Disclaimer and Warning

Kan udah di chapter sebelumnya -_- tapi gue cuma bisa bilang, siapapun yang ngaku-ngaku punya Shugo Chara gue sumpahin orangtuanya naik haji (nggak boleh doa yang jelek-jelek)


Rekomendasi Lagu:

We the Kings - Check Yes Juliet

Alasan:

Udahlah, Rima. Jawab aja 'iya' kenapa, sih?


Chapter 11

Hard Times for Nagihiko Mashiro

Rima's

"Rima?"

Tepat saat blus polos warna peach-ku selesai kukenakan, terdengar ketukan pelan di pintu kamarku disusul suara panggilan lembut wanita yang mulai familiar denganku. "Silakan masuk, kaa-san." Ujarku menyahut.

Ibu baruku dengan anggunnya melangkahkan kaki dengan praktis. Dan seketika itu saja, dia sudah menutup pintu lalu berdiri di hadapanku. "Sudah selesaikah kau berganti baju?"

Kuperiksa setelan kimono tariku, untuk memastikannya sudah terlipat dengan rapi. "Sudah."

"Bagus. Kalau begitu, ayo kita makan malam. Kutunggu." Ibuku mengangguk singkat, kemudian berbalik dan keluar.

Aku tertegun. Kesan yang ditimbulkannya saat masuk dan keluar barusan, entah kenapa terlalu formal bagiku. Bukan berarti aku nggak paham kalau keluarga Fujisaki punya kecenderungan yang aneh terhadap tata krama. Tapi aku merasa aura yang terkandung dalam sikap dan kata-katanya itu terasa agak... mengintimidasi.

"Rima-chan? Kok bengong?" tanya Kusukusu dengan wajah penasaran.

"Ah, nggak apa-apa." sahutku singkat kemudian keluar kamar. Sepanjang perjalanan melalui koridor, dalam hati aku menduga, pasti ada sesuatu yang mau dibicarakan ibuku.

Setelah mengangguk singkat pada Baaya yang menyambutku di pintu ruang makan, sosok Nyonya Fujisaki yang duduk dengan tegap membuat dugaanku barusan semakin kuat. Hawa dingin mendera sekujur tubuhku ketika bertemu mata dengannya seraya menarik sebuah kursi untuk duduk..

Baru saja kuulurkan tanganku untuk mengambil cangkirku yang berisi susu, dia berdehem mengagetkanku. "Rima, ada yang ingin kubicarakan." Ujarnya.

"A–apakah itu, kaa-san?" tanyaku berusaha menjaga kepanikanku nggak muncul ke permukaan.

Diluar dugaanku, wajah ibuku tenang-tenang saja. Bahkan seulas senyum terkembang di wajahnya. "Sebelum itu aku mau bertanya..." katanya, lalu berhenti sejenak untuk menarik nafas.

"...jadi benar Mashiro Nagihiko-san adalah, ehm... kekasihmu?"

Aku tersedak susu yang kuminum, sampai rasanya tenggorokanku jadi sakit. Ternyata dugaanku benar, pertanyaan ini akan muncul cepat atau lambat. Dengan hati-hati kutatap wajahnya, untuk memastikan jika seandainya dia bercanda. Tapi sebelah alisnya yang terangkat menunjukkan bahwa dia menunggu jawabanku.

"Bisakah pertanyaan ini kita lanjutkan nanti? Makan malam kita akan segera dingin, kaa-san," ujarku sambil pura-pura menatap kagum hidangan di meja, berharap itu akan mengalihkan perhatiannya.

"Jawab, nak. Sekarang."

Perintahnya membuatku meringis cemas. "Apa hal ini begitu penting?" aku memberanikan diri bertanya.

"Dengan peraturan yang berlaku di Seiyo, itu sangat penting."

Setelah menyembunyikan desah kekesalanku, kupikir nggak ada gunanya mencoba menghindar. "Ku–kurasa, jawabanya adalah... iya," jawabku, setengah jujur.

Kuperhatikan ekspresi wajahnya. Aku sedikit khawatir jika berita ini menimbulkan kemarahan padanya. Namun dia hanya diam sambil terus menatap tajam padaku.

Itu sampai dia mulai bertepuk tangan dengan gembira, dan senyumnya yang tadi melebar. "Nah, mudah, bukan? Jawaban yang bagus, nak!" ujarnya riang.

Aku melongo di kursiku. Apa yang kukira akan terjadi, ternyata berbanding terbalik. "Kaa-san tak marah?" tanyaku bingung.

"Oh, tentu saja tidak." Ujarnya mengibaskan tangan dengan anggun. Sikap riang yang jarang ditunjukkannya padaku, membuat sosoknya yang elegan terlihat semakin mengagumkan.

"Kau tahu, berita ini adalah hal baik untukku," lanjutnya setelah menyesap tehnya. Dia terlihat lebih santai dari sebelumnya. "Aku sudah lama mengenal Mashiro-san, dan keluarganya adalah keluarga baik-baik. Sangatlah menggembirakan mendengar hubungan kalian berlanjut ke tingkat yang lebih serius."

"Begitukah?" hanya itu yang bisa kukatakan, di saat aku nggak bisa memutuskan bagaimana harus bersikap.

"Ya, begitulah. Dengan adanya peraturan yang mengatur tentang hubungan seseorang, adalah hal penting bagimu untuk memiliki pasangan." Jawabnya, lalu menuangkan sukiyaki ke dalam mangkukku. "Aku senang rumor tentang hubungan kalian yang penuh pertengkaran ternyata salah."

Yeah, tunggu saja jika kebetulan kau mengetahui rumor itu ternyata benar, gumamku dalam hati. Dengan enggan kutatap mangkuk di tanganku, dan mulai kehilangan selera makan setelah semua pembicaraan ini. Sedikit rasa bersalah menghinggapiku, saat teringat aku telah membohongi wanita yang menurutuku baik ini.

"Oh, dan ibu Mashiro-san menelepon tadi. Dia bertanya, apakah aku akan mengizinkanmu makan malam bersama mereka."

Bahkan tanpa meminum susuku, aku tersedak lagi. "La–lalu, apa yang kaa-san katakan?" tanyaku cemas. Disaat aku berharap agar hal ini gagal kusampaikan, dewa keberuntungan berkata lain.

"Tentu saja aku mengizinkan, sayang. Tidaklah sopan bagi keluarga Fujisaki menolak keramah-tamahan yang ditawarkan seseorang, bukan?" jawabnya penuh semangat.

Ucapannya kemudian sama sekali nggak kedengaran di telingaku. Bahkan Kusukusu, yang langsung bersalto dengan girang nggak kupedulikan.

"Eh, baiklah kalau begitu." Ujarku, lalu langsung pamit untuk tidur setelahnya, tanpa mempedulikan apakah sopan atau nggak pergi sebelum mendapat persetujuan si Nyonya yang bersemangat itu.

Hal terakhir yang ingin kulakukan di dunia penuh omong kosong ini adalah, makan malam bersama... ukh, kalian sudah tahu pasti siapa dia!

.

.

.

"...jadi tanggung jawab untuk mempersiapkan bahan-bahan dekorasi akan diserahkan padaku dan Amu-chan. Lalu cabang olahraga yang sudah disetujui..."

Pada suhu di awal musim panas ini, bahkan di dalam Royal Garden, yang notabene adalah rumah kaca, aku masih bisa mengantuk. Ocehan Tadase yang memerintah di sana-sini hanya lewat sekilas di kedua telingaku. Di atas meja, kubaringkan kepalaku yang terasa berat, lalu menguap.

"Fujisaki!"

"Hah?! Apa, sih?" sahutku tersentak kaget. Di hadapanku, Kukai berdiri dengan tangan terlipat.

"Kau dengar apa yang dikatakan Tadase, nggak, sih?" tanyanya geram.

"Ng... tentang Gyagumanga Daioh edisi terbaru?" tebakku asal.

Amu yang duduk di depanku menghela nafas. "Rima, kau kurang tidur, ya? Dia bicara tentang tugasmu dan Nagi untuk melaporkan cabang olahraga pada Tsukasa." ujarnya menjelaskan.

Dengan malas kukembalikan posisi dudukku seperti semula, bersandar. "Yah, suruh Nagihiko saja, sana. Aku memang kurang tidur."

"Kenapa?" aku menoleh dan melihat Nagihiko yang duduk dengan kursi terbalik disebelahku.

Percakapanku dengan ibuku semalam menyeruak di benakku, dan seketika aku merasa risih dengan kehadirannya. "Apa hakmu untuk bertanya, budak?" sahutku kesal.

Ekspresinya nggak berubah, namun kekesalannya begitu terasa saat berkata, "Apa suasana hatimu begitu buruk, sampai membuatmu masuk ke mode menyebalkanmu sekarang?"

"Nggak, aku hanya mengantuk." Jawabku apa adanya. "Tapi aku memang menyebalkan, hanya denganmu."

"Wow, pertengkaran kekasih! Aku selalu suka melihat ketegangan seperti ini!" seru Kukai menyengir lebar.

"Kukai, jangan menambah api!" Amu menyela kesal. Kemudian, bel tanda istirahat berbunyi nyaring.

"Nah, sekarang aku dan Amu-chan akan pergi berbelanja. Sementara itu, silakan kerjakan tugas kalian masing-masing." Tadase mengumumkan, kemudian mengedarkan lembaran kertas satu-persatu pada kami.

"Apa ini?" tanyaku setelah melihat kertas di tanganku.

"Itu proposal yang harus kau dan Mashiro-san berikan pada Tsukasa-san untuk ditanda tangani." Jelasnya kemudian menggamit tangan Amu. "Kalau begitu, kami pergi dulu."

"Tunggu!" seru Kukai dengan tangan terangkat. "Aku? Apa tugasku?"

Tadase menggaruk belakang kepalanya pelan. "Ng... bukankah di situ tertulis jelas? Kau bertugas mendaftarkan klub-klub olahraga sekolah kita yang berminat."

"Oh, ya. Tugas seorang ketua kesiswaan bidang olahraga!" kata Kukai tersenyum bangga. "Kalau begitu, jaa, ne!" serunya kemudian berlari keluar Royal Garden secepat kilat.

Lewat mataku yang mengantuk, aku menyadari Nagihiko yang berbalik menatapku saat baru mengambil beberapa langkah. "Dan, apa yang kau lakukan?" tanyanya.

"Kau nggak lihat aku mencoba tidur?" geramku lalu menyambar tasku untuk menjadikannya sebagai bantal.

"Jangan aneh-aneh," ujarnya tiba-tiba saja menarikku berdiri. "Kau pikir aku akan membiarkanmu bersantai, sementara aku bekerja?"

"Bukankah itu yang disebut Yamato Nadeshiko? Sang wanita menunggu dengan sabar di rumah, sementara laki-laki bekerja keras?" aku sedang nggak ingin meluapkan kemarahanku dalam kondisi begini. Jadi sebaliknya, menjawab dengan nada sinis yang tersembunyi dalam kalimat manis bagiku lebih hemat tenaga.

Namun sejenak aku tertegun. Apa aku salah lihat? Karena rasanya sesaat kulihat wajah Nagihiko memerah. Namun dia cepat-cepat menggeleng. "Ja–jangan aneh-aneh!" serunya lalu berpaling dan pergi.

Apa, tuh? Tanyaku dalam hati, seraya mengikutinya dari belakang dengan penasaran.

.

.

.

Nagi's

"Baik. Kerja bagus, Fujisaki -san, Mashiro-san." ujar Tsukasa setelah selesai menandatangani proposal yang kuajukan. "Kalau begitu, kurasa sekarang saatnya merangkum semua informasi kalian tentang 'itu'?" tanyanya setelah duduk dengan santai.

"Ya." Jawabku bersemangat. Namun aku bingung saat menatap Rima yang hanya duduk bersandar dengan tangan menopang kepalanya.

Tsukasa sepertinya menyadarinya. "Ada apa, Mashiro -san?" dia bertanya pada Rima dengan menggunakan namanya yang benar.

Rima buru-buru memperbaiki posisi duduknya dan menyahut, "Ah, nggak. Aku hanya letih..."

Memang benar. Karena setelah kuamati, dia terlihat lesu sekali. Bahkan saat topik tentang masalah kami dibicarakan, semangatnya yang biasa nggak muncul. Padahal kami akhirnya bisa bertemu Tsukasa setelah kepergiannya ke India.

"Kurasa itu karena kau kurang tidur, Rima-chan." kataku dengan kekhawatiran yang nggak dibuat-buat.

Rima melemparkan tatapan kesal sekilas padaku. "Terima kasih karena sudah mengatakan hal yang sudah jelas."

"Nah, kelihatannya Mashiro-san sudah kembali ke kondisinya yang biasa," ujar Tsukasa terdengar geli. "Kalau begitu, biar aku luruskan informasi kalian. Jadi, bukan roller coaster itu yang mengabulkan permohonan kalian?"

"Yup." Sahutku.

"Dan pemilik taman bermain itu sama sekali tak mengetahui apa-apa tentang Embrio?"

"Yup."

"Lalu, nama asli dari Tenshi atau Angel, adalah Kanade Tachibana?"

"Maaf?" Pertanyaanya yang satu itu membuat sebelah alisku terangkat.

"Oh, maaf. Aku hanya teringat episode terakhir anime yang baru kutonton." Tsukasa meralat sambil tertawa kecil. Setelah berhasil mengembalikan sikapnya, dia berdehem. "Apa sudah semua? Itu saja yang berhasil kalian pahami dari 'petualangan' kalian?"

"Sebenarnya masih ada lagi," jawabku begitu teringat tentang apa yang aku dan Rima dapat di dunia ini. "Coba jelaskan, Rima-chan."

Rima menggeleng pelan tanpa merubah posisi duduknya. "Kau saja lah, Fujisaki..." ujarnya pelan.

"Tapi akan lebih jelas jika kau yang melakukannya." Kataku heran melihat sikapnya yang malas-malasan itu.

"Nggak apa-apa, Nagi-kun. Biar aku yang menggantikan Rima-chan." ujar Kusukusu tersenyum padaku. Aku mengangguk setuju, karena nggak ada lagi yang bisa dilakukan.

.

.

.

Tsukasa mengangguk-angguk setelah penjelasan panjangku dan Kusukusu berakhir. Tatapannya kemudian tertuju pada Rima, yang ternyata telah tertidur. Kucoba membangunkannya, namun Tsukasa menggeleng. Akhirnya kubiarkan saja dia, lalu menunggu apa yang akan dikatakan Tsukasa.

"Itu sudah pasti. Jika hidup kalian tertukar, adalah hal yang wajar jika kalian memiliki sedikit dari kepribadian masing-masing," kata Tsukasa menjaga suaranya tetap pelan, agar nggak membangunkan Rima. "Lagipula, sepertinya itu adalah hal yang bagus, bukan?"

"Tentu saja! Namun ada satu hal selain itu–" Kusukusu segera menghentikan ucapannya yang keras saat Tsukasa mendesis dengan telunjuk di bibir. "Maaf. Aku bicara soal pancaran diri Rima-chan,"

"Oh, ya? coba jelaskan padaku." Ujar Tsukasa dengan antusias.

"Jadi, beberapa hari yang lalu Rima-chan mencoba melakukan apa yang jadi kebiasaan Nagi-kun..." Kusukusu mulai menjelaskan, kemudian merentangkan tangannya ke atas dengan bersemangat. "Dan, 'bum!'. Dari dalam dirinya memancar cahaya yang seperti ledakan!"

"Begitukah? Apa kebiasaanku yang dilakukannya?" aku bertanya penasaran.

"Seperti menari, bermain basket, bahkan mengikuti les yang membosankan." Jawabnya sambil menari berputar-putar. Semangatnya membuatku geli, berbanding terbalik dengan pemiliknya.

Tsukasa tertawa sebelum berujar. "Sepertinya aku mengerti maksudmu, Kusukusu." Kemudian tatapannya beralih padaku. "Kau ingat saat Daiya, Chara milik Hinamori-san, meninggalkannya pergi pada Hoshina-san?"

Ingatanku melayang ke masa-masa aku dan para Guardian duduk di kelas enam. Amu pernah menceritakannya, dan dia sangat terpukul karenanya. "Ya. Amu bilang, Daiya meninggalkannya karena dia tak cukup bercahaya." Jawabku.

Tsukasa mengangguk. "Dan kau ingat, apa tepatnya yang membuatnya memutuskan untuk kembali pada Hinamori-san?" tanyanya lagi.

Kali ini, butuh waktu lebih lama bagiku untuk mengingat. Karena meskipun aku ada di sana secara kebetulan saat kepulanganku dari Eropa, aku nggak tahu apa tepatnya yang membuat Daiya memutuskan untuk kembali. Para Chara pun mengangkat bahu mereka saat kutanyakan.

"Dia kembali karena Amu jujur dan percaya pada dirinya sendiri." ujar seseorang dari arah pintu. Sosoknya yang bercahaya memancarkan aura seseorang yang dikenal dan dipuja banyak orang.

"Nih, formulir pendaftaran klub olahraganya. Sejujurnya, aku bahkan nggak tahu kenapa aku melakukan ini!" Utau berjalan menghampiri meja kerja Tsukasa sambil bersungut-sungut. Dia membanting begitu saja lembaran kertas ke atas meja, lalu memberi anggukan singkat saat bertemu mata denganku.

"Terima kasih, Hoshina-san. Tapi omong-omong, kenapa kau yang menyerahkannya?" tanya Tsukasa sambil menyingkirkan tumpukan itu ke samping agar bisa memandang Utau.

Utau menarik nafas panjang, sebelum mulai mengoceh sebal. "Kukai menelepon. Dia mengatakan sesuatu tentang membeli gawang sepakbola baru, dan bilang dia meninggalkan sesuatu di resepsionis studioku. Begitu aku mengeceknya, kertas-kertas ini ada di sana. Dan dia minta aku membawakannya padamu."

Ya ampun, Kukai. Laki-laki yang berani-beraninya menyuruh seorang idol untuk menggantikannya membawa formulir pendaftaran sepertinya hanya dia seorang. Tapi ada hal yang lebih kukhawatirkan daripada kegusaran si penyanyi yang baru datang itu. "Ano, Utau-chan, sejak kapan kau tiba?"

"Saat Tsukasa bertanya padamu tentang masalahku dan Amu dulu," jawabnya ringan, dan membuatku bersyukur dia nggak mendengar tentang hidupku dan Rima yang tertukar.

"Apa itu chibi yang tertidur?" tanya Utau menunjuk Rima.

Aku mengangguk. "Ya. Dia bilang dia kurang tidur semalam," jawabku, bertanya-tanya kenapa Utau terus memanggilnya chibi.

"Oh," gumamnya pelan. "Omong-omong, kenapa kalian tiba-tiba bernostalgia tentang aku dan Amu? Kalian membicarakan hal yang buruk tentangku, ya?" tanyanya dengan nada mengancam yang ditujukan padaku.

"Tidak, Hoshina-san. Lagipula, kau hampir tak punya hal buruk yang bisa dibicarakan sejauh aku mengenalmu." Tsukasa menyahut dengan tersenyum, dan berhasil membuat Utau kembali tenang. "Kami membicarakan tentang sinar hati milik... Fujisaki-san."

Utau memandang Rima dengan tersenyum. "Begitukah? Memang dia terlihat bercahaya bagiku." Ujarnya.

Kemudian dengan mata menerawang ke atas dia bergumam, "Amu memang pantas memiliki Daiya, karena sinar hatinya lebih kuat dariku. Tapi chibi, rasanya dia bersinar karena memilikimu di sisinya, Mashiro."

Aku nggak begitu mengenal orang ini, tapi apa yang dikatakannya terdengar sungguh-sungguh. "Arigatou, Utau-chan." Kataku merasakan kehangatan karena pujiannya itu.

"Nah, kalau begitu sudah jelas!" Tsukasa mengumumkan tiba-tiba.

Aku yang masih bingung mencoba mencari penjelasan lewat ekspresi wajah para Chara, siapa tahu mereka ternyata mengerti maksud perkataannya. Namun kelihatannya, apa yang mereka pikirkan sama denganku. Belum lagi Utau yang nggak tahu masalahnya sama sekali, menatap Tsukasa seakan dia bicara bahasa lain.

"Apanya yang sudah jelas?" tanya kami berbarengan.

"Ya, pokoknya sudah jelas." Sahut Tsukasa tersenyum senang. Kemudian setelah menoleh ke arah jam dinding di belakangnya, Tsukasa bangkit menghampiriku untuk menyalamiku. "Kalian mengerti apa yang kukatakan, bukan?"

"Tentu saja tidak. Apa yang kau katakan hanyalah 'sudah jelas'." Jawab Utau lalu menatapku dengan geli.

"Yah, Mashiro -san yang akan mengerti nantinya. Sekarang pergilah, selagi jam istirahat belum berakhir." Ujarnya kemudian menarikku bangkit, dan menunjuk Rima.

"Pergilah makan. Aku yakin Fujisaki-san butuh asupan energi yang cukup dalam kondisi seperti itu." lanjutnya menjelaskan, mengisyaratkan untuk membangunkannya saat aku menatapnya bingung.

Apa maksud dari tindakan tiba-tibanya ini? Rasanya sama saja seperti dia mengusirku. "Ta–tapi aku–"

"Iya, aku tahu. Petunjuk, bukan?" sela Tsukasa cepat. "Mudah saja. Jalani hidup kalian seperti biasa, dan jangan khawatirkan apapun. Biarkan semuanya mengalir seperti air."

"Mengalir seperti air?" tanyaku sambil menggaruk belakang kepalaku yang tiba-tiba saja terasa gatal.

"Ya begitulah caranya," jawab Tsukasa kelihatan nggak sabar, lalu mendorongku ke arah Rima. "Bangunkan dia." Perintahnya.

Aku menatap ragu pada Rima yang tertidur di kursinya. Kupalingkan wajahku untuk menatap Tsukasa, yang menunggu sambil tersenyum padaku. Akhirnya dengan helaan nafas berat, kusentuh bahu Rima pelan.

Kelopak matanya terbuka perlahan, menampilkan warna matanya yang berkilau bahkan di ruangan dengan cahaya temaram seperti ini. "Ada apa, Nagihiko? Sudah selesaikah?" tanyanya dengan suara lirih.

Aku menelan ludah karena tenggorokanku terasa tercekat. Sesuatu dalam caranya bicara membuatku gugup. "Ah, i–iya," jawabku susah payah. "Dan aku mendapat informasi baru dari Tsukasa."

Rima menutup mulutnya yang menguap dengan tangan, kemudian meregangkan tubuhnya sejenak. "Baguslah. Ayo kita pergi, kalau begitu." Katanya setelah duduk tegak.

Sebelah alisku terangkat saat melihatnya masih di kursinya. "Berdirilah. Mana bisa kita pergi kalau kau masih duduk di situ?"

"Aku lelah. Gendong aku, ya?"

Aku benar-benar terlonjak di tempatku berdiri. Bahkan para Chara mengeluarkan suara tercekat kaget setelah Rima bicara begitu. Aku nggak tahu apa yang Rima pikirkan, sampai bisa meminta hal seperti itu padaku. Namun saat menoleh pada Tsukasa dan Utau, mereka memberiku tatapan memerintah.

"Lakukan saja. Kita tak akan membiarkan chibi kelelahan, 'kan?" ujar Utau dengan senyum tipis yang terlihat mirip dengan milik kakaknya.

Sesaat, aku merasakan ancaman dalam kata-katanya. Setelah memastikan sekali lagi, dan tahu bahwa dia nggak bercanda, dengan segala keberanian yang kupunya aku berjongkok membelakangi Rima.

"A–ayo,"

"Asyik." Rima berkata dengan senang, kemudian merayap naik ke punggungku. Sebisa mungkin, aku mencoba berdiri tanpa terhuyung. Memikirkan Rima yang berada di punggungku...

Nggak, bersikaplah biasa. Anggap saja yang dipunggungmu itu sebuah karung, ujarku pada diri sendiri.

"Arigatou, Tsukasa. Dan, oh, hai, Utauuu~" ujar Rima saat kami keluar dari kantor Tsukasa, kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku dan menguap.

Entah benar atau nggak, aku merasa yakin, di belakang sana mereka sedang menyeringai senang.