~Author Random Speech~

Vices: Hai, minna! ketemu lagi di chapter baru :D Ehm, beberapa waktu belakangan, gue ngalamin dilema antara update fic ini atau fic gue yang satu lagi. Berhubung mood gue lagi onfire, gue rasa Ballad of the Lunatic Pair harus jalan lebih dulu!

Rima: Lo bener-bener harus update High School... inget yang udah ngirim OC

Vices: Yah, emang. Tapi... oke, Nagi, review pertama! *panik*

Rima: Dia berusaha ngeles

Nagihiko: Biarin, lah. Review pertama dari PriscallDaiya-san:) Nah, Daiya-san udah mulai nebak-nebak, nih. Tapi jawaban yang Daiya-san kasih belum tentu bener, lho ;) Oh, dan soal Rima yang minum susu...

Rima: Itu rekayasa! Emangnya gue anak kecil, minum susu?! Amu tuh yang begitu!

Vices: Ho oh, emang bener. Aslinya, yang suka minum susu sebelum tidur itu Amu. Cuma, gue rasa akan lebih cute kalo Rima yang punya kebiasaan itu hahaha. Lanjut, sarah. maula. 1-san! Halo, sarah-san. Makasih udah nyasar ke sini :) dan, ukh, soal High School...

Rima: Nah, lho~

Vices: Diem, jangan bikin tegang! O-oke, vote dari sarah-san udah saya baca. Tapi, seinget saya pollnya udah di apus, deh? Well, karena sarah-san udah vote, pollnya saya tetep buka deh :) Terus tentang RimaHiko, ya, saya suka mereka. Meskipun bakal kedengeran bohong, mereka berdua mirip saya sama mantan saya...

Rima: Ya ampun, curhat -_-

Vices: Eh, iya, maaf *garuk kepala* Dan tentang rekomendasi lagu di chapter kemarin, saya tau tentang lagunya ya setelah denger liriknya, dong ;) Then, ya, sarah-san emang bener. Rima kepalanya batu banget!

Rima: Oke, cukup tentang gue! *rebut kertas review* Nah, makasih ya, sarah, karena udah nyela Vices :D Selanjutnya, review dari Fuka. Fuka, kamu nggak akan butuh bocoran, karena fic ini nggak bagus, titik. Terus, pesanmu buatku... Hei, kenapa soal susu lagi?!

Nagi: Berisik, ah *rebut review* arigatou, atas pesanmu, Fuka-san. Dan, yah... saya emang perlu sabar sama Rima -_-

Vices: Udah, kan? eh, tunggu. Ada satu lagi dari Diamond chara-san!. Maaf banget, Diamond-san, reviewnya kayaknya nyelip *bow* Nah, saya udah update, nih. Dan saya tunggu pendapatnya soal romance di chapter ini :) Oke, yuk roll chapter!

Nagihiko & Rima (males-malesan): On The Go...


Disclaimer

Shugo Chara dan lagu yang gue rekomendasiin bukan punya gue, 'kan?

Warning

OOC, alur yang dibuat-buat, fluff yang rasanya gagal semuanya ada di sini. Mendingan kalian baca doa daripada baca fic ini.


Chapter 6

Roller Coaster

Rekomendasi Lagu Buat Didengerin Sambil Baca:

blink-182 – Roller Coaster

Alasan:

Nggak, ini bukan karena nama chapternya sama kayak lagunya. Lagian ini bukan songfic. Intinya, yang Nagihiko rasain tentang semua kepura-puraan yang dijalaninya bersama Rima tertuang di lagu ini. Punya pacar, jalan berdua... untung Rima yang jadi pacarnya. Kalo nggak mending pulang aja, deh


Rima's POV

Satu, dua... tiga kali putaran. Dalam hati aku menghitung sambil menutup mata, dan aku yakin sebentar lagi pasti aku akan jatuh.

"Bagus sekali, Rima! Semuanya sempurna!"

Kubuka mataku dan menyadari bahwa ucapan ibunya Nagihiko benar. Gerakan berputar yang merupakan tahap terakhir dalam tarian tradisional keluarga Fujisaki ternyata kulakukan dengan baik. Dan sekarang aku berdiri tegak dalam pose penutupan.

Ibu Nagihiko menghampiriku sambil bertepuk tangan. "Kerja bagus, anakku. Kau berhasil menguasai semua gerakan itu hanya dalam satu hari. Pasti kemarin kau berlatih keras," katanya lalu membelai rambutku dengan lembut.

"Ah, sejujurnya aku bahkan nggak tahu apa yang sudah kulakukan..." ujarku tersenyum kikuk.

"Maaf, apa katamu?" ibu Nagihiko menatapku heran.

"Rima-chan, ucapanmu kurang sopan!" bisik Kusukusu.

"Ups!" dengan cepat kututup mulutku. Aku lupa, sekarang aku hidup di keluarga yang penuh dengan tata krama. "Maksudku, arigatou, okaa-san. Kurasa latihan yang kemarin kulakukan membuatku lebih luwes bergerak," jawabku berusaha terdengar lebih sopan.

"Itu bagus, anakku," ibu Nagihiko tersenyum penuh kasih sayang, membuatku merasa aneh karena pada kenyataannya aku bukanlah anaknya. "Kalau begitu, latihan hari ini selesai. Sekarang pergilah mandi, kau bilang ada janji dengan teman-temanmu, bukan?"

"Ah, iya. Arigatou, okaa-san." Sahutku lalu membungkuk memberi hormat. Setelah mengangguk pelan, dia membuka pintu dan keluar dari ruang latihan ini.

Dengan begitu, kuhela nafas lega yang kutahan sejak tadi dan duduk berselonjor di lantai. "Aku nggak tahu kekuatan apa yang kudapat, tapi aku masih belum percaya kalau aku baru saja menari," kataku pada Kusukusu sambil mengipasi tubuhku yang berkeringat menggunakan lengan kimono warna peach-ku.

"Mungkin di dunia ini kau sudah belajar menari seumur hidupmu, karena kau adalah anggota keluarga Fujisaki." Ujar Kusukusu mengutarakan pendapatnya sambil meniru gerakan tariku, yang gagal sama sekali.

"Masuk akal," kataku dengan tertawa kecil melihat tingkahnya.

Aku mendesah pelan saat mengingat kembali sensasi yang kurasakan waktu menari. Rasanya, seperti berada di suatu tempat yang sangat tenang dan damai. Perasaan seperti itu belum pernah kurasakan di kehidupanku sebelumnya, dan sejujurnya aku sangat menikmatinya.

"Kurasa menari menyenangkan juga, ya?" tanyaku pada Kusukusu, yang dibalas dengan senyum. Namun senyumnya tiba-tiba menghilang, berganti dengan raut keterkejutan.

"R–Rima-chan, dari dirimu... ada sesuatu yang memancar," gumamnya pelan.

Kulihat sekujur tubuhku, tapi nggak ada apa pun yang terlihat berbeda. "Apa yang kau maksud?" tanyaku bingung.

"Bukan dari tubuhmu, tapi dari hatimu!" Kusukusu menukas dengan penuh semangat.

"Hah? Apa, sih, yang kau–"

Bunyi bel pintu yang menggema ke seluruh ruangan memotong perkataanku. "Rima, temanmu datang mencarimu." Ujar ibu Nagihiko dengan senyum aneh.

"Temanku, siapa?" tanyaku merasa curiga melihat senyumnya itu.

"Dia bilang, dia pacarmu."


Nagihiko's POV

"Lama, ya..." keluh Temari sibuk merapikan kimono-nya yang sebenarnya baik-baik saja.

"Mungkin dia masih tidur." Rhythm menukas sambil mendengus kesal.

"Mustahil. Meskipun aku nggak tahu jam berapa biasanya dia bangun di dunia normal, tapi di dunia ini dia nggak mungkin masih tidur. Kalian kenal sendiri ibuku," ujarku tertawa membayangkan apa yang dihadapi Rima saat ini.

"Pasti dia dipaksa bangun sebelum matahari terbit untuk latihan menari, seperti yang biasa terjadi padamu." Ujar Rhythm tertawa geli.

"Hei, Rhythm! Kau tak boleh begitu, itu adalah salah satu tradisi penting keluarga Fujisaki agar mahir dalam menari!" omel Temari dengan galak.

"Apa kau pikir orang normal akan datang ke rumah seorang gadis, dan mengaku sebagai pacarnya begitu saja?!" seru suara feminin menyela perdebatan mereka. Aku menoleh ke arah pintu, dan rasanya jantungku berhenti berdetak dalam beberapa detik.

"Astaga... ternyata Rhythm benar." Kudengar Temari bergumam.

Ya, Rhythm memang benar dengan kesimpulannya tadi. Yang berdiri di hadapanku adalah Rima yang memakai kimono warna peach sambil menyeka wajahnya dari keringat dengan handuk putih kecil.

"Apa... yang kau lakukan dengan pakaian itu, Rima-chan?" aku bertanya, dan entah kenapa itu butuh usaha keras.

Rima menelengkan kepalanya ke samping dengan bingung. "Ini? bukankah dengan melihat saja kau sudah tahu? Aku baru selesai berlatih menari," jawabnya datar.

"Tapi..." kataku berusaha menemukan kata yang tepat.

"Tapi apa?"

Tapi bukan itu maksudku. Yang menggangguku adalah kenyataan bahwa Rima terlihat cocok dengan pakaian itu. Sosoknya yang mungil terlihat semakin manis, dan rambutnya yang keemasan sangat serasi dengan warna kimono-nya.

Juga keringat yang mengalir melalui pipinya, sepertinya...

Eh, nggak! Sadarkan dirimu, Nagihiko Fujisaki!

"Kepala ungu, kenapa kau menatapku seperti itu?!" bentak Rima tiba-tiba mendorong dahiku dengan telunjuknya.

"Ah, nggak apa-apa," jawabku tersenyum dan berusaha kembali fokus. Syukurlah, apa yang dilakukannya membantuku keluar dari lamunan sintingku.

"Orang aneh," ujarnya dengan wajah jijik. "Apa maumu datang ke sini?"

Kuhela nafasku melihat sikapnya yang nggak bersahabat itu. "Bukankah kita akan pergi ke The Wonder World hari ini? Cepatlah bersiap sebelum Kukai mengomeli kita,"

"Aku sudah tahu itu. yang mau kutanyakan, kenapa kau datang ke sini dengan bilang kalau kau adalah pacarku?" geramnya kesal.

Aku mengingat-ingat percakapanku dengan ibuku tadi, yang sekarang jadi ibu Rima, dan membuatku tertawa. "Oh, itu. Bukankah kita memang pacaran?"

"Itu hanya pura-pura!"

"Ah, memang. Tapi menurutku lebih baik orangtua kita tahu, jadi segalanya akan lebih mudah," kataku memberi alasan.

Raut kekesalan di wajah Rima menghilang, berganti dengan ekspresi ragu. "Mungkin kau benar... tapi apa itu perlu?" tanyanya.

"Entahlah. Tapi setidaknya jika ada yang meragukan hubungan kita, orangtua kita bisa memberikan pernyataan kalau kita benar-benar berpacaran. Aku sudah memikirkan soal ini kemarin," Ujarku menjelaskan, dan tampaknya cukup dimengerti olehnya.

"Rima, kenapa kau biarkan Mashiro-san di luar? Ajak dia masuk agar dia bisa menikmati teh buatan ibu selagi menunggumu bersiap!" ibuku–untuk lebih mudahnya, sekarang ibu Rima–berseru dari dalam rumah.

"Tidak apa-apa, okaa-san," Rima berbalik untuk menyahut, kemudian berpaling padaku sambil melotot. "Mashiro-kun lebih suka udara dingin di luar!" lanjutnya ketus lalu masuk dan membanting pintu.

Aku hanya bisa diam melihatnya. Dengan sikapnya yang seperti itu, bagaimana caranya membuat semua orang yakin kami adalah pasangan? Aku harus membuat semua orang percaya aku telah menjangkau hati si Putri Es yang ketus itu. Tapi, aku nggak yakin aku bisa melakukannya kalau begini.


"Kau yang minta kami agar nggak terlambat..."

"Dan malah kau sendiri yang terlambat!"

"Kau tahu, meminta izin untuk pergi saja sangat sulit bagiku!"

"Hueee~ Kukai-chi, kalau begini Yaya dan Kairi nggak akan bisa naik carousel itu selamanya!"

"Hei, bersikap baik lah sedikit padaku! Kau tahu, sebagai seorang kapten klub sepakbola, aktifitasku sangat melelahkan!"

Aku, bersama para laki-laki lainnya, hanya bisa mengasihani Kukai yang sedang diomeli tanpa ampun oleh para gadis. Toh, nggak ada yang bisa dilakukan. Kukai sendiri yang membuat janji, dan mengingat konsekuensinya harusnya dia nggak datang terlambat.

"Hai, Kairi. Senang melihatmu datang juga," ujarku menyapa Kairi, lebih untuk meredakan ketegangan.

Seperti biasa, Kairi mengangguk dengan sopan. "Aku juga, Queen. Meskipun begitu, ini adalah permintaan dari Ace yang memintaku untuk menemani–"

"Yaya dengar kalimat yang salah, Kairi?" Yaya berpaling padanya dengan wajah cemberut.

"Ah, iya! Maksudku, Yaya..." ujar Kairi dengan pipi memerah.

Dalam hati, aku kagum dengan bagaimana Kairi bisa bertahan dengan sikap Yaya. Di dunia ini, mereka berpacaran, meskipun umur mereka belum genap lima belas tahun. Di samping itu, aku masih bingung bagaimana cara Kairi menghadapi Yaya yang bisa jadi sangat penuntut itu. Untung hubunganku dan Rima hanya pura-pura.

"Omong-omong, apa kita bisa masuk ke taman itu?" Amu bertanya pada Tadase.

Tadase dan aku bertukar pandangan. Dan setelah menengok kerumunan di belakang kami, Tadase baru menjawab. "Melihat banyaknya orang yang sudah antri sebelum kita, sepertinya mustahil."

"Tepat. Kurasa sebaiknya kita pulang saja." sambungku.

"Nggak!" para gadis menukas dengan galak, membuat kami mundur dengan takut. "Apa kau melupakan janjimu, Nagi? Bukankah aku sudah bilang kalau aku ingin naik roller coaster itu bersamamu?" ujar Rima pelan dengan menitikkan airmata.

"Hebat, Nagi-chi. Kau membuat Rima-tan menangis," ujar Yaya dengan nada seperti orangtua mengomeli anaknya.

"Dia hanya pura-pura."

Dengan begitu, Rima berhenti menangis. "Kenapa, sih, kau selalu tahu?" gerutunya.

Aku tertawa mendengarnya. "Aku tahu terlalu banyak tentangmu," kataku lembut.

Rima memalingkan wajahnya dariku, "Baka." Katanya, entah kenapa membuatku ingin tersenyum.

"Ah, sudahlah! Sepertinya aku memang harus turun tangan," ujar Utau kesal, kemudian mengeluarkan mic tanpa kabel dari tasnya.

"Oh, ide bagus, Utau!" seru Kukai senang.

"Apa yang akan dilakukan Hoshina-san?" tanya Kairi.

"Lihat, dan kalian akan mengerti." Sahut Kukai.


"Baiklah, sebaiknya kita berpencar saja. Agar kita bisa naik wahana yang kita inginkan," Utau mengumumkan.

"Orang-orang itu begitu saja meninggalkan antrian mereka hanya demi tanda tangannya. Padahal menurutku suara Utau biasa saja," kata Rima dengan suara pelan.

"Aku dengar itu, chibi!" seru Utau menatapnya kesal. Kemudian berpaling pada Kukai. "Ayo, Kukai. Kita lihat apakah ada kedai yang menjual ramen di sini,"

Kulihat cengiran di wajah Kukai bertambah lebar setelah Utau bicara. "Maksudmu, kau menantangku lomba makan?"

"Kau yang minta!" seru Utau lalu berlari meninggalkan kami. "Yang sampai terakhir, berarti pecundang!"

"Hei, curang!" protes Kukai kemudian berlari menyusulnya.

"Dua orang itu, agak aneh, ya?" ujar Rima menggelengkan kepalanya.

"Aku nggak tahu dengan Utau-chan, tapi Kukai-kun, dia sudah seperti itu sejak kami pertama bertemu," sahutku tersenyum mengingat tingkah Kukai pada saat kami masih SD.

"Nah, Nagi, Rima kalian akan naik wahana apa?" tanya Amu menatap kami dengan mata berbinar.

"Kami akan naik Roller Wishing Coaster. Benar, 'kan?" jawabku meminta persetujuan Rima. Namun saat menatapnya, dia terlihat ragu. "Kenapa? Bukankah kau ingin naik itu?"

Rima menarikku ke bawah sampai sejajar dengan tingginya dan berbisik padaku. "Aku memang bilang begitu. Tapi kau ingat aku ingin muntah saat menaikinya, 'kan?"

"Ah, iya, benar..." gumamku teringat bagaimana dia mencekikku beberapa hari lalu. Aku ingin tahu apa dia benar-benar muntah saat aku pingsan, namun kutepis pikiran menjijikkan itu. "Yah, sepertinya kami akan memikirkannya dulu."

"Baiklah, aku dan Amu-chan akan pergi ke pertunjukkan lumba-lumba. Kalian bersenang-senanglah." Ujar Tadase lalu pergi dengan menggandeng tangan Amu.

"Yaya mau naik carousel! Ayo, Kairi!" seru Yaya yang dibalas anggukan oleh Kairi.

Sepeninggal mereka ber empat, aku dan Rima masih berdiri di depan gerbang. Aku menunggu Rima bicara, tapi sepertinya dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Kau mau naik wahana itu atau nggak?" tanyaku.

Rima menggumam sejenak, "Iya, aku mau naik." Jawabnya terdengar ragu.

Aku menoleh padanya, "Katamu kau takut?" tanyaku bingung dengan apa yang sebenarnya dipikirkannya.

"Kita 'kan sudah janji," bisiknya tegas. Aku mengerti maksudnya dengan janji adalah memohon pada roller coaster itu, namun wajahnya tetap menunjukkan kalau dia ragu.

Ya ampun, nggak kusangka untuk naik roller coaster akan sesulit ini. "Apa kau nggak mau kembali ke kehidupanmu yang normal?" tanyaku mulai bosan.

"Aku mau, tapi kalau takut tetap saja takut!" sahutnya kesal. "Kupikir ini ide buruk..."

"Nggak, ini satu-satunya ide. Dan kita akan melakukannya!" tukasku tanpa buang waktu menariknya agar mengikutiku.

"Hei, jangan tarik aku! Setidaknya biarkan aku berpikir dulu!" protesnya lalu menjejakkan kaki kuat-kuat dan membuatku harus menariknya lebih keras lagi.

"Baik, baik! Coba kita lihat apa ada cara untuk mengatasinya," ujarku kesal kemudian membiarkannya lepas. "Di saat pertama kali kita naik roller coaster itu, aku pingsan karena ulahmu. Jadi sekarang, biarkan aku mencoba apakah bisa membuatmu lebih tenang."

"Aku nggak–"

"Kau mau hidupmu normal atau nggak?"

Rima merengut kesal, namun akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi janji kau nggak akan macam-macam?" tanyanya tajam.

Aku menghela nafas kesal. Di saat seperti ini masih saja bersikap menyebalkan. "Ikut sajalah." Kataku kembali berjalan dengan menggandengnya. Beruntung kali ini dia nggak meronta.

Semua janji dan kepura-puraan ini mulai membuatku muak. Dia pikir aku ini robot, apa?


Rima's POV

Aku sama sekali nggak mengatakan apa-apa saat mengikuti Nagihiko menaiki roller coaster. Bahkan, aku nggak bicara apa-apa waktu petugas menjelaskan tentang fungsi palang pengaman padaku. Pikiranku hanya berfokus untuk bisa selamat dalam benda mengerikan ini.

Dan saat menoleh ke bawah untuk terakhir kalinya, sepertinya lebih baik aku nggak naik. Aku buru-buru menepuk bahu Nagihiko untuk mengajaknya turun. "Fujisaki, mungkin sebaiknya aku tu–"

"Kau nggak bisa turun, Rima-chan. Kecuali kau ingin meluncur ke bawah, itu terserah padamu." Ujarnya menarikku kembali ke tempat dudukku.

"Maaf, Fujisaki. Tapi firasatku mengatakan kalau ini ide bu–" aku tersentak ke sandaran bangku akibat guncangan saat roller coaster mulai berjalan datar dengan perlahan. "Lihat, gara-garamu aku terlambat turun!"

"Tenanglah, Rima-chan. Benda ini baru saja berjalan," katanya sabar, kemudian menunjuk ke bawahku. "Lihatlah ke bawah, tapi pusatkan pikiranmu pada kesenangan yang sedang berlangsung di sana. Jangan pikir kau akan jatuh."

Tetap saja aku yakin sewaktu-waktu aku bisa jatuh, namun aku tetap menurutinya. Kupusatkan pandanganku pada anak-anak yang sedang menikmati permen kapas di salah satu kedai, kemudian beralih pada pasangan yang sedang berfoto berdua di depan rumah hantu. Seiring berlalunya waktu, rasanya hatiku mulai tenang.

Namun semuanya nggak berlangsung lama, karena bagian yang paling kubenci sudah dimulai. Roller coaster mulai menanjak naik, dan aku sadar sebentar lagi benda ini akan membuat isi perutku teraduk-aduk.

"Nagihiko, aku serius! Aku mulai ketakutan sekarang, dan mungkin sesaat lagi akan segera muntah!" seruku panik sambil mencengkram lengan baju Nagihiko.

"Rima, nggak. Berhenti panik, tatap mataku!" ujarnya tegas, membuatku menurut untuk menatap matanya. "Kau boleh mencengkramku sekuat mungkin, tapi jangan palingkan matamu dariku. Tetaplah tenang."

"Tapi, tapi–" tanpa peringatan, roller coaster mulai menukik tajam. Dari dalam diriku, suara teriakan seakan memaksa untuk di keluarkan. Aku sudah bersiap membuka mulut untuk berteriak, tapi tiba-tiba Nagihiko mendekatkan kepalanya dan menempelkannya di dahiku.

"A–apa yang kau lakukan?!" seruku di antara kepanikan yang melanda.

"Kubilang, jangan berpaling. Tatap mataku."

"Aku nggak bisa, Nagihiko–"

"Ya, kau bisa, Rima. Lakukan seperti yang kuperintahkan." Ujarnya tenang tapi berwibawa. "Tarik nafas, jangan lupa aku ada di sini untuk menjagamu. Ingat kembali pemandangan menyenangkan yang kau lihat. Kau nggak sendirian, dan aku sangat mengagumimu. Tarik nafas lagi,"

Di luar dugaanku, ucapannya itu benar-benar menghapus semua rasa panik di kepalaku. Yang kurasakan saat ini hanyalah bangku yang bergoyang-goyang karena roller coaster berbelok ke sana ke mari. Di benakku hanya ada warna mata Nagihiko yang menyejukkan, dan kenyataan kalau dia bersamaku adalah satu-satunya hal yang membuatku tenang. Dan aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya sampai rasa mualku menghilang.

Akhirnya roller coaster mulai berjalan pelan kembali. Aku menoleh untuk melihat kalau perjalanannya masih belum berakhir. "Aku nggak tahu bagaimana kau melakukan hal itu," kataku heran.

Nagihiko tersenyum. "Anggap saja, aku bisa menjinakkan binatang buas."

"Baka." Kataku sambil melepaskan tawa kecil. Kemudian suara berkerasak yang sepertinya dari speaker membuat perhatianku teralihkan.

"Penumpang Roller Wishing Coaster, sesaat lagi anda akan memasuki The Tunnel. Jangan lupa ucapkan permohonan anda."

"Itu dia, Nagihiko. Sebentar lagi akan ada turunan tajam, dan kita akan memasuki terowong–" aku berhenti bicara karena ingat masih ada turunan sial yang harus di lewati.

"Jangan bilang setelah apa yang kulakukan, kau masih takut?" tanya Nagihiko.

"Tentu saja!" bentakku kesal. Aku menatap ke depan, roller coaster paling depan yang hanya berjarak dua bangku dari kami hampir mencapai turunan. Dan seketika rasa mualku kembali. "Nagihiko, aku–"

"Kalau begitu, kita lakukan lagi." Ujar Nagihiko tanpa menungguku selesai dan kembali menempelkan dahinya padaku. "Kau punya banyak masalah, ya, Rima-chan?"

"Aku nggak akan membalas ucapanmu, jadi lakukan saja apa yang harus kau lakukan." Putusku jengah.

"Memasuki The Tunnel dalam 3, 2, 1." Dengan begitu, roller coaster mulai turun dengan cepat. Aku buru-buru menarik lengan baju Nagihiko lagi.

"Nagihiko, aku masih merasa akan muntah..." gumamku berusaha tetap menatap matanya.

"Terus tarik nafas dan tatap mataku," ujar Nagihiko tanpa berkedip sedikit pun. Pandangan matanya terasa menembus sampai ke dalam hatiku, dan mata kuningnya terlihat seperti matahari yang bersinar cerah.

"Rima, permohonanmu, sekarang!" serunya begitu roller coaster memasuki terowongan.

"Kali ini, ucapkan bersamaku!" ujarku. Nagihiko mengangguk tanpa bicara.

"Kembalikan hidup kami seperti semula!"


~Author Random Speech~

Vices: Woohoo, berhenti pas saat yang seru! Silakan kalian tebak apa yang akan terjadi selanjutnya :p Nah, apa pendapat kalian soal chapter ini, minna? Semoga cukup menarik, ya. Oh iya, gue bikin polling, tuh. Kalo sempet, di cek ya :) Oke, makasih udah baca, dan terus hujani gue dengan review, flame, atau apa aja terserah kalian! L'Vices, over and out!