~Author Speech~

Vices: Oh, hai, all my lovely readers! Maaf atas keterlambatan updatenya, karena gue baru balik dari sebuah pulau buat liburan -_- Ini serius, dan updatenya chapter ini bisa sukses atas bantuan dari beta reader, atau lebih tepatnya editor gue, PriscallDaiya-chan! She's the real MVP! Makasih atas kerja kerasnya :D Kasih tepuk tangan yang meriah, ya *plok plok*

Kali ini, karakter ShuCha nggak perlu hadir karena bakalan bikin ribet. Jadi karena beberapa review udah dijawab secara personal, tinggal review dari Fuka-san. Seperti biasa, reviewnya dihiasi dengan adegan violence kesukaan saya, nih! Sayangnya, kenapa saya malah mati di sana? *abaikan* Makasih banyak atas dukungannya, dan masih bersedia ngikutin fic saya sampe sini :) Saya minta maaf banget karena updatenya kelamaan -_- anyway, On the Go!


Disclaimer

Shugo Chara! belongs to Peach-Pit, and published through Kodansha. All rights hold by their respective owner

Any song recommendations are merely suggestion. All rights hold by their respective owner

Warning

OOC, alur yang nggak jelas di luar batas kewajaran, scene romance yang terkesan dipaksain, dan yang paling penting... updatenya nggak rutin -_-


Rekomendasi Lagu Buat Didengerin Sambil Baca:

State Champs - Prepare to be Noticed

Alasan:

Siap-siap, Rima. Nagihiko mulai sadar, perasaannya nggak bisa bohong...


Chapter 9

Spark the Fluffiness!

Nagihiko's POV

Ini Minggu pagi yang cerah di Seiyo, dan situasinya begitu damai. Umumnya, beberapa orang mungkin masih meneruskan tidur mereka. Sementara orang lain yang bersemangat akan memulai hari mereka dengan berolahraga.

Tapi beda denganku. Selagi bersiap ke luar untuk lari pagi di taman, seseorang menggedor pintuku. Dari ritmenya yang terdengar nggak sabar, kurasa aku tahu siapa orangnya sebelum kubuka pintu.

Dan, benar saja. Queen Chair Yang Agung, pujaan seisi Seiyo Gakuen, merendahkan diri dengan berdiri di depan pintuku sambil melipat tangan di dada. Oh, sadari sindiran dalam kata-kataku.

"Ya?" sambutku dengan bingung. Kira-kira apa yang diinginkannya?

"Di struktur Guardian, kau bertindak sebagai Chair apa?" tanyanya tanpa basa-basi.

Meskipun pertanyaanku sendiri belum terjawab, aku tetap menyahut, "Jack."

Rima mengangguk puas dengan jawabanku. "Jadi artinya, kau setingkat di bawahku, yang bertindak sebagai Queen Chair?"

"Secara teknis, begitu."

Setelah mengamatiku dari atas ke bawah, dia menarik tanganku. "Baiklah, ayo ikut." Ujarnya singkat, kemudian tiba-tiba berlari.

"A–apa? Rhythm, Temari!" di antara kekagetanku, aku berhasil memanggil kedua Charaku yang masih sarapan di dapur agar menyusulku. "Apa artinya ini?!" seruku memprotes tindakan diktator Rima.

Rima berhenti di pagar depan, memberinya waktu untuk membukanya dan menoleh padaku. "Kau setingkat di bawahku, jadi artinya kau budakku." Ujarnya dingin. "Lagipula, budak nggak seharusnya bertanya." Lanjutnya kemudian kembali berlari, membuatku terseret di belakangnya.

Meskipun masih kesal, dan bingung akan bagaimana cara Rima berlari–hal yang sebelumnya nggak pernah dilakukannya–ada pertanyaan yang lebih penting;

"Rima-chan, bukankah sebaiknya kau jelaskan dulu apa alasannya kau tiba-tiba datang dan menarikku begini?"

"Bukankah Tsukasa ingin kita memberitahunya tentang perkembangan apapun dalam masalah kita? Dan itulah yang akan kulakukan, menemuinya." Tanpa memperlambat lajunya, Rima menoleh dan bicara.

"Lagipula, budak nggak seharusnya meminta penjelasan." Lanjutnya lagi.

"Ng... memang. Tapi, apa perlu menyeretku begini?" sekali lagi aku bertanya, dan seketika ucapan terakhir Rima meresap dalam otakku, dan membuatnya mendidih. "Dan lagi, apa maksudmu dengan budak, hah?!"

Rima mempererat genggamannya pada tanganku, dan secara mengejutkan terasa sedikit sakit. Aku tahu itu isyaratnya untuk menutup mulutku. Jadi kubiarkan dia terus menarik tanganku sambil dalam hati menghitung sampai sepuluh agar emosiku nggak lepas kendali.

.

.

.

Tapi kenyataannya, yang aku dan Rima temui begitu sampai di Seiyo menuju kantor Tsukasa adalah papan konyol yang tergantung di pintunya. Kenapa konyol, kalian tanya? Karena selain gambar bintang dan bulan yang terlihat kekanak-kanakan, di papan itu tertulis begini;

Jika kalian adalah Fujisaki dan Mashiro-san, aku ingin kalian tahu kalau aku sedang pergi meneliti hubungan ramalan bintang dengan hujan ikan di India bersama Saeki Nobuko-san untuk artikel majalah kami. Oh, dan aku baru akan pulang hari Senin.

P.S: Kalian mencariku untuk membicarakan 'itu', bukan? Maaf aku pergi di saat seperti ini. Tapi, kenapa kalian tak coba saranku saja sehubungan dengan rasa bosan kalian? Kita lihat dampak apa yang dihasilkannya hari Senin.

Amakawa Tsukasa

Selama beberapa saat, aku masih sibuk mencerna pesan itu. Dan sepertinya, begitu juga Rima. Entah daya pikir kami yang masih terlalu lemah untuk memahaminya, atau pesan itulah yang konyol.

"Apa pernah ada hujan ikan di India?" tanyaku menyuarakan kebingunganku.

Rima mengedarkan pandangannya ke sekeliling sambil menggaruk kepala. "Yah..." gumamnya lalu berjalan mendahuluiku keluar dari Seiyo.

.

.

.

Rima's POV

Matahari sudah agak tinggi setelah aku dan Nagihiko akhirnya meninggalkan Seiyo tanpa melakukan apa-apa. Temperatur sedikit terasa panas karena mulai besok adalah minggu terakhir dalam bulan Mei. Suara serangga musim panas pun mulai terdengar bersahutan dari semak dan pohon mana saja yang bisa kalian temukan di sekitar.

Sejujurnya, aku sama sekali nggak peduli dengan semua itu. Keinginanku untuk memberitahu Tsukasa tentang apa yang terjadi padaku semalam amat mendesak, dan nggak bisa ditunda sampai besok. Lagipula, dia yang minta kami untuk memberitahunya semua kejadian yang kami alami, 'kan? Dan sekarang dia malah pergi entah ke mana, melakukan entah apa!

"Ini perasaanku saja, atau Tsukasa menghindar dari kita?" tanyaku pada Nagihiko setelah menganalisa beberapa saat.

"Entahlah. Aku sempat berpikir begitu juga, tapi untuk apa Tsukasa-san melakukannya? Mungkin dia memang sedang di India," sahut Nagihiko yang berjalan dengan menaruh kedua tangannya di belakang kepala.

Aku menoleh karena nggak percaya mendengar ucapannya yang cuek itu. "Kau ini serius ingin menyudahi semua ini nggak, sih?" tanyaku kesal.

"Aku serius, kok." Ujarnya tanpa mengubah sikapnya. "Uuh... aku kepanasan!"

"Terserahmu saja, deh." Kuabaikan keluhannya dan lebih memilih untuk tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Sebenarnya, aku baru tahu kalau cahaya yang di sebut Kusukusu saat latihan menariku kemarin ternyata hal yang penting. Dan setelah mendengar penjelasannya, kurasa Tsukasa harus mendengarnya juga.

Semalam, sekembalinya dari The Wonder World, aku iseng mencoba melempar bola basket yang kutemukan tergeletak di halaman belakang rumah keluarga Fujisaki. Dan setelah bola itu masuk ke ring, entah kenapa aku jadi ketagihan memainkannya.

.

.

.

~Flashback~

"Ayo, Rima-chan! Coba lempar dari jarak yang lebih jauh!" seru Kusukusu yang duduk mengamatiku dari teras.

Aku menutup mata, dan berusaha mencetak bayangan bentuk ring dalam benakku. Saat naluriku mengatakan sekarang waktunya untuk melempar, kuangkat tanganku dan mengayunkannya ke atas sambil sedikit melompat.

Suara bola yang memantul di tanah membuatku segera membuka mata. Sejenak aku merasa kecewa karena kukira bola itu nggak masuk. Namun jaring yang bergerak pelan menyadarkanku kalau bola itu melesak masuk mulus tanpa suara. Entah dari mana asalnya, tapi aku yakin istilah untuk hal itu adalah clean ball.

Permainanku berlangsung sampai jam les pelajaran kokugo-ku dimulai. Meskipun membuatku berkeringat, aku merasa senang. Bahkan aku mengikuti lesku dengan antusias, padahal aku belum pernah mendalami hal itu sebelumnya. Aku hanya merasa, di kehidupanku sekarang ini begitu banyak hal baru yang kupelajari. Dan semuanya terasa sama menyenangkan seperti menonton atau membaca hal-hal yang bersifat komedi. Sampai lagi-lagi Kusukusu melihat cahaya keluar dari dalam diriku.

"Sebenarnya apa yang kau lihat, sih?" tanyaku bingung dengan semua hal tentang cahaya ini.

"Oh, itu namanya pancaran diri, Rima-chan." jelas Kusukusu sambil berakrobat seperti biasa. "Dan cahaya kali ini sedikit lebih terang dari sebelumnya,"

"Aku 'kan bukan lampu. Kenapa aku mengeluarkan cahaya? Dan kenapa aku nggak bisa melihatnya?"

"Pertanyaan pertama, itu karena kau hanya beberapa langkah lagi menemukan jati dirimu, Rima -chan. Pertanyaan kedua, hanya Shugo Chara yang bisa melihatnya karena hal yang nggak bisa kujelaskan."

Perkataannya terus terngiang di telingaku, bahkan sampai saat-saat terakhir kesadaranku tersisa sebelum aku tertidur pulas. Jati diri, katanya? Masa' dengan menari dan bermain basket aku menemukan jati diriku, sih?

~End of Flashback~

.

.

.

"Bumi kepada Rima Mashiro!"

Seruan Nagihiko membuatku tersentak dari lamunanku barusan. Aku menoleh dengan kesal karena sudah diganggu. "Apa, sih?"

"Aku tanya, kau mau es krim, nggak? Hari ini panas sekali,"

Aku menggeleng. Lalu aku teringat hal penting lain yang ingin kulakukan hari ini. "Aku ingin ke rumahmu saja."

Kutunggu jawabannya, tapi dia hanya terdiam dengan mata terbuka lebar. Aku nggak tahu apa yang dipikirkan si bodoh itu. Tapi setelah menyadari para Chara yang menatapku sambil menahan nafas, aku sadar apa yang sedang mereka pikirkan

"Seorang gadis remaja berkunjung ke rumah pacarnya..." gumam Temari.

"Bro, sepertinya keberuntungan ada di atasmu hari ini!" seru Rhythm semangat sekali.

"Ma–maksudku, aku hanya ingin mengecek koleksi manga-ku, baka!" tukasku sebelum mereka bicara yang bukan-bukan. "Lagipula, rumah itu tadinya 'kan rumahku!"

"Oh. Ah, ya, tentu saja begitu." Ujar Nagihiko kembali dari alam anehnya.

"Tentu saja begitu! Memangnya apa yang kau pikirkan?!"

Nagihiko menggeleng kuat-kuat. "Nggak ada. Tentu saja kau boleh berkunjung, Rima-chan." ujarnya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.

Jelas sekali dia juga berpikir yang bukan-bukan.

"Uukh... dasar... "aku berusaha mencari kata-kata makian yang cukup kasar. Tapi yang bisa kutemukan hanya, "...kepala terong!"

Nagihiko diam saja. Dengan geram kulangkahkan kakiku untuk pergi meninggalkannya. Dengan atau tanpanya, aku harus menghentikan semua hal tentang pacaran pura-pura ini sebelum itu membuat pembuluh darah di kepalaku pecah karena marah.

.

.

.

"Tadaima," ucap Nagihiko sambil membuka pintu dan melongokan kepala ke dalamnya, sementara aku menunggu di pekarangan. Kupandangi kediaman keluarga Mashiro ini, yang sebetulnya adalah rumahku. Agak aneh juga datang ke sini, dan mendengar Nagihiko yang bilang 'aku pulang'

"Jadi, apa alasanmu berkunjung selain ingin mengecek buku-bukumu?" tanya Nagihiko curiga, membuat lamunanku buyar.

"Kau nggak mempersilakanku masuk, atau kau lebih suka kita membicarakannya di depan pintu?"

Raut wajah Nagihiko terlihat kesal sesaat. Aku sudah siap untuk berdebat dengannya saat dia menghela nafas. "Oh, ya ampun. Di mana sopan santunku? Silakan masuk, Putri Rima. Anggap saja rumah sendiri," ujarnya dengan nada mengejek sambil membungkuk.

"Nggak perlu begitu, Yang Mulia saja sudah cukup." Sahutku sambil mendorongnya agar menyingkir, lalu melepas sepatuku dan menaruhnya di rak. "Lagipula ini memang rumahku sendiri, bodoh."

"Ya, tadinya." Katanya sambil menutup pintu, agak keras. Aku hanya mengangkat bahu. Kualihkan perhatianku pada suasana rumah yang sepi. Sepertinya papa dan mama nggak ada di rumah.

Kuikuti Nagihiko melangkah menuju ruang tamu yang sudah kukenal betul. Nggak ada perubahan yang berarti setelah hidup kami tertukar. "Kau tunggu sebentar di sini, ya. Aku ingin ganti baju," katanya.

"Terserahmu saja," putusku kemudian memutuskan untuk melihat-lihat sambil menunggu, sementara Temari dan Rhtyhm mengajak Kusukusu mengikuti Nagihiko. Tempat pertama yang kutuju adalah ruang makan, dan begitu memasukinya kulihat sebuah kertas post-it tertempel di pintu kulkas. Kusambar lembaran itu dan membacanya;

Nagi sayang, aku dan papamu pergi ke danau Seiyo untuk memancing. Mungkin kami akan pulang agak malam, karena itu jadilah anak baik selama kami pergi.

Peluk cium,

Mama

Hah, pergi memancing? Sejak kapan papa dan mama suka memancing? Yang lebih mengherankanku, seingatku mereka nggak pernah pergi tamasya bersama setelah peristiwa penculikanku.

Oh, terserahlah. Kurasa aku akan bertanya pada Nagihiko tentang itu nanti, gumamku dalam hati seraya kembali ke ruang tamu. Lagipula, itu bagus. Aku jadi nggak perlu menjelaskan maksud kedatanganku pada mereka. Meskipun sebenarnya ini rumahku, akan terasa aneh jika aku bertemu mereka sebagai tetangga.

Beberapa menit berlalu, dan Nagihiko masih belum juga turun dari kamar. Aku bukan orang yang sabar, jadi aku duduk di sofa sambil menggoyangkan kakiku dengan gusar. Akhirnya setelah mempertimbangkan nggak ada siapa-siapa di sini, kuputuskan untuk naik saja.

"Hei, Fujisaki. Boleh aku masuk?" tanyaku di depan pintu sambil mengetuknya, dan sedikit merasa bodoh karena harus mengetuk pintu untuk masuk ke kamarku sendiri.

Nggak ada jawaban. Aku curiga dia melakukan hal yang aneh-aneh di kamarku. Tanpa pikir-pikir lagi, kuputar kenop pintu dan masuk.

Nagihiko nggak ada di dalam. Namun dari kamar mandi terdengar suara gemericik air. Aku berdiri mematung tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Dan tiba-tiba saja Nagihiko keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya.

Jika kalian gadis normal, kalian tahu apa yang akan kulakukan, 'kan?

Tentu saja berteriak "Kyaaa!" keras-keras dan secepatnya keluar untuk menyelamatkan diriku.

"Tunggu–awas, Rima-chan!"

Harusnya kudengarkan seruan peringatan Nagihiko itu. Tapi semuanya sudah terlambat, dan hal terakhir yang kutahu adalah kepalaku menghantam pintu dengan keras.

.

.

.

Nagihiko's POV

Setelah terpaksa memakai bajuku di luar, aku ke dapur untuk mengambil handuk kecil dan beberapa butir es batu. Lalu dengan gontai aku kembali ke kamar dan menemukan Rima yang sedang memegangi dahinya.

"Lepas tanganmu." Perintahku lalu menaruh es batu ke dalam handuk dan melipatnya

"Duuh... Sakit!" Rima menjengit sambil menepis tanganku ketika kusentuh dahinya dengan handuk itu. "Pelan-pelan!"

"Kurang lembut bagaimana lagi, sih?" ujarku kesal sambil tetap mengusap bengkak di dahinya. "Makanya permisi dulu kalau masuk ke kamar orang!"

"Tadinya 'kan ini kamarku. Rasanya aneh, tahu!" serunya keras kepala. "Lagipula kau 'kan cuma bilang ingin ganti baju, bukan mandi. Dan aku nggak sabar menunggumu turun."

"Tadi 'kan sudah kubilang, aku kepanasan. Nih, pegang," ujarku menyuruhnya memegang sendiri handuk itu. Aku nggak bisa menahan diriku untuk menggelengkan kepala saat melihat betapa cerobohnya ternyata Rima.

Rima diam saja sambil menggerutu. Kemudian dia bangkit dari tempat tidur untuk mengamati lemari besar penuh manga komedi miliknya.

"Bagaimana? Apa semuanya masih lengkap?" tanyaku sambil menduduki kursi putar di belakangnya.

"Hmm," gumamnya tanpa berbalik. "Menyebalkan sekali saat berpikir, aku nggak akan bisa membaca ulang semua ini."

"Kenapa kau pikir begitu?"

Akhirnya Rima berbalik, hanya untuk menatapku seakan aku orang terbodoh di jagat raya. "Kepala ungu, kau lupa? Mana bisa aku masuk seenaknya ke sini, di saat kamarku terletak di kediaman keluarga Fujisaki?" ujarnya ketus.

"Tadi kau nggak kesulitan melakukannya."

Raut wajah Rima seketika berubah seperti rusa liar yang disorot lampu mobil. "I–itu karena kurasa aku bisa masuk karena ini kamarku sendiri. Lagipula nggak ada orang lain di rumah!" serunya dengan pipi merona.

Kubiarkan tawa kecilku lepas karena senang mengetahui sindiranku mengenainya. "Ya, aku sudah tahu itu. Kau lihat kertas post-it itu, ya?"

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Rima bingung.

"Tadi pagi sebelum kau datang, aku menemukannya saat ingin membuat sarapan."

Rima mendecakkan lidah dan menggelengkan kepalanya. "Kulihat kau lebih tahu keadaan rumahku daripada diriku sendiri."

"Mau bagaimana lagi? Ini 'kan sekarang rumahku," kataku sambil mengangkat bahu. "Omong-omong, aku sudah membaca semua bukumu itu."

"Benarkah?" tanya Rima terlihat terkejut.

"Iya. Entah kenapa aku merasakan dorongan kuat untuk membacanya. Dan tahu-tahu aku sudah membaca semuanya di saat senggangku." Ujarku sambil meraih salah satu buku dari lemari. "Sejujurnya, aku menyukai bagian bala-balance itu."

Rima membuatku bingung saat menatapku dengan mata terbelalak. "K–kau, mengatakannya dengan benar..."

"Memang begitu, 'kan, kalimatnya? Bala-balance!" ujarku sambil menirukan pose konyol yang terdapat dalam buku itu.

"Benar! Bala-balance!" Rima berseru dan melakukan pose itu bersamaku. Aku menghempaskan badan ke kasur sambil tertawa keras setelah melakukannya, begitu juga Rima. "Kok, kau bisa? Aku nggak tahu kau punya selera humor yang sama denganku," tanyanya.

"Aku pun nggak tahu," jawabku, lalu teringat untuk menanyakan hal sama yang terjadi pada Rima. "Kau sendiri, sejak kapan kau bisa berlari, bahkan mengimbangi lariku?"

Rima mengangkat bahu. "Entahlah. Selain lari, aku bahkan juga bisa bermain basket sekarang. Juga menarikan tarian tradisional sepertimu," katanya.

Fakta baru ini mengejutkanku. Rima menguasai semua hal yang kukuasai, dan aku memiliki hal yang Rima miliki. Bagaimana bisa begitu, ya? tanyaku dalam hati sambil mengubah posisi tidurku.

Hampir saja aku melompat dari tempat tidur saat mataku menangkap sosok Rima. Meskipun sudah tahu sebelumnya, kehadirannya di sebelahku masih saja memberi efek kejut padaku. Rima, mungkin merasa diamati, berbalik menghadapku. "Kenapa? Apa yang kau lihat, sih?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

Matamu, rambut ikalmu, dan lebih tepatnya... dirimu seluruhnya. "Ah, nggak apa-apa." Sahutku, tentu saja bohong. Aku begitu terpaku pada pemandangan di depanku ini, bahkan apapun yang akan dilakukan Rima nanti sama sekali nggak terlintas di benakku.

"Fujisaki, kau membuatku merasa aneh..." ujarnya mengibaskan tangan dengan cepat di depan wajahku, lalu berpaling.

Entah kekuatan apa yang merasukiku, aku mengulurkan tangan untuk menangkap bahunya dan memaksa tetap menghadapku. Matanya yang sewarna dengan rambutnya, seperti dua buah permen karamel berkilau, terbuka lebar saat bertemu dengan mataku. Begitu semua yang kulihat terserap dalam otakku, rasanya ada sesuatu yang berasal jauh dari dalam lubuk hatiku, mendesak untuk di ucapkan,

"Rima, sepertinya aku–"

"Hei, teman-teman, lihat apa yang kami bawa!" Rhythm tiba-tiba melayang masuk dan mengumumkan, diikuti Temari dan Kusukusu yang membawa camilan.

"Kalian sedang... ups!" tiba-tiba Temari menutup mulutnya dengan kaget. Kemudian setelah berbisik pada Kusukusu dan Rhythm, mereka bertiga berdesakan keluar dengan buru-buru.

"Hei, kalian kenapa?" panggil Rima.

"Maaf mengganggu waktu pribadi kalian, guys!" seru Rhythm dari luar sambil mengedip padaku.

"Hah? Apa–" dengan bingung aku menatap sekeliling. Ketika menoleh ke samping, aku sadar situasi apa yang mereka ributkan. Rima yang sepertinya berpikiran sama denganku, mengambil bantal dan memukulkannya padaku.

"Sudah tahu situasi kita begini, cepat bangun!" serunya.

"Baik, baik! Nggak perlu bersikap seperti manusia purba!" Jawabku cepat sambil menghalau pukulannya dengan tanganku. Setelah berdiri, kurapikan kausku yang kusut. Oh, ya ampun... apa yang akan papa dan mama Mashiro katakan jika mereka melihat kami sekarang?

Aku berdiri berlawanan dengan Rima yang sedang merapikan rambutnya. Keheningan canggung nyata sekali terasa di udara. Beruntung suara dering teleponku menyelamatku dari keharusan untuk berbicara.

Ternyata dari Kukai. "Moshi-moshi?" sapaku.

"Oi. Si Fujisaki bersamamu, 'kan?"

Otomatis pandanganku menyapu sekeliling. Tapi, tentu saja hanya ada aku dan Rima di sini. "Iya. Kok, tahu?" tanyaku.

Kukai tergelak sebelum menjawab. "Coba tengok ke luar jendela."

Aku menoleh pada Rima yang hanya mengangkat bahu. Kukai yang selalu bisa menebakku akhir-akhir ini mulai membuatku takut. Jadi kubuka jendela dan melongokkan kepalaku keluar bersama Rima. Di seberang jalan, Kukai berdiri berdampingan dengan Utau. Cengirannya melebar begitu melihat kami.

"Kau penguntit, ya?" tanya Rima ketus.

Tawa Kukai yang sepertinya ditahannya sejak tadi terlepas. "Nggak perlu jadi penguntit untuk tahu di mana kalian." Sahutnya tanpa terpengaruh ucapan Rima sama sekali.

"Kau dengan sendirinya memberi tahu kami kalau kau ada bersama Mashiro saat kalian berdua keluar, chibi," timpal Utau sambil menjulurkan lidah.

Heh. Apa yang mereka katakan benar, dalam hati aku mengakui dengan geli. "Wah, sepertinya kita pasangan yang gampang ditebak, ya?" kataku pada Rima.

Rima menoleh dan tersenyum. Namun senyumnya nggak menyembunyikan duri dalam kata-katanya, "Aku nggak tahu denganmu. Tapi buatku pasangan itu jelas bukan kita."

Setelah mengucapkan kata-kata menakjubkan itu, dia keluar dan memanggil Kusukusu untuk mengikutinya. Kepergiannya memberiku waktu untuk bernafas lega. "Oke, kami akan segera turun." Seruku pada Utau dan Kukai.

Kenapa aku lega, kalian tanya? Sebab sikap Rima yang ketus membuatku mampu untuk terus menjaga kepalaku tetap di atas permukaan. Aku nggak perlu mengingatkan diriku sendiri kalau kami hanya pura-pura pacaran, dan aku nggak perlu takut perasaanku akan membuatku merasa lebih dari terbiasa dengan kehadirannya.