~Author Speech~

Vices: Ohayou, para Readers sekalian! Akhirnya setelah minggu-minggu yang penuh dengan penundaan, chapter baru selesai juga. Langsung ke pembacaan review, yang akan dibacain semuanya oleh Rima!

Rima: Eh, kenapa semuanya gue?

Vices: Lo 'kan tokoh utamanya -_-

Rima: Oh, ya? Yaudah. Karena Daiya udah ngasih reviewnya lewat inbox, sekarang tinggal review dari Fuka-desu-san. Jadi, kamu masih bingung sama alasan kenapa si kepala ungu mendadak bisu di chapter sebelumnya? Yah, nanti dia bakal jawab sendiri di chapter ini. Dan permintaanmu soal 'kiss scene', mustahil. Vices nggak bakal berani bikin adegan kayak gitu, karena aku udah melakukan 'sesuatu' yang bikin dia nggak akan nulis macem-macem. Ya, 'kan?

Vices: Well, iya... entahlah. Baru juga chapter 14. Siapa yang tahu bakal ada adegan apa di chapter 15, 16, atau chapter lain? Oke, pembacaan review selesai! On The Go!

Rima: Hah?! Maksud loaargh!


Disclaimer

Shugo Chara! belongs to Peach-Pit-sensei. Any songs used to recomenndation owned by their respective musician

Warning

OOT, OOC, (mungkin) typo, dan storyline yang lebih parah dari sinema pintu taubat


Chapter 14

Fighting the Gravity

Kira-kira Feel-nya Mirip Sama Lagu:

No Use for a Name - Chasing Rainbow

Alasan:

Acara makan malam kemarin memang sukses. Tapi, Nagi pikir dunia nggak berjalan semudah itu. Ada hal-hal yang sepertinya mengintai dari balik semua lovey-dovey itu


Nagi's

Aku bangun lebih awal dari sebelumnya. Ketika aku turun dari kamarku untuk ke dapur, suasananya masih lengang. Sinar matahari menyusup melalui lubang ventilasi yang menghadap ke sisi samping rumah dan membuat lantai dapur menjadi berkilau.

Kuamati hasil karyaku dalam mengepel dengan puas. Setelah seluruh ruangan kunilai sama bersihnya, pemanggang roti berdenting menandakan sarapanku sudah siap.

Akhirnya semuanya selesai, kataku dalam hati. Sejauh ini semuanya berjalan mulus.

Dengan setangkup roti isi selai kacang dalam gigitanku, kutuangkan susu yang sudah kubuat sebelumnya dalam cangkir kecil berwarna putih. Sambil menghirup uapnya dalam-dalam, sekujur tubuhku langsung terasa rileks. Ketenangan yang kuharapkan dalam kegiatanku pagi ini terasa benar-benar sempurna.

Itu sampai kilasan pertanyaan Rima kemarin menyeruak dalam benakku. Dia bilang aku terus menutup mulutku dan bersikap seperti batu.

Aku tertawa tanpa bisa kutahan saat mengingatnya. Sejujurnya, ada penjelasan yang menurutku nggak logis tentang alasanku bertingkah begitu. Kenapa? Soalnya, apa kau bisa menjelaskan kenapa kau merasa gugup sampai nggak bisa bicara, saat melihat seseorang yang begitu dekat denganmu, tapi nggak pernah kau bayangkan bisa berpenampilan begitu memesona? Kurasa sulit, dan memilih untuk sesedikit mungkin bicara akan menutupi kegugupanku.

"Kau pikir dengan bangun lebih awal, kau bisa lolos kami?"

Cangkirku berhenti hanya kurang dari satu sentimeter di depan bibirku sebelum isinya sempat kuminum. Lewat sudut mataku, aku menangkap sosok mama dan papa Mashiro yang berdiri di pintu dapur. Mereka sudah rapi dengan setelan kerja mereka.

"Ah, selamat pagi, pa, ma." Ujarku berusaha terlihat setenang mungkin. Melihat senyum yang terkembang di wajah mereka, aku tahu ketenangan yang kuharapkan dengan bangun lebih awal sirna sudah.

Sesi interogasi yang berusaha kuhindari akan segera dimulai.

Kuamati papa melangkah menuju meja makan dan mengambil tempat duduknya di hadapanku. Mama mengambil roti dari pemanggang yang sudah sengaja kusiapkan dan mengangsurkannya pada papa dalam piring kecil. Dia memberiku senyum kecil ketika kami bertemu mata.

"Tenang saja, sayang. Papa hanya bercanda. Kami tahu kau tak ingin kami bicara macam-macam, bukan?" katanya.

Aku tertegun. Memang sejauh ini mereka tidak menunjukkan gelagat ingin membicarakan sesuatu. Tapi firasatku mengatakan hal yang lain. "Yah, baiklah. Kalau begitu, ayo kita sarapan." Ujarku.

Kami menggigit dan mengunyah sarapan masing-masing dalam keheningan. Tapi ini bukan keheningan biasa. Ini keheningan yang canggung, seakan salah satu dari kami ingin mengatakan sesuatu. Tentu saja itu bukan aku.

Selagi mengelap mulutku menggunakan serbet, kusadari mama bergerak-gerak gelisah di tempatnya duduk. Lalu setelah menggeram kecil, dia melontarkan pertanyaan,

"Aku ingin tahu, bagaimana kau dan Rima-chan... menghabiskan malam kemarin?"

Nah, betul, 'kan? Bahkan walaupun papa menundukkan kepalanya, aku tetap melihat senyumnya. Seakan dia memang berharap mama mengatakannya sejak tadi.

"Kupikir kita sudah setuju untuk tidak membahasnya," ujarnya, meskipun aku ragu kata-kata itu diucapkannya dengan serius.

"Aku tahu, tapi... aku hanya tak tahan mendengar kisah cinta anak laki-lakiku satu-satunya." Sahut mama menatapku penuh harap.

"Ano... yah, sebenarnya kami hanya mengobrol saja, kok." Kataku, dan kurasa mereka nggak perlu tahu detail ceritanya.

"Sungguh?"

"Ya, sungguh."

Mama masih terlihat sangsi, namun akhirnya kembali menekuri sarapannya. Tapi belum sampai beberapa menit, dia kembali bertanya.

"Tidakkah kalian membicarakan sesuatu tentang rencana kalian di masa depan?"

Untung saja susuku belum sempat meluncur masuk ke tenggorokanku, sehingga aku nggak tersedak. "Demi tuhan, mama. Kami bahkan masih sekolah!" kataku berusaha menjaga emosi dalam suaraku. Nggak kusangka mereka ternyata berpikir sejauh itu.

Mama hanya mengangkat bahu. "Yah, tapi tak ada salahnya jika kalian merencanakannya sejak awal." Katanya.

"Sudahlah, ma. Jangan ganggu dia terus," ujar papa sambil berdiri dari kursinya. Setelah mengecup puncak kepala mama, dia bertanya padaku. "Mau kuantar sekolah, nak?"

"Tidak, terima kasih." Jawabku tahu apa sebenarnya yang dia inginkan. Pertanyaan lebih lanjut secara pribadi.

.

.

.

Jika sebelumnya aku berpikir dengan secepatnya berangkat sekolah aku akan lolos dari sesi interogasi, kenyataannya justru sekarang aku dihujani oleh pertanyaan yang diajukan Rhythm dan Temari di sepanjang perjalanan.

"Sudah kubilang, kami nggak melakukan apa-apa. Kalian 'kan melihatnya sendiri." Kataku untuk ketiga kalinya.

"Begitu? Ah, sayang sekali..." desah Rhythm sambil menengadah menatap langit.

"Apanya?" tanya Temari.

"Padahal aku berharap setidaknya Nagi akan bercerita soal kejadian semalam pada papa dan mama Mashiro. Pasti mereka akan heboh." Ujar Rhythm dengan menujukkan seringainya yang menurutku menyebalkan.

"Dan kau bilang kau ini Charaku. Sikapmu yang menyebalkan malah mirip dengan Rima." dengan kesal kutarik seutas rambutnya yang berwarna sama denganku. "Lagipula, seandainya saja kau dan Temari nggak muncul, mungkin kami akan―"

"Akan apa?"

Dengan kaget kualihkan pandanganku ke depan dan melihat Kukai berdiri bersandar pada pagar gerbang Seiyo. Begitu melihat senyumnya yang sudah kuhafal, aku yakin dia mendengar setidaknya separuh dari kata-kataku dan sekarang sedang berpikir yang bukan-bukan.

"Apa kau sengaja menungguku di situ?" tanyaku.

"Sejujurnya, nggak. Tapi bukan itu masalahnya," ujarnya sambil tertawa lalu merangkulku. "Aku ingin mendengar lanjutan dari ucapanmu. Jangan berbasa-basi lagi."

"Ucapan yang mana?" tanyaku pura-pura nggak mengerti.

"Seandainya saja kau dan Temari nggak muncul, mungkin kami akan... yang itu, lho." Ujar Kukai menirukan ucapanku dengan gaya perempuan yang konyol.

Sepertinya seluruh dunia bersekongkol untuk mengajukan pertanyaan padaku. Lagipula, dari sekian banyak orang yang kukenal, kenapa harus Kukai yang kutemui pertama kali? Dia sangat senang mengorek informasi, dan nggak akan membiarkanku lepas jika pertanyaannya belum kujawab.

"Yah... kau tahu, semalam Rima-chan diundang makan malam oleh keluargaku," aku mulai menjelaskan dengan enggan. "Dan acaranya berjalan lancar. Begitulah."

Kukai mengangguk-angguk sambil bergumam pelan. "Kedengarannya menyenangkan. Tapi bukan itu yang kutanyakan, dan aku tahu kau sengaja menjawab dengan hal yang sama sekali nggak ada hubungannya." Ujarnya dengan mengacak-acak rambutku.

"Baik, baik, aku akan bicara." Kataku menyerah. Sial, dia pasti akan menertawakanku. "Jadi, ketika kami berdua saja, Rhythm dan Temari muncul mengagetkan kami. Kupikir jika itu nggak terjadi, mungkin kami akan..."

Aku berhenti bicara ketika kusadari Daichi dan kedua Charaku mengamatiku dengan penasaran. Kuputuskan untuk mengatakannya dengan berbisik saja, dan mengabaikan kegusaranku mendengar erangan mengeluh mereka.

Setelah aku selesai bicara, aku mundur dan melihat Kukai mengangguk-angguk. Aku menunggu dan bersiap menghadapi tawa Kukai juga komentar-komentar jahilnya yang menyebalkan. Namun selewat beberapa detik, ekspresinya tetap serius. Malah, tiba-tiba dia meletakkan tangannya di bahuku sambil memberikan tatapan penuh pengertian.

"Aku mengerti perasaanmu, Mashiro." Ujarnya sungguh-sungguh. "Jujur saja, aku dan Utau juga sering mengalami gangguan seperti itu. Entah itu penggemarnya yang minta tanda tangan, atau Chara kami yang berulah. Dan rasanya... sungguh menyebalkan."

"Ukh... senang mendengar aku punya teman yang bernasib sama," sahutku merasa agak canggung. Kata-kata dan nada kecewa dalam ucapannya membuatku tercengang. "Apa kau sengaja datang lebih awal hanya untuk memberiku nasihat seperti ini?"

Kukai menatapku dengan wajah heran. "Lho, semua anggota Guardian, kecuali Yaya dan Kairi, memang diminta datang lebih awal, 'kan?"

"Oh, ya?" pertanyaannya membuatku kaget sendiri. "Kenapa aku nggak tahu, ya?"

"Entahlah. Tapi Tadase sudah mengatakannya di grup obrolan Guardian pagi ini."

Segera kucek ponselku, dan ternyata memang ada pemberitahuan pesan dari grup Guardian. Melihat waktu pengirimannya yang sudah lewat setengah jam lalu, aku sadar kenapa aku nggak tahu pesan itu ada di situ. Saat itu aku 'kan sibuk menghindar dari keluarga yang nggak bisa menghargai privasi seseorang.

"Yah... sudahlah. Setidaknya aku nggak datang terlalu lambat, 'kan?" tanyaku yang dibalas Kukai dengan anggukan. "Memangnya tugas apa, sih?"

"Sesuatu tentang kunjungan sekolah. Aku ditugaskan untuk meng-copy surat edarannya. Nih," Kukai menjelaskan sambil mengangsurkan selembar kertas yang sejak tadi digenggamnya.

Kubaca tulisan yang ada di situ dan setengah menduga kunjungan kali ini nggak bisa lebih aneh dari sebelumnya. Seperti kunjungan ke pabrik aspal atau museum mesin jahit. Namun, ternyata dugaanku salah. Tempat kali ini malah lebih parah.

"Kunjungan ke Museum Sejarah Romansa?"

"Heh, benar. Agak menggelikan, ya?" ujar Kukai tertawa canggung. Tapi kecanggungannya hanya sesaat dan terganti oleh cengiran khasnya yang tertuju padaku.

"Apa?" tanyaku risih.

"Yah, sekedar saran saja, sobat," dia berkata sambil meninju bahuku perlahan. Cengirannya terlihat semakin lebar. "Ini romansa yang kita bicarakan. Siapa tahu, di sana kau dan Fujisaki bisa melanjutkan kegiatan kalian yang tertunda."

"Apa maksud―"

Reaksiku percuma saja. Karena Kukai sudah berlari dengan cepat menuju gedung utama Seiyo Gakuen sambil tertawa-tawa. Sementara aku menahan kegusaranku, mau nggak mau ucapan Kukai tadi membuatku berpikir tentang malam yang kuhabiskan bersama Rima kemarin.

Dan bayangan wajahnya ketika dia mendekat padaku dengan mata tertutup muncul ketika aku berkedip. Belum lagi penampilan menakjubkannya yang membuatku kehilangan kata-kata, yang disalah-artikannya dengan sikap menjaga jarak. Juga deru nafasnya yang perlahan berhembus menyentuh hidungku...

"Bah! Apa-apaan, sih!" aku berseru dan menggoyangkan kepalaku dengan keras, berharap membuyarkan semua pikiran-pikiran itu. Kekesalanku seakan berdentam-dentam dalam kepalaku seiring langkahku menuju Royal Garden.

"Nagi, tunggu, kau kacau sekali, bro! Kendalikan dirimu!" panggil Rhythm di belakangku.

"Kau seperti Rima-chan yang sedang marah-marah!" Temari menimpali.

Masa bodoh. Aku terlalu jengkel untuk menanggapinya. Lagipula, kegiatan apa sebenarnya yang dimaksud Kukai tadi, sih? Ucapan asal-asalannya ternyata berdampak besar bagi pengendalian diri yang selama ini menjagaku tetap tenang. Kuakui Temari benar, aku merasa seperti Rima yang sedang marah-marah.

.

.

.

Sudah beberapa menit dilewati semua orang di Royal Garden dengan menekuri lembaran surat edaran yang telah di-copy oleh Kukai. Aku sendiri nggak perlu waktu lama untuk membacanya karena Kukai telah memperlihatkannya padaku sebelumnya. Dan efeknya tetap saja sama untukku, menggelikan.

Yah, kecuali aku, semua orang kelihatan biasa saja dengan hal ini. Bahkan Kukai terlihat nggak terganggu dengan surat itu, bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya di depan gerbang padaku tadi. Itu berarti, aku dan pendapatku tentang kunjungan ini hanya sendirian.

Namun aku menangkap raut wajah Rima yang menatap kertas di tangannya dengan tegang, seakan sedang berhadapan dengan ujian kelulusan. Lalu setelah terlihat ragu sejenak, dia berkata sambil menggaruk sisi samping kepalanya,

"Harus kukatakan... tempat tujuan kunjungan kali ini benar-benar nggak masuk akal buatku."

Terdengar paduan suara nafas yang tercekat semua orang setelah dia selesai berucap, yang membuatku merasa seakan apa yang ia katakan adalah ejekan yang ditujukan untuk presiden.

"Wow, Rima-chan, aku nggak menyangka kau akan berkata begitu." Ujarku sama kagetnya dengan yang lain.

"'kan sudah kubilang aku harus mengatakannya," sahutnya sambil mengangkat bahu. "Memangnya kenapa? Kau keberatan?"

Aku nggak langsung menjawab. Nggak sedikit pun aku keberatan dengan ucapannya. Justru aku senang dia mengatakannya. Namun aku takut salah ucap seandainya aku mengatakannya lebih dulu.

"Bukan itu maksudku. Sebaliknya, aku punya pendapat yang sama denganmu." Kataku mengakui.

Dan suara tercekat yang sama kembali muncul. Hanya saja, kurasa itu disebabkan olehku. "Nagi, Rima... apa yang kalian bicarakan? Maksud kalian, kalian keberatan soal kunjungan ini?" tanya Amu dengan wajah nggak percaya.

Aku menoleh pada Rima untuk minta dukungannya. Namun dia hanya menatapku dengan sebelah alis terangkat, seakan menyuruhku untuk menjawabnya. "Ng... yah, bisa dibilang begitu, Amu -chan." Jawabku merasa sedikit canggung

"Tapi, kenapa?" Tadase ganti bertanya. "Kupikir sebagian besar orang akan setuju dengan hal seperti ini?"

Tentu saja sebagian orang akan setuju. Mengingat aturan yang berlaku di kota ini sekarang, semua orang jelas menuhankan status hubungan. Tapi nggak mungkin aku menjawab begitu, dan kuputuskan untuk memberi alasan berdasarkan perasaanku saja. "Memang. Tapi tetap saja ide berkunjung ke tempat seperti itu agak menggelikan buatku," jawabku kemudian menghela nafas. "Namun itu bukan berarti kita punya pilihan lain, 'kan?"

"Benar. Lagipula, Tsukasa sudah memutuskan kita akan berkunjung ke sana. Bukan hak kita untuk protes." Rima menimpali dengan tegas, meskipun raut wajahnya justru menunjukkan kalau dia ingin protes.

Tadase, Amu dan Kukai seakan kehilangan kata-kata setelah mendengar jawaban Rima. Kemudian Amu berdiri menatapku dan Rima sedemikian rupa, seakan kepala kami bertambah menjadi dua.

"Teman-teman, aku nggak mengerti kenapa kalian merasa keberatan. Kunjungan ini mungkin akan mempererat hubungan kita dengan pasangan masing-masing!" katanya.

"Tapi, yang benar saja!" tukas Rima tertawa sinis. "Memangnya berkunjung ke tempat seperti itu bisa memberikan pendidikan yang bagus untuk anak sekolah?"

"Yah, kalau begitu, berarti ada yang salah dengan sistem pemerintahan Jepang." Celetukku spontan. Di luar dugaanku, Rima mengeluarkan suara tawa kecil setelahnya.

"Akhirnya kau mengatakan sesuatu dengan benar kali ini, Nagi."

"Hei, apa maksudmu aku ini bodoh?"

"Nggak. Aku hanya berpikir kau bijaksana karena kebetulan pendapat kita sama." Ujarnya dengan senyum tipis.

Aku nggak punya cukup waktu untuk mengerti ucapannya, karena Amu sudah memberikan tatapan tajam pada kami berdua. "Kupikir nggak ada yang salah dengan sistemnya, Nagi. Hal itu 'kan membuat hidup setiap orang lebih bahagia dengan memiliki pasangan. Ya, 'kan?"

"Yah, aku, sih setuju dengan peraturan itu." Iya, tapi terpaksa, aku menambahkan dalam hati. "Tapi kalau itu membuatku harus mengunjungi tempat yang kecewek-cewekan begitu―"

"Hei, apa maksudnya kecewek-cewekan?!" Rima dan Amu otomatis menyela kesal.

"Maaf ―maksudku, penuh lovey-dovey." Ralatku sambil menunjukkan senyum meminta maaf pada kedua gadis sensitif itu. "Pokoknya aku nggak mau pergi ke sana. Aku bisa mati karena diabetes akibat suasana manis tempat itu yang berlebihan."

Kukai tertawa dan terlihat ingin menimpali ucapanku, namun Rima sudah berdiri sambil mengangkat tangan memintanya diam. "Tunggu, jadi kau ingin bilang perempuan itu konyol jika menyukai hal-hal manis?" tuntutnya.

"Hah? Bukan! Aku hanya bilang―"

"Serius, Nagi. Ucapanmu benar-benar kasar." Sela Amu dengan nada ketus.

Ya ampun, nggak kusangka ucapanku akan menyebabkan diriku dianggap penghina kaum perempuan. Dalam hati aku mengutuk kebodohanku sendiri.

Selagi aku berkutat dengan kebingungan harus menjawab apa pada mereka, Tsukasa masuk dengan menyunggingkan senyum andalannya. "Sudah, sudah. Aku yakin Mashiro-kun tak bermaksud seperti itu," katanya sambil menarik kedua harimau betina itu duduk kembali di kursi mereka. "Namun bagaimanapun juga sekolah kita akan berkunjung ke sana, mau tidak mau."

Aku terhenyak di kursiku dengan putus asa. Tsukasa terus saja tersenyum seakan menikmati penderitaanku. Tapi mengingat posisiku sebagai anggota Guardian, kurasa mungkin bagiku untuk menyarankan mengunjungi tempat lain.

"Bagaimana kalau kita ganti kunjungannya ke kebun binatang saja?"

Tsukasa menggeleng. "Tidak. Sudah ke sana dalam kunjungan kita yang terakhir."

Namun aku nggak mau menyerah. "Kalau ke reaktor nuklir?"

"Setelah insiden seorang murid yang tumbuh tanduk di kepalanya akibat terkena sinar radioaktif, pemerintah memutuskan sekolah tak boleh berkunjung lagi ke sana." jawab Tsukasa dengan nada ngeri.

Ya ampun, masa' nggak ada tempat lain, sih? Batinku. "Baiklah. Kalau ke comicon?"

"Itu namanya jalan-jalan, bukan kunjungan sekolah."

Baik, sekarang aku kehilangan alasan. Aku melihat Rima memberiku tatapan sebal, dan kurasa aku harus mengatakan sesuatu sebelum kekesalannya berubah menjadi sesuatu yang bersifat mengancam. "Maafkan soal ucapanku tadi, Rima-chan. Aku sama sekali nggak bermaksud―"

"Masa bodoh." selanya dengan berbisik. "Yang membuatku kecewa, kenapa kau nggak menggunakan otakmu lebih baik lagi untuk membuat Tsukasa mengganti tujuan kunjungannya, sih?"

Sebelum aku sempat menyahut, Tsukasa muncul di tengah-tengah kami dan berbisik sambil merangkul kami. "Dengar, kunjungan kali ini juga merupakan salah satu usahaku untuk membantu kalian―"

"Dengan membawa kami ke salah satu tempat romantis di Seiyo? Rasanya lebih mirip permainan perjodohan," tukas Rima yang meskipun berbisik, tetap menyisakan sikap ketusnya.

"Kalian ingin kembali ke kehidupan awal kalian, tidak?" tanyanya tegas. Setelah memastikan kami berdua mengangguk, dia tersenyum puas. "Baiklah, minna-san. Kalau begitu silakan kalian segera menyebarkan surat edaran ini ke seluruh murid. Kalian diizinkan tidak mengikuti pelajaran sampai tugas ini selesai."

Semua orang menyahut pengumuman Tsukasa itu dengan seruan gembira. Meskipun begitu, bagiku itu nggak seberapa dibanding apa yang akan kuhadapi pada kunjungan sekolah besok.