My Love Story
Disclameir : Kalau Naruto milik saya udah pasti mas tachi-kun ga bakal di bikin mati #fansmode…
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, ShikaKiba, dll.
Warning : BL, ga jelas, ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya, buat yang anti homo atau cerita buatan saya mohon jangan di baca saya sudah kasih warning ya.
a/n : ff ini sebenarnya request-an salah satu reader kimi di fandom anu tapi berhubung kimi lagi ngebet ngeramein fandom ini maka kimi jadiin versi SN dulu dengan beberapa perubahan, moga para reader berkenan membacanya sekaligus menilai ff aneh buatan kimi ^^…
Tidak suka jangan di paksakan membaca silahkan klik back aja... warning berlaku jadi No Bash.
Chapter 2
Meeting telah usai beberapa menit yang lalu, Sasuke yang saat ini sudah kembali duduk di kursi direkturnya terlihat sedang termenung namun agaknya pria berusia 28 tahun ini bukan melamunkan sesuatu yang perlu di jadikan beban terbukti dengan segaris senyum yang walau agak samar tercetak di bibirnya.
Ya,
Sasuke sedang melamunkan sosok pirang yang hampir mengganggu konsentrasinya sejak tadi pagi, sosok yang awalnya ia kira seorang gadis ternyata adalah seorang pemuda, awalnya ia berpikir jika si pirang itu gadis tomboy namun begitu melihatnya di perusahaan miliknya dengan mengenakan seragam OB barulah ia sadar jika si pirang adalah laki-laki, mengingat gelar OB itu hanya di tujukan untuk laki-laki.
"Shikamaru.'' Panggil Sasuke yang sepertinya sudah selesai dari acara melamunnya itu pada asistentnya.
''Ya, ada apa?"
''Berikan aku data OB yang baru masuk kerja hari ini.'' Titahnya. Shikamaru mengerutkan keningnya sedikit tak paham, untuk apa bosnya meminta data OB baru.
''Baiklah tunggu sebentar.''
Shikamaru keluar dari ruang sang direktur tak lama berselang ia pun kembali dengan sebuah map di tangannya.
''Ini.'' Shikamaru menyodorkan map tersebut yang tentu saja langsung di raih Sasuke dengan wajah sumringah, hal yang jarang terlihat di mata mirip biji kuaci Shikamaru.
'Oh, jadi namanya Uzumaki Naruto.' Batinnya saat membaca data diri si pirang sang pencuri hatinya.
.
.
Jam menunjukan pukul 12.00 menandakan waktu istirahat bagi seluruh pegawai telah tiba, Naruto dan Kiba berjalan keluar dari kantor menuju area parkir yang kata Kiba adalah tempat di mana ia selalu menghabiskan waktu istirahatnya sambil memakan bekal tentunya.
Kedua pemuda bersahabat itu kini duduk di salah satu tembok pembatas yang ada di area parkir dan terhalang oleh beberapa mobil, di bukanya bekal makanan yang mereka bawa dari rumah masing-masing.
"Wah bekalmu banyak sekali Naru." Kiba memandang bekal yang di bawa sahabatnya dengan mata berbinar karena isi bekal milik Naruto sangat banyak dan sangat lezat juga tentunya, berbeda dengan dirinya yang hanya cukup untuknya saja.
"Salahkan Kaa-san yang memasukannya terlalu banyak, dan aku harus menghabiskan semuanya." Ujarnya, sambil membayangkan pipinya yang lumayan cubby menjadi bertambah cubby kalau terus mendapat bekal berlebihan dari kaa-sannya, maklum tubuhnya ini kan rawan ehemgendutehem makanya selama ini Naruto selalu mengatur asupan makannya agar tidak terlalu berlebihan.
"Kalau tidak habis untukku saja." Ucapan Kiba terdengar seperti dewa penolong untuknya, dengan wajah berbinar Naruto tanpa sungkan langsung membagi jatahnya.
"Arigatou Kiba, aku merasa tertolong, karena jika tidak habis kaa-san pasti akan sedih." Katanya seraya bernafas lega, sedangkan Kiba hanya tertawa geli, tidak merasa aneh jika mendengar kalimat itu dari mulut sahabatnya karena ia sendiri pernah menyaksikan Kushina pernah menangis sambil berceramah karena sang anak mengabaikan bekal yang di bawanya atau lupa menghabiskannya.
Sementara itu di area parkir Sasuke sedang berjalan menuju kearah mobil ferrari berwarna biru tua miliknya, wajahnya yang selalu terlihat datar namun tetap menjadi dambaan setiap wanita ataupun pria uke berstatus single di luar sana, pesona sang Uchiha memang sangat luar biasa membuatnya menjadi rebutan para wanita yang mengaku sebagai fansnya.
Ketika pria tampan itu hendak membuka pintu mobilnya samar-samar ia mendengar sebuah percakapan dari arah belakang mobilnya, perlahan ia mengendap menghampiri asal suara, tiba di belakang mobilnya Sasuke agak terkejut dengan pemandangan di depannya, oh ternyata suaranya dan juga temannya, batin Sasuke saat tahu jika orang yang sedang berbicara itu adalah OB baru di perusahaannya, sedikit tertarik dengan apa yang mereka lakukan di tempat parkir Sasuke langsung menyapa keduanya.
"Ehem." Dehemnya mengalihkan perhatian dua sahabat itu padanya, sontak keduanya pun menoleh.
"Eh, pak direktur Uchiha. Sedang apa di sini?" tanya Kiba berbasa-basi sedangkan Naruto langsung melongo di tempat.
''EEHHHH, KK-KAU, orang yang waktu itu.'' Teriak Naruto dengan telunjuk yang menunjuk tak sopan pada Sasuke.
''Naru, jangan begitu. Dia adalah pemilik perusahaan kau bisa di pecat jika berbicara tak sopan padanya.'' Bisik Kiba memperingatkan yang membuat Naruto makin menganga.
Raut wajah Naruto berubah pucat dan ketakutan, ia memang tahu nama pemilik perusahaan tempatnya bekerja namun ia tidak tahu seperti apa wajahnya dan ia sama sekali tak menyangka jika pria yang bertengkar dengannya di pagi kemarin itu adalah sosok pemilik tempatnya bekerja sekarang.
''Ma,,maafkan, sa,,saya Uchiha sama.'' Ucapnya dengan nada gugup, ia lalu membungkukan badannya.
''Hn.'' Hanya itu yang Naruto dapat sebagai jawabannya.
Naruto menahan diri untuk tidak meledak di tempat karena bagaimanapun juga sosok raven di depannya adalah bosnya, ia tidak mau karena amarahnya yang selalu meledak dengan mudah itu ia di pecat begitu saja sedangkan ia belum ada satu hari bekerja disana.
''Kami minta maaf Pak direktur, jika anda merasa terganggu kami akan segera pindah.''
''Hn, tidak perlu. Teruskan saja.'' Ucapnya datar lalu pergi meninggalkan keduanya, Sasuke masuk kedalam mobil miliknya dan tak lama mesin mobil terdengar di nyalakan lalu perlahan melaju menjauhi kedua sahabat itu.
Kiba dan Naruto kembali bernafas lega karena berpikir akan di larang makan bekal disana, dengan penuh semangat Naruto dan Kiba memakan bekal di tangan masing-masing.
Jam istirahat telah usai, seluruh pegawai di Sharingan Corp memulai aktivitas mereka kembali, begitu pula dengan Naruto yang kini memulai tugasnya kembali sampai waktu pulang tiba.
.
.
Itachi masih duduk dengan manis diatas jok motor berukuran besar miliknya menunggu aniki cantiknya pulang, ia sengaja membawa mantel berwarna orange yang merupakan warna favorit anikinya agar tak kedinginan saat motornya melaju.
"Tachi, sudah lama menunggu?" tanya sebuah suara halus, Itachi menoleh dan mendapati sosok cantik Naruto berjalan mendekatinya, sudah keluar ternyata, pikirnya.
"tidak, aku baru tiba 7 menit yang lalu." Jawabnya seraya menyerahkan mantel tebal berwarna orange pada Naruto.
Naruto menerima mantel itu dan langsung memakainya, udara memang mulai terasa dingin karena mulai menjelang malam, "Arigatou, Tachi.'' Ucapnya yang di balas dengan surai pirangnya yang di acak-acak oleh adiknya.
"Ayo naik." Perintahnya, Naruto mengangguk lalu menaiki motor milik sang adik dengan kedua tangan yang langsung melingkar di perut adiknya.
Di kejauhan tepatnya di dalam sebuah mobil ferrari berwarna biru tua, Sasuke memperhatikan keduanya dengan sorot mata yang penuh emosi, ia cemburu dan tidak rela pujaan hatinya berboncengan dengan seseorang apalagi Naruto selalu menebar senyum lembut pada pemuda tinggi berambut raven panjang yang diikat dibagian tengahnya itu.
Buk
Dengan sekuat tenaga Sasuke memukul stir mobilnya, ia merasa kecolongan seharusnya ia yang mengantar Naruto pulang bukan pemuda jangkung itu dengan tanda lahir mirip keriput itu, "Sial! Siapa orang itu? Berani sekali dia." Umpatnya, lalu sedetik kemudian ia menyeringai.
"Akan ku dapatkan kau, bagaimanapun caranya." Tekatnya, di nyalakannya mesin mobilnya lalu mulai menjalankannya.
.
.
"Kaa-san kami pulang~" sebuah seruan dari arah pintu masuk membuat sosok yang di panggil kaa-san itu keluar dari dapur dan menghampiri 2 putranya.
"Sudah pulang nak? Naru, bagaimana hari pertamamu bekerja?" tanya Kushina langsung.
"Lancar Kaa-san." Jawab Naruto, Kusina tersenyum lembut lalu mengusap surai pirang putra sulungnya.
"Kaa-san senang kau lancar dalam melakukan semua pekerjaanmu. Ah apa bekal dari kaa-san kau habiskan?" tanya Kushina dengan senyum super manis, di raihnya kotak bekal di dalam tas milik Naruto lalu membuka tutupnya, Kushina tersenyum lega karena melihat isi kotak bekal putranya kosong tidak tersisa sebutir pun.
"Aku menghabiskannya sendiri kaa-san." Jawabnya kaku.
"Kaa-san senang kau mau makan banyak lagi, Naru." Naruto hanya tersenyum canggung pasalnya ia merasa bersalah karena sudah berbohong pada kaa-sannya, bekalnya memang habis tapi karena ia bagi 2.
"Ya~, ah aku mau kekamar dulu kaa-san." Ucapnya lalu bergegas menuju kamarnya.
.
.
Sasuke menggerak-gerakan tubuhnya dengan gelisah di tempat tidur, ia tidak mengerti padahal beberapa menit yang lalu ia sangat yakin jika ia sudah mengantuk berat, tapi entah saat dirinya mulai merelaxkan pikirannya lalu berusaha memejamkan matanya, tiba-tiba saja rasa kantuk itu hilang dan berubah menjadi perasaan gelisah.
Sasuke mengubah posisinya yang semula terlentang menjadi menyamping, di pejamkannya matanya erat dan berusaha untuk masuk kealam mimpi, namun sedetik kemudian posisinya berubah seperti semula.
"Sial, semua ini gara-gara aku melihat kejadian sore tadi." Umpatnya kesal, ya Sasuke sebenarnya gelisah karena rasa cemburunya pada saat sang pujaan hati di bonceng seseorang tadi sore belum juga hilang.
"Tidak boleh, kau tidak boleh di miliki siapapun." Gumamnya seraya tersenyum getir, kedua lengannya mencengkram selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
.
.
Naruto sudah bersiap-siap akan mengepel lantai di ruangan direkturnya yang menjadi tugasnya hari ini, di raihnya seember air dan sebuah alat pel kemudian ia bergegas masuk kedalam lift yang menuju lantai 7.
Ting
Lift terbuka menandakan si pirang sudah sampai, ia keluar dan hendak menuju ruang direktur yang akan di pelnya, sedikit gugup sebenarnya mengingat awal pertemuannya dengan sang direktur sangatlah buruk, Naruto khawatir ia akan di kerjai oleh sang direktur ketika ia melaksanakan tugasnya sekarang.
"Naruto~!" sebuah seruan atau lebih tepatnya lengkingan dari sang sahabat membuatnya harus berhenti sebelum sampai di ruangan sang direktur Uchiha.
"Ada apa Kiba?" tanya Naruto malas, sejak kemarin sahabatnya ini selalu saja menggodanya dan bertanya-tanya soal awal pertemuannya dengan direktur Uchiha.
"Naru, tidakkah kau ingin bercerita pada sahabatmu ini?" ucapnya dengan nada meminta, Naruto memutar bola matanya.
"Cerita apa?" ketusnya.
"Aishhh, ya tentang yang kemarin itu Naru, bagaimana awal pertemuanmu dengan Uchiha sama, aku sangat penasaran dan lagi sepertinya ia tertarik padamu.'' Tukasnya yang membuat Naruto mendengus.
"Dengar Kiba bagaimanapun awalnya kami bertemu itu sama sekali tidak penting, dan soal dia tertarik padaku aku sama sekali tidak peduli padanya, di sini aku bekerja bukan untuk mencari perhatian, lagipula aku merasa risih dengan pandangannya." Naruto mengibas-ngibas tanganya di depan wajah Kiba.
"Bhuu, kau sungguh menyebalkan. Eh ngomong-ngomong kau mau mengepel di ruangan Uchiha-sama ?" tanya Kiba.
"Ya, memangnya kenapa?" Naruto balik bertanya.
"Tidak, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu saja sebelumnya." Raut wajah Kiba berubah serius.
"Apa itu?"
Kiba mencondongkan tubuhnya lalu mendekatkan bibirnya ketelinga Naruto, "Berhati-hati saja Naru, dari cerita yang ku dengar dia itu selalu tertarik pada tipe pemuda sepertimu." Bisiknya sambil sesekali menengok kiri dan kanannya takut jika ada yang mendengarnya.
"Khe, kalau soal itu kau tidak perlu khawatir, kau tidak ingat jika aku ini juara karate saat di sekolah dulu." Ucapnya sedikit membanggakan dirinya, Kiba sweatdrop memang sih sahabatnya itu pandai bela diri ketika di sekolah tapi tetap saja jika lawannya adalah direkturnya yang berbadan 2 kali darinya itu Kiba sedikit merasa ragu.
"Tapi tetap sa-.."
"Ehem, ini bukannya sudah jam kerja. kenapa kalian malah mengobrol?" ucap sebuah suara bariton yang khas mengintrupsi dua sekawan itu, Kiba menoleh dan langsung nyengir gaje kala melihat sosok direkturnya yang kini berjalan hampir mendekat kearah mereka dengan tatapan tak suka dari kedua mata onyxnya.
"Ehehehe Uchiha-sama, ah ya kalau begitu saya permisi." Ucapnya sambil berlalu melewati Sasuke, sedang Naruto ia tak mau ambil pusing ucapan sahabatnya pemuda pirang itupun masuk kedalam ruangan milik Sasuke untuk melaksanakan tugasnya.
Cklek
Pintu di buka menampakan sosok gagah berbalut jas kerja yang membuatnya terkesan elegant, seulas senyum lembut yang sangat jarang ia perlihatkan kini ia lukiskan kala melihat sosok OB yang kini tampak sibuk mengepel lantai ruangannya.
'Punggungnya begitu kecil, sepertinya sangat nyaman jika kupeluk dari belakang.' Batinnya memperhatikan sosok si pirang yang kini membelakanginya.
'Apa aku lakukan saja ya sekarang? Ah tidak, tidak, tidak, jangan sekarang tunggu waktu yang tepat, kau harus bisa menahannya Uchiha Sasuke.' Batinnya bermonolog sendiri.
"Kenapa anda masih di sana Uchiha-sama, anda tidak ingin duduk di kursi anda?" tanya Naruto, sepertinya pekerjaan mengepel lantai di ruangan Sasuke sudah selesai.
"Hn," gumamnya dengan 'hn' andalannya yang menurut Naruto tak jelas itu sambil berjalan melewati si pirang.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamitnya di raihnya ember bekas mengepelnya lalu berjalan menuju pintu hendak keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu dulu." Ucapan Sasuke menghentikan pergerakan Naruto yang akan membuka pintu yang terbuat dari kaca hitam itu.
"Ya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Naruto yang langsung menoleh pada sang direktur.
"Tolong buatkan aku kopi hitam dan jangan terlalu banyak gula." Perintahnya, Naruto hanya mengangguk lalu keluar dari ruangan tersebut.
.
Tok tok
"Permisi Uchiha-sama, kopi anda sudah siap." Ucap Naruto sambil melongokan kepalanya lebih dulu kedalam, dapat ia lihat Sasuke yang sedang sibuk berkutat dengan laptop dan beberapa berkas di meja kerjanya.
"Ah bawa kemari." Suruhnya sambil melepaskan kacamata yang biasa ia pakai untuk membaca file atau sedang mengetik di depan laptop miliknya.
Naruto menghampiri meja Sasuke lalu meletakan secangkir kopi panas yang di bawanya ke atas meja.
"Ini Uchiha-sama."
"Sasuke.''
''Eh?"
''Panggil aku Sasuke, jangan formal padaku jika kita sedang berdua.'' Katanya yang mengundang kerutan di kening Naruto.
''Tapi…''
''Turuti saja atau kau ingin aku pecat," ancamnya yang langsung membuat Naruto membulatkan kedua mata birunya.
''Er, baiklah, Sasuke. Uhm kalau begitu saya permisi dulu.'' Pamitnya, ia tak ingin berlama-lama diruangan Sasuke karena perasaan tak nyaman mulai terasa.
" Tunggu sebentar." Cegah Sasuke saat melihat Naruto yang sudah hampir mencapai pintu keluar.
"Ya, ada apalagi?" tanya Naruto.
"Jam istirahat nanti bolehkah aku makan bersama kalian?" tanya Sasuke yang lagi-lagi membuat raut di wajah manis Naruto berubah menjadi terkejut, ia berpikir sebentar lalu mengangguk.
"Ya, boleh, ada lagi?" tanya Naruto dengan nada sedikit malas karena jujur saja ia merasa hawa yang aneh jika berada dekat dengan Sasuke, sebenarnya ia ingin mengatakan tidak boleh tapi mengingat statusnya siapa dengan siapa maka mau tak mau ia terpaksa memperbolehkannya.
"Ah tidak, sudah, kau boleh keluar." Perintahnya, Naruto mengangguk.
"Saya permisi." Ucapnya lalu keluar dari ruangan milik Sasuke yang terasa pengap jika berada disana –menurutnya- lalu ia bernafas dengan lega.
.
.
"Itachi tunggu dulu, aku ingin bicara!" panggil seseorang di belakang sosok raven bertubuh jangkung yang kian lama malah menambah kecepatan langkahnya.
Itachi yang saat itu hendak pergi berbelanja ke minimarket karena di suruh oleh ibunya di cegat oleh mantan kekasihnya yang entah darimana ia bisa mengetahui posisi keberadaan pemuda raven itu.
"Itachi, kumohon kita perlu bicara!" sepertinya sosok yang terus berteriak itu tak mau menyerah dan terus memanggil sosok Itachi yang berpura-pura tak mendengar itu.
Kyuubi setengah berlari ia berusaha menggapai sosok raven itu hingga akhirnya jemarinya berhasil meraih lengan Itachi.
Itachi yang merasa ada yang menarik lengannya lantas menghentikan langkahnya, "Bukankah sudah jelas, tak ada yang perlu di bicarakan lagi."
"Tapi Itachi... aku hanya ingin menjelaskan semuanya, sebentar saja." Mohonnya dengan raut wajah penuh harap, Itachi yang merasa tak enak pada sosok di depannya mengangguk sambil menghela nafas lelah, sedangkan pemuda berambut jingga itu langsung menampakan raut sumringah.
# # #%^%^
"Itachi, semua yang kau lihat waktu itu salah paham, aku sungguh tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya." Kyuubi mencoba menjelaskan, namun sepertinya Itachi tidak terlalu menanggapi ucapan Kyuubi dengan serius.
"Lalu?" tanyanya meminta kelanjutan cerita dari sosok manis yang duduk di depannya.
"Dulu aku memang sempat di jodohkan dengannya." Jawabnya lirih, Itachi menatap sosok di depannya dengan tajam, kedua tangannya bersidekap di dada.
"Kenapa kau tidak menikah saja dengannya kalau memang kau di jodohkan dengannya." Ucap Itachi datar, Kyuubi mengepalkan tangannya yang berada di kedua pahanya, bukan ini jawaban yang di harapkannya dari sosok yang dicintainya.
"Saat itu aku menolaknya Itachi, karena aku mencintaimu." Kyuubi meninggikan nada suaranya, ia menatap marah pada Itachi yang dengan santainya mengucapkan kalimat itu.
"Lalu aku harus bagaimana lagi, orangtuamu jauh lebih menyetujui hubungan kalian bukan ketimbang dengan aku yang orangtuamu anggap masih bocah dan hanya berada di kalangan rendahan." Itachi tak kalah bernada tinggi dan sedikit kasar, Kyuubi menundukan kepalanya, memang benar kedua orangtuanya tidak pernah menyetujui hubungannya dengan Itachi itulah sebabnya Kyuubi di jodohkan.
"Kita bisa secara diam-diam berpacaran kan? aku tidak terima jika harus berpisah denganmu."
"Maaf Kyuu, tapi sejak saat itu aku sudah memutuskan jika hubungan kita sudah berakhir." Ujarnya tegas.
"Apa karena si pirang waktu itu kau tidak mau kembali padaku?" tanya Kyuubi tajam, jujur ia masih tidak percaya jika si pirang berwajah cantik yang sempat di dorongnya sampai jatuh itu adalah kakak kandung Itachi, karena selain tinggi mereka berbeda wajah mereka juga tidak mirip.
"Kyuubi! Apa yang kau katakan, dia aniki kandungku walau kami terlihat berbeda tapi kami sedarah." Teriaknya tak terima dengan pemikiran dangkal Kyuubi.
"Lalu kenapa kalian terlihat sangat mesra dan kau juga tampak possesive padanya." Kyuubi memicingkan matanya.
"Tentu saja aku sangat protectif padanya, dia selalu di ganggu ketika masih sekolah dan aku akan selalu berada di sisinya untuk melindunginya, apa itu salah." Kyuubi diam percuma berdebat dengan mantan kekasihnya, entah kenapa ia masih tidak percaya dengan ucapan Itachi, apa ini yang dirasakan Itachi ketika ia berusaha menjelaskan kejadian waktu itu.
"Tetap saja Itachi, aku tidak merasa yakin dengan ucapanmu tentangnya, kau memutuskanku pasti karena ingin leluasa berhubungan dengannya kan." Desaknya yang mengundang decakan kesal dari Itachi.
"Sudahlah, kau hanya ingin mengalihkan pembicaraan kita saja kan." Itachi berdiri lalu berjalan mendekati Kyuubi.
"Aku katakan sekali lagi padamu, hubungan kita sudah berakhir jadi jangan menggangguku apalagi sampai kau melakukan sesuatu pada anikiku." Ucapnya dengan nada sinis lalu berjalan kearah pintu keluar.
Dalam hati Itachi merutuki segala ucapannya pada Kyuubi, sungguh ia sebenarnya masih sangat mencintai sosok itu namun apa daya ia hanyalah seorang bocah kuliahan yang masih labil yang hidup dalam kesederhanaan tak ada yang cukup mampu ia berikan untuk Kyuubi kelak.
Kyuubi menatap nanar punggung Itachi yang baru saja keluar dari cafe tempat mereka mengobrol barusan di balik pintu keluar yang terbuat dari kaca tebal, hatinya sakit, sungguh bagai di tusuk ribuan jarum, airmatanya mengalir deras ingin rasanya ia bangkit lalu mengejar pemuda yang sangat di cintainya itu, namun di urungkannya kala ia mengingat kembali ucapan mantan kekasihnya yang sangat menohok jantungnya.
'Apa? apa yang harus kulakukan untuk membuatmu kembali percaya dan kembali kesisiku.' Jeritnya dalam hati, 'aku bersumpah akan membuatmu kembali padaku suatu saat nanti.' Batinnya penuh tekat seulas senyum tipis tercetak di bibir merah miliknya.
.
.
Waktu istirahat telah tiba, seluruh pegawai di Sharingan corp menghentikan sejenak aktivitas kerja mereka untuk satu jam kedepan, Naruto dan Kiba berjalan beriringan menuju area parkir yang sudah di cap sebagai tempat istirahat keduanya.
"Apa kali ini kau membawa bekal lebih lagi Naru?" tanya Kiba yang langsung di jawab anggukan dari si pirang yang kini mengeluarkan sebuah bekal berukuran lumayan besar.
"Kaa-san takan membiarkanku membawa bekal sedikit." Jawabnya.
"Kaa-sanmu sangat perhatian sekali ya." Komentar Kiba, ya dari pengalaman yang ia dapat saat berkunjung kerumah sang sahabat ia dapat melihat bagaimana Kushina begitu perhatian terhadap anak-anaknya termasuk soal asupan makanan.
"Beliau hanya tidak ingin aku sakit saja, Kiba."
"Tapi tetap saja aku salut pada Kaa-sanmu," ucap Kiba yang hanya di balas senyum manis sang sahabat.
"Ehem, bolehkah aku bergabung bersama kalian?" tanya sebuah suara, keduanya melihat kearah seorang pria tinggi berambut raven yang kini berdiri sambil menyeder pada body mobil miliknya sambil melipat lengannya di dada.
"Eh Uchiha-sama, silahkan duduk bersama kami." Ucap Kiba dengan nada kaku, dalam hati ia bertanya-tanya kenapa seorang direktur sepertinya mau bergabung bersama pegawai yang berjabatan rendah seperti ia dan sahabatnya.
Sasuke mendekat kearah Naruto lalu duduk di sisinya, "Kau tak keberatankan jika aku duduk disini?" tanya Sasuke, Naruto hanya mengangguk kecil, dalam hati ia merasa gelisah melihat tatapan Sasuke padanya entahlah Naruto selalu merasa jika tatapan itu selalu membuatnya merasa terintimidasi seolah berkata 'kau takan bisa lari dariku'.
"Anda tidak membawa bekal?" tanya Naruto.
''Tidak,"
''Jika anda mau silahkan makan bekalku, kita bisa makan bersama-sama.'' Seakan di beri lampu hijau, Sasuke dengan semangat dalam hatinya mengangguk.
Waktu istirahat berakhir, setelah menghabiskan bekal yang di bawanya Naruto berdiri dan bermaksud kembali bekerja sedangkan Kiba sudah berjalan lebih dulu.
Grep
Naruto merasa ada yang menahan lengannya ia lalu menoleh pada sang pelaku.
"Sasuke, saya harus kembali bekerja." Ucapnya sedikit menahan nada jengkel.
"Jangan dulu pergi, ada yang ingin kukatakan padamu." Cegahnya.
"Apa?"
"Sore nanti aku ingin mengantarmu pulang." Katanya mengutarakan keinginannya untuk mengantar sang pujaan hati kerumahnya sekaligus ia ingin tahu di mana sang pujaan hati tinggal.
"Maaf, tapi saya sudah ada yang menjemput." Ucapnya menolak halus ajakan Sasuke, raut kecewa terukir di wajah tampan Sasuke baru kali ini ada yang menolak ajakannya, biasanya baik wanita atau pun pria berwajah manis tak pernah ada yang berani menolaknya, dan si pirang di depannya ini sudah berani menolak ajakannya secara terang-terangan dengan raut tak suka di wajah manisnya dan hal itu menumbuhkan rasa penasaran tingkat tinggi dalam diri seorang Uchiha Sasuke.
'Ini sangat menarik, kau membuatku semakin penasaran.' Batinnya, sebelah tangan Sasuke terangkat meraih dagu Naruto, entah setan apa yang merasukinya sehingga secara spontan ia mencium Naruto tepat di bibirnya.
Naruto terbelalak tidak menyangka dengan ciuman mendadak ini apalagi pria tampan itu mulai melumat bibirnya secara kasar, Naruto berusaha meronta di dorongnya sekuat tenaga tubuh kekar di depannya, namun jangankan terdorong menjauh sesenti pun tidak, kotak bekal bergambar kodok orange milik Naruto terjatuh dan hal itu menjadi kesempatan Sasuke untuk mengunci pergerakannya.
"Nnnnhhh, sa..sukehhh..nnn.. hen..tikan..." ucapnya di sela ciuman panasnya dengan Sasuke, namun bukannya berhenti Sasuke justru malah memperdalam ciumannya, gairahnya terbakar karena mendengar desahan Naruto yang entah sejak kapan posisinya sudah berada di bawah tindihan tubuhnya besarnya.
"Kau sungguh menggairahkan." Bisiknya seduktif membuat bulu kuduk Naruto merinding seketika, Sasuke melepas ciumannya di bibir lalu beralih menuju leher jenjang Naruto.
"Cukup saya harus kembali bekerja." Ucapanya, seolah tuli Sasuke malah terus melakukan aksinya di area perpotongan leher Naruto, menjilat lalu menghisapnya kuat-kuat hingga meninggalkan bekas merah keunguan.
"Aku mencintaimu, jadilah milikku." Ucap Sasuke, kedua iris biru Naruto membola, apa katanya tadi Sasuke menyatakan cinta padanya, hei Naruto masih normal ingat dan walaupun ia harus menyimpang tapi ia takan mau pada sosok pria yang sedang menindihnya ini.
"Maaf, tapi saya masih normal." Sasuke mengeram kesal, di lepaskan cengkraman tangannya yang mengunci kedua lengan Naruto hingga posisi keduanya terduduk di atas aspal.
"Huh, normal katamu. Sayangnya aku tak peduli."
"Sasuke-sama, tidakkah anda sadar dengan ucapan anda?"
"Sadar, bahkan sangat sadar." Ucapnya dengan nada santai dan tanpa rasa ragu, Naruto menatap Sasuke dengan penuh amarah entah sadar atau tidak sebuah tamparan melayang di pipi mulus sang Uchiha yang putih dan halus tanpa cacat itu.
Plak
Wajah Sasuke terhempas kearah samping dengan cap tangan berwarna merah dipipinya, tamparan Naruto sangat keras dan mampu membangkitkan emosinya.
Onyx sekelam malam milik Sasuke menatap mata biru milik Naruto dengan tatapan mengancam di raihnya belakang kepala Naruto lalu di dekatkan kearahnya.
"Kau akan menerima hadiah dariku atas tamparanmu ini, sayangku." Ucapnya lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Naruto yang kini bergetar menahan takut, ya ia sungguh ketakutan sekarang.
Naruto berdiri lalu berjalan kearah pintu belakang gedung perusahaan dengan perasaan campur aduk, sapaan Kiba tak ia hiraukan karena yang ada di pikirannya saat ini adalah cepat-cepat pulang kerumahnya.
.
.
Senja mulai menyingsing langit-langit mulai berubah warna menjadi jingga, Itachi duduk di atas motornya dengan setia sambil menunggu aniki cantiknya keluar dari gedung.
"Tachi!" panggil Naruto.
Itachi menoleh dan mendapati sosok Naruto yang berjalan dengan cepat kearahnya, 'tidak biasanya Naru-nii tergesa-gesa seperti di kejar setan begitu' batinnya melihat keanehan dari Naruto.
"Naru-nii kau kenapa?" tanya Itachi heran.
Naruto tak mengubris dan malah langsung naik keatas motor Itachi.
"Jangan banyak bertanya, cepat nyalakan mesinnya lalu kita cepat pulang sekarang." Titah Naruto dengan wajah galak yang sebenarnya malah membuat Itachi gemas.
"Maa~ maa~, baiklah anikiku yang cantik." Balasnya sambil menyalakan mesin motornya, dalam hati ia asih bertanya-tanya ada apa dengan anikinya itu sehingga bersikap aneh seperti sekarang, tanpa di ketahui keduanya sebuah mobil ferrari berwarna biru tua mengikuti laju motor yang di tumpangi keduanya dari belakang.
Tbc
Sebelum saya ngilang untuk waktu yang lama saya sempatkan update ini dulu.. sebenarnya saya kurang pede update part ini, kalau banyak kesalahan tolong di maafkan coz saya hanya author numpang lewat disini...
Makasih buat yang udah kasih respon buat ff saya maaf kalau saya ga bales reviewnya coz rata-rata pertanyaanya sama,, makanya saya akan kasih jawabannya sekaligus..
Q : Kenapa itachi jadi adiknya naru?
A: jawabannya ada di part 4 Xd
Q : kalau itachi jadi adiknya naru berarti sasu anak tunggal?
A : ufufufufufu gimana yeaaaahhh.. jawabannya sama di part 4..
Q : naru itu cewe atau cowo?
A : naru cowo kok pan udah ada di warning depan kalo ini cerita homo XD
Sekali lagi saya mau bilang banyak-banyak terima kasih buat para reader dan selamat hari raya Idul Adha ya,,,,^o^/
