Maaf untuk beberapa bulan tanpa update. Aku benar-benar kehilangan motivasi dan ide untuk cerita ini. Namun setelah berjalannya waktu, aku mulai mempunyai motivasi lagi untuk menulis cerita ini. Terimakasih banyak semua atas review dan follow.

Pada bab ini, akan ada pertarungan. Dan aku mendapat kesulitan dalam menulis action. Tapi, aku harap kalian tetap dapat menikmatinya. Silahkan berikan review tentang pendapat anda setelah ini!


Title : Never Surrender in Fate

Disclaimer : Inspiration of Fate-series. I own nothing.

Author : Nafa

Character : Arturia Pendragon, Lancelot, Bedievere, and others

Genre :Adventure, Action, tragedy


Chapter 4 : Perang Penentu Nasib Part I

Matahari sudah berada tepat diatas mereka, namun panasnya tidak akan terlalu berpengaruh di hutan yang lembab ini. Hanya sebagian kecil cahaya yang berhasil menembus masuk melalui celah-celah dari daun pohon yang rindang. Semua pasukan Raja Arthur telah sampai di perbatasan timur Camelot. Wilayah dimana para musuhnya melakukan kerusuhan dan menyatakan ingin memerangi Britania.

Raja Arthur berdiri diatas bukit hutan dengan pedang Excaliburnya. Angin berhembus menyapu wajah dinginnya. Meski begitu, di dalam hatinya terdapat api yang berkobar yang sudah siap untuk membakar medan peperangan. Dia tidak akan memaafkan seorang pun yang telah berani membuat rakyatnya ketakutan dan khawatir atas teror yang mereka berikan. Kedamaian dan ketentraman yang selalu ia perjuangkan di tanah airnya mulai rusak akibat serangan-serangan mereka yang terjadi akhir-akhir ini.

Lancelot mendekatinya, "Arthur, kami semua telah siap. Silahkan berikan perintahmu!"

"..." Raja Arthur tidak menjawab, dia tetap terfokus kepada pasukan musuh yang berada jauh di depannya. Apa yang dikatakan Lady of Lake memang benar, pasukannya sudah jelas kalah dalam hal jumlah. Namun Raja Arthur yakin kemenangan akan berada di tangannya, apalagi setelah dia mendapatkan Excalibur dan Avalon.

Dari semua pasukan musuh, terdapat satu orang yang berada paling depan. Orang tersebut menggunakan armor berwarna perak dan merah yang menutupi semua tubuhnya, termasuk juga helm tertutup yang bertanduk seperti banteng yang marah. Meskipun helm dan armor adalah sesuatu yang wajar ketika dipakai saat perang, namun Arthur merasa tertarik dengan orang ini. Dia memakai sebuah armor yang berbeda dari pasukannya, seolah-olah memberitahukan bahwa dialah pemimpinnya. Arthur tahu seperti apa semangatnya terhadap perang ini. Dia ingin mengetahui apa alasan orang ini sangat tertarik berperang melawan Britania. Tekad apa yang membuatnya berani menghadapi para ksatria miliknya yang selama ini selalu menang dalam berbagai hal perang bersamanya.

Lancelot yang tidak mendapat jawaban dari sang raja merasa khawatir. Masih dengan suara yang tenang dia bertanya, "Apakah ada sesuatu yang salah?"

"Tidak, mari kita mulai!" Katanya tegas.

Arthur segera menaiki kudanya dan mengangkat tinggi pedangnya. Diikuti dengan teriakan para prajuritnya, dia segera memacu kudanya menuruni bukit. Namun tidak semua pasukan ikut menuruni bukit. Sesuai strategi yang telah dibentuk, pasukan archer tetap berada di atas bukit dimana mereka dapat memanfaatkan pohon-pohon untuk bersembunyi dan melihat berlangsungnya perang dari ketinggian bukit, sampai waktu yang telah ditentukan untuk melakukan penyerangan. Pemimpin pasukan ini adalah Sir Bedivere. Salah satu dari ksatria meja bundar, yang juga teman baik Arthur.

Ketika pasukan Arthur dan pasukan musuh bertemu, mereka segera bentrok pedangnya masing-masing. Antara logam yang saling bertemu menghasilkan musik pengiring dalam medan pertempuran tersebut. Arthur berada di garis depan dengan ksatria dari meja bundar lainnya. Namun, Sir Lancelot adalah ksatrianya yang bertugas selalu berada di sisinya. Disaat seorang pemanah dari pihak musuh mengarahkan panahnya ke arah Arthur, atau serangan tidak terduga lainnya, Lancelot akan melindunginya. Dengan gerakan tangannya, Arthur membunuh satu demi satu musuhnya tanpa hambatan.


...

Sir Bedivere melihat bagaimana perang itu berlangsung dan menunggu waktu yang tepat untuk memberikan perintah menyerang. Dia memikirkan lagi strategi yang telah dibentuk oleh Raja Arthur dan ksatria meja bundar kemarin. Dia merasa kagum atas pemikiran Raja Arthur atas usulannya tentang 'Serangan Kejutan' pasukan Archer.

Hingga dia kembali tersadar ketika salah satu archer disampingnya menyenggolnya dengan siku untuk memberitahunya bahwa sudah saatnya melakukan penyerangan. Dia melihat pasukan musuh yang paling belakang mulai ikut maju menyerang, dia segera merintahkan pasukannya untuk bersiap. Dia tersenyum dalam hatinya, karena dia tidak sabar untuk mencoba keberhasilan dari ide Arthur tentang 'Serangan Kejutan' ini.

"Bersiap, Tentukan target kalian masing-masing!"

Bedivere menunggu kembali, dia memperkirakan jarak panah yang dapat dijangkau hingga sampai mengenai musuh.

"Tembak!"

Ratusan panah terbang di udara. Sebagian prajurit musuh yang mengetahuinya berlari menghindarinya. Namun sebagian besar dari mereka akhirnya mati terkena panah tersebut.

Mulai saat itu pasukan archer, terus meluncurkan serangannya secara terbuka. Bedievere benar-benar menampilkan senyum puas diwajahnya, karena melihat keberhasilan dari 'serangan kejutan'. Tak lama kemudian, jumlah pasukan musuh pun berkurang drastis. Bau darah akibat pertempuran pun mulai tersebar dimana-mana.


...

Arthur mengayunkan pedangnya dengan lihai kepada para musuhnya dengan tanpa hambatan. Tujuannya hanya satu, menuju pemimpin pasukan musuh yang ia lihat sebelumnya. Dia merasa senang bahwa penyerangan dari pasukan archer berhasil dan sangat membantunya. Dia terus memacu kudanya dan mendekati mangsanya. Dia tidak berhenti menebas musuh yang mendekatinya. Namun di saat dia hampir mendekati pemimpin musuh, salah seseorang berdiri di depannya dan mengayunkan pedang ke arahnya dengan berani. Kuda Arthur berdiri karena kaget dan Arthur terjatuh dari kudanya. Saat itu, Arthur sudah terpisah dengan Lancelot.

"Raja Arthur, senang bertemu anda kembali!"

"Siapa kau?"

Arthur berdiri dan segera membalas mengarahkan pedangnya diatas perut musuh. Namun berhasil ditangkis oleh orang itu. Segera orang itu melepaskan penutup helmnya. Dan serangan dari Raja Arthur pun berhenti.

"Apakah kau sudah ingat?" Dia juga berhenti menyerang.

'Apa?' Mata Arthur terbelalak. Dia tahu siapa pria itu. Dia adalah pria yang pernah menghadapnya di istana dan menyatakan akan meninggalkan Camelot.

"Jangan terkejut, Yang Mulia. Semua yang kau lawan saat ini adalah rakyatmu sendiri." Pria itu tersenyum mengejek.

Wajah Arthur langsung pucat. Ia tidak pernah merasa takut akan sebuah perang. Namun setelah dia memikirkan akan sebuah perang besar dimana rakyatnya sendiri yang akan dia lawan, membuatnya marah.

"Apa maksudmu?"

Arthur segera menyerangnya tanpa ampun. Dia mengayunkan pedangnya dengan ganas layaknya singa dan berhasil mengenainya di beberapa tempat.

"Kami semua kecewa terhadapmu!"

Pria itu menyerang Arthur Arthur berhasil menghindarinya dengan berputar kesamping.

"Mengapa kau tidak menghukum orang yang telah berkhianat besar terhadapmu, dan mengabaikan kami begitu saja? Raja seharusnya bertindak adil!"

"Aku selalu berusaha bertindak adil!"

"Tidak, Yang Mulia! Anda tidak pernah bisa berbuat adil, apalagi mengenai ksatria terpecaya anda. Anda adalah seorang raja yang tidak bisa mengerti bagaimana perasaan rakyatmu sendiri."

"CUKUP! MARI KITA AKHIRI!"

Arthur tahu kemana arah pembicaraan ini. Dia semakin marah terhadap pria ini, dan memberikannya serangan yang bertubi-tubi dari segala arah.

"Sir Lancelot. Kau tahu bahwa dia telah melakukan penghianatan besar terhadapmu- apa yang sudah dia lakukan bersama Ratu Guinevere- tentu kau sudah mengetahuinya!" Kata pria itu. Dia mengucapkannya dengan menghindari serangan Raja Arthur.

Arthur mengayunkan pedangnya di leher pria tersebut, berharap serangan itu adalah untuk terakhir kalinya untuk pria itu. Namun pria itu berhasil menghindarinya dengan melompat kebelakang, disaat sebelum Arthur mengenainya. Arthur segera mendekat dan memukul kaki pria itu. Dan pria itu pun terjatuh. Saat itu juga ia menghunuskan pedangnya tepat di jantungnya. Sangat mudah bagi pedangnya, Excalibur untuk menembus jirah milik pria itu.

Mata pria itu melebar karena terkejut dan rasa sakit yang dirasakannya. Dia sempat mengatakan dengan suara parau, "Bagus sekali, kau membunuh rakyatmu sendiri!"

"Kau bukanlah rakyatku!" Jawabnya dingin. "Kau sudah meninggalkan Britania dan menjadi seorang pemberontak, aku sudah tidak lagi menganggapmu sebagai rakyatku." Arthur berbicara kepada tubuh yang terbaring kaku.

Arthur segera mencari sekelilingnya dimana pemimpin pasukan musuhnya itu berada. Namun dia tidak menemukannya. Banyak dari musuhnya yang mulai berlari, mundur dari peperangan. Dia mengatur nafasnya karena lelah. Dia melihat sekelilingnya lagi, namun fokusnya kepada semua prajurit-prajurit yang telah mati. Memang ini bukanlah pertama kalinya dia melihat orang mati, namun dia merasa miris karena banyaknya korban yang telah gugur. Apalagi, mengingat apa yang pria itu katakan. Mereka bukan hanya musuh, namun juga rakyatnya yang telah berbalik menyerangnya. Dia bertanya dalam hatinya, mengapa rakyatnya begitu membencinya? Apa yang telah dia lakukan?


...

Bedivere melihat Rajanya yang sedang berdiri diam di kejauhan. Wajahnya menampakkan kesedihan, dia segera menuruni bukit dan mendekatinya.

"Belum saatnya kau rapuh, Raja Arthur! Masih ada pertempuran yang belum kita selesaikan. Mari kita bergegas mengejar mereka, atau anda ingin membiarkan mereka pergi?"

Arthur menatap wajah ksatrianya. Ungkapan Bedivere telah membuatnya tersadar kembali. Jika dia tidak menyelesaikan perang itu sekarang, maka musuhnya akan kembali lagi suatu saat nanti dengan perang besar yang lain. Dia juga harus mengungkap maksud sebenarnya dari musuhnya.

"Tidak! Mari kita segera mengejar mereka."

Bedivere tersenyum atas semangat baru rajanya itu.


To be continue...

.

.

Terimakasih banyak sudah membaca hingga bab ini!

Terimakasih atas review yang telah kalian berikan!

Terimakasih juga atas follow dan favourite!

Jangan lupa tinggalkan review kembali ^.^

.

Nafa Nafalfa,

March, 20 2016

07.13 pm