"Atsushi! Sarapan sudah siap!"
Midorima Shintaro berjengit ketika mendengar teriakan asing itu memasuki indera pendengarannya, menaikkan kacamata imajiner yang bertengger di hidungnya, pemuda yang seharusnya memiliki rambut sewarna dedaunan di musim semi itu memasukkan sandal jepit berwarna merah muda—lucky item miliknya hari ini—dan keluar dari kamar.
Dengan kehati-hatian yang sesungguhnya tidak diperlukan, Midorima menuruni tangga dan berjalan menuju dapur, wilayah di dalam rumah Murasakibara Atsushi yang entah mengapa terasa sakral. Hiruk-pikuk dari keluarga Murasakibara dapat terdengar hingga ke lantai dua.
Sebelum Midorima menyibakkan tirai transparan yang membatasi dapur dengan ruang keluarga, sang pemuda yang kini terjebak di dalam tubuh titan Murasakibara menarik napas dan melangkah maju dengan segenap rasa percaya diri yang telah ia kumpulkan.
Suara hantaman antara batok kepala dengan batu bata yang dilapisi cat menggema—membuat penghuni dapur hening seketika. Midorima terjungkal ke belakang dengan suara jatuh yang keras, efek ciuman langsungnya dengan dinding yang tidak dapat dibilang pelan.
"Atsushi! Kau tak apa?" Satu-satunya perempuan dalam Murasakibara bersaudara bertanya, sang gadis lalu berdiri dan membantu Midorima duduk tegak. "Astaga, kau belum bangun dari mimpimu atau bagaimana? Kau lupa kalau kau punya tinggi yang di atas rata-rata?"
Sementara itu, ketiga kakak laki-laki Murasakibara membeku di atas kursi mereka. Pemuda yang paling tua bergegas berdiri dan membantu tubuh adiknya yang nampak linglung, sedangkan dua pemuda yang lain berusaha keras mempertahankan hidup mereka karena tersedak makanan ketika hendak menertawakan adik mereka.
"Aku tidak apa-apa, nanodayo." Midorima memijat pelipisnya, melambaikan tangannya di depan kakak Murasakibara yang hendak mendekatinya. "Hanya sedikit terkejut, tetapi aku akan hidup, nanodayo." Lanjutnya lagi, berusaha meyakinkan kakak perempuan Murasakibara yang berlarian ke sana dan kemari dalam usaha mencari kompres es.
Setelah mendengar kata-kata Midorima, semua orang yang berada di ruang makan membeku, menatap sang pemuda seolah ia adalah alien yang baru saja mendarat di bumi dengan pesawat air force one. "Err ... Kau yakin kau tidak apa-apa?" Kakak tertua Murasakibara bertanya, sebelah alisnya naik karena heran.
"Ya, aku tidak apa-apa, nanodayo. Sebaiknya kalian habiskan sarapan kalian, kalian juga harus berangkat sekolah, nanodayo." Midorima berdiri dan memastikan dirinya menunduk untuk menghindari bagian atas dinding penyekat dapur dan ruang keluarga.
Kakak-kakak Murasakibara saling pandang, heran terlihat jelas di dalam tatapan mereka. Bahkan saking herannya, kedua kakak Murasakibara lupa bahwa ada makanan porsi sedang yang tersangkut di tenggorokan mereka.
"Ah! Kalian tak apa-apa!? Air, air!" Kakak perempuan Murasakibara berseru panik ketika melihat wajah kedua saudaranya yang lebih muda berubah putih dan keduanya sama-sama mencengkram leher sembari kejang-kejang.
Midorima mengunyah sarapannya dengan pelan, menatap kakak perempuan Murasakibara yang kelabakan sendiri selagi kakak tertua Murasakibara nampak tak peduli dan memilih untuk menghabiskan sarapannya. Di latar belakang mereka, nampak dua kakak Murasakibara yang tengah berjuang untuk menelan makanan yang tersangkut di tenggorokan mereka.
Pemuda yang seharusnya berkacamata itu tak tahu apakah ia dapat bertahan di rumah penuh kehebohan seperti ini lagi.
.
.
Kiseki Change! is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Azureinne Karale
Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki
Inspired by A picture belong to Akixx ( www . zerochan 1639628 )
A semi-canon, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing
Read at your own risk
.
.
"Apakah mereka masih bernapas, nanodayo?" Dengan skeptis, Midorima menatap kedua kakak Murasakibara yang bergelimpangan di lantai seolah sudah kehilangan nyawa. Wajah mereka masih pucat, dan napas mereka tersenggal-senggal. Sungguh, bagi Midorima mereka terlihat seperti dua orang yang baru melarikan diri dari pintu kematian.
"Sayangnya mereka masih bernapas." Kakak tertua Murasakibara menaikkan kacamata yang membingkai kedua iris ungunya dan menghela napas. "Dunia akan lebih damai tanpa mereka berdua." Midorima memperhatikan sang sulung yang melompati tubuh salah satu adiknya dan mengambil sesuatu dari gantungan yang kemudian Midorima sadari sebagai jas dokter.
"Atsushi! Kau yakin kau baik-baik saja?" Kakak perempuan Murasakibara berseru dari dapur, suara dentingan sendok dan piring terdengar, bersama dengan suara air yang mengalir.
"Aku baik-baik saja, nanodayo." Midorima mengulangi kata-katanya. Kesal mulai terlihat dari matanya yang seharusnya dibingkai oleh kacamata persegi berwarna hitam.
"Lalu kenapa kau makan sangat sedikit!? Kau pasti sakit!" Suara kakak perempuan Murasakibara berubah dari bertanya menjadi menuduh. Sosok gadis berambut ungu panjang yang dikuncir satu kemudian muncul dari balik tirai transparan. "Kau juga makan dikit selama dua hari belakangan! Kau kenapa?
"Aku tidak apa-apa, nanodayo. Aku hanya tidak berselera, nanodayo." Tahu bahwa pembicaraan ini tak akan berakhir hingga temannya menjemputnya, Midorima berusaha mengelak dari tatapan menusuk kakak perempuan Murasakibara yang kini berjalan ke arahnya.
Sang gadis berkacak pinggang, "Tidak, kau pasti sakit! Kemari kau!"
Midorima melompati tubuh salah satu kakak Murasakibara yang berbaring, "Kau tahu, kudengar jika ada orang suka makan yang mendadak makan sedikit, berarti dia patah hati." Kakak tertua Murasakibara yang ternyata belum beranjak dari tempatnya di depan pintu berkata, senyuman jahil terbentuk di wajahnya.
Kakak perempuan Murasakibara mengeluarkan suara mirip tarikan napas terkesima yang keras hingga Midorima dapat mendengarnya. "Kau patah hati? Tunggu, sejak kapan kau jatuh cinta? Memangnya kau sudah melewati masa pubertas?"
Suara bel menyelamatkan Midorima dari kewajiban menjawab pertanyaan absurd tersebut.
Kakak tertua Murasakibara membuka pintu, mengangguk ke arah empat sosok yang berdiri di depan pintu dan membuka pintu lebih lebar. "Atsushi, temanmu datang. Aku berangkat duluan ya, nanti kubelikan sesuatu, kau mau apa?" Tanya kakak tertua Murasakibara.
"Pasta."
Semua orang membeku, Midorima menoleh dengan horor ke arah tubuh Aomine Daiki yang tengah didiami Murasakibara Atsushi. Pun dengan Kise Ryouta yang berada di tubuh Midorima. Nampaknya Murasakibara kira kakaknya berbicara dengannya, melihat bahwa sang sulung menghadap tepat ke arahnya ketika berbicara.
Keheningan kaku menyelimuti tempat tersebut.
"Pasta, nanodayo." Dengan frustasi, Midorima berusaha membuat suaranya terdengar mirip Aomine, biarpun ia tetap tak dapat menghilangkan 'nanodayo' yang senantiasa mengikuti kalimat terakhirnya. "Aku mau pasta, nanodayo." Midorima mengulangi kata-kata itu sekali lagi, dengan suara yang diberat-beratkan, berharap tak ada yang menyadari kesalahan fatal Murasakibara.
Kakak tertua Murasakibara melirik Midorima dari balik bahunya sebelum mendelik. "Pasta kalau begitu, aku berangkat." Dan sang sulung menghilang dari jarak pandang Midorima.
"Aku berangkat, nanodayo." Midorima mengenakan sepatunya dengan cepat dan mengangguk ke arah kakak perempuan Murasakibara. Dengan perlahan, pemuda penggemar berat oha-asa itu menutup pintu dan menatap tubuh Aomine yang didiami Murasakibara.
"Kau menakutiku, Murasakibara. Sungguh." Kise berkata, memegangi dada kiri tempat jantungnya berdetak tak karuan karena takut rahasia kecil antara Generasi Keajaiban itu tersibak pada saat itu, di tempat itu juga.
"Ini pasti karena aku lupa membawa lucky item untuk bintang Murasakibara juga, nanodayo." Midorima memegangi dahinya dengan depresi, mengutuki dirinya yang bisa-bisanya lupa membeli lucky item untuk libra juga.
Biarlah ini menjadi pelajaran supaya Midorima tak lagi lupa membeli lucky item untuk libra di kemudian hari—ketidakberuntungan yang nyaris menimpanya dan teman-temannya.
"Ini sudah hari ketiga, Akashi-kun. Apakah kau sudah menemukan teori lain mengapa kita seperti ini?" Kuroko Tetsuya dalam tubuh Kise bertanya, kepada Akashi Seijuuro yang terjebak di dalam tubuh Kuroko. Suaranya memecah keheningan yang hanya diisi oleh langkah mereka.
Belum sempat Akashi membuka mulut untuk menjawab, suara Kise mendahuluinya. "Tenang saja, Kurokocchi! Aku sudah mendapatkan sebab mengapa kita bertukar tubuh seperti ini!—nanodayo." Kise menambahkan kalimat terakhir dengan cepat sebelum Midorima meliriknya dengan tatapan tajam yang lebih menyeramkan dari lirikan maut Akashi.
"Oh?" Akashi bertanya, mengeluarkan suara menyerupai kalimat singkat dengan nada bertanya dari tenggorokannya. "Dan apakah teorimu ini, Kise?" Tanya sang point guard dengan nada tertarik biarpun ia tahu bahwa apapun materi yang keluar dari mulut Kise—dalam tubuh siapapun—tidak dapat dipercaya.
"Jiwa kita sudah lelah berdiam di tubuh kita terus, jadi mereka ingin mencari pengalaman baru dengan menukar tubuh kita semua, karena kita selalu bersama, jadi jiwa kita mengenali satu sama lainnya!—nanodayo." Kise menaikkan telunjuknya dan tersenyum lebar.
"Istirahat kita berkumpul lagi di Gym." Akashi berkata kepada rekan-rekannya, berjalan meninggalkan Kise bersama yang lainnya—dengan sengaja mengabaikan sang model yang terjebak dalam tubuh Midorima. Mereka bahkan tak ingin repot-repot mendengar teori absurd dari Kise Ryouta, hingga alien datang dengan mobil limosin dan berhenti di hadapan mereka pun, tidak akan pernah mereka percaya.
"Kalian sangat jahat!—nanodayo!" Kise menjerit, air mata buaya meluncur menuruni pipinya.
"Kise, jika kau menistakan karakterku lebih dari ini, kupotong tenggorokanmu." Midorima menaikkan kacamata imajiner yang bertengger di atas hidungnya, menatap Kise yang dengan segera berdiri tegak dan memberikan sikap hormat sempurna ke arah Midorima.
Kelimanya berjalan melewati gerbang Teiko Middle School, dengan segera dihadapkan pada puluhan gadis yang tengah menunggu mereka. Jeritan nama Kise terdengar di sana dan di sini, nyaris dikalahkan dengan jeritan nama Midorima yang membahana.
Tunggu. Nama Midorima? Midorima Shintaro penggemar oha-asa yang tubuhnya tengah ditempati seorang pemuda pirang laknat bernama Kise Ryouta, alias seseorang yang dikenal sebagai magnet pembuat masalah selain Aomine Daiki?
Midorima menatap Kise dengan tatapan horor. Wajah Kise memucat. Sepertinya ia harus mati muda, doakan saja semoga sesuatu di atas sana berbaik hati dan memberikannya kesempatan untuk bereinkarnasi di tubuh lain yang tak kalah kece dari tubuhnya sendiri.
"Kise, apa yang kau lakukan dengan tubuhku, nanodayo!? Kau ingin aku merusak tubuhmu lagi ya? Kau tidak kasihan dengan Kuroko, hah!?" Midorima berseru, amarah membuat mata ungunya berkilat-kilat berbahaya, suaranya menggema, mengalahkan jeritan gadis-gadis yang berkumpul mengerumuni tubuh Midorima yang ditempati Kise. Kuroko, Murasakibara, dan Akashi sudah hilang sedari tadi. Dasar pengkhianat.
Kise terkekeh, mengambil satu langkah mundur. "Membuatnya populer?"
"MATI KAU!"
Bahkan saking kesalnya, Midorima melupakan kalimat trademark miliknya.
Pada saat pelajaran pertama berlangsung, guru matematika yang mengajar di kelas Murasakibara harus menahan diri agar ia tidak pingsan di tempat itu, pada saat itu juga ketika melihat sosok Murasakibara Atsushi yang duduk tenang tanpa satu pun makanan di atas mejanya dan memperhatikan pelajaran ia ajarkan dengan penuh konsentrasi.
Sayangnya ia tak dapat menahan diri untuk tak pingsan dan terpaksa dibawa ke rumah sakit terdekat ketika melihat hasil kuis mendadak yang ia laksanakan di setiap kelas. Murasakibara mendapatkan nilai nyaris sempurna.
Sebelum guru wanita itu dibawa ke rumah sakit, ia memeluk tubuh Murasakibara sembari menangis dengan sangat dramatisnya. "Aku tahu suatu saat kau bisa melampaui Akashi, Murasakibara. Aku tahu." Suara ambulans kemudian bergema, bersamaan dengan tubuh sang guru yang ambruk bagaikan seorang pahlawan sekarat yang habis membantai titan.
"Hey ... menurut kalian berapa lama lagi kita seperti ini?" Kise membuka pembicaraan. Bekal makan siang yang telah dibungkus dengan penuh cinta oleh ibu Midorima terlupakan di pangkuannya. Suara dan ekspresinya serius, hal yang sangat langka dan kelewat mustahil.
Aomine Daiki berhenti menganggumi bekal level tinggi yang diberikan kepadanya oleh salah satu pelayan keluarga Akashi dan menoleh ke arah rekannya yang seharusnya memiliki rambut sewarna cahaya keemasan matahari. "Aku tak tahu, tetapi aku mulai menikmati ini." Kata Aomine, menyeringai sembari mulai melahap bekalnya.
"Itu karena kau di tubuh Akashi, Aomine. Banyak orang ingin di posisimu juga. Sebaiknya kau berterimakasih dan mencobalah untuk berakting seperti Akashi, nanodayo." Midorima mendelik, melotot ke arah sang power forward. Menaikkan kacamata imajiner miliknya, Midorima mengedarkan pandangannya ke arah teman-temannya, "Ini baru hari ketiga, namun biarpun begitu, sebaiknya kita cepat-cepat mencari solusi untuk ini, nanodayo." Lanjutnya.
Akashi mengangguk menyetujui, "Kita tak bisa lama-lama begini, kita memiliki jadwal pertandingan latihan dengan sekolah lain beberapa hari dari sekarang." Ujarnya, sembari mengelus dagunya, tak sadar kata-katanya membuat rekan-rekannya membeku. "Aku tak bisa nge-pass seperti Kuroko, dan aku yakin kalian juga punya masalah dengan tubuh kalian."
Midorima mengangguk setuju, dahinya berkerut. "Aku ketinggian ... dan aku jadi tidak bisa memperhitungkan akan jatuh dimana tembakanku, nanodayo." Katanya, depresi.
Aomine mengelap bibirnya dengan punggung tangan, ikut mengangguk menyetujui kata-kata Akashi. "Aku kependekan. Dan aku jadi tidak bisa melakukan dunk di ring." Namun entah mengapa, Aomine tidak terlihat seperti benar-benar memikirkan fakta bahwa kini ia pendek. Malah, ia terlihat menikmatinya.
"Aku tidak bisa nge-shoot seperti Midorima—nanodayo." Kise merengek.
"Aku tidak bisa menjadi power forward seperti Minechin." Murasakibara berkata, datar.
"Dan aku tidak bisa mengkopi gerakan seseorang." Kuroko mengakhiri.
Keenam remaja itu kemudian terdiam, membiarkan kata demi kata dari rekan-rekan mereka terproses di dalam pikiran hingga kenyataan menghantam mereka bagaikan bola basket yang dilempar ke wajah mereka. Aomine mengumpat, seketika berdiri. "Terus nanti kita gimana!?" Serunya, yang sangat tidak-Akashi-sekali.
Dahi tubuh Kuroko berkerut, tanda Akashi berpikir keras. Mata biru sang kapten menyipit, semua orang nyaris dapat melihat berbagai perhitungan berkelebatan di dalam otak Akashi. Beberapa menit kemudian, sebuah seringai yang sangat tidak-Kuroko-banget mengembang di wajahnya, mata biru itu seketika dipenuhi emosi yang mencurigakan.
"Bagaimana, katamu? Ya, sekarang kita mulai berlatih untuk menyesuaikan diri kita dengan tubuh kita yang baru. Mulai sekarang, istirahat dan pulang sekolah kita harus latihan. Kita punya nama yang harus dipertahankan." Dengan nada penuh perhitungan yang agak menyeramkan karena keluar dari bibir Kuroko Tetsuya, seringai Akashi melebar.
Tidak ada yang sanggup menyuarakan pendapat apapun lagi setelah itu.
"Apakah ada Akashi Seijuuro-san dan Midorima Shintarou-san di dalam sini?" Sebuah kepala melongok dari balik pintu, membuat keenam remaja di dalamnya berjengit karena tidak memperkirakan ada yang datang ke Gym pada istirahat siang.
Semua orang menatap Aomine, yang berada dalam tubuh Akashi, memaksa sang pemuda untuk berdiri dan berkata dengan nada penuh kepimpinan. Tetapi Aomine malah balas menatap pandangan teman-temannya dengan tatapan yang entah mengapa terlihat seperti ketakutan bercampur panik. Yang lagi-lagi sangat bukan-kayak-Akashi.
Melihat tidak ada reaksi, gadis yang berdiri di depan pintu ganda itu memilih untuk melanjutkan kata-katanya. "Rapat OSIS akan dimulai, di ruang OSIS. Aku disuruh untuk memanggil kalian." Dan gadis itu berjalan pergi.
"Aomine, Kise, ruang OSIS ada di lantai dua, dekat tangga. Tepat di sebelah perpustakaan, nanodayo." Midorima menaikkan kacamata imajinernya, mengibaskan tangannya ke arah dua pemuda yang ia maksud agar cepat berdiri dan melangkah pergi sebelum rapat OSIS dimulai.
"Jika aku tidak salah, rapat kali ini tentang festival olahraga yang akan diadakan beberapa minggu dari sekarang." Akashi mengangguk, ikut mengibaskan salah satu tangannya yang bebas ke arah dua orang yang membeku bagaikan patung tanpa nyawa.
"Ta-ta-tapi, Akashicchi! Midorimacchi! Kenapa harus kami!?" Saking paniknya, Kise bahkan lupa menambahkan kalimat trademark Midorima yang sudah tak asing lagi di lidahnya.
"Midorima, kan, wakil OSIS! Terus nasibku nanti gimana!? Ditanya guru setiap pelajaran saja aku tak mampu, kalau nanti rapatnya kacau gimana!?" Kise menjerit panik, mengguncangkan tubuh Kuroko yang didiami Akashi dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Aku yakin kau pasti bisa, Kise-kun. Sekarang pergilah dengan Aomine-kun sebelum rapatnya dimulai." Kuroko bersuara, menyelamatkan tubuhnya dari kemungkinan pening luar biasa karena ulah Kise.
Dengan langkah gontai, dan diiringi tatapan rekan-rekannya, Kise dan Aomine yang wajahnya memucat berjalan keluar dari Gym. Kedua kaki Kise gemetar luar biasa, sedangkan tubuh Aomine terlihat kaku bagaikan robot yang baru belajar berjalan.
"Akashi-kun, Midorima-kun. Kalian yakin akan membiarkan mereka memimpin rapat?" Kuroko memecah keheningan. Simpati dan iba terdengar jelas dari suara sopannya yang sangat bukan-Kise-sekali. Iris sewarna emasnya menatap sosok Aomine dan Kise yang perlahan menghilang dibalik pintu Gym.
Akashi dan Midorima menoleh ke arah Kuroko. Salah satu alis biru muda Akashi naik, menatap Kuroko dengan tatapan penuh tanya. "Memang kenapa?" Akashi bertanya mewakili Midorima, sembari memiringkan kepalanya ke satu sisi.
"Memimpin rapat bagus untuk latihan kepemimpinan mereka, nanodayo." Midorima menaikkan kacamata imajinernya, mengangguk setuju dengan pertanyaan Akashi.
Kuroko menatap dua rekannya sejenak, seolah bertanya-tanya apakah sebaiknya ia mengingatkan kedua rekannya ini tentang kebiasaan Aomine dan Kise. "Aomine-kun terbiasa membaca majalah itu di rapat, dan barusan aku melihat membawa satu dibalik blazernya. Sedangkan Kise-kun tak mungkin tidak tidur lima menit setelah rapat dimulai."
Hanya kata-kata singkat tersebut sudah mampu membuat Akashi dan Midorima menghilang dari Gym, berpacu menuju ruang OSIS untuk menyelamatkan harga diri mereka yang akan dinistakan oleh kedua rekan laknat mereka.
"Maaf, tetapi apa yang terjadi dengan Akashi-san dan Midorima-san?" Seorang anggota OSIS bertanya dengan sopan ketika melihat Midorima dan Akashi mengusir Aomine serta Kise dari ruang OSIS tepat sebelum Aomine disuruh membuka rapat.
Midorima menaikkan kacamata imajinernya, duduk di tempat yang telah disediakan untuk wakil ketua OSIS. Sembari mengabaikan tatapan orang-orang yang heran dengan kedatangan Kuroko dan Murasakibara yang mengusir Akashi serta Midorima. "Mereka sedang sakit jiwa." Katanya, datar.
Midorima lupa bahwa ia tengah membicarakan tubuhnya dan telah merusak harga dirinya (dan Akashi) sendiri.
Bel kecil itu berdenting, diikuti dengan sapaan 'Selamat datang!' dari seorang pria paruh baya yang berdiri di meja kasir. Midorima mengangguk sekali, ingat bahwa dirinya harus menundukkan kepalanya untuk melewati bingkai pintu yang kelewat rendah untuk tubuh titan Murasakibara. Ia tidak ingin kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan lagi, terima kasih.
Toko kelontong kecil itu terlihat jauh lebih kecil dari balik mata violet Murasakibara, membuat Midorima harus berjalan dengan sangat hati-hati agar ia tidak menyenggol rak atau menghantamkan kepalanya ke langit-langit. Namun, biarpun begitu, Midorima menolak untuk pergi ke toko lain biarpun barang ia cari cukup normal kali ini.
Toko yang dimiliki pria paruh baya yang sudah mengenal Midorima tersebut adalah sebuah toko serba ada. Dimana mereka juga menjual berbagai macam lucky item yang sudah teruji kualitasnya oleh orang-orang yang lebih ahli. Midorima takut bila ia tidak membeli lucky item di toko itu, tidak akan ada keburuntungan yang hinggap kepadanya.
"Oh? Seragammu familiar, Anak Muda." Pria paruh baya itu tersenyum ketika melihat sosok super tinggi Murasakibara yang dirasuki Midorima melangkah ke arah meja kasir dengan sebuah gantungan gitar kecil—lucky item untuk cancer besok—dan miniatur istana Kota Moskow di dalam snow globe mini.
"Ah, ya, Teiko Junior." Pria paruh baya itu mengambil barang yang Midorima sodorkan kepadanya dan tersenyum, "Apakah kau mengenal Midorima Shintarou, Anak Muda? Pemuda berambut hijau itu? Sudah tiga hari ia tak datang ke tokoku lagi, membuatku bertanya-tanya." kata pria tersebut, sembari membungkus barang pembelian Midorima dan mendorong kedua benda itu menuju sang pemuda.
Midorima menaikkan kacamata imajinernya dan memberikan uang untuk membayar barang pemberiannya kepada laki-laki yang lebih tua. "Dia sibuk, nanodayo. Aku akan menyampaikan pesan kepadanya jika kau mencarinya?" Tanya Midorima dengan sopan, sembari menarik kantong plastiknya dari meja kasir.
Pria yang nyaris seluruh rambutnya telah memutih itu tersenyum hangat. "Tentu saja, Anak Muda. Sampaikan salamku kepadanya. Dia adalah anak yang sopan, tak banyak kau melihat hal seperti itu di zaman ini." Ujarnya, sembari memberikan kembalian Midorima.
"Baiklah." Midorima berkata singkat sembari mengambil kembaliannya. Cepat-cepat, sang pemuda menyampaikan kalimat perpisahan dan berbalik, berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa hangat. Siapa yang tidak malu dipuji seperti itu?
Dengan langkah terburu-buru, Midorima berjalan menuju pintu keluar—
—untuk lagi-lagi menghantamkan kepalanya ke bingkai bagian atas pintu dengan suara hantaman yang sangat keras hingga membuat kaca di sekitar pintu bergetar.
Umpatan dan kutukan yang meluncur keluar dari bibir suci Murasakibara bagaikan aliran banjir yang deras dan tanpa henti pastilah dapat membuat Aomine Daiki bangga.
.
.
To Be Continued
.
.
Dilema Arleinne dan Azureinne:
Azu : Halo semuanya! Balik lagi bersama Azu dan Aru! Azu minta maaf jika chapter ini kering humor, Azu belum begitu mendalami karakter Midorima(?), dan bisa dibilang bingung Midorima-nya mau digimanain, jadinya begini deh...
Aru : Mungkin itu dirimu aja yang memang lagi kering humor, berhubung belakangan ini kebetulan cuaca panas banget, nyaris tanpa hujan—
Azu : —tetapi setidaknya Azu update lebih cepat dari seseorang di sini. *bekep Aru* Baiklah, mari kita abaikan orang males update ini dan membalas review anon. Hai, Anon(s)! Pertama untuk SKETMachine, lihat lihat, Azu update lebih cepat kan? *kibas poni* Iya, ini no pairing, karena baik Azu dan Aru tidak bisa bikin sesuatu selain straight. Yosh, kami akan semangat, silahkan marahi Aru kalau updatenya ngaret lagi.
Aru: Update cepat apanya, orang terakhir update juga tanggal 22 Juni ... Apa kabar multichaptermu yang lain? ... dan kedua, untuk Aoki terima kasih! Berarti kalau saya update chapter 5 di akhir tahun nanti, gak masalah kan? *smirk* Aih, insting fujo yang kuat. Sayang sekali yang kemarin hanya beneran friendship yang agak berlebihan.
Azu: ... Berlebihan mbahmu. Dan daripada nanyain Monochrome, gimana kalau dirimu refleksi diri dan ngerjain Grey? ... Dan yang terakhir, untuk Mikan, gak apa-apa kok, Azu dan Aru juga kadang males log-in. Yah, menistakan Midorima itu kenikmatan sendiri sih ya, jadi mustahil untuk berhenti. Anggap saja typo itu tak pernah ada. :')
Aru : Abaikan saja Azu. Baiklah, sekarang Azu dan Aru mengucapkan terima kasih kepada yang sudah mereview, mem-fave, maupun mem-follow, semoga kalian puas dengan chapter ini!
Azu : Chapter berikutnya adalah Murasakibara di tubuh Aomine yang akan ditulis oleh Aru! Akhir kata, kami tunggu kalian di kotak review dan silakan tunggu kami di chapter selanjutnya~
