyakan segala hal tentang... Olivia-chan." kata-kata Mikuo-nii sempat terputus ketika dia melirik papan nama yang terpasang di kaki blankar.

"Kalian siapa?" Sachiko-sensei bertanya lagi, kini dengan nada curiga yang sangat kentara.

Aku dan Mikuo-nii saling berpandangan lalu menyeringai.

"Kami bagian dari agensi VocaSky." jawab kami kompak.

.

.

.

Sepulang dari rumah sakit, aku dan Mikuo-nii memutuskan untuk makan di kedai ramen yang terletak di dekat stasiun. Kami duduk di salah satu meja dan memesan.

Aku terkejut saat Mikuo-nii menyebutkan pesanannya. "Mikuo-nii yakin akan menghabiskan dua mangkuk porsi jumbo?!"

Dia mengibaskan poninya yang panjangnya tidak melewati alis itu dan mengacungkan sebelah jempolnya.

"Aku akan menghabiskannya. Makanan rumah sakit nggak enak jadi dari kemarin aku nggak makan," ungkapnya percaya diri.

"Bilang aja pengiritan." sindirku dan Mikuo-nii menjitakku. Aku merengut sambil menggembungkan pipiku.

"Jangan merajuk gitu dong, Miku," dia mencubiti pipiku dengan buas. Aku menepis tangannya dan mengusap pipiku yang panas. "Jangan cubit-cubit pipiku, ah! Sakit tahu!"

Mikuo-nii tertawa sambil menepuk kepalaku.

"Mumpung masih segar dalam ingatan, aku mau tanya sesuatu," Mikuo-nii mengalihkan topik pembicaraan. Tatapan dari manik sewarna teal yang serupa denganku itu berubah serius. "Apa itu?" tanyaku.

"Untuk apa kau mencari informasi tentang gadis itu?"

Pesanan kami datang dan segera dihidangkan.

Aku meraih sumpitku dan mengucapkan 'Itadakimasu' bersama dengan Mikuo-nii dan mulai menyumpit mie yang panas itu.

Untuk sesaat, aku berpikir Mikuo-nii melupakan pertanyaannya.

"Miku, jawab pertanyaanku. Sekarang." desaknya setelah menelan suapan pertama ramennya.

Aku meletakkan sumpitku dan menggaruk pipiku salah tingkah. "Olivia-chan itu adik dari orang yang membuat Mikuo-nii celaka."

Mikuo-nii mendecakkan lidahnya. "Itu bukan jawabannya."

"Awalnya aku ingin menanyakan sesuatu tentang Shinigane-kun pada adiknya tapi aku bahkan baru tahu jika Olivia-chan koma. Jawaban dari Sachiko-sensei juga tak bisa menjawab satu pun pertanyaanku. Beliau tak tahu apa-apa. Bisa dibilang, penyelidikanku sia-sia."

Dia mengangguk-angguk sambil memakan ramennya. Aku meneruskan makanku setelah dirasa Mikuo-nii tak akan meluncurkan pertanyaan lagi.

Saat ramen mangkuk pertama Mikuo-nii habis dan mangkuk keduanya dihidangkan, ponselku bergetar. Sebuah e-mail masuk dan seperti biasa pengirimnya adalah Kaito.

"Kaito meminta kita kumpul di markas." ucapku sambil menyimpan ponselku kembali ke saku rok. Mikuo-nii yang mungkin betulan lapar, sudah menghabiskan mie di mangkuknya sambil mengangguk. "Akaito diundang, nggak?"

Hatiku mencelos. Lagi-lagi nama itu. "Akaito-nii, 'kan, sudah pindah ke Hokkaido." balasku sekenanya. Siapa juga yang tahu Akaito-nii kabur kemana?

Mikuo-nii mendesah sambil meletakkan sumpitnya dan bergumam 'Gochisousama deshita'. "Si Akaito-bodoh itu entah sampai kapan kabur dan menghindari Kaitou-san."

"Mikuo-nii tahu soal Akaito-nii?"

Mikuo-nii mengurut pangkal hidungnya dan menghela napas panjang. "Dia, 'kan, memang begitu sedari kecil."

Aku menatap kuah ramen bertabur negi itu. Napsu makan sudah hilang sejak Mikuo-nii bertanya soal Akaito-nii.

"Kau sudah kenyang?" tanya Mikuo-nii sambil meraih mangkukku. Aku mengangguk lesu.

Dia meminum kuah ramenku sampai habis dan segera menyandang tasnya. "Ayo pulang! Oh, tunggu sebentar! Aku bayar dulu!"

Aku bangkit dari kursiku dan menarik tasku. Perasaanku sangat berat. Sejujurnya, aku ingin sekali menghindari topik tentang Akaito-nii. Aku selalu merasa bersalah pada Kaito jika permasalahan Akaito-nii diungkit-ungkit. Mikuo-nii yang sudah kembali dari counter kasir segera menarikku keluar.

"A-ada apa?" tanyaku sambil mensejajarkan langkahku dengan Mikuo-nii. Langkah tertuju ke persimpangan tempat dia kecelakaan.

"Io kecelakaan," jawab singkat, "dan Kaito juga kena."

"APA?!"

Belum selesai keterkejutanku, ponselku berdering. Tanpa melihat siapa yang meneleponku, aku segera mengangkat panggilan tersebut.

["Miku! Kau ada dimana? Apa kau sedang bersama Kaito? Kalian jadi menyelidiki soal Shinigane itu? Kalian berdua baik-baik saja?"]

Len dan Gakupo bergantian mencecariku dengan pertanyaan.

"Apa yang terjadi?" tanyaku kalut.

["Jangan dekat-dekat dengan si Shinigane itu! Dia sedang mengincar kita semua!"]

Gakupo menjawab dengan cara berteriak yang rusuh.

"Apa maksudnya?!"

Tangan Mikuo-nii berhenti menarikku sesampainya kami di persimpangan yang kini dikerumuni orang. Mikuo-nii melepas genggamannya dari tanganku dan menerobos kerumunan. Bunyi sirene mobil ambulance dan decitan ban mobilnya ketika berhenti membuat kerumunan agak sedikit longgar dan Mikuo-nii berhasil menyentuh garis depan terlebih dahulu.

["Ingat tidak kasus tentang berlian keluarga Yowane?"]

Len bertanya dengan nada serius.

Sambil berusaha mengintip dari antara belasan tubuh yang menghalangi penglihatanku, aku menjawab. "Eh? Apa hubungannya?"

["Ingat siapa yang pelaku yang pencurian berlian itu?"]

Aku mencoba mengingat-ingat.

["Salah satu pelaku pencurian berlian itu adalah Shinigane Al, ayah Oliver, yang bekerja sebagai penjaga berlian di kediaman itu."]

"Maksudmu dia ingin balas dendam pada kita setelah kita menjebloskan ayahnya ke penjara- HWAAHH!" aku memekik ketika aku terdorong ke depan lalu dijatuhkan dengan kejam oleh orang-orang di belakangku.

Aku melihat Kaito yang sedang diangkut ke dalam mobil ambulance juga seorang pemuda berambut pirang dengan aksen pink di bawahnya yang diangkut ke ambulance yang satunya lagi. Aku mengedarkan pandanganku dan berhasil menangkap sosok Oliver yang sedang sibuk membersihkan hidung dan mulutnya dari darah.

"Len! Gakupo! Nanti kita sambung!" aku memutus sambungan telepon dan segera bangkit berdiri. Aku menepuk telapak tanganku yang agak lecet dan segera berlari ke sebrang jalan, dimana Oliver sedang berdiri dengan kaki gemetar dan mata yang terlihat ketakutan melihat mobil ambulance pergi dengan dua orang korbannya. Dia mendapatiku sedang berlari ke arahnya dan segera berputar lalu mengambil langkah seribu.

"SHINIGANE!" seruku saat dia mulai hilang di kerumunan itu. "SHINIGANE! KAU HARUS TANGGUNG JAWAB!"

"Miku!" Mikuo menegurku yang sudah kelewatan berteriak di tengah jalan. Aku menghiraukan Mikuo-nii dan menambah kecepatan lariku untuk mengejar Oliver.

Tak jauh, hanya kira-kira 50 meter jauhnya dari kerumunan itu, aku melihat Oliver ambruk tiba-tiba.

"Shinigane-kun!" seruku sambil mengguncang tubuhnya. Mikuo-nii datang dan segera memegang nadi di leher dan pergelangan tangan kiri Oliver.

"Miku, panggil ambulance!" titahnya sambil berusaha membuat Oliver bangun.

Baru saja aku ingin bertanya, Mikuo-nii segera memotong dengan cepat. "Jangan banyak tanya panggil saja!"

Duh, kenapa situasinya jadi ribet begini sih?!

.

.

.

To Be Continued.

.

.

.

Author's bacot room :

Haloo!~ Kembali bersama Shintaro Arisa dengan season kedua dari The Mysterious Accident.

Yah, maaf deh, kelamaan update. Habis tugas sekolah saya buuaannyaak banget. Presentasilah, ulanglah, makalah, remedial! Arrghh! Pusing /plak/

Disini banyakan MikuoMiku dibanding KaitoMiku :'v

Ah, nggak bisa lama-lama. Review dibales kapan-kapan yaa~ SeeU!

.

.

.

Oh ya, JANGAN LUPA REVIEW! MAKASIH!

.

.

.

Shintaro Arisa, out.