Disclaimer
Shugo Chara! itu punyanya Peach-Pit Sensei. Lagu-lagu yang ada juga punya band yang udah gue sebutin. Yang gue punya cuma fic ini. Kalo emang gue yang punya semua itu, gue pasti udah jadi orang kaya
Chapter 1
Boredom
Rekomendasi Lagu Buat Didengerin Sambil Baca:
All Time Low - Weightless
Alasan:
Yang bikin lagu ini bilang di liriknya kalo dia bosen. Tapi setelahnya, dia nggak bosen lagi. Seandainya Rima atau Nagi punya band terus bawain lagu ini, mungkin kebosanan mereka akan hilang. Jadi mereka nggak perlu bikin permohonan macem– uwaa b*go! Spoiler!
Normal POV
"Kalian lesu banget, habis makan apa, sih?"
Kuukai hari ini sedang berkunjung ke Royal Garden bersama Utau. Ujian Akhir yang hampir tiba membuatnya stres, jadi itu yang membawanya ke sini. Dengan anggapan para Guardian bisa membuatnya lupa akan hal itu sejenak. Tapi setelah bertemu Rima dan Nagihiko yang duduk dengan kepala tergeletak di meja, sikap mereka malah membuat stresnya bertambah.
"Justru itu, mereka lesu karena belum makan." Utau menimpali lalu duduk di sebelahnya. "Benar, 'kan, chibi? Sudahlah, jangan begitu terus. Kuukai yang sebentar lagi ujian saja terlihat bersemangat," lanjutnya yang membuat Kuukai menghela nafas.
"Oh ya?" sahut Rima dan Nagihiko datar dan tanpa bergerak sedikitpun. Kali ini, giliran Utau yang menghela nafasnya.
"Biarkan saja mereka, Utau. Mereka sudah begitu dari tadi pagi," ujar Amu yang baru kembali dari toilet. "Lihat saja, bahkan mereka nggak bertengkar meskipun mereka bicara bersamaan."
"Oh ya?" sahut mereka sekali lagi.
"Aaarggh!" Kuukai berseru kesal sambil mengacak-acak rambutnya. "Berhentilah bersikap begitu! Kalian 'kan masih muda, dan kupikir dengan datang ke sini kita bisa bersenang-senang!"
Tadase yang sejak tadi sibuk dengan lembaran dokumen Guardian merasa tak bisa menahan tawanya lebih lama lagi, "Aku mengerti kekecewaanmu, Souma-kun. Tapi seperti kata Amu-chan, lebih baik biarkan saja mereka." ujarnya.
Lalu sebuah kertas yang terselip di antara dokumen-dokumen yang dipegangnya menarik perhatiannya. Setelah membaca isinya, senyumnya terkembang saat sebuah ide muncul di kepalanya.
"Bicara soal bersenang-senang, kurasa kau akan merasa senang setelah mendengar ini, Souma-kun," katanya sambil melambaikan kertas yang dibacanya itu. "Taman bermain The Wonder World membuka cabang di kota kita!"
"Oh ya!?" Kuukai, Utau dan Amu–bukan Rima dan Nagihiko–berseru senang.
"Kapan mereka buka, Tadase-kun?" tanya Amu dengan mata berbinar.
"Di brosur ini tertulis, grand opening pada hari Sabtu di minggu ini. seratus orang pertama, gratis."
"Hari sabtu, berarti lusa. Dan lagi, gratis..." Kukai bergumam. "Keren! Kita harus ke sana!" serunya dengan kesenangan meluap-luap, dan tak lupa untuk mengacak-acak rambut Utau.
"Berhenti! Iya, iya, aku mengerti perasaanmu, anak kecil." Sahut Utau tertawa, kemudian menutup mulutnya karena lupa dia barus saja mengucapkan kata 'terlarang' itu. Tapi Kuukai sepertinya tak menyadarinya, karena dia sedang memperhatikan Rima dan Nagihiko.
Setelah melihat mereka sama sekali tak mengatakan apa-apa, Kuukai merasa harus turun tangan. Kemudian dengan tegas dia mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Rima dan Nagihiko,
"Maksudku dengan kita, artinya kalian juga ikut! Aku ingin bersenang-senang dengan teman-temanku, jadi jangan membantah!" katanya dengan nada mengancam.
Mereka tak terlihat setuju, tapi juga tidak membantah. Lalu setelah menatap satu sama lain, mereka menyahut,
"Oh ya?"
Nagihiko's POV
"Jangan membantah, katanya... memangnya dia pikir aku ini anaknya?"
Rima sudah menggerutu sepanjang jalan pulang dari sekolah. Tapi baru kali ini dia mengungkapkannya dengan kata-kata. Sebelumnya yang dia lakukan hanyalah menggeram dan menggumamkan sesuatu yang nggak jelas, dan itu sangat menggangguku.
"Aku mengerti kau kesal, tapi gerutuanmu hanya membuatku pusing. Berhentilah!" kataku merasa jengah.
"Urusai! Kalau kau nggak mau dengar, ya jangan dengar." Sahutnya ketus, kemudian kembali menggerutu.
"Bagaimana aku nggak dengar? Kau menggerutu di sebelahku," ujarku jengkel setengah mati. Namun begitu mengucapkan kalimat itu, aku teringat sesuatu yang agak ganjil.
"Omong-omong, kau pulang jalan kaki, Rima-chan?"
Rima menoleh dan menatapku dengan wajah dinginnya yang biasa ditujukan padaku. "Apa undang-undang Jepang melarang hal itu?"
Dengan kesal kutepuk dahiku. Orang ini sama sekali nggak berubah sejak kami lulus SD. Setiap aku bertanya sesuatu, dia selalu bersikap begini dan membuat semuanya tambah sulit.
Padahal, apa sulitnya menjawab dengan biasa, sih? Aku 'kan hanya berusaha bersikap ramah.
Lalu sebuah ide muncul di kepalaku. Sekarang, giliranku membuatmu kesal.
"Ah, nggak. Aku hanya berpikir, kira-kira apa yang orang-orang pikirkan jika melihat kita pulang bersama." Kataku pura-pura acuh sambil menatapnya dari sudut mataku. "Mungkin mereka akan berpikir kalau kita paca–"
"Jangan coba-coba, atau bahkan berpikir tentang itu!" sela Rima tiba-tiba membekap mulutku dengan tangannya. "Aku sudah rela menghabiskan lima menit jalan kaki denganmu, dan sekarang kau malah bicara macam-macam!"
"Puaah!" oksigen dalam paru-paruku mulai menipis, jadi kutepis tangannya agar aku bisa bernafas lagi. "Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya membekap mulut orang, 'kan!?" seruku berusaha menahan emosiku dalam menghadapi Hitler perempuan kecil ini.
"Bagus sekali, anak muda."
"UWAA!" seruan kagetku dan Rima saat mendengar suara itu terlontar bersamaan. Aku menoleh dan melihat seorang kakek berjas hitam berdiri di sampingku sambil bertepuk tangan.
"Apa-apaan kakek ini?" kata Rima ketus.
"Ah, maaf jika aku mengganggu kalian. Tapi aku tak bisa diam saja saat melihat sepasang kekasih sedang berdebat," ujar kakek itu tersenyum lebar.
"Apa– Hei, kepala ungu! Benar, 'kan. Karenamu sekarang jadi timbul kesalah pahaman!" bisik Rima dengan mencubit lenganku keras-keras.
"Aw! Baik, baik. Akan kujelaskan!" seruku meringis menahan sakit. "Ini salah paham, kek. Kami bukan pasangan."
Tapi kakek itu menggeleng. "Tidak, tidak. Aku sudah hidup cukup lama untuk tahu kalian sudah ditakdirkan bersama." Ujarnya dengan yakin.
Rima yang raut wajahnya sudah berkerut kesal sejak tadi, maju menghampiri kakek itu dengan tangan terkepal. "Kau keras kepala sekali, orang tua! Kami ini bukan kekasih!" raungnya marah.
Ajaibnya, kakek itu sama sekali nggak terlihat takut. Berbeda seperti orang-orang kebanyakan yang nggak beruntung pernah berhadapan dengan kemarahan si Putri Es itu. Malah, dia menepuk kepala Rima seakan dia itu anak kucing.
"Terlepas dari benar tidaknya ucapanmu, aku tahu kalian sedang bosan." Katanya lalu mengedipkan sebelah mata pada kami.
Rima's POV
Sebenarnya kejengkelanku terasa hampir meletus keluar dari kepalaku saat kakek itu menepukku seperti anak kucing. Namun kalimatnya yang terakhir membuat sebelah alisku terangkat, kebiasaan kalau aku bingung.
"Ne, mungkin kau benar. Tapi, memangnya wajah kami terlihat bosan, begitu?" tanya Nagihiko dari belakangku.
"Diamlah, negi." Geramku kesal karena dia merebut pertanyaanku.
"Hei, aku Nagi! Negi itu bawang, tahu!"
Kuabaikan protes laki-laki bodoh itu dan berfokus pada kakek aneh di depanku ini. "Ya, aku memang bosan. Kau keberatan?"
Kakek itu malah tertawa. Aneh. "Tentu saja aku keberatan. Orang tak boleh merasa bosan saat berkunjung ke tamanku!" ujarnya riang.
Ucapannya makin membuatku yakin kalau dia ini orang aneh. "Taman? Berkunjung? Apa, sih, maksudmu?" tanyaku bingung.
Kakek itu tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Selamat datang di tamanku!" serunya sambil menunjuk plang besar di atas kepalaku.
Kupicingkan mataku agar yakin dengan apa yang kulihat. Rasanya benda itu tadi nggak ada, deh. Tapi fakta bahwa benda itu nyata dan bertuliskan The Wonder World membuatku kaget.
"Tunggu, tamanmu, katamu? Jadi, kau pemilik The Wonder World?!" tanyaku lagi agak kurang yakin.
"Benar!" jawab kakek itu, lalu tanpa kuduga menarik tanganku dan Nagihiko untuk masuk melalui gerbang tempat plang tadi terpasang. "Dan kalian adalah pasangan pertama yang akan mendapat kesempatan untuk mencoba wahana terhebat di sini!"
"Tunggu, aku nggak ingin mencoba wahana apapun! Aku ingin pulang!" seruku berusaha meronta untuk melepaskan diri. "Dan lagipula, sudah kubilang kami bukan pasangan!"
Kakek itu berhenti dan menunjuk ke depan. "Lihat," ujarnya tanpa mendengarkan ucapanku. "Itu Roller Wishing Coaster. Kalau kalian naik itu dan mengucapkan permohonan, hidup kalian tak akan lagi membosankan."
Kepalaku terangkat saat melihat alur wahana roller coaster yang menjulang di hadapanku. Sebagian dari diriku merasa takjub dan membayangkan betapa serunya jika aku bisa naik benda itu sekarang. Tapi sebagian diriku yang lebih logis bilang untuk berhati-hati pada orang asing, dan dia menang.
"Hei, kek. Maaf, tapi aku nggak bi–"
Aku menoleh untuk bicara pada kakek tadi. Tapi dia hilang entah ke mana.
"Nagihiko, mana kakek tadi?" tanyaku sambil melihat ke segala arah. Tapi nggak ada tanda-tanda orang tua berambut putih di manapun.
"Hah? Entahlah, aku sedang mengagumi roller coaster ini." Sahut Nagihiko dengan tatapan tertuju pada puncak alur roller coaster.
"Bakayaro!" seruku jengkel karena kebodohannya yang suka muncul sewaktu-waktu itu. "Lalu bagaimana sekarang?"
Nagihiko mengangkat bahu. "Yah, kita pulang saja? Ini sudah hampir senja."
"Hmm..." sesuatu masih mengganjal di pikiranku. Kata-kata si kakek pemilik tentang roller coaster itu yang bisa mengabulkan permohonan, benarkah bisa membuat hidupku jadi nggak membosankan lagi?
"Aku mau naik roller coaster itu." Putusku lalu mulai melangkah menuju benda itu.
"Dan kau bilang sebelumnya, kau ingin pulang." Komentar Nagihiko sinis
"Diamlah, Tuan Sok Pintar. Kau juga bilang kalau kau bosan tadi, 'kan?" sahutku dengan nada yang sama.
Dan akhirnya kami berdua benar-benar naik wahana ini. Yang mengejutkanku, meskipun nggak terlihat satupun petugas di loket karcis atau di ruang kendali wahana, roller coaster ini mulai melaju nggak lama setelah kami naik. Kurasa benda ini otomatis.
Aku sedang melihat pemandangan di bawahku saat roller coaster mulai menanjak. Lalu Nagihiko menepuk bahuku dan membuatku menoleh.
"Apa maumu?" tanyaku kesal karena diganggu.
"Tumben kau nggak protes melihatku duduk di sebelahmu," katanya dengan senyum konyol.
"Bi–biasa saja. Hari sudah sore, dan aku ingin semua ini cepat ber–AKHIIIR!?" teriakanku terlontar saat roller coaster menukik tajam dan membuat isi perutku serasa naik ke atas.
Aku baru ingat satu hal. Aku takut naik roller coaster.
"Takut, sih, takut. Tapi nggak perlu mencekikku!" seru Nagihiko menarik tanganku dari lehernya.
"Diam! Aku mau muntah, nih!" kataku panik dan berusaha bangun dari kursiku, tapi kuurungkan karena ingat aku ini sedang naik roller coaster.
"A–apa?! Jangan muntah di sini!"
"Penumpang Roller Wishing Coaster, sesaat lagi anda akan memasuki The Tunnel. Jangan lupa ucapkan permohonan anda."
Suara dari speaker itu membuat perhatianku teralihkan, dan sejenak rasa mualku hilang. "Kau dengar itu, Nagihiko?" tanyaku menoleh pada Nagihiko. Tapi entah sejak kapan, dia pingsan.
Uh... kurasa aku terlalu kencang mencengkeram lehernya.
Roller coaster mulai berjalan lurus dengan perlahan. Dan segera kulepaskan keteganganku dengan bernafas lega. Kelihatannya perjalanannya sudah selesai.
"Memasuki The Tunnel dalam 3, 2, 1"
"HYAAA!"
Lagi lagi aku dipaksa berteriak saat gravitasi bumi menarikku ke bawah seiring menukiknya roller coaster. Lalu kegelapan menyelimutiku ketika roller coaster memasuki sebuah terowongan. Di antara kepanikanku, aku menyadari kalau inilah The Tunnel.
Jadi ini yang dimaksud kakek pemilik tadi? Kalau begitu kurasa aku harus mengucapkan permohonanku sekarang. Karena di sekelilingku sudah gelap, aku merasa nggak perlu menutup mata saat mengucapkan permohonanku dalam hati;
Hentikan pertengkaran orangtuaku. Aku bosan dengan hal itu, aku bosan dengan hidupku, aku bosan... bosan dengan semuanya! Aku mau hidupku berubah!
"Permohonan segera dikabulkan."
"Apa–kyaaa!" sebelum aku sempat tahu siapa yang bicara barusan, cahaya putih menyilaukan melingkupi sekelilingku dan membuatku tak bisa melihat apapun.
~Author Speech~
Vices: *uhuk* cliffhanger, nih *uhuk* nggak, lah, Minna. Gue kasian sama kalian, jadi mungkin sebelum buka puasa chapter 2 udah jadi. Lagian, hari ini 'kan gue libur *yeaaah!* terus soal rekomendasi lagu, meskipun gue (ngaku-ngaku) anak punk, lagu yang gue sebutin ramah di kuping, kok. Beberapa diantaranya adalah sisi lembut dari punk, yaitu pop-punk. Lagu itu gue sesuain sama alur di setiap chapter, biar kerasa mood-nya. Oke, sampe ketemu sore nanti, dan please RnR, ya. L'Vices, over and out! Buat yang puasa, ganbatte!
