"Kalau kau menistakan karakterku lebih dari ini, akan aku pastikan kau tidak bisa punya anak, Kise."

Dengan keringat yang membasahi tubuhnya, membuat rambut hijaunya menempel di dahinya, Kise Ryouta membuka matanya. Kebingungan selama beberapa saat ketika dunia di depan matanya berubah menjadi lebih buram, Kise akhirnya ingat bahwa ia masih di dalam tubuh seorang Midorima Shintarou.

Melirik jam weker di meja kecil di samping tempat tidur Midorima, Kise melemparkan dirinya ke ranjang lagi ketika menyadari bahwa waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Bagaimanapun juga, untuk seorang Kise Ryouta, jam enam pagi masihlah jam-jam bermimpi.

"Argh, aku merindukan tubuhku," keluh lelaki yang seharusnya berambut pirang itu. Model majalah Zounen itu melirik kantung plastik di meja belajar Midorima, hasil buruannya kemarin malam di toko optik dekat sekolah mereka, contact lens berwarna hijau, yang sedikit mirip dengan manik sewarna daun yang menyejukkan milik three point-shooter tim mereka itu.

Ketukan di pintu membuatnya menoleh, "Kakak, kau tidak menonton Oha-Asa hari ini?" suara gadis yang terdengar sangat lembut teredam oleh pintu kayunya. Siapa yang pernah menyangka kalau ternyata si tsundere Midorima bisa memiliki seorang adik perempuan yang sangat cantik dan lembut? Nggak tsundere pula!

Kise berdeham agar suaranya tidak terlalu serak—biarpun Kise pada dasarnya tidak terlalu suka suara Midorima yang menurutnya terlalu berat dan tidak merdu seperti suaranya—dan tidak menunjukkan bahwa dia baru bangun tidur, "Hari ini aku libur nonton Oha-Asa," diiringi dengan sebuah tawa, Kise bangun dari kasurnya dan bergerak ke arah pintu untuk mempersilakan adik Midorima masuk.

"…kak?" gadis yang lebih pendek dari kakaknya itu bertanya, matanya yang sewarna dengan milik Midorima membulat sempurna, bahwa mulutnya melongo sedikit, "Kau sakit? Kau demam? Mungkin benar kata Ibu, kau terlalu keras latihan basket," gadis itu berjinjit, dan memeriksa dahi Midorima.

Kise tersenyum tipis, tangan kanan lelaki itu refleks menyisir poni hijau Midorima yang ia nilai mengganggu pandangannya—mata Midorima saja sudah cukup buram, bagaimana mungkin Midorima bisa betah dengan poninya yang kepanjangan?—tapi sayangnya helaian hijau nakal itu selalu kembali menutupi dahi Kise dan nyaris menjadi tirai bagi manik matanya.

"Aku tidak apa-apa, Adikku Sayang. Tidak ada yang perlu kau cemaskan," Kise menepuk bahu gadis bersurai senada dengan kakaknya itu.

"…kau yakin…?" ia bertanya. sepertinya sama sekali tidak yakin dengan apa yang Kise katakan.

Kise mengedipkan sebelah matanya, "Tentu saja. Nah, aku mandi dulu," Kise memberikan adik Midorima kecupan di pipinya sebelum menutup pintu kamar Midorima dan bersiap berangkat ke sekolah.

"IBU, KAKAK JADI ANEH!"

.

.

Kiseki Change! is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Arleinne Karale

Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki

Inspired by A picture belong to Akixx ( www . zerochan 1639628)

A semi-canon, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing

Read at your own risk

.

.

Dua orang perempuan yang duduk di meja makan bersama dengan Kise sama sekali tidak menyentuh sarapan mereka. Gadis yang lebih muda, adik dari Midorima hanya bisa diam membeku di kursinya, sementara yang lebih tua, Ibunda Midorima Shintarou hanya bisa melongo.

Lelaki yang di sebut-sebut sendiri sibuk dengan sarapannya, seolah tidak menyadari tatapan dari kedua perempuan yang duduk satu meja dengannya. Rambut hijaunya dibiarkan seperti biasa tapi ketika Kise mengunyah makanannya, tangan kanannya seolah refleks menyisirnya ke belakang. Kacamata berbingkai hitam yang biasa digunakan oleh lelaki berambut hijau kini tidak bertengger di hidungnya. Kise memakai lensa kontak yang ia beli kemarin.

"Shin, kau yakin kau tidak apa-apa? Kau tidak demam?" sang ibu bertanya setelah berdeham beberapa kali.

Kise mengedipkan sebelah matanya sebelum mengangguk penuh semangat, "Aku baik-baik saja, Ibundaku yang Cantik."

"Anoo, lalu kemana 'nanodayo'-mu, Kak? Biasanya kau selalu menyisipkan 'nanodayo' dan kau yakin kau akan baik-baik saja tanpa menonton Oha-Asa?" adik perempuan Midorima bertanya lagi.

Kise hanya mengangguk, hendak menjawab tapi bel dengan cepat mengurungkan niatnya.

Lelaki yang posisi seharusnya adalah small forward itu berdiri setelah meletakkan sumpitnya, "Terima Kasih akan sarapannya. Aku berankat dulu, Ibundaku yang Cantik dan Adikku Sayang. Aku sayang kalian berdua," tidak lupa Kise menghadiahi keduanya ciuman manis di pipi sebelum beranjak dari ruang makan.

"…sudah kubilang ada yang aneh dengan kakak," adik Midorima berkomentar.

Sementara Ibunda Midorima merogoh sakunya untuk mengambil telepon genggamnya dan mendial nomor suaminya, "Anata, ada yang aneh dengan Shin! Tolong segera hubungi rumah sakit jiwa secepatnya!" dengan wajah yang berurai air mata.

.

"Kurokocchi!" Kise merentangkan tangannya, seolah hendak memeluk pemain bertajuk bayangan itu. Tapi begitu melihat aura-aura tidak menyenangkan yang dikeluarkan dari tubuh pemain berambut biru muda tersebut, Kise tersadar kalau Kuroko Tetsuya sedang tidak berada di dalam tubuhnya.

Kemudian ia ingat kalau sahabat bertepuk sebelah tangannya itu ada di dalam tubuhnya yang indah, tampan, kece, dan luar biasa, "Kurokocchi!" memang rasanya aneh memeluk diri sendiri, tapi setidaknya itu bisa mengobati kerinduan Kise akan tubuhnya yang seksi luar biasa itu.

"Kise-kun, tolong berhenti," jawab Kuroko dengan tenang, biarpun pelukan Kise memotong jalan napasnya, "Tetangga Midorima-kun memperhatikan kita. Tolong jangan buat Midorima-kun malu."

"Kalau kau menistakan karakterku lebih dari ini, akan aku pastikan kau tidak bisa punya anak, Kise," entah kenapa ancaman Midorima hari sebelumnya menyusup ke dalam benak Kise dan membuat lelaki itu segera melepaskan pelukannya dari Kuroko, "Cih, biarkan saja-nanodayo. Seharusnya mereka tidak usah mengurusi orang lain-nanodayo."

"…tak kusangka kau berbakat menjadi aktor, Kise," Akashi bergumam ketika ketiganya mulai melangkah.

"Kan, kan, kan? Aku keren kan, Akashicchi?" Kise menatap lelaki yang seharusnya berambut merah itu yang kini jiwanya ada di dalam tubuh Kuroko dengan puppy eyes andalannya. Berharap mendapatkan pujian lebih banyak lagi. Maklum, pujian dari mulut Akashi bagaikan berlian jatuh di jalanan, yang artinya nyaris tidak mungkin. Tapi pujian yang tadi keluar dari mulut Kuroko sih….

"Menjijikkan," balas Akashi sebelum meninggalkan Kise yang menganga karena kaget.

"Kise-kun, tolong jangan permalukan Midorima-kun lebih dari ini. Aku yang hanya berjalan bersamamu saja rasanya malu melihat Midorima-kun jadi begitu," Kuroko menyuarakan pendapatnya.

"Kurochin benar, Kisechin. Midochin jadi aneh dan aku malu dekat-dekat denganmu," Murasakibara berujar di tengah-tengah adegan makan camilan paginya, dalam tubuh Aomine.

"Murasakibara, berhenti makan! Aku mau muntah melihat Aomine makan sebanyak itu," Akashi menghela napas, memijat pelipisnya sambil memejamkan matanya.

"Akachin mau?" Murasakibara menawarkan maibounya ke arah Akashi.

"Tidak, terima kasih. Tahan nafsu makanmu saat kita tiba di sekolah dan Kise, jaga sikapmu!" lelaki yang seharusnya beriris merah itu memerintah. Dua orang lelaki yang dipanggil namanya saling berpandangan, kemudian berbarengan menunduk lesu.

"Oke, Akachin…" Murasakibara dengan sedih menyimpan kotak maibou yang dari tadi ia bawa ke dalam tas.

"Baik Akashicchi-nanodayo," Kise menghela napas berat.

.

Seperti biasanya, para gadis berkerumun di depan gerbang sekolah. Sebetulnya, tidak ada yang tahu siapa yang memulai atau karena alasan apa, yang jelas, sebagian besar dari mereka menunggu kedatangan pangeran sekolah mereka yang tampan dan berambut pirang serta seksi itu, Kise Ryouta.

"Kyaa, Kise-kun," salah satu dari mereka menjerit, membuat Kise tidak tahan untuk tidak tersenyum. Ia menatap kerumunan gadis itu dan menebar senyuman manisnya. Ketika angin bertiup dan membuat poninya menari, Kise menyisir poninya ke belakang agar tidak menganggu pemandangannya.

"Selamat pagi, Gadis-Gadis," beberapa dari mereka menganga sementara yang lainnya memandangi ke arah Kise dengan sorot yang heran dan sisanya jelas-jelas menatap Kise seperti menatap alien yang baru mendarat di bumi, "Eh? Ada yang salah dengan wajahku?"

"Aaah," desahan kecewa dari kerumunan gadis lain di sebelah sana membuat kerumunan gadis yang mengerubungi Kise menoleh, "Kise-kun sudah masuk ke dalam bersama dengan Aomine-san," lalu serempak kerumunan gadis itu mendesah kecewa dan meninggalkan Kise.

"Tu-Tunggu, apa maksud kalian Kise masuk bersama Aomine? Aku kan di—," Kise menoleh ketika seseorang menepuk bahunya dan mendapati seorang Murasakibara Atsushi memandangnya dengan sorot yang… begitu.

"Kise," nada suaranya yang rendah entah kenapa membuat Kise merinding, "Kalau kau menistakan aku lebih dari ini, akan aku pastikan kau tidak bisa punya anak nanti."

"Hiii!" Kise menjauh dari Murasakibara, "Maafkan aku, Midorimacchi!" sambil menunduk berkali-kali di hadapan lelaki berambut ungu yang tingginya melebihi manusia biasa itu.

.

Pagi itu, di pelajaran matematika, guru wanita muda mereka dibuat keheranan oleh hasil kuis dadakan yang ia adakan hari itu.

"Midorima, kau sakit?" wanita itu bertanya sambil menunjuk angka 0 besar yang tertera di pojok kanan kertas ulangan yang diisi oleh Kise di dalam tubuh Midorima. Sang Guru tidak percaya sama sekali karena jawaban yang Midorima isikan tidak ada satupun yang benar.

"Ah, Sensei ini perhatian sekali," Midorima tertawa kecil sambil mengedipkan sebelah matanya, "Aku sehat kok, Sensei."

"Lalu kenapa nilaimu begini?" Ibu Guru menaikkan sebelah alisnya, menatap Midorima yang dirasuki oleh Kise dengan tatapan skeptis, berusaha menahan rona merah yang hendak menjalari pipinya. Ternyata Midorima Shintarou cukup tampan ketika ia tidak mengenakan kacamatanya. Poni hijau lelaki itu yang biasanya nyaris menutupi matanya kini disibakkan ke samping. Siapa sangka ternyata di balik sikapnya yang pendiam, lelaki berambut hijau itu bisa jadi Casanova yang mematikan?

"Nah, nah, nah, bagaimana kalau kita anggap saja kuis ini tidak terjadi, Sensei? Lagian kuisnya dadakan juga kan? Masa Sensei tega memberiku nilai segini?" shooting guard itu tersenyum ke arah guru matematikanya.

"Biasanya pun kau mendapat nilai bagus biarpun kuisnya dadakan. Silakan kembali ke kursimu," menyatukan kertas-kertas hasil ulangan, Guru Matematika itu berbalik dan mulai merapikan tasnya.

"Ayolah, Sensei, masa Sensei tega? Nilai anak-anak lain juga nggak bagus kan? Masa Sensei tega memberiku nilai 0 sih?" Kise di dalam tubuh Midorima mulai merengek, menarik-narik lengan baju guru matematika yang mulai jengkel itu.

"Kau ini kenapa sih, Midorima? Kalau kau sakit, silakan pergi ke ruang kesehatan!" menyentakkan tangan Kise dari lengan bajunya, guru muda itu kemudian di hadapkan dengan mata hijau yang membulat sempurna, berkaca-kaca oleh air mata lengkap dengan wajah Midorima yang memelas dan memohon.

"Tolonglah, Sensei…" Kise menahan isakan tangisnya, "Sensei tega memberiku nilai segitu?" Kise menyisir poninya yang mulai menutupi matanya lagi. kemudian manik hijaunya menatap ke dalam selaput pelangi berwarna gelap milik gurunya, "Sensei…"

Menghela napas, guru matematika itu memilih melanjutkan merapikan tasnya, "Baiklah. Minggu depan kita adakan kuis pengganti untuk hari ini. Pelajaran hari ini selesai. Harap persiapkan untuk kuis minggu depan."

Menghela napas lega, Kise mengambil bekalnya di dalam tas kemudian pergi ke atap untuk bertemu dengan rekannya yang lain. Semoga Midorima tidak menendang anunya gara-gara kuis matematikanya 0. Toh Kise berhasil membujuk gurunya untuk mendapatkan kuis pengganti minggu depan.

.

"Murasakibara, berhenti makan! Aku mau muntah melihatmu makan terus," dari jauh pun Kise bisa mendengar seruan heboh dari Akashi yang dirasuki oleh Aomine.

"Hm…? Kenapa memangnya, Minechin? Aku masih lapar…" lelaki berambut ungu yang terjebak di dalam tubuh Aomine itu menjawab.

"Nanti berat badanku naik," menghela napas, lelaki berambut biru gelap itu memasukkan jarinya ke dalam lubang hidung miliki tubuh kapten mereka. namun secepat kilat, tangan lelaki berambut biru pucat menepis jari-jari yang hendak menggali lubang sakral itu.

"Sudah kubilang jangan ngupil di depan umum, Aomine," dengan gigi yang bergemelutuk karena kesal, Akashi di dalam tubuh Kuroko menarik tangan lelaki itu untuk mencegahnya mengeluarkan kotoran-kotoran di lorong sempit jalan napasnya.

"Ah, aku lupa," Aomine menggaruk punggungnya sambil mengangkat sedikit bagian belakang blazer seragamnya.

"Aho! Kau merusak image Akashi-nanodayo," menghela napas, Midorima di dalam tubuh raksasa Murasakibara menahan tangan Aomine yang hendak menggaruk pantat Akashi.

"Argh!" Aomine melempar tangan Murasakibara, "Kenapa aku dilarang ini dan dilarang itu sih? Ini kan tubuhku," Aomine menatap rekannya, kesal.

"Anoo… itu tubuh Akashi-kun, Aomine-kun," lelaki berambut kuning yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suaranya, "Tubuhmu ada disana," tunjuk Kuroko ke arah lelaki berkulit sawo matang yang asyik mengunyah camilan manis di tangannya.

"Kurokocchi!" Kise memeluk tubuhnya, yang tinggi putih dan seksi, tampan dan mempesona, rupawan dan luar biasa yang sayangnya tidak ditempati oleh jiwanya sekarang ini, "Aku merindukan tubuhku," Kise menempelkan pipinya di pipi tubuhnya yang bersih tanpa jerawat dan mulus sangat sehingga debu pun terpeleset disana.

"KISE?!" tubuh Murasakibara dan Kuroko Tetsuya berseru berbarengan, membuat Kise di dalam tubuh Midorima menoleh menatap mereka keheranan.

"Apa?" tanya Kise tidak mengerti. Tangannya masih merangkul tubuhnya, sesekali mencolek pipinya yang menggemaskan bagaikan pantat bayi itu.

Akashi dalam tubuh Kuroko hanya bisa menghela napas, "Sudahlah. Aku lelah mengingatkanmu akan hal ini."

"Apa-nanodayo?" Midorima di dalam tubuh Murasakibara menatap Kuroko yang di dalamnya bersemayam jiwa Akashi dengan sorot tidak percaya, "Imange-ku bisa rusak, Akashi. Tolong-nanodayo."

"Oh iya, omong-omong aku dapat nilai 0 tadi di kuis dadakan matematika," Kise dalam tubuh Midorima membuka bekalnya, "Habis kuisnya dadakan sih. Aku kan nggak belajar semalam. Ya sudah tidak ada satupun yang bisa aku jawab," menikmati bekalnya dengan bahagia, Kise melewatkan sesosok lelaki berambut ungu yang sekarang dikuncir menjadi ekor kuda mengeluarkan aura-aura tidak mengenakkan dari belakangnya.

Siang itu, istirahat mereka berakhir dengan tubuh Kise Ryouta yang sempurna bagaikan pangeran dari Kerajaan Utopia dipapah ke ruang kesehatan karena ada masalah dengan umm… anunya setelah Murasakibara menendangnya secara tidak sengaja.

.

Jam kosong biasanya diisi dengan pecahnya kelas menjadi tiga kubu besar, kubu para gadis cantik dan tenar, kubu para lelaki muda yang sibuk membicarakan game atau majalah ehem terbaru, dan kubu anak-anak hilang yang terdiri dari sekumpulan lelaki dan wanita muda yang tidak memiliki tempat dalam dua kubu itu.

Midorima Shintarou, yang kebetulan duduk di dekat tempat dimana para gadis berkumpul, memutuskan untuk mengobrol dengan mereka, "Siang, Ladies!" sapanya sambil setengah membungkuk membuat para gadis cekikikan.

"Kau tampan sekali hari ini, Midorima-kun," salah seorang dari mereka berkomentar.

"Iya, benar. Kau lebih mempesona tanpa kacamata dan ponimu di rapikan begitu," yang lain menambahkan.

"Begitukah?" tanya Midorima, menyunggingkan senyuman miring sambil merapikan poninya yang membandel, "Terima kasih atas pujiannya."

"Ne, Midorima-kun, kau ada acara sore ini?" yang lain bertanya.

"Ah, aku ada pemotretan sore ini. Memangnya kenapa?" Midorima bertanya balik.

"Sebetulnya aku mau mengajakmu makan es krim di toko di ujung jalan situ. Toko es krim yang baru, kau tahu?" gadis itu memelintir rambutnya.

"Wah, mungkin lain kali. Kalau tidak salah ingat, sore ini ada pemotreatan di agensi," dan bel tanda pulang berdering, membuat senyuman Midorima semakin lebar, "Nah, aku pamit, Ladies," Midorima meneltakkan telapak tangan di bibirnya kemudian melambaikannya ke arah para gadis itu sambil mengedipkan matanya.

Sore itu, rekan-rekan Midorima, terutama yang berjenis kelamin perempuan, baru tahu bahwa Midorima Shintarou ternyata juga seorang model. Ternyata Midorima Shintarou memiliki sisi yang gentlemen dan mempesona. Ternyata Midorima Shintarou adalah satu dari sedikit lelaki impian para wanita. Ternyata… Midorima Shintarou berpotensi untuk dijadikan seorang kekasih juga….

.

Sudah hafal dengan jadwal pemotretannya di luar kepala, Kise melangkahkan kakinya menuju agensi tempat namanya tenar menjadi seorang model majalah remaja. Satu hal yang Kise Ryouta tidak ingat adalah bahwa ia kini berada di dalam tubuh seorang Midorima Shintarou….

"Aku datang, Manager-neechan!" dengan gembira Kise membuka pintu yang biasa disewakan untuknya di gedung studio itu. Serentak semua orang yang ada di dalam ruangan itu menghentikan kegiatan mereka dan memandangi Kise dengan sorot yang kebingungan.

"Ne, ne, ne, Manager-neechan, kali ini tema fotonya apa? Ah, aku tahu! Bagaimana kalau temanya olahraga. Kau tahu kalau basket sedang digandrungi kan? Nah, nah, aku cuci muka dulu ya, per—"

"Kau siapa?" wanita akhir dua puluhan itu memotong kalimat yang hendak Kise ucapkan dan menatapnya dengan sorot tajam dan menusuk. Aura permusuhan dan rasa tidak suka menguar dari tubuhnya yang ramping itu.

"Hidoi-ssu! Aku ini Kise tahu! Kise!" Kise mengguncangkan tubuh gadis yang lebih pendek sekepala darinya itu, "Manager-neechan jahat sekali. Masa kau lupa wajahku."

"Kasihan sekali anak ini," kameramen paruh baya itu berkomentar sambil sibuk membersihkan lensa kamera yang hendak digunakan pada pemotretan sore itu, "Mungkin dia dulunya adalah model yang gagal."

Manajer Kise berdeham, "Sebaiknya kau pulang sekarang sebelum aku menelepon polisi atau rumah sakit jiwa."

"Aah, Manager-neechan kalau bercanda jangan berlebihan begitu dong," Kise menyisir poninya kemudian meletakkan tasnya. Lelaki yang seharusnya memiliki rambut sewarna semburat mentari itu juga membuka blazer putihnya dan dengan telaten melepaskan perban yang membalut jari-jarinya, "Aku sedang semangat kerja nih. Jarang-jarang kan?"

"Anak muda," Manajer Kise menahan tangan Kise ketika lelaki itu hendak membuka das hitamnya, "Kau membuatku tidak memiliki pilihan lain," dengan wajah yang serius, wanita berambut gelap itu mengeluarkan telepon genggam dari sakunya dan men-dial nomor seseorang. Wanita yang selalu mengurus jadwal pemotretan Kise itu menunggu nada sambung kemudian langsung bicara begitu panggilannya di angkat, "Tolong bawakan ambulans ke agensi. Kau tahu? Ada lelaki berambut hijau dengan mata hijau yang mengaku-aku sebagai Kise. Aku tidak tahu kalau Kise mengecat rambutnya atau apa, tapi kurasa anak ini gila. Aku akan menahannya sampai kau— hei!"

"AKU RINDU TUBUHKU!" Kise berteriak sambil keluar dari ruangannya, membuatnya diperhatikan oleh semua orang di lorong itu. Di belakangnya, Managernya dan beberapa orang lainnya mengejarnya, "HUWAAAA!" rengek Kise seperti anak kecil, "AKU MAU KEMBALI KE TUBUHKU!" serunya saat para pengejarnya sudah semakin dekat.

.

.

To be Continued

.

.

Dilema Arleinne dan Azureinne:

Aru : "Kembali lagi dengan kami, dalam multichapter nista berkedok humor yang lama banget nggak di update dan jamuran di Fandom Kuroko no Basuke ini. Yey! Permohonan maaf Aru sampaikan duluan. Karena chapter 3 ini Aru yang nulis, dan kebetulan beberapa bulan belakangan Aru sibuk banget dan males nulis jadi ini baru di update sekarang. Maaf buat yang udah menunggu lama."

Azu : "Saking malesnya Aru nulis, dia sampe lupa gimana caranya log-in ke fanfiction…."

Aru : "Ahahahaha. Yaaah…."

Azu : "Begitulah yah susahnya collab. Kadang ketika kita lagi semangat nulis tapi partnernya males…."

Aru : "Anyway, entah kenapa ini sedikit agak garing dan… agak vulgar? Entahlah…"

Azu : "…Aru kan hentai…"

Aru : "Nggak usah dengerin kata-kata Azu. Anyway, mari kita balas reviewer anonim. Pertama untuk Guest yang mereview pada tanggal 12 April terima kasih banyak atas reviewnya dan terima kasih banyak sudah sabar menunggu, kami tentu menggunakan Akashi yang masih baik—"

Azu : "Dan tampannya melebihi a certain someone."

Aru : "Dan tampa—ahem, bisa dilihat dari absennya gunting di sekitarnya. Dan soal La Cosa Nostra, silahkan salahkan Azu yang mengulur waktu terus-menerus."

Azu : "Itu bukan mengulur waktu, hanya memperpanjang waktu."

Aru : "… Abaikan dia. Untuk Otsukarin, maaf kami tidak dapat update cepat seperti yang anda harapkan. Tetapi terima kasih sudah mereview dan menunggu, semoga anda puas dengan chapter ini. Dan untuk Uchiha Ayu-chan bukannya dengan cengiran kuda Midorima akan terlihat lebih tampan? Dan oh, jangan lupa ini ketika dia masih SMP loh. Pasti udah nemu gambar-gambar spoiler betapa imutnya mereka waktu masih SMP kan? Kan? Kan? Hm… yah… hm… karena Akashi sangat 'terhormat' jadi yah… emang sangat sulit membayangkan dia ngupil. Sebenernya kami sendiri juga agak gimana gitu ngebayangin Akashi ngupil. Dan ya, soal majalah dewasa itu… well, tunggu aja tanggal mainnya. Hm, yak ini chapter selanjutnya, maaf lama dan selamat menikmati.Ohok, lidahku kram…."

Azu : "… Jangan cemaskan dia. Berikutnya, untuk Aoki, tenang, setiap review pasti masuk kok, tapi kalau anonim memang butuh waktu 2-3 hari. Sama-sama~ Jika ada pertanyaan lagi, silahkan layangkan ke kotak review, kami senang anda menyukainya! Maaf jika updatenya kelamaan, silahkan salahkan Aru. Kemudian, untuk Yuzuru, kita membicarakan Yang Mulia Sang Raja Absolut Akashi Seijuuro di sini, aktingnya sebagai Kuroko pasti flawless seperti jurus pedang seseorang di fandom sebelah, tenang saja. Terima kasih sudah mereview dan menunggu dengan sabar!"

Aru : "Kemudian untuk Guest yang mereview tanggal 27 April terima kasih, kami senang anda menyukainya! Tentu saja akan kami lanjutkan, walaupun updatenya pasti mandek-mandek gak niat—"

Azu : "Salah siapa coba?"

Aru : "—Terima kasih sudah menunggu dengan sabar! Kemudian untuk Guest whose reviewed at 15 May thank you, glad you like it! Reveal Hyuuga Junpei or Izuki? Well, we're using Teiko timeline, and we don't know where or what the name of Hyuuga and Izuki middle school, so I think we can't reveal those two. Sorry."

Azu : "Sok-sokan banget pake bahasa Inggris sih. Bahasa Inggris dapet A- aja sok…"

Aru : "Kan dia reviewnya pake bahasa Inggris ya…"

Azu : "Terima kasih banyak sudah berkenan mampir. Terima kasih banyak untuk yang sudah menyempatkan review."

Aru : "Sampai bertemu lagi di kotak review dan di chapter selanjutnya!"