~Author Speech~
Vices: Ketemu lagi! Berhubung abis lebaran, gue minta maaf lahir batin kalo kalian nungguin update dari gue. Sebagai permintaan maaf, sekali lagi gue kasih kalian double chapter :) Anyway, kayaknya kita langsung aja bacain review, ya. Pertama, dan selalu, PriscallDaiya-san! Rasanya saya nggak akan pernah cukup bilang terima kasih atas segala pujiannya, nih xD Tebakan Daiya-san soal Nagi dan Rima? Well, yang bisa saya kasih tahu cuma, fic ini pasti happy ending, kok!
Rima: Worst ending buat gue -_-
Vices: Baru juga kemaren maaf-maafan -_- udahlah, daripada ngeggerutu mending bacain review
Rima: Uuh... Hai, sarah. maula. 1-san. Kok kamu masih baca fic ini, sih? Udah dibilangin ficnya jelek juga
Vices: Yah, dia ngomong yang nggak-nggak. Lo aja, deh, Nagi!
Nagihiko: Emm, konnichiwa, Sarah-san. Maafin, Rima-chan, ya *bow* Sama-sama atas review dan pujiannya. Soal hubungan Amu-chan, Vices-kun bilang padaku kalo kesabaran akan membuahkan hasil. Entahlah, aku juga nggak ngerti maksudnya
Vices: Maksudnya, jangan spoiler! Oh, hai, Fuka-chan! Makasih pujiannya, dan saya nggak keberatan dengan spam. Soalnya bikin fic ini dari luar terlihat banyak reviewnya, hahaha. Saya juga suka liat ada orang yang berani ngajak Rima berantem. Bener-bener tontonan yang seru ditengah bulan puasa :D Oke, jadi Fuka itu singkatan, ya? Terus, keberatan nggak kalo saya panggil say–
Rima: Nah, 'kan. Lo sendiri juga ngaco! udahlah, On The Go!
Disclaimer
Shugo Chara adalah karya dari Peach-Pit!. Lagu yang direkomendasikan adalah milik masing-masing penciptanya. Semua lisensi dan hak cipta kembali kepada pemiliknya yang berhak. Oke, keren 'kan kata-katanya?
Warning
Kalo disebutin satu-satu, kebanyakan. Yang jelas, peringatan paling penting adalah lebih baik baca fic ini dengan monitor menghadap ke arah yang berlawanan dari pandangan.
Chapter 7
The Big Why
Rekomendasi Lagu Buat Didengerin Sambil Baca:
Netral – Pertempuran Hati
Alasan:
Galau itu bukan cuma berarti lagi sedih ditinggal pacar. Galau juga berarti kondisi dimana kalian bingung sebingung-bingungnya. Yah, anggep aja kayak tersesat tanpa penunjuk arah gitu
Rima's POV
"Pengunjung yang terhormat, Anda telah sampai di akhir perjalanan. Periksa kembali barang bawaan Anda sebelum meninggalkan Roller Wishing Coaster. Dan, terima kasih telah jatuh dalam keajaiban Roller Wishing Coaster!"
Bagaimana... sekarang?
Sekujur tubuhku merinding karena antisipasi mendengar suara pengumuman itu. Tapi aku belum berani membuka mata dan lebih memilih mencoba menebak-nebak.
Aku takut, tapi aku juga penasaran...
Apakah akan ada hal dramatis semacam cahaya seperti waktu itu yang membuat semuanya jadi putih? Aku nggak tahu, karena itu lah aku terus menutup mata.
Yang lebih penting... apa ini akan berhasil?
Aku masih enggan mengamati situasi di sekelilingku, sampai Nagihiko membenturkan dahinya agak keras padaku. Aku baru ingat dia berada di sampingku. "Aduuh, sakit tahu! Apa-apaan, sih?" keluhku sambil meraba dahiku dengan tetap menutup mata.
"Apa kau masih menutup matamu?" katanya pelan.
Aku mengangguk. "Ya. Jadi, bagaimana?" sahutku mencoba menepis dugaan yang muncul di kepalaku.
"Aku nggak tahu. Aku juga masih menutup mataku,"
"Bodoh. Kalau kita semua menutup mata, bagaimana kita tahu apa yang terjadi?"
Tanpa membuka mata pun aku tahu dia kesal. "Justru itu. Aku nggak mau jadi orang pertama yang sadar jika ternyata nggak terjadi apa-apa. Kau pasti akan langsung mengomel padaku," ujarnya sambil mendengus.
Wah, ternyata perasaannya peka juga. "Baiklah, jadi bagaiamana kalau kita membuka mata bersama-sama?"
"Hitungan ketiga?"
"Oke. Satu,"
"Dua,"
Aku berhenti menghitung dan mulai merasa ragu. Sesaat aku ingin terus menutup mataku, membiarkan semuanya jadi tanda tanya jika seandainya permohonanku gagal.
"Kau mendadak bisu?" tanya Nagihiko terdengar kesal.
Komentarnya membuatku ingin sekali mendorongnya dari bangkunya. Jadi, dengan setengah hati aku berseru, "Tiga!" kemudian membuka mata.
Nagihiko's POV
Setelah menjauhkan diri dari Rima, aku membuka mata dan mengerjap karena silau. Hal pertama yang kulihat adalah petugas yang membantu kami memasang palang pengaman sedang melipat tangannya dengan wajah ketus.
"Kalian sudah selesai ber-lovey-dovey? Kalau sudah, cepatlah keluar dari situ. Pengunjung lainnya sudah mengantri," ujarnya terdengar nggak sabar.
"Ah..." kulempar pandanganku ke sekeliling dan melihat roller coaster sudah kembali ke tempat awal. Segalanya terlihat normal bagiku. Nggak ada tanda-tanda yang menunjukkan semuanya sudah kembali seperti semula.
"Semuanya sama seperti sebelumnya," ujar Rima memandang ke arah luar sambil menadahkan tangannya di atas mata untuk menghalau sinar matahari.
"Tentu saja sama. Yang berbeda adalah antrian yang menjadi panjang karena kalian terlalu lama duduk di situ dengan tampang seperti otaku yang tersesat dalam konser metal!" seseorang dari antrian berseru.
Aku menoleh dan melihat orang-orang di dalam antrian itu memasang tampang gusar seperti petugas tadi. Karena nggak ada pilihan lain, kugenggam tangan Rima untuk keluar dari roller coaster sambil membungkuk dan mengucapkan permohonan maaf pada mereka. Kemudian sesampainya di pintu keluar, kuhentikan langkahku untuk kembali mengamati sekitar.
"Kepala ungu, tanganmu." Rima berkata tajam.
Kualihkan pandanganku dan menatap ke tanganku yang masih menggenggam tangannya. Buru-buru kulepas genggamanku, "Maaf,"
Rima melotot padaku, tapi hanya sebentar dan kemudian menatap ke depan. "Kalau begini, bagaimana kita bisa tahu semuanya sudah kembali normal?" ujarnya sambil melipat tangan.
Aku sudah membuka mulut untuk menjawab, tapi suara percakapan dua orang laki-laki yang lewat membuatku menelan kembali kata-kataku. Salah seorang dari mereka bicara sambil tertawa keras seperti yang biasa Kukai lakukan.
"Kau sudah dengar berita tentang penangkapan Tamaki?" tanya orang yang tertawa.
"Ho oh. Aku terus tertawa berguling-guling di kamarku sampai perutku kram saat mendengarnya. Jika aku ada di sana, mungkin tertawaku akan lebih parah!" sahut temannya ikut tertawa, lalu keduanya melakukan tos.
"Si bodoh itu, sudah kubilang umurnya nggak akan panjang. Salahnya sendiri berpenampilan konyol begitu dengan rambut mohawk-nya. Tentu saja nggak akan ada cewek yang mau dengannya, jadi dia terus-terusan jomblo." Ujar si laki-laki mirip Kukai tertawa lagi. Lalu mereka lanjut berjalan, dan percakapan mereka nggak bisa kudengar lagi.
Tunggu... jika ada seseorang yang tertangkap lagi karena menjomblo, berarti...
Serangan panik datang menyerbuku seperti sekumpulan sapi yang lepas dari kandangnya. Lalu aku baru sadar setelah melihat ke sekeliling, ternyata hampir semua pengunjung yang datang membawa pasangan masing-masing, terkecuali beberapa anak kecil yang datang bersama orangtuanya.
Bodohnya, di hadapanku ternyata membentang poster yang sepertinya buatan pemerintah. Di situ terpampang wajah polisi yang beberapa hari lalu kutemui bersama Rima, dengan pose menunjuk seakan-akan tepat pada kami. Di bawahnya tertulis jelas dengan huruf besar;
JOMBLO ITU KRIMINAL
Dan tahu-tahu saja, aku merasakan hawa menakutkan yang membuatku merinding.
Dilanda ketakutan, kulemparkan pandanganku ke sekeliling untuk mencari sumber hawa itu. Dan begitu tatapanku berhenti pada Rima, aku tahu seharusnya nggak perlu mencari jauh-jauh. Karena dia lah orangnya, sedang menunduk, tapi terasa sekali kekesalannya.
"Fujisaki..."
"I–iya!" sahutku buru-buru.
"Kenapa nggak terjadi apa-apa? Padahal kita sudah mengulang permohonan," tanya Rima masih dengan kepala tertunduk.
"Aku pun nggak tahu, Rima-chan," aku menjawab ragu. Ya ampun, di mana kedua Charaku saat dibutuhkan, sih?
Akhirnya Rima mengangkat wajahnya, namun hanya untuk menatapku dengan tampang dingin yang menakutkan. "Tapi katamu ini satu-satunya ide, dan akan berhasil?"
"Hei, kau pikir ini salahku? Kau sendiri yang mengusulkan untuk kembali memohon pada roller coaster. Lagipula, aku nggak bilang kalau akan seratus persen berhasil," aku membantah. Apa dia pikir dengan menatapku seperti itu, akan membuatku takut?
"Aku 'kan sudah berubah pikiran karena takut! Kau yang menyuruhku naik dan membuatku terpaksa berhadapan dengan fobiaku!" serunya keras kepala.
"Lalu bagaimana? Aku mencoba membuatmu merasa lebih baik karena kau bilang benda itu bisa mengembalikan kehidupan kita seperti semula!"
"Tapi kau sendiri juga yakin!"
"Ya ampun, minna... ada apa?!" aku menoleh dan melihat Amu berlari menghampiri kami bersama Tadase. "Seruan kalian berdua terdengar sampai ke kedai makanan, kalian tahu,"
Sekali lagi kuperhatikan orang-orang di sekitar kami. Ternyata mereka mengamati pertengkaranku dan Rima sejak tadi. Aku terpaksa tersenyum pada mereka dan kedua temanku, agar mereka nggak merasa curiga. "Ah, aku dan Rima-chan hanya berdebat mengenai wahana apa lagi yang akan kami naiki. Ya, 'kan, Rima-chan?" ujarku lalu menoleh pada Rima, yang hanya melipat tangan dan mendengus sebal.
"Begitu? Syukurlah bukan sesuatu yang serius. Tak baik jika kalian pacaran, tapi sering bertengkar," ujar Tadase yang disusul anggukan Amu.
Sebenarnya aku mulai kesal dianggap pacar Rima terus, tapi aku nggak mungkin bilang begitu padanya, 'kan? Jadi dengan gugup kubalas ucapannya dengan tawa kecil. "Bukan masalah besar, kok. Kami baik-baik sa–"
Ucapanku terputus saat Rima tiba-tiba berlari dan menabrakku. Kuulurkan tangan untuk menghentikannya, tapi terlambat. "Hei, tunggu! Kau mau ke mana?" panggilku kemudian berlari menyusulnya bersama Amu dan Tadase.
"Aku lihat si kakek!" serunya tanpa berbalik.
Hei, tunggu... harusnya lari Rima nggak secepat ini, 'kan? Bukankah dia payah dalam olahraga? Dengan susah payah aku mengejarnya, sampai harus memastikan kedua temanku nggak tertinggal. Rima terus berlari melintasi kerumunan orang yang ramai, dan akhirnya aku melihatnya berhenti di hadapan seseorang yang sedang duduk di sebuah bangku kayu panjang.
Rima menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya, menyuruhku mendekatinya. "Kenapa tiba-tiba...?" tanyaku saat menghampirinya dengan nafas tersengal.
"Fujisaki, ini si kakek pembuat masalah itu. Sekarang, beritahu dia apa yang sudah diperbuatnya pada kita." Ujarnya tenang, tapi terdengar penuh ancaman.
"Hei, tunggu dulu, Rima-chan. Sabar," kataku lalu menariknya mundur untuk mencegahnya kalau dia tiba-tiba bertindak kasar. Setelah kulihat, ternyata benar yang duduk di situ adalah kakek pemilik taman bermain ini. Dia masih memakai jas hitam yang sama seperti saat terakhir kami bertemu.
Begitu kakek itu melihatku, dia langsung tersenyum lebar. "Wah, sekarang aku ingat. Kau dan gadis itu adalah pasangan yang kuminta untuk mencoba Roller Wishing Coaster waktu itu, ya?" tanyanya ramah.
Melihat sikapnya yang ramah, kuputuskan untuk berbicara dengan sopan padanya. "Ah, benar. Kami sangat berterima kasih atas kebaikan anda, tapi ada satu masalah pada–"
"Tidak perlu berterima kasih, anak baik. Bagaimana kesan kalian? Apa wahana itu menyenangkan? Apa kalian juga menaikinya hari ini?" sela kakek itu cepat dengan mengajukan serentetan pertanyaan.
Demi kesopanan, mau nggak mau aku harus menjawabnya dulu. "Sebenarnya, ya, kami menaikinya lagi tadi. Namun ada sesuatu yang ingin–"
Lagi-lagi kakek itu menyelaku dengan menepuk-nepuk bahuku dengan riang. "Oh, ya? Kalian menyukainya? Apa kau mengucapkan permohon–"
"Tunggu!" seru Rima kesal. "Fujisaki, jangan berbelit-belit! Cepatlah kau tanyakan cara untuk–"
"DIAM!"
Begitu aku mengatur nafasku yang terengah-engah, semua orang di sekitarku terdiam melihat ke arahku. Aku tersadar kalau aku baru saja berteriak frustrasi karena semua sela-menyela tadi. Aku sendiri masih belum percaya kalau itu adalah suaraku, sampai aku melihat Rima, Amu, dan Tadase menatapku dengan kaget. Kecuali si kakek, yang raut wajahnya berubah serius.
"Maaf," gumamku sambil membungkuk, dan kemudian orang-orang yang menatapku kembali pada urusan mereka lagi. Setelah yakin aku mendapatkan perhatian penuh dari si kakek pemilik, aku berdehem dan mulai bicara. "Pak pemilik, aku dan Rima-chan menaiki Roller Wishing Coaster, dan mengucapkan permohonan."
"Lalu?" tanya si kakek bingung.
"Ehm, bagaimana menjelaskannya..." aku bergumam sambil mencari kalimat yang tepat. "Sebenarnya, ada masalah pada wahana itu."
"Masalah? Apa permohonanmu tidak terkabul? Kurasa itu wajar, karena tidak semua orang dikabulkan permohonannya. Jika tidak, maka tak akan ada orang miskin di dunia ini."
Aku menggeleng. "Masalahnya, permohonan Rima-chan justru terkabul."
"Wah, benarkah itu, Mashiro-kun?" tanya Tadase dengan kagum.
"Iya," sahutku singkat.
"Tadase, jangan berpikir untuk mengajakku ke sana, ya. Kau tahu aku takut dengan roller coaster," ujar Amu, yang dibalas Tadase dengan tawa kecil.
Kakek itu menatapku heran. "Kalau begitu, bagus, bukan? Memang apa yang gadis itu minta?"
Aku menoleh untuk melihat Amu dan Tadase. "Kenapa?" tanya Amu.
"Ehm..." ragu-ragu aku mempertimbangkan apa yang akan kukatakan pada si kakek pemilik tempat ini. Jadi, mungkin kurang bijaksana jika Amu dan Tadase mendengarnya. Mereka 'kan nggak tahu kalau aku dan Rima bukan dari dunia ini.
"Bisa kita bicarakan di kantor anda saja?" pintaku pada si kakek.
Dia mengangguk lalu bangkit berdiri. "Tentu saja. Mari ikuti aku," ujarnya lalu berjalan.
"Apa kalian punya masalah dengan pemilik tempat ini, Mashiro-kun?" desak Tadase.
Iya, punya. Tapi nggak mungkin 'kan aku bilang masalahnya adalah kami terdampar ke dunia yang aneh, dan kalian adalah salah satu penghuninya? Karena itu aku menggeleng dan tersenyum padanya. "Nggak ada apa-apa, kok. Rima -chan hanya merasa nggak puas dengan wahana di sini," jelasku cukup lihai juga.
"Kalau begitu, boleh kami ikut? Mungkin aku dan Tadase bisa membantu kalian bicara," ujar Amu.
"Terima kasih, tapi nggak perlu. Kalian tunggu di sini saja, kami nggak akan lama, kok." Kataku lalu mengangguk pada Rima dan mulai berjalan menyusul si kakek.
Rima's POV
Nagihiko sudah mengingatkanku, apa yang akan kami bicarakan di kantor pemilik tempat ini adalah pembicaraan yang mungkin nggak masuk akal bagi orang awam. Dan dia bilang, kami harus menjaga sikap saat menjelaskannya. Jadi, aku berusaha semampuku untuk bersikap tenang dan sopan saat menceritakan kesialan yang menimpaku pada si kakek pemilik. Namun di luar dugaanku, dia membungkuk dengan bercucuran airmata setelah mendengar bagian dimana hidupku dan Nagihiko tertukar dan membuat semuanya semakin sulit.
"Maafkan aku, gadis muda. Apa yang kau ceritakan, terdengar sulit dipercaya. Tapi jika itu benar, itu sungguh... sungguh mengerikan," ujarnya sesenggukan.
Aku menoleh pada Nagihiko untuk memintanya menolongku bicara, namun dia hanya mengangkat bahu. Akhirnya kusentuh bahu kakek itu, dan kuharap itu bisa membuatnya tenang. "Eh, ya, itu... memang mengerikan. Apalagi setelah kau bilang ucapanmu tentang roller coaster itu yang bisa mengabulkan permohonan hanya bohong belaka." Kataku mencoba sebisa mungkin terdengar sopan, namun sepertinya ucapanku agak kasar. Akhirnya kutambahkan kata, "Maaf," setelahnya.
"Ya, aku memang bodoh. Aku tahu sangat salah membohongi pengunjungku, tapi aku butuh promosi agar taman bermainku ramai. Aku menyesal sudah menipu kalian, dan membuat hidup kalian jadi berantakan." Ujarnya masih membungkuk.
"Ya, kau memang penipu." Ujarku singkat tanpa berpikir. Tiba-tiba Nagihiko menyenggol tanganku, membuatku sadar kalau aku sudah nggak sopan lagi. Jadi kutambahkan kata, "Maaf," lagi.
Dengan lesu kuhela nafasku. Yah, setidaknya sekarang aku tahu penyebab hidupku dan Nagihiko tertukar bukanlah karena roller coaster itu, tapi Embrio. Kuputuskan untuk bertanya tentang benda itu padanya, "Jadi, setelah mengetahui roller coastermu telah membuat permohonanku terkabul, apa kau meletakkan sesuatu pada wahana itu yang bisa mengabulkan permohonan tanpa kau ketahui?"
Kakek itu mengangkat kepalanya dan menatapku dengan bingung. "Aku kurang mengerti maksudmu. Setahuku, para pekerja yang membangunnya hanya menggunakan bahan-bahan yang umum."
Penjelasannya itu membuatku kaget. Mana mungkin wahana itu hanya menggunakan bahan-bahan umum, tapi bisa mengabulkan permohonan? "Kau yakin? Kalau begitu, apa kau tahu benda yang di sebut Embrio?" tanyaku mulai panik.
Dia berpikir sejenak sambil menelengkan kepalanya ke samping. "Embrio? Apa yang kau maksud adalah sebuah sel yang adalah asal mula terbentuknya seorang anak–"
"Bukan, memangnya kau pikir ini pelajaran biologi!" seruku nggak bisa menahan kegusaranku lebih lama lagi.
"Oke, Rima-chan, sepertinya lebih baik aku saja yang menjelaskan." Ujar Nagihiko sambil geleng-geleng kepala. "Begini, pak pemilik, aku pun tak tahu seperti apa bentuknya, tapi yang kudengar itu adalah benda yang bisa mengabulkan permohonan."
Kakek itu berpikir lagi, kemudian menggeleng. "Aku minta maaf, tapi aku tak pernah mendengar benda ajaib seperti itu, apalagi memilikinya." Ujarnya pelan.
"Jadi..." aku nggak mampu menyelesaikan ucapanku. Keterangan yang diberikannya membuat lidahku kelu, dan sepertinya aku menahan nafasku dalam beberapa menit terakhir.
Tenggorokanku terasa kering, jadi aku menelan ludah sebelum bicara dengan takut-takut. "Jadi... kau sama sekali nggak tahu apa itu Embrio, dan kau nggak bisa menolongku?"
"Sayangnya, itu benar. Seandainya aku bisa menolongmu, aku pasti akan melakukannya..."
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berada dalam situasi dimana aku nggak bisa mengucapkan kalimat apa pun. Seluruh benakku berselimut tanda tanya. Dan aku terpaut pada satu tanda tanya yang paling besar;
Jalan mana yang harus kutempuh, di saat semuanya adalah jalan buntu?
Meski begitu, aku menyadari tangan Nagihiko yang menyentuh bahuku. Aku nggak punya tenaga untuk menyingkirkannya, jadi aku menoleh. "Rima-chan, tenanglah. Kita pasti menemukan jalan keluarnya." Ujarnya tersenyum tipis.
"Ya." ucapannya terdengar hanya seperti kata-kata penghiburan, tapi aku tetap menyahut.
"Oh, gadis muda... aku benar-benar minta maaf. Tapi kumohon padamu, jangan menuntutku di pengadilan seperti kata Watanabe si petugas keamanan. Aku akan melakukan apa saja untuk menolongmu," ujar si kakek dengan memelas.
"Nggak apa-apa, kek," sahutku entah bagaimana caranya, dengan senyum. Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, kuputuskan untuk keluar sebelum pertahanan yang mencegahku untuk menangis runtuh.
Nagihiko's POV
Setelah mengucapkan terima kasih pada kakek pemilik, aku segera keluar untuk menyusul Rima. Tapi ternyata Rima nggak kemana-mana. Dia hanya berdiri di depan pintu kantor sambil menatap sepatunya.
Meskipun peranku sebagai perempuan hanya pura-pura saat jadi Nadeshiko, sedikit banyak aku mengerti perasaan perempuan saat mereka merasa nggak berdaya. Rasanya menyebalkan mengetahui kau nggak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah sesuatu, sama seperti yang kurasakan waktu ibuku menyuruhku lebih fokus menari daripada bermain basket.
"Rima..." panggilku untuk memastikan dia nggak menangis.
"Honorific,"
Aku tertawa tanpa bisa kutahan. "Baiklah, Rima-chan. Sepertinya kau baik-baik saja," ujarku merasa lega.
"Tentu saja aku baik-baik saja." sahutnya singkat.
Ucapannya itu nggak terdengar baik-baik saja untukku. Tapi aku nggak mau menambah rumit suasana, jadi kurasa nggak perlu membahasnya. "Kalau begitu, kita kembali ke tempat Amu dan Tadase?" tawarku.
"Ya..." jawabnya pelan. Kemudian dia mengikutiku melangkah di sisiku.
Sepanjang perjalanan, nggak ada yang bicara di antara kami. Entah karena takut mengungkit soal pembicaraan di ruang direktur tadi atau yang lain, aku nggak tahu. Tapi buatku, aku memang nggak mau mengungkit pembicaraan itu lagi.
"Seandainya hidup kita akan terus begini selamanya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Rima tiba-tiba. Ternyata dia nggak keberatan mengungkit hal itu.
"Yah, aku akan terus berusaha mencari cara mengubahnya. Sebab aku yakin nggak ada yang mustahil di dunia ini."
Tiba-tiba Rima berdiri merintangi jalanku, dan menatapku dengan marah. "Kenapa kau sangat yakin? Kenapa kau sangat optimis? Apa yang membuat otakmu yang tumpul itu berpikir begitu?!" serunya dengan mata berkaca-kaca. Untuk kali ini, aku yakin itu bukan airmata buayanya.
"Rima-chan, aku–"
"Kau bodoh, dan naif! Apa kau nggak sadar, semua kemungkinan untuk kita sudah tertutup? Apa kau pikir masih bisa bersikap optimis dalam situasi seperti ini?" lanjutnya sambil menunjuk-nunjuk dadaku. Semua orang berhenti untuk melihat.
"Tenanglah, Rima-chan. Kau bersikap berlebihan," ujarku berusaha menenangkannya.
"Aku? Berlebihan? Dasar bodoh!" serunya kemudian berlari menerobos orang-orang yang menonton. Seperti sebelumnya, aku masih belum tahu bagaimana dia bisa berlari secepat itu.
Aku sudah melangkahkan kaki untuk mengejarnya, tapi seseorang menepuk bahuku dan membuatku menoleh. "Hei, kawan. Apa kau baru putus dengannya?" tanyanya.
"Putus kepalamu!" seruku kesal lalu berlari tanpa repot-repot menjelaskan padanya. Nggak lama kemudian aku sudah berhasil menyusul Rima, namun dia tetap berlari. Sampai akhirnya dia berhenti di bangku tempat Amu dan Tadase menunggu, ditambah Guardian dan Utau yang ikut berkumpul.
"Rima, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Amu lalu menarik Rima ke pelukannya. Tapi Rima melepaskan pelukannya dan menggeleng tanpa bicara.
Saat aku menghampirinya, Utau menatapku tajam. "Fujisaki, apa yang telah kau lakukan pada chibi?" tanyanya dengan nada mengancam.
"Aku? Aku nggak melakukan apa-apa!" ujarku membela diri.
Yaya berdiri dengan tangan di pinggang sambil geleng-geleng kepala. "Ya ampun, Nagi-chi... kau sudah dua kali membuat Rima-tan menangis," omelnya dengan cemberut.
"Maaf, minna. Bisakah kalian tinggalkan aku dulu?" ujar Rima. Semuanya bertukar pandangan, namun mereka menurutinya.
Kukai melihatku masih berdiri, dan dia berkata, "Fujisaki, kau–"
"Sstt," desisku. Kukai hanya mengangkat bahu lalu pergi bersama Utau. Aku tetap berdiri diam mengamati Rima yang terdengar berusaha keras untuk menahan tangis.
"Aku tahu kau masih di situ, kepala ungu." Ujarnya ketus tanpa berbalik.
"Dengar, Rima-chan, aku–"
"Sudahlah, Fujisaki. Aku capek..." ujarnya pelan lalu menjatuhkan diri ke bangku lalu memeluk kakinya. Dari kejauhan, kudengar suara yang memanggil-manggilku. Aku berpaling dan melihat Temari, Rhythm, dan Kusukusu terbang menghampiriku.
"Dari mana saja kalian?" tanyaku, meskipun aku nggak terlalu mengharapkan kehadiran mereka sekarang.
"Kiseki dan rencana penguasaan dunianya itu... masa dia menyuruh kami menganalisa setiap wahana untuk memastikan apa bisa digunakan dalam rencananya?" ujar Rhythm sambil menyeka keringat di dagunya.
"Lihat, kimono-ku sampai kotor," kata Temari.
"Ah, itu menyenangkan, kok!" Kusukusu menukas senang sambil berakrobat, namun dia berhenti dengan kaget saat melihat pemiliknya murung, lalu berbisik padaku. "Apa yang terjadi pada Rima-chan?"
Aku hanya menggeleng. Kurasa aku akan duduk di samping Rima, tapi tetap berjaga-jaga kalau dia marah. Tapi dia sepertinya nggak peduli, jadi aku duduk.
Aku bukan orang yang ahli mengatasi masalah seperti ini, tapi aku nggak bisa diam saja melihatnya murung begitu. Dengan hati-hati kupilih kalimat yang tepat sebelum aku bicara. "Mau menceritakan apa yang membuatmu bertingkah begini?"
Rima menoleh dengan melotot, dan sesaat aku rasa dia akan memukulku. Tapi dia hanya menghela nafas lalu kembali menyembunyikan wajahnya di lututnya. "Kau sudah dengar apa kata kakek itu. Roller coaster itu omong kosong, dia juga nggak tahu apa itu Embrio... kalau begitu, bagaimana kita bisa membuat semuanya normal kalau kita nggak tahu apa penyebabnya?" katanya kemudian menghela nafas lagi.
"Jadi penyebab kehidupan kalian jadi kacau bukan roller coaster itu, ataupun Embrio seperti yang dibilang Tsukasa-san?" tanya Rhythm.
"Kalau sudah tahu, kenapa masih tanya," ujarku sedikit kesal. Kuangkat pandanganku ke arah langit, berharap ada jawaban tentang masalah kami di sana. Namun, tentu saja yang terlihat hanya awan dan warna biru yang mendominasi.
"Meskipun begitu, itu bukan alasan bagi kita untuk berhenti mencoba." Ujarku dengan jawaban dari pemikiranku sendiri.
Rima mengangkat kepalanya dan menatapku tanpa ekspresi, bekas airmata menghiasi pipinya. Raut wajahnya begitu polos, sampai membuat hatiku terasa ngilu. Tapi ini bukan saatnya membahas hatiku.
"Kenapa kau optimis sekali, sih?" tanyanya.
Aku pun nggak tahu. Tapi, "Kurasa di saat seperti ini, hanya optimisme yang kita butuhkan." Jawabku.
Rima terus menatapku tanpa bicara. Aku nggak tahu apa yang dipikirkannya, tapi momen seperti ini rasanya lebih baik daripada dia marah-marah. "Itu sama saja kau mengakui dirimu naif. Kau 'kan belum tahu kita bisa kembali ke kehidupan kita atau nggak," ujarnya.
Entah kenapa aku ingin tertawa, jadi aku tertawa. "Mungkin memang iya. Tapi kalau di manga atau anime, kebanyakan tokoh utamanya adalah seseorang yang naif dan bodoh. Dan, tring... tahu-tahu saja sudah banyak masalah yang berhasil diselesaikan mereka, seperti sulap." Jelasku.
"Meskipun terdengar konyol, ucapan Nagi ada benarnya." Komentar Temari tertawa kecil.
"Terima kasih," sahutku lalu mengelus kepalanya. "Lagipula, Rima-chan, Tsukasa-san bilang ada kemungkinan kita bisa kembali normal jika kita sudah nggak merasa bosan. Jadi, kenapa kita nggak mengikuti sarannya dan mencoba menghilangkan kebosanan kita?"
"Kenapa kau percaya? Buatku kata-katanya sangat nggak masuk akal," ujar Rima sambil mendengus.
"Memang, tapi kau 'kan mohon agar hidupmu nggak membosankan. Jadi berdasarkan hal itu, kata-katanya jadi cukup masuk akal sekarang buatku."
"Bukannya itu karena kalian adalah dua orang yang sama konyolnya?" komentarnya sinis.
Dasar, nggak berubah juga. "Ayolah, Rima-chan... Kau lebih memilih terus-terusan murung, daripada mencoba saran Tsukasa?" ujarku berusaha meyakinkannya.
Rima menggeleng. "Karena pilihan yang kedua konyol, aku lebih pilih yang pertama."
Sebenarnya aku sangat ingin mengerang kesal, tapi telepon dari Kukai menghentikanku. "Jarak kita kurang dari lima meter, kenapa harus telepon?" kataku sambil menatap Kukai dan Utau yang duduk hanya dua bangku di samping kami.
"Habis, ini 'kan taman bermain. Kalau kalian cuma mau mengobrol, lebih baik di rumah saja." sahutnya lalu tertawa keras-keras, tapi cuma sebentar karena dia dihentikan Utau dengan pukulan di kepalanya.
"Yah, meskipun konyol, Kukai benar. Apa pun yang terjadi pada kalian, hari ini adalah saat bersenang-senang kita. Kumohon, buat chibi keluar dari pose bodohnya itu dan kembalikan semangatnya." Ujar Utau lalu menutup sambungan telepon. Kemudian dia melambai dari bangkunya dan pergi bersama Kukai menuju wahana rumah hantu.
Aku menoleh pada Rima. "Kau dengar katanya, 'kan?"
"Tentu saja, jaraknya kurang dari lima meter." Sahutnya dingin. "Tapi aku nggak mau."
Kusukusu terlihat sama murungnya dengan pemiliknya. Hanya saja, aku tahu itu karena dia mengkhawatirkan Rima. Aku pun khawatir.
"Baiklah, Rima-chan, kalau itu maumu. Aku nggak akan memaksa. Tapi tolong dengarkan kata-kataku," kataku sambil bangkit dari bangku. "Anggaplah ini hari libur dari semua masalahmu. Kurasa kau berhak bersenang-senang meskipun terperangkap dalam kekacauan ini." lanjutku lalu berjalan meninggalkannya.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik bajuku. Aku berhenti dan menoleh untuk melihat Rima yang melakukannya. "Lalu, bagaimana dengan masalah kita?" tanyanya dengan menunduk.
Kuputar tubuhku untuk menghadapnya dan menghapus airmatanya yang masih mengalir. Di luar dugaan, dia membiarkanku melakukannya. "Aku 'kan sudah janji, kau dan aku, kita akan menemukan jalan keluarnya. Tapi sementara itu, kurasa kita bisa pura-pura melupakan hal itu sehari saja, kok."
Kulihat raut wajahnya terlihat mau marah, jadi buru-buru kujelaskan apa maksud ucapanku sebelum dia bertindak anarkis. "Maksudku, kita 'kan sudah tahu bukan Roller Wishing Coaster atau Embrio yang menyebabkan hidup kita tertukar... nah, menurutku informasi itu permulaan yang bagus. Jadi, karena kita ada di salah satu tempat paling nggak membosankan di dunia, kenapa nggak mencoba saran Tsukasa-san untuk menghilangkan kebosanan kita?" kataku dengan senyum, berharap dia mengerti.
Rima hanya berdiri diam untuk beberapa saat. Raut wajahnya membuatku sulit menebak apakah dia mengerti, atau nggak mengerti, atau memikirkan hal lain. Aku takut hal yang terakhir lah yang ada di benaknya, jadi aku sedikit khawatir.
Akhirnya hal pertama yang dilakukannya adalah mengangguk, tapi kekhawatiranku belum hilang. Sampai akhirnya dia menatapku dalam-dalam dan berkata, "Baiklah, kepala ungu, pimpin jalannya."
Sebelah alisku terangkat karena bingung. "Maksudmu?"
Rima menggeleng dan menghela nafas panjang. "Iya, pimpin jalannya. Buat aku nggak merasa bosan, kalau kau bisa."
Kali ini, aku yang ingin menghela nafas karena kesal. "Bisakah kau berhenti sok jadi putri yang suka memerintah di hari seindah ini?"
"Bisakah kau berhenti banyak bicara?"
Karena nggak mau memperpanjang perdebatan, kutinggal dia pergi.
