My Love Story
Disclameir : Kalau Naruto milik saya udah pasti mas tachi-kun ga bakal di bikin mati #fansmode…
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, ShikaKiba, dll.
Warning : BL, ga jelas, ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya.
a/n : ff ini sebenarnya request-an salah satu reader kimi di fandom anu tapi berhubung kimi lagi ngebet ngeramein fandom ini maka kimi jadiin versi SN dulu dengan beberapa perubahan, moga para reader berkenan membacanya sekaligus menilai ff aneh buatan kimi ^^…
Tidak suka jangan di paksakan membaca silahkan klik back aja... warning berlaku jadi No Bash.
Chapter 3
Pagi di hari minggu mulai tiba langit di pagi itu tampak berwarna abu-abu atau istilah lainnya mendung, ya pagi hari ini tak secerah biasanya, mendung dan mungkin akan turun hujan.
Seorang pemuda manis berambut pirang jabrik tampak masih asik bergelung dalam balutan selimut tebal dan hangat miliknya seolah tak berniat untuk bangun dari tidur cantiknya.
Tak jauh dari ranjangnya, seorang pemuda berambut raven panjang yang kini tak di ikat juga tampaknya tak mau kalah dari aniki cantiknya, bahkan posisi tidurnya yang tak layak di lihat itu sangat meyakinkan jika ia memang masih berada di alam mimpi.
Cklek
Pintu kamar duo Uzumaki sulung dan bungsu itu di buka oleh sosok cantik yang merupakan Kaa-san keduanya, kepala bermahkotakan surai semerah darah itu menggeleng pelan sambil seulas senyum lembut terlihat di bibir manisnya saat melihat kedua putranya masih tertidur tanpa ada niat untuk bangun, padahal ia sudah menyiapkan sarapan lezat untuk sarapan mereka bertiga.
"Naru-chan, Ita-chan. Bangun, ini sudah pagi, mau sampai kapan kalian akan tertidur heum." Panggil Kushina, membangunkan kedua putranya, sesaat terlihat pergerakan kecil dari si bungsu, hanya bergerak sebentar lalu diam kembali, membuat Kushina menghela nafas pelan.
"Naru-chan, Ita-chan ayo cepat bangun," panggilnya sekali lagi masih bernada lembut.
"Masih ngantuk kaa-san~," Jawab keduanya kompak dengan nada khas orang setengah tidur.
"Tapi sebentar lagi pukul 8, kalian harus sarapan pagi dulu." Kushina mencoba sedikit bersabar membangunkan anak-anaknya yang dari dulu memang tidak berubah jika hari minggu pasti akan sulit untuk di bangunkan dengan alasan hari libur dan keduanya butuh istirahat lebih.
"Hiks... hiks... anak-anakku tidak sayang lagi padaku.. hiks padahal aku sudah menyiapkan hidangan yang spesial untuk mereka tapi.. hiks.. tapi..." Kushina mulai mengeluarkan jurus andalannya yaitu airmata buaya yang terdengar pilu dan menyayat hati.
"Oke, oke, aku bangun... jadi berhentilah menangis oke." Itachi yang masih setengah mengantuk bangkit dari ranjangnya lalu berjalan mendekati Kushina, sementara Naruto seolah sudah kebal ia tetap pada posisinya.
"Anikmu.." Kushina menunjuk Naruto yang masih berada di balik selimutnya, Itachi menoleh lalu mendekati ranjang anikinya, sebuah seringai jahil muncul di bibirnya.
Hup
Itachi menarik selimut bergambar rubah milik Naruto lalu menggendongnya ala bridal lalu berjalan menghampiri Kushina, Naruto terhenyak kaget seketika ia membuka kedua matanya yang memperlihatkan iris birunya yang kini membola.
"Kekekeke... Kaa-san tercantik kami sudah bangun." Ucap Itachi sambil tertawa iblis melihat raut kaget aniki cantiknya.
"KYAAAA! UZUMAKI ITACHI! LEPASKAN AKU!" Sebuah teriakan cempreng yang menggelegar akhirnya terdengar di kamar kakakberadik Uzumaki itu diiringi tawa evil yang masih setia terdengar dari mulut sang adik.
.
Naruto makan sambil mulutnya masih menggerutu tak jelas, merutuki sikap adik laki-lakinya yang tak berubah jika ia sulit di bangunkan, ya Itachi memang tak akan segan menggendong dirinya bak pengantin lalu membawanya ke meja makan, dan yang membuatnya lebih sebal adalah kaasannya yang malah tertawa dan tak membantunya ketika ia menceramahi sang adik.
"Naru-nii hari ini jadi jalan-jalan ke game center kan?" tanya Itachi.
Naruto tak menyahut bibirnya masih manyun sambil mengunyah makanannya yang membuatnya tampak imut dengan pipi cubynya yang mengembung.
"Ni-san~," Itachi memanggil anikinya yang sedari tadi diam tanpa menoleh ataupun menyahut.
Nyut
"Ittai! Sakit Itachi, huh." Protes Naruto saat merasakan pipi bergaris kumis kucing miliknya di cubit dan di tarik dengan gemas oleh sang adik.
"Siapa suruh cuek padaku." Ucap Itachi dengan nada di buat merajuk.
Kushina tersenyum hangat sambil memperhatikan tingkah laku kedua putranya.
"Itukan salahmu yang seenaknya padaku." Sinisnya tak mau kalah.
"Tapi tadi kaa-san tercantik menangis sehingga aku merasa tak tega, nii-san cantik." Ucapnya mendramatis, Naruto memutar bola mata birunya, sungguh Itachi itu polos atau memang lebay masa airmata buaya khas artis amatiran dari kaa-sannya saja dipercaya, sementara di sebrang meja sana Kushina tampak terkikik melihat tingkah lucu anak-anaknya.
"Naru-nii~, ayolah nii-san, kita jadikan ke game centernya?" dengan helaan nafas pasrah Naruto mengangguk, tak lama terdengar gebrakan di meja dan teriakan penuh semangat dari sang adik.
.
.
Tepat pukul 9 pagi kedua pemuda bersaudara itu tiba di sebuah tempat yang merupakan dunianya para pecinta game, dari mulai game anak-anak sampai dewasa pun ada bisa di bilang tempat itu adalah gudangnya game terbesar yang berada di konoha, hampir semua permainan ada bahkan tempatnya pun memiliki beberapa lantai di mana hampir semua lantai adalah area game, hanya lantai dasar saja yang ada minimarket dan cafe kecil di dalamnya untuk orang-orang membeli makanan atau beristirahat disana.
"Tachi, kau bermainlah sendiri, aku akan menunggu di cafe." Kata pemuda pirang itu pada sang adik, Itachi merengut sebal, aniki cantiknya walau mau ia ajak ke game center tapi enggan untuk memainkan permainan yang ada di sana.
"Baiklah, nanti setelah aku puas aku akan menyusul nii-san." Ujarnya meng'iya'kan, Naruto mengangguk lalu berbalik arah, "Awas, jangan berpacaran tanpa sepengetahuanku." Serunya dengan nada sedikit mengancam, membuatnya hampir menjadi pusat perhatian karena ada beberapa orang yang menoleh mendengar teriakan Itachi.
Naruto memilih tak acuh dengan tingkah konyol sang adik, wajahnya merah menahan malu, apa-apaan adiknya berkata seperti itu, ck dasar.
# # #
Naruto memperhatikan Itachi yang sedang asik bermain basket game, sudah puluhan kupon yang keluar dari mesin game yang siap ia tukarkan dengan apa saja karena kemahirannya memasukan bola kedalam ring dengan tempo cepat, puas dengan game basket pemuda jangkung itu kini beralih ke game dance, Naruto yang tertarik langsung bangkit berdiri dan menghampiri adiknya.
"Boleh aku ikutan, sepertinya menarik." Ucapnya, Itachi sempat melongo lalu biasa kembali.
"Ah ya, tentu saja. Uhmm Naru-nii suka menari?" tanyanya.
"Ya, aku suka." Jawabnya.
Naruto dan Itachi menari dengan lincahnya seolah sudah hapal dengan gerakan tarian tersebut, pijakan kakinya di arah panah yang tertera di layar pun tak pernah salah dan selalu pas.
"Naru-nii, ternyata kau sangat mahir juga ya." Puji Itachi seraya bertepuk tangan.
"Aku hanya mengikuti arah panahnya saja." Ujarnya.
"Tapi tetap saja kau pintar." Katanya kagum, permainan terus berlanjut sampai keduanya merasa lelah dan memustuskan untuk berhenti.
"Tachi, sudah hampir sore, ayo kita harus segera pulang." Ajak Naruto yang dibalas anggukan sang adik.
"Tapi kita harus menukar kupon ini dulu, Naru-nii." Ucapnya seraya memperlihatkan kupon-kupon di tangannya yang jumlahnya tak sedikit itu, Itachi berjalan ketempat penukaran.
"Naru-nii, boneka ini untukmu." Katanya sambil menyerahkan sebuah boneka rubah orange dengan ekor sembilan berukuran sedang pada Naruto.
"Benarkah, arigatou Tachi." Ucapnya dengan iris birunya yang berbinar, di peluknya boneka rubah itu.
"Kau akan kuberi nama Kitsune." Katanya pada boneka itu, Itachi hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah kekanakan anikinya.
.
.
Sore kini berganti malam, kedua kakak beradik Uzumaki itu tiba di depan rumah mereka, Kushina menyambut kedatangan kedua anaknya.
"Sudah puas bermainnya anak-anakku?" ucap sang Kaa-san di depan pintu dengan wajah di buat kesal, kedua matanya memicing tajam pada kedua anaknya.
"Hehehe, maaf Kaa-san tadi kami keasikan bermain hingga lupa waktu." Kata Itachi memberi alasan, Kushina terlihat tidak percaya begitu saja.
"Keasikan bermain sampai lupa makan siang, eh." Cibirnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kami tidak lupa makan siang kok kaa-san." Sangkal Naruto, Kushina masih tak percaya dengan alasan kedua anaknya wanita itu terus memberikan tatapan intimidasi pada keduanya.
''Tapi tetap saja kalian sudah membuat kaa-san khawatir, maka dari itu kalian akan kaa-san beri hukuman.'' Ucapnya dengan seringai bak iblis dari neraka.
Glup
Itachi dan Naruto menelan ludah gugup, jika sudah berbicara hukuman maka keduanya tak bisa menolak ataupun lari dari amukan Kushina.
''Err, kaa-san, se..sepertinya aku harus segera ti..tidur, karena besok aku harus bekerja, jadi jika ingin menghukum,"
Buk
Naruto mendorong tubuh adiknya bermaksud mengumpankan sang adik, ''Silahkan hukum anak bungsu kaa-san.'' Lanjutnya, tubuh kecil itu dengan gesitnya melewati Kushina, sedangkan Itachi yang menjadi korban mematung di tempatnya.
Raut wajah Kushina berubah mengerikan dengan sekuat tenaga wanita bersurai merah itu berteriak memanggil anak sulungnya yang kini sudah bersembunyi di balik selimutnya sambil memeluk boneka rubah pemberian Itachi.
.
.
Pagi mulai menjelang Naruto mengendap-endap keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi, tampaknya pemuda manis ini takut di amuk kaa-sannya karena kejadian semalam.
Langkah kakinya sudah akan mencapai pintu dan tinggal sedikit lagi ia akan membukanya, sedikit lagi, sedikit lagi, batinnya yang bagaikan merapalkan sebuah mantra.
''EHEM, sudah mau pergi, N a r u-chan?" dehem Kushina menghentikan aksi anak sulungnya yang berniat pergi diam-diam.
Glek
Naruto menelan ludahnya, raut wajahnya berubah pucat saat mendengar suara kaa-sannya yang lebih mirip malaikat pencabut nyawa itu, dengan gerakan patah-patah ia menoleh kearah Kushina.
''Ehehehe, kaa-san, uhmmm aku harus berangkat pagi-pagi sekali hari ini.'' Jawabnya gugup, perlahan ia mundur sambil memutar knop pintu rumahnya.
''Kau tidak boleh pergi sebelum membawa bekal makanmu, N a r u-chan.'' Ucap Kushina dengan nada yang sangat lembut, yah saking lembutnya hingga bulu di tengkuk pemuda pirang itu berdiri.
''Ta..tapi…"
''Bawa bekalmu atau kau tidak akan ku ijinkan masuk kerja hari ini, kau dengar." Ucap Kushina dengan mode rambut berkibar mirip ekor sembilan boneka rubahnya.
''Hieeee,"
.
.
Naruto berjalan dengan wajah merana menuju halte bis yang tak jauh dari rumahnya, setelah mendapat ceramah dan jitakan kasih sayang dari Kushina akhirnya ia bisa keluar dari dalam rumahnya untuk bekerja.
Naruto sebenarnya sedikit malas datang ke Sharingan corp setelah kejadian tempo hari itu, namun ia tak boleh bersikap pengecut hanya karena sedikit bermasalah dengan bosnya.
Sebuah mobil ferrari berwarna biru tua datang dari arah yang berlawanan, mobil itu berhenti tepat di sisi Naruto.
''Ayo naik.'' Ucap orang itu, Naruto tak merespon ia masih menatap tak percaya sosok dalam mobil itu.
''Darimana anda bisa tahu arah jalan kerumah saya?" tanya Naruto setelah sadar dari kekagetannya.
''Hn.'' Balas sosok itu tak jelas, Naruto mengeram kesal, tak di pedulikannya sosok Sasuke ia pun bergegas melanjutkan perjalanannya menuju halte.
''Naiklah, ada yang ingin kubicarakan.'' Ucapnya, langkah kaki si pirang terhenti, ia menoleh pada pria berambut raven itu.
''Maaf tapi jika ingin berbicara dengan saya, anda bisa menemui saya di kantor anda.'' Tolak Naruto tegas, ia tak ingin jika harus sau mobil dengan pria raven itu karena ia selalu merasakan hawa tak nyaman jika melihat sosok itu di dekatnya.
''Kubilang naik, atau kau tak perlu datang ke perusahaanku selamanya.'' Ancam Sasuke serius, Naruto menatap onyx itu penuh rasa tak suka, apa-apaan ucapannya itu? Jangan karena ia pemilik perusahaan ia bisa berbuat semaunya.
''Aku serius Uzumaki Naruto.'' Ucapnya sekali lagi.
''Darimana anda tahu nama saya?" 'Naruto no baka, tentu saja dia pasti sudah tahu' batinnya memaki dirinya sendiri.
''Itu hal yang mudah, aku hanya tinggal meminta datamu saja, dasar dobe.''
''Siapa yang kau sebut dobe, dasar teme kurang ajar.'' Keluar sudah amarah yang di tahan si pirang sejak kejadian tempo hari itu.
''Menurutmu di depanku ada siapa lagi selain kau.''
''Grrrr…teme,,,"
''Cepatlah naik dobe, ini pembicaraan penting.'' Naruto menghela nafas lelah, percuma berdebat dengan bosnya yang tampak keras kepala sama seperti dirinya itu, daripada mengundang perhatian orang-orang sekitar dengan terpaksa ia masuk kedalam mobil milik bosnya.
.
.
"Jadi pembicaraan apa yang ingin kau ucapkan Sasuke teme-sama?" tanya si pirang tanpa basa-basi.
''Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian saat itu.'' Ucapnya, Naruto sedikit tercengang karena menurut mulut ember sahabatnya, Sasuke Uchiha sang pemilik perusahaan bukan orang yang mudah meminta maaf.
''Kupikir anda orang yang berharga diri tinggi sehingga tak akan mudah meminta maaf seperti awal kita bertemu.'' Cibir si pirang, si raven tak memberi respon yang berarti, ia bahkan tak menunjukan raut tersinggung atau marah.
''Bagaimana dengan dirimu sendiri. Apa kau juga berharga diri tinggi? Kalau begitu katakan padaku seberapa tingginya harga dirimu itu agar aku bisa mengukurnya.'' Urat kemarahan tercetak di dahi si pirang, ucapan bosnya itu sungguh membuatnya merasa terinjak-injak.
''Kau pikir aku ini orang semacam apa?!" sentaknya, ia tak peduli lagi jika orang di depannya adalah atasannya, jika memang ia harus di pecat ia pun takan peduli.
''Jika aku boleh berkata jujur, aku sebenarnya sangat tertarik padamu. Sejak aku mulai mengamati dirimu aku baru sadar kau memiliki sesuatu yang membuatku begitu ingin memilikimu, mengurungmu di rumahku atau sekalian kurantai dirimu agar tak bisa kabur dariku.'' Penjelasan panjang lebar dari sang Uchiha tak ayal mengundang kemarahan dari si pirang, tangan berkulit tan itu terangkat keudara dan tanpa pikir panjang sebuah tamparan pun ia layangkan pada sang Uchiha.
Plak
Lagi, seorang Uchiha Sasuke harus merasakan yang namanya tamparan dari orang yang sama, beruntung mobil itu masih belum melaju.
''Kau gila!" teriaknya, Naruto tak mengerti apa yang dilihat darinya sehingga bosnya terlihat begitu terobsesi padanya, ia jadi teringat ucapan sahabatnya tentang Uchiha di sampingnya itu.
''Berhati-hati saja Naru, dari cerita yang ku dengar dia itu selalu tertarik pada tipe pemuda sepertimu.''
'Apa ini yang dimaksud oleh Kiba.' Batin Naruto.
''Katakan saja jika aku memang seperti itu.''
''Apa jika ada orang yang hampir sepertiku anda akan langsung tertarik?"
''Kau terlihat seperti sedang mengintrogasiku, manis. Tapi baiklah akan kujawab dengan jujur. Mungkin kau pernah mendengarkan cerita miring tentangku, tapi percayalah tak ada yang mampu membuatku tertarik kecuali si rubah liar dan juga kau, kalian bukan hanya memiliki wajah yang sama tapi sifat kalianpun sama-sama liar.'' Ungkapnya, Naruto ternganga antara percaya atau tidak.
"Jangan sekali-kali kau menyamakan aku dengan siapapun.'' Ucap Naruto tak terima jika ia di samakan dengan orang lain.
''Aku hanya berbicara sebuah fakta.'' Tukasnya.
''Sebaiknya aku turun saja." Naruto tak mengindahkan ucapan sang Uchiha, ia dengan segera meraih knop pintu mobil untuk membukanya, namun agaknya ia harus kembali merutuk karena belum sempat pintu terbuka tangan kekar milik Sasuke sudah menahannya lebih dulu.
''Ini sudah hampir jam masuk kerja, sebaiknya kau tetap duduk manis.'' Cegah Sasuke.
Naruto hendak protes namun terpaksa tak di keluarkannya karena mesin mobil mulai di hidupkan, ''Jangan khawatir meskipun aku sangat tergila-gila padamu, tapi aku masih cukup waras untuk tak melakukan hal yang akan merugikanku.'' Katanya.
Naruto bersyukur dalam hati, yah memang ia sempat berpikir jika Sasuke akan berbuat macam-macam padanya mengingat tiap ucapan yang terlontar dari si raven beberapa saat lalu, namun agaknya ia telah terlalu jauh menilai sifat buruk pria di sampingnya.
Tiba di area Sharingan corp, Naruto langsung turun dari mobil milik bosnya itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, yah walau ia memang masih terbilang selamat namun perasaan tak nyaman saat duduk bersisian dengan bosnya pun sampai saat ini masih tak terelakan.
Naruto sepertinya harus lebih banyak berdoa mulai hari ini dan seterusnya, karena sang iblis kini sedang mengincarnya untuk di jadikan mangsa.
.
.
Kushina sedang sibuk membersihkan ruang tak terpakai di dalam rumahnya, ia berencana menjadikan ruangan itu kamar untuk Itachi kelak, semua barang-barang sudah di keluarkan tinggal sebuah kardus kecil yang terletak di sudut ruangan.
Kushina meraih kardus itu lalu melihat isinya, memilah-milah beberapa barang yang mungkin masih terpakai, iris violetnya tertuju pada sebuah album berwarna biru bertuliskan 'My Family' di sampulnya.
Ia tertegun begitu melihat isi album photo tersebut, itu adalah album masa kecil anak-anaknya, arah matanya tertuju pada bocah berusia sekitar 2 tahunan dengan warna rambut yang sama dengannya juga iris mata sewarna ruby.
''Bagaimana kabarmu sekarang, apa kau tumbuh dengan sehat?" lirihnya, tanpa sadar ia menangis seraya memeluk erat album di tangannya.
.
.
Waktu istirahat adalah waktu yang paling di tunggu oleh pemuda pirang itu, dengan semangat yang penuh ia menyeret sahabatnya untuk segera keluar dari tempatnya bekerja dan mencari tempat yang nyaman untuk memakan bekalnya.
''Kita akan makan siang dimana Naru?" tanya Kiba, karena Naruto menyeretnya kebagian belakang Sharingan corp.
''Aku menemukan tempat yang nyaman untuk makan siang kita, Kiba.'' Ucap Naruto yang sebenarnya sengaja tak ingin makan siang di tempat itu karena ia tak ingin bertatap muka dengan bosnya.
''Benarkah? Yosh, kalau begitu tunjukan tempat yang nyaman itu padaku.'' Kiba berujar penuh semangat.
Naruto mengangguk dan semakin mempercepat langkah kakinya, namun gerakannya terpaksa berhenti karena ia merasakan getaran ponselnya di saku bajunya.
''Siapa Naru?" tanya Kiba saat melihat Naruto membaca sebuah pesan singkat di ponselnya.
''Itachi, dia bilang akan datang kesini.''
''Untuk apa?"
''Entahlah, ayo kita kesana dulu tempatnya sudah terlihat.'' Ucap Naruto seraya menunjuk sebuah taman luas dengan beberapa pohon sakura yang berdiri disana, Naruto dan Kiba mendudukan dirinya di bawah pohon sakura yang terlihat teduh dan juga sangat nyaman, di bukanya bekal makan masing-masing lalu memakannya dengan lahap.
.
.
Itachi menghentikan laju motornya di depan gedung Sharingan corp, tangannya memegang sebuah tas selempang yang cukup padat isinya, ia meraih ponsel di saku celananya lalu mengetik pesan pada aniki cantiknya untuk mengabari jika ia sudah tiba disana.
Setelah di rasa pesannya sudah terkirim ia kembali menyamankan diri duduk di atas jok motornya, ia hanya tinggal menunggu sang aniki menghampirinya saja, di edarkannya penglihatannya kesekitarnya lalu iris onyxnya tak sengaja melihat seorang wanita berambut raven yang di perkirakan seusia kaa-sannya, tampak berusaha mencari pertolongan karena dua orang berbadan besar terlihat menyeret-nyeret dirinya.
Itachi tak tinggal diam, ia berlari dengan kecepatan penuh kearah wanita yang kini terlihat ketakutan.
''Lepaskan dia!" teriak Itachi, dua orang pria dan juga wanita berambut raven itu melihat kearahnya.
''Siapa kau? Kami tak ada urusan denganmu.'' Ucap salah satu pria sangar itu.
''Tak peduli siapa aku, yang jelas cepat lepaskan wanita itu.'' Pria sangar itu maju lalu hendak melayangkan pukulannya tepat pada wajah Itachi namun dengan mudah bisa di hindarinya.
Pertarungan dua lawan satu pun terjadi, Itachi hampir saja kalah namun ia memiliki kemampuan bela diri yang lumayan tinggi sehingga ia mampu melumpuhkan dua orang yang menjadi lawannya walau sedikit kewalahan mengingat ukuran tubuh pria itu begitu besar.
Kedua orang pria itu akhirnya pergi dengan langkah terseok, Itachi yang merasa senang karena menang memperlihatkan senyum meremehkan pada dua orang itu.
''Ano..arigatou sudah menolongku.'' Ucap wanita berambut raven bermata onyx itu.
Itachi menoleh pada sang wanita ia pun lalu tersenyum lembut pada sosok yang belum di kenalnya.
''Tak masalah, aku hanya tak suka jika melihat sebuah kejahatan.'' Jawab Itachi.
"Sepertinya kau terluka, sini biar aku obati.''
''Tak apa, lagipula ini hanya luka kecil kok.'' Tolak Itachi.
''Ta…"
''Mikoto-sama, syukurlah anda sudah kami temukan.'' Wanita bernama Mikoto itu menatap pria berambut perak yang berlari kearahnya diikuti dua orang lainnya dibelakangnya.
''Maafkan aku jadi merepotkanmu Kakashi. Aku kesini hanya ingin bertemu dengan Sasuke saja.'' Mikoto menjelaskan.
''Lain kali anda jika ingin pergi, katakanlah pada saya. Saya khawatir jika anda pergi sendiri, mereka akan mencelakai anda.'' Ucap Kakashi, walaupun sebagian wajahnya tertutup oleh masker namun raut cemas tetaplah terlihat di wajahnya.
Mikoto tersenyum pada pengawal pribadinya, "Arigatou Kakashi.'' Ucapnya.
Itachi diam-diam memperhatikan interaksi keduanya, ada perasaan haru yang tiba-tiba menelusup di hatinya, ia tak tahu kenapa namun ia merasakan kerinduan yang teramat sangat saat melihat wajah teduh wanita bernama Mikoto itu.
''Oi, Itachi.'' Teriakan melengking yang memanggil namanya sontak membuat perhatiannya teralih, di lihatnya Kiba sahabat dari anikinya sedang menggapaikan tangannya bermaksud menyuruhnya untuk segera menghampiri pemuda bertato segitiga merah di kedua pipinya itu.
Itachi tanpa menyahut dengan setengah berlari menghampiri sahabat anikinya, tanpa di sadari olehnya wanita bernama Mikoto kini menatapnya dengan tatapan shok.
'Dia… Itachi?'
''Mikoto-sama, mari saya antar anda bertemu dengan tuan muda Sasuke.'' Ajak Kakashi yang tak menyadari raut wajah Mikoto, wanita itu tetap bergeming di tempatnya seraya menatap kepergian Itachi yang sudah menghilang bersama motor besarnya.
''Mikoto-sama, ada apa?" tanya Kakashi bingung.
''Itachi…" gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh pengawalnya itu.
.
.
Kiba menghampiri Naruto yang saat ini sedang sibuk mengelap kaca di lantai 2, di serahkannya sebuah mantel berwarna orange pada pemuda berkulit tan itu.
''Itachi bilang ia tak bisa menjemputmu hari ini karena temannya mengajaknya untuk menginap di rumahnya, ia lalu menitipkan mantel ini padaku agar di berikan padamu.'' Jelas Kiba.
Naruto menerima mantel itu, ''Terima kasih Kiba, dan maaf sudah menyuruhmu. Kau tahukan aku mendadak sakit perut tadi.''
''Jangan sungkan padaku Naru. Oh iya Itachi juga berpesan padaku dengan wajah galaknya.''
''Pesan apa?"
''Dia bilang, jika kau ketahuan pergi dengan siapapun maka dia tak akan segan melabrak orang itu.'' Ucap Kiba seraya menirukan ekspresi wajah Itachi yang di selimuti aura setan.
''Hieeee..'' Naruto seketika merinding, beruntung itu hanya tiruan karena jika berhadapan dengan yang aslinya Naruto yakin ia tak akan sanggup menahan nafas, ck ck.
.
.
Naruto sedang membasuh wajahnya di di toilet yang dekat dengan ruang ganti para OB, pekerjaannya sudah selesai dan tinggal menunggu jam pulang, saat sibuk melap wajahnya dengan handuk kecil yang di bawanya, tiba-tiba ia merasakan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang.
''Kau tadi makan siang dimana, dobe?" tanya sosok di belakangnya, Naruto terhenyak saat tahu siapa pemilik suara berat yang khas itu, tubuhnya seketika merinding dan juga berdebar di saat yang bersamaan.
''Kenapa anda bisa berada disini?" Naruto melemparkan pertanyaan, bisa Naruto lihat jika sosok raven itu kini sedang menyeringai lewat pantulan kaca di depannya.
''Kau lupa siapa aku, aku adalah pemilik perusahaan ini sudah pasti dimana pun aku berada saat ini tak akan menjadi masalah bukan.'' Tukasnya, Naruto diam ia sadar betapa bodohnya jika ia bertanya seperti itu pada bosnya.
''Saya mengerti, tapi anda tak perlu memeluk saya seperti ini kan.'' Ketus Naruto.
''Tapi punggungmu sangat nyaman jika ku peluk.''
''Bisakah anda lepaskan, saya sebentar lagi harus membereskan peralatan kerja saya.''
"Kalau aku tidak mau.'' Tantang pria onyx itu malah semakin melebarkan seringai liciknya.
''Uchiha-sama!" sentak Naruto pada akhirnya, ia tak peduli statusnya siapa dengan siapa sekarang.
''Baiklah, baiklah, kau memang sedikit sulit di kendalikan. Tenang saja Uzumaki Naruto aku tak akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkanmu, karena aku yakin kau sendiri yang akan mendatangiku, ingat itu.'' Ucapnya lalu pergi meninggalkan Naruto dengan tubuhnya yang bergetar hebat.
Naruto menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, tubuhnya merosot seolah kehilangan keseimbangan, entah kenapa kalimat yang di ucapkan oleh bosnya terasa seperti sebuah ancaman besar untuknya kelak.
'Apapun yang terjadi jangan sampai aku berurusan dengannya.'
.
Kyuubi dengan berbekalkan sebuah informasi dari orang suruhannya untuk memata-matai si pirang akhirnya ia bisa mendapatkan alamat tempat pemuda pirang itu bekerja, ia sebenarnya bisa saja mendatangi rumahnya namun ia belum siap bertatapan dengan wajah datar Itachi.
''Jadi disini ya, baiklah akan ku tunggu.''
Lama Kyuubi menunggu sosok pirang itu keluar dari gedung perusahaan di depannya selang beberapa jam akhirnya sosok pirang dengan balutan mantel orange menampakan dirinya.
Kyuubi buru-buru turun dari dalam mobilnya, ia pun langsung mencegat Naruto tepat saat ia sudah berada di luar gerbang.
''Kau, bukankah…"
''Ada yang ingin kubicarakan denganmu.'' Naruto terlihat menimang-nimang namun akhirnya ia mengangguk.
.
"Aku ingin meminta maaf secara tulus padamu, sungguh aku tak berniat melakukannya. Tapi melihat keakraban kalian yang menurutku sangat mesra, hatiku terasa panas. Aku tak rela jika Itachi memiliki penggantiku.'' Ucap pemuda bersurai jingga kemerahan itu.
Naruto menatap pemuda itu dalam, ia sebenarnya tak begitu memperhatikan apa yang di ucapkan sosok itu karena sedari tadi Naruto terus memperhatikan wajahnya.
'Entah hanya aku yang merasa atau memang aku dan dia memiliki rupa yang sama.' Batinnya, sosok Kyuubi memanglah sangat mirip dengannya hanya saja pemuda itu tak memiliki 3 garis di pipi seperti Naruto dan juga warna rambut dan kulit mereka pun berbeda.
''Hei, apa kau mendengar apa yang kukatakan sedari tadi?" tanya Kyuubi dengan mata memicing, saat ia tak melihat reaksi dari si pirang di depannya.
''Ah ya, tentu saja aku mendengarkanmu.'' Jawab Naruto sedikit salah tingkah karena ketahuan sedang melamun atau lebih tepat di sebut mengamati sosoknya.
''Jadi bagaiman?"
''Apanya yang bagaimana?" Naruto balik bertanya.
''Ck, sudah kuduga jika kau tak mendengarkan apa yang ku ucapkan sejak tadi.'' Decaknya sebal, sudah panjang lebar ia bercerita namun tak di tanggapi sama sekali.
''Bukankah tadi sudah ku bilang jika aku ingin meminta bantuan padamu.'' Ucapnya menjelaskan maksud pembicaraan tadi.
''Untuk apa?"
''Kumohon padamu, kau adalah kakak kesayangannya kan dia pasti akan mau mendengarkanmu, jadi aku ingin meminta padamu agar kau mau membantuku untuk mendapatkan kembali Itachi, aku sangat mencintainya, dan aku berjanji tak akan menghianati kepercayaannya.'' Pinta pemuda berambut jingga itu, iris sewarna rubynya menatap penuh harap pada Naruto.
''Aku tak yakin bisa, hanya saja aku mungkin akan mencoba.'' Balasnya, Kyuubi tersenyum sumringah mendengarnya ia yakin jika dengan bantuan pemuda pirang di depannya Itachi akan kembali padanya.
''Tapi sebelumnya ada yang ingin aku tanyakan padamu?"
''Apa itu?"
''Itachi pernah bercerita tentang kau yang berselingkuh dengan seorang pengusaha, benarkah itu?" Kyuubi merasa tertohok oleh pertanyaan itu, ia tak menduga hal ini sebelumnya namun apapun resikonya ia harus siap untuk itulah ia akan berkata secara jujur pada Naruto.
''Itu tak sepenuhnya benar, tapi percaya atau tidak aku sudah bercerita yang sesungguhanya.''
Flashback
Pemuda berambut jingga kemerahan itu terlihat sedang bermalas-malasan di atas kasur king size miliknya dengan tangan yang sibuk mengetik pesan singkat di ponsel pintarnya sambil sesekali tersenyum.
Ting
Bunyi pesan masuk terdengar Kyuubi dengan wajah penuh semangat ia pun membuka lalu membaca isi pesan tersebut, raut wajah yang semula ceria kini berganti murung saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
From : Tou-san
Kyuubi datanglah kerestouran milik kaasanmu sekarang, ada seseorang yang ingin tousan kenalkan padamu, jangan menolak ataupun membantah.
Begitulah isi dari pesan tersebut yang membuat Kyuubi mengeram kesal namun tak bisa pula menolak, dengan langkah malas dan setengah menyeret Kyuubi bergegas mengganti pakaiannya lalu pergi dari keluar dari kamarnya.
.
Tiba di restouran milik sang ibu, Kyuubi langsung masuk dan menghampiri tousannya yang kini terlihat sibuk mengobrol dengan rekan bisnisnya yang jika tidak salah mereka adalah keluarga Uchiha.
"Nah, Fugaku-san perkenalkan ini adalah putra kami satu-satunya, namanya Kyuubi.'' Ucap pria berambut pirang bermata biru yang merupakan ayah dari Kyuubi, Namikaze Minato.
''Saya Fugaku Uchiha, dan perkenalkan juga ini adalah putra tung…''
''Ehem.'' Sebuah deheman keras terdengar dari sosok wanita cantik berambut raven yang sudah di pastikan adalah istri dari Fugaku, tatapan matanya sangat tajam dan penuh protes akan kata-kata yang keluar dari bibir suaminya.
''Maksud saya putra pertama kami, namanya Sasuke Uchiha.'' Ralat Fugaku tak ingin berurusan dengan istrinya.
''Wah Sasuke-kun sangat tampan sekali.'' Puji wanita berambut merah yang duduk di samping pria berambut pirang itu ia bernama Namikaze Sara.
''Kalau begitu bisa kita mulai saja inti dari pertemuan ini.'' Ucap ayah Kyuubi yang sepertinya terlihat tak sabaran.
''Apa maksud tousan dengan inti dari pertemuan?" tanya Kyuubi tak mengerti, ia merasakan sebuah perasaan tak enak saat ini.
''Tentu saja tentang rencana perjodohanmu dengan Sasuke-kun, Kyuu.'' Jelasnya.
Deg
Jantuk Kyuubi berdetak gelisah, ia tak ingin menerima perjodohan ini sama sekali karena ia sudah memiliki seseorang yang di cintainya di tambah pria bernama Sasuke itu kini menatapnya penuh arti, entah apa yang sedang di pikirkannya yang jelas tatapan matanya yang setajam elang itu membuatnya merasa tak nyaman.
"Ne Uchiha-san bagaimana kalau kita tinggalkan mereka berdua agar bisa lebih saling mengenal dan mengakrabkan diri.'' Usul Sara, Fugaku tampak setuju sedangkan Mikoto, wanita itu terlihat tak peduli.
''Sebaiknya aku pulang saja.'' Celetuk Mikoto yang mengundang tanda tanya di kepala suaminya.
''Kenapa terburu-buru?"
''Aku hanya ingin beristirahat. Kakashi!" panggil Mikoto pada pengawal pribadinya yang langsung di jawab anggukan hormat dari pria berambut perak itu.
"Sepertinya Mikoto-san orang yang tak begitu menyukai acara seperti ini ya.'' Sara kembali berbicara seraya menatap kepergian Mikoto.
''Dia jadi seperti itu sejak kehilangan putra bungsu kami.'' Raut wajah dingin Fugaku berubah sendu saat mengatakannya.
''Maaf kami tak bermaksud…''
''Sudahlah, itu sudah lama.'' Potong Fugaku cepat, ''Bukankah kalian ingin mengajakku berkeliling sebaiknya kita pergi sekarang.'' Lanjutnya.
''Ah, anda benar. Nah Kyuubi, kami tinggal dulu sebentar.'' Kyuubi yang hendak protes harus kembali menelan ucapannya karena ketiga orang tua itu sudah pergi agak jauh, sepertinya mereka sengaja mempercepat langkahnya agar tak di kejar oleh anak-anak mereka.
''Sial! Mereka sengaja meninggalkan kita berdua. Hei pantat ayam kenapa daritadi kau hanya diam saja? Seharusnya kau tolak perjodohan sialan ini.''
''Hn.''
''Apa-apaan jawabanmu itu!" Kyuubi meninggikan volume suaranya.
Sret
Sasuke menarik kerah pemuda berurai jingga itu lalu menariknya hingga wajahnya mendekat tepat di depan wajah sang Uchiha.
''Dengarkan apa yang akan kuucapkan rubah liar, kau pikir akupun sudi dengan perjodohan ini. Asal kau tahu tak sedikitpun aku berminta walau sebenarnya aku tertarik padamu.'' Ucapnya dingin dan angkuh.
Bola mata sewarna ruby itu membola, ia merasa terhina dengan ucapan si raven di depannya, "Kau..''
''Kyuubi.'' Kyuubi tersentak saat mengenal suara orang yang memanggil namanya, ia menoleh kebelakang, ya posisi si pemanggil memang berada di belakang Kyuubi.
''Itachi.'' Ucapnya dengan kedua mata yang membola Itachi pasti akan salah paham padanya, sosok bertopi hitam itu langsung pergi begitu saja tanpa mempedulikan panggilan Kyuubi yang kini sedang mengejarnya.
.
"Itachi, tunggu dengarkan dulu penjelasanku." Teriak Kyuubi tak putus asa.
''Memangnya apa yang perlu di jelaskan, semua sudah jelaskan jika kau memang berselingkuh dengannya. Bagaimana rasanya berciuman dengan pengusaha kaya?" sindirnya dengan wajah mengejek namun dapat Kyuubi lihat sorot kesedihan di kedua mata onyxnya.
''Itu tidak benar, kami tadi hanya…''
''Ayahmu tadi menghubungiku, entah darimana ia bisa mendapatkan nomer ponselku, dia memintaku untuk menjauhimu karena kau sudah memiliki pengganti yang lebih baik dariku. Dan ternyata semua ucapannya benar.''
''Jangan percaya ucapannya, dan aku sama sekali tak tertarik padanya, Itachi.''
''Kyuu, kurasa sebaiknya kita akhiri saja, karena jika di teruskan kau tak akan pernah bahagia denganku, ayahmu benar jika kau bersamaku kau hanya akan menderita saja.''
Kyuubi menatap tak percaya pada kekasihnya, ia mengelengkan kepalanya kuat, ia tak terima jika harus berpisah dengan orang yang sangat di cintainya.
''Aku pergi.'' Ucapnya sambil berlalu.
Kyuubi yang kembali akan mengejar Itachi langsung di tahan sebuah tangan berwarna tan yang menahannya, ia menoleh dan mndapati sang ayah tengah menatap tajam dirinya.
''Tousan.''
''Kembali ketempatmu Kyuubi.'' Perintah sang ayah dengan nada mengancam, Kyuubi tak bisa membantah dengan setengah hati ia menuruti apa kemauan sang ayah.
Flashback off
''Aku sudah berusaha untuk menjelaskan padanya, tapi ia tak mau mendengarkan, di tambah saat itu aku melihatnya bersamamu, kupikir ia sudah menemukan penggantiku.'' Jelasnya mengakhiri ceritanya.
Naruto menatap prihatin pada sosok di depannya, entah kenapa hatinya begitu sakit seakan ikut merasakan apa yang di rasakan pemuda bersurai jingga di depannya, ia percaya pada apa yang di ucapkan pemuda itu karena ia bisa melihat kejujuran di kedua mata sewarna ruby itu.
''Kau tenang saja, aku pasti akan membujuk Itachi. Kuharap ia mau mendengarkannya jika aku yang bercerita padanya.'' Wajah Kyuubi berbinar, ia meraih kedua tangan Naruto.
''Arigatou nii-san.'' Ucapnya.
Naruto merasakan sesuatu yang aneh di dadanya saat Kyuubi memanggilnya dengan sebutan kakak entah kenapa begitu berbeda dengan Itachi, perasaan apa ini? Pikirnya.
''Ini sudah malam, sebaiknya aku segera pulang." Ucap Naruto menghalau gelenyar aneh yang semakin terasa di dadanya.
''Mau kuantar?" tawar Kyuubi, kata-katanya mulai melembut tak seperti awal mereka bertemu.
''Tidak, aku sudah terbiasa naik bis.'' Tolak Naruto halus tak ingin merepotkan oranglain.
''Baiklah, tak apa. Tapi ngomong-ngomong bolehkah kita berkenalan dulu." Naruto terdiam sejenak kemudian mengangguk.
''Aku Uzumaki Naruto.'' Naruto mengulurkan tangannya yang langsung di jabat oleh Kyuubi.
''Namikaze Kurama, tapi aku lebih dikenal dengan panggilan Kyuubi.''
Tbc
Akhir kata kimi ucapkan terima kasih buat para reader semuanya, mian kalau berantakan os kimi ngetiknya sambil mikirin nyari kerjaan dan sini juga rada-rada udah kejawab pan anu dan anu nya kkk #digaplokreader.
tadinya kimi mau update nih ff klo kimi udh dapet kerjaan T.T.. dan lagi kimi juga di tagih ff di fandom anu, jadi ceritanya pas iseng buka ntuh akun eh kimi malah dapet teror, katanya kapan nih ffnya yang di fandom itu lanjut, emang sih salah kimi juga os tuh ff udh dua tahun ga kelar padahal itu part ending T.T /ratapan author lebay bin alay/.
Sekian curcol gaje dari kimi. mohon maaf kalau kimi g bales reviewannya ye..
Di tunggu respon di part 3 nya…
