Disclaimer
Haduuh... 'kan udah gue bilang ShuCha dan lagu yang gue rekomendasiin bukan punya gue? Jadi, janji jangan bawa gue ke penjara
Warning
Biasa lah, alur ngaco dan ada pertanda OOC. Jangan baca bareng orang lain, karena nanti takutnya ada berita dua orang mati gara-gara keracunan abis baca fic ini
Chapter 5
Milk Doesn't Always Makes You Taller
Rekomendasi Lagu Buat Didengerin Sambil Baca:
blink-182 – Even if She Fall
Alasan:
Dengerin pas bagian POV terakhir, dan kalian akan tahu apa yang dirasakan cowok saat memikirkan hal romantis tentang kalian, para cewek
Nagihiko's POV
"Rima-chan, ini tehmu. Selamat ya..."
"Fujisaki-san, silakan kuemu."
"Fujisaki, jika ada yang kau inginkan, aku dan Utau akan melakukan apa saja untukmu!"
"Kukai! Ah, ehm... ya, chibi. Bilang saja kalau perlu sesuatu."
Luar biasa sekali apa yang bisa disebabkan oleh reaksi Rima selama pesta kejutan untuk kami berdua berlangsung. Dia tersenyum lebih banyak dari biasanya, dan yang lebih hebat lagi, dia juga tertawa. Apa yang dilakukannya, adalah hal yang biasa terjadi pada Yaya.
Tapi itu semua nggak membuat aku dan yang lainnya lega. Malah, kami takut kalau dia hanya pura-pura, dan berencana untuk mengamuk sebelum kami sempat berkedip.
"Ehm, Rima-chan?" panggilku hati-hati.
"Ya, Nagi?"
Aku merinding mendengar nada suaranya yang super lembut itu, dan lebih merinding lagi karena dia memanggilku dengan nama kecilku. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? "Kau senang dengan pesta ini?" tanyaku.
"Tentu saja! Kenapa kau berpikir sebaliknya?" katanya dengan senyum.
"Ah, nggak. Senang kau menikmatinya," jawabku canggung. Entah apa yang merasukinya, tapi aku bersyukur dia nggak melakukan sesuatu di luar batas. Di samping itu, Amu sudah susah payah menghias tempat ini. Dan aku nggak mau jika Rima membuatnya sedih dengan merusaknya. Jadi, baguslah.
"Oke, minna. Terima kasih atas kerja sama kalian, aku senang pesta ini berjalan lancar." Ujar Kukai melirik padaku, dan kubalas dengan senyum ragu. Jelas sekali dia masih takut kalau Rima akan melakukan sesuatu. "Karena sepertinya hari sudah sore, bagaimana kalau kita akhiri saja pesta ini sampai di sini?"
"Ah, iya. Aku harus cepat pulang dan menjaga Ami. Orangtuaku pergi malam ini," ujar Amu sambil mengecek telepon genggamnya.
"Aku juga harus menjenguk nenekku di rumah sakit," kata Tadase bangkit dan mengambil tasnya.
"Aku ada sesi take vokal beberapa jam lagi. Kau pulanglah, nggak perlu mengantarku." Ujar Utau lalu pergi setelah mencium pipi Kukai.
"Ayo, Nagi. Kita juga pulang," Rima memegang tanganku. Aku menoleh dengan kaget, dan melihatnya tersenyum manis.
"Eh, iya." Kataku cepat dan mengambil tasku. "Kalau begitu, sampai jumpa, minna."
"Oh, kalian, sebentar!" seru Kukai, kami semua menatapnya. "Kalian masih ingat janji kita kemarin?"
"Janji?" tanyaku nggak ingat pernah berjanji apa pun padanya.
"Mashiro, jangan bilang kau lupa," geram Kukai melotot padaku. "Setelah sikap kalian yang menyebalkan kemarin, kita sudah sepakat untuk pergi ke The Wonder World, 'kan? Dan sekarang, setelah kau dan Fujisaki pacaran, kau malah lupa?"
Aku teringat pertemuan kami kemarin sebelum aku dan Rima terdampar di dunia ini, saat Kukai mengatakan sesuatu tentang bersenang-senang. "Ah, iya, aku ingat. Tapi aku nggak ingat kalau aku bilang ingin pergi." Kataku sambil mengangkat bahu.
"Nggak bisa!" tukas Kukai, entah bagaimana caranya sudah ada di depanku. "Kita sudah janji. Selain itu, di tempat itu katanya ada wahana roller coaster yang bisa mengabulkan permohon–"
"Ah, Nagi! Kita terlambat! Aku janji pada ibuku untuk pulang sebelum gelap," Rima menyela lalu berlari sambil menarik tanganku.
"Hei, kalian! Awas kalau kalian nggak datang besok!" seru Kukai begitu kami keluar dari Royal Garden.
"Nanti kami kabari!" sahut Rima, membuat daftar kebingunganku pada sikapnya hari ini jadi semakin panjang.
Rima's POV
"Rima, bisakah kau nggak menyeretku?" keluh si kepala ungu.
"Baik." sahutku lalu melepaskan tangannya.
"Apa–uwaa!" Nagihiko berseru tertahan. Aku berhenti dan berbalik untuk melihatnya jatuh tersungkur. "Kenapa kau lakukan itu?!"
"Kau minta aku melepaskanmu, 'kan?"
Dia bangkit dan membersihkan lututnya yang ditempeli debu sambil menggerutu. "Bagus sekali, Rima. Kau lucu sekali."
"Kalau itu lucu, aku sudah tertawa sekarang." balasku datar, meskipun sebenarnya aku ingin sekali tertawa melihatnya. "Selain itu, siapa suruh kau memanggilku tanpa honorific?"
"Aku nggak protes saat kau memanggilku Nagi."
Sesuatu dalam perkataannya entah kenapa membuatku malu. "Kau tahu itu cuma pura-pura." Jawabku lalu memalingkan wajah.
"Jadi sikapmu waktu di Royal Garden tadi juga pura-pura?"
Aku mendesah mendengar pertanyaannya, bukankah jawabannya sudah jelas? "Tentu saja. Apa kau pikir aku akan mengecewakan Amu yang sudah susah payah mengatur pesta itu? Meskipun aku ingin sekali menghajar orang yang mengaturnya, kalau saja itu bukan Amu."
Nagihiko tertawa kecil mendengar jawabanku, membuatku bingung akan apa yang ditertawakannya. Dan tahu-tahu saja dia sudah menepuk-nepuk kepalaku. "Nggak kusangka. Rima Mashiro, kau benar-benar orang yang baik." katanya riang.
"Hei, singkirkan tanganmu dari kepalaku!" dengan kesal kusentak tangannya.
"Baik, baik. Jangan marah," ujarnya geli, lalu kembali serius. "Omong-omong, kenapa kau tiba-tiba menyeretku pergi?"
"Akan kujelaskan jika kita sudah masuk." Jawabku seadanya dan kembali melangkah.
"Masuk kemana?"
Aku nggak mau repot-repot menjawab, jadi kuarahkan telunjukku pada plang besar di atas kepala kami. "The Wonder World?" baca Nagihiko.
"Inikah taman bermain yang ada roller coaster pengabul permohonan itu, Rima-chan?" tanya Kusukusu yang kubalas dengan anggukan singkat.
"Kenapa kau nggak ajak kami ke sini kemarin, bro?" tanya Rhythm.
"Maaf, Rhythm. Aku terlalu sibuk dengan kebosananku sampai lupa untuk membawa kalian." jawab Nagihiko.
"Sama dengan Rima-chan." Timpal Kusukusu.
"Sudahlah, ayo cepat masuk!" selaku merasa jengah dengan obrolan nggak penting ini.
"Jadi kau buru-buru menyeretku hanya untuk mengajakku ke sini?" ujar Nagihiko yang mengikuti di sampingku. "Rima-chan, kau benar-benar menjalankan peranmu sebagai pacarku dengan ba–"
"Bukan itu maksudku, kepala ungu!" aku buru-buru menukas sebelum dia bicara dengan percaya diri lebih jauh lagi. "Waktu di toilet tadi, aku mendapat ide. Mungkin jika kita mengucapkan permohonan sekali lagi di roller coaster itu, kita bisa minta agar kehidupan kita kembali normal."
"Oh, benar juga! Kenapa nggak terpikir olehku, ya?" seru Nagihiko dengan senyum lebar.
"Mungkin karena kau jarang berpikir?" sahutku geleng-geleng kepala melihatnya.
Karena nggak mau buang waktu lagi, aku segera mendorong pintu masuk taman itu yang terbuat dari pagar besi. Namun benda itu nggak mau bergerak, dan setelah kuamati ternyata pagar itu dirantai.
"Dirantai? Seingatku pagar ini nggak ditutup saat kita ke sini kemarin..." gumamku bingung. "Hei, kakek pemilik, buka pagar ini! Ini kami, yang kemarin ke sini!" aku berseru sambil menggoyangkan pagar itu agar di dengar olehnya.
Dari dalam aku melihat seorang om-om gendut keluar dari tempat yang terlihat seperti pos keamanan. Aku merasa lega karena yakin orang itu akan segera membukakan pagar ini.
"Hei, apa-apaan kalian? Kalian tak lihat taman ini masih tutup sampai besok?" omel om-om itu lalu mengetukkan pemukul pada pagar dan membuatku meloncat kaget.
Aku sudah siap untuk balik mengomel, tapi Nagihiko memegang bahuku dan menarikku mundur. "Ah, maaf paman. Tapi bisakah kami bertemu dengan kakek pemilik taman bermain ini? Dia kenal kami, karena kemarin dia memperbolehkan kami naik Roller Wishing Coaster dengan gratis." Katanya menjelaskan.
"Oh, kau sudah tahu tentang wahana itu?" ujar orang itu tertawa, tapi kemudian wajahnya berubah galak. "Usaha yang bagus, anak-anak. Tapi pemilik tempat ini bukanlah kakek-kakek, jadi percuma saja jika kalian mencoba berbohong untuk masuk dengan gratis!"
"A–apa? Hei, paman, kami nggak bohong! Kemarin kami naik wahana itu karena di suruh olehnya, dan setelahnya hidup kami jadi kacau!" aku berseru kesal. Orang itu hanya memperlambat semuanya.
"Ya, ya... aku sudah pernah dengar kebohongan yang lebih hebat dari itu." ujarnya sambil mendengus. "Sekarang cepat pergi dari sini, sebelum aku memanggil polisi karena kalian berusaha masuk tanpa ijin!"
"Kau nggak mengerti! Coba saja panggil kakek itu, dan bilang kalau kami ingin bertemu!" bantahku. Tapi petugas itu hanya tertawa lalu berbalik dan kembali ke posnya.
Nagihiko's POV
"Aku, aku..." ucap Rima terbata-bata. Suaranya terdengar rapuh sehingga aku merasa dia akan menangis sebentar lagi.
"Rima-chan, jangan menangis. Kita akan mencari cara untuk–" usahaku untuk mencoba menghiburnya terhenti karena tiba-tiba dia berjongkok dalam posisi defensifnya, yaitu menjadi bola.
Oh, bodoh. Dan aku mengira orang sepertinya akan menangis? Aku merasa geli sendiri dengan dugaanku sebelumnya. Tentu saja Rima nggak pernah menangis.
"Sudahlah, Rima-chan. Kau dengar apa kata petugas tadi? Besok tempat ini buka, dan kita akan pergi bersama para Guardian sesuai janji." kataku mencoba membuatnya keluar dari posisi bolanya yang aneh itu.
"Apa kau bisa menunggu sampai besok? Ini kehidupanku yang kita bicarakan!" bentaknya masih dalam posisi itu. "Aku merasa aneh mengingat setelah ini aku harus pulang ke rumahmu, bukannya ke rumahku..."
Dengan resah kuhela nafasku. Ucapannya benar, aku pun mulai muak dipanggil Mashiro-san. Tapi kalau kami nggak bisa naik roller coaster itu sekarang, mau bagaimana lagi?
"Sama sepertimu, aku juga kesal, Rima-chan." ujarku ikut berjongkok di sampingnya. "Tapi yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah bersabar. Toh, nggak sampai dua puluh empat jam untuk kita kembali ke sini lagi, kan?"
Rima diam saja, dan sekarang aku bingung harus bicara bagaimana agar dia berhenti depresi begitu. Aku menoleh pada para Chara untuk minta pendapat mereka, tapi mereka hanya mengangkat bahu.
"Jamumu nggak enak. Dan aku nggak tahu apa yang akan diberikan ibumu jika aku pulang nanti," Rima akhirnya bicara.
Makanan ibumu pun nggak enak! Sebenarnya aku mau bilang begitu, tapi kurasa ide buruk bagi kami untuk bertengkar sekarang. "Aku mengerti, Rima-chan. Tapi kurasa kita hanya perlu bersabar malam ini, karena besok mungkin kehidupan kita akan kembali seperti semula." Ujarku dengan berat hati.
Rima mengangkat kepalanya dan menoleh padaku. Rupanya kata-kataku berhasil membuatnya merasa lebih baik. "Yah, kau benar. Sepertinya terdampar di dunia ini bersamamu nggak terlalu jelek juga," katanya sambil tersenyum tipis.
Rasa hangat menyelimutiku saat mendengar ucapan dan melihat senyumnya itu. Rima bisa bersikap menyebalkan sewaktu-waktu, tapi kadang-kadang sikapnya bisa jadi sangat manis. Tanpa kusadari bibirku ikut tersenyum memikirkannya.
Eh, tunggu... apa yang terjadi padaku.
Setelah mengenyahkan pikiran bodoh barusan, aku bangkit dan membantu Rima berdiri. Sekilas aroma shamponya yang beraroma peach menggelitik hidungku dan membuat tubuhku goyah, tapi dengan cepat aku berhasil menguasai diriku. "Nah, Rima-chan, bisa kita pulang sekarang?"
"Iya," sahutnya singkat dan mulai berjalan. Namun setelah beberapa langkah dia kembali berbalik dan menatapku tajam. "Besok, tujuan kita pergi bersama adalah naik roller coaster dan membuat permohonan. Ingat janjimu untuk nggak berpikir macam-macam, karena aku tetap membencimu lebih dari apa pun. Bahkan di dunia ini,"
Semua kesan menyenangkan yang terlintas di pikiranku sebelumnya hilang saat mendengarnya bicara begitu. Rima Mashiro, akan selamanya jadi Rima Mashiro.
"Baik, Aisuhime. Terserah kau saja." sahutku dengan menunjukkan senyum sopan.
Setelah mendengus dan menatapku dengan wajah bosan, dia pergi. Meskipun sikapnya menyebalkan, entah kenapa aku terus tersenyum melihatnya.
Sebelumnya aku belum pernah punya kamar tingkat dengan beranda menghadap ke luar. Dan sekarang setelah aku dan Rima bertukar rumah, hal inilah satu-satunya yang membuatku bersyukur. Pemandangan langit malam hari sangat indah, dan aku menikmati setiap saat memandanginya.
Pikiranku melayang mengingat hari pertamaku menjalani hidupku yang baru. Dalam mimpiku yang paling aneh pun, aku nggak pernah menyangka akan terjebak dalam dunia gila ini bersama musuh besarku. Rima Mashiro. Banyak yang ingin kukeluhkan sebenarnya, namun kenyataan bahwa aku terpaksa berpacaran dengan Rima lebih menggangguku. Di dunia kami yang asli, hal itu mustahil terjadi.
Kami bermusuhan, itu sudah jelas. Tapi meskipun kami bukan musuh, menjadi pacar seorang Rima Mashiro tetaplah hal yang mustahil bagiku. Dia memang menyebalkan, tapi di samping itu dia adalah gadis yang manis. Orang normal mana pun mustahil nggak menyukainya sejak pertama melihatnya. Meskipun aku pacarnya di dunia ini, aku tetap merasa nggak bisa mempercayainya. Gadis sepertinya adalah gadis yang di luar jangkauanku, bahkan jangkauan laki-laki mana pun.
Kenyataan bahwa sekarang nasib membuatku berpacaran dengannya, mau tak mau membuatku tersenyum saat memikirkannya. Jika ini masih duniaku yang asli, teman-temanku pasti akan bilang kalau aku sudah gila.
Dering telepon membuat lamunanku buyar. Setelah melihat caller id yang menunjukkan nama Kukai, kuangkat teleponnya. "Moshi-moshi?"
"Kau pasti sudah gila, Mashiro!" serunya tiba-tiba dengan semangat.
"Apa maksudmu, Kukai-kun?" tanyaku bingung.
"Kau pasti sudah gila, jika benar kau dan Fujisaki pacaran!"
Aku tertegun. Benar, 'kan? Bahkan di dunia ini Kukai menyebutku gila. "Ah, arigatou, Kukai-kun. Meskipun aku nggak yakin itu pujian atau bukan..." sahutku geli.
Di seberang sana, Kukai tertawa. "Tentu saja itu pujian. Kuucapkan selamat sekali lagi, ya!"
"Iya, arigatou juga sekali lagi." Kataku lalu ikut tertawa. "Ada apa kau meneleponku?"
"Aku hanya ingin memastikan kau nggak sedang berkhayal, sekaligus mengingatkan akan janji kita seandainya kau lupa." Ujarnya masih tertawa.
Hah, hebat. Sekarang dia punya kemampuan membaca pikiran, rupanya? "Nggak, aku nggak sedang berkhayal, Kukai-kun. Dan aku ingat janji itu, karena aku dan Rima sudah membicarakannya saat pulang tadi."
"Ha-ha, baiklah. Beritahu juga padanya kalau kita berkumpul di depan The Wonder World jam tujuh pagi, ya!" ujarnya kemudian menutup sambungan. Dasar Kukai, selalu langsung pada tujuan.
"Nagi, apa kau mau mama membuatkanmu susu sebelum tidur?" seru ibuku–sekarang Mama–dari balik pintu.
Ha! Siapa sangka Rima suka minum susu sebelum tidur? Tapi sepertinya dia tetap pendek meskipun terus meminumnya. Meskipun ingin tertawa, aku tetap menyahut. "Tidak, ma. Aku ingin langsung tidur, karena besok aku ada acara penting."
