~Author Speech~

Vices: Uryaaa! Hai, minna, akhirnya kita ketemu lagi. Sekali lagi, Rima dan Nagi bakal berhadapan dengan petualangan yang mendebarkan. Gue penasaran, apa ada saatnya nanti mereka berdua ciu―

Rima: Berisik! Baca review!

Vices: O―oke! Tumben banget ini orang inisiatif baca review duluan... Nah, review pertama dari PriscallDaiya-chan. Uwaa, sebagian besar tebakan Daiya-chan tentang museum romansa tepat! Udah jadi rahasia umum tempat kayak gitu pasti mengandung hal-hal ajaib, dan sedikit spoiler...

Nagi: Rima nggak nolak kucium!

Vices: Eh, woi! Bukan itu! Pokoknya, nanti di san―

Rima: Nggak perlu spoiler segala! Lanjut review selanjutnya! Fuka-chan, nggak usah nyari-nyari Nade, sekarang di mataku dia sama ngeselinnya sama Nagihiko. Lagian mereka 'kan orang yang sama -_-

Vices: Woi, yang sopan kalo bales review! Yah, maaf, Fuka-chan... udah tahu sendiri sifat Rima kayak gimana, 'kan? Yaudah tanpa berlama-lama, silakan Rima, roll chapter

Rima: Huh... On The Go *muka cemberut*

Vices & Nagi: Kawaii, desu! *mimisan*

Chapter 15

Just Surrender

Lagu Yang Gue Denger Saat Bikin Chapter Ini:

Neck Deep - Serpents

Komentar:

Lagunya emang agak cepet, tapi liriknya keren. Tentang seorang cewek yang 'berbahaya', namun sikapnya itu mampu memikat para pria dan membuat mereka rela diapain aja.

Nagi's

Sudah sepanjang dua jam pelajaran pagi aku dan Kukai berkeliling ke seluruh sekolah, dan kelas Bintang-5 adalah kelas terakhir yang kudatangi untuk membagikan surat pemberitahuan. Nikaidou-sensei keluar dari kelas untuk memberiku waktu untuk melakukan tugasku saat kukatakan maksud kedatanganku. Setelahnya Kukai langsung memberi penjelasan pada dua orang murid perempuan di deretan bangku paling depan.

"Hei, Nagi, kelihatannya ada sedikit masalah." Bisik Temari di telingaku.

"Hmm?" aku menoleh dan melihatnya menunjuk ke arah belakang kelas. Pandanganku bertemu dengan dua murid laki-laki yang duduk di bangku dekat jendela. Dari tatapan dan raut mereka yang terlihat tegang, tanpa diberitahu pun aku paham mereka adalah pacar dua gadis yang sedang bicara dengan Kukai. Namun kedua gadis itu terus saja menatap Kukai dengan kekaguman yang nggak ditutup-tutupi.

"Nah, jadi jika ada yang nggak kalian mengerti, kalian bisa tanyakan padaku atau anggota Guardian lainnya." Ujar Kukai dengan cengiran khasnya.

"B―baiklah, Kukai-sama!" sahut dua gadis itu riang. Dan murid laki-laki yang menatap kami terlihat semakin terpuruk karenanya.

"Oi, sudah cukup!" Ujarku dengan cepat menarik Kukai pergi karena merasakan kemungkinan timbulnya kesalah-pahaman. "Tinggalkan saja sisanya pada ketua kelas mereka dan semuanya selesai."

"Kukai-sama, kami akan mampir ke Royal Garden untuk bertanya lebih lanjut!" para gadis tadi berseru, membuatku mempercepat langkahku keluar kelas dengan perasaan malu.

"Hmm... sepertinya semua orang bersemangat dengan kunjungan sekolah kali ini, ya?" ujar Kukai selagi aku memastikan nggak ada seseorang yang mengejar kami karena cemburu.

"Kau ini, bahkan tanpa melakukan apa pun sikap cuekmu itu bisa menarik hati gadis-gadis..." ujarku yang dijawab Kukai dengan tawa. "Kau tahu, kau menyebalkan." Lanjutku setelah menghela nafas.

"Hmm?" dia berpaling menatapku dengan tampang polos. "Apa maksudmu? Apa ini tentang dua gadis yang kuajak bicara tadi?"

"Tentu saja bukan. Aku tahu kau bukan playboy, begitu juga aku," sahutku dengan perasaan geli mendengar pertanyaannya. "Ini tentang kejadian di Royal Garden tadi. Kau diam saja saat Amu-chan dan Rima-chan mengomeliku, padahal kau tadi juga bilang kunjungan kali ini menggelikan."

"Maka dari itu, sobat, hati-hatilah jika mengatakan sesuatu kepada perempuan," ujarnya tertawa lebih keras sambil menepuk-nepuk bahuku. "Tentu saja aku lebih memilih diam daripada dianggap orang kasar sepertimu. Istilahnya, main aman."

"Nggak lucu," gerutuku. Suara bel tanda istirahat bergema di sepanjang lorong yang kami lewati. Dengan berakhirnya kunjungan kami ke kelas Bintang-5 tadi, berakhir pula tugas memberikan surat edaran. "Baguslah. Ayo ke kantin." Ajakku pada Kukai, yang disambutnya dengan seruan bersemangat.

.

.

.

Rima's

"Rima, kau yakin nggak ingin mengubah pendapatmu?" tanya Amu ketika kami berdiri di depan loker masing-masing sepulang sekolah.

Kuulurkan tangan untuk mengambil sepatuku dari loker lalu menutup pintunya untuk menatap Amu. "Dengar, Amu, ini keempat kalinya kau bertanya begitu. Sudah kubilang aku nggak ingin pergi ke sana." Jawabku lesu.

Amu melipat tangannya sambil memberiku tatapan heran. "Aku nggak mengerti, bukankah ini adalah kesempatan untuk memperkuat hubunganmu dan Nagi?"

Entah kenapa sesuatu dalam ucapannya membuat perasaan aneh terasa menggumpal di dadaku. "J―justru itu, nggak ada yang perlu diperkuat dalam hubungan kami. Tempat seperti itu bukan tempat yang biasa kami datangi," ujarku beralasan. Namun dalam hati aku menyesali ucapanku karena itu terdengar seperti kami benar-benar menjalani suatu hubungan.

Amu menghela nafas. "Begitu, ya?"

"Iya." Ujarku sambil memakai sepatuku. "Lagipula, harusnya kau tahu aku nggak terlalu suka dengan sesuatu yang... manis."

"Huh, kau terdengar seperti Nagi. Padahal tadi kau membelaku," Amu mendengus sebal.

"Hei, aku hanya bilang aku nggak terlalu suka dengan hal manis, bukan bilang seorang gadis itu konyol jika menyukai hal manis."

"Mou..." keluh Amu terlihat kecewa. "Kalau begitu, nggak bisakah kau datang untukku?"

"Ukh..." sekali lagi caranya menatapku dengan mata berbinar-binar telah membuatku merasa serba salah. "Kenapa kau ngotot sekali, sih?"

Amu nggak langsung menjawab dan memandang sepatunya dengan senyum tipis. "Kau tahu, mungkin kunjungan kali ini bisa membuat apa yang selama ini kupikirkan tentang hubunganku dan Tadase terjawab..." ujarnya pelan, kemudian mengangkat kepalanya dan mengalihkan senyumnya padaku,

"Dan aku ingin kau ada di sana untuk membantuku menemukannya."

Untuk saat ini, aku benar-benar nggak tahu bagaimana harus bersikap setelah mendengar nada bicaranya yang sedih itu. Sebenarnya ada masalah apa antara dia dan Tadase? Apa pun itu, aku nggak bisa diam saja melihatnya kehilangan semangat seperti itu.

"Rima-chan, sebaiknya kau pergi saja demi Amu-chan," ujar Kusukusu sedih.

"Yah, apa boleh buat..." putusku. "Baiklah, Amu. Jika kedatanganku bisa membuatmu merasa lebih baik, aku akan datang."

Amu tersenyum dan meraihku ke pelukannya. "Terima kasih, Rima. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu."

"Hei, sudah sana minta maaf!"

"Nagi, kau harus mempertanggung jawabkan ucapanmu."

"Tu―tunggu dulu, jangan mendorongku!"

Aku dan Amu baru saja hendak melangkah ketika suara gaduh Kukai, Nagihiko dan Chara mereka membuatku menoleh. "Ah, hai, semua." Nagihiko menyapa dengan suara pelan.

"Huh." Amu mendengus dan memalingkan wajahnya.

"Nah, Mashiro, kau tahu apa masalah yang menantimu jika sudah membuat Hinamori marah, 'kan?" ujar Kukai menggeleng-gelengkan kepalanya.

Nagihiko mengeluarkan erangan kesal. "Dengar, teman-teman, aku hanya ingin minta maaf karena ucapanku tadi pagi." Ujarnya sambil menyusurkan jari ke rambut dengan gelisah.

"Jangan dengarkan dia, Amu. Ayo, kita pulang." Tukasku lalu menggamit tangan Amu untuk pergi.

"Tunggu! Ayolah, Rima... aku 'kan pacarmu. Beri aku kesempatan!"

Aku berbalik dan menatapnya dengan sebal. Selain sikapnya yang keras kepala, ucapannya yang mengaku sebagai pacarku telah membuat ketidak-sukaanku padanya bertambah satu poin. "Itu sama sekali nggak ada hubungannya. Kau sama saja menghina seluruh gadis di dunia ini dengan perkataanmu tadi pagi."

"Hei, sudahlah. Mashiro nggak sungguh-sungguh dengan ucapannya, kok," Kukai tiba-tiba merangkulku dan mengacak-acak rambutku. "Dia bahkan sudah merubah pendapatnya dan setuju dengan kunjungan kita kali ini."

Ucapannya sama sekali nggak membuatku terkesan. Namun sepertinya itu cukup berpengaruh bagi Amu sehingga dia juga membalikkan badan. "Benarkah itu, Nagi? Seorang gadis nggak konyol jika menyukai hal-hal manis, dan kau setuju untuk pergi ke Museum Sejarah Romansa?" tanyanya.

Nagihiko menggaruk belakang kepalanya dan menyahut. "Eh, i―iya. Kurasa begitu..."

Dengan gerakan cepat, tiba-tiba saja Amu sudah menghambur dan memeluknya. "Syukurlah! Aku tahu kau memang orang baik, Nagi!"

"Uwaaah!?" para Chara berseru kaget.

"O―oi, kau ini kenapa, Amu!?" tanganku bereaksi di luar keinginanku dan menarik lepas Amu dari pelukannya. "Nggak perlu bertindak begitu, 'kan?"

"Ah?! O―oh, maaf, Rima! Aku nggak bermaksud..." Amu nggak menyelesaikan kalimatnya, karena tiba-tiba, Tadase muncul tanpa diduga dari balik Kukai.

"Hei, semuanya. Kelihatannya ada pembicaraan menarik yang kulewatkan?" ujarnya tersenyum seperti biasa.

"Eh, nggak, kok. Hanya ada sedikit... acara maaf-memaafkan," Kukai yang tampak panik menjelaskan.

"Oh, begitu. Baiklah, mau kuantar pulang, Amu-chan?" tanya Tadase.

"Apa? Oh, i―iya, tentu saja!" Amu tampak salah tingkah dan buru-buru menggamit tangan Tadase. "Kalau begitu, sampai jumpa besok, teman-teman."

"Oh, jangan lupa datang dengan membawa surat edaran yang sudah ditanda-tangani orangtua kalian, ya. Sampai jumpa." Ujar Tadase, lalu pergi bersama Amu yang masih kelihatan belum menguasai kegugupannya.

"Dasar Hinamori, hampir saja..." Kukai menghela nafas lega dan berpura-pura menyeka keringat di dahinya. "Nah, kalau begitu aku juga pulang. Jauhi masalah, teman-teman!" serunya kemudian berlari begitu cepat menyusul Amu dan Tadase.

Benar-benar situasi yang konyol. Terkadang aku bertanya-tanya mengapa aku bisa berakhir menjadi teman mereka.

"Kau mau pulang, atau menginap di sini?" tanya Nagihiko.

"Ck..." dalam hati aku menggerutu kesal kenapa aku sampai lupa orang ini masih ada di sini. "Pergilah, urusi dirimu sendiri."

"Kenapa, sih? Kupikir permintaan maafku tadi sudah cukup. Bahkan Amu saja menerimanya dengan baik," sahutnya sambil membanting pintu lokernya dengan keras.

"Satu permintaan maaf nggak akan mengubah pendapatku terhadapmu, dasar penghina kaum wanita." Balasku lalu segera beranjak pergi menjauh darinya.

Tentu saja, seperti biasa dia akan bersikap keras kepala dan menyusulku. "Ah, kupikir pendapatmu sudah berubah." Ujarnya dengan nada penuh percaya diri.

"Apa maksudmu?"

"Kau cemburu dengan Amu saat dia memelukku, jadi kau menariknya."

"Ap―" ucapanku, sekaligus langkahku terhenti karena kata-katanya. Dengan geram kugunakan sikuku untuk menyodok perutnya.

"Auw! Apa-apaan, sih?!" erangnya sambil memegangi perutnya.

"D―dasar bodoh! Itu karena kau sudah bicara sembarangan!" kupacu langkahku agar Nagihiko nggak melihat ke wajahku, yang entah kenapa tiba-tiba memerah.

"Hei, bersikap kasar padaku hanya membuatmu terlihat benar-benar cemburu!" Nagihiko berseru penuh kemenangan disela erangannya.

Ukh, apa yang harus kulakukan untuk membuat orang ini berhenti bersikap menyebalkan, sih!? Aku berbalik dan balas berseru padanya, "Dengar, aku hanya nggak suka kau memeluk teman baikku, i―itu saja!"

"Oke, oke, aku percaya," Nagihiko yang sekarang kelihatan berhasil menguasai rasa sakitnya berdiri tegak. "Tapi di mataku, kau tetap Rima Mashiro yang hampir saja menciumku di atas ayunan." Lanjutnya dengan senyum.

"Aargh, masa bodoh!" putusku sambil melemparkan lenganku ke atas dengan frustrasi. Tampaknya satu-satunya cara untuk menghapus senyumnya yang membuatku jengkel dari benakku adalah dengan secepatnya melangkah pulang.

"Kau tahu, Rima-chan?" tiba-tiba Kusukusu bertanya.

"Apa?" sahutku setengah hati.

"Kurasa Nagi-kun benar. Kau cemburu." Lanjutnya sambil tertawa.

"Dasar kau..." aku sudah bersiap untuk menangkap Charaku itu, namun dia sudah melesat terbang mendahuluiku dengan tawa yang bertambah keras.

Bagus, sekarang Charaku sendiri bahkan berpihak pada si kepala ungu itu, gumamku kesal dalam hati.

.

.

.

Dan pada akhirnya, episode menyebalkan dalam hidupku yang kukira berhasil kuhindari kemarin justru berlanjut di hari berikutnya. Selagi aku berjuang setengah mati untuk menahan perasaanku begitu melihat bus yang akan membawaku nanti, Nagihiko yang juga melangkahkan kakinya naik ke bus bersamaan denganku membuat kekesalanku jadi berlipat ganda.

"Minggir, aku mau naik!" bentakku di depan wajahnya.

"Santai saja, Rima-chan. Aku akan menyingkir jika kau memintanya dengan baik." Ujarnya tenang.

"Ukh, kau―"

"Hei, hei, kalian berdua. Suasana hati kalian sedang buruk atau apa, sih?" Nikaidou-sensei melambaikan kertas berisi daftar nama murid di antara kami berdua. "Ingat, tempat kunjungan kali ini adalah Museum Sejarah Romansa. Aku nggak akan mengizinkan ada pertengkaran antar pasangan di tempat sesuci itu!"

"Te―tempat suci?" tanyaku dan Nagihiko tergagap.

"Ah, sudahlah! Kenapa kalian nggak langsung naik dan duduk? Yang akan pergi bukan cuma kalian," tukas Nikaidou-sensei mendorong kami berdua masuk ke bus. "Berikutnya, serahkan surat pemberitahuan kalian!"

Interior kabin bus yang kaku dengan bangku dilapisi kulit berwarna hitam menyambutku ketika aku masuk lebih dalam. Amu melambaikan tangannya dari bangku bagian tengah yang menghadap ke jendela sebelah kanan. "Hei, aku senang kau datang." Dia menyambutku.

"Hei!" Nagihiko berseru memprotes ketika aku mendorongnya menyingkir untuk menghampiri Amu. "Hai, Amu. Jika teman baikku yang meminta, tentu saja aku akan datang." Ujarku pada Amu dan berpura-pura hanya ada kami di sini.

"Wah, ternyata kau serius dengan ucapanmu, Nagi." Kata Amu begitu melihat Nagihiko yang mengekor di belakangku.

"Ah, ya. Kupikir kunjungan kali ini akan berguna bagi kami. Ya, 'kan, Rima-chan?" sahut Nagihiko menoleh padaku dengan tersenyum konyol.

"Jangan bertingkah, tukang crossdress." Bisikku di telinganya, namun dia hanya tertawa. Baiklah, kurasa sudah cukup. Aku nggak mau berurusan dengannya lebih lama lagi. "Bolehkah aku duduk denganmu, Amu?" tanyaku menunjuk bangku di sebelah Amu.

"Ah, maaf, aku sudah bilang pada Tadase kami akan duduk bersama. Nah, itu dia," Amu berdiri dan melambaikan tangannya dengan riang ke arah Tadase yang baru saja masuk. "Maaf, Tadase. Tapi aku ingin kursi di sebelah jendela, ya."

"Tak masalah. Hai, teman-teman." Aku mengangkat tangan membalas sapaan Tadase. Dan tiba-tiba saja semakin banyak orang yang masuk ke dalam bus dan duduk di kursi bersama pasangan mereka. Nggak ada yang duduk seorang diri.

"Aah... lalu aku harus duduk di mana?" keluhku pada Amu.

"Maaf, tapi kami sudah janji." Ucap Amu dan Tadase bersamaan. "Lagipula, kenapa kau nggak duduk dengan Nagihiko saja? Dia kan pacarmu," lanjut Amu heran.

"Ukh, itu..." sayang sekali aku nggak menyiapkan alasan untuk pertanyaan seperti ini. Dan mana mungkin aku bilang aku nggak mau duduk dengan Nagihiko karena aku nggak menyukainya, di saat seharusnya kami menyukai satu sama lain?

"Aku hanya ingin mengobrol denganmu sepanjang perjalanan." Ujarku akhirnya mengatakan alasan yang terdengar payah sekali.

"Yah, apa boleh buat. Aku minta maaf," Amu tersenyum menyesal. "Oh, lihat. Kelihatannya Nagi menemukan tempat duduk yang bagus!"

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Amu dan melihat Nagihiko duduk di kursi paling belakang. "Hei, Rima-chan, lihat! Ini cukup luas untuk kita berdua!" serunya sambil melambaikan tangan begitu melihatku menoleh.

"Aww... sepertinya tempat itu cukup bagus untuk... yah, kau tahu lah~" gumam Amu memberiku pandangan aneh. Dan seketika itu juga, seluruh murid menatap ke arahku sambil berbisik-bisik geli.

"Hei, aku nggak akan mengizinkan ada yang berbuat macam-macam!" suara Nikaidou-sensei yang mengguntur membuat semua orang berhenti berbisik dan berputar menghadapnya. "Kenapa diam saja? Ayo, Fujisaki-san, sana duduk!" perintahnya ketika melihatku masih berdiri di tempat.

Dengan geram aku melangkah menuju bagian belakang bus, dan seketika itu juga semua orang kembali berbisik saat aku lewat. Tanpa banyak bicara kutunjukkan tatapanku yang paling tajam pada salah seorang dari mereka, dan orang itu langsung terdiam dan memalingkan muka, begitu juga yang lainnya.

"Nah, silakan duduk, Tuan Putri." Ujar Nagihiko menepuk bangku di sebelahnya.

Kuhempaskan tubuhku ke bangku dengan keras dan menatapnya dengan kebencian yang nggak kututup-tutupi. "Terima kasih. Berkatmu, semua orang berpikir yang bukan-bukan tentangku."

Nagihiko menepuk-nepuk kepalaku dan tertawa. "Sama-sama. Aku akan berusaha keras membangun reputasi yang baik untuk hubungan kita." Ujarnya terdengar puas.

Ucapannya barusan sudah cukup buatku. Tanpa bisa kutahan lagi, aku menepis tangannya dari kepalaku dan mendorongnya ke pojok bangku. "Idiot." Geramku lalu segera memasang earphone ke telepon genggamku dan mencoba melupakan kehadirannya dengan mendengarkan lagu.

.

.

.

"Baiklah, anak-anak, tempat pertama yang akan kita tuju adalah awal mula terjadinya romansa di dunia ini." Nikaidou -sensei menerangkan lalu berhenti di depan sebuah diorama patung Adam dan Hawa yang dilapisi kaca. "Adam dan Hawa adalah sepasang manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan, dan kisah cinta mereka berawal ketika Hawa memakan buah yang dilarang oleh Tuhan..."

Suara Nikaidou-sensei yang merangkap sebagai pemandu wisata hanya terdengar samar di telingaku. Aku menatap ke sekeliling dan menyadari tempat ini ternyata nggak seperti apa yang kubayangkan sebelumnya. Penilaianku pada museum ini dalam kunjunganku yang pertama kali, tempat ini terlihat seperti... yah, museum. Dengan tembok tebal dan pilar-pilar tinggi yang menopang langit-langit, tempat ini nggak jauh berbeda dengan museum-museum lainnya dan sama membosankannya. Sebelumnya aku mengira tempat ini akan dipenuhi oleh dekorasi penuh warna merah muda dan hati-hati merah membara bertebaran di mana-mana.

"Hei, kau sedang apa, Rima-chan? Kita akan ketinggalan rombongan," teguran Nagihiko membuat lamunanku buyar.

"Ah, ya, terserah." Sahutku sekenanya. Aku tersadar bahwa ternyata kami hanya berdua ketika kulihat semua orang sudah berkerumun di depan diorama berikutnya.

"Nah, Fujisaki-san, Mashiro-san, kalian benar-benar akan tersesat jika tidak berada dalam rombongan sekali lagi," ujar Nikaidou-sensei dengan tangan di pinggang saat melihat kami berdua. "Tolong tunjukkan sedikit rasa hormat pada ilmu pengetahuan."

Sebelum aku sempat mengucapkan permohonan maaf, Nagihiko sudah mendahuluiku menunduk dalam-dalam. "Maafkan kami, Sensei. Ini salahku karena melamun." Ujarnya.

"Sudahlah, tak apa-apa." Ujar Nikaidou-sensei. "Sekarang kita berlanjut pada zaman purbakala. Kalian bisa lihat, para lelaki pada masa itu sudah memiliki naluri untuk melindungi pasangan mereka. Dan mereka akan bertempur sekuat tenaga jika ada laki-laki lain..."

Sambil mengikuti rombongan berjalan menyusuri deretan diorama lain, aku tertegun menatap Nagihiko yang sedang sibuk mencatat perkataan Nikaidou-sensei dalam bukunya. Tindakannya yang meminta maaf atas kesalahanku membuatku heran. "Kau benar-benar melindungiku, atau bersikap sok pahlawan tadi?" tanyaku.

"Maaf?" Nagihiko mengangkat kepala dari bukunya.

"Saat kita tertinggal tadi. Kenapa malah kau yang minta maaf?"

"Oh, itu," dia mendongak untuk menatap papan keterangan yang terdapat di depan diorama dua manusia purba yang saling menghunuskan tombak. "Sepertinya itu hanya naluriku untuk melindungi pacarku dari masalah."

Dia mengucapkannya dengan enteng, tapi entah kenapa itu berefek pada hatiku yang berdebar. "B―bodoh, memangnya kau manusia purba?" ucapku, dan menyesal kenapa ada sedikit gagap dalam caraku bicara.

"Baiklah, sekarang kita bergerak ke tempat selanjutnya. Hei, kalian berdua! Sebaiknya cepat selesaikan catatan kalian sebelum tertinggal lagi!" Nikaidou-sensei berseru pada kami.

"Ah, baik. Ayo, Rima-chan." ujar Nagihiko menutup bukunya dan mempersilakanku berjalan lebih dulu.

Aku dan Nagihiko bergabung dengan rombongan murid yang menatap takjub pada pintu besar yang dihiasi ukiran di bagian atasnya. Ukiran itu dibuat dengan teliti membentuk dahan-dahan mawar yang mengelilingi bentuk hati besar berwarna merah terang di tengahnya. Setelah kuamati, ternyata dahan-dahan itu dibentuk sedemikian rupa menjadi sebuah tulisan yang berbunyi 'ROMANSA ABAD PERTENGAHAN'.

Setelah berbicara sebentar pada petugas yang menjaga pintu ruangan, Nikaidou-sensei dengan kesenangan meluap-luap mendorong pintu besar itu membuka dan berseru menerangkan. "Ini dia bagian yang paling kusuka dari museum ini! Sebagian besar kisah cinta di dunia terjadi pada masa ini. Ksatria berbaju zirah, putri yang disekap dalam sebuah puri, dan pertempuran dengan naga... sungguh suatu masa yang penuh keberanian!"

Dan jujur saja, aku benar-benar dibuat kagum dengan keindahan ruangan ini. Nggak ada lagi diorama, karena semuanya diatur berbeda dari ruangan lainnya. Patung-patung yang menggambarkan berbagai pasangan dalam legenda diletakkan secara acak beserta sebuah monitor yang berfungsi untuk memberikan penjelasan. Dan tembok-temboknya dipenuhi dengan puisi-puisi yang diukir dengan tinta emas dan dilengkapi nama penyairnya beserta tanggal pembuatannya.

"Ah, lihat itu, Rima-chan!" Kusukusu berseru dengan riang. Aku berpaling dan melihat Nikaidou-sensei sudah bergegas menuju patung yang terletak persis di tengah ruangan.

"Nah, dan di sini adalah kisah cinta paling terkenal sepanjang masa, Romeo dan Juliet!" jelasnya bersemangat. "Memang kisah cinta mereka hanya ada dalam cerita, meskipun begitu, Sir William Shakespeare telah membuat karya mengagumkan yang mampu menggambarkan arti cinta sejati."

Seluruh murid bergumam kagum. Aku maju lebih dekat untuk mengamati patung itu. Sosok Romeo yang rebah tak bernyawa di tanah dengan Juliet memeluknya, untuk kemudian menyusulnya mati, seolah membuatku tersihir. Semua orang di sekelilingku nggak lagi kuhiraukan. Sekujur tubuhku merinding mengingat kisah cinta mereka yang berakhir tragis karena pertentangan antara kedua orangtua mereka.

"Kau tahu, jika semua orang seperti mereka, mungkin nggak akan ada pertengkaran antar kekasih atau perceraian." Gumam Nagihiko di sebelahku.

Aku menoleh dan melihatnya menatap serius ke arah patung itu. Kuakui yang dikatakannya benar. "Sayangnya, orangtuaku nggak seperti itu." ujarku.

"Rima..."

"Apa? Sekarang kau mengasihaniku?" tukasku lalu segera memalingkan diri darinya.

Untuk sesaat hanya ada keheningan. Lalu kurasakan sebuah tangan menyentuh puncak kepalaku. Aku berbalik dan melihat ternyata Nagihiko lah yang melakukannya.

"Kau gadis yang kuat. Kurasa kau nggak butuh rasa kasihan dariku." Katanya sambil menggerakan tangannya pelan mengelus kepalaku.

Entah kenapa kali ini apa yang dilakukannya padaku membuatku merasa lebih tenang. Seharusnya aku segera menepis tangannya, tapi kali ini aku ingin tangan itu terus berada di situ.

"Yah... terima kasih, kurasa."

"Bukan masalah." Ujarnya tersenyum. "Nah, sekarang sebaiknya kita segera bergerak sebelum―"

"Nagi, kurasa sudah terlambat." Temari yang bicara dengan nada tegang memotong ucapannya.

"Apanya?" tanya Nagihiko.

"Bro, kurasa kau harus lihat pintunya..." Rhythm menjawab dan menunjuk ke arah pintu masuk dengan wajah pucat. Dan sebelum salah satu dari kami bertanya apa maksud ucapannya, pemandangan pintu itu yang tertutup rapat sudah menjawab hal itu dengan sendirinya.

"APAAA!?" seru kami semua berbarengan.