Satu hal yang Murasakibara Atsushi syukuri dari segala konflik perubahan tubuh yang Kiseki no Sedai alami hanyalah satu hal mutlak dari sekian banyak masalah yang tengah ia hadapi.

Makanan di rumah Aomine Daiki enak.

"Apakah Satsuki belum sembuh dari sakitnya, Daiki?" suara ibu Aomine terdengar dari dapur. Murasakibara mengambil jeda dari kegiatannya menghabiskan seluruh makanan yang ada di meja—seluruh di sini maksudnya makanan milik ayah Aomine yang tengah membacakan koran dan tidak menyadari apa yang dilakukan Murasakibara terhadap sarapannya.

"Ah, ya. Satsuki-chin belum sembuh dari sakitnya," Murasakibara tidak begitu memikirkan hening yang hadir di tengah-tengah keluarga kecil itu begitu mendengar nama kecil yang Murasakibara berikan kepada Momoi Satsuki. Pun tatapan ayah Aomine dari balik koran.

Ayah Aomine melipat korannya dan menatap Murasakibara dalam-dalam. "Daiki jangan-jangan kau—MEMAKAN SARAPANKU LAGI YA!?" nasihat dari hari pria ke sesama pria itu berubah menjadi seruan ketika sang ayah mendapati sarapannya telah lama habis.

"Ibu, aku masih lapar," Murasakibara berkata ketika sosok sang ibu datang dari dapur dengan membawa dua piring pancake untuk dirinya sendiri dan juga untuk 'putra'-nya yang belakangan ini memiliki nafsu makan yang begitu tinggi hingga ia sendiri gagal paham.

Sang ayah yang diabaikan berseru, "KAU MENGABAIKANKU!?"

Murasakibara tidak menjawab dan segera menghabiskan pancake yang disediakan oleh ibu Aomine dengan khidmat. Sungguh, makanan buatan ibu Aomine enak, mungkin itu mengapa Aomine selalu melindungi kotak bekalnya seperti seekor kucing melindungi anak-anaknya—lengkap dengan gaya mengancam dengan ekor yang berdiri dan punggung menegang.

"Sudahlah, sudahlah. Toh, kau bisa beli roti dalam perjalananmu ke tempat kerja atau semacamnya," ibu Aomine berkata kepada ayah Aomine yang gayanya seolah siap menerjang dan merebut pancake Murasakibara sebagai ganti sarapannya dengan kalap.

Sang ayah menghela napas dan memijat pelipisnya, "Serius deh, Daiki. Kenapa mendadak nafsu makanmu naik, sih?" tanyanya, mata biru laki-laki yang lebih tua mengarah ke tas Murasakibara dan satu kantong plastik penuh snack yang dibeli putranya kemarin.

"Mungkin pubertas?" sang ibu mengelus dagunya dengan gaya berpikir.

Keduanya berbicara tentang Murasakibara di dalam tubuh Aomine seolah Murasakibara tidak ada di sana bersama mereka. Tidak heran Aomine orangnya 'begitu', Murasakibara mengangguk-angguk sok maklum. Padahal dia sendiri juga tidak sadar diri.

Sang ayah terdiam, "... jadi selama ini anak kita belum pubertas?"

Sang ibu menggeleng dan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan suaminya, "Dia sudah pubertas, tetapi malah berjalan ke arah yang salah dan tertarik kepada basket."

Ah, seandainya mereka tahu apa yang Aomine sembunyikan di bawah tempat tidurnya. Murasakibara menggelengkan kepalanya sembari meletakkan sumpitnya di atas meja.

.

.

Kiseki Change! is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Azureinne Karale in place of Arleinne Karale

Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki

Inspired by A picture belong to Akixx ( www . zerochan 1639628 )

A semi-canon, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing

Read at your own risk

.

.

"Halo, Kise-chin, pagi. Apa kabar? Baik," Murasakibara melambaikan tangannya setengah tidak niat begitu sosok Midorima Shintaro yang tengah ditempati jiwa-penuh-semangat-masa-muda milik Kise Ryouta datang dari balik belokan, sendirian tanpa Kuroko Tetsuya.

Tumben Kise rajin. Apakah setelah ini Aomine akan bertingkah seperti tuan muda?

"Jangan menjawab apa yang kau tanyakan, Murasakibaracchi. Itu terdengar sangat aneh," Kise berkata sembari menggelengkan kepalanya sembari tersenyum lebar. Senang ada yang lebih aneh dari dirinya, eh, Kise? Kenapa hari ini banyak orang yang tidak sadar diri, sih?

"Apakah kau sudah mencari tahu mengapa kita bertukar tubuh seperti ini, Murasakibaracchi?" keduanya berhenti di depan apartemen Kise untuk menjemput Kuroko Tetsuya yang terjebak dalam tubuh sang model. Murasakibara membuka salah satu snack miliknya dan mulai mengunyah—sarapan barusan sudah lama melewati lambungnya, dan ia sudah lapar. Lagi.

"Eeehh, belum. Merepotkan. Dan aku senang tinggal di rumah Aomine-chin. Makanannya enak," sosok Kise Ryouta muncul dari balik lift. Kuroko berlari menghampiri mereka berdua dan ketiganya mulai berjalan menuju rumah Murasakibara—yang ditinggali Midorima.

"Apakah pekerjaanku berjalan lancar, Kurokocchi?"

Murasakibara membuka makanan kecilnyayang kedua. Berjalan ternyata membutuhkan tenaga lebih, tetapi ia harus menghemat, Murasakibara tidak akan bertahan di kelas tanpa snak-snack miliknya. Dan salah satu peraturan Teiko adalah, murid-murid tidak boleh keluar kelas sebelum istirahat kecuali jika ingin pergi ke kamar kecil.

"Aku minta cuti, aku tidak mengerti kerjamu, Kise-kun."

Ah, Murasakibara bisa izin ke kamar kecil, lalu pergi membeli snack alih-alih pergi ke kamar kecil. Strategi yang brillian bagi Murasakibara, jadi pemuda yang kini mendiami sosok berambut biru dengan kulit eksotis milik Aomine itu membuka simpanan makanan kecil miliknya yang ketiga.

Sebelum ketiganya sampai di rumah Murasakibara, sosok tinggi dengan rambut berwarna ungu tua yang didiami jiwa si rajin Midorima sudah menunggu di depan rumah. Sepertinya Midorima kapok dengan kejadian kemarin, ketika mereka hampir nyaris ketahuan tengah bertukar tubuh karena Murasakibara dengan reflek menjawab pertanyaan kakak tertuanya.

Ah, omong-omong, apakah Midorima kemarin benar-benar makan pasta?

Murasakibara jadi ingin pasta. Apakah ibu Aomine bisa membuat pasta?

Tubuh Kuroko Tetsuya yang berisi jiwa absolut Akashi Seijuuro muncul sebelum mereka berempat sempat beranjak dari rumah Murasakibara, hal biasa karena Akashi memang selalu muncul sebelum mereka datangi ke rumah Kuroko. Alasannya sih, Akashi selalu bangun pagi.

Kelimanya kemudian memulai ritual normal mereka berjalan menuju sekolah—yang akan terasa sangat normal bila saja tidak ada Akashi dan mereka ada di tubuh masing-masing.

Aomine? Diantar menggunakan mobil, tentu saja.

"Aku mendapatkan teori baru tentang masalah kita," di perjalanan, Akashi berkata sebelum Kise sempat membuka mulutnya dan kembali berbicara soal teori-teori miliknya sendiri yang aneh-aneh tentang masalah mereka selama empat hari setelah pertandingan terakhir.

"Apa itu, Akashi, nanodayo?" Midorima bertanya sembari menaikkan kacamata imajinernya. Sebelah tangan Midorima menggenggam sebuah gantungan lonceng musim panas berukuran sedang yang sedari tadi berdenting seiring langkah mereka, lucky item Midorima hari ini.

"Mungkin sekarang sesungguhnya kita berada di tubuh masing-masing, namun karena benturan yang kita alami tempo hari, kita kehilangan identitas kita dan jiwa kita mulai bertingkah seperti orang lain karena pengaruh hilangnya identitas dan karena kita selalu bersama dengan satu sama lainnya," mata biru Kuroko tidak pernah bercahaya seperti itu.

Oh, lihat.

Bahkan sang Emperor telah jatuh kepala terlebih dahulu dari tahtanya.

"Aku tidak yakin dengan hal itu, Akashi-kun. Jika teori benar, kurasa jiwa kita tidak sampai se-ekstrim ini," Kuroko mengeluarkan pendapatnya, yang mendapat anggukan dari Midorima dan Kise. Sementara Murasakibara sibuk menghitung simpanan snack miliknya.

Akashi terdiam, "Benar juga. Baiklah, seperti biasa, istirahat nanti kita berkumpul di Gym," kata Akashi ketika gerbang Teiko sudah terlihat di depan mata dan satu-dua murid berseragam sama seperti mereka mulai muncul dari balik belokan ataupun jalan lainnya.

Sama seperti kemarin, gadis-gadis telah berkumpul di gerbang dan masih heboh menjeritkan nama Midorima serta Kise. Sementara Murasakibara, Akashi, dan Kuroko menyelinap di balik keramaian dan melarikan diri dari tempat kejadian perkara sebelum mereka didakwa menjadi saksi mata dalam pembunuhan Kise Ryouta.

"Akashi-chin, Akashi-chin," Murasakibara memanggil nama jiwa yang mendiami tubuh Kuroko tersebut, membuat yang bersangkutan menoleh dan mengerjap penuh tanya.

"Ada apa, Murasakibara?" tanya Akashi, berhenti. Kuroko ikut berhenti dan ikut menoleh ke arah Murasakibara yang menyodorkan kantung plastiknya ke arah Akashi agar kedua pemuda itu dapat melihat apa yang ada di dalam kantung plastik berwarna putih dengan lambang supermarket terkenal tersebut—lima buah makanan kecil dan beberapa cokelat serta permen.

"Apakah menurutmu ini akan cukup hingga istirahat?" tanya Murasakibara.

Akashi menepuk bahu Murasakibara, yang agak sulit karena Akashi ada di dalam tubuh Kuroko, dan Murasakibara mendiami tubuh Aomine. "Sebaiknya kau membeli snack sebelum masuk, Murasakibara. Mengingat dirimu, kurasa semua ini tidak akan bertahan sebelum kelas pertama dimulai," kata Akashi, dengan nada bijak.


Pelajaran pertama, sang guru fisika memutuskan bahwa tes kecil-kecilan adalah sesuatu yang tepat untuk dilakukan. Setelah soal dibagikan, kelas berubah hening, semuanya berkonsentrasi untuk mengerjakan soal-soal laknat penuh angka dan aksara ini.

Kecuali satu orang, yang memecah keheningan setiap 10 detik sekali dengan suara robekan plastik makanan kecil dan suara kunyahan nikmat yang membuat beberapa perut murid lainnya bernyanyi nyaring.

Sang guru fisika harus menahan diri untuk gantung diri di ring basket Gym karena stress peringatannya hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri Murasakibara.


"Biarpun Akashicchi bilang berlatih menyesuaikan diri, aku tidak mengerti bagaimana caranya berlatih agar dapat shoot seperti Midorima," Kise menyeret tubuhnya dari tengah lapangan, membuat tubuh Midorima terlihat seperti ulat bulu raksasa berseragam Teiko.

"Aku juga tidak bisa seperti Aomine-chin," Murasakibara menambahkan sembari mengunyah pocky yang ia beli dari kantin sekolah. Di sisinya, Kuroko terlihat siap pingsan kapan saja karena berusaha mengambil bola dari Aomine dan mengaktifkan kekuatan mengkopinya.

Terang saja gagal, biarpun tubuh mereka sama, bakat mereka berbeda.

"Sudah empat hari, nanodayo. Pertandingan semakin dekat, kita harus segera bertukar tubuh kembali," Midorima men-dribble bola yang ia pegang, yang agak kaku karena ia harus men-dribble sekuat tenaga agar bola itu kembali mencapai telapak tangan Murasakibara.

"Khalaugh beghituh khenapah khitagh thidak menchobagh—"

Kise melempar bola yang ia pegang ke arah Aomine Daiki yang ada di tubuh Akashi Seijuuro dengan kesal, dengan telak mengenai wajah sang tuan muda yang hancur karena Aomine, "Telan dulu, Kampret. Kau menghancurkan image Akashicchi, hal itu membuatku sedih!"

Akashi tampak tidak keberatan wajahnya dilempar begitu. Atau mungkin karena Akashi sendiri tidak melihat adegan pelemparan itu karena sang kapten tidak ada di Gym. Ia harus mengurus beberapa urusan OSIS dengan tubuh Kuroko demi mengembalikan image-nya.

Aomine menelan makan siangnya dengan susah payah dan mengelap mulutnya dengan punggung tangan dan meletakkan kotak bekalnya. Murasakibara mencomot makanannya dengan cepat sebelum Aomine menyadarinya.

"Kalau begitu, bagaimana jika kita bermain basket seperti biasa saja? Jadi Kise, kau tetap mengkopi gerakan orang-orang biarpun kau di tubuh Midorima, Tetsu, kau tetap nge-pass biarpun kau di tubuh Kise. Daripada kalian tidak bisa mengaplikasikan teknik orang lain, kenapa tidak menggunakan teknik masing-masing?" tanya Aomine, mengangkat bahu.

"Tapi, Aomine. Baik kau dan aku, kita sama-sama tidak dapat mengaplikasikan teknik kita karena aku ketinggian dan kau kependekan, kita sudah mengetesnya kemarin," semua orang dapat melihat panah yang menancap di tubuh Akashi ketika Midorima berkata demikian.

"Ya—yaah, bagaimana dengan yang lain?" Aomine mengalihkan pembicaraan.

"Aku belum mencobanya," Kuroko berkata.

"Aku juga belum," Kise mengelus dagunya.

Murasakibara menelan makanannya dan berkata dengan suara malas yang telah lama menjadi trademark-nya, "Eeehh, Aomine-chin cukup tinggi, tapi aku terlalu malas untuk mencobanya."

"HOY, ITU BEKALKU!" Aomine merebut kotak makan yang ada di tangan Murasakibara dan memeluk kotak itu seolah sang kotak adalah garis antara hidup serta matinya. Murasakibara kini mengerti Aomine mirip siapa, dan lagi-lagi, Murasakibara dapat melihat image kucing marah yang sering muncul di belakang Aomine ketika melindungi bekalnya.

"Ayo kita coba, Kurokocchi! Aominecchi, coba kau dribble atau coba dunk, aku akan mencoba sebisaku untuk menirumu," Kise berseru dengan semangat membara, mengalihkan perhatian Aomine dari bekalnya dan pencuri bekal di hadapannya.

Murasakibara mengambil kesempatan dalam kesempitan tersebut dan kembali merebut kotak bekal itu dari tangan Aomine. Lagi-lagi Aomine tidak menyadarinya.

Beberapa menit kemudian, Akashi Seijuuro melangkah masuk ke Gym.

Untuk menemukan anak buahnya menyeringai penuh kemenangan.

Entah kenapa sensasinya sama ketika kau berjalan di kala gelap, kemudian kau melihat kerumunan orang-orang berjas rapi yang menyeringai di sudut jalan, menunggumu dengan pistol di tangan. Itulah yang Akashi rasakan ketika ia membuka pintu Gym kala itu.

Bedanya, kepala warna-warni membuat mereka tidak cukup menyeramkan. Pikir Akashi

Ah, sang Emperor juga tidak sadar diri rupanya.


"Aomine-san, tolong jangan makan di kelas."

"Kalau aku berhenti makan, apakah Bu Guru akan memberikanku permen limited edition yang ibu miliki di bawah meja?Ada satu bungkus, kan?"

Tatapan semua murid berubah. Dari penuh konsentrasi menjadi penuh harap.


Sepulang sekolah, Murasakibara segera berbelok menuju supermarket, menyeret teman-temannya yang kebetulan juga merasa lapar. Supermarket dekat Teiko Middle School tersebut sudah terbiasa dengan pemandangan murid berseragam dengan kepala warna-warni yang menginvansi rak makanan kecil mereka, biarpun belakangan ini peran mereka seperti terbalik.

Contohnya, tadi siang, yang pergi di tengah pelajaran untuk membeli sekotak makanan kecil dalam kedok pergi ke toilet bukanlah pemuda berambut ungu yang membuat sang kasir kadang terintimidasi. Melainkan seorang pemuda berkulit eksotis.

"Apakah menurutmu ini enak?" Kuroko bertanya kepada Murasakibara, mengangkat bungkus makanan kecil yang menarik perhatiannya tinggi-tinggi.

Murasakibara mengamati bungkus di tangan Kuroko, "Tidak begitu, rasa jagungnya begitu kental. Kau akan mual, Kuro-chin," balas Murasakibara, sebelum kembali berkutat dengan makanan yang ingin ia beli untuk dirinya sendiri.

"Murasakibara, kau mau es juga tidak?" Akashi melambaikan tiga es krim dari sudut supermarket. Memang gaya sang kapten terlihat santai, tetapi rekan-rekannya dapat melihat mata biru jernih itu berbinar-binar dalam rasa senang dan kepolosan.

Sepertinya Raja yang satu ini belum pernah mencoba makanan rakyat biasa.

Setelah mendapatkan makanan kecil yang Murasakibara inginkan, dan beberapa makanan milik teman-temannya, Murasakibara melangkah menuju kasir dan meletakkan keranjangnya di meja kasir, menatap sang kasir dengan tatapan malas namun penuh ekspetasi.

Sang kasir menyeret keranjang itu mendekatinya dan mulai bekerja, "Belakangan ini kau sering kemari, Dik, lebih sering dari pemuda berambut ungu itu," pemuda yang lebih tua itu membuka pembicaraan, berharap bisa menarik reaksi dari pelanggan tetap selama empat hari belakangan.

"Heee, benarkah. Mungkin dia mau diet," Murasakibara, yang malas untuk mengerti bahwa yang dimaksud kata-kata sang kasir notabene adalah dirinya sendiri, mengeluarkan dompetnya dari tas dan mulai menghitung estimasi harga yang harus dibayar.

Sang kasir berjengit ketika menyadari nol di monitor telah mencapai jumlah tiga, "Makanmu agak banyak juga, ya. Apakah kau tidak merasa kenyang makan sebanyak ini?" tanya pemuda itu lagi, sembari menerima uang yang disodorkan Murasakibara dan menyerahkan belanjaan sang pemuda.

Murasakibara menerima belanjaannya. Kedua mata biru itu menyipit penuh keseriusan yang membuat sang kasir terdiam. Dengan ekspresi paling serius yang dapat dilakukan wajah Aomine Daiki, Murasakibara membuka mulutnya.

"Kenyang itu hanya untuk orang lemah."

Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari jiwa Murasakibara yang tidak berat akan kemalasan.

Merasa puas dengan kalimat yang ia keluarkan—dimana membuat Murasakibara terdengar cukup keren, pemuda itu melangkah keluar dari supermarket dan hendak melesat membawa kabur makanan teman-temannya jika saja Kise tidak menjegal kakinya.

.

.

To Be Continued

.

.

Dilema Arleinne dan Azureinne:

Azu : "Hai, semuanya! Kembali dengan Azu, harusnya sih, Aru, tapi Aru menghilang ke suatu tempat bernama kehidupan, jadi abaikan saja. Anggap saja Aru tidak pernah eksis."

Aru : *Lempar sepatu ke arah Azu* "Maaf, maaf, seperti yang kami bilang di La Cosa Nostra, kesibukan kami berlipat ganda. Tapi setelah Azu selesai UN dan mengingat sebentar lagi liburan, kami akan berusaha keras untuk update semua multichapter kami!"

Azu : "Pertama-tama, Azu minta maaf soal humor kering di sini. Murasakibara itu agak susah diutak-atik, dan kedua, maaf sekali soal update setahun kemudian ini, uhuk."

Aru : "Chapter berikutnya adalah Aomine di tubuh Akashi loh, klimaks dari segala kenistaan ini. Soal siapa yang membuat, mari kita lihat saja nanti." *lirik Azu*

Azu : *balas lirik Aru* "Yha, kita lihat saja nanti."

Aru : "Tatapan Azu serem, mari kita lanjut saja membalas review non-login, untuk Aoki, maaf kami update setahun kemudian. Soal chara lain muncul, kita lihat saja nanti ya~ Chapter depan Aomine di tubuh Akashi kok, terima kasih sudah sabar menunggu dan mereview!

Kemudian untuk Ay Seijuuro, awas nanti kesedak kalo cekikikan terus loh, terima kasih sudah menunggu dengan sabar dan mereview fanfict ini!

Setelah itu untuk Kuro15fe, terima kasih banyak soal cerita tidak terlalu rumit, akan kami usahakan, biarpun kami rasa fanfict ini gak begitu rumit kan? Hanya soal Kiseki no Sedai yang bertukar tubuh kok, kufufufu. Terima kasih sudah mereview! Dan kepada semua orang yang masih setia menunggu fict ini, terima kasih! Semoga Akashi menyertai kalian!"

Azu : "Abaikan saja Aru. Baiklah, sekarang Azu dan Aru mengucapkan terima kasih kepada yang sudah mereview, mem-fave, maupun mem-follow, semoga kalian puas dengan chapter ini! Mohon maaf jika chapter ini sangat kering humor."

Aru : "Akhir kata, kami tunggu kalian di kotak review dan silakan tunggu kami di chapter selanjutnya~"