Rasa dingin yang menyambutnya membuatnya refleks menarik selimut hingga membungkus tubuhnya dalam kehangatan absolut yang menjanjikan tidur panjang.

Hanya saja suara pintu yang bergeser membuatnya terbangun, atau memang sudah sewajarnya bagi tubuh ini untuk bangun sepagi ini disaat mentari bahkan belum menampakkan diri dari sisi sebelah timur.

"Tuan Muda…" suara merdu pelayan wanita yang selalu membangunkannya setiap pagi sudah ia hapalkan, jadi ia tahu tidak ada yang perlu ia khawatirkan.

"Iya, iya, aku sudah bangun," mengerang, Aomine Daiki yang tingginya menyusut dan rambut biru gelapnya sekarang berubah menjadi merah melempar selimutnya hingga ia menatap wanita paruh baya yang menatapnya dengan sorot heran. Setiap paginya.

"Air mandi sudah aku siapkan, Tuan Muda," wanita itu menundukkan kepalanya sementara Aomine hanya menjawab dengan, "Hm…" singkat sebelum beranjak dari futonnya dan berjalan ke kamar mandi.

Aomine tidak tahu saja. salah satu tugas dari pelayan yang setiap pagi ditemuinya adalah untuk merapikan kamar Akashi Seijuuro. Sayangnya, malam kemarin Aomine baru membeli majalah baru Mai. Sayangnya, majalah itu tergeletak di samping futon tempatnya tidur. Sayangnya, majalah itu terbuka di bagian yang… ahem.

"Tuan Seijuuro sudah beranjak dewasa," diiringi dengan derai air mata, pelayan paruh baya itu menutup majalah… ahem milik Aomine dan menumpuknya di atas futon yang sudah terlipat.

"Mungkin Tuan Muda akan segera memberikan cucu," ia mengangguk dengan penuh semangat sembari menyalakan alat penghisap debu, bersiap untuk membersihkan ruangan pewaris tunggal Keluarga Akashi itu.

"Ah, tidak sabar melihat versi mini dari Tuan Muda berlari-lari di lorong. Pasti imut sekali," kali ini ia membuka tirai, mengelap kaca, dan membua pintu kaca sehingga udara segar pagi masuk ke dalam kamar.

Begitu pelayan yang sudah cukup lama bekerja di mansion ala Jepang yang luasnya menyaingi sekolah menengah pertama Teiko itu, Aomine pun selesai mandi. Hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya seolah tidak ada malunya, ia menatap keheranan ke arah wanita paruh baya yang masih ada di dalam kamar itu.

"Tuan Muda Seijuuro ternyata sudah besar. Kami sudah tidak sabar menunggu versi mini dari Anda berlarian di mansion yang sepi ini."

.

.

Kiseki Change! is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Arleinne Karale

Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki

Inspired by A picture belong to Akixx ( www . zerochan 1639628)

A semi-canon, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing

Read at your own risk

.

.

"Kau bercanda?" manik merah itu membulat sempurna begitu melihat hidangan di hadapannya, "Siapa yang makan steak untuk sarapan?" tampaknya Akashi Seijuuro makan steak untuk sarapannya, Aomine.

"Umm… Anda meminta steak untuk sarapan Anda hari ini, Tuan Muda," lelaki yang rambutnya sudah memutih semua itu mengangguk dengan sopan. Bertanya dalam hati apa yang salah dengan putra tunggal dari keluarga Akashi itu.

"Benarkah? Memangnya aku memintanya ya? Aku lupa…" lelaki berambut merah itu mulai mengambil pisau dan garpunya, dengan gesit memotong daging di hadapannya.

Tuan Muda lupa? Well, itu hal yang baru, "Sepulang latihan Anda meminta steak untuk sarapan pagi ini, Tuan Muda," dan hal baru lainnya adalah Tuan Muda Seijuuro jadi lebih… cerewet. Ah, mungkin cerewet adalah kata yang berlebihan.

"Baiklah, terima kasih kalau begitu," Aomine mengangguk-angguk sambil mengunyah potongan daging yang kaya rasa itu, "Kau tidak sarapan. Itu kursinya masih banyak. Duduk saja disana," Aomine menunjuk kursi yang kosong di sebelah kirinya dengan pisau.

Tuan Muda mengajaknya makan satu meja? Well, itu hal yang baru, "Aku baik, Tuan Muda. Sudah sarapan tadi," dan hal baru lainnya adalah Tuan Muda Seijuuro jadi… hangat pada bawahannya. Ah, mungkin hangat adalah kata yang agak berlebihan.

"Baiklah. Tapi duduk saja disana. Aku pegal melihatmu berdiri tahu," ujar Aomine sambil menyeruput jus jeruknya yang dingin, "Aaaah, segar sekali. Memang seharusnya pagi-pagi itu sarapan makan steak dan minum jus jeruk iya kan?"

Tuan Muda tampak menikmati sarapannya? Well, itu hal yang baru, "Ah ya, mungkin saja, Tuan Muda," dan hal baru lainnya adalah Tuan Muda Seijuuro jadi berbicara dengan bahasa yang… tidak formal. Pemuda itu biasanya bicara dengan bahasa yang formal dan kaku. Atau kebanyakan dia diam saja, berbicara ketika perlu.

"Hei, kau tahu Horitaka Mai?" Aomine bertanya pada pelayan tua yang kaku itu sambil menyeka bibirnya dengan serbet putih, "Mungkin sesekali kau harus membaca majalahnya. Nah, terima kasih atas sarapannya. Aku berangkat sekolah dulu."

"Tentu saja Saya tahu Horitaka Mai, Tuan Muda. Hati-hati di jalan, semoga hari Anda menyenangkan," membungkuk dalam, pelayan pria itu mengawasi tuan mudanya yang berjalan penuh semangat keluar dari rumah.

Well, itu hal yang baru.

Pertama, Tuan Muda Seijuuro tidak pernah bersemangat melakukan apapun. Melakukan apapun. Sekali lagi untuk penekanan, melakukan apapun. Semuanya dilakukan tanpa semangat, seolah ia adalah robot yang menjalankan programnya. Jadi ketika Tuan Muda Seijuuro bersemangat pergi ke sekolah, itu dalah hal yang baru.

Kedua, Tuan Muda Seijuuro tidak pernah berterima kasih atas makanannya. Baik sarapan, makan siang, ataupun makan malam. Bahkan tidak ketika ia makan bersama dengan Ayahnya. Tuan Muda Seijuuro tidak pernah mengucapkan terima kasih pada siapapun. Pada siapapun. Jadi, ketika Tuan Muda Seijuuro berterima kasih atas sarapannya, itu adalah hal yang baru.

Ketiga, Tuan Muda Seijuuro tidak pernah pamit kemanapun ia pergi. Urusannya adalah urusannya, dan ia tidak merasa orang lain perlu tahu urusannya. Ia selalu tertutup, tidak pernah pamit mau pergi kemana, tidak pernah berkata mau melakukan apa. Urusannya ia urus sendiri. Jadi, ketika Tuan Muda Seijuuro pamit ke sekolah pagi ini, itu adalah hal yang baru.

Keempat, Tuan Muda Seijuuro belum pernah kepergok membaca majalah… ahem. Jadi, ketika tadi ia membicarakan tentang Horitaka Mai yang notabene adalah bintang majalah… ahem, itu adalah hal yang baru.

"Tuan Muda Seijuuro sudah besar…" sebuah serbet ia gunakan untuk menyeka air matanya yang terurai, rasa haru membuatnya menangis. Lelaki yang rambutnya sudah memutih semua, yang bahkan kumis dan jenggotnya sudah memutih semua itu sempat berpikir bahwa ia akan mati menjadi pelayan di mansion paling dingin sedunia. Ternyata ia salah. Mungkin ia akan menyaksikan versi mini dari Tuan Muda Seijuuro berlarian di lorong mansion yang sepi itu.


Satu-satunya hal yang menyenangkan dari terjebak dalam tubuh seorang Akashi Seijuuro adalah mobilnya empuk dan mewah, "Hei, biarkan aku yang menyetir kali ini," oh! Dan satu hal lagi yang menyenangkan terjebak dalam tubuh Akashi. Kau bisa memerintah orang seenakmu dan orang itu pasti akan mematuhimu.

"A-Anda yakin, Tuan Muda?" lelaki berseragam merah itu selalu mengantarkan Aomine ke sekolah dan menjemputnya pulang.

"Tentu saja. sejak kapan aku terlihat tidak yakin?" Aomine membuka pintunya dan menunggu di luar pintu kemudi.

"Ba-Baiklah kalau Anda yakin. A-Aku akan duduk di kursi penumpang," tidak bisa menahan cengirannya, Aomine hanya mengangguk penuh semangat, "Baiklah yang ini gas dan yang ini rem bukan?"

"Y-Ya, Tuan Muda da-dan harap ingat kalau kecepatan maksimal adalah 60 km/jam," lelaki yang tampaknya berusia tiga puluhan itu menjawab dengan gugup. Tidak pernah sekalipun sepanjang hidupnya sebagai supir pribadi dari Akashi Seijuuro dirinya diajak berbicara dengan sangat ramah, "Jangan lupa kenakan sabuk pengaman Anda, Tuan Muda."

Setelah mengenakan sabuk pengamannya, Aomine menekan gas dalam-dalam dan tertawa begitu merasakan mobil mewah itu menderu dalam laju yang membuat polisi akan menangkapnya. Aomine tidak asing dengan dunia balapan, ia pernah terlibat sedikit dengan orang yang berkecimpung di dunia yang lain itu.

"Woooo hooooo!" Aomine tertawa senang ketika ia menyaksikan orang-orang menatapnya dengan keheranan dan ketakutan.

"Tu-Tuan Muda, Anda melewati batas kecepatan," tangan dari supir pribadi milik Akashi Seijuuro itu gemetar, berusaha menahan Aomine.

"Siapa yang peduli, hah? Ini menyenangkan!" Aomine menekan pedal gas kencang-kencang sebelum sadar kalau seharusnya di depan adalah tikungan.

Seharusnya di depan ada sebuah tikungan yang cukup tajam tapi Aomine terlambat menyadarinya. Aomine terlambat mengarahkan mobilnya. Hingga akhirnya mobil mewah itu menabrak pembatas dan….

… terjun bebas masuk ke dalam danau.


"Hai teman-teman," dengan jari kelingking yang terbenam dalam hidungnya dan sebelah tangan lainnya menggaruk bagian belakang celananya yang gatal, Aomine Daiki menyapa teman-temannya yang sudah berkumpul untuk makan siang di tempat mereka.

Oh, pantatnya gatal sekali. Sepertinya ada ikan yang masuk ke sana pagi tadi.

"Kau dari mana saja, Aomine?" sebuah senyum tipis terpeta di bibir lelaki berambut biru terang itu, ya. Tapi kalau ini adalah animasi, tampak tanda seperti perempatan jalan di dahinya. Manik biru mudanya tersembunyi dalam kelopak matanya membuatnya tampak tersenyum dalam cemas, ya. Tapi aura yang dikeluarkan dan tangan yang dikepalkan tidak bisa membohongi.

"Oh, urusan yang biasa, Akashi," Aomine duduk di samping tubuhnya yang entah kenapa sedang tergeletak, telentang menatap langit biru yang tiada batasnya, "Heh, tubuhku kenapa?"

"Oh, urusan yang biasa, Minechin," ujar Murasakibara Atsushi dalam tubuh Aomine Daiki sebelum mengeluarkan suara dahak yang besar dan panjang, "Perutmu kekenyangan tapi aku masih lapar."

"Kudengar kau tidak masuk ke kelas, Aomine," Akashi Seijuuro dalam tubuh Kuroko Tetsuya memilih untuk mengambil jalan kasual guna mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

"Oh ya, ada urusan sedikit Akashi," dan ketika melihat tubuhnya bergerak gelisah dengan mata yang dilirikkan kemana saja kecuali menatap tubuh lelaki yang tidak terlalu tinggi yang sekarang ia huni, ia segera tahu ada yang tidak beres.

Pertama, ia tahu ia pintar dalam berbohong maka ia tahu tubuhnya harusnya tidak bereaksi seperti itu. Kedua, ia tidak pernah membolos karena ia harus mendapatkan predikat siswa teladan setiap tahunnya. Ketiga, tingkah Aomine yang berusaha tampak santai dalam tubuhnya malah meningkatkan kecurigaannya akan ada sesuaut yang terjadi.

"Dan urusan apakah itu, Aomine?" kembali bertanya dengan nada kasual. Untung saja tubuh Kuroko Tetsuya ramah dan bersahabat.

"Kau tahu…" lelaki itu berdeham beberapa kali.

"Kau tahu," Kuroko Tetsuya dalam tubuh Kise Ryouta memotong apapun yang hendak dikatakan lelaki yang seharusnya berkulit eksotis itu, "Aku merasa akan ada bencana yang datang. Jadi aku mohon diri untuk ke kelas duluan."

"Ah! Aku juga mau ke kelas duluan-ssu, eh, nanodayo," Kise Ryouta dalam tubuh Midorima Shintarou yang sedari tadi sangat tidak normalnya duduk diam berdiri, "Aku harus belajar untuk kuis Bahasa Jepang-nanodayo."

"Aku akan mengajari Kise materi untuk ujian-nanodayo," tubuh raksasa Murasakibara Atsushi berdiri, "Kau sebaiknya pergi ke ruangan kesehatan, Murasakibara."

"Saran yang bagus, Midochin," dengan susah payah, lelaki yang seharusnya berambut ungu namun sekarang mendiami tubuh pemuda berkulit eksotis itu bangkit berdiri sementara Kise dalam tubuh laki-laki berambut hijau protes karena ia merasa tidak perlu diajari untuk kuis yang akan datang.

Selagi yang lain berjalan menjauh, Aomine Daiki dalam tubuh Akashi Seijuuro dan Akashi Seijuuro dalam tubuh Kuroko Tetsuya saling berpandangan, "Jadi, apa tadi yang hendak kau katakan?"

"Tadi pagi," Aomine menelan ludah, "Aku membuat mobilmu menabrak pembatas jalan dan terjun ke dalam danau."


"Mana Aomine?" Midorima dalam tubuh Murasakibara, yang tengah memegang bola basket bertanya pada Akashi yang berada dalam tubuh Kuroko.

"Di suatu tempat," dengan jawaban yang singkat itu, mereka semua tahu. Sepertinya Aomine yang berada dalam tubuh lelaki paling berkuasa di Teiko itu sedang ada di rumah sakit atau di sekolah kepribadian. Atau entah dimana agar tidak mencoreng nama Akashi Seijuuro semakin parah.

… kemudian semuanya diam. Hening.

Keheningan yang dimaksudkan untuk menghormati arwah Aomine Daiki agar tenang di alam sana itu dipecahkan oleh keluhan super keras dari Kise Ryouta yang berkali-kali menyisir helai-helai hijau yang mulai menutupi matanya, "Aku bosan di tubuh Midorimacchi-ssu!"

"Memangnya kau pikir aku senang di tubuh Murasakibara-nanodayo?" kembali mendribel bola yang ia pegang, Midorima menimpali dengan singkat.

"Aku juga tidak senang dalam tubuh Minechin. Perutnya kecil. Makannya sedikit. Aku masih lapar," ujarnya sambil memasukkan sampah plastik Maibou yang baru ia konsumsi ke dalam tempat sampah.

"Siapa yang suka berada di tubuh orang lain?" Kuroko Tetsuya mengangkat bahunya, dengan canggung bergerak menggunakan tubuh Kise Ryouta.

"Kita harus menemukan cara agar kembali seperti semula," Akashi Seijuuro mengambil sebuah papan dengan kertas di atasnya yang tergeletak begitu saja diatas tumpukan bola dalam keranjang besi di pinggir lapangan.

"Tentu saja kita mencari tahu bagaimana caranya agar kembali seperti semula-ssu. Tapi akhirnya jalan buntu-ssu!" Kise yang frustasi melempar bola dengan asal ke arah ring, mengabaikan apakah bolanya masuk atau tidak, "Bagaimana kalau kita tidak bisa kembali-ssu? Sebentar lagi akan ada tanding kalau kalian lupa!"

"Aneh rasanya melihat Kise-kun berpikir jauh ke depan," Kuroko mengangguk sopan, mengapresiasi bola yang masuk ke ring dan sikap lelaki yang seharusnya berambut kuning yang semakin dewasa. Rasanya seperti melihat seorang anak yang tumbuh menjadi bijaksana saja,

"Aku setuju-nanodayo," Midorima mencomot satu buah permen yang dipegang oleh Murasakibara dalam tubuh Aomine, "Bukan Kise yang berpikiran ke depan-nanodayo," lanjutnya ketika merasakan pandangan yang lain kini terfokus ke arahnya, "Maksudku kita harus cepat kembali ke tubuh kita. Sebentar lagi akan ada pertandingan-nanodayo dan akan sangat memalukan kalau kita kalah."

"Ada hal lain yang harus kita cemaskan," Akashi hanya menghela napas berat, menyaksikan Kise dalam tubuh Midorima membuka buku biologi sementara Kuroko dalam tubuh Kise membantu Kise mencari sesuatu.

Murasakibara dalam tubuh Aomine kembali telentang menatap langit-langit sementra Midorima dalam tubuh Murasakibara mulai menikmati Maibou yang dibawa oleh Murasakibara, "Sepertinya kita mulai bertingkah seperti tubuh yang kita tempati sekarang."


Sore itu, setelah 'perbincangan hangat dengan Akashi Seijuuro dalam tubuh Kuroko Tetsuya' di atap sekolah, Aomine Daiki memutuskan untuk pulang saja. karena biarpun perbincangan mereka benar-benar hangat, meliputi diskusi seru dan lembar candaan di sana dan di sini, 'berbincang' dengan Akashi apapun wujudnya jelas membuat trauma.

Hal yang membuat traumanya lebih parah adalah karena Akashi melakukannya dengan tubuh Kuroko yang imut, lucu, polos, dan tidak mengancam. Namun hal itu malah menjadikannya sepuluh kali lipat lebih menyeramkan.

Dan omong-omong soal menyeramkan, lelaki yang tampaknya berusia pertengahan 40 ini sibuk menunjukkan totol-totol aneh dengan antena dan bendera yang aneh yang tertera di atas buku dengan garis-garis yang aneh, "Seharusnya Anda sudah bisa yang ini, Tuan Muda. Bukankah Anda latihan kemarin malam?"

"Tentu saja tidak," Aomine melepar tangannya ke udara, dengan sedikit kesal, "Aku baru mendapatkan majalah terbaru Horitaka Mai buat apa aku latihan?"

"Benarkah?" tiba-tiba pandangan lelaki itu berubah, "Majalah terbaru Horitaka Mai, maksudku. Bukankah itu limited edition?"

"Menurutmu apa yang tidak bisa tubuh ini lakukan?"

Tiba-tiba, lelaki itu mengeluarkan air matanya, "Anda sudah beranjak dewasa, Tuan Muda. Aku sangat terharu," ia menyeka air matanya dengan lengan bajunya, "Akan lebih terharu lagi kalau Anda bersedia meminjamkan majalah itu untuk saya."

Well, siapa yang tahu kalau ternyata Guru Piano dan Kepala Butler milik Keluarga Akashi adalah penggemar Horitaka Mai? Mungkin seharusnya Akashi berterima kasih pada Aomine. Berkatnya, kita sekarang tahu lelaki macam apa yang bekerja dalam mansion yang sepi dan dingin itu.

.

.

To be Continued

.

.

Dilema Arleinne dan Azureinne:

Aru : "Arleinne—"

Azu : "Dan Azureinne—"

Aru & Azu : "Kiseki Change! Yeeey!"

Azu : "Apakah pembukaan itu penting? Tapi okelah, halo semua, kembali dengan duo ngenes kakak-adik gak konsisten update ini, Azureinne di sini!"

Aru : "Dan Arleinne akhirnya di sini! Mari kita mulai sesi komentar Kiseki Change chapter enam yang tumben banget update cepat, berhubung tidak ada komentar dari kedua belah pihak author, mari kita langsung ke review non-login, baiklah!"

Azu : "Omong-omong pembukaan tadi bukannya pembukaannya radio Sorar—"

Aru : "Pertama untuk Guest, kami persembahkan Aomine di dalam tubuh Akashi! Chapter Aomine di tubuh Akashi dianggap klimaks oleh kami karena ini klimaks dari segala kenistaan yang ada, berhubung kita membicarakan Aomine di sini, ahahaha~ Kami sudah berusaha update cepat loh, semoga cukup cepat ya~ Terima kasih sudah sabar menunggu dan mereview chapter lalu!

Kemudian untuk Denia, terima kasih banyak~ Kami sudah berusaha update cepat, semoga cukup cepat untuk Anda ya, terima kasih sudah sabar menunggu dan mereview!"

Azu : *lempar sepatu ke arah Aru* "Semoga chapter ini gak begitu kering humor ya, entah kenapa pas beta Azu hanya dapat terdiam, mungkin juga karena malah inget chara fandom sebelah, hmmm."

Aru : "We-ell, mungkin yang kedua. Chapter berikutnya adalah Akashi di tubuh Kuroko, loh! Chapter terakhir dari kenistaan sebelum chapter kejutan yang sesungguhnya plotnya belum selesai." *lirik Azu*

Azu : "Yha, kenistaan terakhir tidak menjamin di chapter kejutan tidak ada kenistaan, orz." *balas lirik Aru*

Aru : "Baiklah, sekarang Azu dan Aru mengucapkan terima kasih kepada yang sudah mereview, mem-fave, maupun mem-follow, semoga kalian puas dengan chapter ini! Mohon maaf jika chapter ini sangat kering humor."

Azu : "Akhir kata, kami tunggu kalian di kotak review dan silakan tunggu kami di chapter selanjutnya~"