~Author Speech~

Vices: Ah, hai, minna! Seneng ketemu kalian lagi :) Maaf karena udah bertingkah laku kayak hantu selama sebulan lebih ini, muncul dan hilang semaunya. Meski mungkin kalian nggak ngerasa perlu, gue tetep harus jelasin apa alasannya. Begini, laptop gue ini kan milik bersama... nah, pasti kemungkinan kena virusnya gede, 'kan? Itulah yang terjadi, virus-virus sialan itu bikin laptop gue nggak bisa nyala, file gue crash, dan chapter fic yang tinggal dipublish semuanya ilang -_-

Rima: Gue mencium bau alasan palsu di sini

Vices: Nah, yang kayak gini kalo di dunia nyata pasti banyak musuhnya, nih. Gue ngomong jujur dibilang palsu -_-

Rima: Nggak apa-apa juga, sih. Gue nggak butuh temen

Amu: Ah, tapi terakhir kali kamu nginep di rumahku, kok kamu keliatan seneng banget?

Rima: Iih, ngapain diumbar-umbar sih! *blush*

Vices: Oke, cukup. Sekarang udah jelas siapa yang penuh kepalsuan di sini. Nah, sekarang saatnya baca review! Daiya-chan, anda betah banget sih jadi reader peringkat satu favorit saya? Well, cukup gombalnya. Pendapat Daiya-chan tentang ucapan nyeleneh Tsukasa itu emang saya tungguin banget. Jujur saya baru nambahin adegan itu di menit-menit terakhir, dan saya bersyukur Daiya-chan suka :) Lanjut, Amu!

Amu: Ah, iya! Hai, Fuka-desu. Kita baru pertama kali ketemu, ya :) Pendapatmu soal sifat Rima yang tsundere, aku aja baru tahu kalo dia punya sifat begitu. Seperti yang kamu tahu, dia biasanya 'kan irit omongan, ya?

Rima: Iya. Dan yang tsundere itu harusnya kamu.

Amu: Bberisik, ah! Lalanjut. Eh, omong-omong pengamatanmu bagus juga, ya. Aku juga nggak nyangka Rima bisa ngucapin kalimat yang sesensitif itu. Rima, kalo kamu mengibaratkan dirimu sebagai Yamato Nadeshiko-nya Nagi, itu sama aja kamu ngegombalin dia! Pantes aja Nagi langsung salah tingkah begitu

Vices: Yah, Jauh di lubuk hatinya mungkin dia emang pengen banget nikah sama Nagi, kali

Rima: Yayang bener aja! Lanjut baca review aja, nggak usah ngelantur, deh! Oh, lo dapet reader baru, tuh. Namanya Angel R'M'A'N'F. Kalo liat inisial nama belakangnya, pertanda buruk buat gue ini ,sih...

Vices: Lah, dia kok pasrah gitu, sih? Yaudahlah, Angel-san, nggak usah ditanggepin. Saya bener-bener seneng atas kesedian Angel-san mampir ke sini :) Makasih atas pujiannya, dan terus dukung saya ya!

Oh, iya. Spesial buat Daiya-chan, saya sengaja pilih update hari ini karena mempertimbangkan jadwal sekolah Daiya-chan yang padat. Jadi Daiya-chan bisa baca fic ini setelah selesai sekolah, sambil istirahat :) Oke, berhubung gue punya temen baru, gue mau dia yang roll chapternya. Please Welcome, Sule Sutisna!

Sule: Di sini aja

Vices: Salah! On The Go -_-


Disclaimer

Peach-pit sensei lah yang dianugerahi hak cipta Shugo Chara! Karena emang mereka yang bikin. Juga para musisi handal yang tercantum di bawah lah orang-orang berbakat pencipta lagu yang gue rekomendasiin

Warning

Mengingat apa yang terjadi, jadwal updatenya lah yang jadi alasan nomor satu kenapa kalian nggak boleh baca fic ini. Selain itu ada alur yang ngaco, EYD yang masih perlu dikoreksi, dan scene romance yang kekanakan


Chapter 12

Hard Times for Rima Fujisaki

Kira-kira Feelnya Mirip Sama Lagu:

Modern Baseball - Fine, Great

Alasan:

Rima gugup! Baru kali ini kalian lihat dia begitu, 'kan?


Rima's

"Eh, kalian lihat yang tadi, 'kan?"

"Serius!? Ya ampun, romantis sekali!"

Suara bisikan pembicaraan menjadi hal pertama yang memasuki telingaku. Kemudian pemandangan kantin yang ramai menyambutku ketika membuka mata, dan membuatku sadar kalau aku baru saja tertidur. Hal terakhir yang kuingat adalah mendatangi Tsukasa bersama Nagihiko dan membicarakan beberapa hal dengannya. Yah, lebih tepatnya si kepala ungu itu yang berbicara dengannya.

Tapi–astaga, kenapa perlu waktu lama bagiku untuk benar-benar sadar? Jika aku tertidur di tengah pembicaraan, bagaimana caranya aku sampai ke sini?

"Sudah bangun rupanya, sleeping beauty?"

Pipiku menabrak sesuatu yang dingin saat menoleh. Ketika kulihat, Nagihiko berdiri dengan tangan mengulurkan sebotol jus jeruk. "Ini. Agar kau lebih segar." Katanya.

Dengan ragu kuambil botol itu dari tangannya seraya mengamatinya menduduki bangku di hadapanku. "Sejak kapan aku ada di sini?" tanyaku merasa nggak perlu berbasa-basi, apalagi berterima kasih.

Dia menunduk memandangi jam tangannya. "Kira-kira tiga puluh detik lalu,"

"Oh," gumamku lalu membuka tutup botol jus dan meminumnya. "Lalu, bagaimana urusan dengan Tsukasa?"

"Baik. Dia juga memberi sedikit petunjuk." Jawabnya. Setelahnya, dia sibuk menaburkan lada pada nasi karenya.

"Petunjuk apa?" tanyaku merasa bersemangat.

"Kurasa nggak bisa dibilang petunjuk juga, sih," sahutnya kemudian menyuap makanannya. "Dia hanya bilang untuk menjalani semuanya seperti biasa. Atau menurut istilahnya, mengalir seperti air."

"Ternyata mengharap bantuannya nggak terlalu membantu," keluhku merasa kesal karena sudah berharap Tsukasa punya jawaban. Padahal dia sepertinya sangat memahami situasi kami, dan adalah hal yang aneh jika dia nggak menunjukkan jalan keluarnya. Aku mendapat kesan, Tsukasa sepertinya sengaja melakukannya.

Namun hal aneh lainnya menarik perhatianku saat bisik-bisik para murid tertangkap pendengaranku. Beberapa dari mereka menatapku sambil menyembunyikan tawa. Ketika kupergoki, mereka langsung berpaling pura-pura sibuk dengan makan siang masing-masing.

"Mereka kenapa, sih?" tanyaku pada Nagihiko dengan mengedikkan kepala ke arah orang-orang itu.

Sekejap kulihat tangan Nagihiko yang menggenggam sendok tersentak kecil. "Ah, nggak apa-apa." Jawabnya cepat. Terlalu cepat malah.

Tentu saja aku merasa curiga. Dan tepat setelah itu, seorang murid laki-laki melintas melewati meja kami. Dia segera menyapa Nagihiko begitu melihatnya. "Hei, Mashiro. Tindakanmu pada Fujisaki-san hebat sekali tadi!" serunya.

Nagihiko hanya tertawa canggung, dan orang itu nggak berlama-lama menunggu jawabannya kemudian berjalan menghampiri meja lain untuk bicara pada temannya.

"Apa yang dibicarakannya?" tanyaku merasa ada yang nggak beres

Nagihiko nggak menatapku, tapi malah menunduk sambil mendorong-dorong makanannya dengan sendok. "Ah, itu... yah, kau tadi tidur, sih..." katanya dengan suara yang nggak lebih dari sebuah bisikan.

"Tidur? Apa yang terjadi saat aku tidur?!" desakku, dengan tingkat kecemasan yang terasa menusuk.

"Itu..." Nagihiko mengangkat kepalanya sedikit, tapi nggak menatapku. "Kau tertidur saat kita bertemu Tsukasa-san tadi, 'kan?"

"Ya, ya. Terus?!"

"Ehm..." tampaknya dia kesulitan mencari kalimat yang tepat, dan itu membuatku berpikir sedikit terlalu jauh. Nggak penting apa yang kupikirkan.

"Di saat singkat kau terbangun, kau memintaku untuk menggendongmu. Dan itulah yang kulakukan, menggendongmu sampai ke sini."

Aku nggak tahu, apa ada hal yang jauh lebih buruk daripada itu. Aku nggak merasa perlu untuk membantah kalau aku minta digendong, karena benar atau nggaknya hal itu sudah nggak penting lagi sekarang. Yang memenuhi benakku hanyalah bayangan sosokku yang sedang tertidur damai di punggung Nagihiko, sementara dia berjalan menyusuri koridor penuh orang-orang yang melihat...

"Omong kosong apa ini!" aku berseru sejadi-jadinya, dengan botol jus ditanganku menghantam meja.

"Nagi, awas!"

Aku bergegas pergi meninggalkan laki-laki sumber masalah itu tanpa mempedulikan teriakan Charanya, juga tubuhnya yang basah kuyup terkena siraman jusku.

Biar saja cairan itu membuat kepalanya yang ungu jadi lembek! Geramku dalam hati seraya menerobos kerumunan orang yang seakan sengaja menghalangi jalanku.

.

.

.

Tentu saja setelahnya, gosip tentang insiden kecil yang terjadi antara aku dan si kepala ungu tukang crossdress saat istirahat tadi beredar dengan cepat di kalangan murid-murid Seiyo, dan menambah insiden lain yang mengawalinya. Meski aku nggak mendengar mereka membicarakannya di depanku, aku yakin di tiap sudut pasti ada saja yang membahas soal itu. Makanya, begitu bel pulang sekolah berdering, langsung kusambar tasku lalu pergi dengan cepat.

Koridor dipenuhi banyak orang ketika kubuka lokerku untuk mengambil sepatu. Aku berusaha nggak mengumbar emosi di sini ketika kudengar beberapa murid mengatakan sesuatu dengan menyebut namaku, jadi kubiarkan pandangan mata tajamku membungkam mereka. Sepanjang perjalanan keluarku menuju gerbang, aku memikirkan gelar yang mereka sematkan padaku ternyata nggak terlalu buruk juga. Putri Es.

"Ah, Rima!" Amu yang baru datang dari berbelanja bersama Tadase menyapaku di depan gerbang.

"Maaf, nggak ada waktu." Sahutku singkat, sambil berusaha mengabaikan apakah Guardian akan rapat lagi atau nggak. Aku hanya ingin pulang ke rumah.

"Kenapa terburu-buru, Rima-chan?" tanya Kusukusu, yang duduk di bahuku karena nggak cukup kuat untuk berlari denganku.

"Kau tahu pasti mengapa." Ujarku geram.

Aku sedikit terengah karena berlari sampai ke rumah. Namun semuanya terbayar begitu gerbang kayu kuno kediaman keluarga Fujisaki yang berkilau tertimpa cahaya matahari nampak di mataku. Baaya sedang menyapu halaman ketika aku masuk, dan dia membungkuk memberi hormat padaku.

"Rima, selamat datang." Sambut bibi Fujisaki begitu melihatku menggeser pintu depan. Wajahnya secara aneh terlihat berseri-seri.

"Ah, maaf. Aku pulang." Dalam hati aku mengingatkan diriku untuk mengatakannya lebih awal lain kali. Namun saat memperhatikan raut wajahnya, bibi Fujisaki sepertinya nggak keberatan. Sepertinya keluarga Fujisaki sedikit mengendurkan kekakuan mereka sekarang?

"Aku membelikanmu beberapa pakaian untuk kau kenakan di acara makan malam bersama keluarga Mashiro nanti."

Tanganku tersentak ketika kumasukkan sepatuku ke dalam rak. Sepertinya inilah alasannya terlihat begitu senang. Dengan ragu aku berbalik menghadapnya, dan dia tersenyum seakan menunggu reaksiku.

"Ma–maaf?" hanya itulah reaksi terbaikku.

Dia tertawa. "Oh, kau tak mungkin lupa, bukan? Bukankah keluarga Mashiro mengundangmu makan malam?" tanyanya.

Mana mungkin aku lupa. Meskipun sepanjang hari aku berusaha melupakannya, tapi itulah sebenarnya yang terus berputar dalam pikiranku sejak di sekolah tadi. Nagihiko cukup pintar untuk nggak mengungkitnya selama pelajaran berlangsung, dan kupikir buru-buru pulang untuk menghindarinya juga akan menghindarkanku dari keharusan membicarakan hal itu.

Di lain pihak, Nyonya satu ini justru mengharapkan hal yang sebaliknya. Raut wajahnya yang bersemangat menunjukkannya ketika kami duduk berhadapan di ruang keluarga.

"Jadi?" tanyanya memulai percakapan. Kemudian dia menyorongkan cangkir teh dan biskuit ke hadapanku.

"Jadi?" sambil mengambil sekeping biskut aku mengulang pertanyaannya, karena nggak yakin apa yang sebenarnya dibicarakannya.

"Kapan Mashiro-kun akan menjemputmu?"

Sepertinya orangtuaku ditukar dengan makcomblang. Dia terlihat senang sekali mengetahui aku diundang makan malam oleh keluarga pacarku yang, tentu saja, pura-pura. "Maaf jika aku membuatmu tersinggung, kaa-san. Tapi aku tidak ingat aku pernah menjawab iya." Jawabku setenang mungkin.

"Oh, ya. Kau pernah," dia menggeleng, kemudian menirukan raut wajahku saat bicara. "Kau mengatakan 'eh, baiklah kalau begitu.' Apakah itu terdengar seperti penolakan untukmu?"

Dalam hati aku mengingatkan diri untuk menepuk kepalaku jika ada waktu luang. Seharusnya aku memperhatikan apa yang kukatakan. Dan, memperhatikan kemampuan bibi Fujisaki yang pandai menggunakan kelengahan seseorang sebagai senjata, kurasa Nagihiko mewarisi hal itu darinya.

"Maaf, kaa-san, tapi bisakah kau menolaknya untukku? Aku ada tugas dari sekolah," pintaku penuh harap, tentu saja menggunakan pandangan anak anjing andalanku.

"Omong kosong. Justru itu, kalian bisa mengerjakannya bersama-sama nanti." Tukasnya, seakan pandanganku sama sekali nggak ada pengaruhnya. Kepalaku tertunduk lemas karenanya

Pada saat itu, suara yang kukenal sebagai jam kuno yang berumur ratusan tahun milik keluarga Fujisaki berdentang dengan bunyi aneh yang membuat telingaku berdenging. "Nah, apa kau akan terus berdiam diri di situ? Cepatlah bersiap." Ujarnya tegas. Matanya menunjukkan, perintahnya mustahil untuk ditolak.

Aku menghela nafas, dan rasanya itu adalah terakhir kalinya aku bisa melakukannya sebelum mati karena rasa malu. Semoga saja nggak ada satupun dari Guardian yang tahu soal makan malam ini.

.

.

.

Aku tertegun melihat tumpukan pakaian di atas kasurku. Baju, gaun, dan apa saja yang bisa ditemui di toko pakaian anak perempuan ada di situ. Saat bibi Fujisaki bilang beberapa pakaian, kupikir dia hanya membelikan satu atau dua pasang blus untuk kukenakan. Namun setelah melihatnya, kurasa butuh waktu cukup lama untuk menentukan apa yang harus kupakai.

"Tunggu, kenapa aku repot-repot menentukan apa yang harus kupakai?" tanyaku keras-keras di dalam kamar. "Aku 'kan hanya akan makan malam dengan Nagihiko, bukan dengan presiden! Lagipula makan malamnya 'kan di rumah, bukan di restoran."

Kusukusu yang mengamati dengan duduk di meja belajar tertawa geli. "Tetap saja, saat ini dia pacarmu. Kau harus membuatnya terkesan dengan penampilanmu," ujarnya riang.

Aku pura-pura muntah mendengar ucapannya. "Kenapa aku harus membuatnya terkesan? Aku sudah mengesankan dari sananya." Sahutku acuh. Kemudian mataku menangkap sepasang gaun selutut merah terang dengan renda di bagian bawahnya.

"Aku akan pakai ini." Putusku tanpa melihat cermin.

"Ya ampun, Rima-chan. Gaun itu sama sekali nggak menunjukkan sisi dirimu yang man–" aku melotot memotong ucapan Kusukusu ketika mendengar kalimat terakhirnya. Dia menutup mulutnya sebelum kembali bicara. "Maksudku, cantik."

Sejujurnya, apa yang dikatakannya benar. Gaun itu terlihat seperti yang biasa dipakai wanita dewasa norak. Untuk kali ini, aku benar-benar bingung. Semuanya terlihat sama saja bagiku, nggak ada yang menarik.

Kusukusu kemudian mengangkat sebuah gaun ungu polos tanpa lengan, yang di bagian bawahnya diberi beberapa keliman sehingga membuatnya tampak... manis, meskipun aku benci kata itu.

"Nah, bagaimana? Ini sederhana, tapi cocok untukmu!" ujarnya sambil menempelkan gaun itu di tubuhku.

Mau nggak mau aku setuju dengannya. Pakaian itu indah dalam kesederhanaan yang diperlihatkannya. Kupandangi diriku di cermin dan menyadari aku tersenyum membayangkan akan memakai gaun itu.

"Baik, aku pilih ini." ujarku kemudian memakainya dengan cepat. Setelah menyemprotkan sedikit parfum ke leher dan pergelangan tanganku, aku berjongkok ke bawah meja untuk mengambil sepatu datar warna krem di situ.

Pintu kamarku diketuk dan suara Baaya terdengar dari luar. "Nona Fujisaki, Tuan Mashiro telah menunggu di luar, meskipun sudah saya minta untuk menunggu di ruang tamu."

"Biar saja." ujarku masa bodoh Nagihiko mau menunggu di mana. "Nah, Kusukusu, aku pergi dulu." Kataku pamit lalu mengecup kepala Kusukusu yang tertawa.

Wajah Baaya berseri ketika aku keluar menemuinya. Matanya menatapku penuh kekaguman. "Anda terlihat cantik sekali, Nona." Pujinya sungguh-sungguh.

"Ah, ya, terima kasih." Sahutku sambil membungkuk sedikit. Dalam waktu singkat Baaya sudah kembali ke sikap formalnya yang biasa. Kemudian dia menunduk singkat dan bilang hendak beristirahat di kamarnya.

Dengan perginya Baaya, serangan kegamangan menerpaku membayangkan orang yang akan kutemui.

"Tenanglah, Rima. Hanya Nagihiko si kepala ungu yang akan kau hadapi." ujarku meyakinkan diri sendiri. Sambil nafas panjang, aku melangkah keluar dan berharap hal yang menantiku selanjutnya nggak akan menggigit.

Dari jalan setapak yang menghubungkan halaman depan dengan pintu gerbang, aku melihat bibi Fujisaki sedang mengobrol dengan sosok laki-laki berambut violet. Ketika aku berpikir untuk kembali ke kamar dan nggak keluar lagi, dia terlanjur mendengar langkahku dan segera memanggilku.

"Nah, Rima. Kau menganggumkan sekali memakai gaun itu." Ujarnya dengan tersenyum. Tangannya merangkul bahuku.

"Terima kasih, kaa-san,"kubalas senyumnya, tapi hanya sebentar. Aku menutup mata, karena nggak mau melihat atau mendengar komentar apapun yang akan dikatakan Nagihiko.

"Kau sudah siap, Rima-chan?"

"Y–ya?" Kubuka mataku dan menatap Nagihiko yang memakai kemeja lengan panjang putih dan jeans hitam. Raut wajahnya terlihat biasa saja, sama seperti nada suaranya saat bertanya.

"Aku tanya, apa kau sudah siap?" ulangnya.

"A–ah, ya, tentu." Jawabku terbata, dan dalam hati merasa kesal karenanya. Entah kenapa, sikapnya menyebabkan sedikit sentakan rasa kecewa pada hatiku. Namun segera kutepis perasaan itu, dan menganggap penyebabnya adalah acara makan malam ini.

.

.

.

Bagaikan diberi aba-aba, mama menyambutku keluar bersama papa begitu Nagihiko membukakan pintu untukku.

"Wah, selamat datang, Rima-chan." ujar mama dan langsung menghambur memelukku.

"Aku senang sekali Anda bersedia menerima undangan kami, Nona Fujisaki." Papa membungkuk sambil mencium tanganku.

"Ah, aku yang merasa terhormat telah diundang oleh kalian." jawabku geli. Kali ini aku nggak merasa aneh atau canggung sama sekali ketika papa dan mama menyambutku. Berbeda seperti saat aku mendatangi rumah ini kemarin. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan segala perubahan dalam hidupku akhir-akhir ini.

"Kalau begitu, ayo kita langsung saja," ujar Nagihiko. Dengan langkah santai kuikuti Nagihiko yang berjalan di depanku menuju ruang makan. Namun di benakku, aku sungguh heran akan sikap diam yang ditunjukkannya sejak menjemputku tadi.

"Beruntung sekali mama berhasil memasaknya tepat waktu," papa berkata dengan wajah berseri-seri menatap hidangan di meja makan. "Sekarang kita bisa mencicipi masakan sihirnya."

Mama tergelak mendengar ucapan papa. "Seandainya aku bisa sihir, aku akan membuat kalian tak akan pernah makan di luar." Ujarnya sambil menunjuk dua bangku di hadapanku. "Nagi, Rima, kalian duduk di situ."

Nagihiko menarik sebuah bangku dan mempersilakanku duduk. "Terima kasih," ujarku. Aku duduk dengan perasaan terkesan. Meskipun tindakannya sederhana, tapi itu cukup berarti buatku.

"Sama-sama." Sahutnya singkat sambil menyodorkan mangkuk padaku tanpa menoleh. Selagi memperhatikannya duduk, sikapnya sekali lagi membuatku bertanya-tanya. Kira-kira kemana sifat banyak omongnya pergi?

Kemudian mama dan papa duduk di hadapanku. "Silakan ambil sebanyak kau mau. Ini nitsuke ikan salmon resep keluarga kami turun-temurun." Ujar mama sambil menyodorkan mangkuk besar berisi campuran ikan rebus dan sayuran yang direndam dalam kecap manis.

Sejenak aku tertegun sebelum mengambil beberapa sendok makanan itu ke dalam piringku. Nggak kusangka keluarga Mashiro punya resep turun-temurun, padahal sebelumnya mama nggak pernah membuat sendiri makan malam kami. Selama hari-hariku menjalani hidupku yang tertukar, hal tentang kedekatan mereka inilah yang sampai sekarang belum terjawab.

"Jadi, bagaimana akhirnya kalian memutuskan untuk, ehm... kalian tahu?" tiba-tiba papa bertanya dengan mulut penuh.

Hampir saja aku melompat di kursiku. Meski dia nggak mengatakannya langsung, aku tahu dengan jelas maksudnya. Bagian inilah yang kutakuti dalam acara makan malam ini. Pertanyaan soal hubunganku dan Nagihiko.

Kucoba menyembunyikan keterkejutanku ketika menyahut. "Ah, kurasa Nagihiko lebih jago menceritakannya. Ya, 'kan?" Dengan cepat aku berpaling untuk minta pertolongan pada Nagihiko.

Nagihiko dengan tenang mengelap mulutnya menggunakan serbet, kemudian menatapku. "Oh, tidak terlalu istimewa. Kami hanya menyadari kami tak bisa kehilangan satu sama lain. Benar, 'kan?"

"Wah, romantis sekali!" mama berseru senang. Tapi lain halnya dengan Nagihiko. Tatapannya yang datar padaku sama sekali nggak menunjukkan apapun.

"Ya, mungkin kami sudah ditakdirkan begitu." Aku menimpali dengan tersenyum pada Nagihiko. Kelihatannya dia sedang berakting, dan kurasa aku harus mengimbangi permainannya. Memangnya hanya dia saja yang bisa bersikap seolah nggak ada apa-apa?

Papa tertawa dengan keras, namun aku melihat mama menatapnya dengan galak, sehingga papa menggumamkan permintaan maaf padanya.

Setelah meneguk tehnya, dia menatapku. Matanya terarah tepat ke mataku dengan intensitas keseriusan yang luar biasa menekanku. Dan rasa cemasku terbukti ketika dia mulai bicara dengan nada suara yang sangat formal.

"Kau sangat menarik, Rima-chan. Bagaimana kalau kau jadi istri Nagihiko?"


~Author Speech~

Vices: Nah, lho! Nggak nyangka gue... Apa rasanya ditanyain kayak gitu sama orangtua pacar kalian? Silakan cari tahu jawabannya di chapter depan, ya ;p Nah, Daiya-chan, kalo begini udah cukup sinetron belum tbc-nya? Dan juga, maaf karena cuma update satu chapter, padahal udah ngilang lama banget -_- Tapi gue mohon, tetep kasih kritik dan saran kalian, ya! L'Vices, over and out! Makasih udah baca!