Disclaimer

Meski sebelumnya gue lupa bilang ini, Shugo Chara! dan semua karakternya milik Peach-Pit!-Sensei. Apalagi lagu yang gue rekomendasiin, juga bukan punya gue, sumpah!

Warning

Just regular stuff... OOC, typo, dan jadwal update yang nggak tentu


Chapter 18

Stockholm Syndrome

Lagu Yang Gue Dengerin Saat Bikin Chapter Ini:

The Swellers - Inside My Head

Komentar:

Dua chapter sebelumnya bener-bener nguras tenaga gue karena semua emosinya... jadi gue butuh lagu yang agak upbeat. Liriknya bercerita tentang seseorang yang memohon supaya oran lain bisa tahu apa yang dia rasakan. Pas banget buat didengerin pagi-pagi


Nagi's

"Ng..."

Erangan kecil terlontar dari mulutku ketika silau mentari pagi yang masuk melalui sela tirai jendela menerpa wajahku. Kusibakkan tirai, dan kubuka jendela lebar-lebar. Dengan segera hawa sejuk pagi hari menyusup memenuhi kamar dan melingkupi tubuhku.

Jelas sekali hari ini akan jadi hari yang bagus, meski aku nggak tahu dalam hal apa. Namun setidaknya setelah seharian hanya berbaring di tempat tidur, bangun di pagi hari terasa begitu menyegarkan. Seluruh tubuhku bagaikan baterai yang di-charge dengan penuh.

Tapi sejujurnya, suasana dan bentang alam yang terasa amat sinematik itu nggak memberikan kesan khusus padaku. Bahkan semua itu hanya membuatku bingung menentukan apa yang harus kulakukan. Jadi kuputuskan untuk duduk sejenak di kasurku yang empuk.

Saat itulah pandanganku jatuh pada lemari buku di seberang ruangan. Saat melihatnya, benakku melayang pada sosok Rima, juga kejadian luar biasa yang kami alami dua hari lalu.

Gadis itu... kira-kira bagaimana keadaannya sekarang?

Pertanyaan barusan membuat kilasan ingatanku tentang kunjungan para Guardian semalam kembali berputar. Mereka bilang dia baik-baik saja. Hanya saja tepat seperti dugaanku, mereka nggak cukup kuat menjaga mulut mereka untuk tetap bungkam di hadapan Rima.

Aku nggak bisa menyalahkan mereka, namun tetap saja aku nggak ingin mereka mengumbar hal itu.

Yah, sudahlah. Semuanya sudah berlalu tanpa ada hal buruk yang terjadi. Apa salahnya terlihat keren di hadapan Rima? Lagipula, seharusnya dia berterima kasih karena aku telah menggantikannya terserang demam.

Aku tersenyum saat memikirkannya. Mengingat apa kami alami dalam lubang ventilasi, aku jadi nggak bisa menyesal sudah jatuh sakit.

Jadi kuakhiri monolog singkatku dan melangkah ke kamar mandi. Dengan cepat kuselesaikan mandiku lalu memakai seragam yang selalu tergantung di pegangan lemari pakaian.

"Selamat pagi, Ma." Sapaku ketika menemui Mama Mashiro yang sedang menyiapkan sarapan di dapur dengan menggunakan setelan kerjanya.

"Pagi, sayang." Dia berbalik dan tersenyum hangat. Seraya meletakkan piring berisi sepotong roti isi dia menatap ke arah seragam sekolahku. "Bukankah kau sedang demam?"

"Demam itu kurang berpengalaman membuat orang sakit. Jadi dia nggak bisa lama-lama dalam tubuhku, Ma." Jawabku lalu menggigit kecil roti itu.

Dari arah tangga, suara tawa Papa Mashiro menggema ke penjuru dapur. "Seperti biasa, selera humormu selalu mampu membuatku tertawa." Katanya sambil menarik kursi di sebelahku.

"Senang mendengarnya, Yang Mulia." Ujarku sambil menundukkan kepala, membuat Mama kali ini ikut tertawa bersama Papa. Tentu saja selera humorku bagus, sebab itu bukan milikku, tapi milik Rima. Rima lah yang ahli dalam membuat lelucon.

Eh? Ini sudah kedua kalinya pagi ini aku berpikir tentang Rima. Konyol sekali, rasanya seperti sistem dalam otakku hanya bekerja saat mendengar namanya.

"Omong-omong, semalam Rima-chan mampir, lho."

Entah benar atau bukan Mama Mashiro bisa membaca pikiran orang, tapi dia baru saja melakukannya dan membuatku terkejut. "Benarkah? Kenapa nggak bilang padaku, Ma? Ada perlu apa dia―"

"Cukup, anak muda. Kau bersemangat sekali begitu mendengar nama Rima-chan," sela Mama Mashiro tergelak. "Saat dia datang kau sudah tidur. Lagipula, dia menolak kuajak masuk dan bilang hanya datang untuk memberikanmu sesuatu."

Sebelah alisku terangkat. "Oh, ya? Apa itu?"

"Entahlah, sesuatu yang dibungkus dengan kertas kado."

Kertas kado? Aku setengah menduga benda itu adalah bom karena kemisteriusannya. "Dan di mana benda itu?"

"Ada di kamarmu di atas―"

Aku nggak mempedulikan kelanjutan kalimatnya dan melesat menaiki tangga menuju kamar Rima yang sekarang kutempati. Saat aku masuk, kulihat Rhythm dan Temari telah merobek kertas yang melapisi sebuah kotak berwarna biru.

"Ah, Nagi―eh, maaf!"

Rhythm gelagapan melihatku dan menjatuhkan selembar kartu kecil. "Namamu tertulis di kartu ucapan, jadi kupikir―"

"Minta maaf hanya buang waktu saja," selaku lalu menyambar kotak itu dari atas meja belajar. Gambar karakter manga pada tutupnya nggak asing bagiku. Dan begitu membukanya, ternyata tebakanku benar.

"Itu manga favorit Rima-chan yang dijual dalam edisi terbatas." Cetus Temari.

Terima kasih karena mengatakan hal yang sudah kuketahui, gumamku dalam hati. "Jadi kau sudah melihatnya?"

"Eh―iya, ma―maaf!" dia tersentak kaget. "Uuh, mestinya kututup saja mulutku..."

Aku nggak ambil pusing dengannya. Kenyataan bahwa Rima telah memberiku sesuatu yang seharusnya dimilikinya sendiri membuatku tertegun. Selain itu, barang koleksi seperti ini biasanya berharga mahal.

"Ehm... mungkin kau mau membaca kartu ucapannya, bro?" tawar Rhythm takut-takut.

Kuambil kartu yang disodorkannya tanpa bicara. Bagai menemukan sebuah harta mataku menelusuri tulisan tangan Rima yang rapi, dan aku nggak percaya apa yang kulihat.

Fujisaki,

Sayang sekali, tapi aku sudah tahu semua ceritanya. Yang jelas cepatlah sembuh. Karena persiapan festival olahraga menjadi dua kali lipat lebih melelahkan karena ulahmu!

Rima

Eh... apa kalimat macam ini yang biasanya orang-orang tulis saat memberikan kartu ucapan? Nggak, setahuku yang menulis kalimat seperti ini hanya dia saja di dunia ini.

Beberapa detik sebelum meremas kartu menjengkelkan itu dalam tanganku, aku menyadari goresan kasar pena yang tertutup oleh ibu jariku. Terlihat seperti Rima ingin mencoret kalimat sebelumnya yang ia tulis, dan aku sama sekali nggak bisa membacanya karena ia mencoretnya dengan tebal.

Namun yang mengejutkan, ada sebuah kalimat di bawah coretan itu yang mungkin adalah kata-kata pengganti yang ia temukan di menit-menit terakhir;

P.S: Kau bodoh. Tapi, terima kasih.

Untuk beberapa saat aku hanya terpaku menatap huruf-huruf yang tertulis rapi itu, sebelum sudut bibirku terangkat membentuk senyum simpul.

Dasar...

Dengan semangat yang tiba-tiba saja meluap aku meraih tas yang kuletakkan di tempat tidur dan menyelipkan talinya pada sebelah tanganku. "Hei, kenapa diam saja? Ayo kita berangkat." Ujarku pada kedua Charaku yang menatapku waspada.

"Jadi, kau nggak marah pada kami?" tanya Rhythm.

"Aku sama sekali nggak punya alasan untuk marah,"

Benar, marah bukanlah perasaan dalam hatiku saat ini. Entah bagaimana, apa yang kubaca barusan membuat pengalamanku hampir mati saat berjalan dalam lorong berudara dingin hanya terasa seperti jalan-jalan di taman.

.

.

.

Rima's

"Jadi, di mana Mashiro?"

Dengan enggan kuangkat pandanganku dari layar telepon genggamku untuk menatap Kukai. "Maafkan aku?"

"Hah. Apa kataku? Dia nggak akan menjawab pertanyaanmu dengan baik. Kau kalah taruhan." Daichi meringis pada pemiliknya.

Kukai menepuk dahinya secara berlebihan dan mendesah panjang. "Kau tahu, M-A-S-H-I-R-O. Cowok berambut panjang yang agak cantik, dan kebetulan pacarmu?"

"Entahlah. Aku bukan ibunya." Sahutku sambil mengangkat bahu.

"Memang. Tapi mungkin saja suatu saat kau akan jadi ibu dari anak―"

Tanpa mengalihkan pandanganku kutendang pijakan kaki mejaku dengan gerakan singkat, dan membuatnya membentur perut Kukai yang kebetulan berdiri di hadapanku. "Oh, ayolah! Memangnya kau ini tsundere?!" keluhnya sambil meringis kesakitan.

"Mungkin bukan. Tapi aku sedang sibuk, dan kau mengganguku." Kataku kembali fokus pada teleponku.

"Ya. Dan lagipula, Rima-chan itu himedere!" Kusukusu mengoreksi dengan tertawa.

"Apa maksudnya itu?" geramku yang sama sekali nggak diacuhkannya.

Amu yang duduk di sebelahku tertawa. "Bukankah kau sedang mengobrol dengannya sekarang? Harusnya kau tahu di mana dia." Ujarnya menunjuk telepon genggamku.

"Bukan." Kataku cepat karena teleponku bergetar menandakan pesan baru. Satu lagi balasan dari ibuku.

Ibu

"Hanya sedikit urusan penting dengan seseorang. Mungkin tak akan pulang saat makan malam. Semoga harimu menyenangkan, Rima-chan."

Dengan seseorang? Siapa? Sebelumnya aku mengirim pesan dan bertanya kemana dia pergi karena aku nggak bertemu dengannya pagi ini. Mungkin kurang sopan bagiku untuk bertanya, tapi tetap saja aku penasaran. Apakah dia terlibat masalah?

Oh, ya sudahlah. Setiap orang dewasa pasti punya 'urusan penting' yang harus mereka selesaikan. Dan lagi pesannya menyiratkan bahwa urusan itu bukan urusanku.

"Nah, itu dia!" Tiba-tiba saja Kukai bangkit berseru sambil menunjuk ke arah pintu kelas. "Hampir saja aku harus memanggil tim SAR untuk mencarimu!"

Aku yang terkejut langsung mengikuti arah jarinya menunjuk dan melihat Nagihiko masuk dengan tertawa. "Ampun, deh, Kukai-kun. Kau 'kan baru kemarin bertemu denganku." Ujarnya.

"Tapi cewek ini 'kan belum," tanpa kusadari Kukai sudah menarikku dari bangkuku dan membuatku berdiri berhadapan dengan Nagihiko.

Untuk sesaat dia hanya menatap lurus padaku dan itu membuatku risih. Jadi kupalingkan kepalaku untuk melihat ke arah jendela. Lalu dia berdehem.

"Selamat pagi, Rima-chan."

Aku nggak berminat untuk membalasanya. Tapi karena mengacuhkan sapaannya hanya akan membuat orang-orang salah paham, aku kembali menatapnya dan berniat mengucapkan hal yang sama. Sebelum kusadari senyumnya begitu lebar, sampai terlihat konyol.

"Ya, selamat pagi. Apa Bumi terlihat begitu cerah bagimu hari ini?"

Dia tergelak kecil, meskipun aku nggak tahu apa yang lucu di matanya. "Begitukah? Ya, kurasa begitu. Apalagi setelah mendengarmu menjawab salamku." Ujarnya mengedipkan sebelah mata padaku lalu pergi ke mejanya sambil mengobrol dengan Kukai.

Astaga... apa barusan itu!? Aku sudah sering menyaksikan tingkah konyolnya, tapi yang ini... ini lebih parah lagi. Dia terlihat mengerikan, seakan dia adalah anak SD yang sedang jatuh cinta.

"Uwaah... ada apa ini? Apa yang kalian lakukan kemarin hingga bisa membuat Nagi berbunga-bunga begitu?" Amu bicara dengan nada menggoda sambil menyenggol bahuku.

"A―apa yang kami lakukan kemarin?" kataku membalikkan pertanyaan itu padanya. "Ini nggak ada hubungannya denganku. Aku bahkan baru bertemu dengannya hari ini."

Kusukusu terlihat bingung dan menelengkan kepalanya. "Eh? Kukira kemarin..."

"Hmm? Apa? Apa memang ada yang terjadi?" tanya Amu terlihat begitu bersemangat. Namun pembicaraan itu berhenti sampai di situ karena Nikaidou-sensei masuk dan mulai membacakan daftar absensi.

"Aww... entah kenapa aku tahu hal ini akan terjadi." Ujar Amu cemberut pada Nikaidou-sensei yang terlihat bingung. Bibirku bergerak menahan tawa geli.

"Baiklah semuanya, kalian bisa buka buku teks kalian sekarang." Umum Nikaidou-sensei setelah selesai mengabsen. Dan seisi kelas langsung sibuk mengacak-acak tas mereka.

Aku sedang mengeluarkan buku teks Matematika ketika tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan Nagihiko yang sedang menatapku sambil tersenyum. Dahiku mengernyit melihatnya, namun senyumnya justru bertambah lebar.

Kuputuskan untuk mengabaikannya dan berkonsentrasi pada bab logaritma yang sama sekali nggak kumengerti. Saat itulah bayangan wajah Nagihiko yang tersenyum padaku mengirimkan gelenyar dingin ke sekujur tubuhku.

"...ma..."

Ng?

"Rima!"

"Ah," aku terkejut dan mendongak karena mendengar suara Amu memanggilku. Namun yang kulihat adalah Nikaidou-sensei yang berdiri di hadapanku dengan wajah bingung.

"Terima kasih bantuannya, Himamori-san." Katanya tersenyum pada Amu.

"Hinamori!"

Tentu saja, Nikaidou-sensei akan mengacuhkannya seperti biasa. Dia beralih padaku dan bertanya sambil menyentuh dahiku. "Apa kau baik-baik saja? Kau tak menyahut saat kupanggil, dan tubuhmu menggigil. Apa kau demam?"

"A―aku baik-baik saja. Teruskan pelajarannya." Ujarku singkat.

"Aduh, Rima-chan..." keluh Kusukusu.

Aku pura-pura nggak mendengarnya dan melirik ke arah Nagihiko. Sementara anak lainnya menatapku dengan tawa kecil, dia tetap terpaku pada bukunya seakan nggak terjadi apa-apa sama sekali.

"Baiklah kalau begitu. Sekarang tolong perhatikan pelajarannya." Ujar Nikaidou-sensei lalu kembali ke mejanya dan melanjutkan ocehannya tentang rumus dan teori.

Tiba-tiba kurasakan seseorang menunjuk-nunjuk bahuku. Amu menyeringai padaku saat aku menoleh. "Dan kau masih menyangkal kalau kemarin terjadi sesuatu di antara kalian?" katanya berbisik.

"Oh, Amu. Untuk kali ini saja, kuminta kau untuk diam." Sahutku kesal. Namun tentu saja dia nggak akan menganggapnya serius dan malah tertawa.

.

.

.

Untuk beberapa alasan, aku merasa bersyukur saat duduk di meja kantin berhadapan dengan spaghetti bolognese dan susu yang menjadi menu makan siang hari ini. Bukan, bukan karena makanannya. Aku merasa lega karena bisa keluar dari kelas dan belum bertemu dengan Nagihiko sampai saat ini.

Belum pernah kulihat dia menunjukkan wajah menjijikkan seperti itu, dan aku juga nggak ingin lihat. Aku nggak mengada-ngada saat mengatakan sikapnya mirip anak SD yang sedang jatuh cinta.

"Kau tahu, Nagi terlihat seperti anak SD yang sedang jatuh cinta."

Oh, wow. Bahkan Amu juga bilang begitu.

"Begitukah?" sahutku setengah hati.

Amu menyedot susu kotaknya hingga menimbulkan bunyi yang keras lalu melemparkannya ke tempat sampah dengan tepat. "Entahlah. Tapi aku yakin, dia begitu setiap melihatmu." Katanya menyeringai.

"Katamu dia terlihat seperti anak SD yang sedang jatuh cinta?"

"Ya."

"Dan menurutmu, dia begitu setiap melihatku?"

"Benar."

"Apa maksudnya dengan 'setiap melihatku'?"

Amu menghela nafas, seakan tersiksa dengan pembicaraan ini. "Kau ini pacarnya, 'kan?"

Bukan, tapi mana mungkin aku mengatakannya saat ini. "Ya. lalu?" kataku. Di luar dugaan Amu nggak langsung menjawab dan malah menyentil dahiku.

"Hei, sakit!" protesku.

"Begitu pula hatiku saat melihat kau nggak nggak mengacuhkan Nagi yang jatuh cinta setengah mati denganmu." Ujarnya dengan gaya kakak perempuan yang menyebalkan.

Nagihi―Fujisaki, si kepala ungu, jatuh cinta padaku? Yang benar saja. Itu mustahil, kami bahkan bukan teman sebelum terdampar di dunia ini. Bahkan sebelum dunia ini jadi aneh Amu sering mengatakan hal seperti itu, dan hanya kuanggap sebagai lelucon konyol.

Tapi karena dorongan rasa penasaran aku menemukan diriku bertanya, "Be―benarkah?"

Amu menatapku dengan sebelah alis terangkat. "Tentu saja. Kenapa kau heran? Kau 'kan pacarnya."

Tentu saja aku heran. Menurutku itu mustahil, bahkan sampai nggak bisa kujelaskan mengapa. Lagipula, bukannya kami memutuskan untuk 'pacaran' hanya untuk lolos dari jeratan hukum? Seharusnya hal itu sama sekali nggak melibatkan cinta dan perasaan.

Namun sebelum aku sempat mengatakan apa-apa, bel masuk berdering. Kulihat nampan berisi makan siangku yang belum sempat kusentuh dan mengerang dalam hati.

Bagus, semua pembicaraan tentang Nagihi―Fujisaki ini membuatku melewatkan makan siangku. Dia tahu betul bagaimana merusak suasana hatiku, bahkan tanpa berada satu tempat denganku.

.

.

.

Sepulang sekolah, keadaan Seiyo justru ramai dengan anggota berbagai macam klub olahraga yang sedang berlatih di lapangan untuk festival olahraga besok. Saat melihatnya dalam perjalanan menuju Royal seluruh tubuhku terasa begitu berat begitu memikirkan apa kira-kira pekerjaan Guardian kali ini.

Namun Tsukasa membuat kejutan saat tiba-tiba datang ke Royal Garden dan menyuruhku dan Nagi―ukh, Fujisaki, pulang.

"Apa Anda serius?" tanya Fujisaki.

"Ya. Setelah apa yang terjadi saat kunjungan sekolah kemarin, kurasa bodoh sekali jika membiarkan kalian bekerja. Maafkan aku," ujar Tsukasa membungkuk pada kami.

"Ah, hei, sudahlah, nggak apa-apa. Semua itu sudah berlalu." Kataku canggung. Meskipun banyak orang membungkuk padaku sebelumnya, tapi aku nggak bisa menerimanya jika yang melakukannya adalah orang yang lebih tua.

"Tidak, aku adalah kepala sekolah. Selama hal seperti itu terjadi pada muridku, aku lah yang harus bertanggung jawab." tukasnya membungkuk semakin dalam. Argh, aku nggak pernah menyangka Tsukasa bisa sekeras kepala ini!

"Baiklah, baik. Kami akan pulang jika itu bisa membuatmu berhenti membungkuk." kataku jengah.

Tsukasa mengangkat kepalanya dan menatapku lurus-lurus. "Oh, ya, baiklah. Kau dan Mashiro-san dibebas tugaskan sebagai permintaan maafku." Ujarnya dengan nada riangnya yang biasa.

"Eh, benarkah tak apa-apa? Kami baik-baik saja, Tsukasa-san. Anda tak perlu sampai―auw!"

Aku nggak bisa menahan diriku untuk menginjak kakinya keras-keras. "Kenapa, sih, kau harus bertingkah seakan kau murid teladan?" gerutuku.

Tsukasa tertawa sebelum Fujisaki sempat membalas ucapanku. "Benar, tak apa-apa. Tugas kalian akan diambil alih oleh para Guardian lainnya. Bukan begitu?" katanya melirik Amu, Kukai, dan Tadase.

"Aku setuju. Kalian pantas mendapatkannya, teman-teman." Ujar Amu tersenyum.

"Ya. Lagipula tugas kali ini hanya memeriksa kertas-kertas membosankan. Benar 'kan, King?" timpal Kukai.

Tadasde mengangguk singkat. "Benar. Beristirahatlah kalian dan serahkan semua ini pada kami." Katanya.

.

.

.

Nagi's

Dengan diiringi lambaian tangan para Guardian yang mengantarku dan Rima sampai ke depan gerbang sekolah, akhirnya kami benar-benar 'terusir' dari Royal Garden. Aku tahu motif mereka. Namun yang jadi perhatianku adalah Tsukasa yang bersikap layaknya sedang melepas kepergian anggota keluarganya yang baru menikah.

"Entah Tsukasa-san benar-benar menyesal atau ini hanya salah satu permainan konyolnya lagi..." kataku menyuarakan pemikiranku.

"Menurutku keduanya." Sahut Rhythm tergelak.

"Namun sangat mengherankan Rima-chan bisa menerima semuanya dengan tenang," Temari bicara dengan nada spekulatif.

Saat itulah aku tersadar bahwa Rima terus membisu sejak kami meninggalkan Royal Garden. Bukan berarti dia sering bicara saat kami pulang bersama, namun yang menjadi perhatianku adalah pandangannya yang terus terarah ke sisi jalan.

"Hei."

"Ah!?" Rima secara harfiah melonjak beberapa sentimeter ketika mendengar panggilanku. "K―kau... apa maumu?" ujarnya setengah geram, setengah panik.

"Kau melamun? Kau bisa terluka jika nggak memperhatikan langkahmu, kau tahu." Kataku menunjuk retakan yang cukup lebar pada jalan di hadapan kami.

Dia terdiam menatap retakan itu sebelum kembali berjalan dengan langkah terburu-buru. "Urusi dirimu sendiri."

Heh, inikah yang kudapat saat menghindarkan seorang gadis dari bahaya? Aku nggak bisa protes, sebab ini Rima yang sedang kuhadapi. Jadi kutelan rasa kesalku dan berjalan menyusulnya.

Tetap saja, perjalanan kami tetap minim pembicaraan, seakan kami berlomba siapa yang paling lama menutup mulut. Semua itu membuatku jenuh, sehingga tanpa pikir panjang aku berbelok menuju mobil penjual es krim yang terparkir di taman.

"M―mau ke mana kau?" panggil Rima tiba-tiba. Aku menoleh dan terkejut melihatnya berhenti di trotoar menatapku.

"Hmm? Beli es krim. Apa kau―"

"Vanilla." Ujarnya bahkan sebelum aku sempat bertanya.

"O... ke," ujarku nggak mampu mencari kalimat lain. Rima segera mengikutiku dari belakang. Seorang pemuda berambut mohawk keluar dari mobil lalu berjongkok di depan dua orang anak laki-laki dan memberikan mereka es krim.

"Terima kasih, nak. Bersenang-senanglah. Jangan sampai es-mu mencair," serunya saat anak-anak itu pergi sambil melambaikan tangan padanya. Kemudian dia berdiri menatapku. "Ah, kau mau beli es krim?"

Tanpa kusadari aku menatapnya dari kepala sampai kaki. Dengan rambut seperti paku berbaris, tiga anting di telinga, dan celana yang robek di bagian lutut, aku heran mengapa anak-anak tadi nggak menangis ketakutan melihatnya. Hal yang normal darinya hanyalah kacamata berbingkai hitam dan seragam penjual es krimnya, yang kancingnya dibiarkan lepas.

"Hei, aku bertanya padamu, nona." Katanya sambil melambaikan tangan di depan wajahku.

"Maaf, aku laki-laki." Kataku menahan kesal. "Apa kau penjual es krimnya?"

"Ha-ha, aku sering mendengar hal itu. Tentu saja aku penjual es krimnya," jawabnya sedikit ketus. "Jadi kau cowok? Sayang sekali. Ya sudah, kau mau rasa ap―ya tuhan!"

Dia tiba-tiba berseru dengan pandangan tertuju pada Rima. Rima yang diam sejak tadi seketika tersentak dan menatap lurus padanya. "A ―apa?" gumamnya.

"Ukh... ukh... dunia sungguh nggak adil! Kenapa..." ratapnya menaruh telapak tangannya di dahi dengan sikap dramatis. Kemudian dia berpaling padaku dengan tatapan tajam.

"Kau pacarnya, ya?"

"E―eh, ya, benar. Kenapa?" tanyaku bingung.

"Benar-benar nggak adil... kenapa cowok cantik sepertinya bisa punya pacar yang sama cantiknya?" gumamanya pelan meskipun aku tetap bisa mendengarnya, dan itu membuatku tersinggung.

"Hei, kau ini kenapa? Bukankah seharusnya kau memberi kami es krim?" ujar Rima dari belakangku. Tubuhnya sedikit merapat pada punggungku, dan aku bisa merasakan tangannya menggenggam seragamku erat-erat.

"Apa? Oh, tentu saja! Bahkan, aku akan memberikannya gratis buat kalian!" ujar si penjual es krim itu tiba-tiba berubah riang.

"Gratis? Kenapa?"

"Karena aku sangat menghargai gadis dengan kecantikan sepertimu, nona." Ujar si penjual es krim membungkuk hormat pada Rima. "Tapi, jawab dulu pertanyaanku..."

"Apa selama ini, si cowok cantik itu bersikap baik padamu?"

Rima membuka mulutnya namun nggak mengatakan apa-apa. Sepertinya baginya pertanyaan itu sama mengejutkannya untukku. "A―apa maksudmu?" ujarnya.

"Sebenarnya, perusahaan kami melakukan riset tentang apa yang dirasakan pasangan kekasih dalam hubungan mereka. Aku benci melakukannya, tapi itu bagian dari promosi." jawab penjual es krim dengan wajah sebal. "Tapi, kalian ini pacaran, 'kan?"

"O―oh, yah, benar." sahutku. "Tapi apa kami harus melakukannya? Hanya untuk es krim gratis?"

"Terserah. Ini hanya riset, dan aku nggak punya hak untuk memaksa kalian jika kalian keberatan. Itu pelanggaran privasi namanya," ujarnya dengan mengangkat bahu.

Di antara aku dan Rima, jelas nggak ada yang mengira orang asing akan mengajukan pertanyaan seperti itu, meskipun hanya sebagai riset. Namun yang mengejutkan, Rima terlihat serius memikirkan hal itu. Untuk beberapa saat dia menatapku, sebelum akhirnya menunduk sambil menggerakkan kakinya dengan gelisah.

"Apa aku harus menjawabnya?" tanyanya padaku.

Eh, entahlah. Haruskah?


~Author Speech~

Vices: Ah, yeah... konnichiwa, minna. Akhirnya setelah sekian lama, kita ketemu di chapter terbaru Ballad of the Lunatic Pair. Emang nggak tahu malu gue...

Rima: ...

Vices: Apa?

Rima: Gue bahkan nggak tahu mau ngomong apa kali ini. Gue kehabisan kalimat hujatan buat lo

Vices: Entah gue harus sedih atau bersyukur... Gah, bodo amat! Ada hal yang lebih penting, yaitu bacaain review! Pertama, satu dari segelintir orang yang terus baca fic ngaco ini, Fuka-chan :) Di bawah ini jawaban saya:

Wah, Fuka-chan terlalu muji nih. Saya sendiri sebenernya nggak ngerasain hal kayak gitu waktu baca fic ini, mungkin karena saya sendiri yang nulis. Tapi saya tetep seneng kalo Fuka-chan berpikir begitu sama apa yang saya tulis :D Dan, sekali lagi, maaf atas keterlambatan updatenya. Jujur, saya kena writer's block...

Rima: itu berarti lo nggak punya bakat jadi penulis. Yah, langsung aja ke review selanjutnya, deh. Kali ini dari Daiya-chan. Aku coba jawab pertanyaanmu, ya:

...

Nagi: Kenapa? Kok diem? Apa yang dia tulis?

Rima: Hah? Oh, b-bukan apa-apa. Ehm, Daiya-chan, tolong jangan buat aku inget sama hal itu. Aku nggak tahu kenapa aku berbuat begitu, bahkan sampai bikin kartu ucapan. Y-yang jelas, itu nggak ada hubungan sama benih-benih atau apapun yang ada dipikiranmu! Itu murni ucapan terima kasih!

Nagi/Vices: ...

Rima: A-apa?

Vices: Nggak. Tumben aja lo inisiatif baca review sendiri. Apa ada alasan khusus?

Rima: E-eh?! Nggak, kok! Gue cuma pengen jawab aja, b-bukan berarti gue punya sesuatu yang harus di-dijelasin

Vices: ...tsundere. Oke, cukup sampai di sini saja perbincangan kita kali ini. Minna, arigatou atas semua support dan kesetian kalian buat gue :D Sampai ketemu di chapter selanjutnya!

Rima: Hei, apa maksudnya tsundere!? Udah dua kali gue dibilang begitu! Ini pembunuhan karater! Gue nggak terima!

Vices: Berisik. Anyway, happy birhday, Rima! L'Vices, over and out!

Rima: Mamakasih... hei, ulang tahun gue udah lewat berminggu-minggu lalu!