~Author Speech~
Vices: Honestly, it would be a lie if i say i don't care about not getting any review. But i'll keep trying to update as soon as possible, even though seems like nobody wants to read this thing. Still, i hope for those who really read it to shout your beautiful review :) halah, ngomong apaan sih gue! Udahlah, On The Go!
Disclaimer
Shugo Chara, maupun lagu yang gue rekomendasiin punya masing-masing penciptanya. Kalo gue yang punya itu semua, gue nggak bakal tinggal di Bekasi kali -_-
Chapter 2
Many Surprises!
Rekomendasi Lagu Buat Didengerin Sambil Baca:
Green Day – Basket Case
Alasan:
Lagunya klasik, nih! Tentang gimana rasanya berubah jadi gila, dan cara buat menghadapinya dengan senang
Rima's POV
"Bangun, Rima. Sarapan sudah siap."
"Uuh, lima menit lagi..." gumamku sambil berguling ke sisi lain tempat tidurku. Namun aku mencium sesuatu yang membuat hidungku gatal. Baunya seperti rempah, dan sangat menyengat. Kubuka mataku dan melihat sebuah gelas bening berisi cairan keruh di depan wajahku.
"Puah! Apa ini?!" seruku buru-buru bangun dan menjauh dari benda itu.
"Ini jamu tradisional keluarga Fujisaki. Kenapa? Seingat ibu ini minuman favoritmu," ujar Mamaku dengan nada lebih lembut dari biasanya.
"Jamu keluarga Fujisaki? Sejak kapan aku suka minum ja..."
"...mu?"
Aku mendongak dan melihat wanita dewasa yang memberiku jamu tadi. Dia memakai kimono putih, dan rambutnya di sanggul dengan rapi. Dan dia bukan Mamaku, dia ibunya Nagihiko.
"Bi–bibi Fujisaki? Apa yang bibi lakukan di sini?" tanyaku bingung dan menatapnya dari atas ke bawah untuk meyakinkan kalau dia betul-betul nyata.
Ibu Nagihiko menaikkan sebelah alisnya. "Apa seorang ibu tak boleh masuk ke kamar anaknya sendiri? Dan lagi sejak kapan kau memanggil ibumu sendiri dengan sebutan bibi?" katanya terlihat lebih bingung.
"Hah? Apa maksud–"
"Sstt. Sudahlah, cepat minum jamumu dan bersiap-siap. Aku tak akan memaafkanmu jika kau terlambat sekolah nanti," ibu Nagihiko menyela lalu meletakkan gelas jamu itu ke meja di sebelahku, kemudian pergi meninggalkanku yang masih kebingungan.
Pandanganku terpaku pada pintu geser yang baru saja ditutupnya. Apa ini semua lelucon? Kalau iya, gelitiki aku agar aku bisa tertawa.
Namun setelah melihat sekelilingku, apa yang kulihat membuatku sadar ini bukan lelucon. Dinding kamar yang didominasi warna ungu dan hitam, baju dan sepatu basket, juga kimono tari tradisional... hanya ada satu tempat logis di mana benda-benda yang bukan milikku ini berada;
Di kamar Nagihiko. Ini kamar Nagihiko.
"Kusukusu, bangun!" dengan panik kuraba seluruh permukaan kasur untuk mencari Charaku yang konyol itu. Setelah beberapa saat, aku merasa lega karena dia ada di tempat di mana dia biasanya tidur. Di sebelahku.
"Ada apa, sih, Rima-chan?" Kusukusu bangun dengan malas sambil mengusap matanya. Kemudian setelah matanya benar-benar terbuka, mulutnya juga terbuka lebar begitu melihat ke sekeliling.
"Di–dimana kita? Apa yang terjadi?"
"Justru aku yang ingin bertanya begitu," ujarku sambil menghela nafas berat. Karena yakin aku nggak akan mendapat penjelasan darinya, kuputuskan untuk mencari pemilik kamar ini dan meminta penjelasan darinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Nagihiko si Kepala Ungu.
Tapi sebuah piala yang dipajang di atas lemari menarik perhatianku karena tulisan yang tertera di situ. Kuraih benda itu, dan mataku terbelalak lebar saat membaca tulisannya;
Rima Fujisaki. Juara Tari Tradisional Tingkat Nasional.
Apa? Aku... Rima Fujisaki?
Nagihiko's POV
Aku dengar suara telepon yang berdering dengan kejamnya.
Sambil menahan diri untuk nggak mengucapkan kata-kata yang nggak pantas di dengar, kuulurkan tangan untuk mengambil telepon genggamku yang biasa kuletakkan di meja kecil di samping tempat tidur. Namun saat menyentuh permukaan meja, telepon genggamku nggak ada.
"Nagi! Matikan alaramnya! Kau meletakkan teleponmu tepat di sebelah kupingku, nih!" kudengar Rhythm berseru kesal.
"Tapi aku nggak pernah menyetel alarm untuk bangun, kok," sahutku lalu bangun untuk meraba ke balik bantal di sampingku. Ternyata benar, telepon genggamku ada di situ.
Aneh sekali. Seingatku aku juga nggak pernah menaruh telepon genggam di sampingku, karena setahuku sinyalnya berbahaya bagi tubuh.
"Nagi, kalau kau sudah bangun, cepat bersiap-siap lalu sarapan! Hari ini Papa yang akan mengantarmu sekolah." Seru Ibuku dari luar.
"Iya, okaa-sa–eh?" aku berhenti menyahut saat mendengar apa yang ibuku barusan bilang. Sejak kapan Papa mengantarku sekolah? Eh, tunggu. Sejak kapan juga aku memanggil ayahku dengan sebutan Papa?
"Aku tahu hal itu membuatmu bingung, karena aku juga sama." Temari berkata dan terbang menghampiriku. "Tapi yang lebih membuatku bingung, kita ada kamar siapa?"
"Kamar siapa? Tentu saja kamar–hah?" aku terlonjak kaget saat melihat lemari buku tinggi di depanku. Bukan lemarinya yang membuatku kaget, tapi isinya yang semuanya adalah komik komedi.
Aku tahu mungkin ini nggak masuk akal, tapi kurasa aku berada di kamar Rima.
Setelah bangun dari kasur dan berjalan keliling kamar, hal itu jadi masuk akal buatku begitu melihat dekorasi ruangan yang sangat feminin. Ini benar-benar kamarnya Rima. Tapi bagaimana caranya aku bisa berada di sini?
Lalu aku ingat saat naik roller coaster bersama Rima kemarin. Aku pingsan setelah Rima yang ketakutan mencekik leherku terlalu keras. Tapi, masa' iya saat aku pingsan dia membawaku ke sini? Kalau memikirkan umur kami yang masih remaja, hal itu mustahil.
Jadi, apa yang menyebabkan semua keanehan ini terjadi padaku? Paling-paling kalau di beberapa film yang kutonton, hal seperti ini biasa terjadi karena dua orang bertukar tubuh...
"APA?! MUSTAHIIIL!" jeritku lalu berlari ke cermin yang tadi kulihat ada di dinding. Begitu menemukannya, aku merasa bersyukur pada benda itu yang sudah seperti penyelamatku. Yang kulihat di cermin ternyata masih wajahku sendiri.
Lho, jadi tubuhku nggak tertukar, ya? Jadi, apa sebenarnya yang terjadi?
"Tentu saja tubuhmu tidak tertukar, Nagi. Jika itu yang terjadi, Rhythm pasti sudah berteriak lebih keras darimu saat melihat wajahmu." Ujar Temari menggelengkan kepalanya.
"Eh, iya juga..." gumamku merasa bodoh.
"Bro, memangnya kau pernah ke kebun binatang bersama keluarganya Rima-chan?" tanya Rhythm dari seberang ruangan.
"Tentu saja nggak. Buat apa aku pergi bersama mereka? Memangnya aku anak mereka?" sahutku geli mendengar pertanyaan konyolnya yang tiba-tiba itu.
"Tapi di foto ini kalian memang terlihat seperti orangtua dan anak." Sambung Temari ikut melihat foto itu bersama Rhythm
Ucapannya itu membuatku penasaran apa yang sedang di mereka. Kuhampiri mereka dan mengambil foto itu yang terletak di meja kecil di sebelah kasurku. Eh, bukan, kasur Rima.
Dan tiga orang dalam foto itu memang terlihat seperti apa yang dibilang Rhythm. Di situ ada ibu Rima dan ayahnya, juga aku yang sedang di rangkul oleh mereka berdua. Dan lagi saat membalik bingkai foto itu, tulisan tanganku yang tertera di situ memang membuat semuanya jelas.
Liburan keluarga Mashiro merayakan kelulusanku dari SD Seiyo.
"APAAA?! MUSTAHIIIL!" sekali lagi aku menjerit keras karena pengendalian diriku lepas kontrol.
"Nagihiko, apa yang terjadi?!" orangtua Rima masuk dengan panik. Tubuhku serasa membeku saat melihat mereka.
"E–eh, nggak ada apa-apa." ujarku dengan senyum kikuk.
Mereka menghembuskan nafas lega, kemudian berbalik untuk keluar kamar. "Papa pikir kau kenapa. Ya sudah, cepat bersiap-siap. Nanti papa akan mengantarmu," ujar ayah Rima–atau ayahku, entahlah–lalu menutup pintu.
"Ehm, tunggu sebentar!"
Dia kembali membuka pintu dan masuk. "Ada apa, nak?"
Astaga, dia memanggilku 'nak'...
Baiklah, mungkin penjelasan yang lebih logis adalah setelah pingsan aku sudah berubah jadi gila. Jadi, kurasa aku harus ikuti saja permainannya.
"Ano... papa, maaf. Tapi aku ingin jalan kaki ke sekolah. Boleh, 'kan?" tanyaku dan merasa bodoh mendengar kata-kataku sendiri.
Dia menggaruk kepalanya dan terlihat bingung. "Baiklah kalau begitu. Tapi, tumben kau mandiri sekali," jawabnya lalu keluar.
Tentu saja aku mandiri. Seumur hidupku aku selalu jalan kaki ke sekolah, dan akan terus begitu meskipun hal gila ini terjadi padaku.
Dan kenyataannya, aku nggak berjalan, tapi berlari ke sekolah. Setelah lepas dari situasi canggung saat sarapan bersama keluarga baruku, yang ada di pikiranku hanya minta penjelasan dari Rima. Jika semua kejadian ini nyata, pasti dia juga mengalaminya.
"Nagi, kau melihat jalanmu saat berlari tidak, sih?" tanya Temari yang duduk di bahuku.
"Diam sebentar, Temari. Aku sedang berpi–"
"Kyaaa!" sebuah jeritan terlontar saat tiba-tiba kepalaku membentur sesuatu yang keras. Karena yakin itu bukan suaraku, kubuka mataku untuk melihat si pemilik suara itu yang ternyata anak perempuan berambut pirang.
"Aduuh... Kau ini kenapa, sih?!" keluhku sambil meraba dahiku yang dihiasi bengkak sekarang.
"Kau yang kenapa! Kalau jalan lihat-lihat..."
"...dong! Kepala ungu!" serunya dan menunjukku. Hanya satu orang yang memanggil begitu, dan sudah jelas itu Rima.
"Kebetulan kita ketemu di sini!" ujarku lalu tertegun, karena Rima juga bicara begitu. "Apa-apaan, sih! Kenapa kau bicara mengikutiku?! Ujar kami, bersamaan lagi.
"Berhentilah bersikap konyol, teman-teman." Sela Rhythm yang terbang di antara kami. "Bukankah ada hal lain yang lebih penting daripada memamerkan ego kalian masing-masing?"
"Benar!" aku berseru, dan merasa kesal karena Rima lagi-lagi melakukan hal yang sama. "Berhenti! Biar aku yang bertanya duluan. Apa yang terjadi di rumahmu?"
"Justru aku yang harus tanya begitu. Itu bukan rumahku, tapi rumahmu!" Rima menyahut dengan melotot. "Aku nggak tahu sekolot apa dirimu sebenarnya, tapi karena kejadian aneh ini ibumu memaksaku untuk minum minuman aneh yang disebut jamu!"
"Apa, kolot katamu?!" kata-katanya barusan membuatku kesal, karena dia sudah menyinggung tradisi keluargaku. Eh, bukan... mungkin hanya tradisiku. Tapi, jamu itu 'kan enak!
Tapi ada hal lain yang lebih penting daripada meributkan jamuku. "Ceritakan padaku apa yang terjadi saat aku pingsan kemarin."
Wajah Rima memucat saat mendengarku bicara begitu, dan itu aneh sekali. "A–apa? Kau mau marah padaku karena mencekikmu sampai pingsan? Baiklah, aku minta ma–"
"Lupakan hal itu, aku ingin tahu apa yang terjadi setelahnya." Kataku berusaha terdengar tenang, meskipun dalam hati mengakui sebenarnya aku ingin sekali marah setelah apa yang dilakukannya.
Rima meletakkan telunjuknya di bibir saat berusaha mengingat-ingat. Dan kakiku terasa lemah melihatnya, karena apa yang dilakukannya menurutku sangat imut.
Untung Rima segera bicara. "Oh iya! Aku mengucapkan permohonan begitu roller coaster itu masuk ke terowongan. Lalu begitu permohonanku selesai, seseorang bilang permohonanku akan segera terkabul. Setelah itu, segalanya jadi putih terang... dan aku terbangun di kamarmu." jelasnya dengan wajah terlihat nggak percaya.
Aku pun nggak percaya. Karena setahuku yang bisa mengabulkan permohonan itu bintang jatuh, atau sumur permohonan. Aku nggak pernah dengar roller coaster juga bisa. Tapi, bukan itu masalahnya sekarang.
"Memangnya kau memohon apa?"
"Itu bukan urusanmu." Jawabnya dingin lalu beranjak meninggalkanku.
"Konyol. Mungkin saja permohonanmu yang menyebabkan semua ini, 'kan?" kutarik tangannya agar kembali menghadapku. "Atau, kau memang merasa bertanggung jawab, dan kau merasa takut untuk mengatakannya?"
"Lepaskan! A–aku nggak takut, karena memang bukan aku yang salah!" tukas Rima dan berontak, tapi nggak akan kubiarkan dia lepas sebelum dia bicara.
"Kalau begitu, kenapa nggak bilang saja apa permohonanmu?"
Dia berhenti berontak, dan sekarang menundukkan kepalanya. "Aku bosan dengan hidupku, jadi kuminta hidupku berubah." Katanya dengan suara kecil. "A–apa kau pikir itu salah?"
BAM! Ternyata benar, dia memang memohon sesuatu yang aneh-aneh. Dan selagi kesabaranku masih ada, kurasa aku harus membuat gadis ini mengerti akibat perbuatannya.
"Rima-chan, apa sebelum memohon kau sempat berpikir, karena kau bosan dengan hidupmu... Kami-sama menukar kehidupan kita?"
Kelihatannya dia menerima penjelasanku dengan buruk, karena sekarang dia berdiri seperti patung. Padahal 'kan semua ini salahnya, tapi malah dia yang terkejut. Kalau sudah begini, mustahil dia tahu cara membereskan masalah yang dibuatnya, deh...
"Nagi, aku turut berduka cita..." gumam Temari menahan tawanya.
"Kau pikir ini bercanda? Tingkahmu jadi mirip Rhy–"
"Hei kau, angkat tangan!" seru suara tegas dari belakangku.
Aduh... apa lagi, nih? Dengan perasaan nggak enak, aku menoleh. Diluar dugaanku, yang kulihat adalah seorang polisi yang menodongkan pistolnya ke arahku.
