"Hey, bangun. Kau mau telat sekolah?"

Kuroko Tetsuya membuka kedua matanya, dan hampir melompat dari tempat tidurnya ketika dua wajah asing memasuki indera pengelihatannya. Pemuda itu bergegas mengubah posisinya menjadi duduk tegak dan menatap kedua gadis berambut pirang yang sepertinya lebih tua satu atau dua tahun darinya.

Kuroko menatap kedua gadis itu dengan tatapan heran, bercampur bingung. Mengapa di rumahnya—di kamarnya pula!—ada dua orang gadis asing? Dan sejak kapan ada seseorang berambut pirang di rumahnya?

Mulut Kuroko membuka, hendak bertanya, tetapi salah satu dari dua gadis itu mengalahkan niatnya.

"Kau mau bangun dan pergi ke sekolah sekarang juga atau mau menatap kami seperti orang idiot seperti itu?" Salah seorang dari dua gadis itu, yang paling tua sepertinya, menatap Kuroko dengan sebelah alis terangkat dan kedua tangan yang dilipat di depan dada. Nampak sama heran dan bingungnya dengan reaksi Kuroko.

Tanpa berkata-kata, Kuroko beranjak bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi. Ia dapat mendengar dua pasang langkah kaki yang bergerak menjauh dari kamarnya, diiringi dengan suara dua orang bercakap-cakap.

Kuroko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dahinya berkerut ketika ia mencoba menyelami memorinya, bertanya-tanya siapa sebenarnya kedua gadis pirang yang identik dengan teman satu tim basketnya di sekolah, dan membuka pintu kamar mandi.

Untuk menemukan ternyata ruangan di dalam pintu itu adalah sebuah lemari.

Kuroko mengerjap, dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia yakin kemarin kamar mandi di rumahnya ada di sini. Sejak kapan kamar mandi bisa berpindah tempat? Tidak mungkin, kan, ia menumbuhkan kaki dan berpindah ke suatu tempat di rumahnya?

Langkahnya kemudian berhenti ketika ia melewati sebuah kaca tinggi seukuran tubuh manusia yang dipasang di dinding tepat di samping lemari. Wajahnya memucat, terpana ketika ia menyadari sosok siapa yang memandanginya balik dari cermin.

Kuroko lupa ia masih berada di tubuh Kise Ryouta.

"Oy, Ryouta! Cepat, sarapannya keburu dingin!"

.

.

Kiseki Change! is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Azureinne Karale

Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki

Inspired by A picture belong to Akixx ( www . zerochan 1639628 )

A semi-canon, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing

Read at your own risk

.

.

"Kau sakit?"

Kuroko mengerjap, memproses pertanyaan tersebut, sebelum kembali memakan sarapannya dengan tenang, seolah pertanyaan itu tidak pernah diajukan. "Tidak. Apakah aku terlihat sakit bagimu ... Kak?" Kuroko mengernyit ketika kalimat terakhir meluncur keluar dari bibirnya, ia belum pernah memiliki seorang kakak, absurd rasanya ketika ia tiba-tiba harus memanggil dua gadis ini kakak.

"Kau memang terlihat sehat," Gadis yang kedua berujar. Ia menunjuk Kuroko yang tersentak dengan salah satu sumpitnya, "Tetapi kau terlalu diam. Agak terlalu pendiam. Apakah kau sedang patah hati?" Tanya gadis itu, sembari tersenyum nakal.

Kuroko menelan nasinya dengan sedikit kesulitan dan menatap gadis itu dengan tatapan datar yang cukup meyakinkan, "Tidak juga. Aku hanya tengah berpikir ... Kak." Ujar Kuroko.

"Berpikir?" Gadis yang tertua menatap Kise yang didiami jiwa Kuroko dengan tatapan yang tak dapat dideskripsikan. "Astaga, apakah kau merekam kata-katanya!? Ryouta tengah berpikir!" Seru gadis itu dengan hebohnya. Ia kemudian berdiri dan menggenggam kedua tangan Kuroko yang bebas dari sumpit dan mangkuk dan menatap pemuda itu dalam-dalam. "Aku tidak tahu kalau kau bisa berpikir, Ryouta!" Serunya, girang.

Sebuah isakan membuat Kuroko dan kakak tertua Kise menoleh ke arah satu-satunya orang di meja makan selain mereka. Gadis yang terakhir tengah terisak, bahunya bergetar dan ia tengah mengelap air matanya dengan lengan bajunya.

"Ryouta! Aku tahu hal ini akan terjadi! Tuhan, terima kasih telah membiarkanku hidup sampai saat ini!" Serunya, sembari menangis dengan sangat dramatisnya.

"Jadi, apa yang kau pikirkan, Ryouta?" Kakak Kise yang tertua bertanya, mengalihkan perhatian Kuroko kembali kepadanya. Senyum sang kakak agak terlalu lebar, dan matanya yang hazel berkilat-kilat, menyimpan emosi yang Kuroko sendiri tak ketahui apa.

"... Apakah hal itu penting, kak?"

Sang kakak mengeratkan genggamannya pada tangan Kuroko—Kise—sembari menatap sang pemuda dengan mata berbinar-binar. "Tentu saja! Aku adalah kakakmu! Aku wajib tahu semua hal yang kau pikirkan! Sekarang, katakan kepadaku, apakah kau memikirkan seorang gadis? Oh, apakah kau memikirkan manajer tim basket yang kau ceritakan itu?" Tanyanya bertubi-tubi, tidak membiarkan Kuroko membuka mulutnya untuk menjawab.

"Ryouta ... Ryouta akhirnya memikirkan seorang gadis! Tuhan, akhirnya adikku sudah tumbuh menjadi seorang laki-laki!" Kakak kedua Kise, yang sedari tadi belum berhenti menangis dengan sangat dramatisnya, berseru dengan nada terharu dan melompat untuk memeluk tubuh Kise yang didiami jiwa Kuroko.

Wajah Kuroko perlahan berubah warna menjadi biru dengan komikalnya ketika merasakan betapa eratnya pelukan kakak Kise. Pemuda itu berusaha keras melonggarkan genggaman gadis yang lebih tua itu dari lehernya dan menepuk-nepuk lengan sang gadis dengan harapan ia tahu bahwa ia mencekik Kuroko.

Suara denting bel kemudian menyelamatkan Kuroko dari dicekik sampai mati oleh kakak Kise.

Kuroko memperhatikan kakak tertua Kise yang berjalan menuju pintu depan dan membukakan pintu apartemen mereka untuk seseorang yang sudah menunggu di depan pintu. Sebuah senyum lebar yang tidak terlihat dari tempat Kuroko duduk tersulam di wajah sang gadis yang identik dengan milik Kise.

"Ryouta! Temanmu yang berambut biru muda sudah datang!"

Kuroko mengangguk dan cepat-cepat menghabiskan sarapannya. Pemuda itu kemudian meraih tas dan blazer miliknya yang tergantung di sandaran kursi makan sebelum melangkah menuju pintu depan, tempat tubuhnya yang didiami jiwa seorang Akashi Seijuuro dan kakak tertua Kise tengah bercakap-cakap.

Setelah mengenakan sepatunya dan pamit kepada kedua kakak Kise, kedua pemuda itu melangkah menuju tujuan mereka berikutnya: Rumah Midorima yang tubuhnya tengah dikuasai oleh Kise.

"Apakah kau menemukan cara untuk dapat kembali seperti semula, Akashi-kun?" Kuroko membuka pembicaraan. Melihat tubuhnya sendiri berjalan tanpa jiwanya membuat perasaan absurd mendominasi kepalanya, seperti melihat tubuhmu dirasuki dan kau berubah menjadi jiwa yang melayang-layang tanpa tubuh.

"Tidak, belum. Aku bahkan belum tahu bagaimana hal ini dapat terjadi secara logika." Akashi dalam tubuh Kuroko berkata, dahinya berkerut ketika ia menyelami pikirannya, berusaha berpikir keras tentang masalah yang menimpa mereka. "Tidak ada ilmu maupun rumus yang membuktikan bahwa hal ini dapat terjadi, tetapi salah satu teoriku adalah—"

"Ah, Kuro-chin. Dan Aka-chin. Selamat pagi ..." Keduanya menoleh untuk menemukan tubuh seorang Aomine Daiki yang tengah didiami oleh Murasakibara Atsushi melambaikan tangannya dari salah satu tingkungan di depan mereka. Dua pasang mata kemudian terfokus ke arah kantong plastik putih berisi banyak makanan yang berada di tangan Murasakibara.

Sebenarnya Murasakibara membawa banyak makanan itu normal, tetapi melihat tubuh Aomine Daiki membawa makanan banyak itu baru tidak normal.

"—Jadi teoriku, kita sebenarnya tidak bertukar jiwa. Tetapi seperti terhipnotis dan bersikap seperti satu sama lainnya." Akashi menyelesaikan penjelasannya yang sempat terpotong karena kemunculan Murasakibara yang tiba-tiba.

"Masalahnya, Akashi-kun, memangnya terjatuh dan saling tumpang-tindih itu dapat membuat seseorang terhipnotis?" Kuroko bertanya, mengabaikan suara kunyahan berisik dari belakangnya. Melihat tubuh Aomine yang tak dapat berhenti makan membuat perutnya kenyang dan terasa penuh secara tiba-tiba.

"... Mungkin faktor lantainya? Lantai gym itu memiliki pola garis-garis lurus yang monoton, kan? Mungkin kita terhipnotis karena itu?"

Pembicaraan pagi itu membuktikan bahwa bahkan sang calon kapten tim basket Teiko, sang pemuda berambut merah yang dikenal sebagai pangeran Teiko, sang Akashi Seijuuro juga hopeless menghadapi situasi dan masalah ini.

.

"KISE-KUN!"

"Selamat pagi semuanya!"

Seketika, suasana ramai dan gaduh di halaman Teiko Junior High hening. Semua pasang mata menatap Kise Ryouta, yang berada di dalam tubuh Midorima Shintarou, yang tersenyum hangat dan melambaikan tangannya dengan sangat percaya dirinya.

Memang di mata orang-orang yang tahu bahwa Kiseki no Sedai bertukar tubuh, mereka akan melihat Kise, yang tengah berada di dalam tubuh Midorima, tengah melambai dengan bersemangat, hal yang normal ia lakukan di pagi hari. Tetapi, di mata orang awam—yang meliputi seluruh murid Teiko—mereka akan melihat Midorima Shintarou tengah melambai dengan bersemangat.

Bayangkan, Midorima Shintarou, tanpa kacamata, dengan lensa kontak dan tengah tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya. Jika ini adalah sebuah komik, pasti latar belakang yang ada di punggung Kise adalah bling-bling, lengkan dengan kelopak bunga sakura yang berjatuhan dengan dramatisnya.

Peristiwa yang terlalu absurd untuk dapat menjadi kenyataan. Namun, begitulah kenyataannya. Walaupun sebenarnya senyuman Kise membuat wajah Midorima semakin tampan, sih ...

Sang empu tubuh, yang terjebak dalam tubuh titan Murasakibara Atsushi, menepuk dahinya dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu luar biasa dengan kelakukan temannya yang satu itu.

Memaki, Midorima menatap dua benda yang berada di tangannya, sebuah boneka anjing laut berwarna putih yang tengah tersenyum dengan sangat imutnya dan sebuah sandal jepit berwarna ungu.

"Padahal aku sudah membawa lucky item untuk bintangku dan untuk bintang Murasakibara juga. Kenapa nasib buruk masih menimpaku, nanodayo!?" Serunya, dengan nada frustasi.

"Mungkin kau seharusnya membelikan satu untuk Kise juga, Midorima." Aomine Daiki, yang berada di dalam tubuh Akashi, menyisir poni Akashi yang menganggu pengelihatannya ke belakang dan berusaha menatap surai merah membara tersebut dengan tatapan kesal ketika rambut itu kembali jatuh ke dahinya. "Akashi, bolehkah aku memotong rambutmu?"

"Jika kau memotong rambutku, aku akan potong tanganmu, Aomine." Akashi menjawab tanpa menoleh.

"Kurokocchi! Masa mereka malah menatapku dengan tatapan seolah aku ini adalah alien!" Kise berseru sembari menarik tangan Kuroko, menunjuk sekumpulan gadis yang nampak terheran-heran dengan sikap Kise. Di mata mereka, Kise itu Midorima. Malah tidak wajar jika mereka tidak heran, bukan?

"Kise-kun. Apakah kau lupa kata-kata Akashi-kun? Stay in character. Wajar jika mereka menatapmu dengan tatapan aneh, kan? Di mata mereka, kau itu Midorima-kun, jadi tolong jangan merusak image Midorima-kun, apakah kau tidak kasihan dengannya?" Kuroko menjelaskan dengan sabar sembari menunjuk Midorima yang berjalan dengan langkah gontai, menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya yang semakin menjadi-jadi.

"Omong-omong ... Kok mereka tidak mendatangi Kise, ya? Biasanya, semua orang langsung mengerumi Kise jika dia datang, kenapa sekarang tidak? Mereka tidak tahu kalau kita bertukar tubuh, kan?" Aomine melipat kedua tangannya di belakang kepala, membiarkan tasnya menggantung di belakangnya, dan mengabaikan tatapan melongo dari orang-orang di sekitarnya ketika ia berbuat demikian, nampaknya ia lupa bahwa ia berada di tubuh Akashi lagi.

Semua orang kemudian menoleh ke arah Kuroko yang tersenyum samar.

"Di dunia ini ada banyak trik sihir, Aomine-kun."

"Bohong. Bilang saja kau menerapkan misdirection ke tubuh Kise."


Pagi itu, guru sejarah Jepang Teiko dikagetkan oleh kemampuan Kise Ryouta yang tiba-tiba dapat menjawab seluruh pertanyaan kuis sejarah Jepang dan mendapatkan nilai seratus. Entah itu hanya sekedar keberuntungan atau memang Kise akhirnya memutuskan kembali ke jalan yang benar, sang guru tak tahu. Pun ia hanya dapat melongo ketika melihat Kise menatapnya dengan tatapan tenang dan datar yang sangat-bukan-Kise-sekali.

Sang guru menepuk salah satu bahu Kise dan mengelap ingusnya dengan lengan jasnya, "Kise Ryouta, aku senang kau akhirnya kembali ke jalan yang lurus. Lanjutkan, nak!"

Well, wajar saja ia bersikap seperti itu. Karena nilai seratus yang didapatkan Kuroko untuk Kise bagaikan emas di tengah-tengah kerikil. Bagaikan jerami di tengah tumpukan jarum.


"Midorimacchi! Karena image-mu, aku disuruh menjawab pertanyaan guru terus, tahu!"

"Ha, itu karena kau saja yang kelewat bodoh, nanodayo."

"Hidoi-ssu! Akashicchi! Wakilmu ini, loh!"

"Kise, aku sedang berpikir. Diam atau kuumpankan kau ke fansgirl-mu nanti."

"Kurokocchi!"

Kuroko menoleh ke arah Kise dari tempatnya duduk di lantai gym. Kedua sumpitnya masih menggantung di bibirnya ketika ia berbuat demikian. Salahkan Kise yang tiba-tiba memanggilnya ketika ia tengah menikmati makan siang. Salah satu alis Kuroko naik, menyuruh Kise melanjutkan alasannya memanggil namanya.

"Midorimacchi dan Akashicchi tidak peduli lagi denganku!"

"Itu salahmu juga, Kise-kun. Midorima-kun sedang kesal kepadamu karena kau merusak image-nya tadi pagi, dan Akashi-kun sedang berpikir, seperti yang ia bilang." Kuroko menurunkan sumpitnya dan menunjuk Midorima yang nampaknya belum melupakan insiden tadi pagi dan Akashi yang tengah membaca buku dengan sangat seriusnya.

Kise mencebikkan bibirnya ketika mendengar Kuroko tidak membelanya. Mata hijau Kise—Midorima—menatap Kuroko dengan lama, seolah berharap Kuroko akan membelanya jika saja ia menatapnya cukup lama. Namun, kegiatannya itu malah membuatnya mengingat satu hal yang sedari kemarin malam ia pikirkan.

"Besok aku ada pemotretan." Katanya, tiba-tiba. Matanya kemudian membesar dalam kesadaran ketika otaknya memproses kata-katanya baik-baik. "Kurokocchi! Besok aku ada pemotretan! Aku harus bagaimana!?" Serunya, panik, sembari mengguncang-guncang bahu Kuroko, ekspresi panik nampak di wajahnya—Midorima. "Kau mau menggantikanku, kan!?"

"Tidak." Kuroko menjawab tanpa rasa ragu.

"Tapi, itu pemotretan penting, Kurokocchi! Itu penting!" Kise melompat berdiri dan berjalan ke sana dan kemari, menarik perhatian teman-temannya yang tengah sibuk sendiri. "Kakak manajer pasti akan membunuhku jika aku tidak datang!" Teriaknya, sembari membayangkan manajernya tersenyum ke arahnya sembari membawa sebuah gunting yang berkilat-kilat berbahaya.

"Kenapa tidak diundur saja? Memangnya Tetsu bisa kelihatan di kameranya?" Aomine, yang tengah menghabiskan makan siangnya, menimpali. Sebelah alisnya naik ketika sebuah pikiran absurd tentang Kuroko di dalam tubuh Kise bergaya di depan kamera, tetapi ketika dipotret, tidak ada sosok Kuroko di dalamnya.

Oke, itu kelewat horor.

"Kenapa tidak kau saja yang datang?" Akashi menutup bukunya dan berkata, "Bilang saja kau datang untuk menggantikan Kise, atau kalau perlu, kau bisa memakai wig dan lensa kontak dan menyamar menjadi Kise." Pemuda itu menjentikkan jemarinya ketika ia menyadari betapa kecenya ide yang meluncur keluar dari bibirnya.

"Aku adalah Kise, Akashicchi!" Protes Kise, tidak terima dengan cara Akashi mengucapkan 'menyamar menjadi Kise' seolah ia bukanlah Kise Ryouta yang dimaksud. "Dan mau didandani seperti apapun, Midorimacchi itu tidak terlihat fashionable, bisa hancur karirku!" Seru Kise, mengabaikan fakta bahwa orang yang ia maksud berada di dalam ruangan yang sama.

"Apa maksudmu aku tidak fashionable, Kise!?" Midorima berseru dari tempatnya duduk. Tempat makan siangnya retak saking besarnya tenaga ia keluarkan untuk tidak melemparkan kotak makan siangnya ke kepala Kise. Mengapa ia menahan diri? Karena melempar kotak makan siang ke tubuhmu sendiri itu terasa sangat absurd.

"Aku membicarakan fakta, Midorimacchi!" Kise merengek.

Dan hanya membutuhkan empat kalimat bagi Kise untuk mematahkan determinasi Midorima untuk tidak melempar kotak makan siangnya. Midorima berdiri dan melempar kotaknya yang masih berisi setengahnya, mengarahkannya ke arah Kise yang nampaknya tidak menyadari sebuah benda terbang mengarah ke kepalanya.

Namun, kotak makan siang itu malah terbang melewati Kise begitu saja, terjatuh tepat di kepala Aomine yang memaki, terkejut setengah mati.

Wajah Midorima memucat, "Aku ketinggian ..."

"... Kupikir kita sudah membahas masalah tinggi badan ini?"


Siang itu, guru olahraga yang tengah mengajar kelas Kise tidak dapat menemukan sosok Kise dimanapun, dan berasumsi bahwa pemuda itu jatuh sakit atau apa yang mengharuskannya absen dari kelas olahraga.

Seharusnya ia menoleh ke belakang.


"Melihat Akashi berjalan pulang bersama kita itu agak absurd, ya?" Kise menatap punggung Akashi yang berjalan agak di depan. Walaupun ia tahu Akashi berada di tubuh Kuroko, tetapi aura Akashi dan Kuroko sangat berbeda, jadi, berjalan bersama Kuroko dengan jiwa Akashi itu sebenarnya tak ada bedanya dengan berjalan bersama Akashi dalam tubuh Akashi.

"Masa?" Akashi mengerjap, "Padahal aku sudah berusaha berakting menjadi Kuroko, loh."

Kise menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, terkekeh. Di sampingnya, Kuroko nampak memandangi sesuatu dari kejauhan, mengabaikan teman-temannya yang kini berdebat tentang siapa yang berakting sangat baik hari ini. Mata cokelat tua Kuroko—Kise—kemudian menangkap sesuatu yang sedari tadi dicarinya, membuat sebuah senyum tipis terkembang di wajahnya.

"Kalian duluan saja, ada yang mau kubeli." Kuroko melambaikan tangannya, bergerak menjauh dari teman-temannya yang nampaknya tak mendengar kata-katanya dan tak menyadari dirinya berjalan menjauh dari mereka.

Kuroko menghapus semua ekspresi yang nampak di wajahnya ketika kedua pintu kaca itu terbuka secara otomatis di depannya. Melangkah masuk dengan santai, Kuroko segera melangkah ke hadapan kasir dan mengangguk sekali ketika sang kasir tersenyum dan menyapanya dengan nada riang. Agak terlalu riang sebenarnya.

Setelah memesan milkshake vanilanya, Kuroko memperhatikan sang kasir yang melangkah pergi dan menyiapkan pesanannya. Suara bisik-bisik dari sekelilingnya dan jeritan tertahan para gadis membuatnya menoleh, sebelah alisnya naik ketika ia melihat orang-orang menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman sembari berbisik-bisik dengan teman-temannya. Beberapa gadis menatapnya dengan rona merah tipis menghiasi wajah mereka, membuat rasa herannya semakin menjadi-jadi.

Suara ceria sang kasir membuatnya kembali menoleh ke depan. Setelah membayar dan menerima minumannya. Kuroko bergegas pergi, tatapan dan bisik-bisik di sekelilingnya membuatnya merasakan firasat buruk, plus, terlahir menjadi seseorang dengan keberadaan yang lemah membuatnya tak terbiasa dengan perhatian orang di sekelilingnya.

Kuroko menghirup minumannya dan menaikkan sebelah alisnya ketika melihat lagi-lagi orang menatapnya. Memutuskannya untuk mengabaikannya, pemuda itu menoleh ke arah toko-toko yang berdiri di hadapannya. Matanya kemudian menangkap sosok Kise Ryouta kembali menatapnya balik dari kaca toko yang bersih cemerlang.

Terkejut dengan bayangannya sendiri, tanpa sengaja, Kuroko menjatuhkan minumannya.

"Eh ...?" Kuroko menaikkan sebelah tangannya dan memperhatikan bayangannya ikut menaikkan sebelah tangannya. Diabaikannya tatapan orang-orang yang ada di dalam toko kelontong itu, toh, yang mereka lihat adalah Kise Ryouta, bukan Kuroko Tetsuya.

Pemuda itu menatap bayangannya selama beberapa detik yang lama, pikirannya berputar-putar hingga akhirnya ia mengingat bahwa ia masih berada di tubuh Kise.

Kuroko kemudian menunduk, memandangi minumannya yang tumpah. Menghela napas, pemuda itu berbalik dan kembali masuk ke dalam restoran cepat saji yang sering ia datangi, hendak membeli pengganti minumannya.

.

"Aku pulang."

Kuroko melepaskan sepatunya. Mendengarkan suara jeritan tertahan kakak tertua Kise dan suara peluit dari acara televisi yang tengah ditonton sang gadis.

Melangkah masuk, Kuroko segera dihadapkan dengan pemandangan anak sulung keluarga Kise yang tengah duduk di ujung sofa, menonton pertandingan sepakbola entah klub mana melawan klub siapa dengan ekspresi serius. Sesekali memaki ketika seorang pemain mendekati gawang atau berusaha mencetak angka yang gagal.

Mendadak Kuroko bertanya-tanya berapa umur kakak Kise. Jika mereka tak terlalu jauh, bukannya mereka harusnya masih bersekolah? Atau bekerja?

Kuroko segera berjalan menuju pintu yang ia yakini sebagai pembatas kamar Kise dan membuka pintunya.

Untuk menemukan kamar mandi menghadangnya.

Jeritan heboh dari ruang keluarga membuat Kuroko tersentak dan menutup pintu kamar mandi. Sepertinya dia tak akan terbiasa di apartemen ini.

Kuroko harus mengecek satu-persatu pintu yang ada di dalam apartemen berukuran besar tersebut dan menghela napas lega ketika akhirnya ia menemukan kamar Kise. Setelah meletakkan tasnya dan berganti pakaian, Kuroko segera mengeluarkan seluruh pekerjaan rumahnya dan mulai bekerja.

"Ryouta, makan malam siap."

Kuroko mengangguk tanpa menoleh ke arah pintu yang terbuka, ia akan menyelesaikan soal ini dahulu sebelum pergi ke ruang makan, Kuroko berjanji dalam hati. Ia dapat merasakan kakak kedua Kise menatapnya sejenak sebelum melesat pergi.

Kuroko baru akan menoleh ke arah pintu kamar Kise yang dibiarkan terbuka ketika kakak Kise kembali lagi, kali ini sembari menyeret kakak tertua Kise yang wajahnya memucat.

Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya ketika melihat kedua gadis itu menatapnya, membeku, seolah nyawa mereka tak ada di dalam tubuh mereka. Wajah mereka memucat, seolah mereka baru saja melihat hantu.

"... Kak ...?" Kuroko bertanya, ragu-ragu.

Kedua gadis berambut pirang itu nampak tersadar begitu mendengar Kuroko memanggil mereka.

"Ryouta! Sekarang aku yakin kau sakit! Aku akan menelepon ambulans sekarang juga!" Kakak tertua Kise menjerit panik, seolah ia melihat adiknya bertransformasi menjadi dewa kematian. "Apakah di daerah sini ada rumah sakit jiwa?" Jeritnya, sembari berlari pergi ke ruang keluarga, menjeritkan sederet kalimat tentang kejiwaan adiknya yang tiba-tiba berubah karena terlalu banyak bekerja.

Suara isakkan membuat Kuroko menoleh ke arah gadis lainnya yang berdiri di depan pintu. Gadis itu kemudian menerjang Kuroko dan berseru dengan terharu, "Tuhan, terima kasih telah membiarkanku hidup untuk melihat adikku akhirnya mengerjakan PR-nya!"

Kuroko tahu hidupnya akan menjadi merepotkan ketika ia berpindah ke tubuh Kise, tetapi ia tak tahu hidupnya akan menajdi sebegini merepotkannya.

.

.

To Be Continued

.

.

Dilema Arleinne dan Azureinne:

Azu : "Yosh! Chapter selanjutnya udah jadi."

Aru : "Dan Azu mengalami dilema dengan kinder!Akashi. Kenapa? Weanwhile fict ini tercipta dengan tujuan menistakan kiseki, Azu juga pengen bikin prince charming kinder!Akashi."

Azu : "...yeah... well... siapa yang nggak mau liat Akashi versi prince charming sih?"

Aru : "Yup sekarang saatnya membalas reviewer non-login. Pertama buat Fortuner, terima kasih sudah ngakak(?) Nijimura-senpai ganteng kan? Kan? Kan? Dia tuh sosok suami idaman yang pasti bakalan affectionate sangat sama istrinya karena dia aja keluar dari klub gara-gara bokapnya sakit kan? Kan? Kan? Siapa yang nggak mau punya suami kayak gitu? Pasti dia juga sayang sama bokap kita ntar. Pasti nanti anaknya jadi—,"

Azu : "Aru, please... Fansgirlingan itu ada batasnya juga. Kurang-kurangin lah tolong... malu nih."

Aru : "Ehm, oke... selanjutnya... untuk Guest dan Ara, ini chapter keduanya, selamat menikmati. Kemudian untuk Aoki yang review dua kali, wait, Aoki yang review pertama dan kedua sama kan? Ini chapter keduanya, silakan dinikmati dan udah ada glimpse tentang kehidupan Kuroko dalam tubuh Kise di rumah Kise dan berinteraksi dengan kakak-kakak Kise (yang sebetulnya bisa dikategorikan sebagai OC karena kami berdua nggak tahu gimana wujud kakaknya Kise dan sedang terlalu malas untuk melakukan riset) juga udah ada sedikit tentang bagaimana susahnya stay in character. Untuk rinciannya karakter tertentu, harap di tunggu dengan sabar ya. Soal pairing, nggak ada pairing. Toh di atas juga sudah di sebutkan. Dan kami berdua belum cukup iman dan taqwa untuk nulis male x male jadi sejauh ini fict kami non-pair di fandom Kurobas Indo ini.

Dan untuk Yuzuru, maafkan Akashi karena membuat Kuroko yang unyu menjadi mengerikan. Maafkan Aomine karena dia ngupil di tubuh Akashi (highlight dari sebagian besar reviewer adalah indeed, Akashi ngupil). Maafkan Kise menghapuskan image tsundere tapi imut(?) milik Midorima. Dan semua peran utama butuh kesulitan dalam hidupnya, ne? Kalau nggak gitu, ceritanya nggak akan menantang(?)... huft... napas dulu..."

Azu : "Kedengeran kayak nenek-nenek abis jogging tahu nggak?"

Aru : "Buat Natsumi, ini chapter keduanya, semoga anda puas~ Dan well ... kata-kata anda memang, indeed, ambigu. Seharusnya anda tahu, Azu menjerit-jerit gak jelas karena membaca review anda. Hufh ... Susah juga ya punya partner yang punya soft-spot sama—

Azu : *Bekep Aru* Baiklah, Azu (dan Aru) mengucapkan terima kasih kepada yang sudah mereview, mem-fave, maupun mem-follow, semoga kalian puas dengan chapter ini! Chapter berikutnya adalah tentang Kise ditubuh Midorima, yang akan ditulis oleh Aru, kufufufu~"

Aru : "..."

Azu : "Akhir kata, kami tunggu kalian di kotak review dan silakan tunggu kami di chapter selanjutnya~"