"Tetsuya, kau ingin roti atau sereal?"

Untuk berkata bahwa Akashi Seijuuro bingung adalah salah paham. Pemuda yang terjebak dalam tubuh Kuroko Tetsuya itu baru saja turun dari kamarnya sembari membenarkan letak dasinya yang agak miring, kemudian mendadak, ibu dari Kuroko bertanya begitu kepadanya.

Secuil pikiran berteriak dari otak Akashi, "Sereal itu apa?" tanyanya, tanpa sadar menyuarakan pertanyaannya, memecah keheningan di dalam ruang makan. Akashi mengambil tempat duduk di kursi makan yang belum terisi, ayah Kuroko menurunkan koran pagi yang tengah ia baca, mata cokelat tua yang tersembunyi di balik lensa kacamata baca menatap Akashi—Kuroko dengan tatapan seolah pemuda itu baru saja berbicara bahasa alien.

"Sereal, ya sereal. Makanan sereal, sereal loh! Kau masih mengantuk ya?" tanya ayah Kuroko, sebelah alis naik beberapa senti. Di sisinya, ibu Kuroko terkikik geli dan meletakkan sepiring roti bakar dan secangkir kopi di hadapan sang ayah dan semangkuk penuh sesuatu yang mengambang di atas susu putih di depan Akashi bersama sebuah sendok makan.

"Bagaimana jika kau mencobanya sendiri saja, Tetsuya?" tanya sang ibu, masih terkikik.

Akashi menurunkan tatapannya dan menatap sereal sarapannya dengan tatapan paling heran yang ia punya. Akashi tidak tahu apa itu sereal. Apakah itu aman? Di rumahnya yang asli, yang kini ditempati Aomine, tidak ada sereal, atau roti bakar, atau pancake, atau apalah. Yang ada hanyalah sarapan tradisional Jepang, terkadang lauknya ganti—tergantung Akashi.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah sereal ini aman dimakan? Penampilannya terlihat sangat tidak meyakinkan, dengan ukurannya yang sama dengan beras mentah, warna cokelat tua mengkilap, serta berat yang sangat ringan hingga mengambang di atas permukaan susu.

Jangan lupakan jumlahnya yang cukup banyak. Jika tidak ditambahkan susu, mungkin sereal-sereal itu dapat mencapai setengah mangkuk, dan mangkuk yang digunakan ibu Kuroko bukanlah mangkuk nasi yang kecil, melainkan mangkuk lain yang cukup besar. Mangkuk yang digunakan orang Barat, sepertinya. Akashi jadi bertanya-tanya apa gunanya susu itu.

Beneran bisa dimakan nih?

"Habiskan sarapanmu, Tetsuya. Nanti kau terlambat," ayah Kuroko mengintip dari atas kertas koran setelah menelan sarapannya. Mata cokelat tua menatap Akashi dengan penuh tanya. Di sisi ayah Kuroko, sepasang iris lazuardi milik sang ibu yang identik dengan milik putranya ikut menatap Akashi dengan penuh tanya. Mungkin heran mengapa Kuroko tidak juga makan.

Akashi mengangguk dan meraih sendok makan yang tersedia di hadapannya.

Seriusan benda ini bisa dimakan?

Dengan perlahan, Akashi menyendok sereal yang ada di hadapannya. Menatap bulir-bulir cokelat yang menyembul dari kuah susu yang berpindah ke sendoknya. Akashi menatap sendok berisi sereal itu sebentar sebelum dibawanya sendok itu ke mulutnya dengan perlahan.

Sialan, ternyata benda ini enak.

Kedua orangtua Kuroko bertukar pandang dalam diam, tatapan mereka sama heran. Apakah Akashi sadar bahwa ia menyuarakan pikirannya dengan suara paling kagum yang pernah mereka dengar dan sepasang mata biru yang berbinar-binar penuh dengan kebahagiaan?

.

.

Kiseki Change! is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Azureinne Karale

Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki

Inspired by A picture belong to Akixx ( www . zerochan 1639628 )

A semi-canon, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing

Read at your own risk

.

.

"Aku berangkat," Akashi berkata sembari menjejakkan sebelah kakinya yang sudah dilapisi sepatu sekolah untuk memastikan sepatu itu tidak akan lepas ketika ia berjalan atau menendang Aomine sebelum berjalan keluar dari rumah. Samar-samar ia dapat mendengar ibu Kuroko berteriak 'hati-hati!' dari dapur sebelum dirinya sempat menutup pintu.

Ditatapnya halaman rumah Kuroko yang tidak begitu besar sejenak, sebelum ia melangkah pergi dari pintu. Berapa kali pun, Akashi tidak akan terbiasa dengan halaman rumah Kuroko dan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Namun, sudah hampir seminggu ia terjebak di dalam tubuh Kuroko, dan berjalan ke sekolah sudah menjadi bagian dari ritual harian Akashi.

Plus, pergi ke sekolah dengan berjalan kaki membuat Akashi menemukan hal-hal unik, dan membuatnya dapat melihat sesuatu yang menarik dalam jarak yang dekat. Selama ini, ia selalu menatap segalanya dari balik kaca mobil berlapis film yang membuat segalanya gelap.

Langkah teratur Akashi membawa sang pemuda menavigasi tubuhnya menuju rumah Murasakibara, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar sesuatu mengeong tidak jauh darinya—kelewat dekat malah, tetapi Akashi Seijuuro tidak akan dan tidak pernah berjengit.

Akashi mendongak, dan menemukan seekor anak kucing berdiri di atas dinding tepat di sisinya. Dinding itu adalah pagar rumah seseorang, sepertinya. Dengan hiasan besi runcing yang berlubang-lubang, dan kaki anak kucing itu sepertinya tersangkut di lubang tersebut.

Akashi akan menyelamatkan anak kucing itu jika saja ia tidak dihalangi oleh dua masalah.

Satu, dinding itu lebih tinggi darinya, sedikit lebih tinggi dari Murasakibara sepertinya. Dan dua, Kuroko lebih pendek dari Akashi—walaupun jika saja Akashi ada di tubuhnya yang asli, perbedaan itu tidak akan membuat hasil yang berarti. Akashi menatap anak kucing dengan itu dengan tatapan penuh konflik, bagaimana caranya menyelamatkan anak kucing malang itu?

Akashi menoleh ke kanan dan ke kiri, mendapati bahwa jalanan di sekitarnya kosong.

Pemuda yang berada dalam tubuh Kuroko tersebut mengangguk penuh tekad ketika yakin tidak ada yang melihatnya. Dijatuhkannya tas miliknya ke jalanan beraspal, kemudian diambilnya beberapa langkah ke belakang sebagai ancang-ancang untuk melompat dan memanjat ke atas pagar rumah tersebut. Mungkin ia akan dicakar mengingat kemungkinan Akashi akan langsung menarik lepas kaki si kucing dari pagar, tetapi itu urusan belakangan.

Dalam hitungan ketiga, Akashi berlari dan melompat, salah satu tangannya dengan lihai menangkap badan dari hiasan runcing yang ada di pagar dan membawa tubuhnya naik. Akashi menekuk kedua kakinya untuk menciptakan sedikit sanggaan bagi tubuhnya dan berusaha melepaskan kaki sang kucing dengan satu tangan—yang sulit karena si kucing terus meronta.

Namun sebelum adegan penyelamatan Akashi berhasil, beberapa orang muncul dari balik belokan. Menatap punggung Akashi yang memanjat pagar dengan tatapan yang sama horornya.

"AKASHICCHI JADI MALING! NANODAYO!" seru Kise Ryouta. Sembari menunjuk punggung Akashi dengan ekspresi paling terkhianati yang dapat dimiliki oleh kaum manusia.

"Akashi-kun, apakah ekonomi keluargaku separah itu?" Kuroko Tetsuya bertanya dengan penuh simpati, iris sewarna madu milik Kise menatap Akashi yang masih ada di atas pagar.

"Akashi, sadarlah. Jangan biarkan niat jahat menguasaimu, nanodayo," Midorima Shintarou yang berada dalam tubuh Murasakibara Atsushi berkomentar dengan nada penuh simpati.

"Akashi-chin, kalau lapar sebaiknya kau beli di toko terdekat, jangan merampok orang," komentar Murasakibara di tengah-tengah kegiatannya mengunyah snack yang kesekian.

Akashi melompat turun dan mendarat dengan agak goyah karena tidak siap. Menatap teman-temannya dan berusaha untuk tidak melempar semuanya dengan sebuah sepatu begitu mendapati horor dan simpati tertulis jelas dalam wajah mereka. "Aku tidak merampok, aku hanya ingin menurunkan kucing ini, kakinya tersangkut di pagar," lelah dan kesal terdengar jelas dalam suara Akashi ketika menunjukkan anak kucing yang berhasil ia selamatkan.

Kise menatap anak kucing yang ada di tangan Akashi sebelum menghela napas lega, "Syukurlah, kupikir Akashicchi stress lalu memutuskan untuk merampok orang kaya! Nanodayo," kata Kise, sembari menyisir rambut hijaunya ke belakang dalam perasaan lega.

Akashi melepaskan anak kucing yang baru saja ia selamatkan dan memungut tasnya. Kelimanya kemudian memulai ritual mereka berjalan bersama ke sekolah sembari berspekulasi tentang masalah pertukaran tubuh mereka yang tak kunjung selesai juga.

"Apakah kau berhasil mendapatkan teori lain mengapa kita bertukar tubuh, Akashi-kun?" Kuroko membuka pembicaraan, setelah lama perjalanan mereka diliputi keheningan—selain langkah kaki mereka yang tak teratur dan suara kunyahan dari arah Murasakibara, tentu saja.

Akashi tidak menoleh ketika ia berbicara—hanya menghela napas, "Yang dapat kupikirkan hanyalah lewat benturan, jiwa kita sempat melarikan diri, tetapi karena belum waktunya kita mati, jiwa kita kembali lagi, tetapi salah tubuh," Akashi mengeluarkan teori lainnya yang semakin lama terdengar semakin absurd bahkan ketika teori itu sampai ke telinganya sendiri.

"Kok semakin lama teorimu semakin menyerempet ke teori spritual dan dunia sana sih," Kise bergerak menjauh dari Akashi dengan perlahan. Wajahnya memucat ketika ia membayangkan bahwa ia seharusnya mati. Jika benar seandainya Kise mati karena terbentur kepala teman-temannya, entah mengapa itu terdengar seperti kematian yang sangat sia-sia.

"Tetapi sepertinya arah Akashi, benar, nanodayo. Semakin kupikir, masalah ini tidak mungkin dapat dijelaskan dengan fisika dan matematika saja, nanodayo," Midorima menyuarakan pendapatnya sembari menaikkan kacamata imajinernya, Kuroko mengangguk.

"Omong-omong, tentang pertandingan, apakah kalian yakin kalian mampu menjalankan rencana yang kalian bilang kemarin?" Akashi bertanya sembari menoleh ke arah rekan-rekannya yang berjalan di sisinya. Sepasang iris sewarna lazuardi berkilat dalam tanya.

Murasakibara mengangkat jempolnya dengan malas-malasan, "Tenang saja, Akashi-chin. Kau sudah lihat, kan? Tinggal Mido-chin dan Aomine-chin saja yang masih harus dipikirkan."

Kelimanya berjalan melewati gerbang Teiko Middle School, bersamaan dengan banyak murid lain yang baru tiba. Sepertinya teriakan nama yang diserukan oleh gadis-gadis sudah menjadi ritual, dan ajaibnya, kelimanya berhasil mengabaikan seruan-seruan di latar belakang dan tenggelam dalam diskusi mereka tentang pertandingan yang akan datang.

"Aku ada ide tentang masalah Midorima-kun dan Aomine-kun, tetapi aku tak tahu apakah itu akan berhasil," kata Kuroko, hampir tidak terdengar di tengah hiruk-pikuk Teiko di pagi hari.

Akashi mengangguk singkat ke arah Kuroko, "Kalau begitu, seperti biasa, kita akan berkumpul di Gym, kemudian pulang nanti, kita akan berkumpul lagi untuk latihan dengan rencana baru kita," ujarnya, sembari berjalan menuju loker sepatu Kuroko, membuat rekan-rekannya bubar ke loker mereka masing-masing dan menjalani aktivitas mereka kembali.


Pelajaran matematika kala itu diliputi keheningan—terlalu tenang, kecuali suara ketukan dan goresan kapur sang guru, dan sesekali suara penjelasan sang guru yang singkat, padat, dan hampir tidak jelas. Karena, sejak kapan matematika jelas?

"Maaf, Bu, yang itu formulanya salah," semua mendengar seseorang berkata, tetapi tidak ada yang tahu dimana sang empu suara.

Semua orang menjerit dan berlari pergi. Meneriakkan "Hantu!" ketika mereka berlari menelusuri koridor dengan sang guru yang sama takutnya seperti murid-muridnya sendiri.


"Aneh, kupikir sifat transparan Kuroko ada dalam jiwanya, bukan tubuhnya," Akashi melipat kedua tangannya di depan dada sembari memiringkan kepalanya, menatap Kise yang tengah mengkopi gerakan Aomine Daiki di tengah lapangan Gym dengan bantuan Midorima yang berusaha membiasakan dirinya. Kotak bekal yang terlupakan tergeletak di depan kaki Akashi.

"Yha, namanya saja sifat transparan, harusnya di tubuhnya dong, Akashi-chin," Murasakibara berkomentar dengan sangat tidak membantu, mengambil jeda dari kegiatannya menghabiskan bekal high-quality milik Aomine sebelum mempercepat kecepatan makannya sebelum Aomine menyadari Murasakibara memangsa bekalnya lagi untuk kesekian kalinya.

"Yang punya sifat transparan itu memang tubuhku, Akashi-kun. Setelah berpindah ke tubuh Kise, semua orang menyadariku. Tetapi tidak langsung menyadari," Kuroko berujar sembari menutup kotak bekalnya sendiri dan membuka botol minumnya yang ada di sampingnya.

Aomine mengambil jeda dari kegiatannya men-dribble bola, "Mungkin orang-orang tidak langsung menyadari Tetsu karena Tetsu pendiam, tidak seperti Kise yang pecicilan," seru Aomine yang sangat tidak membantu, sebelum menjauhkan bola dari tangan Kise yang kesal.

"Kata orang yang merusak image Akashicchi!" balas Kise, melompat untuk mem-block lemparan Aomine yang diarahkan ke Midorima, tertawa ketika bola itu tergenggam olehnya.

Aomine berkelit dan berusaha meraih bolanya kembali, tetapi tinggi tubuh Akashi tidak mengizinkannya berbuat demikian. "Aku tidak merusak, aku hanya membuat sebuah improvisasi untuk Akashi!" tegas Aomine, diiringi dengan seringai mencurigakan khasnya.

"Improvisasi gundulmu! Aku jadi malu jika berjalan dengan tubuh Akashicchi sekarang, image Akashicchi sudah sangat hancur, dunia akan hancur!" Kise melempar bolanya ke arah ring basket, mencetak sebuah tiga angka yang hampir tidak masuk karena konsentrasinya pecah, sebelum berlutut dengan dramatis di tengah lapangan, Midorima lalu menjitaknya.

"Jangan berbuat yang aneh-aneh lagi, Kise. Fokuslah. Ancamanku tentang pemotongan anu-mu masih berlanjut, nanodayo," kata Midorima, sembari menaikkan kacamata imajinernya.

Wajah tubuh Midorima belum pernah sepucat itu sebelumnya.

"Omong-omong tentang masalah Midorima dan Aomine, bagaimana rencanamu, Kuroko?" Akashi bertanya sembari menoleh ke arah Kuroko, mengabaikan teriakan histeris dari Kise.

Kuroko mengambil jeda untuk mengambil minumannya, "Karena tinggi Akashi-kun yang tidak memadai bagi Aomine-kun, aku berpikir Aomine-kun harus mengganti semua dunk-nya dengan shoot," sebelum Aomine sempat memotong dari tengah lapangan, Kuroko melanjutkan, "namun karena shoot Aomine-kun juga jadi pendek jaraknya, Midorima-kun harus membantu dan memastikan bahwa shoot itu masuk dengan men-dunk bolanya masuk."

Akashi mengelus dagunya, "Karena Midorima sudah pasti tidak dapat menggunakan shoot tiga angkanya, persentase kita mendapatkan tiga angka di pertandingan berikutnya tipis, jadi kita harus mencetak dua angka sebanyak-banyaknya dengan Kise. Dan jika rencana Kuroko digunakan, kita bisa menambah beberapa angka dengan cara begitu," ujarnya, mengangguk.

Akashi menunjuk keduanya, "Baiklah! Kalian coba. Kise, Murasakibara, bantu mereka."

Aomine dan Midorima saling pandang sebelum melangkah ke posisi mereka, disusul Kise dan Murasakibara yang malas-malasan. Aomine men-dribble bola basket itu sejenak sebelum berkelit ketika Kise berusaha meraih bola itu dari tangannya. Pemuda itu merangsek maju menuju Kise dengan kulit bundar berwarna oranye di tangan, berkelit dan bergerak lincah.

Satu-satunya keuntungan Aomine bertukar tubuh dengan Akashi selain menjadi tuan muda mungkin adalah tubuh yang ringan dan mempermudah Aomine untuk bergerak ke sana-sini.

Aomine mengerem larinya ketika tubuhnya sendiri mendadak menghadangnya, namun ia tidak kehabisan akal dan menghindari tangan Murasakibara sebelum melempar bola ke arah Midorima yang menunggu di dekat ring dengan kedua tangan yang siap menerima shoot.

Tetapi alih-alih bola itu mendarat di tangan Midorima yang sudah menunggu, sang bola dengan sukses mencium Midorima tepat di wajah, lengkap dengan suara 'duak!' keras yang menggema. Untunglah Midorima tidak sampai terjatuh ke lantai, namun wajahnya tetap kesal.

"Aomine kampret! Kau sengaja ya, nanodayo!?" teriak Midorima, emosi.

"Murasakibara tinggi, jadi kupikir aku harus shoot lebih tinggi dari yang seharusnya karena tangan Akashi pendek!" Aomine berusaha membela dirinya sendiri, lelah menjadi kambing hitam yang disalahkan orang terus—walaupun mungkin itu memang salahnya sendiri, sih.

Akashi hanya dapat menghela napas panjang.

Jika mereka tidak juga terbiasa dengan tubuh mereka, mau tak mau, Akashi sepertinya harus meminjam anggota dari string dua dengan alasan Aomine dan Midorima patah tulang, yep.


Pelajaran sejarah kala itu, sang guru memutuskan bahwa ulangan mendadak adalah hal yang tepat dan bijaksana untuk dilaksanakan. Mengundang decak putus asa dari murid-muridnya yang gagal paham mengapa dari semua waktu harus sekarang.

Akashi selesai pertama, tentu saja. Dikumpulkannya kertas ulangan itu ke depan dengan penuh percaya diri. Toh, semua materi itu ada di luar kepalanya, menutup mata pun ia bisa.

Sang guru terdiam sembari menatap kertas Akashi dengan tatapan heran, "Sejak kapan Akashi Seijuuro ada di kelas ini?"

Akashi lupa namanya saat itu bukanlah Akashi lagi.


Jika Akashi lumayan suka pergi ke sekolah berjalan kaki, maka Akashi sangat suka pulang sekolah dengan berjalan kaki.

Selama ini, ia tidak pernah pulang dari suatu tempat dengan berjalan kaki, sama seperti ia tidak pernah berangkat ke suatu tempat dengan berjalan kaki—jangankan jalan kaki, naik kereta saja ia belum pernah. Jadi, mampir ke suatu tempat sebelum pulang adalah sesuatu yang baru bagi Akashi: supermarket, restoran burger, toko buku, game arcade, dan lain-lain.

Bisa dibilang pada dasarnya ia memang tidak butuh pergi ke sana, tetapi bukan itu intinya.

Akashi sangat ingin masuk ke restoran burger yang direkomendasikan oleh Kuroko, tetapi sayangnya, langit senja sudah lama menggelap ketika mereka selesai latihan untuk pertandingan yang akan datang, lampu-lampu jalanan telah lama dinyalakan, dan hiruk-pikuk kota semakin lama semakin ramai—penuh-sesak akan suara. Hari sudah malam, dan Akashi tak tahu akan pulang jam berapa jika dirinya masih kelayapan ke suatu tempat, sendirian pula.

Plus, ini bukan tubuhnya. Rasanya seperti mencuri sesuatu yang tidak bisa dikembalikan kembali. Untuk sekarang, Akashi akan pulang dan menyimpan keinginannya untuk lain hari.

"Aku pulang," Akashi membuka pintu rumah Kuroko. Salam itu masih terasa asing di lidahnya, karena di rumahnya sendiri, ia akan langsung masuk begitu saja. Namun terakhir kali Akashi masuk ke rumah Kuroko tanpa mengucapkan salam, ibu Kuroko memarahinya tentang sopan-santun dan untuk tidak mengejutkan neneknya dengan bayangannya yang tipis.

"Selamat datang," suara nenek Kuroko terdengar dari ruang tengah.

Tidak ada suara atau pun tanda-tanda keberadaan ayah dan ibu Kuroko, mungkin keduanya masih bekerja atau di perjalanan. Seingat Akashi dari pengalamannya beberapa hari di rumah Kuroko, ibu Kuroko akan pulang jam tujuh, sedangkan ayah Kuroko lebih malam lagi.

Akashi mengangguk kepada sang nenek yang sedang menonton televisi dalam sebuah salam yang dibalas senyuman sebelum bergerak menuju kamarnya—Kuroko yang ada di lantai dua.

"Tetsuya, aku sudah makan, hangatkan saja misonya jika kau mau makan, Nak!" seruan sang nenek dari bawah terdengar samar dari balik pintu kamar Kuroko yang tidak tertutup rapat.

"Baik!" Akashi balas berseru, dari balik kesibukannya berusaha mengurai ikatan dasinya.

Setelah melepaskan dasi dan kaos kakinya, Akashi bergerak menuju kamar mandi yang letaknya sudah ia hapal di luar kepala—pintu kiri di ujung lorong lantai dua. Akashi sedang tidak ingin mandi lama-lama, shower terdengar lebih menggiurkan daripada berendam.

Dibuka kancing kemejanya satu-persatu sembari mengecek letak tombol shower yang ada di kamar mandi Kuroko. Iris sewarna biru itu mengerjap ketika malah menemukan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya—sesuatu itu tidak begitu besar, terbilang sedang, warnanya abu-abu tua, menempel di ujung pipa stainless steel tipis yang menempel di dinding kamar mandi, menghadap ke bawah dari ketinggian sekitar satu meter, permukaannya dipenuhi lubang-lubang kecil, dan di bawahnya ada benda mirip gagang keran yang bisa diputar.

Rasa penasaran menguasai Akashi, diputarnya gagang keran itu ke kanan dengan kuat.

Untuk berkata bahwa Akashi terkejut ketika air menyemburnya dari atas adalah sebuah salah paham. Pemuda itu bahkan sempat mengeluarkan teriakan singkat saking terkejutnya ketika air dingin menyembur ke kepalanya. Cepat-cepat diputarnya kembali gagang shower tersebut.

Ditatapnya benda yang kini Akashi yakini sebagai kepala shower itu dengan tatapan intens.

Kemudian, mata biru itu kembali berbinar-binar. Sungguh, Akashi belum pernah melihat shower seperti ini. Karena shower yang ada di rumahnya sama sekali tidak seperti ini. Siapa sangka ternyata rumah Kuroko penuh dengan sesuatu yang menarik? Pertama sereal, lalu ini.

Omong-omong, sebaiknya simpan saja pertanyaan kalian tentang rupa shower Akashi. Percayalah, kalian tidak ingin tahu.

.

.

To Be Continued

.

.

Dilema Arleinne dan Azureinne:

Azu : "Halo, semua! Hai, hai, orang-orang setia yang masih menunggu Kiseki Change!"

Aru : "Halo, halo, terima kasih masih bertahan hingga detik ini juga!"

Azu : "Kiseki Change! Tinggal 3 chapter lagi loh! Wah~ gak kerasa udah chapter tujuh aja. Soal humor di sini, maaf ya kalau agak kering lagi, padahal awalnya Azu pikir Akashi pasti bakal penuh humor, eh pas ditulis ternyata ... Azu bahkan lupa Akashi gimana, orz."

Aru : "Poin laku Akashi di chapter ini cuma karena dia agak norak kayaknya ya ... Saking kaya-nya Akashi bahkan tidak pernah makan sereal, tapi makannya oatmeal mungkin ya."

Azu : "Apa bedanya? Kan Akashi kebalikan sama Aomine..."

Aru : "Yha, bisa jadi bisa jadi. Dan oatmeal bukannya lebih mahal?"

Azu : "Nadanya nyebelin ... oke, lanjut! Review non-login atas nama Guest, ini Akashi dalam tubuh Kuroko sudah kan? Ahahaha, terima kasih sudah menunggu dan mereview! Kemudian untuk Deidara terima kasih sudah mereview!"

Aru : "Btw, chapter berikutnya siapa yang bikin?"

Azu : *tatap Aru*

Aru : *tatap dinding*

Azu : "Baiklah, sekarang Azu dan Aru mengucapkan terima kasih kepada yang sudah mereview, mem-fave, maupun mem-follow, semoga kalian puas dengan chapter ini!"

Aru : "Akhir kata, kami tunggu kalian di kotak review dan terima kasih atas kesudiannya menunggu kami di chapter selanjutnya~"