Aku sempat membatu di depan pintu lift yang terbuka, berisikan satu orang lelaki bersurai hijau lumut, kacamata bertengger di wajahnya, mengenakan setelan jas cokelat tua yang masih rapi.
Aku menyipitkan mata seakan bertanya 'apa yang kau lakukan di sini?'
"Kau ingin masuk atau tidak, apartmenku ada di atas lantai ini." Ucapnya kembali membuyarkan pikiranku.
Tak perlu repot menjawab, aku langsung masuk ke dalam lift dan berdiri di sampingnya. Toh, liftnya tinggal naik satu lantai lagi, sepertinya tidak masalah.
Aku memerhatikan layar penunjuk nomor lantai, dan ternyata lift itu terus naik ke lantai 10, dari lantai 5. Orang mesum ini... benar-benar sialan.
"Kau bilang apartmen mu ada di atas lantai 5, artinya kau harus keluar di lantai 6. Kenapa liftnya tidak berhenti?" Tanyaku menuntut penjelasan.
Bukannya menjawab, ia malah menjepitku di antar dinding lift dan dirinya. Apalagi yang akan kau lakukan hah? Tak segan-segan aku melempar tatapan mengerikan.
"Jangan melihatiku seperti itu. Kau semakin enak dilihat saja."
Aku mengedipkan mataku beberapa kali. Apa yang barusan ia bilang? Apa ia sedang menggodaku? Ayolah ini bukan waktunya bercanda.
"Apa kau ingin 'main' ke apartmenku sebentar?"
Apa aku tidak salah dengar? Aku bilang jangan bercanda. "Jika berurusan dengan mu tidak akan sebentar."
"Mungkin kau tidak sadar, yang bikin lama itu 'kan dirimu." Ucapnya kembali sambil menunjuk ku dengan jari telunjuknya tepat di depan wajahku. Selain mesum, ternyata dia juga tidak sopan.
Aku langsung menepis jari jenjang itu dengan kasar. "Kau tidak pernah diajari sopan santun ya?"
Tiba-tiba, tatapannya berubah jadi sangat meremehkan. "Lho, bukannya kau yang duluan? Kau duduk di atas meja kerjaku, dan tanpa sengaja kau menaikkan libidoku. Rasanya aku ingin memakanmu."
Aku merasakan wajahku memanas. Apa-apaan reaksi ini. Kenapa aku merona? Di depan orang mesum sepertinya? Pasti aku akan 'kena' lagi.
"Nah, wajahmu bagaikan surat pengakuan sekarang. Merah. Merona." Nada bicaranya terdengar menjengkelkan.
Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Aku melihat ke layar penunjuk nomor lantai, kami sudah berada di lantai 15. Tapi, Midorima masih enggan untuk menyingkir rupanya.
"Jadi, jawabanmu, ya atau tidak?" Ia memberikan pilihan yang useless bagiku.
"Sebenarnya, aku berniat ingin menyeretmu saja sih." Lanjutnya.
Aku bilang juga apa, pilihan useless. Dasar mesum! Kau pikir kau bisa menjebakku lagi seperti kemarin hah?
"Kau ingin jawab atau tidak? Kalau kau tidak menjawab terpaksa aku harus menyeretmu. Aku beri waktu sampai hitungan ke lima. Satu..."
Sial, sial, sial..! Apa dia berusaha menjebakku lagi? Aku tidak akan pernah terperangkap lagi. Tapi, bagaimana pula caranya aku keluar dari sini?
"Dua..."
Ayo cepat, Seijuro... kau pasti tahu seribu cara melarikan diri dari orang mesum.
"Tiga..."
"Baiklah, baiklah..! Aku akan berkunjung ke tempatmu." Kenapa aku jadi mengiyakan?!
"Anak pintar." Ia mengacak surai merahku sejenak sebelum berbalik dan melangkah keluar dari lift.
Aku mencoba untuk melangkah perlahan. Aku sudah memikirkan rencana yang bagus. Aku terus berjalan dengan langkah yang dilambatkan di belakangnya.
Sampai Midorima benar-benar keluar dari area lift, buru-buru aku menekan tombol untuk menutup pintu lift. Sialnya pintu lift itu lamban sekali tertutup.
Tak sampai sepuluh detik, Midorima berhasil menahan pintu lift sampai akhirnya terbuka kembali secara otomatis.
"Oh, anak ini liar juga rupanya."
Aku melihat kilatan yang berbeda dari sebelumnya di matanya. Manik emerald itu seakan marah padaku.
Tanpa segan pula, ia langsung menarik tanganku dengan kasar dan menyeretku dengan paksa ke dalam apartmennya. Apalagi yang akan terjadi padaku?
Setelah melihat sofa di depan mata, ia langsung melemparku ke sofa. Tanpa ragu, ia menindihku. Aku berada di bawah naungannya sekarang.
"Apa yang akan kau lakukan?" Aku kembali melempar tatapan yang mengerikan.
"Apa ya.." ia tampak sedang menerawang jawabannya. "Aku merasa, kau berbeda dari yang sebelum-sebelumnya."
'Sebelum-sebelumnya...?!' "Apa maksudmu?! Apa artinya kau sudah 'main' dengan banyak orang? Aku tidak mau melakukannya dengan orang bekas seperti mu!" Aku mencoba berontak, namun Midorima langsung memegangi kedua tanganku.
" 'tidak mau melakukannya denganku'? Artinya kau juga ingin melakukannya, kan?"
Aku merasakan kembali pipiku yang memanas. Memang aku merindukan sentuhan 'itu', tapi bukan berarti aku ingin melakukannya.
Ia mulai mendekatkan wajahnya padaku. Lalu, ia menjilat daun telingaku. Rasa geli langsung menjalar ke seluruh tubuh.
"Kau senang 'kan jika aku yang melakukannya?" Bisiknya tepat di daun telinga. Aku yakin daun telingaku sudah memerah.
"Sensei, hentikan. Aku tidak suka kalau seperti ini."
"Aku ingin mengajarimu lebih banyak lagi.." ia kembali berbisik.
"Ah.. sensei!" Aku langsung panik seketika saat Midorima meraba bagian bawahku yang masih terhalang celana panjang.
"Kau menyukainya, kan?" Ia terus mengelus bagian itu sampai terasa celanaku menyempit.
Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku tidak akan lagi mendesah karenanya!
Tiba-tiba, aku merasakn jarinya meraba bibirku dengan lembut. "Jangan digigit begitu. Nanti sakit." Refleks, aku langsung melepas gigitanku dan tubuhku melemas dengan sendirinya.
"Anak pintar.." ia mengelus surai merahku dengan lembut, lalu tangan besarnya turun membelai pipiku, sangat lembut.
Aku merasakan perubahan pada raut wajah Midorima. Entah mengapa, tatapannya menjadi lembut dan aku tenggelam dalam emeraldnya. Dia sangat tampan.
Akupun melakukan apa yang ia lakukan, tanganku bergerak untuk membelai wajah tampannya. Aku benar-benar sudah terhanyut.
Di menit berikutnya, ia menautkan bibirnya ke bibirku. Aku merasakan ciuman yang lembut, manis, dan menagihkan. Apa aku masih waras?
"Hari ini aku sangat lelah. Maukah kau melakukannya untuk ku?" Mintanya dengan nada bicara yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Aku membalasnya dengan anggukan pelan. Entah kenapa, aku tidak merasa sedang mengendalikan tubuhku. Mereka bergerak mengikuti naluri, atau nafsu?
Midorima segera mengubah posisi kami. Ia mengubah posisinya menjadi duduk dan aku berada di pangkuannya. Tanganku mulai bergerak untuk membuka jasnya. Berikutnya, membuka dasi yang melingkari kerah kemejanya. Setelah itu, aku mulai membuka kancing kemejanya perlahan-lahan.
Tangan Midorima pun tak ingin diam. Ia membantuku untuk menanggalkan pakaian yang masih menempel di tubuhku. Entah mengapa, tanganku bekerja lebih lambat dari Midorima.
Pengelihatanku langsung gelap seketika. Midorima menutup mataku dengan dasi lagi. "Kenapa kau menutup mataku lagi?"
"Lanjutkan." Aku tidak mendapat jawaban yang sepadan.
"Lepas dulu penutup matanya-"
"Lanjutkan saja."
Aku langsung terdiam. Aku kembali membuka kancing kemejanya sampai seluruhnya terbuka.
"Apa yang harus aku lakukan berikutnya?" Tanyaku.
"Cium aku. Buat aku bergairah."
Jujur saja, menonton film porno saja aku belum pernah. Bagaimana caranya membuat seorang lelaki jadi bergairah?
Aku pun menurutinya saja. Aku memulai dari bibirnya. Aku menciumnya dan menjilatinya dengan gaya slow motion. Aku menggigit kecil dagunya. Aku mendengar deru nafasnya yang sedang kenikmatan.
Lalu bibirku terus turun dan sampai pada leher jenjangnya. Aku menjilatinya, menciuminya, dan menggigitnya. Aku merasakan sesuatu yang lain terbangun di bawahku. Apa dia sudah menegang?
Bibirku terus turun hingga ke dadanya. Aku meraba dadanya, mencari dua tonjolan istimewa yang memungkinkan dapat menaikkan libido jika disentuh. Dan aku berhasil menemukannya dengan cepat. Aku langsung menghisap kuat-kuat tonjolan itu, yang satunya aku mainkan dengan tanganku. Dan aku melakukannya secara bergantian pada keduanya.
Aku merasakan Midorima membaringkan tubuhnya dan membiarkan aku berada di atasnya. Aku terus menghisapnya, hisapan ku pun turun ke perut dan melakukan hal serupa. Sepertinya ia sudah menegang sempurna.
Tanpa suruhannya lagi, aku langsung membuka ikat pinggang Midorima dan membuka risleting celananya. Aku meraba-raba di mana benda itu gerangan. Setelah menemukannya, aku memijitnya perlahan.
Entah mengapa, seluruh ototku bekerja secara otomatis. Sungguh, aku benci mengakuinya. Benda itu terasa sangat besar dan keras. Aku juga merasakan basah di tanganku. Apa dia mulai ereksi?
Setelah puas memijitnya, aku juga menggunakan lidahku. Aku menjilatnya sambil terus memijitnya perlahan, aku ingin mendengar desahannya.
"Akashi, gerakanmu lamban sekali. Aku sudah tidak tahan."
Aku tak mengindahkan perkataannya. Aku masih berada di ritme yang sama, tidak lamban dan tidak cepat. Aku memijitnya dengan sangat hati-hati. Ayo mendesah, teriakkan namaku.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar menangkup wajahku dan sedikit mengejutkan. "Tambah kecepatannya atau kau tidak selamat."
Aku langsung merutuk dalam hati. "Beraninya kau memerintah seorang Akashi."
Tangkupannya pun mengerat, memberi rasa nyeri kepada kedua belah pipiku. "Cepat. Kau bukan siapa-siapa saat ini."
Aku merasakan rasa ngilu di dadaku. Sial, dia menarik putingku, dan kalian tahu rasanya sangat sakit.
"Sensei, hentikan." Pintaku.
"Naikkan kecepatannya, baru aku lepas."
Dengan sangat terpaksa aku menurut dan menaikkan ritmenya. Aku mempercepat gerakan tanganku sambil sesekali menjilat dan mengulumnya. Tak berapa lama kemudian, keluarlah cairan semen dari ujung benda itu, mengotori wajahku.
Aku mendengar nafas lega dari bibir Midorima. "Bagus sekali, Akashi. Sekarang, buka celanamu dan masukkan milikku ke dalam mu."
Tubuhku mengejang. Apa-apaan itu? "Ayo cepat, Akashi..." pintanya kembali.
Akhirnya, aku menanggalkan celana panjangku beserta dalamannya. Aku bersiap memasukkan batang besar itu ke dalam lubang kecil ku. Aku benar-benar tidak yakin.
Midorima sensei mulai memegangi pinggangku. Secara paksa ia menurunkan tubuhku, agar batangnya cepat masuk ke dalam ku.
"Ah..!" Aku langsung mengerang kesakitan. Sungguh, rasanya masih sakit. Aku pikir tidak akan sakit untuk yang kedua kali.
Rasanya aku ingin mencakar sesuatu. "Sensei... ini masih sakit.. aku tidak bisa." Aku tidak bisa menggerakan tubuhku lagi.
"Ayo, Akashi. Bergeraklah, tidak apa-apa. Nanti sakitnya juga hilang." Midorima mengelus pahaku dengan sensual, membuatku melakukan pergerakan kecil yang membuatnya merasa nikmat.
Aku sangat merasakan milikku yang juga menegang sempurna. Ayolah, 'ia' juga ingin dimanjakan.
Aku mencoba untuk bergerak naik turun dengan perlahan. Memang rasa sakit itu hilang dan tergantikan dengan rasa ketagihan. Semakin lama ritmenya semakin cepat.
Aku merindukan sensasi ini. Tanpa sadar, aku sudah mendesah keenakan. Berikutnya, aku merasakan sebuah tangan bermain dengan milik ku. Aku semakin nikmat dibuatnya.
Aku merasakan miliknya semakin membesar dan berkedut-kedut di dalam sana. Aku terpancing untuk bergerak lebih cepat dan lebih cepat lagi seterusnya. Sampai, cairan hangat memenuhi lubang kecil itu.
Aku pun langsung ambruk di atas Midorima. Nafasku memburu, aku mencoba untuk mengatur nafas ku kembali.
"Anak pintar.." Midorima mengelus surai merahku dengan lembut. Surai ku pun basah karena keringat.
"Sensei... aku sangat lelah.." aku masih tidak bergerak dari posisi semula dan aku tidak peduli.
"Tidurlah." Satu kata itu pun ampuh membuatku tertidur pulas hingga pagi.
.
.
.
"... ngun.. bangun.. hei, Akashi, bangun!"
Seseorang memanggilku dengan tidak sabaran. Sumpah, mataku masih sangat berat untuk dibuka. Aku hendak menutup mataku lagi, namun tamparan kecil mendarat di pipiku.
"Ng.." aku mencoba membuka mata dan aku mendapati kepala seseorang berwarna hijau lumut. Wajahnya masih terlihat buram. Namun, perlahan menjadi jelas.
"Sensei..!" Aku langsung terbangun sepenuhnya.
"Kau ingin pulang atau tidak?" Ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
Ranjang? Kenapa bisa aku ada di atas ranjang? Seingatku, semalam sehabis melakukan 'itu' aku tertidur di atas tubuh Midorima dan Midorima berada di atas sofa.
Aku melihat ke arah jendela, sepertinya di luar sudah terang. "Jam berapa sekarang?"
"Kau bisa melihatnya sendiri." Ia menunjuk ke arah jam yang ada di atas meja, tak jauh dari ranjang. Waktu menunjukkan pukul 9.
'Astaga.' Hatiku menjerit, aku baru ingat bahwa aku tidak pulang ke rumah, bahkan aku sudah tidak mungkin pergi ke sekolah.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku pagi-pagi? Aku harus pergi ke sekolah!" Aku langsung protes kepada lelaki bersurai lumut itu.
"Aku sudah membangunkan mu dari tadi, tapi kau hanya melenguh dan mengubah posisi tidurmu."
Jawaban yang sangat polos. Bukan, bukan, benarkah aku tidak bangun saat dibangunkannya? Tidak mungkin. Pendengaranku adalah pendengaran yang paling sensitif tidak mungkin aku tidak mendengar suaranya.
Di menit berikutnya, sebuah tangan meraih dagu ku. Tangan itu mendongakkan kepalaku, memaksaku menatap sebuah manik emerald.
"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Tidak datang ke sekolah satu hari juga tidak apa-apa."
Aku merasakan wajahku memanas lagi. Aku langsung menepis tangannya cepat-cepat dan membuang muka. Kenapa ia selalu terlihat tampan? Aku bingung.
"Ayo cepat bangun. Kau pasti lapar, kan? Aku sudah membuatkanmu sarapan." Ia langsung beranjak dari posisinya dan berjalan keluar dari ruangan ini.
Aku pun ikut beranjak. Aku menurunkan kaki ku ke lantai. Gerakan terhenti saat baru ingat aku sedang telanjang bulat. Tapi ternyata tidak. Aku mengenakan kemeja sekolah ku dan celana bahanku. Apa dia memakaikannya kembali?
Aku melangkah keluar dari ruangan itu mencari kamar mandi dan tak perlu waktu lama untuk menemukannya. Aku mencuci muka dan tak lupa menggosok gigi. Aku baru ingat kalau sikat gigi itu pasti bekas Midorima. Hah.. aku tidak peduli.
Setelah urusan di kamar mandi selesai, aku melangkah kembali menuju ruang makan. Di meja makan, Midorima sudah duduk manis, membaca koran ditemani segelas kopi. Elegan sekali ya dia.
Aku segera menempatkan diriku di kursi seberangnya. Di meja makan sudah tersedia satu piring sarapan, berisi roti panggang dengan lelehan keju di atasnya, ada telur mata sapi dan juga sosis. Oh, dia pintar masak juga ternyata. Terasa perutku ingin sekali bernyanyi.
"Akashi, sebaiknya kau tinggal di sini dulu sampai waktu pulang sekolah. Karena aku bilang pada ayahmu bahwa kau sudah di sekolah dalam keadaan selamat." Ucapnya di sela-sela ritual sarapanku.
Aku hampir saja menjatuhkan garpu yang ada di genggaman dan membiarkan mulutku setengah terbuka. "Kenapa kau berbohong pada ayahku?!" Meledak sudah emosiku.
"Yah, habis aku sudah tidak punya ide. Sudahlah tidak apa-apa." Jawabnya kembali tanpa perlu repot-repot melihat ke arahku, ia masih cinta dengan korannya.
Seandainya aku punya tenaga dalam, garpu itu pasti sudah patah di tanganku, sekalipun terbuat dari stainless steel. Aku pun melupakannya sejenak dan kembali fokus pada sarapanku.
.
Kyoto, 16.10.
"Sei-chan...! Kau ada dimana?! Kenapa kau tidak masuk?! Kau kenapa?! Sakit?! Apanya yang sakit?!"
Jeritan Reo langsung menggema saat aku terima panggilan darinya.
"Reo, bisakah kau kecilkan volume suara mu? Terlalu berisik."
"Tapi, kan aku khawatir padamu. Kau jarang sekali tidak masuk, bahkan tidak pernah! Nah, sekarang kau ada dimana?"
"Aku ada di..." aku malas sekali melanjutkan kalimat ini.
"Di...?" Reo mengulanginya lagi.
"Di.. apartmen Midorima-sensei.."
"APA?! Sei-chan apa kau baik-baik saja?! Kau di apakan lagi?!" Reo menjerit lagi.
"Ya.. semuanya hanya terulang lagi.." jawabku benar-benar malas.
"Sei-chan.. kenapa kau mudah sekali dibujuk.."
"Aku juga tidak tahu, Reo."
Setelah sesi telepon yang lumayan panjang tadi, Reo kembali menceramahi ku karena kebodohanku. Setelah latihan basket, ia akan segera pulang dan menjemputku di sini. Aku baru ingat aku jadi melewatkan latihan basket juga.
Tiba-tiba, bel apartmen berbunyi. Terpaksa aku harus berjalan menuju pintu masuk karena tuan rumah sedang tidak ada.
Sesampainya di depan pintu, aku langsung membuka pintu dan.. lihat apa yang aku temukan. Seorang anak laki-laki bersurai hitam, berbelah tengah, mengenakan gakuran hitam. Apa dia anak SMA? Hei, apa aku pernah melihatnya?
"Kau... Takao dari Shutoku?" Aku bertanya setengah tidak percaya.
"Kau juga.. Akashi dari Rakuzan?"
Akhirnya kami berdua saling mengingat. Ya, kami pernah bertanding di Winter Cup tahun kemarin, lalu kami bertemu di tempat yang tidak terduga.
"Sedang apa kau datang ke sini?" Aku bertanya.
"Kau sendiri kenapa bisa ada di dalam sini?" Ia malah bertanya kembali.
"Jawab saja pertanyaanku." Ucapku mulai jengkel.
"Aku.. kemari untuk bertemu Shin-chan.."
Aku membatu seketika. Shin-chan? Itu panggilan untuk Midorima Shintarou? Astaga, aku ingin tertawa sekaligus ingin muntah.
"Maaf, tapi dia sedang tidak di rumah. Ia sedang bekerja."
Kenapa dia bisa memanggilnya seperti itu?
"Begitu ya?" Takao melirik jam tangannya sekilas. "Ah, sebentar lagi dia juga akan pulang kok. Boleh aku menunggu di dalam?"
Dia tahu kapan Midorima akan pulang? Oke, aku mulai penasaran siapa orang ini. "Baiklah, silahkan masuk."
Kami menempatkan diri di ruang tamu. Kami duduk berseberangan dan saling menatap tidak percaya.
"Kau, ada keperluan apa dengan Sensei?" Aku membuka pembicaraan kembali.
"Aku salah satu pasiennya Shin-chan. Aku sudah melakukan terapi bersamanya sejak dua tahun yang lalu. Awalnya, ia bekerja di Tokyo, aku dengar ia pindah kemari mulai tahun kemarin, jadi aku ingin mengunjunginya."
Takao Kazunari, ia sudah lebih dulu bertemu dengan Midorima. Mereka adalah sepasang dokter dan pasien. Kenapa aku merasa ada hal yang aneh?
"Takao, apa yang kau lakukan di sini?" Terdengar suara Midorima, ia sudah pulang, tepat seperti apa yang dikatakan Takao. Kenapa ia bisa mengetahui segalanya tentang Midorima?
"Shin-chan..! Aku sangat merindukanmu!" Takao langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Kau ini apa-apaan sih?" Midorima terlihat kesal, mungkin?
"Shin-chan, pindah tidak bilang-bilang padaku. Kenapa kau seperti itu? Kita belum putus, kan?"
Aku membatu seutuhnya. Rasanya, tubuhku tidak bisa digerakkan.
"Apa-apaan kau ini? Aku bilang kita tidak ada hubungan apapun. Kau hanya pasienku."
Kenapa percakapan mereka terdengar sangat tabu di telingaku?
"Kalau memang aku hanya pasienmu, kenapa Shin-chan mengajak ku tidur bersama?"
Pecah sudah gendang telingaku. Aku langsung bangkit dari sofa dan meninggalkan ruang tamu.
"Kalau ngomong jangan sembarangan. Cepat keluar dari sini, kita tidak akan bertemu lagi."
Samar-samar, aku mendengar Midorima mengusir Takao dari apartmennya. Apa maksudnya ini? Dan kenapa ada perasaan aneh yang membendung?
Aku masih terduduk di balik pintu sebuah ruangan. Aku tidak tahu ini ruangan apa, tapi aku yakin ini bukan ruangan tempat dimana aku terbangun. Kenapa aku tidak pulang? Kenapa kaki ku malah membawaku kesini? Entahlah, yang aku rasakan adalah aku sudah dimiliki'nya'.
Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu yang masih aku sandari. Aku tak bergerak apalagi merespon.
"Akashi, buka pintunya." Suruh Midorima dari balik pintu.
Aku masih tak bergeming. Aku masih bersandar di pintu, berharap ia tidak membuka pintunya dengan paksa.
Betul saja, kenop pintu sudah diputar kesana kemari, sepertinya Midorima sudah mulai gerah dengan kelakuan ku.
"Akashi, aku tidak masalah jika memang harus menjebol pintu ini."
Aku pun menyerah. Aku berjalan menuju ranjang, entah ranjang siapa, dan duduk di tepiannya. Pintu pun terbuka tak lama setelah aku duduk. Terlihat sosok Midorima yang kusut, orang yang baru pulang kantor memang seperti itu ya penampilannya?
Ia berjalan mendekatiku, aku tak bisa bahkan tak berani menatap wajahnya. "Kenapa kau malah ke sini? Ada apa? Kau menginginkannya lagi?"
Aku bingung harus menjawab atau mendongakkan kepala saja. Baiknya bagaimana? "Sensei.." akhirnya mulutku terbuka juga.
"Ada apa, hm?" Ia menempatkan diri di sampingku. Aku masih tak berani menatapnya.
"Kalau boleh tahu, siapa anak itu?"
Tak ada respon hingga beberapa menit. Hingga lima menit lewat, ia menjawab. "Hanya pasien lamaku. Kami sudah cukup lama berhubungan sebagai 'dokter-pasien'." Ada sedikit penekanan di beberapa kata.
"Apa kau yakin hanya itu?" Pasti tidak sebatas itu, kan?
Midorima menghela nafas sejenak. "Ya, aku memang pernah tidur dengannya. Hanya sekali."
"Sekali? Kau tidak memikirkan perasaan orang setelah mendengar semua itu darimu?" Kenapa aku jadi mengatakannya? Apa artinya aku cemburu? Jangan bercanda.
"Untuk apa aku pikirkan jika orang itu juga menikmati?"
Aku langsung meninju wajah tampan itu tanpa segan. Sialan, semudah itu ia bicara? Kalau bicara mikir sedikit.
Aku berniat untuk beranjak dari ranjang. Tapi, ia malah menarik tanganku sampai aku terbaring di atas ranjang. Lagi-lagi ia menindihku. Aku sudah lelah dengan posisi ini.
"Lepaskan aku, aku mau pulang." Aku menatapnya setajam yang aku bisa.
Ia masih tak bergeming, melihati wajahku dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Apa yang dia inginkan?
"Aku sudah bilang, bukan? Kalau kau itu berbeda."
Kalimat itu seketika membuat jantung ku bekerja lebih cepat. Darah terpompa ke seluruh wajahku, wajahku sepertinya memerah.
Midorima semakin mendekatkan wajahnya padaku. "Kau juga merasakan sesuatu, kan?"
Kepalaku terasa ingin pecah. Bisakah dia menjauh sekarang? "Sensei, aku tidak pernah merasakan apapun." Aku langsung membuang muka.
"Ayolah, kau sangat manis kalau seperti ini." Ia menangkup wajahku dan membawanya untuk bertatapan dengannya.
Aku tidak akan lengah karena sebuah rayuan. "Lepaskan aku, Sensei." Aku mulai memberontak.
Tak disangka, ia malah menciumku di bibir. Ia membekap mulut dengan ciuman yang terasa manis. Apa-apaan ini?!
Ia terus menekan bibirnya, semakin dalam. Tubuhku melemas dengan sendirinya. Aku terbawa ke dalam permainannya.
Setelah bibir kami terpisah, entah mengapa, Midorima terlihat berbeda dari sebelumnya. Ia terlihat lebih bergairah. Tanpa sadar libidoku pun ikut naik. Aku membelai pipinya, membelai wajah tampannya. Aku benar-benar gila. Aku menatapnya lekat-lekat.
"Ada apa? Kau terlihat menginginkan sesuatu." Midorima sedikit menyeringai. Sial, aku tidak bisa mengendalikan diri.
"Aku.." aku memutar bola mataku, menolak adanya kontak dengan si emerald. "Aku tidak menginginkan apa-apa darimu, Sensei.."
Tiba-tiba, ia menarik tubuhku dan mengubahku ke dalam posisi duduk. Astaga, dia kuat sekali. Ia menatapku lekat-lekat. Aku tak punya opsi lain untuk berpaling.
"Kau seperti ingin menyampaikan sesuatu. Apa itu?" Tanyanya dengan intonasi yang merajuk.
Aku menunduk sejenak, menimbang apakah aku harus terus terang atau diam saja. "Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Tapi, aku selalu ingin bersamamu, aku hanya ingin disentuh olehmu." Aku meletakkan tangannya ke sebelah pipiku sendiri.
Tangannya pun bergerak sendiri membelai wajahku. Ya, aku rindu sentuhan itu. Aku ingin kau lebih menyentuhku lagi.
"Apa kau tidak keberatan jika kita melakukannya lagi?"
"Tidak. Aku sama sekali tidak keberatan." Jawabku secepat kilat.
Midorima menghela nafas sejenak. Ia menanggalkan dasi yang sedari tadi menggantung di lehernya. "Baiklah.." ucapnya. Lalu, ia melingkarkan dasi itu di kepalaku, menutupi kedua mataku.
Aku merasakan bibirnya yang menempel di bibirku, ia menciumku. Ciuman lembut itu, aku sangat menyukai ciuman itu. Ia terus menciumi ku dengan lembut di mana-mana. Hal itu hanya akan terulang lagi.
.
Kyoto, 20.12.
"Hei, Akashi, ada seseorang datang untuk menjemput." Tiba-tiba Midorima masuk ke dalam kamar mandi. Untung aku sudah berpakaian.
"Aku akan ke sana."
Aku keluar kamar mandi dan menuju ruang tamu. Dan apa yang aku dapatkan, Reo sudah duduk manis di sofa panjang.
"Sei-chan..! Ayo kita pulang. Aku sudah mendapat panggilan 'misterius' dari rumahmu."
"Baiklah, ayo kita pulang, Reo. Sensei, terima kasih untuk hari ini. Ja." Aku pamit kepada tuan rumah sekaligus berlalu dari balik pintu.
'Rasanya aku tidak mau pulang.'
.
.
.
To be continued.
Yo~ saya apdet kaaan~?
Jadi gimana penantiannya menuju chapter 2? kelamaan, kah? kecepetan, kah? atau tak sangka tak di ngana? /lebay
Sekedar info aja, fic ini bener-bener hardcore, M keras, ati-ati yang belom cukup umur, jadi anak baik yah~ pokoknya di fic ini bakal banyak adegan 'overdose' wkwk /kojadioverdose/entahsayajugabingung/pfft/
Well, yang penting terima kasih untuk kalian semua yang sudah mampir, baca, review, pokoknya ai lope yu dah~
So, sampai bertemu di chapter berikutnya!
Ja~
