Chapter 17

Nerve Part 2

Lagu Yang Gue Denger Saat Bikin Chapter Ini:

Boys Like Girls – Hero/Heroine

Komentar:

Lagu ini punya dua versi, tapi gue dengerin yang versi akustik waktu bikin chapter ini. Menurut gue tema lagu in tentang orang yang sebelumnya nggak percaya cinta, tapi perasaannya berangsur-angsur berubah karena seseorang.


Nagi's

"Jangan―oh, sial!" panik menguasaiku saat kurasakan dengan tanganku, denyut jantung Rima semakin lemah. "Kumohon, bangunlah!"

Namun dia nggak bergeming. Tangannya terasa begitu dingin dan lemah dalam genggamanku. Tinjuku bergerak karena kesal menghantam dinding ventilasi.

"SIALAAAN!"

"Nagi, tak ada waktu untuk marah!" Temari berseru mengingatkan. "Terus berjalan, kita hampir sampai!"

"Tapi, Ri―Rima..."

"JUSTRU KITA HARUS CEPAT KELUAR DARI SINI SEBELUM KONDISI RIMA-CHAN BERTAMBAH PARAH, ANAK MUDA!"

"I―iya..." sisi liar yang ditunjukkannya membuatku nggak berani membantah lagi. Tanpa mempedulikan kakiku yang terus gemetar, secepat mungkin aku berjalan jongkok menuju ujung lubang yang terlihat begitu jauh bagiku.

Setelah bersusah payah akhirnya aku sampai di ujung lubang neraka ini. Dengan sisa tenaga yang kupunya kutendang penutupnya sampai benda itu jatuh ke bawah dengan bunyi debam keras.

Kakiku tergelincir saat melompat, namun aku berhasil memijak tanah yang keras. Kurasakan gerakan kecil saat para Chara keluar perlahan-lahan dari balik rambutku.

"Di mana... kita?" tanya Temari.

"Kelihatannya―"

Sinar matahari ternyata terlalu silau untukku setelah lama berada dalam lorong sempit dengan penerangan minimal. Dan sebelum aku sempat menjawab, Chara-nari-ku dengan Rhythm berakhir, dan aku jatuh terduduk karena kakiku nggak mampu lagi menahan beban.

"Hei, bro, kau nggak apa-apa? Jangan pingsan juga seperti Rima-chan!" Rhtyhm menarik-narik rambutku dengan panik.

"Nggak, aku cuma lelah..." ujarku. Seketika itu juga aku langsung menghembuskan nafas lega karena kekeras-kepalaanku mampu membuatku tetap hidup.

Mataku mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ternyata aku berada tepat di belakang bis yang kunaiki bersama yang lain. Kendaraan itu masih di tempatnya terparkir sebelumnya.

Lalu aku teringat Rima di pelukanku, dan bersyukur saat melihatnya masih bernafas, namun belum sadar dari pingsannya. Entah dari mana datangnya kekuatanku, tapi aku berhasil berdiri sambil terus membopongnya naik ke bis.

"Syukurlah kalian belum―" ucapanku terhenti saat melihat bahwa nggak ada satupun orang di dalam bis.

"Kemana semua orang?" tanya Temari.

Entahlah. Tapi itu nggak terlalu penting buatku sekarang. "Biar saja. Aku capek..." sahutku malas lalu berjalan menuju kursi paling belakang yang kududuki sebelumnya.

Setelah membaringkan Rima, aku duduk bersandar di sebelahnya. Aku melihat di jam tanganku bahwa sekarang pukul 15.35. Huh, cukup lama juga aku terisolasi dari dunia luar. Dan seharusnya semua rombongan sudah bersiap untuk pulang sekarang.

Lalu bagaikan mukjizat, Amu dan Tadase masuk diikuti beberapa orang di belakangnya. Saat kami saling menatap, Amu memasang tampang bingung. "Lho, kenapa kalian berdua ada di sini? Kalian nggak belanja suvenir?" dia bertanya.

"Suvenir? Apa maksud―"

"Hei, apa yang terjadi pada Fujisaki-san?" Tadase memotong pertanyaanku dan menatap ke Rima yang tertidur.

"Dia... ceritanya panjang,"

"Dan kami punya waktu seumur hidup untuk mendengarmu bercerita." Kukai muncul dari belakang Amu dan bicara menuntut. Seringai jahil terkembang di wajahnya.

"Hei, ini bukan seperti yang kau pikirkan!" tukasku berusaha menyingkirkan pikiran aneh apa pun yang ada di benaknya. Lalu dengan mengabaikan rasa lelahku, aku menceritakan kemalangan yang menimpaku dan Rima dengan sesingkat mungkin.

Amu menggeleng-gelengkan kepalanya begitu ceritaku selesai. Dia menatap Rima dengan sedih sambil mengusap kepalanya. "Maafkan aku, Nagi... Aku nggak tahu kalau kalian terkunci dalam ruangan itu," ujarnya dengan nada menyesal.

"Nggak apa-apa, setidaknya Rima-chan baik-baik saja," kataku berusaha meyakinkannya dengan senyuman. "Lalu, dari mana kalian?"

"Kami dari toko suvenir. Kukira kau terus ada dalam rombongan," ujar Kukai sambil menghela nafas. "Maafkan kami, sobat. Apakah ada cara untuk menebus kesalahan ini?"

"Ya ampun, ini 'kan bukan salah kalian," jawabku terus menjaga senyumku terlihat tulus. Sebenarnya, sebagian diriku yang egois memang ingin menyalahkan mereka karena melupakanku dan Rima. Namun itu bukan sesuatu yang biasa kulakukan.

Aku beralih menatap Rima, dan hanya dengan melihat wajahnya saja sudah membuatku lupa kalau aku dan dia bisa saja kehilangan nyawa beberapa saat lalu. Apa yang kulihat, dengar, dan rasakan darinya... semua pengalaman itu membuatku tersenyum saat memikirkannya.

"Tapi kalau bisa, aku hanya ingin tidur..." gumamku tiba-tiba merasa amat lelah, lalu menutup mata tanpa menghiraukan suara panggilan teman-temanku.

.

.

.

Keesokan Harinya

Rima's

"Baiklah, semua, hari ini cukup segini saja. Kerja bagus!" Tsukasa mengumumkan seraya berjalan menyusuri lapangan hijau. "Kalian boleh pulang sekarang."

"Terima kasih bantuannya!" ujarku dan yang lain, meskipun bagiku Tsukasa sama sekali nggak melakukan sesuatu yang bisa disebut membantu.

"Hei, teman-teman. Sebelum pulang, bagaimana kalau kita istirahat dan minum teh dulu?" usul Tadase.

"Aku akan menyelesaikan ini dulu. Kukai, tolong bantu aku," ujarku. Kemudian setelah membetulkan sedikit letak gawang sepakbola dengan bantuan Kukai, aku bergabung dengan yang lainnya ke Royal Garden.

"Haah, capeknya... festival olahraga masih dua hari lagi, dan pekerjaan ini sudah bertambah dua kali lipat lebih melelahkan." ujar Kukai duduk di kursinya sambil mendesah panjang. "Mestinya tadi kita panggil saja Yaya dan Kairi untuk ikut membantu,"

"Mereka pasti punya kegiatan sendiri, Kukai." Ujar Amu selagi menuangkan teh ke cangkir tiap orang. "Lagipula, menurutku nggak bijaksana meminta anak SMP untuk membantu anak SMA."

"Kau sepertinya menjalankan peranmu sebagai senior dengan baik, ya," Kukai berkata dengan nada menggoda. "Tapi tetap saja mereka murid Seiyo. Dan jika mereka akan melanjutkan SMA di sini, bukan masalah besar jika membantu almamater mereka dari sekarang, 'kan?"

"Aku ragu mereka akan sekolah di sini jika seniornya suka menyuruh-nyuruh sepertimu," ujarku sambil menyesap tehku dan menyembunyikan senyum geliku di balik cangkir.

"Fujisaki... itu melukai hatiku," Kukai pura-pura merengut dan menyentuh dadanya. "Tapi segalanya akan lebih mudah jika Mashiro nggak sakit hari ini." Lanjutnya dengan tatapan menerawang ke langit-langit.

Semua orang tiba-tiba menjadi diam. Penyebutan nama Nagihiko seketika mengubah suasana yang tadinya santai berganti muram. Orangtua Nagihiko datang tadi pagi ke Royal Garden dan memberitahu bahwa dia terpaksa nggak masuk sekolah karena sakit dan harus beristirahat di rumah.

Aku langsung tahu ada yang nggak beres setelah melihat bagaimana yang lainnya bereaksi mendengar kabar itu. Begitu kutanyakan pada mereka, ternyata ada satu hal hilang dari perkataan orangtua Nagihiko.

Aku nggak bisa mengingat apa yang telah kualami kemarin. Namun menurut cerita mereka, saat kami berdua terjebak dalam museum, Nagihiko telah membawaku yang sedang pingsan keluar dari sana melewati lubang ventilasi yang dialiri tiupan angin dingin. Itulah penyebabnya sakit sekarang, dan dia telah berpesan pada Guardian lainnya agar jangan memberitahukannya padaku.

Namun aku telah memaksa mereka bicara, dan nggak menyukai apa yang kudengar.

"Jadi dengan kata lain, akulah yang menyebabkan dia sakit, ya?"

"Eh, b―bukan begitu! Kukai!" Amu berdiri menghampiriku dan berseru marah pada Kukai. "Ja―jangan dengarkan perkataannya, dia nggak bermaksud begitu, kok!"

"Benar, Fujisaki, a―aku nggak bermaksud begitu! Apa yang dilakukan Mashiro itu normal, dan aku yakin kau akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi padanya." ujar Kukai panik dan mengacak-acak rambutku dengan canggung.

Memang benar. Entah bagaimana, tapi aku yakin aku akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada Nagihiko. Namun itu nggak mengurangi perasaan bersalah dalam hatiku. Tetap saja aku telah membuatnya dalam kesulitan.

"Eh, umm... bagaimana kalau kita menjenguk Nagi saja sekarang?" usul Amu tiba-tiba. Mungkin sifat aslinya yang ceria nggak menyukai suasana ini dan ingin mengubahnya.

"Ide bagus!" Kukai menyambar pertanyaan itu bagai ikan yang melihat umpan. "Hei, Fujisaki, bagaimana menurutmu? Mungkin Mashiro akan senang melihat pacarnya―"

"Maaf, aku pulang." Ujarku singkat lalu menyambar tasku dan beranjak dari kursiku.

.

.

.

Kenyataannya, langkah kakiku nggak membawaku ke rumah. Aku berakhir menyusuri jalanan kota yang padat saat jam pulang kantor. Matahari senja yang akan menghilang beberapa saat lagi mengintip sedikit melalui celah gedung dan pertokoan.

"Rima-chan, kau yakin nggak mau ikut menjenguk Nagi-kun?" tanya Kusukusu menatapku cemas.

"Entahlah, Kusukusu. Aku pun nggak yakin akan melakukan apa sekarang..." kataku sambil melihat jam LED besar di sebuah gedung kantor yang menunjukkan pukul 18.20. Seharusnya aku di rumah dan berlatih menari sekarang.

Matahari sudah benar-benar tenggelam sekarang, dan bintang-bintang mulai muncul menghiasi langit yang menggelap. Penjual udon dan ramen pinggir jalan sudah dijejali orang-orang yang kelaparan sepulang kerja. Pemandangan seperti ini jarang sekali kujumpai, dan berada di sini membuatku merasa seperti orang asing. Sungguh mengherankan bertahun-tahun aku hidup di kota ini, tapi nggak pernah menyaksikan bagaimana kota ini berganti wajah pada malam hari.

Sebuah neon box menarik perhatianku. Aku berhenti dan membaca tulisannya yang berbunyi 'TOKO BUKU AMAGAMI'. Ternyata tempat ini adalah toko yang biasa kudatangi untuk membeli manga. Pada malam hari, tempat ini terlihat berbeda dengan lampu yang berkelap-kelip menghiasi bagian depannya.

Bunyi lonceng pada pintu bergemerincing saat aku masuk. Kakek pemilik toko ini mengangkat wajahnya dari koran yang dibacanya dan menatapku. "Ah, nona kecil, selamat datang! Aku tak pernah melihatmu mampir pada malam hari," ujarnya ramah.

"Selamat malam, Amagami-san," sapaku dengan senyum. "Yah, entah kenapa aku ingin mampir hari ini. Mungkin aku kangen padamu."

"Huh, jangan mengejekku. Mana mungkin gadis secantik dirimu kangen pada pria tua sepertiku," kakek itu mendengus.

Aku tergelak mendengarnya. Aku sudah menganggapnya sebagai kakekku sendiri karena orang ini mengingatkanku pada kakek kesayangan semua orang. Meskipun kehidupanku tertukar, sikapnya padaku tetap sama seperti sebelumnya.

"Hei, omong-omong manga favoritmu sudah terbit dalam edisi terbatas yang dijual bersama sebuah poster. Kau mau melihatnya?" tanya kakek Amagami dari kasir.

"Bolehkah?" ujarku senang. Dia melambaikan tangannya memanggilku. Aku menghampirinya selagi dia membungkuk ke bawah meja kasir, dan nggak lama kemudian dia sudah bangkit dan meletakkan sebuah buku yang dikemas dalam kotak berwarna biru bergambar tokoh manga favoritku.

"Bagaimana? Sayang sekali tokoku hanya toko buku kecil, jadi penerbitnya hanya memberikan lima saja untuk dijual." Jelasnya sambil menumpukan tangan ke atas meja.

Kusukusu mengamati benda itu dengan bersemangat. "Wah, kita beli saja semuanya, Rima-chan!" bisiknya padaku.

Aku juga inginnya begitu, tapi aku nggak yakin uang yang kubawa cukup. "Berapa harganya?" tanyaku pada kakek Amagami.

"Agak mahal, 1500 Yen persis." Jawabnya. "Bahkan meskipun aku pemilik toko buku, aku heran bagaimana bisa orang menjual manga dengan harga semahal itu walaupun ditambah poster dan kemasan khusus."

Ocehannya masuk akal, dan aku tertawa mendengarnya. Kubuka tasku untuk mengambil dompet. Keluarga Fujisaki berbeda dengan keluarga asliku yang memberikan uang saku melimpah, namun uang saku bulanan yang diberikan ibu padaku sama sekali belum kugunakan. Aku menghitung jumlahnya dan tersenyum karena uang itu masih cukup untuk kebutuhanku beberapa minggu ke depan jika aku hanya membeli satu manga.

"Baiklah, aku beli―" tanganku yang terulur untuk membayar terhenti ketika telepon genggamku bergetar.

Siapa, sih, yang mengirim pesan di saat seperti ini? Kugeser layar teleponku dan melihat satu pesan pada obrolanku dengan Amu.

Amu Hinamori

"Baru saja kembali dari rumah Nagi. Dia terlihat nggak senang saat tahu kami menceritakan kejadian kemarin padamu. Tapi dia bukan tipe orang yang suka marah-marah, dan dia titip salam untukmu :)"

Senyumku terkembang saat membacanya. Tentu saja dia bukan tipe orang yang suka marah-marah. Dia adalah orang bodoh yang lebih memikirkan perasaan orang lain ketimbang perasaannya sendiri.

"Kau tersenyum, apa pesan itu dari pacarmu?" aku mendongak dan melihat kakek Amagami sedang memperhatikanku.

"Ah, bukan. Ini dari temanku di Dewan Murid," kataku sambil memberikan dua lembar uang 1000 Yen padanya. "Aku beli satu, kek."

"Wah, kau anggota Dewan Murid rupanya? Pasti kau anak yang rajin," pujinya yang kubalas dengan senyum. "Nah, ini kembalianmu, 500 Yen. Apa kau mau ini kubungkus dengan sesuatu? Gratis biaya tambahan untukmu."

"Ah, terima kasih. Tapi―"

Lagi-lagi ucapanku terhenti. Namun bukan sebuah pesan yang menghentikanku, melainkan ingatan tentang sosok seseorang yang bodoh. Orang bodoh yang telah menyelamatkan nyawaku...

"Apa kau bisa membungkusnya dengan kertas kado?" tanyaku.

Alih-alih menjawab, kakek Amagami membungkuk ke bawah meja dan bangkit dengan setumpuk kertas kado berbagai warna dan motif. Aku mengangguk puas dan mengambil satu yang bermotif polos dan berwarna ungu.

"Bagus. Dan aku akan sangat senang jika kau juga punya kartu ucapan dan sebuah pulpen."


~Author Speech~

Vices: Hello, dear Readers. Maaf atas keterlambatannya, tapi akhirnya fic ini sukses gue update... meskipun pendek dan cuma nambahin part 2 aja

Rima: Kalo semua bisa selesai cuma dengan maaf, kita nggak perlu polisi lagi

Vices: Lo tuh ya... ini semua 'kan gara-gara bagian lo susah banget ditulis -_-

Nagi: Oke, oke, jadi kita bacain review nggak kali ini?

Vices: Oh, jelas! Anggap cewek dingin itu nggak ada. Oke, pembacaan review kali ini dibuka dengan review pertama dari the one and only Daiya-chan. Di bawah ini jawaban saya;

Well, makasih banget karena udah sependapat sama saya :) Saya pikir Nagi emang orang yang paling ngerti keadaan keluarga Rima, karena itu saya coba selipin hal itu ke fic ini. Saya lega karena ternyata Daiya-chan nggak anggap hal itu klise

Nagi: Selanjutnya, NakamuraYukiMe yang ternyata adalah Monica-chan! wow, di luar dugaan... iya, udah lama kita nggak ketemu :) dan aku akan jawab review-mu;

Ah, sokka. Kalo gitu, ganbatte, Monica-chan! aku yakin fic-mu pasti bagus :) dan Vices-kun bilang terima kasih atas perhatianmu. Sayangnya, dia nggak mau bilang apa masalah yang bikin dia semi-hiatus waktu itu...

Rima: Ya, nggak apa-apa kalo dia nggak mau cerita, nggak penting juga. Review terakhir dari Fuka-chan;

Nggak, Fuka-chan... aku nggak bakal mati, juga si Fujisaki itu. Karena ini fanfic, itu mustahil. Lagian kami berdua juga bukan Romeo dan Juliet. Jadi apapun yang ditulis Vices adalah fiksi yang nggak masuk akal, sekian

Vices: Yang ngomong juga sendirinya fiksi -_- Anyway, semua review udah dibacain. Arigatou karena selalu setia nungguin fic ini update, dan maaf karena gue selalu ngecewain kalian dengan jadwal update yang berantakan (Gomenne, Fuka-chan!) Chapter selanjutnya akan diusahakan update kira-kira seminggu dari sekarang... atau dua minggu, nggak bisa janji. Nah, cukup segitu aja. L'Vices, over and out!