~Author Random Speech~

Vices: Kamehameha! Rasakan double chapter ini, minna! Selamat pagi!

Rima: Emangnya ini fandom DBZ? -_-

Vices: Yah, namanya juga random speech. Oke, tanpa buang waktu, sesi pembacaan review dimulai! firstly, ASOFICT-kun. Tengkyu review lo, brader! minna, dia bikin fic ShuCha juga, lho. Di cek ya ficnya :) oke, gue mau jawab pertanyaan lo, dan jawaban gue adalah nggak. gue nggak suka Rima dan Nagihiko, karena gue suka sama Rimanya aja. kalo gue suka sama Nagi juga, berarti gue punya kelainan.

Rima: Hueek!

Nagihiko: Ya, bener. soalnya di dunia nyata nggak ada yang suka sama Vices-kun.

Vices: Ya, dan lo beruntung karena punya muka kecewek-cewekan :p lanjut, Reader gue yang berjasa banget, Pri-

Nagihiko: Lah, kok lo mulu yang baca?

Vices: Lah, ini fic gue, suka-suka dong. PriscallDaiya-san! salam mentari terik bulan Juni! Semangat yang Daiya-san kasih terasa sehangat matahari di saat summer *halah* Duh, pujiannya jangan dibalikkin, dong! Omong-omong 3 review Daiya-san nggak bosen-bosen saya baca, dan dengan semangat musim panas, ini double chapter buat Daiya-san :)

Rima: Oh, dua review guest itu dia juga? baik banget ini orang

Nagihiko: Ada lagi Reader yang baik juga, lho. Fuka-san, arigatou karena ikut baca fic ini dan semua pujiannya :) tapi, gue nggak ngambil kesempatan! Vices-kun yang bikin gue begitu!

Vices: Bla, bla, bla. Iya, Nagi, meskipun begitu lo tetep suka 'kan? -_- Oke, Fuka-san. karena Fuka-san nanya kapan aja updatenya, saya cuma bisa jawab antara seminggu dua kali atau dua minggu sekali. Nggak tau juga yang bener yang mana xD Gomen, ne, tapi saya 'kan udah kerja sekarang...

Rima: Hahahaha~

Vices: Hahaha aja lo -_- rasain, nih! Di chapter ini, lo berdua abis gue tempatin di situasi lovey-dovey! On The Go!

Rima: H-hah? Jangaaaaan!


Disclaimer

Capek, ya, harus ngomong begini terus -_- Shugo Chara punya Peach-Pit! sensei, dan lagu yang gue rekomen punya penciptanya. Oke, sekarang jangan penjarain gue

Warning

Nggak tahu, sih. Tapi kayaknya ada OOC, dan alurnya nggak masuk akal. Fluffnya juga nggak terlalu berasa, deh. Jadi sebelum nyesel karena udah buang umur kalian dengan percuma, silakan pencet tombol close di browser kalian.


Chapter 4

Those Kids Aren't Allright

Rekomendasi Lagu Buat Didengerin Sambil Baca:

New Found Glory – Tangled Up

Alasan:

Rasanya agak OOT, sih. Lagu ini nyeritain tentang orang yang dijahatin terus sama pasangannya, tapi dia nggak bisa lepas dari pasangannya itu... eh, itu sih Rima sama Nagihiko banget, ya?


Rima's POV

"Apa... katamu?"

Hanya kalimat itu yang ke luar dari mulutku sebagai bukti betapa bingungnya aku. Butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna kata-kata Nagihiko, bahkan sebenarnya aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya dia katakan.

"Apa? Ya, itu maksudnya. Masa' kau belum mengerti?" ujar Nagihiko dengan wajah seakan tanpa dosa sama sekali.

Melihat ekspresinya itu, dengan cepat darahku terasa mendidih sampai ke kepalaku."Oh, ya. Aku mengerti, kok. Sangat mengerti..." kataku berusaha menunjukkan wajah semanis mungkin, dan menggeser posisi dudukku tepat di depan Nagihiko.

"R–Rima-chan... a–apa yang mau kau lakukan?" Nagihiko berkata terbata-bata dan memundurkan kursinya dengan takut, persis seperti yang kuharapkan. Dia mengerti arti dari senyumku.

Jadi, tanpa buang waktu, aku melompat ke arahnya dan menindihnya lalu bersiap melepaskan kepalan tanganku yang sejak tadi kutahan saat melihat wajahnya.

"APA YANG AKAN KULAKUKAN ADALAH, MENGHAJARMU HABIS-HABISAN KARENA BERANI-BERANINYA MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU PADAKU!"

"Rima-chan! kendalikan dirimu!" katanya sambil menahan tinjuku.

"KENDALIKAN DIRIKU?! JUSTRU KAU YANG HARUS MENGENDALIKAN DIRIMU AGAR NGGAK MEMBUATKU SEMAKIN KES–"

"Oh, wow!" seru seseorang, di ikuti suara kamera dan lampu flash yang membuat kalimatku terputus. Kuangkat kepalaku dan melihat Amu berdiri di depan pintu yang terbuka, dengan telepon genggam di tangan.

Bagus, bagus sekali. Dia baru saja memergokiku hampir menonjok Nagihiko. "Amu, apa yang kau lakukan?" tanyaku setelah memelankan suaraku.

"Ah, eh... maaf mengganggu perkelahian antar pasangan kalian, tapi Tsukasa meminta kalian ke kantornya sekarang." ujarnya dengan nada riang yang lain dari biasanya.

"Baik, Amu-chan. Kami segera ke sana, setelah Rima-chan menyingkir dariku," Nagihiko menyahut dari bawahku sambil meronta.

"Diam!" bentakku sambil mengirimkan death glare padanya. Kemudian aku sadar ada hal yang menggangguku setelah melihat senyum Amu.

"Apa yang kau pikirkan, Amu? Senyummu sepertinya bukan pertanda bagus."

"Harusnya kau lihat posisimu dan Nagi sekarang. Jika yang lain melihat foto ini, mereka pasti akan sangat terkejut! Mata, ne!" katanya lalu buru-buru berlari pergi.

Nagihiko melambaikan tangannya di depan mataku, membuatku berkedip. "Kau pernah nonton anime ToLove-ru?" katanya sambil menyengir

Ucapannya membuatku secara otomatis melihat ke bawah. Aku baru menyadari situasi apa yang sedang terjadi antara aku dan Nagihiko. Tubuhku yang berada di atas Nagihiko, berjarak kurang dari sejengkal. Dan itu cukup untuk orang berpikiran 'jauh' seperti Amu menyangka kami baru saja melakukan...

"AMU! HAPUS FOTO BARUSAN!"


Nagihiko's POV

"Lepaskan aku! foto itu harus di hapus!" raung Rima yang masih saja meronta-ronta.

Siapa sangka, butuh tenaga ekstra untuk menahan gadis sekecil Rima agar nggak pergi ke Royal Garden dan mengamuk di sana? Memang sulit, tapi aku berhasil membawa Rima untuk pergi ke arah sebaliknya, yaitu kantor Tsukasa. Yah, tapi aku harus menarik tangannya.

"Foto itu bisa menunggu. Sekarang karena kebetulan Tsukasa-san meminta kita menemuinya, kita bisa bertanya tentang apa yang terjadi pada hidup kita." Kataku sambil memastikan Rima nggak lepas dan lari.

"Baka! Foto itu memalukan, dan orang-orang bisa salah paham karenanya!" serunya keras kepala seperti biasa.

"Aku nggak merasa foto itu memalukan, kok."

Kurasakan Rima berhenti meronta, dan saat aku menoleh kulihat dia menatapku dengan mata dipicingkan. "Kau ini nggak punya malu, atau kau memang suka hal-hal ecchi?" tanyanya tajam.

Mau nggak mau pertanyaannya yang terdengar konyol membuatku tertawa. "Ah, mungkin memang memalukan. Tapi kita nggak pernah punya foto berdua, 'kan?"

"Buat apa kita foto berdua? Aku bahkan bukan temanmu." Katanya dengan sebelah alis terangkat.

Entah kenapa, senyumku terkembang mendengar ucapan ketusnya itu. "Memang bukan. Tapi di dunia ini, kita pacaran 'kan?"

Rima menatapku seakan aku ini makhluk planet lain. Tiba-tiba dia menyentakkan tanganku dan berjalan pergi dengan cepat. "Dan kukira kau serius saat bilang kau bukan orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan!"

"Oh, sial. Aku salah bicara..." gerutuku lalu buru-buru menyusulnya. "Oke, oke, maafkan aku. Aku hanya bercanda, tapi aku serius saat aku bilang aku bukan orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku hanya berpikir, jika membiarkan orang-orang menyangka kita benar-benar pacaran, kita akan terhindar dari hukuman penjara selama kita mencari cara untuk membuat semuanya normal."

Sepertinya ucapanku membuatnya mengerti, karena dia menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku. "Lalu, apa kau tahu bagaimana cara membuat semuanya kembali normal?"

"Sejujurnya, nggak. Tapi kau dan aku, kita akan menemukan caranya. Karena hanya kita berdua yang sepertinya bukan bagian dari dunia ini," jawabku. "Karena itu, aku mohon kau ikuti saja apa yang kukatakan. Oke?"

Rima terlihat ragu, dan sepertinya nggak lama lagi dia akan mengomeliku dan kembali pergi. Tapi setelah kutunggu, dia nggak melakukannya.

"Baiklah," ujarnya pelan, namun tiba-tiba dia melayangkan tinjunya padaku.

"Rima-chan!" Aku menutup mata menunggu tangannya menonjok pipiku, tapi saat kubuka mataku kepalan tangannya terhenti tepat di depan wajahku.

"Janji ini hanya pura-pura? Ini nggak mengubah kenyataan bahwa aku membencimu dari apapun di dunia ini?"

Butuh beberapa saat untukku agar yakin dia nggak akan menonjokku, lalu aku tersenyum karena dia nggak melakukannya. "Janji."

"Janji apa?"

Suara yang bukan milik Rima itu membuatku seakan membeku di tempatku berdiri. Aku kenal suara itu, dan saat aku menoleh ketakutanku terbukti karena ternyata Tsukasa yang bicara dari belakangku.

"Fujisaki-san, Mashiro-san, ikut ke kantorku."


Rima's POV

Selama tahun-tahunku bersekolah, aku nggak pernah merasa takut dengan guru seperti apapun. Tapi saat masuk ke kantor Tsukasa dan duduk di hadapannya, aku merasakan kegelisahan yang membuatku nggak berani membalas tatapannya. Bahkan Nagihiko pun juga tertunduk dan nggak bicara apa-apa, padahal aku berharap dia akan mengatakan sesuatu untuk menjelaskan semuanya. Dasar crossdresser payah.

Aku dalam masalah besar. Tsukasa sudah tahu kalau aku dan Nagihiko hanya pura-pura, dan dia akan segera menghukum kami berdua, atau menyerahkan kami ke polisi. Aku nggak tahu yang mana.

Setelah menghela nafas panjang, Tsukasa mulai bicara. "Ternyata firasatku benar saat kupikir aku harus memanggil kalian langsung. Memang ada hal yang tidak beres di antara kalian berdua,"

"Tsukasa-san, aku bisa jelas–"

"Sstt!" desisku untuk menghentikan Nagihiko. "Baiklah, kau sudah mendengar pembicaraan kami tentang 'janji' kami. Sekarang, aku pasrah jika kau mau membawaku ke polisi atau semacamnya."

Di luar dugaanku, Tsukasa tiba-tiba tertawa tanpa sebab yang kuketahui. "Maaf, aku tak bisa menahan diriku untuk membuat kalian merasa tegang."

Aku dan Nagihiko bertukar pandangan. Dan saat ini aku yakin pikiran kami sama, Tsukasa aneh sekali.

"Maksudnya, kau nggak akan membawa kami ke polisi?"

Tsukasa berusaha meredakan tawanya, dan dalam sekejap terlihat serius seperti biasa. "Meskipun kalian terbukti melanggar hukum, aku tak bisa membiarkan murid-muridku masuk penjara." Ujarnya dengan senyum.

Kudengar Nagihiko menghela nafas lega sepertiku. "Tsukasa-san, aku tak tahu bagaimana caranya kami berterima kasih padamu." Katanya.

"Tak perlu. Di samping itu, aku memanggil kalian ke sini karena memang ingin bertanya sesuatu." Senyum di wajah Tsukasa menghilang, berganti dengan tatapan tajam. "Apa yang telah terjadi pada kalian berdua?"

"Kalau kau tanya tentang hidup Nagi, aku bisa jawab kalau semuanya menjadi terbalik." Chara Nagihiko yang playboy, Rhythm, menyahut.

"Hidup Rima-chan dan Nagi-kun tertukar, begitu juga orangtua mereka." timpal Kusukusu.

"Kusukusu, Tsukasa-san nggak bertanya padamu!"seruku mengingatkannya untuk sopan. Yah, biarpun aku begini, tapi orangtuaku mengajarkanku sopan santun. Dan sopan santun adalah satu-satunya hal yang diajarkan mereka padaku sebelum mereka... yah, bertengkar.

Begitu mengingat orangtuaku, aku tersadar kalau mulai pagi ini orangtuaku adalah orangtuanya Nagihiko. Seandainya aku orang yang melodramatis, aku pasti langsung berteriak histeris sekarang.

"Yah..." aku mulai bicara dan berusaha mengabaikan kenyataan gila barusan, "Seperti kata mereka tadi, hidupku dan Nagihiko tertukar setelah kami naik roller coaster yang bisa mengabulkan permohonan."

Aku menunggu Tsukasa kembali tertawa karena penjelasanku yang terdengar nggak masuk akal itu. Tapi ekspresi yang kulihat di wajahnya menunjukkan kalau dia serius. "Siapa di antara kalian yang meminta permohonan?"

"Rima-chan." ujar Nagihiko. Aku menangkap nada kesal di ucapannya. Ah, masa bodoh.

"Apa yang kau minta, Fujisaki-san?" tanya Tsukasa lagi. Aku menunggu Nagihiko mengatakan sesuatu, tapi dia nggak bilang apa-apa. Karena itu aku menoleh dan bermaksud untuk mengingatkannya. Namun dia malah melotot padaku.

"Kau yang ditanya, Rima-chan." bisiknya.

Aku tertegun, lalu ingat karena di dunia ini aku lah 'Fujisaki-san'. "Apa? Ah, ya. Aku minta agar hidupku berubah, karena aku merasa bosan." Sahutku. Konyol memang, tapi aku masih belum terbiasa dipanggil begitu.

"Ah, itu berarti duniamu sebelumnya bukan seperti ini?"

"Tentu saja bukan. Aku anak keluarga Mashiro, dan di duniaku tak ada peraturan aneh tentang seseorang harus punya pacar." Ujarku sambil memutar bola mataku setelah mendengar pertanyaan bodoh Tsukasa.

"Ya, aku sudah tahu itu. Aku sudah tahu semuanya dari awal." sahut Tsukasa dengan nada pelan yang membuatku takut. Kemudian setelah melihat ke sekelilingnya seakan memastikan nggak ada orang lain selain kami bertiga, dia bangkit dari kursinya dan menghampiriku.

"Kau tahu, Fujisaki-san, kau telah meminta permohonan pada Embrio."


Nagihiko's POV

Bukan hanya Rima dan aku, bahkan Chara kami nggak ada yang bisa berkata apa-apa setelah Tsukasa menyebut Embrio.

Embrio... benda yang bisa mengabulkan permohonan seseorang, dan benda yang selama ini di cari-cari oleh Guardian dari generasi ke generasi. Dengan mudahnya Rima meminta permohonan padanya dalam sebuah... roller coaster?

"Maaf kalau aku terdengar meragukanmu, Tsukasa-san. Tapi, apa kau yakin?" kataku akhirnya bisa bertanya.

Dia nggak menjawab pertanyaanku, dan malah membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah liontin yang di tengahnya terdapat sesuatu yang terlihat seperti pecahan kulit telur.

"Ini, adalah pecahan Embrio. Guardian pada masaku, pernah bertarung dengan Easter memperebutkannya." Jelasnya lalu mengangsurkan liontin itu padaku. "Benda itu kusimpan setelah akibat pertarungan kami dan Easter, Embrio sedikit retak karena dahsyatnya pertarungan itu."

Kuamati pecahan itu yang berwarna putih terang, tapi bagiku benda itu terlihat seperti pecahan telur biasa. "Lalu, apa hubungan liontin ini dengan Embrio?"

"Aku tahu kau menganggap benda itu bukanlah apa-apa. Tapi sebenarnya itu adalah sensor Embrio, dan selama Embrio masih ada benda itu akan terus bercahaya."

"Tapi, benda ini tak bercahaya." Sahutku masih bingung dengan penjelasannya.

"Tepat. Tandanya Embrio sudah hilang, atau seseorang sudah menggunakannya untuk membuat permohonan." Ujar Tsukasa lalu mengambil lagi liontinnya dan beralih menatap Rima. "Dan sepertinya, Mashiro-san lah yang membuat permohonan itu."

"Tapi aku tak melihat Embrio, atau apapun yang semacam itu." Jelas Rima.

"Lalu apa yang kau lihat?"

"Tak ada," Rima menjawab dan terlihat masih mengingat-ingat. "Aku hanya mengikuti petunjuk yang dikatakan seseorang dari speaker. Dia bilang aku bisa mengucapkan permohonanku saat roller coaster yang kami naiki memasuki terowongan. Tapi setelah selesai dengan permohonanku, cahaya putih terang–"

"Membuatmu tak bisa melihat apa pun. Dan hal selanjutnya yang kau tahu, semuanya sudah berubah, 'kan?" ujar Tsukasa menebak sambil tersenyum penuh teka-teki.

Aku bisa lihat dari ekspresi di wajah Rima, kalau tebakan Tsukasa ternyata benar. "Yah, kurang lebih begitu." Sahutnya pelan.

Bagiku penjelasan Tsukasa cukup masuk akal. Tapi ada satu hal yang menggangguku saat melihat senyumnya. Sebenarnya aku nggak mau bilang begini, tapi aku curiga kalau dia ada sangkut pautnya dengan semua ini.

"Mencurigaiku, Mashiro-san?" tanya Tsukasa tiba-tiba di depan wajahku.

"Eh, go–gomennasai, Tsukasa-san. Aku hanya menduga," kataku dengan perasaan nggak enak, meskipun kenyataan bahwa Tsukasa memanggilku dengan nama baruku membuatku merasa lebih nggak enak lagi.

"Tidak apa-apa, itu bagus. Tandanya nalurimu tajam," ujarnya tanpa terlihat tersinggung sedikit pun. "Aku bisa menebak hal apa yang terjadi pada Fujisaki-san, karena memang itulah yang akan terjadi jika Embrio mengabulkan permohonanmu."

Oh begitu, ujarku lega dalam hati. Syukurlah Tsukasa sama sekali nggak berhubungan dengan hal ini. "Jadi, apa ada cara untuk membuat kehidupan kami normal kembali?"

"Aku minta maaf, tapi aku tak tahu. Sebab selama ini belum pernah ada yang memohon pada Embrio, atau pun membatalkan permohonannya."

"Well, Nagi, kelihatannya kau harus terus menghabiskan waktu bersama Rima-chan seumur hidupmu." Ujar Rhythm nyengir padaku.

"Diamlah, Rhythm." Tukasku dan Rima bersamaan.

"Oh, mungkin ada hal yang bisa dilakukan!" Tsukasa tiba-tiba berseru dan menepuk tangannya. "Fujisaki-san, kau memohon pada Embrio agar hidupmu tak lagi membosankan. Apa yang membuatmu merasa bosan?"

Rima berpikir sejenak, kemudian mengangkat bahu. "Entahlah. Aku merasa bosan, karena hidupku memang membosankan. Selain komedi, tak ada lagi yang membuatku tertarik." Sahutnya datar.

"Begitu... Mashiro-san?" tanya Tsukasa lagi padaku.

"Ah, ehm... di kehidupanku yang asli, aku sangat sibuk sampai tak punya waktu untuk melakukan hal yang kusuka. Semua rutinitas yang kujalani membuatku bosan." Jelasku dan masih merasa kesal saat mengingat hal terakhir yang ibuku perintahkan padaku. Kokugo... yang benar saja.

"Itu dia!" seru Tsukasa keras, sampai-sampai membuatku dan Rima terlonjak kaget. "Temukan hal yang bisa membuat kalian tak lagi bosan! Dengan begitu, keajaiban yang diberikan Embrio pada kalian tak lagi diperlukan. Dan mungkin bisa membuat kehidupan kalian kembali seperti semula."

Aku dan Rima bertukar pandangan ragu. Dari isyarat Rima yang menempelkan telunjuk dengan miring di dahinya, aku mengerti dia mau bilang kalau Tsukasa sudah gila. Aku pun nggak yakin kalau cara itu adalah jalan keluar bagi masalah kami, jadi aku hanya menjawab dengan mengangkat bahu.

"Lalu bagaimana dengan 'hubungan' kami? Kau sudah tahu kalau itu cuma pura-pura," tanya Rima.

Tsukasa tertawa kecil sebelum menjawab. "Kalau itu, aku tak bisa berbuat apa-apa. Kalian tahu peraturannya, 'kan?"

"Ya ampun..." desah Rima kesal. Sedikit banyak aku merasa tersinggung dengan reaksinya. Apa dia sebegitu bencinya padaku?

"Sudahlah, Rima-chan. Ini 'kan cuma pura-pura," kataku mencoba menyabarkannya, dan yang kudapat adalah death glare darinya.

Baiklah, sikapnya yang menyebalkan itu membuatku ingin cepat-cepat pergi dari sini. "Arigatou, Tsukasa-san, atas bantuanmu. Sejujurnya aku tak yakin apa yang kau katakan bisa membuat kehidupan kami kembali seperti semula. Tapi kami akan mencoba melakukannya." Kataku bangkit untuk berpamitan.

"Ah, ya. Beri tahu aku jika ada perkembangan, Fujisaki-san." Ujarnya tersenyum dan membuatku tertegun karena kali ini dia memanggilku dengan nama yang benar.

"T–tunggu! Kau benar-benar yakin ini akan berhasil?" seru Rima menatapku dengan wajah nggak percaya.

"Nanti kita bicarakan. Sekarang aku mau pulang sebelum aku sakit kepala," sahutku dan mulai benar-benar merasa sakit kepala.

"...menjodohkan mereka."

Aku menoleh ke belakang saat mendengar suara itu, dan aku yakin suara itu milik Tsukasa. Tapi begitu aku menatapnya, dia hanya tersenyum.

"Ada masalah, Fujisaki-san?" tanyanya masih tersenyum.

"Ah, tidak. Kami permisi," ujarku ragu lalu mulai melangkah.

Dan entah kenapa, seiring langkahku menjauh dari kantor Tsukasa, aku merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Alice saat masuk ke lubang kelinci.


"Pergilah duluan, aku mau ke toilet." Ujar Rima berhenti saat kami melintas di depan toilet.

"Nggak apa-apa, aku akan menunggumu."

"Kenapa kau nggak berubah menjadi Nadeshiko dan ikut masuk saja?" katanya sinis lalu membanting pintu toilet.

Oh, bagus. Di dunia yang serba aneh ini, teman senasibku adalah gadis seperti itu? Jika aku tahu akan berakhir begini, kemarin aku akan langsung pulang dengan berlari. Hanya Kami-sama yang tahu kenapa aku harus ikut terseret dalam masalah yang dibuatnya.

Karena nggak mau repot-repot menunggu gadis yang sudah bicara padaku seakan aku ini penyakit menular, kuputuskan untuk pergi lebih dulu ke Royal Garden. Kelas sudah berakhir sejak kami keluar dari kantor Tsukasa, dan Tadase mengirimiku pesan yang bilang Guardian akan mengadakan rapat sepulang sekolah.

"Aku tak menyangka semuanya akan berakhir segawat ini. Nagi dan Rima-chan pura-pura pacaran..." gumam Temari, berlawanan dengan wajahnya yang terlihat santai.

"Kau nggak menyangka, atau kau sudah menyangka?" tanyaku dengan nada ketus yang jarang kugunakan. "Sebenarnya, aku ragu kalau penyebab semua ini adalah Embrio seperti yang dikatakan Tsukasa-san. Apa menurutmu ini ada hubungannya dengan Easter atau batsu-tama?"

Temari menggeleng, "Bukan, tak ada reaksi batsu-tama yang kurasakan sejauh ini. Selain itu, bukankah Easter sudah tak melakukan hal jahat lagi?"

"Benar juga."

"Bagaimana kalau kita tanya Guardian?" usul Rhythm.

"Ide bagus, tapi sepertinya kita nggak akan dapat apa-apa. Mereka pun sepertinya bagian dari dunia aneh ini," sahutku lesu.

"Omong-omong soal Guardian, coba lihat itu!" seru Temari kaget.

Langkahku tanpa kusadari telah membawaku sampai di depan pintu Royal Garden. Setelah melihat apa yang ada di hadapanku, aku mengerti kekagetan Temari karena aku juga merasakan hal yang sama.

Royal Garden seperti yang kalian tahu, tadinya didominasi warna putih. Sekarang berubah wujud seperti dunia khayalan anak perempuan. Semuanya, dari kursi sampai perabotan lainnya, pink.

Tapi hal sinting itu nggak berhenti sampai di situ. Sebuah spanduk besar yang tergantung di langit-langit menyambutku saat aku masuk ke dalam. Dan benda itu bertuliskan 'Doki doki! Rima-tan to Nagi-kun!'.

"Kepala ungu, apa maksudnya... ini?"

Aku segera berbalik, dan tahu ancaman besar berada tepat di belakangku.

Benar saja, Rima berdiri di sana dengan mata tertutup poninya. Oh tidak... aku akan mati kalau dia sampai salah paham.

"D–dengar, Rima-chan... ini bukan perbuatanku, lho."

Rima nggak bergeming. "Lalu siapa? Di sini hanya ada kau, lho." Katanya meniru ucapanku, hanya saja ditambah aura membunuh yang kuat.

Sebelum aku sempat membela diri, suara terompet yang dibunyikan serentak membuat perhatianku teralihkan. "Selamat, Rima-chan, Nagi-kun!" seru orang-orang yang ternyata para Guardian.

"Eh, minna..." aku nggak tahu harus bereaksi atau bilang apa, jadi kurasa aku akan duduk saja di kursiku yang biasa. "Ini semua... bagus. Tapi apa maksudnya?"

"Mashiro, ayolah! Masa' masih tanya? Tentu saja ini untuk merayakan bersatunya kau dan Fujisaki!" ujar Kukai sambil mengacak-acak rambutku.

"Arigatou, Kukai-kun..." jawabku terpaksa, meskipun aku sama sekali nggak merasa berterima kasih. Karena firasatku mengatakan akan ada bahaya. "Bukan bermaksud nggak sopan, Kukai-kun. Tapi kau tahu sendiri pendapat Rima-chan soal warna-warna cerah, 'kan?" kataku dengan berbisik.

Ekspresi Kukai berubah serius, yang artinya mungkin dia mengerti. "Buatku, sih, nggak masalah. Hinamori yang mengusulkan untuk menghias Royal Garden. Dia menggunakan sisi feminin yang jarang ditunjukkannya," ujarnya sambil tertawa.

Aku salah, ternyata dia nggak mengerti sama sekali. "Kubilang pendapat Rima-chan, bukan pendapatmu!" bisikku gemas.

Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari aura membunuh di sekeliling Rima setelah benar-benar melihatnya. Sekarang, dia bersembunyi di belakangku.

"Go–gomen, Fujisaki! Aku tahu kau berpikir warna-warna ini–"

"Warna-warna ini cantik sekali! Arigatou, minna. Aku menyukainya!" Rima menyela, anehnya dengan nada riang yang belum pernah kudengar sama sekali.

Dan beberapa saat setelahnya, segala aktifitas yang dilakukan para Guardian berhenti sama sekali. Semua terpaku memandang Rima seakan kalimatnya itu membuat seisi Royal Garden membeku.


~Author Random Speech~

Vices: Cuma keterangan aja buat kalian yang nggak kenal siapa Alice yang masuk ke lubang kelinci. Dia adalah Alice di cerita Alice in Wonderland. Nah, udah, 'kan? Langsung cabut ke chapter selanjutnya! Makasih banyak buat review super lovely kalian :D L'Vices, over and out!