Disclaimer

Demi penguasa Bumi dan Surga, Shugo Chara punya Peach-Pit! sensei. Lagu yang direkomendasiin juga udah jelas penciptanya bukan gue. Mustahil bagi gue bikin cerita sekeren Peach-Pit! sensei, atau lagu sebagus Kangen Band

Warning

Jangan dibaca aja. Udah, titik.


Chapter 8

Teenagers Are Silly

Rekomendasi Lagu Buat Didengerin Sambil Baca:

Netral – Hari Yang Indah

Alasan:

Memang, udah dua kali gue rekomendasiin lagu yang penciptanya sama. Tapi, masa bodo, ah!


Rima's POV

"Kenapa kau ke sini?" tanyaku saat Nagihiko berhenti di depan area permainan ketangkasan.

Nagihiko berbalik dan terlihat kaget saat melihatku. "Wow, Rima-chan, nggak kusangka kau bisa menyusulku,"

"Hah? Tentu saja bisa. Kau 'kan berjalan biasa, bukan berlari." Sahutku heran mendengar ucapannya.

"Rima-chan, tunggu..." panggil Kusukusu di belakangku. Aku berbalik dan melihatnya terbang dengan lesu.

"Ada apa, Kusukusu? Kenapa kau lemas begitu?" tanyaku dengan panik, khawatir terjadi sesuatu padanya.

Setelah menghampiriku dan duduk di bahuku, dia berkata dengan nafas tersengal, "Nggak apa-apa, hanya saja kau berjalan sangat cepat. Aku sampai capek menyusulmu,"

"Oh ya? maaf, Kusukusu. Tapi rasanya aku berjalan biasa saja, kok."

"Apanya? Kau cepat sekali, nggak seperti biasanya," ujar Kusukusu cemberut. "Entah bagaimana caramu, tapi kau terlihat nggak capek setelah berjalan secepat itu."

"Memang nggak, kok. Rasanya aku berjalan seperti biasa," kataku bingung dengan diriku sendiri. Kalau yang dikatakan Kusukusu benar, berarti daya tahan tubuhku mungkin bertambah tanpa kusadari. Sebelumnya, bahkan berlari pun sulit untukku.

"Mungkin kau sudah tambah atletis sekarang," ujar Nagihiko, kemudian mengajakku ke depan sebuah benda yang seperti boks telepon umum. "Ayo kita main itu. Mungkin akan menyenangkan untukmu."

Benda itu adalah sebuah kotak transparan seukuran boks telepon umum yang setengah tingginya digenangi air, sementara seorang laki-laki berambut cokelat berantakan yang terlihat bosan duduk bersila di atas sebuah papan kayu yang menopangnya agar nggak jatuh ke air.

Kuamati benda itu, tapi nggak bisa mengerti apa menyenangkannya. Bahkan kelihatannya itu sama sekali bukan permainan, hanya sebuah boks telepon yang diduduki oleh laki-laki bertampang bodoh bagiku.

"Ini yang kau bilang menyenangkan? Ini, sih, membosankan. Memangnya kau hidup di gua?" kataku dengan jijik.

Nagihiko tertawa, membuatku bingung. "Kau yang hidup di gua. Ini adalah permainan ketangkasan, dan cara memainkannya adalah dengan melemparkan bola sampai mengenai bagian tengah lingkaran merah itu." jelas Nagihiko sambil menunjuk sebuah lingkaran mirip target untuk memanah. "Kau mengerti?"

"Begitu saja? Membosankan sekali. Apanya yang menarik?" ujarku sambil menguap.

"Makanya coba dulu," kata Nagihiko menggelengkan kepalanya, lalu melangkah ke tempat penukaran hadiah yang berada di samping boks itu. Kuikuti dia dan mendengarnya bicara pada seorang perempuan muda dengan rambut pirang yang menjadi penjaga tempat itu. "Aku ingin bola untuk dua orang."

Perempuan itu berjongkok untuk mengambil sesuatu dari bawah, kemudian bangkit lagi dan menyodorkan enam bola tenis pada kami. "Silakan, semuanya jadi 2 Yen. Kalian selesai jika mengenai bagian tengah lingkaran." Ujarnya dengan ramah.

Setelah menyerahkan dua lembar uang, Nagihiko memberiku tiga bola. Kuterima bola itu dengan enggan, namun perempuan penjaga tadi bicara padaku, mungkin karena melihat ekspresiku. "Hei, dik. Kalau kau bisa mengenai lingkaran dalam kesempatan pertama, kau bisa memilih hadiahmu sendiri."

"Terserah." Sahutku cepat, dan kulihat wajah perempuan itu berubah murung. Tapi aku nggak peduli, "Kau duluan, kepala ungu." Kataku sambil mendorong Nagihiko berjalan duluan.

"Kenapa bukan kau duluan saja? 'kan sudah kubilang, ini menyenangkan."

"Aku malas. Sudahlah, cepat!" ujarku nggak sabar. Akhirnya Nagihiko melangkah ke depan boks dan bersiap-siap membidik. Aku hanya mengamati dengan mengantuk.

"Ayo, nak. Kau payah, kau nggak akan bisa mengenainya!" seru laki-laki di dalam boks dengan sombong.

"Kita lihat saja," sahut Nagihiko tersenyum tipis kemudian melempar bolanya dengan keras. Bola itu tepat mengenai tombol di bagian tengah lingkaran.

Kuakui, aku sedikit kagum melihatnya. Tapi itu nggak cukup untuk menghilangkan rasa bosanku, sampai nggak beberapa lama kayu yang menopang laki-laki itu terlepas dan membuatnya jatuh ke dalam air. Aku tercengang saat laki-laki itu muncul ke permukaan dengan nafas yang terlihat hampir habis. Dengan susah payah dia memanjat kayu penopang yang sudah terpasang lagi dan kembali duduk di atasnya sambil menggerutu nggak jelas. Tiba-tiba saja dorongan untuk tertawa memaksa bibirku mengembangkan senyum, dan akhirnya aku benar-benar tertawa.

"Apa yang kau lakukan, kepala ungu? Itu tadi konyol sekali!" ujarku berusaha bicara ditengah tawaku.

Nagihiko pun tertawa kecil. "Aku 'kan sudah bilang. Menyenangkan, 'kan? Itulah yang akan terjadi saat kau mengenai tombol di tengah lingkaran. Tombol itu akan membuat kayu penopang lepas dan laki-laki itu akan tercebur ke air." Jelasnya.

"Oh, begitu. Kenapa kau nggak bilang dari awal?"

"Aku nggak mau merusak kesenanganmu, Rima-chan." ujar Nagihiko kemudian menarikku ke posisinya. "Sekarang cobalah, buat laki-laki itu jatuh."

"Sebenarnya... aku nggak tahu apa aku bisa," ujarku ragu. Kelihatannya sulit sekali untuk mengenai tombol itu dengan tepat. Tombol itu sepertinya kecil sekali.

"Begini caranya," Nagihiko mengangkat tanganku dan mengarahkannya ke depan dengan lurus. Dia melakukannya dengan cepat, sampai aku nggak sempat memprotes. "Yang penting, mata dan lenganmu harus sama fokusnya. Jangan melempar sebelum kau yakin sudah mengarahkannya ke arah yang benar, mengerti?"

"Ku–kurasa..." sahutku, dan dalam hati merasa kesal karena sudah tergagap begitu. Penjelasannya hanya melintas di kedua telingaku, karena ada hal yang lebih menggangguku, yaitu Nagihiko yang sedang memegang tanganku dari belakang. Tubuhnya begitu dekat, sampai aku merasakan hawanya yang terasa hangat di punggungku. Wangi rambut panjangnya samar-samar tercium olehku.

Tunggu, harusnya yang berpikir seperti ini Amu, 'kan? Kenapa tiba-tiba pikiran seperti itu terbayang di kepalaku hanya karena Nagihiko ada di belakangku? Aku bukan gadis yang ecchi, tahu!

"La–lalu, bagaimana?" tanyaku, lebih untuk mengenyahkan pikiran-pikiran tadi dan mencoba membuat otakku menjadi jernih kembali.

"Kau sudah mengarahkannya dengan tepat?" Nagihiko bertanya balik, masih memegang tanganku.

Sebenarnya belum, karena semua hal konyol barusan. Tapi, masa bodoh, ah. "Sudah." Sahutku.

"Kalau begitu lempar." Ujar Nagihiko, kemudian akhirnya melepaskan tanganku.

"Yah, ternyata cuma anak perempuan cebol yang melempar. Mana mungkin kau bisa. Paling-paling, kau hanya mengenai Tsubaki yang sedang menjagai hadiah di samping!" ejek si laki-laki di dalam boks sambil tertawa keras-keras.

Mendengar komentarnya tentang tinggi badanku, kemarahan membuat penglihatanku tertutupi kabut merah. Kugenggam bola tenisku dengan erat, dan melemparkannya sekuat mungkin tanpa berpikir lagi sambil berseru, "Makan ini, bodoh!"

Kulihat laju bola itu, dan dalam beberapa detik benda itu menghantam lingkaran dengan suara 'taaang' yang keras. Dengan senyum puas, kulihat laki-laki itu mengayunkan tangannya kemana-mana dengan tubuh terapung di air.

"Aku benci pekerjaan ini!" serunya kesal saat kembali memanjat naik ke atas papan.

"Kalau itu, cari pekerjaan yang bisa membuatmu berhenti mengejek orang." Ujarku. Dan tiba-tiba saja, suara tepuk tangan ramai terdengar. Aku menoleh dan melihat orang-orang berkerumun di sekelilingku, entah sejak kapan.

"Kau keren sekali, nona!" seru salah seorang dari keramaian.

"Kenapa mereka?" tanyaku heran pada Nagihiko.

"M–mungkin karena itu," dia dan Charanya menyahut dengan gemetar dan menunjuk ke arah boks. Aku semakin bingung dengan sikap mereka, jadi kulihat apa yang ditunjuk mereka. Ternyata tombol di tengah lingkaran sekarang rusak dan berlubang. Mungkin karena lemparanku barusan, atau memang iya.

"Eto... kurasa aku akan mengambil hadiahku sekarang," kataku canggung kemudian melangkah melewati orang-orang yang mengerumuniku menuju tempat penukaran hadiah.


Nagihiko's POV

"Silakan! Sesuai janji, kalian boleh pilih hadiah kalian masing-masing." Ujar Tsubaki, si perempuan penukar hadiah, sambil merentangkan tangan. Seakan memamerkan hadiah-hadiahnya pada kami.

Aku lihat sebuah papan skateboard diletakkan di rak paling atas. Kurasa aku akan memilih itu, jadi aku dan Kukai bisa bermain bersama. "Kau dulu, Rima-chan. Kau pilih apa?" tanyaku.

Rima masih mengamati rak-rak dengan telunjuk di bibir. Lagi-lagi lututku lemas melihatnya, dan aku mulai kesal dengan hal itu. Jadi kugelengkan kepalaku dengan keras supaya aku bisa berpikir jernih.

Kemudian Rima berseru keras, "Ah, manga komedi volume terbaru ternyata ada! Bahkan juga volume berikutnya yang belum ada di toko buku! Aku mau dua-duanya!" katanya sambil menunjuk-nunjuk rak di bawah rak skateboard.

"Maaf, Rima-chan, tapi kau hanya bisa memilih satu saja." ujar Tsubaki dengan nada menyesal.

"Tapi aku mau dua-duanya!" Rima berseru egois.

"Nggak bisa, Rima-chan. Kalau semua orang begitu, nanti hadiahnya habis. Pilih saja salah satunya," ujar Tsubaki dengan sabar.

"Tapi, tapi..." wajah Rima terlihat kecewa. Dan sedetik kemudian, dia berlari ke pojok tempat penukaran hadiah lalu berjongkok dan menggulung dirinya menjadi bola. Kusukusu terbang menyusulnya dengan cepat.

"Jadi bola?!" seru Tsubaki kaget.

"Ah, itu biasa kalau dia sedih atau marah." Jelasku lalu menghampiri Rima dan ikut berjongkok di sebelahnya. "Hei, Rima-chan, sudahlah. Kenapa kau nggak pilih salah satunya saja?" tanyaku hati-hati.

"Nggak bisa! Kalau aku pilih manga volume sekarang, aku nggak bisa dapat volume yang belum terbit itu dan memamerkannya. Tapi kalau aku pilih volume yang belum terbit, pasti nggak akan ada yang percaya kalau itu asli. Habis, volume itu 'kan belum terbit." Rima menjawab dengan suara terisak.

"Ya ampun, mulai lagi..." ujar Rhythm.

"Jangan memperkeruh suasana!" omel Temari. "Nagi, lakukan sesuatu."

"Iya, tapi apa?" tanyaku putus asa. Namun aku teringat hadiahku yang belum kutukarkan. Aku berdiri untuk mengamati skateboard yang akan jadi milikku itu. Kesempurnaan bentuknya, halusnya potongan kayunya, dan rodanya sepertinya akan berputar mulus jika digunakan di jalan aspal. Belum lagi motif di bawahnya yang bergambar zombie kelinci yang terlihat keren...

Ah, masa bodoh. Bisa beli sendiri, kok. Dengan yakin, aku kembali ke tempat penukaran hadiah. "Tsubaki-san, gabungkan saja hadiahku dan Rima-chan. Kami ambil dua manga itu," ujarku tegas, meskipun sedikit sedih melihat skateboard sekeren itu nggak tersentuh olehku.

"Ya ampun, manis sekali..." Tsubaki menatapku dengan mata berbinar dan senyum lemah. "Tentu saja, silakan!" ujarnya lalu segera menyambar dua buku itu dan memberikannya padaku.

"Kau pacar yang baik, Nagihiko-kun. Rima-chan sangat beruntung memilikimu," kata Tsubaki sambil menyeka airmata yang menetes dengan jarinya. "Aku senang anak sepertimu bersikap gentlemen, berbeda jika dibandingkan dengan Akira..." lanjutnya sambil melemparkan tatapan kesal pada laki-laki di dalam boks tadi yang sedang mengeringkan rambutnya di samping.

Kenyataannya, aku bukan pacar Rima. Bahkan Rima bilang kami bukan teman. Tapi sedikit banyak aku merasa senang mendengar pujian Tsubaki. "Arigatou, Tsubaki-san. Aku hanya berpikir seorang gadis berhak mendapatkan apa yang mereka inginkan, itu saja. Lagipula, Rima-chan bisa terus menjadi bola sepanjang hari." Kataku dengan senyum sopan.

"So sweet!" seru Tsubaki riang. "Ya sudah, sana berikan buku ini padanya. Datang lagi, ya."

"Tentu saja. Arigatou, Tsubaki-chan." jawabku lalu kembali pada Rima. "Nih," ujarku sambil meletakkan dua buku itu di atas kepalanya.

"Apa, nih?" Rima mengulurkan tangan ke atas kepalanya. Setelah meraba-raba buku itu, dia berdiri dan raut wajahnya berubah kaget. "Du–dua-duanya?! Kok, bisa?" tanyanya berpaling padaku.

"Aku memberikan hadiahku padamu."

Tatapan Rima terpaku pada benda itu. Kemudian dia memutar tubuhnya menghadapku, tapi wajahnya menatap ke bawah. Dengan suara pelan dia berujar, "A–arigatou,"

"Rima-chan malu!" seru Kusukusu riang sambil bersalto dan tertawa-tawa.

"Nggak!" tukas Rima keras lalu menarik Kusukusu ke dekapannya. Sepertinya Chara itu akan segera kehabisan nafas.

"Sudahlah, nggak perlu berterima kasih. Aku memberikannya karena nggak mau kau murung begitu di hari yang indah ini." ujarku membantu Kusukusu lepas dari dekapan Rima. Setelah Chara itu mendapat cukup udara, kutarik Rima agar mengikutiku.

"Kenapa tiba-tiba menarikku? Apa kau pikir setelah memberiku ini, kau bisa bertindak kasar?" seru Rima sambil meronta-ronta.

"Kau sudah dapat apa yang kau inginkan, 'kan? Sekarang ayo kita lanjutkan misi melenyapkan kebosanan kita." Ujarku acuh dan terus melangkah.

Meskipun begitu, aku lihat wajah Rima merona saat dia mengucapkan terima kasihnya padaku. Entah kenapa, aku yakin raut wajahnya akan terus terbayang sepanjang hari ini. Aku hanya berharap, semoga saja hal itu nggak membuatku jadi jatuh cinta padanya.


Rima's POV

Kubiarkan Nagihiko terus menggiringku berjalan entah kemana. Sejak keluar dari wahana ketangkasan, aku sudah berhenti meronta. Banyak hal yang melintas di kepalaku saat mengingat apa yang sudah Nagihiko lakukan di sana, jadi aku nggak punya kalimat apa-apa untuk diucapkan sepanjang perjalanan kami.

Aku bukan seorang gadis yang hobi membaca manga atau novel romance. Tapi aku pernah sekali mencoba membacanya. Dan tindakan Nagihiko yang nggak egois dengan memberikan hadiahnya padaku adalah salah satu bagian dari cerita di dalamnya yang menjadi favorit para gadis-gadis berhati lembut.

Meskipun menurutku aku bukan gadis yang berhati lembut, kuakui aku senang karena Nagihiko sudah bersikap baik dan membuat koleksi manga-ku bertambah. Jadi tanpa banyak bicara, kurasa aku akan menuruti kata-katanya kali ini sebagai bentuk terima kasihku.

Dari kejauhan, aku melihat sosok gadis berambut merah muda yang sedang menatap telepon genggamnya sambil dikelilingi empat Charanya, berdiri bersandar pada tembok sebuah loket. Aku nggak akan salah mengenali Amu, jadi kutarik tangan Nagihiko untuk membuatnya berbalik mengikutiku.

"Mau ke mana?" tanyanya kaget.

"Sahabatku, Amu." Sahutku singkat.

Nagihiko menatap tempat dimana Amu berdiri. "Ah, mungkin maksudmu sahabat kita?" ujarnya sinis.

"Katamu ini hari yang indah. Jangan membuatku kesal dan memukulmu," Amu mengangkat kepalanya saat mendengarku menghampirinya. Raut wajahnya datar, berbeda sekali seperti biasa. "Ada apa, Amu? Mana Tadase?" tanyaku.

"Emm..." Amu menatapku ragu-ragu, dan membuatku curiga ada yang nggak beres. "Tadase terpaksa pergi karena keadaan neneknya tiba-tiba memburuk. Jadi dia sedang ke rumah sakit sekarang," jelasnya pelan.

"Sayang sekali," komentar Nagihiko. Aku menoleh untuk memelototinya, tapi dia nggak peduli dan terus saja bicara. "Kalau begitu, ayo bergabung bersama kami, Amu-chan. Kita bisa pergi naik wahana sama-sama."

"Sebenarnya, nggak, Nagi. Tapi, terima kasih sudah mengajakku." Ujar Amu menggeleng sambil tersenyum lemah.

Sekarang aku semakin yakin ada yang nggak beres terjadi padanya. "Amu, kau mau menceritakan apa yang terjadi?" tanyaku mendesaknya bicara.

"Amu-chan..." Ran bergumam sedih.

Setelah bertukar pandang pada Charanya, Amu mengehela nafas dan berbisik padaku, "Maaf, tapi kurasa Nagi nggak perlu mendengarnya."

Aku menatap Nagihiko, dan tentu saja dia nggak bisa mendengar ucapan Amu. Jadi sesuai permintaan Amu, aku harus menyingkirkannya sementara waktu. "Ah, Nagi, bisakah kau pergi membeli jus untuk kita bertiga?"

Nagihiko terlihat bingung, tapi dia mengangguk. "Tentu saja. Kau mau jus apa?"

"Rasa kacang pistacchio." Ujarku memikirkan rasa apa yang nggak mungkin didapatkannya. Lagipula, dia memang harus pergi lama agar Amu bisa menceritakan semua masalahnya.

"Ehm, Rima-chan, kurasa nggak ada jus rasa itu," ujarnya ragu.

"Ada! Menurut saja, kenapa, sih!" seruku kesal.

"Baiklah... lalu, kau ingin jus apa, Amu-chan?" tanyanya lagi pada Amu.

"Ah, aku apa saja." jawab Amu. Nggak lama kemudian Nagihiko beranjak pergi mencari kedai jus.

Setelah yakin dia sudah jauh dari jarak pendengaran, kutatap Amu. "Ayo duduk di sana," ajakku sambil menunjuk bangku yang nggak jauh dari situ.

Begitu kami duduk, aku siap untuk menghujaninya dengan ratusan pertanyaan. "Kurasa kau bohong soal Tadase. Jangan bilang yang terjadi sebenarnya adalah kau dan dia putus?" tanyaku tegas.

Amu menatap ujung kemeja flanel-nya dan melipat-lipatnya. "Tentu saja bukan. Aku masih sayang padanya," jawabnya masih dengan suara pelan.

"Lalu?"

Amu mendesah dan melempar pandangannya ke langit yang berawan. "Entahlah. Sebenarnya kami baik-baik saja, sampai kita datang ke sini. Saat mengikutinya ke pertunjukan lumba-lumba, aku menyadari hubungan kami sejauh ini mulai terasa... membosankan. Bahkan, sejujurnya aku merasa lega saat dia harus pergi. Bukan berarti aku membencinya, atau aku ingin kondisi neneknya memburuk, lho." Jelasnya panjang lebar.

"Kau bilang, bosan?" tanyaku memintanya mengulang lagi ucapannya.

Amu mengibaskan tangannya dengan panik. "Bukan, bukan begitu!" ujarnya, namun setelah mendesah dia menambahkan, "Yah... mungkin memang begitu."

Aku tertegun mendengar penjelasannya. Ternyata di dunia ini, bukan hanya aku dan si kepala ungu yang merasa bosan. Tapi kalau melihat kasus kami, sepertinya kebosanan kami lebih parah sampai membuat kami terdampar di sini.

Tapi bukan saatnya memikirkan itu, Amu punya masalah sendiri. Sebagai teman, sudah seharusnya mendahulukan kepentingan temanmu, 'kan? "Lalu, kenapa kau teruskan hubungan kalian? Kau 'kan bisa putus dengannya," tanyaku lagi.

Dengan segera Amu menggeleng. "Aku memang nggak ingin. Aku hanya merasa, kami seperti berjalan di tempat sejauh ini. Hubungan kami baik-baik saja, tapi aku merasa bosan. Seperti, kau menonton acara komedi, tapi setelah sekian lama pelawaknya jadi nggak lucu lagi."

Pengibaratannya membuatku merasa geli, tapi aku nggak tertawa. Aku mengerti kata-katanya, dan tahu yang maksudnya dengan hubungan yang membosankan adalah, "Nggak seperti Ikuto saat ada di sini, ya?"

Amu menatapku dengan kaget. Sepertinya ucapanku tepat sasaran. Kemudian setelah menghela nafas lagi dan menyandarkan dirinya di bangku, dia berujar, "Aku benci mengakuinya, tapi memang benar."

Tepat setelah itu, Nagihiko kembali dengan membawa tiga jus. Dia terlihat kerepotan, tapi aku nggak mau membantunya. Karena merasa ada yang menatapku, aku menoleh ke arah Amu. Benar saja, dia memang menatapku.

"Kenapa?" tanyaku bingung.

"Kau membiarkan pacarmu kerepotan?"

Dengan kesal aku bangkit dan menyambar sembarang gelas dari tangan Nagihiko. Tanpa pikir panjang kutusukkan sedotan pada penutup dan meminumnya. Namun rasa jusnya begitu aneh, sampai aku terbatuk-batuk dan menyemburkannya ke tanah. "Puah! Jus apa, sih, ini?"

"Kacang pistacchio. Benar katamu, jus itu ada." Ujar Nagihiko dengan wajah tanpa dosa.

"Kau bodoh sekali! Mana ada orang yang memesan jus kacang pistacchio! Harusnya kau membelikanku jus lain!"

Dia hanya mengangkat bahu. "Kau 'kan minta itu. Aku nggak tahu kalau rasanya ternyata nggak enak,"

"Benar-benar, deh... coba saja kau rasakan sendiri!" ujarku menyodorkan cairan hijau itu padanya. Dan Nagihiko meminumnya.

"YA AMPUN, CIUMAN NGGAK LANGSUNG!" seru Amu, dan para Chara bersamaan.

"A–apa, sih? Kalian kuno sekali," tukasku. Aku tahu itu ciuman nggak langsung, tapi aku nggak tahu kenapa aku membiarkan Nagihiko melakukannya. Lagipula, kami 'kan sudah pernah ciuman sebelumnya. Eh, bukan itu masalahnya!

"Nah, bagaimana rasanya?" aku menunggu reaksi Nagihiko. Dan benar saja, dia meludahkan jus itu sambil terbatuk-batuk sepertiku.

"Dasar bodoh! Kalau begini, kau hanya membuang-buang uangku!" serunya kesal lalu melemparkan gelas jus itu ke tempat sampah dengan tepat.

"Masa bodoh." Sahutku acuh, kemudian berpaling pada Amu. "Nah, Amu. Aku ikut sedih mendengar masalahmu, tapi ini bukan tempat bagimu untuk merasa bosan. Di hari yang indah ini, aku ingin lihat Joker yang merasa senang. Bisakah kau begitu?!"

"S–siap! Tapi, bagaimana?" tanyanya takut-takut.

"Seperti kata Nagihiko tadi, ayo naik wahana bersama-sama." Jawabku lalu menariknya sebelum dia sempat bicara lagi. Tapi setelah menyadari Nagihiko masih berdiri mematung, aku berhenti dan berpaling padanya.

"Kenapa kau masih di situ?"

"Memangnya kau mengajakku?"

"Jangan bodoh. Anggap saja ini sebagai balas budiku soal tadi," ujarku dengan senyum tipis, namun tulus. Tapi ucapanku hanya bersifat terima kasih, nggak lebih.

Tapi, benar saja. Nagihiko berpikir lain dan bertindak berlebihan dengan berkata, "Aww, Rima-chan... kau man–"

"Berisik." Kataku lalu lanjut berjalan bersama Amu. Aku nggak mau mendengarnya memujiku, apalagi menyebutku dengan kalimat yang paling kubenci. Iya, yang itu. Lawan kata dari pahit.

.

.

.

Hari menjelang senja saat para Guardian berkumpul di luar gerbang The Wonder World. Matahari membuat efek yang menakjubkan pada awan yang terpencar-pencar dengan menampilkan campuran warna jingga, biru, dan merah. Sebagian besar pengunjung keluar melewati kami, menuju ke arah mana mereka akan pergi masing-masing. Suasana tutup ramai seperti saat buka, tapi dengan menatap ke langit aku merasa dunia begitu tenang untukku sendiri.

"Menyenangkan, 'kan, minna? Sudah kubilang, sebagai anak muda kita harus bersenang-senang!" ujar Kukai bersemangat, kemudian bersendawa dengan keras.

"Iih, Kukai-chi, itu 'kan nggak sopan!" omel Yaya sambil mengibaskan tangannya.

"Maaf, aku dan Utau makan banyak sekali tadi," Kukai menyahut dengan senyum lebar seperti biasa.

"Tapi aku nggak bersendawa, tuh." Tukas Utau geleng-geleng kepala.

"Baiklah, kurasa aku akan pulang sekarang. Aku janji pada ibuku untuk latihan menari setelah makan malam," aku buru-buru menyela sebelum mereka sempat berdebat. Kulambaikan tanganku untuk memanggil Kusukusu yang masih bermain bersama para Chara.

"Ya sudah, sampai jumpa lagi, minna!" Yaya pamit lalu pergi dengan menggandeng Kairi. Mereka berbicara tentang akan ke sini lagi sambil berjalan. Kemudian yang lain juga pamit dan membubarkan diri, termasuk aku.

Kakiku sudah siap untuk melangkah, namun Amu menahanku dan berkata dengan tersenyum. "Arigatou, Rima."

Aku senang melihatnya kembali ceria, jadi kubalas senyumnya. "Apa pun untuk teman," ujarku tulus. Setelah memelukku, Amu pamit dan pergi ke arah yang sama dengan Yaya dan Kairi.

"Ayo, Kusukusu." Ujarku yang dibalas Kusukusu yang mengangguk. Kulangkahkan kaki dan berbelok ke kiri menuju blok rumahku. Sambil bersenandung, aku membayangkan latihan menari seperti apa lagi yang akan diajarkan ibu Nagihiko nanti.

"Kelihatannya senang sekali."

"Kyaaa!" aku menjerit kaget melihat Nagihiko yang tiba-tiba muncul di sampingku. "Mau apa kau? Kenapa kau mengikutiku?"

"Kau lupa rumah kita berada di blok yang sama?" dia bertanya dengan tawa kecil.

"Oh, iya. Masa bodoh," sahutku acuh melanjutkan langkahku. "Apa maksud pertanyaanmu tadi?"

Nagihiko menyusul dan menyamakan langkahnya denganku. "Kau tersenyum lebih banyak dari sebelumnya." Ujarnya tanpa melihatku.

Untung saja begitu. Sebab jika dia menatapku, dia akan melihatku gugup dengan wajah merona. Aku yakin wajahku merona, sebab pipiku terasa hangat setelah Nagihiko bicara begitu. "Aku nggak mengerti maksudmu," kataku pura-pura.

"Nggak apa-apa kalau kau nggak mengerti. Setidaknya aku tahu, aku berhasil membuatmu melupakan masalah kita sejenak dan bersenang-senang." Nagihiko akhirnya menatapku dan tersenyum.

"Aku hanya membantu Amu." Aku menjawab, meskipun setengah jujur. Tapi akhirnya kutambahkan, "Tapi, aku memang senang."

"Syukurlah kalau begitu," ujar Nagihiko. "Omong-omong, apa yang terjadi pada Amu-chan?"

"Rahasia perempuan." Jawabku singkat.

"Hmm..." Nagihiko bergumam. Aku menunggunya mengucapkan sesuatu, tapi dia hanya diam. Jadi kulanjutkan langkahku tanpa bicara apa-apa lagi.

"Aku senang saat kau minta aku untuk memutar kemudi lebih cepat waktu kita naik wahana Mad Teacup tadi," lanjut Nagihiko tiba-tiba.

"Memangnya kenapa? Benda itu berputar pelan, membosankan sekali." Kataku sambil menutup sebelah kelopak mataku karena angin yang agak kencang bertiup. "Lagipula, Amu juga berpikir begitu."

"Benar. Tapi kupikir kau takut naik wahana yang kencang?" tanya Nagihiko heran.

"Hanya roller coaster itu, kok." Kataku sambil mengangkat bahu. Lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan, dan Bintang Kejora bersama teman-temannya mulai muncul menghiasi langit yang menggelap.

Suara jangkrik terdengar di sela gemericik air sungai di sebelah kiri jalan yang kami lewati. Samar-samar suara pembicaraan keluarga yang bercanda sambil bersiap-siap makan malam menyeruak ke jalan. Semuanya terasa damai dan normal seperti kehidupan yang kujalani dulu. Yang membedakannya hanyalah kemana aku akan pulang, dan siapa keluargaku sekarang.

"Jangan khawatir, Rima-chan. Besok, kita bisa mulai mencoba segala cara untuk menyelesaikan masalah kita. Di tambah itu, hari Senin kita bisa minta saran Tsukasa-san lagi, dan memberi tahunya kalau penyebab semua ini bukanlah Embrio." Nagihiko berujar seakan-akan membaca pikiranku.

"Iya," jawabku seadanya, karena hanya itu yang bisa kuucapkan. Akhirnya gerbang keluarga Fujisaki terlihat. "Nah, Fujisaki, aku pulang." Ujarku setelah sampai di depan gerbang.

"Sampai jumpa, Rima-chan." Nagihiko tersenyum. Aku berdiri dengan canggung karena dia belum juga beranjak. Dan kusadari ada satu hal yang harus kuucapkan sebelum dia pergi,

"Nagihiko."

"Rima-chan."

Aku tertegun karena dia bicara bersamaan denganku. "Kau dulu," kataku mengalah.

"Nggak. Kau dulu."

Aku menggeleng. "Nggak. Kau dulu."

"Ladies first." Ujarnya nggak mau mengalah.

Aku menghela nafas. "Baiklah..." dengan hati-hati kupilih kata-kata yang tepat untuk mengucapkan hal yang ingin kuucapkan sejak tadi.

"Te–terima kasih karena sudah membuatku melupakan semua masalahku hari ini," kataku menunduk nggak berani menatapnya.

"Aku yang harus bilang terima kasih. Kau juga melakukan hal yang sama padaku saat kau tersenyum," ujarnya.

Kuangkat kepalaku dan melihatnya menatap tepat pada mataku. Jantungku berdegup kencang menunggu apa yang akan terjadi. Tapi nggak ada yang terjadi, kami hanya saling menatap. Kami berdiri berhadapan hanya dipisahkan oleh batas teras, dan untuk beberapa kami hanya terus begitu.

"Baiklah, aku harus pergi." Kata Nagihiko akhirnya.

"Ya. Sampai jumpa," sahutku sambil menggenggam pegangan pintu untuk membukanya.

"Sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

Sejenak ada keheningan. "Sampai jumpa." Kata Nagihiko lagi.

"Pulanglah. Hati-hati," ujarku memutus percakapan memusingkan itu dan benar-benar membuka pintu. Akhirnya Nagihiko benar-benar berjalan menuju rumah yang dulu milikku di ujung jalan.

Aku bersandar di pintu yang sudah kututup. Sungguh bodoh apa yang terjadi di antara kami barusan. Itu lucu, tapi juga menyenangkan, dan cukup untuk membuatku menyunggingkan senyum saat berjalan masuk ke rumah.