Chapter 4 : Bad
.
.
.
Aku menarik tangan Mikuo-nii yang hendak masuk ambulance. Oliver mulai diberikan pertolongan di dalam ambulance dan belum menunjukkan perkembangan kondisi ke arah yang lebih baik. Petugas ambulance hendak membawa Oliver ke UGD terdekat dan Mikuo-nii memutuskan untuk ikut.
"Mikuo-nii, kita ke tempat Len saja," aku meremas tangan kakak laki-lakiku itu sambil menundukkan wajah. "Len memperingatkan kita untuk menjauh dari Shinigane-kun. Shinigane-kun mengincar kita semua!"
"Maksudmu?" Mikuo-nii bertanya, dia tak mengerti.
"Aku tak bisa menjelaskannya tapi kumohon ayo selesaikan kasus ini tanpa harus melibatkan Shinigane-kun lagi!"
Mikuo-nii menepis tanganku dan mendorong pelan bahuku. "Sekarang atau tidak sama sekali, Miku! Anak ini adalah kunci kasusnya! Dia pasti punya alasan kenapa dia membaca semua memori kita dan semua korban itu! Jadi, pergilah jika kau ingin ke tempat Len!"
Mikuo-nii masuk ke dalam ambulance dan petugas itu menutup pintunya. Mesin mobil berderu, sirene kembali dinyalakan, dan beberapa detik kemudian mobil itu pergi.
Aku mendesah, menatap langit musim gugur yang sudah gelap dengan sendu.
Aku meraih ponselku dan mendial nomor Len. Beberapa detik kemudian, panggilanku diangkatnya.
"Len, aku akan ke sana sebentar lagi. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid (c) Yamaha Corp., Crypton Future Media,etc.
.
.
.
Aku berjalan cepat menuju sebuah minimarket di dekat sekolahku, tempat dimana Len dan Gakupo menungguku.
Sesampainya di sana, di salah satu meja-meja tempat anak-anak sekolahku biasa nongkrong, Len dan Gakupo sibuk dengan netbook dan kertas-kertas.
"Miku!" Gakupo berseru memanggil namaku saat tak sengaja kepala berpaling dari kertas-kertas di hadapannya.
Aku berlari dan segera mendudukkan diriku di samping Gakupo yang kursinya kosong.
"BaKaito mana?" Len bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari netbooknya.
"Kecelakaan." aku menjawab singkat sambil mengambil salah satu bundel kertas di hadapan Gakupo.
Len dan Gakupo berhenti bergerak. Mata mereka mengerjap-ngerjap dan mulut mereka sedikit terbuka.
"Kau serius?"
Aku mengangguk. "Makanya, ayo cepat selesaikan kasus ini. Saat ini klien yang diberikan Mikuo-nii juga Kaito sama-sama sedang berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan di saat yang sama gara-gara anak itu."
Aku meraih sekaleng minuman soda yang masih terbungkus kantung plastik minimarket dan membuka tutup kalengnya dengan cepat lalu menegak isinya rakus.
Gakupo geleng-geleng kepala melihat tingkahku yang tidak biasa itu. "Anak itu? Maksudmu si Shinigane itu?"
Aku mengangguk sambil meletakkan kaleng sodaku dengan sedikit bantingan. "Anak itu mencari sesuatu tentang kecelakaan orang tuanya makanya dia menyentuh tangan-tangan kita!"
"Jika benar tujuan mencari tentang itu, maka dugaanmu dengan data yang kita dapatkan hasilnya agak kurang sesuai." Len memutar netbooknya menghadap ke arahku.
Aku membaca data yang disajikan Len dalam netbooknya dengan seksama. Kupastikan data-data itu terekam dengan baik di dalam otakku yang ingatannya agak payah karena terlalu banyak menghapal senjata.
Orang-orang yang menjadi korban sentuhan Oliver di persimpangan di dekat kampus Mikuo-nii adalah minimal kerabat atau relasi dari anak-anak SMP dan SMA yang menghilang.
Contohnya, Shimamoto Orion dengan korban bernama Shimamoto Uni yang notabenenya adalah adik perempuan Orion alias Io. Lalu, Mikuo-nii yang kena sentuhan Oliver karena Mikuo-nii adalah sahabat Io dan ingin mencari Uni. Lalu, aku dan Kaito yang diminta Io untuk mencari adiknya, Uni, melalui Mikuo.
Kami semua terhubung secara tak langsung pada Uni, korban penculikan.
Selanjutnya, siswa-siswi yang menjadi korban penculikan rata-rata memiliki tinggi kurang dari 170 sentimeter dengan status sosial biasa-biasa dan jumlah orang yang diculik sudah mencapai angka 30 orang, dengan empat laki-laki dan duapuluh enam perempuan, dimana di antara mereka sudah ada yang ditemukan tewas.
Aku mengerutkan keningku.
Jika benar pernyataan Tonio-san mengenai alasan Oliver menyentuh kami untuk mencari tentang kecelakaan yang menimpa orang tuanya, maka data-data tentang kasus penculikan ini hanya memiliki sedikit hubungan, bahkan terkesan tidak terhubung sama sekali.
"Bagaimana dengan keterangan forensiknya, Len?" tanyaku sambil menscroll layar perlahan-lahan.
Len menggeleng. "Aku belum tahu pasti hasilnya bagaimana, tapi tadi aku sempat mendengar jika korban yang ditemukan tewas diperkirakan sudah tewas satu atau dua hari sehubung ditemukannya larva lalat di tubuh korban."
Dengan cepat Gakupo menambahkan, "Oh, petugas juga menemukan banyak benda di sekitar korban! Tapi sepertinya benda-benda itu tidak bisa dijadikan petunjuk. Mereka bilang, itu benda-benda tak penting yang sekalipun ada petunjuknya akan makan waktu berminggu-minggu untuk menelitinya."
"Contohnya?" aku bertanya.
Len mengeluarkan sebuah plastik zip lock dari saku celananya. "Ini. Mitsu-san mengizinkan aku membawa salah satunya. Katanya, aku disuruh mencari tahu soal gelang ini karena gelang ini bersih dari petunjuk. Aku sengaja membawa benda ini, siapa tahu gelang ini milik sebuah kelompok remaja yang berkeliaran di masyarakat."
Aku mengambil plastik tersebut dan mengamati isinya.
Sebuah gelang karet berwarna biru tua dengan huruf karet timbul yang dibaca sebagai "KIBOU".
"Nggak ada petunjuk, 'ya?"
Aku mendesah sambil menatap nanar langit musim gugur yang sudah gelap gulita.
Aku teringat soal Oliver. Pemuda berumur enam belas tahun yang saat ini baru menginjak kelas satu SMA yang ternyata memiliki sebuah kemampuan spesial. Sebuah kemampuan yang memiliki dua sisi, seperti koin. Dimana di satu sisi kemampuan itu menguntungkan dan di sisi lain kemampuan itu merugikan.
Kemampuan itu membuat Oliver kehilangan kesadaran dalam mengontrol dirinya. Dia bisa dengan mudah kejang ditambah mimisan atau lebih parah muntah darah seperti tadi siang saat Nana-senpai mengerjainya.
Eh, entahlah. Aku tidak tahu alasan Nana-senpai memberi kain penutup wajah jenazah pada Oliver.
Mungkin itulah alasan kenapa Oliver terlihat sangat pucat dan lesu.
Tetapi, di satu sisi kemampuan itu menguntungkan.
Kemampuan itu...
... bisa membaca masa lalu!
"Oliver!" aku berseru sampai tak sadar memukul meja, mengagetkan Len dan Gakupo.
"DIA MEMANG HARUS TERLIBAT DALAM KASUS INI!"
Len dan Gakupo menaikkan sebelah alisnya masing-masing.
"Kenapa dengan anak itu?" Len bertanya.
"Kita bisa manfaatkan dia juga barang-barang ini!"
Gakupo giliran bertanya, "Caranya?"
Aku menepuk keningku dramatis. "Astaga, secepat itukah kalian lupa jika Oliver psychometrer?"
Sepasang manik sewarna langit musim panas yang cerah itu membulat sempurna. Sudut bibirnya terangkat ke atas, menciptakan sebuah senyum penuh makna.
"Kalian memikirkan hal yang sama denganku?"
Gakupo menggeleng polos, antara betul-betul tidak memikirkan hal yang sama dengan Len atau memang sedari awal dia tak mengerti apapun dari jalan pembicaraan kami.
Aku mengerutkan keningku. "Sebentar, apa di dalam kepalamu, kau punya rencana lain selain menyuruh Oliver untuk membaca gelang ini?"
Kedua alis Len terangkat ditambah dengan seulas seringai di bibirnya.
"Yep. Dan aku butuh tenaga ekstra di sini."
Entah kenapa, setelah Len mengatakan hal itu, bulu kudukku berdiri dengan sendirinya.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tentu saja, ini bukan waktu yang cocok untuk dua orang remaja SMA yang masih lengkap dengan seragam dan tas sekolah dan seorang gadis remaja bertubuh kecil dengan pita putih di atas kepala.
"Len! Hentikan acara menyeringaimu itu dan jelaskan pada kami apa yang kita lakukan di depan apartemen Mitsu-san!"
Rin, si gadis berpita, berteriak sambil menjitak kepala Len.
Len mengaduh kecil dan menggumamkan kata 'maaf' sambil nyengir tanpa dosa. Rin mendengus sambil membuang muka.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" tanyanya lagi.
"Aku sudah meminta Mitsu-san untuk membawa barang bukti dari tempat ditemukannya mayat anak itu ditemukan,"
"Terus?" aku dan Rin bertanya berbarengan.
Len menjawab lalu menyeringai kembali.
"Tugas kita adalah sesuatu yang lain dari itu."
Aku dan Rin bertukar pandang.
"Kalian tahu, 'kan, kalau Mitsu-san sering meninggalkan barang bukti atau map data di mobilnya," ucap Len dengan senyum terkembang penuh makna.
Aku merinding sendiri. Isi kepala Len memang terkadang memang tidak bisa ditebak.
"Aku dan Rin akan mengalihkan perhatian Mitsu-san dan kau," Len mengalihkan pandangannya padaku. "Kau akan bertugas sebagai 'peminjam'nya."
"APA?!"
"Tapi, Len, kita bisa minta, 'kan, sama Mitsu-san? Masa' kita harus mencuri sih?" Rin angkat suara, protes.
Len menggeleng. "Nggak bisa. Setelah kejadian itu, mereka agak jaga jarak sama kita. Kalian tahu sendiri lah, konsekuensinya seperti apa kalau mereka jaga jarak."
Aku mendesah sambil mengacak poniku.
Len melirik jam tangannya dan mengecek ponselnya.
"Len-kun, Rin-chan, Miku-chan!"
Youte Mitsushina, atau yang sering kami panggil Mitsu-san, berlari menghampiri kami sambil melambaikan tangannya.
Len memberi kode dengan matanya padaku dan aku cuma bisa menghela napas lelah. Mitsushina berhenti melangkahkan kaki jenjangnya di depan Rin dan mengatur napasnya sebentar.
"Jadi, kalian ada perlu apa denganku?" tanya Mitsu-san sambil tersenyum.
Len mendorong pinggangku dan melempar isyarat lagi dengan matanya.
"Kami mau tanya-tanya tentang anak yang itu," ucap Len sambil menendang tumit sepatuku. "Iya! Aku belum begitu banyak mendengar soal anak itu!" tambah Rin heboh.
"Duh," aku mengaduh sambil meremas perutku.
"Kenapa, Miku-chan?" tanya Mitsushina sambil menyentuh bahuku.
"A-aku sakit perut! Aku ke toilet dulu!"
Aku bergegas untuk mengambil langkah seribu untuk menyempurnakan lakonku. Aku sempat mendengar Len mengajukan sebuah pertanyaan yang memancing Mitsushina untuk bercerita banyak juga Rin yang mengajak Mitsushina untuk mengobrol di sebuah kedai dadakan di depan apartemen Mitsushina yang menjual udon.
Mereka memang kombinasi yang sempurna sekaligus paling menakutkan, percayalah.
Aku sampai di parkiran mobil di belakang apartemen dan segera bergerak menuju mobil sedan putih milik Mitsushina yang terparkir di daerah paling pojok parkiran yang gelap.
Bermodalkan flash kamera ponselku untuk penerangan, aku merogoh bagian belakang plat mobil yang sedikit timbul dengan hati-hati.
Gotcha!
Aku mendapatkan kunci laci dasbor milik Mitsushina.
Memang benar Len menjatuhkan tugas seperti ini padaku.
Tugasku tidak berhenti sampai di situ. Aku masih harus membuka pintu mobil untuk membuka laci dasbor dan mengambil data penyelidikan.
Aku mencopot kedua tali sepatu kets yang kugunakan untuk mengikat sepatuku dan menyambungkannya menjadi satu untai tali yang cukup panjang. Aku menyimpul ujung tali sepatuku dengan simpul hidup dengan cepat.
Aku mengeluarkan ponselku lagi dan menyorot kaca jendela mobil Mitsushina, mencari celah untuk memasukkan tali sepatuku.
Aku hampir saja bersorak dan teringat jika ini misi yang harus dilakukan dalam senyap, ketika melihat kaca mobil Mitsu-san terbuka seukuran buku jari telunjuk.
Aku memasukkan ujung tali sepatuku ke dalam celah itu dan mengarahkannya ke dalam tombol kecil yang digunakan untuk mengunci mobil. Aku mengarahkan flash kameraku dan memastikan jika ujung simpul sudah mengait pada tombol itu.
Dalam satu tarikan cepat dan pasti, aku berhasil menarik tombol itu dan membuka pintu mobil.
"Yes!" aku berseru kecil sambil masuk ke dalam mobil dan membuka laci dasbor. Aku membaca file-file tentang kasus tabrakan akibat ulah Oliver itu dan memotretnya satu demi satu dengan cepat.
Aku menyimpan ponselku dan mengembalikan semuanya ke tempat semula. Aku mencabut tali sepatuku dari tombol pengunci mobil dan mengembalikan kunci cadangan dasbor ke belakang plat setelah menutup pintu mobil.
Sambil kembali mengikat sepatu, aku tersenyum bangga pada diri sendiri. Tidak menyangka operasi pencurianku akan berhasil semulus ini.
Hei, jangan menatapku seperti itu!
Jika nanti ada kasus pencurian isi mobil, jangan salahkan aku. Aku juga modal tahu untuk mencari cara picik membuka pintu mobil seperti itu! Aku tidak pernah mengajari kalian untuk mengutil dengan cara tidak bermodal seperti itu! Ingat!
Aku keluar dari daerah parkir dan kembali ke tempat dimana Len, Rin, dan Mitsushina berbincang-bincang.
"Hai, Miku-chan! Lama sekali dari toiletnya!" Mitsushina menegurku sambil berkacak pinggang. "Tidak ada penjelasan ulang, mengerti?"
Aku mencubit tangan Len, isyarat jika aku berhasil menyelesaikan tugasku.
"Iya, maaf, Mitsu-san. Habis mau bagaimana lagi, perutku, 'kan sakit, duh!"
Aku meremas perutku dan memasang ekspresi sakit yang meyakinkan. Mitsushina percaya dengan ekspresiku dan hanya menghela napas.
"Kalian nggak akan pulang?" tanyanya sambil memandang kami bergantian.
"Mau. Penyelidikan Oliver versi kami akan kami lanjutkan besok," sahut Rin yang sedari tadi (mungkin) memegang kontrol arus percakapan.
"Mau kuantar?" tawar Mitsushina sambil mengambil kunci mobil di saku jaketnya.
Rin hampir saja membuka mulut untuk menjawab 'iya' tapi Len segera menyelanya dengan cepat. "Ng-Nggak usah! Kami akan pulang sendiri!"
Dia melirik jam tangannya.
"Kereta terakhir jam setengah sebelas!" Len berseru sambil menarik tanganku dan tangan Rin. "Ayo, tinggal sepuluh menit lagi! Kami duluan, Mitsu-san!"
"Ah, oke! Yakin nggak mau kuantar?"
Len mengangguk sambil pamitan dan membungkuk lalu sprint ke stasiun kereta yang letaknya sangat dekat dengan apartemen Mitsushina.
Kami mengatur napas kami yang memburu sambil tertawa-tawa di peron kereta.
"Wuah! Hebat! Jika profesi detektif tidak berpihak padaku, aku akan menjadi aktris yang hebat!" Rin berkata dengan napas yang setengah terkontrol. Len mengangguki lalu tergelak.
"Jadi, kita akan menunggu kereta untuk menyusul Mikuo-nii?" aku bertanya pada Len yang sudah bisa menghirup udara dengan normal.
"Antara iya dan tidak. Aku tidak hafal jadwal kereta,"
"Kau, 'kan, cuma tahu naik bis." sembur Rin mengejek.
Len menjitak kepala Rin dan Rin cuma bisa mengaduh lalu mengerucutkan pipinya.
Aku mengeluarkan ponselku, mengetik sebelas digit angka milik Mikuo-nii.
"Aku telepon Mikuo-nii buat jemput, 'ya?"
"Ha! Ide bagus! Ayo, panggil dia!"
Aku mendial nomor Mikuo-nii dan dua detik kemudian, Mikuo-nii mengangkat panggilanku.
"Halo?"
Orang yang menjawab panggilanku itu bukannya Mikuo-nii tetapi...
["Miku? Kau dimana?!"]
"A-Akaito-nii?!"
Tanpa sadar aku justru memekik, menarik perhatian Len dan Rin yang notabenenya sepasang manusia dengan rasa penasaran yang saangaat besar.
Mereka berdua menarik tanganku dan mengambil alih ponselku untuk mengaktifkan loudspeakernya.
["Kalian dimana? Masih di apartemen Mitsu-san?"]
"Kami sudah ada di stasiun dekat apartemen Mitsu-san sekarang. Ada apa?"
"Kalian tunggu dulu di situ, oke? Aku akan menjemput kalian! Aku akan me-"
Aku menyela. "Tu-tunggu! Mikuo-nii dimana?"
"Di belakang. Menyusul dengan sepeda motor. Kututup, 'ya!"
Panggilan diputus. Len dan Rin menatapku, seperti menuntut penjelasan.
"Kau punya nomor Akaito-nii yang baru?" tanya Rin menyelidik.
Aku menggeleng. "Tadi aku memanggil nomor Mikuo-nii kok."
"Terus, kenapa Akaito-san yang menjawab?" Gantian, Len bertanya.
"Nggak tahu, oke? Kita bisa bertanya padanya saat dia datang, 'kan?"
"Aku tidak menyangka kau bisa berbohong seperti itu," ucap Rin gusar. Mata birunya menatapku nyalang.
"Kenapa kalian jadi marah begitu?! Kalian pikir selama ini aku membohongi kalian soal Akaito-nii?!" aku membalas sama berangnya. Tidak menyangka sahabatku sendiri menuduhku seperti itu.
Len mendorong bahuku.
"Kenapa kau tersulut? Jadi, betul kau merahasiakan soal Akaito-nii dari Kaito?"
"Ha?!"
Rin mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih. "Kaito.. Kaito mencari Akaito-nii sejak kasus Mayonaka Forest!"
Len menimpali dengan cepat dan sama marahnya.
"Kau sempat berpapasan dengan Akaito-san saat dia kabur, 'kan? Kau pasti mengetahui dia dimana dan berhasil melacaknya di belakang kami!"
Aku melotot tidak percaya.
"Ka-kalian kenapa, sih?" aku mundur menjauhi mereka. "Kalian kenapa tiba-tiba menuduhku seperti itu? Kalian tidak percaya padaku? Ini! Lihat! Ini nomor Mikuo-nii!"
Aku menunjukkan layar ponselku yang menampilkan daftar panggilan keluar ke hadapan wajah Rin dan Len.
"Bukti seperti ini bisa diubah semaumu, 'kan?" Len menepis ponselku sampai jatuh ke tanah. "Sudah kuduga, Miku. Kau berbohong pada kami."
"KALIAN KENAPA SIH?!"
Rin meraih bahuku dan mengguncangnya. Matanya berkaca-kaca dan sudut matanya sudah terkumpul air mata.
"KAU BERBOHONG PADA KAMI, MIKU! KAU MENYELIDIKI KASUS KLIENMU YANG KONON NAMANYA SHIMAMOTO ORION ITU HANYA UNTUK MEMUNCULKAN AKAITO-NII KE HADAPANMU DAN MENCELAKAI KAITO UNTUK MEMBUAT KAITO TIDAK BISA BERTEMU DENGAN AKAITO-NII!"
Rin melepas bahuku dan berjongkok. Bahunya bergetar, dia terisak.
Aku tidak mengerti. Kenapa mereka tiba-tiba seperti ini?
Melihat Rin yang menangis seperti itu dan ekspresi Len yang sama sedihnya, membuat dadaku sesak.
"Aku tidak mengerti," aku menggeleng sambil menjenggut helai rambutku yang menjuntai di dekat pipiku. "Kalian.. Kenapa kalian menuduhku seperti itu? Aku tidak pernah berbohong pada kalian."
Mataku panas dan berair, aku mungkin akan menangis sebentar lagi.
"Kaito mencari Akaito-nii sejak kasus itu," Rin menjawab di sela isakannya. "Di-dia tahu jika selama ini Akaito-nii berbohong padanya. Dia ingin membuat Akaito-nii jujur padanya."
"Kami diberitahu Mikuo-nii jika kau pernah mengikat janji dengan Akaito-san."
Aku mengangkat kepalaku, kaget. Membiarkan air mataku jatuh melewati pipiku, aku mengingat janji itu.
"Kau pernah berjanji pada Akaito-nii untuk terus menjaga Kaito, 'kan? Dan berjanji untuk terus merahasiakan semua kejadian itu dari Kaito," Len menarik napasnya, "juga sebisa mungkin membuatnya jauh dari Kaito."
Napasku tertahan. Aku tak sanggup membalas.
"Kau adalah pembatas antara Kaito dan Akaito-san." tangkas Len sambil menepuk bahuku.
Dengan bibir bergetar, aku mencoba menarik konklusi dari semua pernyataan mereka. "Jadi, kalian pikir aku mengarang soal Io-san?"
"Yep. Kau dan Mikuo-san berkonspirasi menciptakan skenario ini untuk tetap memenuhi janji pada Akaito-san. Untuk menjauhkan Akaito-san dari Kaito. Se-la-ma-nya."
Len dengan nada penuh percaya diri menjawab.
"Aku tidak-"
"Dia tidak berbohong."
Aku membalikkan badanku dengan segera, melihat siapa yang baru saja menginterupsiku.
"Mikuo-nii?!"
Mikuo berjalan ke arah kami lalu menepuk kepalaku.
"Soal Io, dia betul-betul nyata. Bukan karakter rekaanku semata," ungkap Mikuo-nii dengan senyum lebar. "Kalau aku sempat kepikiran untuk mengarang kejadian seperti itu, mentang-mentang kasus tabrakan kontinu sedang panas-panasnya, aku mungkin akan sekalian menciptakan skenario yang lebih dramatis lagi biar kalian percaya."
"Aku bertemu Akaito di rumah sakit. Dia habis check-up dan aku memintanya untuk menjemput kalian karena satu sepeda motor tak akan cukup untuk membonceng kalian semua," lanjut Mikuo-nii. "Aku tahu Miku pernah buat janji seperti itu, tapi kurasa Miku bahkan tidak mengingatnya sampai kalian mengingatkannya tadi. Iya, 'kan, Miku?"
Aku membuang muka dari Mikuo-nii. Mikuo-nii terkekeh dan menggeplak kepalaku yang tak berdosa.
"Selama ini, Akaito selalu datang dengan sendirinya, 'kan? Seperti pahlawan kesiangan, hahaha!"
Mikuo-nii tertawa terbahak-bahak dan berhenti ketika sebuah dasi menyambit kepalanya.
"HEH! YANG PAHLAWAN KESIANGAN ITU SIAPA, PETUGAS DI BALIK LAYAR?!"
"AKAITO-NII/AKAITO-SAN?!"
Di belakang Mikuo-nii yang sedang meringis kesakitan, Akaito-nii nyengir kuda sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Kalian butuh bantuan? Aku cuma bisa sebentar di sini," ucapnya sambil mengeluarkan kunci mobil."Heh, Mikuo! Jelaskan situasinya sekarang sama mereka."
Mikuo-nii menjitak kepala Akaito-nii dengan keras, balasan karena telah menyambit kepala Mikuo-nii dengan dasi, sebelum menjelaskan situasi baru kami.
"Berita bagusnya, Io dan Kaito sudah keluar dari rumah sakit waktu kami dalam perjalanan kemari,"
Mikuo-nii menjeda penjelasannya dan menarik napas dalam-dalam.
"Berita buruknya, satu mayat anak SMA yang kondisinya masih baru dengan bermandikan darah ditemukan tak jauh dari rumah sakit dan Oliver menghilang lagi."
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Halooo!~ Arisa kembali.
Pertama-tama, saya mau bilang SELAMAT TAHUN BARU 2016! AKEMASHITE OMEDETOU!
Oh ya! Maafin saya Celestya-san karena updatenya laammmaaa sekali! /sungkem
Gimana ending di chapter depan? Plot twist kek Extra File? Ada yang bisa tebak siapa mayat yang ada di dekat rumah sakit? Ada yang tahu siapa pelaku dari kasus ini?
OH YA, MAKASIH YANG UDAH REVIEW, FAVORITE, FOLLOW! KALIAN YANG SILENT READER JUGA MAKASIH YA! (males buat balesan review, tangan saya udah capek /plak/)
CHAPTER #5 : FINAL!
.
.
.
Yagitarou Arisa, out.
