My Love Story

Disclameir : Kalau Naruto milik saya udah pasti mas tachi-kun ga bakal di bikin mati #fansmode…

Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, ShikaKiba, dll.

Warning : BL, ga jelas, kalau ada typo mohon di maklum jari authornya emang suka kepleset pas ngetiknya xD, ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya. Tidak suka jangan di paksakan membaca silahkan klik back aja... warning berlaku jadi No Bash.

Chapter 4

Mikoto memasuki sebuah kamar yang berukuran sedang, di dekat jendela terdapat sebuah box bayi yang terlihat sudah lama namun masih terawat, ia menghampiri box bayi itu lalu dengan perlahan tangannya masuk lalu menyentuh permukaan kasur bayi tersebut.

''Itachi, bayiku. Apakah kau benar-benar masih hidup?" tanyanya pada sesuatu yang tak ada di depannya.

''Pemuda yang menolongku itu wajahnya sangat mirip Sasuke dan dia bernama Itachi, bolehkah aku berharap jika ia adalah anakku yang hilang?" Mikoto bermonolog.

" Andai kecelakaan itu tak terjadi mungkin kau masih bersama Kaa-san rumah ini.''

Onyx wanita bernama Mikoto itu menerawang jauh, mengingat kejadian 22 tahun yang lalu kejadian tragis yang membuatnya harus kehilangan putra bungsunya, Uchiha Itachi.

Flashback

Mobil sedan hitam berlambang Uchiha itu melaju dengan kecepatan tinggi di tengah badai yang terjadi di sekitar kota konoha, di belakang mobil sedan itu tampak dua mobil yang memilki warna sama mengikutinya.

''Fugaku apa yang harus kita lakukan, mereka semakin mengejar kita.'' Mikoto berujar panik begitu melihat mobil-mobil itu semakin mendekat.

''Aku sudah menghubungi bantuan bersabarlah. Focusmu hanya menjaga Itachi saja.'' Ucap Fugaku menengangkan sang istri yang kini tengah memeluk bayi berusia sekitar 4 bulan.

Keluarga Uchiha memang baru pulang dari rumah sakit karena putra sulung mereka Uchiha Sasuke mengalami patah tulang saat terjatuh dari tangga rumahnya.

Bocah raven berusia 6 tahun itu bermaksud menolong adiknya yang hampir jatuh ketangga saat ada orang asing hendak mendorong kereta bayi dimana Itachi tengah tertidur, Sasuke yang melihat kejadian itu tentu saja berteriak panik lalu menghampiri orang itu hendak mengambil Itachi, namun naas begitu ia sampai orang asing yang entah menyusup darimana itu malah mendorongnya hingga jatuh kelantai dasar rumahnya sedangkan orang itu langsung pergi entah kemana, beruntung Itachi tak jadi di dorong oleh orang asing itu bayi mungil itu masih tertidur dengan pulasnya.

Dor

Bunyi tembakan terdengar di susul dengan olengnya mobil yang di tumpangi keluarga Uchiha, jalanan yang licin pun ikut menjadi penghambat hingga pada akhirnya mobil keluarga Uchiha itupun terperosok masuk kedalam hutan.

Mobil masuk semakin jauh kedalam hutan dengan kondisi tak terkendali, lampu depan mobil pecah membuat pandangan kearah depan sangatlah gelap, Mikoto berdoa dalam hatinya agar keluarganya selamat ia memejamkan kedua matanya erat hingga ia merasakan tubuhnya seperti di banting dengan keras.

.

Mikoto dengan sisa-sisa kesadarannya berjalan terseok-seok untuk meminta pertolongan, "To…long…" lirihnya meminta pertolongan, Itachi bayi dalam gendongannya menangis sangat keras keningnya sedikit lebam mungkin pasca kecelakaan yang menimpanya.

''Nyonya apa yang terjadi pada anda?" seorang wanita bersurai merah bertanya padanya, Mikoto bernapas lega, dengan menahan segala rasa sakit di tubuhnya ia menyerahkan bayinya pada sang wanita yang tak di kenalnya.

''…Itachi…to…long..selamat…kan..Itachi.'' ucapnya, dilihatnya wanita itu mengambil anaknya dengan raut wajah cemas, setelahnya ia tak mengingat apaun lagi karena kehilangan kesadaran.

.

.

Mikoto membuka kedua matanya di lihatnya sekelilingnya yang bernuasa putih dengan bau obat-obatan yang khas, ia sadar jika ia berada di sebuah ruangan atau lebih tepatnya kamar rawat di rumah sakit.

''Kaa-san sudah sadar?" tanya sebuah suara kecil menyapanya, Mikoto menoleh dan mendapati anak sulungnya berada di samping dengan raut wajah sedih dan juga cemas.

''Sasuke, kau baik-baik saja, nak?"

Sasuke kecil mengangguk namun tak di pungkiri jika ia juga terluka di bagian lengan dan kepalanya termasuk kakinya yang memang sejak awal sudah mengalami patah tulang.

"Tousanmu dimana?"

''Aku disini Mikoto.''

Mikoto mengalihkan pendangannya pada sosok yang sedang menghampirinya dengan bantuan kursi roda, Fugaku pun tak kalah parah kondisinya.

''Suamiku, bagaimana kondisimu?"

''Sudah lebih baik."

''Lalu dimana Itachi? Bagaimana keadaanya?" tanya Mikoto.

''Maafkan aku, aku dan tim bantuan yang ku panggil tak menemukannya dimanapun, saat kau di temukan Itachi sudah tidak ada. Atau mungkin dia sudah meninggal.'' Jelas sang kepala keluarga Uchiha.

''Tidak mungkin, dia pasti masih hidup. Aku selalu menggendongnya hingga… hinggaa.. aaaa.'' Mikoto menjerit saat ia tak bisa mengingat jelas kejadian sebelum ia pingsan.

''Mikoto tenanglah, kita harus merelakannya. Apa kau tidak ingat jika mobil kita masuk kedalam jurang mungkin saja anak kita..'' Fugaku tak meneruskan ucapannya iapun merasa terpukul namun apa daya ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini.

'Itachi, anakku.'

Flashback off

''Aku harus menyelidikinya, karena aku merasa jika dia memang anakku.'' Gumamnya, di raihnya ponsel pintar miliknya lalu ia pun terlihat mengetik beberapa digit nomor yang akan dihubunginya.

'…'

''Moshi-moshi, Kakashi. Aku membutuhkan bantuanmu.''

.

.

Naruto membuka pintu rumahnya secara perlahan, ia sadar jika ia pulang terlalu malam, mendengarkan cerita Kyuubi ternyata memakan waktu lumayan lama dan ia melewatkan jam makan malamnya.

''Sudah pulang aniki cantik?" tanya sebuah suara yang Naruto kenal adalah milik adiknya, Itachi.

Eh tunggu, bukankah adiknya itu saat ini sedang menginap di rumah sahabatnya?

''Hehehe, etto…"

''Darimana saja sampai pulang larut begini?" tanya Itachi dengan wajah bak iblis pencabut nyawa, Naruto merinding melihat aura hitam mirip api amaterashu yang ia lihat di sebuah film ninja kesukaannya kini terlihat berkobar-kobar di belakang adiknya.

''Ta-tadi terjebak macet, hehe" jawabnya kaku, kentara sekali jika Naruto tengah gugup karena menyembunyikan sesuatu.

''Benarkah? Sayangnya aku tak percaya aniki cantik, karena sebenarnya aku tahu kau bukan orang yang pandai menyembunyikan kebohongan.'' Onyx milik Itachi memicing tajam.

"A-aku tidak sedang berbohong, lagipula bukankah kau seharusnya menginap dirumah temanmu?"

''Bukan aku yang akan menginap tapi Kaasan.''

''Lalu kenapa Kiba bilang kalau kau yang akan menginap?"

''Aku sengaja mengatakan itu, dan lihat apa hasilnya sekarang. Aniki cantik-ku mendadak pulang malam, mengendap seperti maling saat masuk kerumah dan saat di tanya persis seperti maling yang ketahuan mencuri.''

Naruto menganga sedikit tak terima dengan ucapan sang adik yang menyamakannya dengan maling, hell no, setidaknya samakanlah ia dengan sesuatu yang lebih enak untuk di dengar.

''Aniki cantik, tidakkah kau ingin berkata jujur pada ototou tampanmu ini?" tanya Itachi dengan nada sing song.

"Aku sudah berkata jujur, Tachi. Hiks tidakkah kau hiks merasa hiks iba pada anikimu yang cantik ini hiks hiks.'' Naruto pada akhirnya mengeluarkan jurus andalannya yaitu jurus airmata buaya super lebay milik Kushina.

Itachi terenyuh mendengar nada sendu dari sang aniki cantiknya, ia tak tega jika terus mengintrogasinya dengan berbagai pertanyaan di tambah lagi sang aniki cantiknya pasti lelah setelah seharian bekerja.

''Gomen Naru-nii, aku hanya terlalu khawatir padamu, jangan menangis lagi oke." Bujuknya dengan menghilangkan aura seram dan juga melembutkan nada suaranya.

Dewa batin Naruto tersenyum licik rencananya sukses besar, ''Hiks kau memang hiks ototou tampanku yang pengertian hiks.'' Ucapnya masih berpura-pura terisak.

''Aku memang yang terbaik.'' Narsisnya yang membuat Naruto kembali menganga.

"Ah iya, aku belum makan malam, apa ada sesuatu yang bisa kumakan?'' tanya Naruto yang nada suara kembali seperti semula, entah kemana perginya nada gemetar nan menghiba sisa-sisa menangisnya itu.

''Sayangnya persediaan dapur kita sudah habis, Naru-nii. Kaasan bahkan lupa memberiku uang saku untuk besok.'' Tukasnya.

''Kalau begitu bagaimana jika kita pergi kekedai ramen Ichiraku, aku yakin saat ini masih di buka.''

Itachi menatap tak suka, ''Jangan makan ramen terus Naru-nii, tidak baik untuk kesehatanmu, dan lagi bukankah kau takut badanmu menjadi gemuk.''

''Makan satu mangkuk tak masalah bukan, ayolah Tachi, apa kau tak merasa kasihan pada anikimu yang kelaparan ini?" Naruto pun mengeluarkan jurus andalan keduanya yaitu jurus anak anjing tersesat minta di kasihani dan sesuai dugaan Itachi tak akan mampu menolaknya.

"Maa~ maa~, apa sih yang tak bisa ku tolak jika itu berasal darimu aniki.'' Ujarnya dengan wajah pasrah, Naruto langsung sumringah dengan penuh semangat ia menarik tangan adiknya lalu menyeretnya keluar dari rumahnya.

.

.

Suasana di Ichiraku ramen lumayan ramai malam ini karena selain lezat suasana malam yang dingin pun sangat cocok untuk makan ramen yang tentunya masihlah dengan kuah yang mengepul.

Itachi menghela nafas lelah, ia sudah menduga jika anikinya akan seperti ini jika sudah makan ramen buatan Ichiraku, ini sudah mangkuk kelima dan sudah lewat dari apa yang di ucapkan sang aniki jika ia hanya akan makan satu mangkuk saja.

"Aku pesan satu la.."

''Cukup Naru-nii, ini sudah yang kelima. Bukankah Naru-nii bilang hanya akan makan satu mangkuk saja dan sekarang coba lihat berapa jumlahnya.'' Naruto menengok pada benda yang di tunjuk Itachi dan ia hanya bisa mengeluarkan cengirannya saat sadar jika ia memang sudah kelewatan.

''Gomen, aku hanya sedang lapar saja.''

''Ck, apakah jenis lapar seperti itu bisa di maksud hanya sedang lapar bukan kelaparan.'' Cibir pemuda raven yang memiliki tanda lahir mirip kriput itu.

"Sudah lama aku tidak makan ramen, Tachi.''

''Sudah lama yang Naru-nii maksud itu berapa bulan?" Itachi menyipitkan matanya ia tak yakin sebenarnya dengan jawaban yang akan di keluarkan anikinya.

''Ehehehe tiga hari.'' Dan Itachi sukses menjedukan kepalanya pada permukaan meja.

.

.

Sasuke duduk di sebuah kursi single yang berada di kamar luasnya dengan segelas wine di tangannya yang sesekali ia sesap, pandangannya tak lepas dari beberapa potret berukuran besar yang menampakan sosok bersurai kuning yang dimana sedang dalam pose mengerjakan tugasnya seperti mengepel lantai, melap kaca atau meja.

Entah darimana Sasuke bisa mendapatkan potret sang pemuda pirang yang di yakini tak di sadari olehnya juga, yang jelas Sasuke benar-benar sudah terobsesi padanya.

''Aku memang tak akan pernah memaksamu menjadi milikku, manis. Tapi kau sendirilah yang akan datang padaku untuk menjadi milikku.'' Sasuke tersenyum iblis, ia menegak wine yang masih tersisa setengah gelas di tangannya hingga habis.

.

Pagi yang mengawali aktivitas seorang pemuda bersurai pirang jabrik bernama Uzumaki Naruto, sebenarnya ini masih terlalu pagi malah bahkan Itachi belum ingin membuka matanya.

Naruto pemuda berusia 24 tahun itu memang sudah berencana berangkat pagi, ia hendak pergi ke flat milik sahabatnya Inuzuka Kiba yang memang lumayan jauh dari rumahnya, keduanya sempat berjanji sebelum pulang kerja kemarin jika keduanya akan berangkat bersama.

Tiba di flat milik sahabatnya ia pun mengetuk pintu plat tersebut, pintu terbuka memperlihatkan sosok tinggi dengan rambut di kuncir mirip buah nanas dengan sebelah tangan yang mengucek matanya.

''EEEEHHHHHH,, ka…ka..kau bu..bukannya.. yang selalu bersama si teme ehemmm..maksudnya Uchiha –sama?'' tanya Naruto dengan kedua mata yang terbelalak tak percaya, yah di depannya memang bukanlah sosok Kiba –sahabatnya- melainkan sosok asisten pribadi bosnya, Nara Shikamaru.

''Siapa itu Shika? Eh Naru, ehehehe.'' Kiba cengengesan begitu melihat sahabat pirangnya berdiri di depan pintu flatnya dengan wajah minta penjelasan sejelas-jelasnya tentang sosok tinggi yang berada di sampingnya.

''Apa arti semua ini, Inuzuka Kiba?" bulu kuduk pemuda pecinta anjing itu berdiri seketika, 'gawat' pikirnya begitu melihat kedua mata milik sahabatnya menyipit dengan sorot tajam padanya, ia gugup dan ragu untuk menjelaskannya namun berkat usapan pria bermarga Nara itu di punggungnya akhirnya ia menghela nafas lega.

''Akan kujelaskan, ayo kita kedalam dulu.''

Naruto akhirnya masuk dengan beribu pertanyaan yang masih tercetak di kepala pirangnya, Kiba tak pernah bercerita apa-apa selama ini padanya, dan ketika melihat sosok pria Nara itu tentulah ia sangat terkejut.

''Jadi begini Naru, kami sebenarnya, err sudah, me..me..menikah.'' akunya dengan wajah tertunduk, ia merasa bersalah karena tak pernah bercerita tentang hal itu pada sahabatnya.

Naruto bengong seketika, otaknya masih meloading ucapan yang baru saja masuk kegendang telinganya, Inuzuka Kiba sahabat semasa SMA-nya kini sudah menikah, ia sudah menikah, ia sudah me…

''NANI?!" dan teriakan Naruto sukses membuat para tetangga di sekitar flat Kiba terbangun di pagi hari yang indah ini.

''Ck, mendokusei.'' Gumam pemuda bermarga Nara itu sambil mengorek telinganya.

''Hehehe, gomen Naru aku tak bermaksud merahasiakannya karena pernikahan kami pun hanya di hadiri beberapa saksi dan pihak keluarga masing-masing, dan sebenarnya aku sudah berganti marga menjadi Nara, hanya saja kau tahu sendirikan sistem kerja di perusahaan Uchiha, jika para pegawai yang bekerja disana tidak di perbolehkan terikat status pernikahan dengan pegawai lainnya.'' Jelas Kiba.

Naruto mengangguk paham, ya memang tak jarang sebuah perusahaan melarang sepasang suami-istri bekerja di perusahaan yang sama.

''Tapi kau seharusnya mengundangku, ck sahabat macam apa kau ini hingga hal sepenting ini kau rahasiakan dariku.'' Naruto mengembungkan kedua pipinya tanda ia ngambek pada sahabatnya.

''Hehehe gomen, ini sudah menjadi kesepakatan bersama, lagipula seharusnya kau berterima kasih pada suamiku ini jika bukan karena dia kau mana mungkin di terima saat melamar pekerjaan.'' Tukas Kiba, Naruto tersenyum geli saat Kiba mengucapkan kalimat 'suamiku' di depannya, dan ia dalam hati sangat bersyukur karena Kiba sepertinya menemukan orang yang tepat untuk mencintai dan menyayanginya.

''Maa~ maa~, arigatou ne~ Nara Shikamaru-sama, dan kau nyonya Nara Kiba, kau berhutang sepuluh mangkuk ramen padaku, khukhukhu.'' Ucap Naruto seraya tertawa nista, sedangkan Kiba ia hanya merengut namun dalam hati ia berterimakasih pada sahabat pirangnya karena tak mencelanya saat tahu orientasinya menyimpang.

.

Kyuubi uring-uringan di atas kasur besar miliknya, ia sangat ingin bertemu Itachi namun ia harus menahan diri sampai ia mendapat kabar baik dari Naruto, ia akan mencoba menjadi sosok yang penuh kesabaran agar bisa mendapatkan kembali orang yang dicintainya.

Pintu kamar Kyuubi di buka menampilkan sosok wanita berambut merah yang merupakan sosok 'ibu' pengganti untuknya, ya baginya Namikaze Sara hanyalah sosok ibu penggantinya, walau kini wanita itu sudah menikah dengan ayahnya namun Kyuubi takan pernah mau mengakuinya, baginya sosok ibunya yang sebenarnya adalah Kushina, wanita yang hanya ia ketahui namanya namun tak di kenali bagaimana rupanya.

Minato memang tak pernah memperlihatkan potret sang ibu, sejak Kyuubi masih kecil ia selalu mencoba membujuk sang ayah agar mau memperlihatkannya namun Minato langsung murka hingga akhirnya Kyuubi merasa kapok untuk bertanya lagi, ia hanya cukup tahu jika Ibunya bernama Kushina tanpa tahu marga apa yang dipakai wanita itu entah masih memakai marga ayahnya atau marga kecilnya.

''Kyuu, kau kenapa terlihat gelisah?" tanya Sara lembut, memang sejauh ini Sara tak pernah menunjukan prilaku kasar pada Kyuubi baik ada atau tidaknya sang ayah dirumahnya.

''Aku hanya sedang memikirkan seseorang.'' Sahutnya tanpa berniat bangkit dari tempat tidurnya.

''Siapa? Ah kaasan tahu pasti Sasuke-kun, kan?" tebaknya dengan nada menggoda, Kyuubi berdecih ia tak suka nama pria pantat ayam yang menurutnya kurang ajar itu di sebut-sebut, sudah cukup dengan kejadian di restourant milik Sara saat itu membuatnya harus berpisah dengan Itachi secara sepihak.

''Untuk apa aku memikirnya, aku tak pernah menyukainya sedikit pun.''

''Kau tahu Kyuu, adakalanya rasa benci itu berbalik menjadi rasa cinta, dan kaa-san berharap rasa tak sukamu itu adalah awal baik dari hubungan kalian.'' Ucap Sara sambil berlalu meninggalkan anak tirinya yang kini kembali merenung.

'Aku memang paham soal itu tapi kau sangat salah jika itu mengenai si Uchiha pantat ayam sialan itu, bagiku rasa benci menjad cinta adalah saat bocah tengil bernama Uzumaki Itachi pernah mengalahkanku dalam pertandingan balap motor liar setahun yang lalu.' Batinnya seraya mengenang masa dimana ia pertama kali bertemu dengan Itachi, sosok yang semula menjadi musuh namun malah menjalin cinta.

.

Naruto berjalan dengan gontai seraya membawa nampan berisi kopi hitam yang akan di berikannya pada sang atasan Uchiha Sasuke, dalam hati ia menggerutu kesal kenapa harus dirinya yang mendapat tugas seperti ini apa tidak ada OB lain yang bisa di suruh selain dirinya.

'Kenapa harus aku yang membuat dan mengantarnya lagi ttebayo.' Rutuknya, mungkin jika awalnya ia memang tak masalah namun mengingat kejadian yang sudah-sudah ia menjadi enggan hanya untuk berhadapan dengan atasannya.

Naruto membuka pintu ruang direktur, disana tampak Sasuke tengah sibuk dengan pekerjaannya, Naruto meletakan secangkir kopi itu di atas meja lalu hendak bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.

''Jangan pergi dulu.'' Cegah Sasuke seraya mengalihkan perhatiannya dari layar laptop di depannya.

Bulu kuduk Naruto serasa meremang begitu mendengar baritone milik Sasuke menyapa gendang telinganya, dengan gerakan kaku ia kembali menghadap sang Uchiha.

''Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Naruto.

''Jangan pergi dulu, tetap di ruangan ini sampai pekerjaanku selesai.'' Perintah Sasuke.

''Tapi nanti saya bisa di marahi jika tak bekerja Uchiha-sama.'' Protes Naruto, apa yang ada di pikiran atasannya itu' batin Naruto tak mengerti dengan sikap seenaknya Sasuke.

''Siapa yang berani memarahimu, maka dia harus berhadapan denganku. Aku boss disini.'' Mutlak dan tak bisa dibantah itulah Sasuke Uchiha sosok yang bisa di bilang mahluk tuhan yang sempurna yang mampu membuat para wanita atau pria berstatus uke bertekuk lutut padanya sosok yang selalu di segani dan di kagumi para klien bisnisnya dan juga sosok yang dengan mudah bisa menghancurkan siapapun dengan kekuasaan yang di milikinya.

''Ta..tapi..''

''Duduk dan diamlah.'' Tiga kata yang mampu membuat Naruto bungkam dan menurut saja walau dengan pipi yang mengembung dan juga bibir yang dimanyunkan.

''Bhuuu, seenaknya saja, ttebayo.'' Gerutunya pelan seraya menghempaskan pantatnya kesofa panjang berwarna coklat tua yang sudah tersedia di ruangan itu, sambil menunggu pekerjaan Sasuke selesai ia pun mengeluarkan ponsel miliknya lalu membuka situs yang paling diminati orang-orang untuk membunuh waktu apalagi kalau bukan facebook.

Saat masuk area beranda ia pun mulai memikirkan apa yang akan di tulisnya lewat status terbarunya di fb dan saat mengingat kejadian tadi pagi ia pun langsung menyeringai iblis.

BluePrince Ramen-ttebayo

Anjing menikah dengan Rusa XD…

Baru saja. Suka. Komentari. Bagikan.

Naruto cengengesan tak jelas saat selesai menulis status fbnya dan ia merasa yakin sebentar lagi akan ada yang heboh di kolom komentarnya, satu pemberitahuan muncul dan Naruto langsung membukanya.

Dark Knight Itachi : aniki cantik siapa yang barusan kau nikahkan?

Naruto langsung sweatdrop melihat komentar dari adiknya, apa maksud dari pertanyaannya itu memangnya Naruto seorang pendeta yang selalu menikahkan orang apa.

BluePrince Ramen-ttebayo : Itachi hei,hei. Kenapa kau malah muncul disini? Sana lanjutkan kuliahmu.

Dark Knight Itachi : aku sedang tidak ada kelas, aniki cantik ^^.

BluePrince Ramen-ttebayo : bhuuu jangan beralasan -_-''

Puppy inLove : yaaakkkk bakaNarutoooo, apa-apaan statusmu itu, cepat hapus _

Naruto tergelak begitu yang di tunggu akhirnya muncul juga di komentarnya, dan tanpa disadarinya sang atasan kini sedang memperhatikannya.

BluePrince Ramen-ttebayo : tumben kau tidak bekerja Kiba, apa kau sedang di ruangan Nara-sama XD

Puppy inLove : bbukan uurusanm u xd

Dark Knight Itachi : aniki cantik jangan mengganggu seseorang yang sedang kasmaran.

Naruto tertawa terbahak-bahak jelas sekali sahabatnya itu sedang berbohong, lihat saja bahasa dan cara menulis balasannya yang Naruto yakin jika Kiba menulisnya saat sedang gugup.

Puppy inLove : hey siapa yang sedang kasmaran, bakaNaru ini semua gara-gara kau xd

BluePrince Ramen-ttebayo : oh baiklah kalau begitu, aku tidak akan mengganggumu selamat bersenang-senang. Aku off dulu bye.

Naruto pun keluar dari situs fb lalu menyimpan kembali ponselnya kedalam kantong celananya, dilihatnya Sasuke yang kini sedang melihat kearahnya.

''Apa anda sudah selesai dengan pekerjaan anda Uchiha-sama?" tanya Naruto.

''Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku beberapa menit yang lalu tapi sepertinya kau sedang sibuk dengan ponselmu.'' Naruto agak salah tingkah karena ketahuan sedang memainkan ponsel padahal ini masih jam kerjanya.

''Ma-maaf Uchiha-sama.''

Sasuke berdiri dari kursi direkturnya, ia pun menghampiri Naruto lalu duduk samping pemuda berambut pirang itu.

''Jangan terlalu formal padaku, bukankah sudah kukatakan dulu panggil aku Sasuke jika kita hanya sedang berdua." Ucap Sasuke seraya merapatkan dirinya dengan Naruto.

''Err anda terlalu dekat Sasuke.'' Naruto menggeser sedikit tubuhnya, namun Sasuke pun melakukan hal yang sama yaitu ikut bergeser.

Aksi geser bergeser pun terjadi hingga Naruto tidak bisa lagi bergeser karena ia sudah berada di ujung sofa, Sasuke menyeriangai, menggoda OB pirang kesukaanya itu memang sangat menyenangkan di tambah wajah bergaris kumis kucing itu kini tampak gugup dengan rona merah yang terlihat samar.

''Uzumaki Naruto, sejak awal aku melihatmu aku sudah langsung tertarik untuk memilikimu." Naruto kembali bermuka masam, lagi-lagi itu yang menjadi bahasan atasannya.

''Tidakkah ada yang ingin anda ucapkan selain itu, Sasuke teme.'' Naruto bertanya dengan nada ketus, ia malas untuk merespon ucapan Sasuke sebenarnya.

''Memangnya apa yang perlu ku ucapkan jika pada kenyataanya hati ini hanya bisa berucap seperti itu, jadi jangan salahkan aku jika bibirku pun sejalan dengan hatiku.''

''Anda memang seorang perayu ulung, tapi maaf saja saya sedikitpun takan terayu oleh ucapan anda itu.''

"Aku senang karena kau memujiku, tapi sayangnya aku bukanlah seorang perayu. Aku lebih sering di juluki sang penakluk dan kau pun sebentar lagi akan segera takluk kepadaku.'' Naruto memutar bola matanya, orang di sampingnya ternyata memiliki rasa percaya diri tingkat tinggi dan perlu ekstra kesabaran untuk menghadapinya.

"Jangan pernah bermimpi." Cibir si pirang.

''Jika itu akan menjadi kenyataan kenapa tidak.'' Ucapan Sasuke terdengar seperti menantang di telinga Naruto dan sebisa mungkin ia takan terpancing oleh ucapannya.

''Apa hanya itu yang ingin anda katakan, aku harus kembali bekerja sekarang sebelum ada yang mencariku.'' Naruto memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan yang menurutnya tak akan ada ujungnya itu.

''Tinggalah disini untuk beberapa waktu dulu, aku masih ingin mengobrol banyak denganmu.'' Lagi-lagi Sasuke mencegah niatannya yang ingin segera keluar dari ruangan yang menurutnya berhawa panas itu.

''Saya masih memakluminya jika yang anda obrolkan dengan saya itu masih berhubungan dengan pekerjaan, namun lain lagi jika anda hanya ingin membicarakan perasaan pribadi anda. Sebaiknya saya segera pergi.'' Naruto bangkit berdiri ia harus segera keluar dari ruangan atasannya sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan yang bukan hanya dari atasannya saja namun ia pun tak mau mengundang pembicaraan miring terhadapnya dari karyawan yang pangkatnya lebih tinggi darinya di perusahaan tempatnya bekerja hanya karena ia berlama-lama diruangan sang atasan.

"Kali ini aku serius ingin 'mengobrol' denganmu.'' Sasuke menahan tangan Naruto yang sudah berdiri dan bersiap pergi lalu membuatnya kembali terduduk.

'Ukhh, jika saja membunuh itu tidak dosa, sudah kulakukan sejak awal untuk menyingkirkannya dari hidupku.' Batin Naruto.

.

Kiba menggerutu sepanjang pekerjaanya, saat ini ia sedang mengepel lantai lima dimana seharusnya adalah tugas Naruto namun sipirang yang di tunggunya untuk di ceramahi itu tak kunjung menunjukan batang hidungnya.

''Dasar bakaNaruto, kemana perginya dia. Awas saja jika ketemu akan kujadikan santapan Akamaru, huh.'' Dumelnya dengan gerakan brutal pada pekerjaannya.

''Ehem, ano permisi bisa saya bicara dengan anda?" sapa seseorang yang entah sejak kapan sudah berada di samping pemuda berambut coklat jabrik itu.

''Siapa kau?" tanya Kiba pada sosok pria bermasker dan berambut perak itu.

''Saya Hatake Kakashi, ada yang ingin saya tanyakan tentang seseorang pada anda. Ini tentang seseorang yang bernama Itachi.''

Tbc

Mohon maaf jika makin gaje dan membosankan..buat semua pertanyaannya kayaknya udh kejawab ye di part ini kkk

maaf juga kalo saya ngga bisa bales reviewnya...

di tunggu respon di part 4 nya yaaaa