~Author Speech~
Vices: Ah, bienvenue, selamat datang lagi Nagi, Rima! Say hello ke readers kita. Senang liat kalian dateng lagi :)
Rima: Yah, dengan terpaksa *lambain tangan*
Nagi: Ada kabar apa?
Vices: Kabarnya, ini chapter baru. Dan ada beberapa review yang harus di baca *lempar review*
Nagi: Ah, ini udah pasti Daiya-chan :) Arigatou, ne, karena terus baca fic ini! Semua pujian dan dukungannya membuatku terharu karena masih ada yang ingat namaku *nangis*
Vices: Apa-apaan, sih? lanjut lo aja deh, Rima *lempar review*
Rima: Hng? apaan, nih? di review ini gue berantem sama orang yang namanya Fuka, dan dia minta dipanggil Fuka-desu? Ini orang waras nggak, sih? Gimana caranya coba gue baca reviewnya kalo begini?
Vices: Kok jadi lo yang nanya-nanya? udah gue aja yang baca *rebut review* Ah, halo, Fuka-desu! *baca review* ng... ini serem banget sih? Saya ngebayangin review Fuka-desu kalo dibikin fic, pasti harus rated M tuh. Anyway, senangnya bisa bikin Fuka-desu senyum-senyum sendiri! Seandainya bisa liat senyum semua Readers gue, gue rela nggak masuk sorga deh!
Nagi: Bahkan kalo Readernya cowok?
Vices: Jangan becanda kamu, Sopo. Udah, ah, kepagian. On The Go!
Disclaimer and Warning
Karena ini part 2 dari chapter sebelumnya, gue rasa nggak perlu lagi kata-kata merepotkan itu.
Rekomendasi Lagu:
Midtown - Like a Movie
Alasan:
Yah, mereka berdua emang kayak tokoh film, 'kan? Maksud gue, apa di dunia nyata bakal ada dua orang yang keras kepala begitu?
Chapter 10
Spark the Fluffiness Part 2
Rima's
Sepanjang jalan menuruni tangga, aku sibuk mengutuk diriku sendiri. Meskipun alasanku mengunjungi Nagihiko semata-mata hanya untuk memeriksa kondisi koleksi manga-ku, harusnya aku tahu adalah salah menghabiskan waktu lebih dari lima menit dengannya.
"Hei, Rima-chan, tunggu!"
Tanpa melihat pun aku tahu itu Nagihiko yang memanggilku dari lantai atas. Setelah menyambar sepatuku dan memakainya dengan cepat, kutarik lengan Kusukusu agar keluar mengikutiku tanpa mengoceh.
Tapi, tentu saja dia akan tetap mengoceh. "Rima-chan, kurasa sebaiknya kita menunggu Nagi-kun," katanya.
"Diam." Sahutku begitu sampai di pagar depan. Kukai melambai saat melihatku.
"Eh, mana Mashiro?" tanyanya.
Kuangkat kepalaku lalu memberinya tatapan yang biasa kugunakan untuk membuat para budakku terpaksa menurut. "Jangan seperti Kusukusu. Cepat katakan ada perlu apa, lalu kita pergi." Ujarku memberi perintah. Tanpa banyak bicara, Kukai mengangguk dan mulai berjalan.
"Apa maksudnya ini?" Utau bertanya sambil menaruh tangannya di pinggang.
"Kau juga. Jangan mulai pertempuran yang nggak bisa kau menangkan, mengerti?"
Utau membuka mulut untuk memprotes. Tapi aku nggak akan membiarkannya, dan mengalihkan tatapanku padanya. Untungnya, gadis Idol itu memutuskan untuk berhenti keras kepala.
Dan sekarang, aku sungguh bersyukur saat Kukai bilang para Guardian sedang berkumpul dan mengajak kami ikut. Apa pun alasannya, asal itu bisa membuatku melupakan kejadian di kamar tadi.
Kalau kalian penasaran, ini bukan tentang aku yang marah pada Nagihiko. Aku hanya merasa harus menjauhinya setelah menatap mata teduhnya beberapa saat lalu. Dan satu hal yang mengganguku, adalah kalimatnya yang belum sempat dia ucapkan. Untuk alasan yang nggak bisa kujelaskan, aku senang ucapannya terputus.
Karena, coba bayangkan kalimat apa yang akan dikatakan seorang cowok saat menatap kalian seperti itu?
Selagi sibuk membayangkannya, kepalaku membentur sesuatu yang seperti punggung seseorang. "Duh, perhatikan jalanmu, Putri Es!" Ujar pemilik punggung itu yang ternyata Utau.
"Aku yang harusnya bilang begitu. Kau yang tiba-tiba berhenti!" sahutku sengit.
"Hei, gadis-gadis, coba dinginkan kepala kalian sejenak!" Kukai muncul menengahi lalu menarik Utau ke sisinya. "Dia memang harus berhenti, Fujisaki. Karena kita sudah sampai," katanya sambil mendorongku masuk ke sebuah café
Pintu café itu menyentuh sebuah lonceng yang diletakkan di bagian atasnya, dan membuatnya mengeluarkan bunyi denting bernada tinggi saat kubuka. "Sampai di mana? Kukira kita akan ke Royal Garden?" tanyaku mengabaikan seorang gadis yang menyambut kami di depan pintu.
"Anggap saja ini dinas luar Guardian," jawabnya sambil tertawa. "Lihat, Hinamori bersikap seperti baru mendapat hadiah Natal saat melihatmu."
Aku menangkap sosok Amu yang berdiri sambil melambaikan tangan dari bangku di dekat jendela. Tadase yang duduk di sebelahnya melemparkan senyum padaku. Saat aku mendekat, ternyata Yaya dan Kairi juga datang.
"Kau dan Nagi sepertinya sibuk sekali, sih," ujar Amu begitu sesi saling berpelukan kami selesai.
"Benar! Bahkan Nagi-chi dan Rima-tan sama sekali nggak menjawab pesan dan telepon Yaya. Ukh!" Yaya, seperti biasa bicara dari sudut pandang orang ketiga, menimpali sambil cemberut padaku.
Ucapan mereka otomatis membuatku mengecek telepon genggamku. Memang benar, ada dua panggilan nggak terjawab dari Amu. Juga tiga belas panggilan dan empat puluh dua pesan dari Yaya.
Pantas saja telepon genggamku agak sulit dinyalakan, gerutuku dalam hati. "Sibuk apanya? Aku hanya lupa mematikan mode getar, kok." Jawabku.
Mereka berdua bertukar pandangan. Wajah mereka terlihat konyol, seakan aku baru mengucapkan hal yang lucu. "Kau tahu, sibuk... begitulah." Ujar Yaya sambil mengedipkan matanya dengan cepat.
"Tunggu, apa?" tanyaku agak keras.
"Yah, kami mengerti hubungan kalian sedang hangat-hangatnya sekarang," ujar Amu terkikik geli.
Entah perasaanku saja, atau semua orang bersengkongkol untuk membuatku kesal hari ini? Namun sebelum aku sempat mendapat jawabannya, lonceng berdenting dan pintu terbuka menampilkan Nagihiko yang segera masuk menghampiri kami.
Kurasa aku nggak akan kuat menatapnya lebih lama. Jadi kupalingkan wajahku, hanya untuk mendengar Amu berbisik-bisik. "Uh–oh, gawat. Pangeran berkuda putihmu datang, chibi." Kata Utau. Ketiga gadis itu lalu tertawa kecil.
"Kalian..." geramku dengan tangan terkepal, berusaha menahannya agar nggak meluncur tanpa kusadari.
"Hei, kulihat kepala Rima-chan hampir mendidih, tuh." Ujar Nagihiko berdiri di belakangku dengan menaruh sikunya di atas kepalaku. "Apa yang kalian lakukan?"
"Gomen¸ Nagi-chi~ tapi Yaya, Utau-tan dan Amu-chi bersumpah nggak melakukan apa-apa pada Rima-tan!" seru Yaya sambil mengacungkan dua jarinya ke atas.
"Ya, mereka nggak melakukan apa-apa. Jadi singkirkan sikumu!" dengan punggungku kudorong Nagihiko mundur. Kuharap itu cukup keras untuk membuatnya kesakitan, tapi dia hanya tertawa.
"Sudahlah, teman-teman. Kita berkumpul di sini bukan untuk menjahili Fujisaki, 'kan?" Kukai tertawa lalu menepuk-nepuk bahuku.
"Kupikir kalian memang berniat begitu." Tukasku sungguh kesal lalu menggeser Yaya dan duduk di sebelahnya.
"Serius, bukan, kok. Coba saja tanya King kita," ujarnya mengedikkan kepala ke arah Tadase.
"Benar, Fujisaki-san. Alasan kita berkumpul di sini, karena kupikir kita perlu sesekali bertemu dengan meninggalkan formalitas kita," jawab Tadase dengan senyum yang sama. Kemudian dia melingkarkan tangannnya ke bahu Amu seraya berujar, "Lagipula kita juga butuh pergantian suasana, mengingat situasi yang dialami Amu-chan."
Segera saja perhatianku terpusat pada kondisi sahabatku itu. "Ada apa, Amu? Kau nggak sakit, 'kan?"
Amu menggeleng dan memberiku senyum tipis. "Atashi wa daijoubu." Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
"Ah..." gumamku mengerti maksudnya. Tentu ini soal perasaannya pada si King pirang itu, 'kan? Tapi mana mungkin aku mengatakannya di depan teman-temanku, apalagi di depan Tadase.
"Di samping itu," ujar Tadase lagi. "kita juga punya tugas yang harus dilakukan."
Erangan Kukai terlontar saat dia menjatuhkan kepalanya ke meja. "Ayolah, bahkan di hari libur seperti ini?" keluhnya.
"Kita Guardian, bukan?" jawab Tadase dengan mengangkat bahu. Sejujurnya, keluhan yang sama juga terucap di benakku. Kurasa yang lainnya juga begitu.
"Tapi bukan sekarang, kok. Kita baru akan mulai hari Senin." Tukas Tadase segera, mungkin karena tahu pikiran semuanya. Aku baru akan bernafas lega, sebelum kecurigaanku muncul saat melihat Tadase tersenyum manis ke arahku.
"Apa?" tanyaku sedikit merasa risih.
"Aku dan lainnya mulai hari Senin. Tapi kau, Fujisaki dan Mashiro-san, tugas kalian adalah hari ini."
"APA?!" tanyaku sekali lagi, hanya saja agak lebih keras. "Yang benar saja! aku men–"
"Tidak bisa. Tsukasa-san yang menyuruh kalian." Tadase buru-buru menyela.
Ukh, dasar orangtua itu. Apa, sih, yang dia pikirkan? Setelah pergi tanpa pesan (aku tahu, tapi pesan di pintu kantornya sama sekali nggak masuk akal) sekarang dia memintaku bekerja di hari libur?
"Memangnya apa yang harus kukerjakan, sampai harus bersama-sama Na-gi-hi-ko?" tanyaku dengan kesal menegaskan tiap suku kata dalam nama si kepala ungu itu.
"Bukan hal yang sulit, kok. Kalian hanya harus menentukan lomba apa yang akan diselenggarakan saat festival olahraga Seiyo Gakuen akhir pekan nanti." Jelas Tadase tetap tersenyum. Lama-lama dia semakin mirip pamannya kalau begitu.
"Oh, festival olahraga rupanya!" seru Kukai bangkit dari keterpurukannya dengan bersemangat. "Nggak terasa sudah hampir musim panas saja."
"Kalau kau semangat sekali, kenapa bukan kau saja yang melakukan tugasku?" ujarku merasa capek hanya dengan melihatnya saja.
Nagihiko yang duduk berhadapan denganku menghela nafas. "Ayolah, Rima-chan... bukankah ini bagus? Kau jago dalam hal olahraga, 'kan?" katanya sambil tersenyun sinis.
Oh, dia menyindirku rupanya? "Oh, Nagi. Justru kau lah yang jago. Iya, 'kan?" ujarku sama sinisnya.
"Aww... sudahlah. Kalian berdua jago, kok." Ujar Amu, tentu nggak menyadari sindiran dalam kata-kata kami. "Lakukan saja, Rima. Setidaknya, untukku. Aku akan senang jika kalian berdua menemukan hal yang menyenangkan dalam tugas kalian."
Kutatap Amu dan menemukan kesungguhan di matanya. Oh, baiklah, ujarku menyerah. Kalau itu bisa meringankan masalahnya dan membuatnya senang, apa alasanku untuk menolak?
Ya, meskipun dalam prosesnya kau harus melakukannya bersama musuh abadimu, kata suara dalam kepalaku.
.
.
.
Nagihiko's
Suasana taman kota Seiyo yang teduh mulai ramai di saat menjelang sore hari seperti ini. Rapat kecil Guardian, yang kebanyakan di isi hanya dengan mengobrol dan mendengar lelucon Kukai selesai sekitar sepuluh menit lalu. Setelah aku dan Rima menyetujui tugas yang diberikan pada kami, aku punya ide tentang apa yang akan kami lakukan. Dan Rima baru saja melakukan perintahku untuk pulang, sementara aku menunggu di bawah sebuah pohon sambil menghitung menit-menit yang berlalu.
"Itu Rima-chan." ujar Temari menunjuk ke gerbang taman.
"Wow, bro, dia berlari lebih baik darimu." Ujar Rhythm sambil mendecakkan lidah.
"Masa', sih?" dari kejauhan, aku menangkap sosok mungil Rima yang datang dengan berlari sambil menggenggam sebuah buku. Dia mengikuti saranku untuk mengganti bajunya dengan kaus dan celana olahraga. Setelah mengamati lajunya yang stabil, kuhentikan hitunganku pada waktu lima menit.
"Ini bukunya?" tanyanya menyodorkan buku di tangannya. Nafasnya sama sekali nggak terengah saat bicara.
"Yup." Jawabku sambil dalam hati merasa kagum dengan kemampuannya. "Baiklah, Rima-chan. Apa kau sudah siap?"
"Siap untuk apa?" tanyanya bingung.
"Berolahraga. Aku baru mengetahuinya setelah bicara dengan Temari, ternyata bertambahnya kemampuan atletikmu itu karena efek dari tertukarnya hidup kita."
"Jadi?"
"Setelah kau memiliki sebagian kemampuan atletikku, kenapa kita nggak mencoba beberapa jenis olahraga saja? Dengan begitu kita bisa menentukan lomba apa yang akan diselenggarakan saat festival olahraga nanti."
"Aku nggak mengerti." Ujar Rima dengan wajah datar. "Kalau aku memiliki kemampuanmu, lalu apa kemampuanku yang kau miliki?"
"Kau 'kan sudah tahu. Rasa humormu, dan kesukaanmu pada Gyagumanga Daioh*1." Jawabku dengan senyum.
"Masa'? coba bala-balance,"
"Baik," kutarik lengannya agar mengikuti poseku. "Bala-balance!" seruku. Rima berganti karakter dengan Kusukusu, dan seketika pipinya dihiasi gambar bintang dan tetesan airmata.
Setelah kami selesai melakukannya, Rima menatapku dengan takjub. "Rupanya kau benar-benar baca Gyagumanga Daioh." Katanya.
"Begitulah." Ujarku menyetujui. "Jadi, ayo lihat kemampuanmu." Dengan tanganku kuisyaratkan dia untuk mengikutiku ke sebuah palang besi setinggi kira-kira satu setengah meter.
"Apa yang kau ingin kulakukan?" Rima bertanya sambil mengamati palang itu dari atas ke bawah.
"Ada di buku ini," kataku lalu membuka buku ditanganku dan memperlihatkannya pada Rima. "Kurasa aku akan menyarankan ini untuk dilombakan."
"Kali... kali apa?" Rima terbata-bata membaca judulnya.
"Calisthenic," ujarku membenarkan. "Artinya latihan kebugaran yang dilakukan tanpa bantuan alat atau beban."
"Meskipun aku nggak mengerti, menurutku kau bodoh." Tukas Rima sambil menghela nafas. "Latihan apa yang bisa dilakukan tanpa bantuan alat atau beban?"
Meskipun dia memiliki kemampuan atletikku, dia tetap nggak tahu apa-apa tentang olahraga. "Lihat palang di atas kepalamu, dong." Aku menjawab dengan menggelengkan kepala. "Pull up. Angkat dirimu naik turun dengan berpegangan dengannya."
"Wah, seperti yang dilakukan orang-orang sirkus, Rima-chan!" kudengar Kusukusu berseru senang.
"Benar, Kusukusu." Sahutku setuju. "Ayo, kita pemanasan. Setelah itu pull up sepuluh kali saja."
.
.
.
Rima's
"Baik, aku sudah sepuluh. Kau berapa, Rima-chan?"
"Tiga puluh, dan masih berlanjut." Sahutku selagi menurunkan tubuhku.
"Apa? Hei, cukup sepuluh!" seru Nagihiko. "Tapi, bagaimana bisa kau sampai tiga puluh?"
"Hup." Aku meloncat turun dari palang. Sedikit keringat menetes di dahiku, tapi aku masih sanggup jika harus pull up beberapa kali lagi. "Entahlah. Ternyata nggak sulit seperti dugaanku sebelumnya."
Nagihiko menatapku dari atas ke bawah sambil menggaruk kepalanya. "Wah..."
Otomatis tanganku berusaha menutupi tubuhku. "A–apa?" tanyaku merasa aneh diamati seperti itu.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan," Nagihiko menukas dan melambaikan tangan di depan wajahku. "Sepertinya kau beruntung memiliki kemampuan atletikku." Ujarnya senyum sombong.
"Apa? Sekarang ini kemampuanku, tahu." Tukasku dengan menjulurkan lidah. "Segitu saja? Apa lagi yang akan kita lakukan?"
"Sombong sekali... tapi, baiklah." Nagihiko membuka bukunya dan membacanya sejenak. "Push up, sit up, dan squat lima belas kali." Jawabnya.
"Kita lihat apa yang bisa kau lakukan kali ini." ujarnya dengan nada menantang.
Kubalas tatapannya tanpa keraguan sedikit pun. "Ya, kita lihat saja." sahutku, merasa yakin bisa lebih dari sekedar melakukannya.
.
.
.
Bukan bermaksud sombong, tapi dalam waktu singkat aku sudah selesai dengan segala macam latihan itu. sementara Nagihiko, yah... masih melakukannya.
"10, 11, 12..." aku menghitung detik yang berlalu, sampai akhirnya Nagihiko berdiri sambil menyeka keringat di pipinya. "Kau terlambat dua puluh detik dariku."
"Nagi-kun kalah oleh Rima-chan!" Kusukusu berseru mengumumkan.
"Wah, wah..." Rhythm menggeleng pada pemiliknya. "Bro, bahkan dia lebih baik darimu dalam... hampir segala hal." Ujarnya terdengar kecewa.
"Kau bisa mengatakannya lagi, Rhythm." Kataku bangga. Ucapan Rhythm terdengar bagai musik di telingaku.
"Berisik. Yang penting bukan seberapa cepatnya," sahut Nagihiko sambil mendengus.
"Alasan."
"Baiklah kalau itu maumu, aku mengaku kalah." Nagihiko berkata dengan pose membungkuk yang dilebih-lebihkan, namun aku menikmatinya. "Kalau begitu, kau setuju kita usulkan ini untuk lomba pada teman-teman besok?"
"Aku oke saja, kalau kau nggak keberatan terus kalah dariku." Ujarku nggak bisa menahan tawaku lebih lama lagi.
"Oke, cukup. Aku muak." Nagihiko melangkah pergi dengan cepat.
"Aww... baiklah, aku minta maaf," kataku seraya menyusulnya. Lalu aku melihat mobil penjual es krim terparkir dekat air mancur di tengah-tengah taman.
"Tapi, aku minta ditraktir es krim sebagai hadiah kemenangan."
Langkahnya terhenti, dan dia menatapku dengan heran. "Kau berusaha menghiburku dengan pura-pura bersikap manis?"
"Dasar nggak tahu terima kasih," kali ini, aku yang dibuatnya kesal. Tanpa menunggunya, kulangkahkan kakiku menuju mobil es krim itu.
.
.
.
Namun di luar dugaanku, Nagihiko tetap membayar es krimku. Matahari mulai menghilang di garis batas langit saat es krimku habis. Jam yang didirikan di seberang kursi tempat kami duduk menunjukkan pukul enam tepat.
"Sudah puas?" tanya Nagihiko selagi aku membuang mangkuk es krimku.
"Sudah."
Nagihiko menatapku agak lama. Kemudian sebelum aku sempat mengelak, dia sudah mengambil saputangan dari sakunya dan mengusapkannya ke pipiku.
"Ada es krim di situ." Katanya.
"O–oke..."
"Nagi-kun manis sekali!" bisik Kusukusu di telingaku.
"Diamlah, Kusukusu." Perintahku, lalu segera menepis tangan Nagihiko. "Sudah hilang, 'kan?
Dia tertawa kecil sebelum menjawab. "Sudah. Dan, terima kasih pujiannya, Kusukusu." Ujarnya lalu mengelus kepala Kusukusu. Kuamati wajah Kusukusu dihiasi rona kemerahan.
"Dasar tukang rayu," gerutuku lalu beranjak dari tempatku duduk untuk pulang. Masa bodoh Nagihiko mau ke mana.
Tiba-tiba dia melesat melewatiku. "Yang sampai rumah terakhir berarti pecundang!" serunya lalu berlari meninggalkanku.
"Hei, kau curang!" jeritku lalu berlari secepatnya. Setelah memahami kemampuan baruku, lomba lari sepertinya bukan masalah besar.
Benar saja, di persimpangan menuju blok rumah kami aku sudah berhasil menyusulnya. "Heh, kau salah lawan!" ejekku begitu melewatinya sambil menoleh kebelakang.
Dia terlihat kesal. Namun tahu-tahu dia menunjuk ke arah depan. "Awas, Rima-chan! Ada lubang di..."
Sepatuku terantuk retakan tanah, dan tubuhku terhuyung ke bawah. Beruntung aku sempat menumpukan tanganku di dasar lubang, meskipun tanganku sakit karenanya. Setidaknya jatuhku nggak parah.
"Dasar bodoh! Karena itulah, jangan berlagak!" seru Nagihiko lalu berlari menyusulku.
Di kepalaku terlintas sebuah ide."Oh, tolong aku!" seruku pura-pura terdengar kesakitan.
Begitu Nagihiko melangkah mendekati kakiku, kuluruskan kakiku di depannya. Dan segera saja dia kehilangan keseimbangan. "Apa–"
Dalam hati aku menghitung saat-saat dia akan mencium aspal. Namun dia jatuh lurus ke atasku, bukannya ke aspal. Tenggorokanku tercekat saat berkata, "Apa–"
Ucapanku terputus saat wajah Nagihiko terhenti hanya beberapa senti dari wajahku. Dia berhasil menopang tubuhnya dengan siku. Nafasnya yang terasa hangat menerpa pipiku.
Aku nggak tahu apa yang harus kukatakan, atau kulakukan sekarang. Bibir kami sama-sama tertutup. Otakku lebih sibuk memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi, dari pada mencari cara keluar dari situasi ini.
"Aku menahan diriku untuk menciummu, Rima-chan." kata Nagihiko tiba-tiba.
Mataku mengerjap karena ucapannya. "Kupikir kau akan menciumku." Ujarku jujur.
"Kau lupa aku bukan orang yang suka mengambil kesempatan?" ujarnya lalu menarikku berdiri perlahan. "Kau nggak apa-apa, 'kan?"
Kubersihkan debu dari pakaianku dengan menepuk-nepuknya. Rasanya itu lebih baik daripada menatapnya. "Iya." Sahutku singkat.
"Rima-chan, Nagihiko. Apa yang kalian lakukan?"
"Ma–mama?" adalah kata pertama yang kutemukan untuk bereaksi pada pertemuan nggak diduga ini.
Entah sejak kapan, tapi begitu aku berpaling sudah ada mobil keluarga berwarna perak kulihat terparkir di pinggir jalan. Suara wanita dewasa yang memanggil dari belakangku sama sekali nggak asing buatku, karena mamaku yang sesungguhnya lah yang keluar dari situ.
Setelah secara nggak sengaja menoleh pada Nagihiko, tatapan matanya yang melotot membuatku sadar aku sudah salah bicara. Baru saja aku membuka mulut hendak meralat kata-kataku, tapi papa sudah keluar dari mobil sambil sibuk berkutat dengan peralatan pancing.
"Wah, Rima-chan, aku mengerti kau adalah pacarnya Nagi. Tapi kurasa umurmu terlalu cepat untuk memanggil istriku dengan sebutan Mama," ujarnya dengan senyum jahil.
Jika mungkin, wajahku yang sudah memerah setelah 'insidenku' dengan Nagihiko barusan sepertinya bertambah parah sekarang. "Ah, m–maafkan aku! Aku nggak bermaksud–"
"Tidak apa-apa, Rima-chan. Hiroshi, berhentilah menjahili gadis itu." sela mama dengan senyum padaku, lalu dengan tatapan mengancam pada papa yang mirip dengan tatapanku.
"Dan, apa yang terjadi, anak muda, kalau aku boleh bertanya?" dia lanjut bertanya pada Nagihiko.
"Ehm, Rima-chan tersandung... jadi aku membantunya berdiri," sahut Nagihiko terdengar gugup.
Aku tercengang atas reaksinya itu. Selama ini, aku belum pernah melihatnya gugup. Apalagi melihatnya tertunduk menatap sepatunya sambil menendang-nendang kecil, dia terlihat seperti remaja yang ketahuan bermesraan dengan pacarnya.
Atau memang situasi kalian barusan bisa dibilang bermesraan, ujar suara kecil dalam kepalaku. Kugelenggkan kepalaku untuk mengenyahkannya. Akhir-akhir ini pikiranku sepertinya nggak mau mendengarkanku.
"Baiklah, nak. Jangan gugup begitu. Hal yang bagus kalau kau benar-benar melakukannya," ujar papaku menepuk-nepuk kepala Nagihiko. Kemudian dia menatapku dengan wajah serius. "Dia tak berbuat macam-macam denganmu 'kan, Rima-chan?"
"T–tentu saja tidak!" Nagihiko menukas lebih dulu. Dari sebelahku, kudengar suara tawa tertahan para Chara.
"Sudah-sudah. Papa, Nagihiko, ayo pulang." Ujar Mama tegas sambil bertepuk tangan. "Sebentar lagi makan malam, dan papa berhasil menangkap banyak ikan untuk dimasak nanti."
"Wah, sup miso*2 kedengarannya enak. Bagaimana menurutmu, Rima-chan?" tanya papa.
Pertanyaan tiba-tiba itu membuatku bingung. "A–aku?"
"Ya. Bagaimana menurutmu, jika kami mengundangmu makan malam?"
Aku nggak yakin makan malam bersama mereka adalah ide bagus. Situasi yang berubah aneh ini sama sekali diluar dugaanku. "Ah, maaf, Mashiro-san. Tapi setelah ini aku harus berlatih menari..." jawabku mencoba menolak dengan sopan.
"Dia benar, Hiroshi. Kita tak bisa tiba-tiba mengundangnya makan malam, 'kan?" mama mengangguk setuju. Aku menghela nafas lega karena alasanku berhasil.
Itu sampai mama lanjut berbicara, "Sebaiknya kita mengundang Rima-chan besok, jadi dia bisa meminta izin pada orangtuanya dulu."
"Aku..." aku menatap Nagihiko untuk minta bantuannya. Tapi dia hanya mengangkat bahu. Sambil menjaga sikapku agar tetap sopan, aku harus berusaha membuat kedua orang yang tadinya orangtuaku itu mengerti. "Tapi aku nggak yakin–"
"Oh, jangan menolak, Rima-chan. Kau akan membuatku kecewa," sela mama sambil meletakkan telunjuknya di bibirku. "Lagipula aku kenal ibumu. Dan dia akan mengizinkanmu absen dari latihan menarimu besok, jika kau minta."
Aku nggak bisa memutuskan untuk menyetujui ataupun menolaknya. Semua hal ini sepertinya membuat otakku berhenti bekerja mencari alasan. Apalagi setelah melihat tatapan penuh harap mereka, membuat semuanya semakin sulit.
Jadi dengan berat hati dan senyum terpaksa, aku berkata, "Kurasa aku akan mencoba meminta persetujuan dari ibuku,"
Dan setelah melihat antusiasme di wajahnya, dalam hati aku bertanya dengan was-was;
Apa aku dalam masalah sekarang?
~Author Speech~
Vices: So, how was that? Sekali lagi gue update double chapter untuk nebus absennya gue beberapa waktu lalu. Seperti biasa, gue tetep minta kesediaan kalian buat RnR, dan apa aja sesuka kalian! L'Vices, over and out!
1: Itu, lho. manga favorit Rima, yang disukai Amu dan Yaya juga. Inget waktu Rima berubah karakter pertama kali?
2: Sup dengan bahan dasar tahu. Ada juga yang pake ikan
