Disclaimer
Always Peach-pit!
Warning
Alurnya, OOC, OOT, dan semua kesalahan yang bisa kalian temuin dalam sebuah fanfiction ada di sini.
Chapter 13
Hard Times For Those Two
Kira-kira Feelnya Mirip Sama Lagu:
Relient K - Over Thinking
Alasan:
Mereka kebanyakan mikir, nih. Gerak cepet, dong!
Rima's
"Apa–uhuk!"
Aku tersedak daging ikan yang belum sempat kutelan. Di sebelahku, begitu juga Nagihiko.
"Ini, cepatlah minum." Dengan penuh rasa terima kasih kuambil gelas teh yang ditawarkan mama padaku.
"K–kalian serius?" dengan hati-hati aku bertanya.
"Oh, ya. Tentu saja!" papa mengangguk-angguk penuh keyakinan
Setelah teh yang kuminum meluncur melewati tenggorokanku, cairan manis hangat itu seakan mengembalikan ketenanganku yang sempat hilang karena pertanyaan mengejutkan tadi. Namun di hadapanku, papa dan mama masih terus menatapku. Seakan jawabanku adalah penentu nasib negara.
"Bagaimana?" tanya papa dengan nada mendesak. Mungkin dia sadar aku sengaja mengulur-ulur waktu.
Bagaimana apanya? Dengan perasaan kalut kutengok Nagihiko, berharap dia tahu apa yang harus dikatakan. Tapi setelah melihat ekpresinya yang sekeras batu, aku tahu itu percuma saja.
Ya tuhan... yang benar saja? Bahkan pertanyaan dalam ujian sekolah nggak terasa sesulit, dan segila ini. Pertanyaan ini bisa mengubah hidupku jadi neraka jika aku salah menjawab. Jika ujian sekolah bisa dijawab dengan asal-asalan, lalu berharap keberuntungan berpihak padaku, hal ini sangat jauh berbeda. Mempertaruhkan statusku di kemudian hari dengan asal-asalan menjawab pertanyaan ini, jauh lebih bodoh dibanding lompat dari tebing curam.
"Aku..." berulang kali kuulang kalimatku yang akan kuucapkan dalam hati, sambil berdoa pada Dewa-dewa semoga aku lolos dari segala kemungkinan terburuk. "Kurasa dengan umurku dan Nagi sekarang ini, adalah ilegal bagi kami untuk menikah."
Kucoba menutup mata karena takut akan reaksi yang ditimbulkan jawabanku, tapi ternyata sulit sekali. Rasa penasaranku yang lebih besar memaksa mataku untuk terus terbuka lebar.
Lewat beberapa detik, jawabanku sepertinya belum menimbulkan reaksi apa-apa setelah melihat reaksi kedua mama dan papa yang tetap serius. Dan itu semakin membuatku tersiksa dalam penantian ini. Lagipula, kenapa Nagihiko nggak mengucapkan apa-apa, sih!?
Lalu kulihat sudut bibir mama bergerak-gerak. Dan nggak lama kemudian tawanya pecah saat memeluk papa yang ikut tertawa. Aku menoleh pada Nagihiko, dan dia terlihat sama bingungnya denganku.
"K–kenapa?"
"Ya ampun, reaksi kalian berdua itu sangat menghibur!" papa berseru sambil menyeka airmatanya yang keluar karena terlalu keras tertawa.
"Maaf, aku–oh, aku hanya tak tahan melihat wajah kaku kalian." Ujar mama dengan nada menyesal, namun dengan mimik geli.
Aku yang sadar telah dipermainkan, merasa perlu untuk menghentikan kebodohan ini. "Kurasa aku hanya tak tahu bagaimana harus bereaksi jika diperlakukan seperti ini, Mashiro-san." Ujarku mencoba menutupi kekesalanku dengan tawa sinis.
"Rima-chan benar. Lagipula, kurasa berbahaya sekali bicara sembarangan saat sedang makan ikan yang berduri." Nagihiko menimpali, masih terbatuk kecil. Mungkin karena masih ada duri ikan tersangkut di tenggorokannya.
Kesimpulannya, setelah membuatku hampir mati tersedak tulang ikan, ternyata semua ini cuma bercanda? Seandainya saja mereka sama sekali bukan orang yang kukenal, mungkin sudah kuhajar mereka. Sayangnya mereka adalah orangtuaku, dan melakukannya adalah hal bodoh. Namun saat kutatap Nagihiko, ekspresi kekesalannya menunjukkan dia juga berpikiran sama.
"Kau benar, sayang. Papamu terkadang memang suka bicara tanpa berpikir dulu." Mama mengiyakan dengan melotot pada papa. Kemudian pandangannya beralih padaku dengan raut menyesal. "Maafkan kami, ya. Apa ada yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahan ini?"
"Eh, tidak, tidak apa-apa. Aku mengerti Anda harus membuat suasana makan malam ini... riang gembira." Sahutku bingung atas sikapnya yang tiba-tiba ini. Namun setengahnya lebih karena bingung menentukan kalimat pengganti apa yang tepat untuk kekonyolan mereka. Entah kenapa aku jadi ingat Kukai.
"Oh, tidak bisa begitu! Kau harus membiarkanku menebus kesalahanku." tukasnya bersikeras. Lalu setelah terlihat berpikir sejenak, dia berseru dengan riang.
"Cerita! Bagaimana kalau aku bercerita?"
"Ce-cerita?" ujarku nggak tahu bagaimana harus menghadapi suasana yang berubah-ubah ini.
"Oh, ya. Cerita mama selalu menyenangkan untuk di dengar." Papa menyahut nggak kalah riang. "Kau punya sebuah cerita, bukan?"
"Sebenarnya... ya, aku punya," ujar mama dengan wajah cerah. Dia tersenyum pada Nagihiko sebelum melanjutkan. "Hubunganmu dengan Rima-chan membuatku teringat satu cerita. Kalian mau dengar?"
"Benarkah?" Nagihiko menyahut, entah kenapa terdengar antusias. Kuperhatikan dia, dan melihatnya benar-benar bersemangat. "Cerita apa itu, kaa–maksudku, mama?"
"Baguslah ada yang mau mendengarkan. Mungkin cerita ini akan berguna untuk kalian berdua." Ujar mama kemudian terlihat berpikir sejenak.
Tunggu, situasi ini terasa akrab di ingatanku! Dulu sebelum mama dan papa mulai bertengkar, aku ingat mama suka bercerita jika dia senang atau kesal dengan kelakuanku saat makan malam. Biasanya, dia menggunakannya sebagai nasihat terselubung untukku atau papa. Tapi khusus untukku, terkadang ceritanya membuatku kesal.
Sebenarnya aku berniat membuat cerita mama batal dengan memberitahu Nagihiko tentang hal aneh yang biasa dia ceritakan, namun itu akan aneh mengingat seharusnya aku nggak tahu tentang kebiasaan ini. Lagipula sudah terlambat, karena mama sepertinya sudah tahu apa yang akan diceritakannya.
"Dulu, aku punya teman. Laki-laki dan perempuan." Mama mulai bercerita, sambil menatapku dan Nagihiko. "Mereka awalnya saling membenci satu sama lain. Seluruh murid mengenal mereka sebagai musuh abadi. Tapi pada suatu saat yang mengejutkan, mereka jadi dekat."
Tanpa perlu penjelasan lagi, aku tahu bahwa yang dibicarakannya adalah aku dan Nagihiko. Di ceritanya dulu, dia selalu mengibaratkanku atau papa sebagai salah satu temannya. Dan sekarang, tokoh ceritanya adalah aku dan si kepala ungu yang antusias mendengar cerita omong kosong ini.
"Biar kutebak, mereka cuma pura-pura, 'kan?" ujarku mengetahui kemana hal ini akan berlanjut.
Mama tertawa kecil dan menggeleng. "Lucu kau berkata begitu. Tapi, tidak. Mereka sungguh-sungguh dekat. Atau dalam istilah anak muda jaman sekarang, pacaran." Jelasnya tersenyum lebar.
"Oh, ya? Bagaimana bisa?" Nagihiko bertanya, jelas nggak menyadari maksud dari cerita ini.
"Itulah bagian yang mengejutkan. Ketika kutanya, temanku yang perempuan mengatakan bahwa setelah sekian lama mereka mengenal, perasaan bencinya pada temanku yang satu lagi berubah. Dia mengaku, dorongan hatinyalah yang membuatnya mencoba membuka diri pada temanku yang satu lagi. Begitu juga sebaliknya."
Penuturannya membuatku jadi penasaran juga. "Dan bagaimana akhirnya... kelanjutan kisah mereka?" tanyaku.
Mama menatapku heran. "Bagaimana? Tentu saja mereka hidup bahagia! Setidaknya sampai saat ini, sejauh yang kutahu,"
"Hore, happy ending!" papa bersorak sambil bertepuk tangan. "Tanpa sadar makananku sudah habis karena asyik mendengarmu bercerita, sayang." Ujarnya lalu mengecup pipi mama.
"Sayang, jangan di depan anak-anak!" jerit mama dengan wajah merona. Aku hanya bisa terdiam melihat pemandangan yang sangat langka di kehidupanku sebelumnya itu.
Setelah menatap jam tangannya, mama menaruh mangkuk papa di atas mangkuknya. "Aku juga sudah selesai. Nagihiko, maukah kau membantuku membereskan semua ini?" pintanya, kemudian beralih padaku. "Dan maaf, Rima-chan. Aku tak bisa mengobrol lebih lama, karena ada pekerjaan kantor yang harus kuselesaikan."
"Aku juga. Apakah kalian akan baik-baik saja tanpa kami?" timpal papa.
"Tentu saja," ujarku dan Nagihiko bersamaan.
"Terima kasih. Kalau begitu, selamat malam." Ujar mama mengecup pipiku dan Nagihiko kemudian pergi mengiringi papa.
Suasana hangat yang terasa beberapa menit terakhir tadi seakan menghilang seiring perginya mereka ke ruang kerja masing-masing. Di sini, mereka meninggalkanku berdiri satu ruangan dengan Nagihiko tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Kalau boleh memilih, aku lebih suka mereka tetap di sini, meskipun apa yang mereka lakukan tadi agak menyebalkan
"Maaf, bisa kau ambilkan mangkuk itu?" Nagihiko bertanya mengejutkanku.
"Ah, ya." Segera kuambil mangkuk mama dan papa di meja seberang dan menumpuknya di atas mangkukku, lalu memberikannya pada Nagihiko. Kalau dipikir-pikir, ini adalah kali pertamanya dia benar-benar menujukan ucapannya padaku.
Dengan cepat Nagihiko mengangkut semua mangkuk, sendok dan garpu kotor dengan kedua tangannya. "Kau mau menunggu di sini, sementara aku mencuci semua ini?" tanyanya.
Selagi mempertimbangkan untuk menunggu, aku sadar pasti butuh waktu lama untuk mencuci begitu banyak peralatan makan. "Bisakah aku membantumu?"
"Boleh saja. Tapi, tumben?" Nagihiko terlihat terkejut, dan menatapku dengan raut nggak percaya.
"Aku hanya berpikir itu lebih baik, daripada bosan menunggumu." Jelasku lalu melambaikan tangan untuk menyuruhnya pergi. Dia terlihat ragu sesaat, namun akhirnya dia pergi ke dapur dengan tangan penuh peralatan makan.
Saat menyusul Nagihiko ke dapur untuk membawa sisa peralatan makannya, aku sadar sebelumnya aku belum pernah mencuci piring. Namun naluriku mengatakan untuk tetap melakukannya. Lagipula, mungkin ini bisa membantuku mengetahui kenapa dia irit bicara sejak tadi.
.
.
.
Nagi's
Dengan punggung bersandar di pintu lemari es, aku mengamati Rima menggosok mangkuk penuh konsentrasi, seakan seluruh hidupnya bergantung pada bersih atau nggaknya benda itu. Tanpa kuminta, Rima menawarkan diri untuk mencuci semua peralatan makan sendiri. Dia hanya memintaku untuk menaruh semuanya di rak piring setelah selesai.
Kuakui, aku sedikit penasaran akan tindakannya yang mengejutkanku ini. Namun aku nggak berani menanyakannya, karena takut itu akan menyulut kemarahannya. Sejauh ini dia bersikap tenang, dan aku ingin dia terus begitu.
"Nih," Rima mengulurkan mangkuk dan sendok yang sudah bersih padaku tanpa menoleh. Lalu dia kembali sibuk menyabuni mangkuk lain.
Kuraba mangkuk yang diulurkannya, dan merasakan masih ada sedikit minyak. Aku nggak heran, tapi aku nggak bisa menahan diriku untuk nggak berkomentar. "Sepertinya kau nggak pernah mencuci piring sebelum ini."
Gerakan tangan Rima berhenti sejenak. "Aku benci kalau kau mulai membaca pikiranku." Sahutnya pelan masih tanpa menoleh, meskipun tetap ada nada ketus di dalamnya.
"Aku nggak membaca pikiranmu, kau saja yang mudah ditebak." Ujarku merasa geli ketika mengambil gelas dari tangannya. "Dan aku juga bisa menebak, kau sepertinya nggak ingin ibumu bercerita tadi."
Kali ini dia menoleh, seakan kata-kataku memaksa kepalanya untuk berputar. "Apa ini caramu bilang terima kasih atas apa yang kulakukan? Memberondongku dengan pertanyaan?"
"Bukan. Caraku bilang terima kasih adalah dengan bilang, 'terima kasih, Rima-chan." Jawabku dengan penekanan di setiap kalimatku yang terakhir. "Lagipula, kau mengalihkan pembicaraan."
Setelah menatapku beberapa saat, dia menghela nafas panjang dan kembali pada pekerjaannya. "Waktu aku kecil, aku sudah sering mendengarnya bercerita. Dan kebanyakan ceritanya cuma omong kosong." Sahutnya sambil mengangkat bahu.
"Tapi menurutku ceritanya menarik, kok."
Dia tertawa. "Sebenarnya aku enggan mengakuinya. Tapi sejujurnya yang satu ini cukup menarik." Ujarnya menyetujui sambil tetap menggosok sendok yang bernoda kecap.
"Kalau itu memang cuma omong kosong, seharusnya dia membuat novel." Kataku ikut tertawa mendengarnya.
"Nggak mungkin. Ibuku seorang akuntan. Dan dia gila angka, bukan huruf." Tukasnya lalu mengeringkan tangan setelah memberikan mangkuk terakhir padaku. "Selesai."
"Sepertinya begitu," ujarku singkat, tiba-tiba dilanda perasaan kecewa. Melihatnya berdiri di situ mencuci piring, membuat perasaan aneh terasa menjalari sekujur tubuhku.
Tiba-tiba dia mengibaskan tangannya di hadapanku. "Kenapa kau memandangku begitu?" tanyanya heran.
"Ah, nggak. Aku hanya merasa kau terlihat cocok sekali dengan tugas rumah tangga." Jawabku tanpa berpikir.
Rima menatapku dengan mata melebar. Kemudian raut wajahnya berubah kesal saat berjalan cepat menerobosku. "Aku pulang. Aku nggak mau dianggap pembantu rumah tangga!" serunya.
"Apa–hei, tunggu! Bukan itu maksudku!" aku mengutuk diriku sendiri yang begitu bodoh saat bergegas menyusulnya. Rima dengan cepat sudah kembali ke ruang makan dan berbalik menatapku sebal.
"Kalau begitu, apa maksudmu? Jelaskan dengan singkat dan tepat!"
Sekarang aku harus memikirkan jawaban yang nggak akan salah dimengertinya. "Umm... Yamato Nadeshiko?" Kataku dengan senyum.
Wajahnya sesaat merona merah, lalu tiba-tiba dia kembali berpaling dan melanjutkan langkahnya. "Ternyata kau lebih bodoh dari dugaanku. Aku pulang!"
Tepat waktu aku berhasil menarik tangannya kembali. "Ma–maaf, lupakan semua ucapanku tadi! Kumohon, jangan pulang dulu." Pintaku.
Rima berbalik dan menatapku dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa?"
"Anggap saja... ungkapan terima kasihku." Ujarku, lalu menyesali ucapanku yang terdengar seperti mencari-cari alasan. "Memangnya kau janji pulang jam berapa?"
"Jam sembilan tepat."
Kutatap jarum jam tanganku yang berhenti di angka delapan dan enam. "Masih setengah sembilan, nggak akan lama, kok. Sementara itu, bagaimana kalau kita ke luar dan makan cemilan?" tanyaku.
Dia terlihat ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk. "Cemilannya yang banyak."
Dasar tukang perintah, pikirku. "Tunggu di sini." Kataku lalu kembali ke dapur.
Sambil dalam hati bertanya-tanya apa sebenarnya yang kuinginkan dengan mencegah Rima pulang, aku menjelajahi lemari dan menemukan dua bungkus keripik kentang.
Tentu saja alasannya adalah karena kau ingin berduaan terus dengannya. Ungkapan terima kasihmu itu hanya omong kosong, 'kan?
"Berisik. Aku cuma penasaran kenapa tiba-tiba dia bersikap begitu baik." Kataku pada diriku sendiri untuk mengusir pikiran konyol barusan.
"Ehem."
Di atas lemari es, Rhythm dan Temari sudah duduk di sana saat aku mendongak. "Aku nggak pernah lihat kau makan cemilan sebanyak itu," katanya dengan seringai yang menurutku menyebalkan.
"Ini untuk Rima juga." Sahutku sambil mengambil sebotol jus jeruk, lalu menutup pintu lemari es dengan kaki.
"Rima-chan menginap?" tanyanya bersemangat.
"Cuma mengobrol sebentar," jawabku risih melihat reaksinya. Kurasa aku harus menyuruh mereka tetap di kamar. "Kalian bisa nggak keluar sebentar, 'kan?"
"Oh, aku mengerti, bro." Ujarnya sambil menyeringai. Kemudian dia memberiku hormat sebelum mendorong Temari yang menatapku bingung.
Kurasa nggak penting apa yang dia mengerti, meskipun itu sedikit membuatku bertanya-tanya. Kemudian aku bergegas menemui Rima yang masih berdiri di tempatnya. "Maaf lama menunggu."
Melihat ekspresinya yang nggak sabar, sedetik saja lewat, aku akan langsung diomeli habis-habisan. "Dan kau janji nggak akan lama."
Saat kuulurkan botol jus padanya, dia menatapnya dengan tampang jijik. "Iih, jus jeruk." Gerutunya.
"Kau nggak suka?" tanyaku heran.
"Aku sedang suka teh hijau akhir-akhir ini." katanya, namun tetap mengambil benda itu. "Kenapa?" tanyanya tajam, sepertinya menyadari tawa kecilku.
"Ah, nggak apa-apa. Lucu saat kupikir minuman kesukaan kita juga tertukar. Aku juga suka susu akhir-akhir ini," ujarku, masih menahan tawa.
"Jadi kau menertawakanku karena suka minum susu?" tanyanya cemberut.
"Bu–bukan begitu... ah, sudahlah!" Dalam hati aku menyesal karena sudah mengatakan hal itu. Kupikir akhir-akhir ini aku ceroboh sekali terhadapnya. "Yuk, keluar." ajakku menggamit lengannya sebelum dia sempat bicara lebih banyak.
.
.
.
Sesampainya di luar, langit malam yang cerah menyambutku. Suara jangkrik membuat suasana terasa tenang dengan bintang yang berkelap-kelip terpantul permukaan kolam ikan di pinggir halaman. Pemandangan halaman depan terlihat lebih indah saat malam hari.
"Kau mau duduk di sana?" tanyaku menunjuk ayunan yang terdapat di sebelah kolam.
"Di mana saja, selama apapun yang akan kau lakukan berlangsung cepat." Rima menyahut singkat, kemudian mendahuluiku berjalan menuju ayunan.
Sebelumnya, aku berharap acara mengemil mendadak ini akan diselingi obrolan normal. Namun begitu aku menaiki ayunan dan duduk menghadapnya, aku sadar situasinya ternyata sama saja seperti saat-saat lain kami berada di satu tempat yang sama, yaitu saling menutup mulut. Bahkan Rima duduk dengan memalingkan wajah dariku.
Aku mulai capek menunggunya bereaksi. "Tolong, katakan sesuatu. Sia-sia saja kita duduk di sini, sementara kau mengacuhkanku." Kataku, berharap itu akan membuat Rima setidaknya menoleh padaku.
Namun dia tetap saja memandang ke arah kolam, seakan menganggapku nggak ada.
"Apa hanya dengan menatapku saja, membuatmu tertular penyakit?" Ujarku sekali lagi mencoba menarik perhatiannya.
Tetap saja dia nggak bergeming. Malah, dia menghela nafas panjang. Seakan kehadiranku membuatnya menderita.
Oke, baiklah kalau dia ingin main permainan diam. Kalau sudah begini, sepertinya apapun yang kukatakan akan percuma saja. Semua pertanyaanku tentang sikapnya menguap selagi memandang langit, sedikit berharap akan ada keajaiban yang bisa memuaskan rasa penasaranku turun dari sana.
"Kenapa, sih, saat menjemputku, kau diam saja?"
Aku tersentak mendengar pertanyaan tiba-tiba Rima yang bernada serius itu. Kualihkan pandanganku dan melihat dia menatapku lekat-lekat. "M–maksudmu?"
"Itu, lho..." Rima menunduk memainkan jemarinya dengan sikap gelisah. "Apa aku sudah berbuat salah padamu?"
"Hah?" kuamati wajahnya, dan nggak melihat adanya tanda-tanda dia sedang bercanda. "Nggak, kok. Me–memangnya aku diam saja, ya?" tanyaku merasa gugup melihat tatapan tajamnya.
"Iya, seperti batu."
"Yah..." untuk sesaat, aku nggak yakin apa yang harus kukatakan. "Memang kau mau aku bicara apa?"
"Nggak. Lupakan saja." ujarnya kemudian kembali menatap ke arah kolam.
Deraan rasa lega mengembalikan detak jantungku menjadi normal kembali. Dengan penuh syukur kuteguk jus jerukku. Jujur saja, aku memang punya alasan sendiri kenapa aku nggak mengatakan apa-apa saat menjemputnya. Tapi mengingat resikonya, kupikir menjelaskannya bukan ide bagus.
"Kalau begitu, apa karena penampilanku terlihat kurang mengesankan?"
"Uhuk!" tenggorokanku tersedak, dan itu sudah kedua kalinya dia membuatku kaget. Pertanyaannya tepat sekali. "Ma–maaf. Rima-chan, sejujurnya, penampilanmu bukan penyebabnya."
"Lalu?"
Rima terus saja menatapku, menungguku mengatakan sesuatu. Situasi ini membuatku merasa seperti sedang di interogasi. "Bu-bukan, pokoknya bukan itu. Aku nggak tahu harus bagaimana saat itu. Lagipula, kenapa kau bertanya?"
Mata Rima mengerjap cepat, dan tiba-tiba saja dia terlihat seperti tersengat aliran listrik. Dan yang membuatku bingung, adalah nada panik dalam ucapannya. "Nggak, nggak ada apa-apa! Tadinya kupikir kau diam saja karena aku terlihat konyol dengan apa yang kupakai."
"Nggak, kok. Gaunmu bagus. Apanya yang konyol? Lagipula aku suka warna ungu." Kataku terus terang.
Meskipun cahaya di halaman ini nggak terlalu terang, aku masih bisa melihat rona merah yang muncul di pipinya. "Aku nggak peduli apa yang kau suka!" Serunya keras-keras, lalu tiba-tiba saja memukul bahuku tanpa alasan
"Ya sudah kalau begitu, tapi nggak perlu memukulku begini!" Balasku berusaha menghindari serangannya.
Akhirnya Rima berhenti, dan menatap ke bawah. Dia nggak mengatakan apa-apa lagi setelahnya, dan itu bagus bagiku. Seumur hidup, aku nggak pernah merasa secanggung ini bicara pada orang lain. Tapi berbeda jika dengan Rima. Dia ternyata sangat khawatir dengan pendapatku padanya, dan begitu pula aku.
"J-jadi, aku nggak salah pilih gaun, ya?" Gumamnya terdengar ragu sambil menggigit bibir bawahnya.
"Nggak, kok." Jawabku, merasa seakan gravitasi memaksa tubuhku untuk maju semakin dekat padanya. "Aku malah sempat berpikir kau sengaja memilih gaun ungu karena itu warna kesukaanku."
Rima nggak menghindar, dan tetap duduk di tempatnya dengan mata setengah tertutup. "Mungkin..."
"KYAAA! NYAMUKNYA BANYAK SEKALI, SIH!?"
"Wuaaa!" Rima berseru kaget dan kehilangan keseimbangan duduknya karena ayunan bergoyang keras.
"Ha–hati-hati!" dengan cepat aku menangkapnya sebelum jatuh.
"Temari! Kau membuat suasanannya jadi rusak, deh!" kulihat Rhythm keluar dari sebuah semak bersama Temari yang sibuk menggaruk tangannya. Dia menatapku, dan tersenyum lebar.
"Ya ampun, kalian bersenang-senang rupanya!" katanya.
"Berisik, pergi sana!" seruku kesal lalu melempar botol jus yang masih tersisa setengah. Dia menghindarinya dengan mudah lalu pergi sambil tertawa. Kemudian aku sadar ada sesuatu yang hangat melingkari tubuhku, dan melihat Rima di pelukanku.
"Ri–Rima-chan, kau nggak apa-apa?" tanyaku berusaha sekuat tenaga agar nggak berteriak karena kedekatan tubuhnya.
"I–iya, nggak apa-apa." Rima buru-buru bangkit dan merapikan gaunnya yang kusut sambil menggumamkan sesuatu dengan kesal. "Mereka itu..."
"Ya, mereka itu." timpalku paham apa yang akan dikatakannya.
"Baik, sudah cukup! Sekarang jam berapa?" tanyanya, masih menggerutu.
"Jam sembilan kurang lima menit." Jawabku merasa lega, karena apapun yang akan terjadi seandainya Rhythm dan Temari nggak muncul telah gagal. "Kau mau pulang?"
"Ya." ujarnya, tapi tetap di tempatnya menunduk memandang sepatunya.
Tiba-tiba dia bicara dengan suara yang nggak lebih dari bisikan selagi aku bertanya-tanya apa ada yang nggak beres. "Kau bisa mengantarku pulang."
"Ah, y–ya, tentu saja. Aku memang akan mengantarmu, kok." Sahutku, jujur saja, merasa salah tingkah.
Saat mempersilakannya keluar lebih dulu dari gerbang, sosok mungil Rima yang berjalan anggun entah kenapa membuatku membayangkan sesuatu. Apakah suatu saat ketegangan yang selalu muncul di antara kami akan berubah menjadi...
Nggak, mustahil.
.
.
.
Rima's
"Nah..." ujarku lega setelah gerbang rumah keluarga Fujisaki yang mirip pintu kastil nampak di mataku. "Meskipun banyak kejadian nggak terduga, aku senang acara makan malam tadi sudah berakhir."
"Jujur saja, waktu papa Mashiro memintamu untuk menjadi istriku, kukira masa mudaku akan berakhir saat itu juga." Ujar Nagihiko dengan nada ngeri, namun bibirnya menyunggingkan senyum jahil.
"Ja–jangan membuatku kesal dengan membuatku malu!" Kataku setengah mati ingin menghajarnya sampai jatuh ke aspal.
Nagihiko malah tertawa setelah aku bicara begitu. "Mana yang benar? Aku membuatmu kesal atau aku membuatmu malu?" tanyanya.
Ap–oh, konyol. Aku baru sadar ucapanku membuatku terdengar bodoh. "Berisik. Sudah sana pulang!" dengan kesal kudorong dia menjauh agar aku nggak perlu melihat wajahnya lagi.
"Baik, baik, aku pulang." Katanya, masih saja tergelak. Namun tiba-tiba dia berpaling dan menangkap lenganku yang ada di bahunya. Matanya menatap lurus ke mataku, dan saat itu juga aku merasa seperti membeku di tempatku berdiri.
"Ehm, ini seandainya saja kau lupa, ya. Pembicaraan kita tadi itu... aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh."
"Pe–pembicaraan? Yang mana?" sahutku bingung kenapa dia bicara padaku sedekat ini. Untuk diketahui saja, kira-kira jarak kami kurang dari sejengkal.
Sejenak Nagihiko mengerjap, dan ekpresi serius di wajahnya berganti menjadi raut gugup begitu dia menjauh dariku. "Ah, eh, nggak! Pokoknya... begitu, deh!"
"Apa maksudmu, sih? Aku nggak mengerti!" seruku kesal dengan sikap anehnya itu. Kutatap dia dari kepala sampai kaki, karena kurasa perlu untuk memastikan dia nggak kerasukan sesuatu.
"Sudahlah, lupakan saja. Intinya, aku mau bilang terima kasih karena sudah mau datang." Jawabnya sambil menggaruk kepala.
"Aku hanya melakukan hal yang seharusnya, kok. Kau tahu 'kan keluarga Fujisaki nggak boleh menolak undangan seseorang."
"Ah, iya benar. Kalau begitu aku pulang dulu, ya." ujarnya kemudian pergi dengan cepat kembali ke rumahnya.
Meskipun kupikir sikap gugupnya barusan hanya satu dari sekian hal aneh dalam dirinya, mau nggak mau ucapannya tadi membuatku penasaran. Sebenarnya, ucapan apa yang dia katakan dengan sungguh-sungguh, sih?
Bahkan saat menggerakan tanganku untuk membuka pintu gerbang, aku terus berusaha mengingat semua pembicaraan yang kulakukan beberapa waktu lalu.
Lalu, wajah Nagihiko yang begitu dekat denganku saat kami duduk berdua di ayunan terbayang di benakku. Untuk satu dan lain hal, aku yakin pada momen itulah dia mengatakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Pujiannya pada penampilanku.
Kemudian memoriku itu berganti menjadi suara potongan cerita mama;
... setelah sekian lama mereka mengenal, perasaan bencinya pada temanku yang satu lagi berubah.
"Na–" namanya sudah ada diujung lidahku, tapi kuurungkan niatku untuk memanggilnya karena dia sudah berada di ujung jalan.
Selagi mengamati figur Nagihiko yang melangkah hampir sampai ke pagar rumahnya, cerita mama itu membuatku bertanya-tanya apakah suatu saat perasaan benciku padanya akan berubah menjadi...
Nggak, mustahil.
~Author Speech~
Vices: Allright, sekali lagi updatenya chapter ini bisa terwujud karena energi yang diberikan oleh semua Readers gue :) Arigatou, minna-san! Seneng rasanya karena akhirnya Daiya-chan puas sama chapter kemarin. Dan sekarang saya minta saran dan kritiknya lagi, ya! Oke, nggak usah banyak omong. Makasih banyak karena udah baca, dan teruslah bersikap manis sama author yang payah ini. L'Vices, over and out!
