"Akashi Seijuuroo…!"

Teriakan nyaring guru fisika berkepala kinclong menggema di telingaku. Aku langsung membuka mataku dan mengangkat kepalaku tinggi-tinggi, langsung menghadap guru fisika tercinta.

"Belajar hingga larut malam membuatmu sampai tertidur di kelas?" Guru itu bertanya lagi menuntut penjelasan.

"Iya, pak." Aku tak punya jawaban lain selain berbohong. Tidak mungkin 'kan aku membeberkan apa yang sebenarnya terjadi padaku.

Guru itu hanya mengangguk 'sok' paham dengan jawaban ku.

.

"Sei-chan~ sadarkah kau kalau ada kantung mata di bawah matamu?" suara Reo menyadarkan ku kembali pada kesadaranku setelah 90 detik aku hampir saja jatuh tertidur.

"Ayo dimakan, Sei-chan. Nanti makananmu keburu dingin." Reo kembali mengingatkan dan aku kembali pada realita, menatap makanan yang sudah aku beli sejak dua menit yang lalu.

Aku mulai menyentuh makanan yang sedaritadi ku abaikan. Aku memakannya tanpa semangat hidup, jujur aku butuh tidur. Ayolah, lima menit saja sudah cukup untuk mengembalikan energi ku.

"Apa yang sebenarnya terjadi semalam, Sei-chan?" Reo bertanya lagi, rasanya aku ingin mengomelinya, tapi energy saja tidak punya. Apalah daya?

Aku menghentikan kegiatan makanku sejenak. "Aku tidak bisa tidur semalaman." Jawabku sangat singkat, lalu kembali melanjutkan makan.

Reo hanya mengangguk-ngangguk. Pura-pura mengerti mungkin? "Yakin? Bukan karena kepikiran yang 'di sana'?"

Aku kembali menghentikan kegiatan makanku, bukan sengaja dihentikan, tapi spontan, refleks. Sejak kapan Reo bisa membaca pikiran orang? Apa dia sedang mendalami suatu ilmu atau hal semacamnya. Perlahan pipiku terasa panas.

"Apa yang kau bicarakan, Reo? Aku tidak mengerti." Aku berusaha menyembunyikan sesuatu yang baru saja tertangkap basah oleh orang lain. Apa bisa?

"Apa aku harus mengatakan hal yang sebenarnya? Apa aku harus buka rahasiamu di sini, Sei-chan?" Bidadari ini ingin menjelma jadi iblis ya?

"Baiklah, Reo. Aku tidak bisa tidur semalaman karena aku terus memimpikan hal 'itu' dan itu sangat menjijikan. Dan aku baru bisa tidur pukul lima pagi." Ucapku panjang lebar, agar Reo puas dengan jawabanku.

"Sei-chan.. aku harap setelah pulang sekolah, kau tidak langsung kabur ke tempatnya dan melakukan hal serupa." Keluarlah nasihat ala ibu-ibu milik Reo. Terima kasih, bidadari.

"Tentu saja aku tidak akan kembali ke tempatnya."

.

Dusta.

Apa yang aku lakukan di depan gedung apartmen Midorima-sensei?! Kemana akal sehatku yang benar-benar sehat? Aku melirik jam tangan sebentar, sepertinya jam segini, Sensei belum pulang kerja. Apa sebaiknya aku batalkan saja niat burukku ini? Lama-lama aku bisa gila.

"Shin-chan… aku tidak ingin kau meninggalkan ku lagi, aku mohon.." terdengar suara merajuk seseorang yang pernah aku dengar sebelumnya. Tentu aku langsung menghadap sumber suara.

Dari jarak yang agak jauh, aku melihat seorang pria tinggi dengan suari hijau lumut. Di belakangnya, seorang anak SMA dengan gakuran hitam, bersurai hitam pula, dan memiliki rambut bermodel belah tengah, sedang mengikuti pria itu.

Tak perlu diragukan lagi, karena aku yakin mataku tidak minus berapapun, pria bersurai lumut itu adalah Midorima Shintarou-sensei. Dan laki-laki yang mengikutinya itu… Takao Kazunari. Orang yang mengunjungi apartmen Midorima-sensei kemarin, dan kebetulan aku yang menyambutnya karena tuan rumah sedang tidak ada di tempat.

"Takao, tolong berhenti mengejarku seperti ini. Kau sudah sembuh sekarang kau tidak perlu mendatangi aku lagi." Midorima-sensei berbalik menghadap Takao.

"Tapi… Shin-chan… aku tidak bisa jika tidak melihatmu.." tanpa seizin Midorima-sensei, Takao menyenderkan kepalanya ke dada bidang Midorima-sensei.

Mataku berpotensi silinder saat melihat pemandangan itu. Astaga, bikin iritasi saja, adakah yang punya obat tetes mata? Mataku tidak bisa berkedip tiba-tiba.

Midorima-sensei tak punya pilihan lain, selain merespon perbuatan mantan pasiennya itu. Ia hanya menghela nafas, "baiklah… apa yang kau inginkan sekarang?"

Takao masih saja mengusap-usap kepalanya ke dada Midorima-sensei dengan manja, dasar kucing terlantar! "Aku ingin menghabiskan hari ini dengan Shin-chan.. aku mohon Shin-chan…"

Aku langsung membatu di depan gerbang apartmen itu. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, apa artinya aku tidak bisa bertemu dengannya untuk hari ini? Tapi, rasanya hal itu sangat mustahil untukku.

Aku langsung berlari dengan kekuatan Zone, berlari pulang ke rumah ku yang lumayan jauh dari apartmennya. Ya, berlari. Tentu saja, kapan aku pernah bercanda?

.

"Aku lelah…"

Aku bergumam pada diriku sendiri sambil menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur. Tiba-tiba ponselku berbunyi dengan nada panjang, menandakan ada panggilan masuk. Tanpa menengok siapa yang menelpon, aku langsung menerimanya dan mendekatkan ponsel ku ke telinga.

"Sei-chan… kau benar-benar deh. Sudah mulai amnesia dengan latihan?"

Di dalam pikiranku sekarang, terdapat sebuah piala juara 1 Inter-High, dan tiba-tiba pemandangan itu retak bagaikan kaca yang di lempari benda padat, atau di tinju atlit angkat besi. Ah, hancurlah masa depan klub basket Rakuzan.

"Sei-chan~ aku tahu kau mendengarku dengan sangat baik." Suara Reo di seberang sana menggema lagi di gendang telinga.

"Reo, aku akan menerima hukumannya besok, tenang saja aku tidak akan kabur lagi."

Aku langsung memutuskan sambungan sepihak. Aku yakin Reo sedang menyumpah serapah diriku yang memang akal sehatnya sudah hilang dimakan imajinasi fantasi, romantis.

Omong-omong aku sudah melupakan perasaanku yang tadi. Sampai di mana aku tadi? Ah, adegan dokter dengan mantan pasiennya itu. Bodohnya kenapa malah aku ingat lagi? Aku menjambak surai merahku kesal. Tapi, aku yakin cepat atau lambat, adegan itu pasti akan menggentayangiku lagi.

Aku langsung beranjak lagi dari tempat tidur dan menanggalkan seragamku sembarangan. Lalu berjalan menuju kamar mandi, aku segera mengucurkan shower. Perlahan air dingin membasuh setiap inci tubuhku. Rasnya menyegarkan sekaligus menyakitkan.

Aku merindukan sentuhan itu lagi, tolong bantu aku menghilangkannya. Tanpa sadar, tanganku menggerayangi tubuh bagian bawahku sendiri. Sial, aku sudah kecanduan. Aku memukul tembok kamar mandi sekencang mungkin untuk menghilangkan perasaan ini.

Tanpa sadar pula, tanganku sudah menggenggam milikku sendiri. Ah.. aku menginginkannya. Midorima-sensei…

"Akashi-san…! Anda kedatangan tamu." seseorang memanggilku dari luar ruang kamar pribadiku.

Aku langsung tersadar dari fantasi burukku. Aku tidak menjawab apa-apa. Aku hanya mempercepat gerakanku untuk berpakaian. Setelah berpakaian cepat-cepat aku keluar kamar dan menuju ruang tamu dengan handuk yang masih bertengger di kepalaku, tapi aku tidak menemukan siapa-siapa di sana. Instingku berkata, bahwa tamuku sedang menunggu di luar.

Benar saja, aku dibuat terkejut. Aku hampir saja membiarkan mulutku yang setengah menganga. Aku melihat pria tinggi bersurai hijau lumut, berdiri santai dengan background mobil mewah berwarna hitam. Ia mengenakan kemeja santai dengan celana panjang bahan berwarna gelap. Oh, jangan lupa dengan kacamata yang menghalangi dua manik emerald yang menggoda itu.

"Midorima-sensei, apa yang kau lakukan di sana?" aku masih bisa menahan suaraku dengan nada normal.

Bukannya menjawab, ia malah berjalan menghampiriku dengan langkah terburu-buru. Ia langsung menarik tanganku dan aku agak terkejut tapi aku masih bisa menahan jeritan. "Sensei, apa yang kau lakukan?"

Ia membukakan pintu mobil dan langsung melempar ku ke dalam. Mulailah aku panik. Apa yang akan dia lakukan? Ia pun ikut masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas dengan segera. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menuju.. entah kemana.

Beberapa pertanyaan tak henti-hentinya aku lontarkan, tapi tak satupun jawaban keluar dari mulutnya. Setelah setengah jam perjalanan, kami sampai di sebuah luxury hotel. Astaga, kenapa perjalanan ini berakhir di sini?

Ia kembali menarik tanganku dan masuk ke dalam hotel. Entah ia memang sudah check in atau bagaimana, ia langsung membawaku ke dalam lift. Dan serangan tiba-tiba datang. Ia langsung memojokkanku dengan dinding lift yang dingin itu.

"A-apa yang kau inginkan?" aku menatap wajah tak berekspresi itu ragu-ragu.

Aku seperti manusia yang sedang berdiri di depan vampire yang kehausan. Rasanya aku ingin mati saja. "Hei, kau belum menjawab ribuan pertanyaanku."

Lagi-lagi tak ada jawaban. Lama-lama aku jadi muak sendiri karena tidak digubris sama sekali. Serangan kedua tiba-tiba datang. Ia langsung menangkup wajahku dengan satu tangan, tanpa permisi pula menempelkan bibirnya dengan bibirku. Bola mataku membola sungguhan.

Aku mendorong kuat-kuat dada tembok itu, sampai akhirnya ciuman itu berakhir dengan tidak elitnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?!" Ah, aku sudah tidak bisa menahan amarah lagi. Nafasku tersengal dan aku bernafas seperti ikan yang terdampar di pantai.

Bukannya menjawab ia malah menundukkan kepalanya. Sial, sungguh apa yang dia inginkan saat ini. Dan tiba-tiba aku baru sadar, aku masih menggunakan handuk di kepala dan kau tahu? Aku hanya mengenakan kaus dan celana pendek, aku sudah siap tidur. Tapi, bukan tidur yang seperti ini.

Tiba-tiba lift berhenti dan pintu lift terbuka. Midorima-sensei kembali menarik tanganku, menyusuri lorong yang menyilaukan mata ini, penuh dengan ornament berwarna emas.

Begitu sampai di ujung lorong, ia langsung membuka sebuah pintu kamar. Ia kembali menarik tanganku dengan tidak sabaran. Saat melihat sebuah ranjang besar, ia melemparku ke atas sana. Ditambah ia langsung menindihku dan mengunci pergerakanku. Dua manik emerald itu melihatiku dengan tatapan buas. Apakah aku akan selamat malam ini?

"Midorima-sensei-"

"Memangnya aku tidak melihatmu datang ke apartmen ku tadi sore? Lalu tiba-tiba kau berlari meninggalkan apartmenku. Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tiba-tiba ucapanku terpotong oleh kalimat yang aku anggap sebagai sindiran.

"Hah?!" aku langsung melotot galak. "Apa yang aku inginkan?! Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Lantas jika kau tidak suka dengan kehadiranku, kenapa kau malah pergi ke rumahku dan menculik ku sampai kemari?!"

Lagi-lagi ocehanku tidak mendapat respon. Sungguh, hari ini benar-benar sangat menyebalkan. Kenapa aku harus menjadi korban penculikan pedofil?

"Karena-" aku mendengar sepatah kata yang aku yakini belum selesai.

"Karena, aku yakin kau merasa tidak nyaman dengan apa yang aku lakukan dengan Takao. Aku tidak punya pilihan lain selain menidurinya untuk terakhir kali-"

Kalimatnya terhenti lagi. Ya, memang sengaja aku hentikan, dengan memberikan tamparan pada pipinya. Padahal aku menamparnya, tapi kenapa aku yang merasakan panas di pipiku? Dan merasa mataku mulai berair.

"Lalu.. kenapa kau melakukan semua ini sekarang?" aku merasakan air mata yang mengalir melewati pipiku. "Memangnya aku hanya pelarian untukmu? Atau memang benar-benar hanya untuk pelarian?"

"Jika memang benar begitu, sebaiknya aku tidak usah bertemu lagi denganmu, Midorima-sensei…" Midorima-sensei melonggarkan genggaman tangannya pada tanganku. Aku menutupi wajahku yang menyedihkan dengan kedua tanganku.

Aku merasakan tangan Midorima-sensei menarik tanganku yang menutupi wajahku, manik ku bertemu lagi dengan manik emeraldnya.

"Justru karena menidurinya sangat menyakitkan bagiku. Menyakitkan karena aku merasa sudah menipumu. Dan aku merasa bersalah, maka dari itu aku ingin menebus kesalahanku."

Aku hanya menatapnya heran, dan aku tercengang dengan ungkapannya. Benarkah, itu yang dirasakannya? Tolong beritahu aku bahwa aku sedang tidak bermimpi.

Tatapannya melembut, aku semakin tertarik dengan dua emerald itu. "Ini bukan mimpi, Seijuuroo…"

Air mata kembali menetes dan membasahi pipiku lagi. Kali ini aku benar-benar terharu. "Midorima-sensei…" panggilku sambil perlahan melingkarkan lenganku pada lehernya, mencoba memeluknya.

Tak terduga pula, Midorima-sensei balik memelukku. Ia merengkuhku ke dalam pelukannya. Rasanya aku rindu dengan saat-saat seperti ini. Aku merindukan sentuhan, tidak. Aku benar-benar merindukanmu Sensei, habiskanlah malam denganku.

Pelukan pun dilepas oleh Midorima-sensei, ia menempelkan bibirnya dengan bibirku. Ciuman yang sangat lembut, lebih lembut dari yang sebelum-sebelumnya. "Aku mencintaimu, Sensei…" ucapku saat ciuman itu terlepas.

Midorima-sensei menautkan keningnya dengan keningku, sampai suatu kalimat yang aku yakini sangat mustahil ia ucapkan, terlontar begitu saja dari bibirnya. "Aku juga mencintaimu, Seijuuroo.."

Aku merasakan pipiku memanas, mungkin mendidih. Refleks, aku kembali mencium bibir itu. Dan terus terulang sampai beberapa menit ke depan. Sampai, Midorima-sensei mulai mengeluarkan serangan khasnya.

Ia melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulutku, merabanya dengan sangat intesn. Aku hanya bisa mengikuti permainan yang sudah diatur olehnya. Cukup lama lidah itu bertautan, bibirnya turun menuju leherku. Ia menciuminya, menjilatinya, bahkan menggigitnya, meninggalkan sebuah tanda yang aku yakin akan sangat memalukan jika dilihat orang lain.

Tak lupa tangannya yang bebas mulai melesak masuk ke dalam kausku. Meraba dua tonjolan yang tumbuh di dadaku. Aku menahan lenguhanku. Ia memainkannya dengan sangat lihai, ia melintirnya perlahan, menggerayanginya dengan jari jenjangnya. Astaga, sesuatu terbangun di bawah sana.

"Tidak perlu ditahan, Seijuuroo.." ia kembali menatapku. Aku yakin wajahku sudah memberi isyarat untuk menyuruhnya melakukan yang lain.

Ia langsung membuka kausku dan langsung melahap tonjolan itu. Aku mulai melenguh kenikmatan. Sepertinya aku jadi semakin cepat terangsang, tentu saja! Aku meremas surai hijaunya gemas. Ia menjilatinya dan mengulumnya, ah, aku semakin tidak tahan.

"Sensei, aku.." jujur, aku malu mengutarakannya.

Ia menatapku lagi. "Aku sangat mengerti perasaanmu, Seijuuroo.."

Tangannya yang lain pun menggerayangi bagian bawahku. Tidak, aku semakin tidak tahan. Tolong jangan buat aku menjadi orang mesum setelah ini. Ia mengusap-usap sesuatu yang mulai menegang di balik celanaku. Dan terus semakin mengeras.

Tiba-tiba, sesuatu membuatku tersadar. Aku mendorong dada bidang Midorima-sensei, lalu mengubah posisi kami. Aku berada di atasnya. "Jangan curang, Midorima-sensei.."

Aku mulai membuka kancing kemejanya perlahan. Setelah aku melihat dadanya yang sudah tak terhalang apapun lagi, aku langsung melahap tonjolan miliknya. Tanganku yang lain pun memainkan tonjolan yang satunya. Beginikah rasanya menjadi yang di atas?

Setelah puas dengan dadanya, aku menatapnya. Lalu aku menanggalkan kacamata yang masih bertengger di wajahnya. "Apa kau masih bisa melihatku, Sensei?"

"Hm. Aku tidak perlu melihat untuk memuaskanmu." Ucapnya dengan nada remeh.

Lantas aku semakin tidak ingin kalah dengannya. Aku melempar kacamatanya entah kemana. Aku mulai menggerayangi miliknya yang masih dilapisi celana bahan. Ternyata ia juga sudah menegang, ya? Aku semakin gemas memainkannya.

Terasa sudah mengeras di genggamanku, aku langsung membuka risleting celananya, dan mengeluarkan miliknya yang sudah menegang sempurna, bahkan sudah ereksi.

"Sensei, kau benar-benar orang mesum." Aku memijit miliknya dengan gaya slow motion.

"Tapi, kau senang, kan?"

Aku tidak menjawabnya dan aku semakin mempercepat gerakan tanganku. Sungguh, dia cepat sekali terangsang. Tanganku sudah basah akibat cairan precum nya. Tiba-tiba hasrat ingin menjilatnya semakin besar, dan aku benar-benar menjilatnya. Dan tidak lupa menghisapnya kuat-kuat.

"Kau yang terbaik, Seijuuroo." Ucapnya yang sedikit menaikkan semangatku.

Aku semakin kuat menghisap benda besar itu. Dan ia mendesah karenanya. Aku benar-benar merasa di atas angina dan aku bangga. Aku menghisap sambil sesekali menjilati batangnya. Sepertinya, Sensei mulai kewalahan dengan perbuatanku.

Benda itupun semakin lama semakin besar, membuatku bergerak semakin cepat. Aku kembali menghisapnya kuat-kuat. Sampai akhirnya, ia klimaks di dalam mulutku. Mulutku pun penuh dengan cairan hangat berwarna putih. Aku langsung menelannya tanpa sisa.

"Seijuuroo, sepertinya kau harus lebih sering belajar." Tiba-tiba ia kembali merubah posisinya, aku berada di bawah lagi dan dia yang di atas.

"A-apa maksudmu, Sensei?"

Dengan sekali gerakan, ia langsung menanggalkan celana pendekku beserta dalamannya. "Seharusnya, kau membiarkan aku memuaskanmu dulu. Jika seperti ini, kau hanya akan membuatku semakin buas."

Aku merasakan jarinya sudah menggerayangi lubangku. Astaga, rasanya aku belum siap dengan ini semua. Perlahan, satu jarinya mulai melesak masuk ke dalam lubang itu. Aku langsung mengereng tak karuan dan aku semakin tidak tahan dibuat. Lalu, jarinya yang lain ikut masuk ke dalam. Ia mulai menggerakkan jarinya. Aku benar-benar sudah hilang akal.

Setelah beberapa lama, ia mengeluarkan kedua jarinya dari dalam sana. "Apa kau sudah siap?" tanyanya dengan suara yang merajuk.

"Aku harap kau masih punya sisi lembut, Sensei.."

Ia mulai menyiapkan miliknya di depan lubangku. Entah kenapa aku merasa deg-degan. Tak lama setelahnya, ia langsung memsukkan miliknya ke dalamku perlahan. Aku masih merasakan nyeri di sana. Aku menggenggam seprai di bawahku dengan sangat erat.

"Se-sensei.. sakit.."

Ia menarik sebelah tanganku agar berpegangan pada pundaknya. Lalu ia kembali mencium bibirku, perlahan rasa nyeri itu menghilang. Sepertinya, titel dokter yang ia punya sangat berguna. Ia mulai bergerak maju mundur perlahan. Semakin lama semakin cepat.

Aku harap saat-saat indah seperti ini tidak akan cepat berlalu. Kau sependapat denganku, kan, Sensei?

.

.

.

Hangat.

Itulah yang aku raskan saat aku terbangun dari tidurku. Saat aku membuka, aku merasa tidak leluasa bergerak. Akhirnya aku menyadari ada sebuah tangan yang merengkuhku. Aku merasakan pipiku memanas. Midorima-sensei memelukku dalam tidurnya. Aku membalikkan badanku menghadapnya. Dan kalian harus tahu apa yang aku dapatkan, aku melihati wajah tidurnya yang sangat.. ingin membuatku menutup mata dan membuka mata lagi, alias berkedip. Dia benar-benar terlihat lebih tampan jika seperti ini.

Tanganku mulai bergerak membelai pipinya. Entah apa yang membuatku sangat mencintai laki-laki ini dalam sekali pandang, sungguh mengerikan. Tak hanya itu, kejahilanku semakin-makin. Aku mencium bibirnya singkat, ya hanya sekedar menempelkannya. Dan aku langsung mendapatkan pergerakan dari empunya bibir.

Ia sedikit mengerang dan perlahan membuka matanya, entah kenapa kedua maniknya terlihat lebih bening dari sebelumnya. "Akashi.. ini masih jam 3 pagi dan kau membangunkanku." Ia sedikit memijit pangkal hidungnya.

"Kau lupa panggilanmu, Sensei.." aku agak sedikit sebal saat dia menyebutkan nama yang salah, ya tidak salah juga, maksudku, ya kau mengerti maksudku.

Ia sedikit menarik senyum. "Ada apa, Seijuuroo?"

"Aku harap kau tidak lupa memulangkanku, karena aku harus sekolah besok."

"Aku akan mengantarmu dua jam lagi, ayolah aku masih butuh istirahat."

Ia kembali memelukku dan kembali memejamkan mata pula. Aku tak punya pilihan lain, aku juga tak bisa memaksanya. Aku pun kembali memejamkan mata dan tertidur di dalam pelukannya.

Hangat.

.

"Akashi Seijuuroo…"

Aku lupa kalau hari ini ada pelajaran Fisika tepat di jam pertama, dan aku terlambat sepuluh menit di kelasnya. Aku hanya membatu menatap kepala kinclong yang menyilaukan itu.

"Belajar semalaman membuatmu terlambat datang ke kelas?"

"Iya, pak."

Setelah sepatah, dua patah, tiga patah, patah seluruhnya. Akhirnya aku diizinkan duduk, dan pelajaran tersendat akibat kedatangan murid yang tidak teladan. Tapi, entah aku tidak masalah dengan hal itu. Aku masih merasakan senang yang membekas, bekas semalam.

.

"Baiklah, Sei-chan. Kita mulai hukuman untukmu, aku tidak mau tahu. Kau harus lari keliling di luar sekolah, sepuluh menit lagi kau sudah harus ada di hadaapanku."

Setelah pemanasan, sprint, dan latihan seperti biasa, aku mendapat porsi tambahan. Ya kalian sudah lihat apa yang Mibuchi Reo berikan padaku. Tidak hanya sampai di situ, aku harus membersihkan lapangan basket juga. Aku merasa harga diriku lebih turun dari sebelumnya.

Sudah hampir sepuluh menit dan aku sudah hampir dekat gedung sekolah. Tiba-tiba sebuah pemandangan membuatku membatu sejadi-jadinya. Aku melihat pria tinggi dengan surai hijau lumut, mengenakan setelan jas berwarna biru gelap, ah, jangan lupa dengan kacamata yang bertengger di wajahnya. Ia tengah bersandar pada mobil hitamnya. Siapa lagi kalau bukan Midorima-sensei!

Aku langsung mempercepat lariku dan menghampirinya. Aku menatapnya dengan tatapan tidak senang, sekaligus bertanya dalam batin, 'Sedang apa kau di sini?'

"Aku datang untuk menjemput." Tanpa perlu ditanya sudah jawab sendiri.

"Aku 'kan tidak minta dijemput, kenapa kau datang kemari?"

"Kau tidak mau? Baiklah." Ia mulai membuka pintu dan berniat untuk masuk ke dalam mobil meninggalkanku.

"Tunggu." Aku langsung menarik tangannya, mencegahnya untuk masuk ke dalam mobil. "Jika kau ingin menunggu, aku masih ada sesuatu yang harus dikerjakan."

"Akan aku tunggu. Lagipula aku datang atas keinginanku sendiri." Ia membetulkan letak kacamatanya yang sama sekali tidak berpindah sesenti pun.

Aku sedikit menarik senyum dan langsung berbalik meninggalkannya. Aku kembali ke gym untuk melakukan tugas berikutnya, bersih-bersih, yang benar saja.

Baru saja aku akan menginjakkan kaki di gym, Reo sudah menatapku tidak bersahabat. Ayolah Reo, aku hanya terlambat dua menit dan itu tidak lama.

"Sei-chan, aku yakin kau tahu apa kesalahanmu."

"Ya, aku tahu dan aku mengakuinya. Sudahlah, Reo. Aku ingin bersih-bersih." Aku langsung berjalan menuju gudang untuk mengambil peralatan kebersihan.

"Tidak perlu."

Langkahku langsung terhenti dan langsung menatap Reo tidak percaya. "Apa maksudmu?"

"Aku lihat sepertinya ada orang yang sudah menjemputmu."

Aku mengedipkan mata beberapa kali. Sumpah, apa maksud Reo? Baru kali ini aku tidak bisa mengerti dirinya.

"Sepertinya, kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, ya Sei-chan? Omedetou." Reo langsung tersenyum ke arahku, dan aku kembali berkutat dengan ketidakmengertian ini.

"Sei-chan.. kenapa kau diam saja? Kau tidak ingin pulang? Aku sudah meringankan hukuman mu lho." Reo kembali berujar dan membuatku kembali tersadar.

"Jadi, aku tidak perlu bersih-bersih?" aku kembali mempertanyakan hal yang sama.

"Tidak perlu, berapa kali aku harus mengatakannya?" Reo kembali berujar dengan tidak sabaran. Ia berjalan kea rah ku dan menarik tanganku buru-buru. "Ayo sana ganti baju nanti kau ditinggal lho."

Ia menarikku sampai ke ruang ganti. Akhirnya aku mengganti bajuku dan setelah itu langsung keluar dari gym dan menghampiri Midorima-sensei.

"Maaf, aku lama." Ucapku sangat singkat.

"Cepat masuk ke dalam mobil, aku ingin cepat pulang." Ia segera masuk ke dalam mobil diikuti olehku.

Kalau kau ingin cepat pulang kenapa malah menjemputku? Dasar aneh.

.

"Kau bilang ingin menjemputku, kenapa kau malah membawaku ke apartmenmu?" aku bertanya dengan tidak santainya saat sudah menginjakkan kaki di apartmennya.

"Yang benar saja aku membawamu ke rumah mu, aku tidak bisa melakukan apa-apa di sana." Jawabnya sambil menanggalkan jas biru gelapnya.

"Apa maksudmu tidak bisa melakukan apa-apa?" aku menatap horror ke arahnya.

"Aku sudah mendapatkan persetujuan dari ayahmu, kau boleh tinggal di sini. Dan barang-barangmu sudah ada di kamarmu." Ia pergi ke dapur, mengambil air dan menengguknya dengan sangat santai.

Aku semakin membatu dibuatnya. Yang benar saja aku tinggal bersamanya?! Akan diapakan aku jika selalu bersamanya seperti ini?

"Bagaimana cara kau membicarakan ini kepada ayahku?"

"Mudah saja. Aku hanya bilang kalau kau butuh bimbingan belajar tambhan. Dan beliau menyetujuinya dengan sangat mulus. Aku khawatir ayahmu sudah tidak sayang padamu."

Aku langsung melempar tas ku ke arahnya dan ia bisa menghindarinya dengan sangat epic. "Kau bicara seenaknya! Siapa yang butuh bimbingan belajar tambahan?"

Ia berjalan ke arahku, lalu menarik tanganku, dan wajahku menjadi sangat dekat dengannya. Aku merasakan pipiku memanas lagi. Kenapa harus sekarang, sih?

"Tapi kau senang, kan? Dan diam-diam mengharapkan hal ini akan terjadi."

Aku hanya membuang muka dan tak bisa menjawab. Ia langsung menarik daguku kembali menghadapnya. "Tidak mau mengakuinya, kah?"

Ia langsung melayangkan serangan khasnya. Ya, ia mencium bibirku, sangat lembut. Dan aku jatuh kembali ke dalam perangkapnya. Dasar orang mesum! Aku merasakan pipiku terbakar, tahu!

"Warna merah di pipimu terlihat manis sekali." Ia beralih menciumi pipiku.

"He-hentikan.." aku tidak bisa menahannya lagi.

"Hm? Kenapa?"

"A-aku.." aku tidak bisa menyembunyikannya lagi.

"Ada apa? Kau aneh, Seijuuroo.."

Jangan panggil namaku seperti itu. "Aku terlalu gugup jika seperti ini…" suaraku terasa mau hilang.

"Tidak biasanya kau seperti ini." Ia memutar badanku, aku membelakanginya. Lalu ia memelukku. Aku merasakan kehangatan yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Perlahan rasa gugupku berkurang.

"Sensei-"

"Panggil namaku, Seijuuroo.."

"Midorima.."

"Namaku, Seijuuroo…"

"Sh-Shintarou…"

"Bagus.." ia mengusap suraiku dengan sangat lembut.

Aku tak bisa menyembunyikannya lagi. Aku langsung berbalik dan memeluk dirinya dengan sangat erat. Ia tetap mengusap suraiku semakin lembut.

Aku terlalu mencintaimu, Shintarou-sensei.

"Aku juga, Seijuuroo.." bisiknya.

.

.

.

The End.


Yaaayy~~ saya balik lagi!

Setelah sekian lama tak pernah ditengok dan tak pernah diupdate, saya memutuskan untuk melanjutkan fic saya yang ini www

Semoga yang masih nungguin kelanjutannya sampe sekarang udah ga nyesek lagi /lho

Ini dia chapter terakhir saya persembahkan untuk kalian~

Sampai jumpa di karya saya berikutnya!

Ja~