~Author Speech~

Vices: Ah, konnichiwa, Readers sekalian. Kita ketemu lagi :) Emang gue keterlaluan kali ini, tapi gue tetep harus minta maaf sebesar-besarnya sama kalian! Dengan bodohnya gue melakukan hiatus tanpa pemberitahuan, dan lebih bodoh lagi, udah sebulan lebih berlalu sejak terakhir gue update. Hontouni gomennasai!

Rima: Untuk kali ini gue paham sama alasan lo. Meski nggak mirip-mirip banget, rasanya nasib kita sama.

Nagi: Eh? Emangnya Vices-kun kenapa?

Vices: Uh, well... untuk satu dan lain hal, gue nggak mau kasih tahu. Yang jelas, selama ini gue jauh dari rumah... dan udah pasti jauh dari laptop juga.

Nagi: ...entah kenapa situasi ini bikin gue ngerasa nggak enak.

Vices: Nggak, kok, perasaan lo aja kali! Makanya jangan pake perasaan~ Yah, cukup tentang gue. Sekarang kita langsung aja roll chapter dengan penuh semangat! On The Go!

Nagi: Dan buat pembacaan review, mulai sekarang dipindah ke akhir chapter biar nggak menuh-menuhin :)


Chapter 16

Nerve

Lagu Yang Gue Denger Saat Bikin Chapter Ini:

The Red Jumpsuit Apparatus – Your Guardian Angel

Komentar:

Ukh... gue butuh lagu yang emosional, jadi ini lah yang muncul di playlist gue. Liriknya bercerita tentang seseorang yang berusaha selalu ada buat orang yang disayanginya. Lumayan bikin nangis, jadi hati-hati dengerinnya.


Nagi's

Keheningan yang menyusul sangat menyiksa. Pemandangan pintu besar dari baja yang begitu kuat dan megah itu menambah aura keputus-asaan memenuhi udara. Bentuknya yang kokoh seakan menegaskan bahwa dia cukup berkuasa untuk memisahkan kami dari dunia luar, dan nggak ada yang bisa merobohkannya...

Baik, caraku dalam menjelaskan keadaan mungkin berlebihan. Tapi aku tetap menganggap pintu itu mengerikan. Nggak perlu waktu lama bagiku untuk memahami dalam situasi apa aku terjebak sekarang, namun bibirku belum mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Lalu Rima memecah keheningan dan bicara dengan kepala tertunduk. "Jadi... kita terkurung di sini?"

"Eh, ya... kurasa begitu," jawabku.

Kembali hening.

Ya ampun, demi seisi bumi, bagaimana ini bisa terjadi!? Benakku melolong panik, dan aku menjaganya agar nggak terlontar keluar dari bibirku. Tenang, tenang... ingatlah bahwa dirimu adalah orang dengan pengendalian diri yang baik. Aku nggak mau merusak reputasiku di depan gadis itu.

Lagipula, bukan berarti pintu itu benar-benar terkunci, 'kan? Aku sama sekali nggak mendengar bunyi 'klik'.

"Yah, mungkin pintu itu sebenarnya nggak terkunci dan kita hanya harus membukanya saja," kuutarakan pemikiranku itu pada Rima.

"Oh―ya, mungkin kau benar." Dia mengangkat kepalanya. "Kalau begitu, cobalah."

Selagi melangkah mendekati pintu itu, tanpa kusadari aku berdoa agar ucapanku benar. Dengan tangan berkeringat kuraih gagangnya. "Baiklah, akan kubuka seka―"

Klik.

"ASTAGANAGA, MEMANGNYA INI KOMIK LAWAK!?" Lolongan dalam benakku beberapa saat lalu lolos dan berubah menjadi jeritan frustrasi. "Hei, tunggu! Kami masih di―"

"Hentikan, itu nggak akan ada gunanya." Sela Rima tajam.

Aku berbalik dan dengan bingung menatapnya. "Maaf?"

Seakan bisa membaca apa yang kupikirkan saat bertemu muka denganku, dia mendesah. "Lihatlah sekeliling ruangan ini. Dengan pintu dari baja yang menutup dengan rapat, juga tembok tebal tanpa jendela, otomatis ruangan ini kedap suara."

Kuikuti sarannya, dan kuakui dia benar. Aku merasa bodoh karena nggak menyadarinya lebih dulu. Sebenarnya ada satu lubang yang bisa menyalurkan suara, yaitu saluran ventilasi di bagian atas dinding sebelah kanan. Namun saluran itu nggak akan membawa suaraku kemanapun jika aku mencoba berteriak meminta pertolongan lewat sana.

"Logika yang bagus... lalu bagaimana cara kita keluar dari sini?" tanyaku.

Alih-alih menjawab, dia berpaling tanpa bicara dan pergi ke salah satu sisi dinding, lalu memusatkan tatapannya pada puisi yang terukir di situ. Sambil terus memandang dinding itu, dia berujar, "Aku nggak tahu denganmu, tapi aku menemukan sesuatu yang bisa menyita waktuku selagi menunggu seseorang datang."

Aku tertegun. Dalam situasi yang cukup menegangkan ini, bagaimana dia bersikap masa bodoh begitu? Maksudku, coba lihat apa yang dilakukannya sekarang... dia sepertinya menikmati sekelilingnya. Padahal sebelumnya aku nggak pernah melihatnya menunjukkan ketertarikan pada sesuatu seperti puisi.

"HIYAAA!"

Selagi benakku sibuk menganalisis Rima, suara raungan seseorang disusul dentuman keras pada pintu mengagetkanku. Pada awalnya kupikir suara hantaman itu ditimbulkan oleh petugas keamanan yang mencoba membuka pintu itu. Namun apa yang kulihat setelahnya membuatku tiba-tiba merasa amat lelah.

"Mana mungkin nggak ada yang bisa mendengarku! Hei, tolong keluarkan kami!" Rhythm berteriak dengan kalap dan memukuli pintu yang besar itu sekuat tenaga.

"Yay, semangat, Rhythm! Dengan kekuatan seperti itu mungkin kau bisa merobohkan pintunya!" Kusukusu memberikan semangat padanya dengan melompat dan berputar di udara.

"Ampun, deh, Rhythm... berhentilah menambah keruh suasana," keluhku sebagai orang yang bertanggung jawab atas kelakuannya. "Kau itu Shugo Chara, ingat? Nggak akan ada yang mendengar suaramu kecuali mereka memiliki Shugo Chara juga. Atau telinga super," tambahku.

"Omong kosong! Apa kau lupa kalimat ini; semua orang punya telur hati dalam hatinya!?" bantah Rhtyhm dengan keras kepala. "Mana mungkin nggak ada yang mendengarku―hei, buka pintu ini, sialan!"

"Oi, sudahlah." Dengan sekali sentakan Temari menarik telinganya dan membawanya ke hadapanku. "Boleh saja kau panik, tapi jangan ganggu orang dengan klaustrofobia*-mu itu, dong."

"Rhythm punya klaustrofobia?" tanyaku kaget.

"Oh, kau nggak tahu saja... dia menangis dan berteriak-teriak ketika kemarin tanpa sengaja kau mengurungnya dalam lemari." Temari menjelaskan sambil melirik dengan geli pada saudara laki-lakinya itu.

"Iya, dan aku―hei, kenapa kalian jadi membicarakanku? Ayolah, kita harus keluar dari sini!" tukas Rhythm dengan wajah memerah.

"Aku juga inginnya begitu," gumamku lelah. Kemudian aku berpaling pada Charaku yang bijak, Temari. Atau setidaknya, yang orang lihat dari luar. "Baiklah, Temari, aku mengandalkanmu. Apa ada ide yang terlintas di benakmu?"

Seakan-akan permintaanku itu sesulit memintanya memindahkan gunung, dia menghela nafas. "Kenapa tak kau gunakan telepon genggammu untuk memberitahu seseorang bahwa kita tertinggal dan terkunci di sini?"

Dia benar. Dan aku sukses terlihat bodoh di depan Charaku sendiri. "Oh, ya. Coba kuambil dulu..."

Tanganku masuk dengan cepat ke kantung belakang celana sekolahku, tempat biasanya aku menaruh telepon genggamku. Namun jemariku langsung menyentuh dasar kantung dan tak merasakan benda apa pun di sana.

Lalu bagaikan wahyu dari para dewa, kilasan kejadian pagi ini terputar kembali dalam benakku. Dan apa yang kuingat sama sekali bukanlah hal yang bagus...

Aku meninggalkannya di kamar pagi ini, terhubung dengan charger.

.

.

.

Beberapa menit sudah terlewat, dan Temari nggak juga berhenti menceramahiku. Sikapnya persis ibu-ibu yang memergoki anaknya saat menyembunyikan kertas ulangan yang bernilai nol.

"Sungguh, Nagi, aku tak pernah melihatmu begitu ceroboh seperti ini." Omelnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aku mengenalmu sebagai orang yang teliti, karena itu aku bingung, bagaimana bisa kau―"

"Ehem!"

Aku, Temari, dan Chara lainnya sontak menoleh dan melihat Rima menatap tajam pada kami semua. "Bisakah kalian tutup mulut kalian? Aku sedang mencoba berkonsentrasi sekarang ini." ujarnya tenang, namun sarat dengan ancaman.

"Baik!" sahutku dan para Chara serentak.

Untuk beberapa saat Rima terus menatap kami seperti itu, sampai dia berbalik menyusuri sisi dinding lainnya.

"Apa-apaan itu tadi?" bisik Rhythm padaku.

Kuamati gadis itu untuk terakhir kalinya sebelum berpaling karena dia kembali memelototiku. "Entahlah. Tapi yang jelas turuti saja apa katanya." ujarku.

"Y―yah," Temari mulai bicara dengan suara dipelankan "Kembali ke rencana awal. Mungkin kita bisa meminjam telepon genggam Rima-chan?"

"Mungkin bisa, itu jika kau punya nyali untuk melakukannya. Lihat caranya memandang kita tadi," Rhythm bergidik ngeri.

"Kurasa aku bisa." Kataku.

Rhythm menatapku dengan mata melebar. "Hei, kau yakin!? Jangan bahayakan hidupmu, Nagi!"

"Yakin." Aku melangkah mendekati Rima tanpa prasangka apapun. Aku 'kan hanya ingin meminjam teleponnya. Rasanya hal itu nggak terlalu mengganggu. "Hei, Rima-chan. Aku ingin meminjam teleponmu untuk―"

Tiba-tiba saja sebuah benda melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah wajahku. Dengan kecekatan seorang pemain basket aku menangkapnya dengan tangan kananku, dan melihat bahwa itu adalah sebuah telepon genggam.

"Apa bisa menggunakan telepon saat baterainya habis, bodoh?" ujar Rima ketus.

Kutatap telepon layar sentuh yang mati itu, lalu ke pemiliknya. Meskipun sikapnya menyebalkan, kurasa nggak bijaksana untuk memulai pertengakaran dalam situasi seperti ini. "Yah, kurasa inilah saat sebuah smartphone nggak lagi smart." Ujarku sambil mengulurkan benda itu padanya.

Rima menatap tajam padaku lalu menyambar teleponnya dengan kasar. "Kau tahu, leluconmu payah."

"Ba―baiklah, sudah, sudah." Temari, secara mengejutkan, muncul dan menyela dengan takut-takut. "Kalau begitu, kurasa kita hanya perlu mencari cara lain untuk keluar sambil menunggu seseorang datang. Benar, Rima-chan?"

"Hmm." Rima bergumam lalu kembali menekuri ukiran di hadapannya.

Kuamati dia dan merasa penasaran apa sebenarnya yang dipikirkannya sekarang. Akhirnya kuputuskan untuk membiarkannya saja dan beranggapan kalau dia hanya pura-pura terlihat tenang. Nggak lama lagi pasti dia akan menggulung dirinya menjadi bola.

.

.

.

Rasanya begitu lama aku duduk bersila di lantai mencoba menganalisa setiap kemungkinan untuk keluar dari sini, namun akhirnya otakku menyerah. Jika tubuh seorang manusia digerakkan dengan mesin, mungkin dari dalam kepalaku akan terdengar suara berdesing karena sejak tadi digunakan untuk berpikir secara maksimal.

Aku mendesah sambil bersandar ke tembok di belakangku. Para Chara tertidur di sebelahku entah sejak kapan.

"Mana Rima?" tanpa sadar aku bertanya pada diriku sendiri. Benakku langsung tertuju padanya saat kusadari ruangan ini terasa begitu senyap. Aku terlalu sibuk berpikir sampai melupakan kehadirannya.

Kuedarkan pandanganku dan menemukannya sedang berjongkok di depan patung Romeo dan Juliet. Entah sudah berapa lama dia menghabiskan waktu di situ, dan aku sedikit bingung bagaimana bisa dia nggak mengeluarkan suara sama sekali.

Aku bangkit dan menghampirinya untuk mengusir kesunyian dengan bicara padanya. "Apa kau baik-baik saja?"

Rima menoleh sekilas. "He-eh," sahutnya singkat.

Nggak ada basa-basi? Yah, mungkin aku harus memulai pembicaraan yang lebih santai.

"Haah... kemana, sih, orang-orang di museum ini? Lagipula, kenapa nggak ada satupun teman kita atau Nikaidou-sensei yang menyadari bahwa kita menghilang dari rombongan?" kataku nggak sungguh-sungguh mengeluh.

"He-eh."

Sebuah pembicaraan konyol dan terkesan buang-buang waktu saja dalam situasi seperti ini. Ini adalah pertama kalinya aku terkunci dalam sebuah ruangan bersama seorang gadis. Padahal jika dalam situasi lain mudah sekali bagiku untuk mencairkan suasana. Kalau sudah begini, apa lagi yang bisa kulakukan?

"Hei, Fujisaki,"

"Ya?" sahutku sedikit terkejut karena Rima tiba-tiba memanggilku.

"Menurutmu, apa cinta sejati itu ada?"

Tunggu, kenapa tiba-tiba obrolan ini berubah menjadi pertanyaan tentang cinta? Untuk sejenak aku terlalu bingung untuk menjawab, dan lebih memilih untuk bertanya. "Mengapa kau menanyakan itu?"

"Yah," Rima bangkit dan merentangkan tangannya. "Habis, seluruh puisi dan patung yang ada di sini bercerita tentang kisah cinta sejati."

"Bahkan, yang satu ini," lanjutnya sambil menunjuk patung Romeo dan Juliet di bawahnya, "mereka memutuskan untuk mati karena saling mencintai satu sama lain. Menurutku itu indah sekali."

Aku menelan ludah. Sejak kapan dia tertarik pada hal-hal yang berhubungan dengan perasaan seperti ini? Ketika aku sibuk berpikir begitu, kusadari Rima terus menatap dan menunggu jawabanku.

"Ah, ehm... yah, aku percaya cinta sejati itu ada." Ujarku sambil berdehem sedikit. "Mungkin orangtuaku contohnya. Meskipun ayahku berada di benua yang berbeda dengan ibuku, mereka berdua tetap menjaga perasaan masing-masing."

Dengan hati-hati kutatap Rima. Dia terlihat puas dan mengangguk. "Jawaban yang bagus," ujarnya lalu kembali berjongkok menghadap patung Romeo dan Juliet.

Hah, begitu saja? Apakah dia hanya ingin mendengarku bicara begitu, atau ada hal lain yang disimpannya? Kurasa aku terlalu curiga. Tapi aku nggak bisa menahan dorongan rasa penasaranku. "Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Sejak tadi aku mengamati semua puisi dan patung di sini..." Rima mendesah pelan sejenak, lalu duduk bersila. "Padahal orangtuaku tadinya adalah sepasang kekasih juga, tapi entah kenapa mereka nggak memiliki kisah cinta seperti yang digambarkan di sini."

Apa ini yang di sebut déja vu? Aku nggak menduga topik ini masih mengganggunya bahkan setelah beberapa tahun berlalu sejak perceraian orangtuanya.

"Hei, Rima-chan, kau yakin kau baik-baik saja?" tanyaku merasa khawatir.

"Aku baik-baik saja, terima kasih." Sahutnya, dan membuatku terkejut karena ucapan terima kasih di belakangnya. "Kau tahu, kurasa seharusnya seseorang nggak memutuskan untuk menikah sebelum mereka yakin mereka benar-benar mencintai satu sama lain."

Sejenak kupandangi dia, dan dengan cepat perasaanku menyimpulkan kalau dia nggak baik-baik saja. "Apa yang kau katakan itu ada benarnya. Tapi seseorang nggak mungkin menikah jika mereka nggak mencintai satu sama lain." Ujarku.

"Lalu bagaimana dengan orangtuaku?" tukasnya tajam. "Jika mereka mencintai satu sama lain, mereka nggak mungkin bercerai. Mereka nggak mungkin bertengkar dan membuatku bosan―dan membuatku terpaksa terjebak dalam dunia yang aneh ini!"

"Hei, hei, tenanglah," kuulurkan tanganku untuk menyentuh bahunya, namun dia segera menepisnya. Dia terlihat benar-benar geram dan tubuhnya gemetar begitu kencang. "Orangtuamu bertengkar, dan begitu juga para pasangan lain. Namun bagi orangtuamu, mungkin terlalu sulit untuk menangani masalah di antara mereka. Dan mungkin nggak ada pilihan lain yang lebih baik selain berpisah."

"Lalu apa artinya kalimat 'dalam susah maupun senang'?!" Rima berseru keras. Dia menunduk, dan kulihat sebutir airmata menetes ke punggung tangannya. "Kalau mereka benar-benar mencintai satu sama lain, justru pilihan terbaik adalah tetap bersama, 'kan?!"

Aku nggak sanggup berbuat ataupun berkata apa-apa. Semua yang dikatakannya benar, dan bukan suatu perkataan yang bisa dibantah olehku atau siapapun.

Atas dorongan naluri, aku menariknya dalam pelukanku. Tangisnya pecah dengan kepala terbenam di dadaku.

"Te―tempat ini telah memberikan pelajaran untukku... a―ku nggak akan membiarkan apapun menghalangiku saat aku me―menikah nanti!" teriaknya dengan suara tercekat di sela tangis. "Aku akan memastikan aku menikahi seseorang yang mencintaiku sepenuh hati, sehingga kami nggak akan berakhir seperti kedua orangtuaku!"

"Kau pasti bisa, Rima-chan." Kataku di telinganya sambil mengusap kepalanya. "Siapapun yang menikah denganmu nanti pasti beruntung memiliki orang sepertimu."

.

.

.

Semua tangis dan emosi telah menguras energi Rima dan membuatnya terlelap dengan kepala di atas pangkuanku. Mau nggak mau aku tetap duduk agar dia nggak terbangun.

Rima. Meskipun dia selalu menunjukkan wajah dingin tanpa ekspresi, namun apa yang terjadi pada keluarganya tetap menimbulkan luka baginya. Aku nggak pernah menduga dia akan mencurahkan isi hatinya dan menangis dalam pelukanku.

Tanpa sadar aku tersenyum melihat betapa polos wajahnya saat tidur. Inilah sosok yang nggak pernah diperlihatkannya pada orang lain, dan entah kenapa hal itu mengirimkan perasaan hangat dalam dadaku.

"Nagi,"

Aku menoleh dan melihat ternyata Temari lah yang memanggilku. Rupanya dia terbangun. "Maaf, aku terlalu berisik, ya?"

"Tidak, tapi..." dia terbang menghampiriku. Kimono-nya basah oleh keringat. "Aku merasa di sini panas sekali." Ujarnya sambil mengipasi dirinya menggunakan lengan kimono-nya.

Benarkah? Lalu aku menyadari ucapannya benar saat sebutir keringat mengaliri pipiku dan menetes ke dahi Rima. Segera kuseka dahinya pelan-pelan karena khawatir dia akan terbangun, namun dia tetap terlelap. Setelah kuamati ternyata sekujur tubuhnya pun berkeringat.

"Bagaimana bisa tempat ini menjadi begitu panas?" gerutuku sambil menatap ke sekeliling ruangan. Namun semuanya terlihat normal.

"Harusnya aku yang tanya begitu," Rhythm duduk di hadapanku sambil mengusap keringat di dagunya. "Museum ini mustahil nggak punya AC, 'kan?"

"Gedung besar seperti ini biasanya memiliki sistem pendingin ruangan tunggal yang menyebarkan udara dingin melalui saluran ventilasi," ujarku memandang ke atas dan menunjuk lubang ventilasi yang terletak di bagian atas dinding. "Sepertinya itulah masalahnya. Pendingin ruangan satu-satunya itu rusak, dan membuat ruangan yang kedap udara ini menjadi panas."

"Ya tuhan, apa itu buruk?" Temari bertanya cemas.

"Nggak juga, setidaknya udara tetap bertukar karena ada ventilasi." Jelasku, meskipun hal itu nggak mengurangi rasa kesalku pada situasi yang sial ini. "Namun kita harus menahan panas ini sampai kita bisa keluar."

"Ng..." Rima terbangun dan bergelung di pangkuanku. Wajahnya pucat dan dihiasi peluh yang begitu deras mengalir. "Kenapa panas sekali?"

"AC-nya rusak, Rima-chan―hei, kau nggak apa-apa?" kataku terkejut melihat keringatnya yang mengalir terlalu banyak.

"Panas... sekali. Aku merasa pusing..." ujarnya dengan suara lemah. Lengannya yang tadinya menggenggam bajuku tiba-tiba saja jatuh terkulai.

"Hei, kau kenapa?!" seruku panik. Matanya yang redup terlihat sekilas dari kelopak matanya yang setengah tertutup. Dengan segera aku tahu apa yang sedang dialaminya.

"Kusukusu, apa Rima-chan nggak tahan panas?"

"Oh tuhan―iya, benar. Karena itulah Rima-chan nggak pernah pergi ke pantai," Kusukusu menyahut dengan gemetar. "Kumohon, jangan katakan kalau Rima-chan akan pingsan..."

Ya, dia akan pingsan, atau malah lebih buruk lagi jika nggak ada yang segera melakukan sesuatu! Aku memandang ke sekeliling dengan kalut dan teringat buku catatan yang kuletakkan di sebelahku, lalu segera menggunakannya untuk mengipasi Rima.

"Na―Nagihiko..." gumam Rima. Bibirnya bergerak membentuk seulas senyum lemah.

"Ya, Rima-chan? Kumohon, terus bicaralah padaku!"

"Terima... kasih, ya..."

.

.

.

Aku menyaksikan dengan panik saat bibirnya yang selalu digunakannya untuk melontarkan kalimat pedas padaku, sekarang terkatup membentuk garis lurus tipis. Tubuhnya yang seperti nggak pernah kehabisan energi ketika beradu mulut denganku, sekarang tergolek lemah nggak berdaya...

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa nggak berguna. Dan tanpa sadar, airmataku menetes.

"Bagaimanapun juga..." dengan hati-hati kurebahkan Rima di lantai, lalu bangkit dan berlari kearah pintu dan menendangnya sekuat tenaga. "Kita harus keluar dari sini!"

"Berhenti, Nagi! Jangan biarkan emosi menguasaimu!" Temari menghampiri dan menarik lengan bajuku kuat-kuat. "Pasti ada cara lain bagi kita untuk keluar," ujarnya sesenggukan. Airmatanya menetes saat aku berpaling menatapnya.

"Ini salahku... aku adalah laki-laki, tapi aku nggak berguna," gumamku seraya menatap Kusukusu yang melakukan hal yang sia-sia untuk membangunkan pemiliknya. "Sebagai laki-laki, apa yang terjadi pada Rima adalah tanggung jawab―"

"Berisik!" bentak Rhythm tepat di depan wajahku. "Kalau kau mengakui dirimu sebagai laki-laki, hadapi semua ini dengan kepala dingin!"

"Tapi―" aku berusaha membantah, namun Rhythm menarik kerah bajuku dan menatapku tajam.

"Lihat, katamu itu lubang ventilasi, 'kan? Kalau orang-orang dalam film bisa merangkak melewatinya, kau juga bisa!" ujarnya menunjuk lubang ventilasi yang tutupnya telah terbuka. Bagaikan disiram dengan air es, kata-katanya telah membuat pikiranku menjadi jernih.

"Kau benar, kita bisa lewat sana." ujarku berangsur-angsur merasa lega. "Aku bisa mencapainya jika kita ber-Chara-nari. Ayo, Rhythm!"

"Aye, aye, sir!" sahutnya sigap.

Dalam sekejap aku sudah berubah karakter dengannya. Aku berlari menghampiri Rima yang terbaring dan berusaha menenangkan Kusukusu yang terus menangis di atas kepalanya.

"Ayo, Kusukusu, kita keluar dari sini!" ujarku lalu mengangkat tubuh Rima dengan lembut menggunakan kedua tanganku.

Tubuhnya terasa seringan udara... dan aku nggak bisa pura-pura nggak merasakan kehalusan kulitnya di jemariku.

Segera kutepis pikiran gila itu dan melangkah ke sisi dinding tempat lubang ventilasi itu berada. Setelah menghela nafas sejenak, dengan seluruh tenaga yang kupunya aku melompat dan masuk ke lubang itu dan mendarat dengan punggungku. Karena khawatir jika benturan tadi melukai Rima, kuperiksa keadaannya. Dia terlihat baik-baik saja, hanya saja masih pingsan.

Begitu mataku mulai terbiasa dalam kegelapan, aku segera mengetahui jalur lubang ini memanjang sekitar lima meter dan berhenti pada belokan yang mengarah ke kanan. Tinggi lubang ini nggak terlalu pendek sehingga aku bisa berjalan dengan berjongkok.

"Baiklah, jadi kita terus sampai belokan itu, lalu sisanya mengandalkan naluri." Ujarku pada para Chara yang mengangguk paham. Tanpa buang waktu lagi aku mulai berjalan sambil terus mendekap Rima erat-erat. Agak sulit bagiku, karena selain lubang ini cukup sempit, tubuh Rima masih basah oleh keringat.

Belokan pertama telah kulewati, dan di depanku terpampang jalur baru yang terbagi menjadi dua arah, kanan dan kiri. Hidup memang penuh pilihan, batinku kesal.

"Nah, jadi ke mana?" tanyaku pada ketiga Chara di belakangku.

"Kurasa ke kanan. Karena segala hal lebih baik jika menggunakan tangan kanan." Ujar Temari.

"Ukh―entahlah, Temari..." logikanya tentang hal yang berhubungan dengan arah membingungkanku. "Bagaimana menurutmu, Rhythm?"

"Tentu saja kiri! Saat di jalan raya, di sisi mana kau berjalan? Jika di kanan, siap-siap saja tertabrak kendaraan lain." Rhythm menyahut sambil tertawa.

"Tapi harus lewat kanan jika ingin mendahului kendaraan lain!" bantah Temari.

"Oke, oke, jangan mengumpamakannya dengan jalanan," ujar Rhythm masih nggak mau mengalah. "Kalau begitu, hatimu, Nagi. Di sebelah mana hatimu berada?"

"Kiri?"

"Tepat! Jadi, ikutilah kata 'hati'-mu." Putus Rhythm terdengar puas.

"Yah..." perdebatan konyol ini nggak memberikan solusi sama sekali. Jadi, kurasa aku harus memilih berdasarkan suara terbanyak saja. "Kalau menurutmu, Kusukusu?"

"Aku ikut Rhythm saja." ujarnya riang. Entah kenapa, aku merasa pilihan itu diputuskan bukan atas kemauannya sendiri, melainkan karena pengaruh Rhythm padanya.

"Oke, aku ambil suara terbanyak. Maaf, Temari," ujarku pada Temari yang mendengus sebal. Aku nggak mau repot memperhatikannya dalam situasi seperti ini dan terus saja berjalan.

Di luar dugaanku, pilihan yang kuambil dengan asal ini ternyata benar. Di ujung jalur ini aku melihat seberkas cahaya masuk melalui celah penutup lubang. "Teman-teman, lihat! Akhirnya kita―"

Sebelum aku sempat berkata lebih jauh, suara desau dan semilir angin dingin menerpa kulitku. Angin itu berangsur-angsur menjadi semakin kencang, membuat udara di sekelilingku menjadi dingin menusuk.

"Uwaa!" ketiga Chara di belakangku berteriak dan menggenggam erat bagian belakang bajuku. "Dingin sekali! Apa yang terjadi?!" seru Temari.

"Sepertinya AC-nya sudah diperbaiki, tapi itu bukan hal yang cukup bagus sekarang!" balasku berusaha mengatasi suara angin yang begitu kencang. Aku berusaha nggak bergerak agar mencegah para Chara itu tertiup angin, namun hanya berada di situ saja sudah membuat kakiku terasa membeku.

Aku tersentak saat teringat Rima yang berada dalam pelukanku. Dia baru saja mengeluarkan banyak keringat, dan membiarkannya terlalu lama di sini akan membuatnya demam... atau bisa saja mati membeku!

"Rima! Rima, kau dengar aku? Bangunlah!" aku berseru padanya sambil menggoyangkan tubuhnya.

Rima hanya mengeluarkan suara erangan pelan. Tubuhnya gemetar begitu hebat. Wajahnya semakin pucat, dan warna merah pada bibirnya berubah membiru.

"Sial!" aku mengerang saat mencoba melangkahkan kakiku, namun tubuhku sendiri pun gemetar kedinginan. Aku mati-matian menahannya dan mendekap tubuh Rima seerat mungkin pada tubuhku, berharap suhu tubuhku akan mengurangi sedikit kedinginannya.

"Na―Nagi..." di tengah gemuruh angin aku mendengar gumaman Rima. "Aku mengantuk...

"Rima, tetaplah terbangun. Jangan tidur, jangan pernah! Kalau tidur kau bisa mati!"

"Tapi aku sangat mengantuk... dan kau memelukku erat sekali,"

"Maaf," dalam kondisi ini aku heran dia masih keberatan kupeluk. "Ini hanya sementara, tapi bertahanlah sampai kita keluar."

"Nggak―bisa... aku mengantuk―"

Entah bagaimana, tapi aku sudah memotong ucapannya dengan menciumnya. Setelah bibir kami berjauhan, dia membuka matanya dan menyunggingkan senyum tipis. Namun hanya beberapa saat sampai kepalanya terkulai dan dia tertidur.


~Author Speech~

Vices: Wokeh! Tanpa basa-basi lagi, pembacaan review kali ini dibuka, dattebayo! Dan review pertama dari Fuka-chan akan gue bacain sendiri sebagai permintaan maaf.

Konnichiwa, Fuka-chan :) Awalnya, saya yang nulis aja nggak percaya Nagi dan Rima bisa ketinggalan. Plot yang saya dapet dari mimpi itu menurut saya agak nggak masuk akal awalnya... tapi saya emang pingin banget masukkin unsur drama di chapter ini. Lagipula, apapun bisa terjadi di dunia Fanfiction... dan juga dunia ini!

Terus soal rasa bosan Nagi, sebenernya di prolog udah saya jelasin kalo dia bosen disuruh ini-itu, juga sama rutinitasnya yang begitu-begitu aja. Cuma mungkin karena saya yang nggak becus ngegambarin situasinya, Fuka-chan jadi gagal paham, deh -_- Cara ngatasinnya? Hmm... saya cuma bisa bilang, dia harus cari sesuatu yang bisa bikin dia ngelewatin hari-harinya tanpa ada waktu untuk merasa bosan :)

Nagi: Lanjut review selanjutnya. Ah, Daiya-chan, konnichiwa. Makasih banyak karena terus dukung fic ini :) Kuharap chapter kali ini cukup bagus buatmu *kedip* Oh, dan Vices-kun bilang dia bener-bener minta maaf karena lama update juga bales PM dari kamu.

Vices: Cukup, mas. Harusnya gue sendiri yang bilang begitu -_- Well, yaudah lah. Sekian pembacaan review kali ini! Makasih banyak buat kalian yang masih setia nungguin fic ini update. Seandainya gue ketemu salah satu dari kalian di jalan, gue bakalan sujud syukur di depan kalian sebagai wujud terima kasih :D Nah, see you on the next chapter. L'Vices, over and out!

Rima: Kenapa cuma gue yang nggak bacain review!?