Tentu saja mereka tidak tegang atau cemas. Dalam kamus mereka tidak ada kata tegang atau cemas.

Tentu saja mereka tidak takut kalah. Kalah tidak mereka kenal dalam perbendaharaan kata-kata mereka.

Toh mereka yakin, entah bagaimana caranya mereka pasti menang.

Tenang saja… mereka punya copy cat paling hebat di seluruh Jepang (yang sekarang sedang berada di tubuh pemuda yang memiliki keakuratan menembak tiada tandingannya di muka bumi ini).

Mereka juga punya shooter yang disebut sebagai prodigy karena tembakannya tidak pernah meleset (yang sekarang sedang berada di tubuh raksasa berambut ungu yang hobi mengunyah).

Ah! Jangan lupakan pemain ahli blocking nomor satu di dunia. Dengan tubuhnya yang paling tinggi diantara kawanannya yang lain, membuat blocking yang ia lakukan memiliki keakuratan 100% (yang sekarang ada di tubuh lelaki eksotis yang disebut-sebut paling berbakat diantara mereka).

Mereka juga punya pemain yang memiliki gaya bermain tidak ada tandingannya di Jepang, lelaki yang memiliki kelincahan yang luar biasa dan energi yang seolah tiada habisnya (yang sekarang berada di tubuh seorang calon penerus sebuah perusahaan besar, yang sepertinya sudah mengacaukan segala aspek kehidupan pemuda berambut merah itu).

Tidak lupa kapten mereka, dengan kecerdasan yang tiada tara dan teknis yang tiada dua (yang berada dalam tubuh sesosok pemuda dengan hawa kehadiran setipis sehelai rambut dibagi tujuh).

Dan senjata rahasia mereka, dewa pengoper yang biasanya diam-diam mengendalikan pertandingan dalam bayang-bayang (yang sekarang hawa kehadirannya jadi sangat menonjol karena berada dalam tubuh model berambut pirang yang biasa tidak bisa diam).

Setelah dipikir-pikir, ada secercah kekhawatiran dari kapten mereka, yang sekarang memakai nomor punggung 15 itu ketika melihat timnya melakukan pemanasan.

Mungkinkah mereka bisa menang dengan kondisi seperti ini…?

.

.

Kiseki Change! is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Arleinne Karale

Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki

Inspired by A picture belong to Akixx ( www . zerochan / 1639628 )

A semi-canon, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing

Read at your own risk

.

.

Akashi Seijuuro dikenal sebagai kapten tanpa belas kasihan. Dengan tangan dinginnya, keahliannya membaca lawan dan membuat strategi membuatnya dijuluki 'Sang Emperor'. Ia tidak pernah gagal membawa timnya menuju kemenangan. Ia tidak pernah ragu akan kemampuannya sendiri maupun kemampuan tim yang dipilihnya.

Tapi mungkin untuk sekali ini, ia meragukan dan mempertanyakan arti eksistensi hidupnya selama ini….

"Kurokocchi, oper kesini!" suara dalam wakil ketua OSIS sekaligus wakil kaptennya itu terdengar… bahagia. Tidak seperti suara Midorima Shintarou pada umumnya. Yeah, jelas saja. terkadang ia sendiri pun masih lupa kalau persona mereka sedang tertukar.

"Ah," suara cempreng, keras, yang biasanya paling berisik diantara mereka berujar dalam diam. Manik cokelat madunya mengamati ketika bola yang harusnya ia oper pada pemuda berambut hijau itu melencek jauh dari jalurnya dan malah memantul ke pojok gym.

"Tidak usah dipikirkan, Tetsu! Oper ke aku saja!" dan tubuhnya berbicara begitu dengan penuh semangat, berikut cengiran yang secerah mentari. Ia bersumpah ia tidak pernah tersenyum selebar itu.

Disisi lain lapangan, raksasa berambut ungu tengah sibuk menghitung jarak pantulan bola dengan ring yang dibidik. Lelaki yang hobi makan itu tampak serius, seperti sedang melakukan hitung-hitungan dalam kepalanya sebelum akhirnya kedua tangannya melemparkan bola… yang pada akhirnya menukik melewati ring, "Tch," suara yang biasanya terdengar malas-malasan itu kini terdengar kesal.

"Akashichin," sebuah tangan menepuk bahunya. Pemuda berkulit eksotis itu memegang makanan ringan di tangannya, sementara mulutnya tidak berhenti mengunyah, "Aku malas bermain."

Sudah berkali-kali ia mendengar keluhan ini, "Kau harus bermain, Murasakibara."

"Tubuh Minechin tidak enak," keluhnya sambil terus mengunyah, "Minechin mudah kenyang. Minechin pendek. Lagipula anunya Minechi itu kec—"

"Apa maksudmu, hah?" kali ini tubuhnya menyerbu sambil mencak-mencak, "Kau saja yang makan terlalu banyak. Dan apa hubungannya pertandingan dengan anuku, hah?"

Akashi Seijuuro bersumpah ia tidak pernah menggunakan kata-kata vulgar sepanjang hidupnya. Dalam satu minggu belakangan ini, sepertinya Aomine Daiki menggunakan mulutnya untuk mengucapkan kata-kata vulgar berkali-kali.

Ditambah manajer mereka tampaknya belum sembuh juga dari sakit misterius yang menderanya. Akashi bisa menebak kalau gadis itu sedang datang bulan, melihat memang seharusnya sudah tanggalnya. Tapi mana ada wanita yang datang bulan selama tujuh hari berturut-turut. Memangnya mereka tidak akan mati kehabisan darah apa?

Sepertinya tidak ada yang bisa diandalkan dalam pertandingan kali ini… Akashi hanya bisa menghela napas melihat tubuhnya dan tubuh Aomine berdebat soal ukuran anu.


Begitu peluti tanda mulai dibunyikan, Murasakibara Atsushi berjuang untuk merebut bola. Segera setelah tangannya menyentuh bola, bola basket itu ia arahkan kepada rekannya yang berambut pirang, Kise Ryouta.

Namun alih-alih menangkapnya untuk dioper pada Ace mereka, pemuda itu mengalihkan laju bola ke kanan, ke arah Ace mereka di ujung lapangan, dekat ring tempat musuh harusnya memasukkan bola.

…oke deh. Ia lupa kalau Kise Ryouta tidak berada di dalam tubuhnya sendiri.

"Aomine, oper!" perintahnya pada lelaki berambut biru gelap dengan kuliat gelap dan kepribadian yang gelap juga.

"Haaaaaah?" pemuda itu teriak dari sisi lain lapangan, "Aku tidak memegang bola," ujar Akashi Seijuuro yang dengan santainya hanya berdiri saja di dekat garis three poin shoot zona lawan.

…oke deh. Ia lupa kalau yang ada di dalam tubuh Aomine Daiki bukan dirinya sendiri.

"Murasakibara, oper!" berpikir cepat, wakil kapten itu memerintah singkat. Kapten mereka tidak bermain, hanya tubuhnya yang bermain disini namun sesungguhnya ia duduk manis di lapangan. Dasar matil!

"Ah, merepotkan," sekali tangkap, pemuda yang seharusnya tinggi itu kemudian melemparkan bola ke arah Midorima Shintarou yang dengan mudah menangkap bolanya.

Ia berdiri, menatap ke arah ring yang sesungguhnya tanpa dosa itu namun ia tatap seolah ring basket adalah hal yang paling menyebalkan di muka bumi ini dan sudah mengutuknya, "Kali ini pasti masuk!" bola melayang dalam lintasan melengkung dengan kecepatan berubah beraturan. Berdasarkan ketinggian ring, kecepatan angin, dan sudut ia melempar, seharusnya bola masuk ke dalam ring dengan sempurna.

Alih-alih mencetak angka, ia malah menyebabkan bola keluar lapangan dan out, membuat wasit meniup pelutinya dengan kencang hingga menggema di dalam gymyang mendadak hening itu.

… oke deh. Ia lupa memperhitungkan kalau tinggi tubuhnya bertambah beberapa centimeter.


Satu-satunya hal dan hanya satu-satunya hal yang bisa dibanggakan dari dirinya di dalam lapangan adalah hawa kehadirannya yang minim dan teknik mengopernya yang tidak ada tandingannya. Tapi sayangnya, tubuhnya yang memiliki hawa kehadiran setipis koloni bakteri dalam media agar itu duduk manis di pinggir lapangan dan sekarang ia berada dalam tubuh lelaki yang paling diinginkan seluruh wanita di Jepang, Kise Ryouta.

Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, sungguh. Karena mengoper dalam tubuh ini tidak terlalu efektif. Sebab, ia terlalu terbiasa dengan operan yang tingginya segitu dan dengan kekuatan segitu. Dalam tubuh ini, tingginya bisa dibilang jadi setengah kali lipat dan kekuatannya berubah menjadi empat kali lipat.

Bahkan Aomine Daiki tampak kesulitan menerima operannya.

… tapi mungkin itu karena bukan Aomine-kun yang ada di dalam tubuh Aomine-kun.

"Kise!" Murasakibara Atsushi berteriak ke arahnya.

"Murasakibaracchi, aku disini tahu!" dan lelaki berambut hijau yang kacamatanya dilepas dan jari-jarinya bebas dari balutan perban itu berteriak nyaring dari sisi lapangan yang lain. Namun terlambat sudah karena bola sudah melaju ke arahnya dan ia tidak mengantisipasinya sebab namanya adalah Kuroko Tetsuya dan bukannya Kise Ryouta.

… tapi mungkin seharusnya ia mulai terbiasa dipanggil Kise Ryouta karena keanehan ini sudah berlangsung selama seminggu.

Hal terakhir yang ia pikirkan sebelum bola jingga itu menabrak wajahnya adalah betapa kasihan wajah model majalah ini karena terkena hantaman bola.

"Kise!"

"Kurokocchi!" well, setidaknya sang pemilik tubuh memanggil nama aslinya, "Kau baik-baik saja Kurokocchi? Aduh aku bahkan bisa merasakan wajahku ikutan sakit."

… tapi mungkin seharusnya ia tidak perlu merasa terbiasa. Karena ia sungguh-sungguh merindukan tubuhnya dan tidak mau merasa nyaman di tubuh orang lain.


Melihat bola jingga itu menghantam wajahnya yang tampan mau tidak mau Kise Ryouta merasa kesakitan, terutama ketika bola itu bertemu dengan hidungnya dan samar-samar terdengar bunyi 'krak'

"Ouch," ujarnya pelan sebelum menghampiri tubuhnya yang terpelanting kebelakang. Samar-samar ia bisa melihat darah keluar dari hidungnya.

Ia sudah bisa menebak kalau tubuhnya akan dibawa ke pinggir lapangan dan digantikan oleh tubuh Kuroko Tetsuya yang terlihat aneh duduk di dekat pelatih dan berbicara dengan sangat formal serta terdengar sangat cerdas membicarakan berbagai macam strategi yang harusnya diterapkan oleh tim mereka, "Lanjutkan, Kuroko!" tubuh itu berujar.

Eh…? Hah…? Jadi tubuhnya tidak digantikan?

Wasit membunyikan peluit dan pertandingan pun dilanjutkan.

Ia mengawasi dengan penuh perhatian arah bergulirnya bola. Ke kanan lapangan, ia ikuti. Ke kiri lapangan ia ikuti. Manik matanya mengawasi dengan saksama ketika tim lawan bergerak dengan lincah dan berusaha memasukkan bola ke dalam ring.

Ia menyeringai ketika gerakan itu terekam sempurna di ingatannya. Dan ia siap menggunakannya.

"Aominecchi, oper ke aku!" terlalu bersemangat Kise berteriak ke arah rekan satu timnya.

"Haaaaaah?" kemudian suara itu terdengar dari belakangnya, "Aku tidak memegang bola, Bodoh! Lagipula mana mungkin aku mau mengoper untukmu!"

Eh…? Hah…? Baiklah. Ia lupa kalau Aomine Daiki tidak berada di dalam tubuhnya sendiri. Kira-kira siapa yang ada di dalam tubuh Amonecchi ya? Kalau tidak segera ingat, bolanya keburu dioper ke tubuhnya lagi yang sudah kepayahan.

"Murasakibaracchi! Oper ke aku!" Kise berteriak.

"Jaga tingkahmu, Kise!" Murasakibara Atsushi balas berteriak. Apa yang salah dari sikapnya sih? Sepertinya tidak ada. Ah, itu dipikirkan belakang saja. Sekarang ia mendapatkan bola dan akan melakukan seperti yang dilakukan kapten tim lawan.

Ia bergerak ke kiri lalu kanan, menghindari pemain yang berniat untuk menghalanginya. Ia berputar sekali, sambil memindahkan bola dari tangan kanan ke tangan kirinya dan kembali ke tangan kanannya lagi. Kise kemudian membidik sebelum melemparkan bola sekuat tenaga.

… hanya untuk bolanya melewati ring dan memantul di lantai belakang ring.

Eh…? Hah…?


"Aominecchi, oper ke aku!" entah sudah berapa kali ia mendengar kalimat itu hari ini. Rasanya kesal bukan main.

Ia adalah Ace. Orang yang notabene mendapatkan operan bukan memberikan operan untuk orang lain. Namun sayangnya tubuhnya dipakai oleh seorang pemain belakang yang kerjanya hanya mengoper dan memblok saja. dan entah mengapa hari ini, bola selalu bergulir ke belakang.

"Aku disini tahu!" serunya kesal.

Hari ini ia belum mendapatkan operan sama sekali. Pemuda berambut ungu dan lelaki berambut hijau terus saja memotong laju operan bola. Dan lelaki berambut pirang itu terus saja mengoper ke belakang.

Sepertinya Kise harus diingatkan kalau Ace mereka ada di dalam tubuh Akashi sekarang.

"Oi, Kise! Oper!" teriaknya.

"Apa? Aku tidak memegang bola, Aominecchi!" ya ampun demi anu Horitaka Mai, kenapa malah Midorima yang menyahut sih?

"Jelas-jelas kau memegang bolanya, Bodoh!" Aomine semakin kesal.

"Aku tidak memegang bolanya tahu!" dan terlambat sudah. Murasakibara menerima operan mulus dari Kise dan mulai membidik lagi.

… bahkan kali ini bidikannya tidak sampai ke ring dan malah ditangkap oleh salah satu anggota tim lawan.

Hari ini bola terus bergulir ke belakang. Dan ia belum mencetak satu pun angka.


"Ah!" apa daya tangannya tak sampai. Dengan mudahnya tim lawan menambah angka dan menjebloskan bola ke dalam ring mereka.

Salahkan tubuh Aomine Daiki yang pendek ini.

Ia mengambil bola dan mulai mendribelnya sebelum mengoper pada tubuh Kise Ryouta.

… yang mengoper lagi ke arahnya.

Ini ada apa sih? Dari tadi Kise mengoper terus ke arahnya.

"Hei, Kisechin jangan oper ke aku terus," Murasakibara Atsushi melempar bola ke arah tubuh Midorima Shintarou yang loncat-loncat kegirangan ketika mendapat bola dan menggiringnya ke zona lawan, "Lempar saja ke Minechin."

Wajah Kise Ryouta tampak kosong selama beberapa saat sebelum manik cokelat sewarna madu itu berpaling kepada lelaki berambut merah yang ada di ujung lain lapangan, "Benar. Kebiasaan, maafkan aku, Murasakibara-kun."

Dan sesungguhnya Murasakibara Atsushi pun lupa kalau yang ada di dalam tubuh Kise Ryouta itu adalah Kuroko Tetsuya yang memang terbiasa memberika operan kepada Aomine Daiki, yang tubuhnya sedang ia kenakan.

"Tidak masalah, Kurochin," dan akhirnya oh akhirnya mereka mencetak angka berkat kapten mereka yang berambut merah yang melakukan selebrasi dengan penuh kemenangan dan gaya yang aneh-aneh.

Hal itu menyebabkan aura-aura tidak enak menguar dari bangku cadangan dan rasanya seperti menonton film horror ketika menyaksikan wajah Kuroko Tetsuya tersenyum seperti seorang psikopat.

Peluit kembali dibunyikan dan permainan dilanjutkan. Bola masih dipegang tim lawan, namun dirinya. Ah salah, maksudnya tubuhnya merebut bola dan mengopernya pada Kisechin. Eh, maksudnya pada Kurokochin. Manik madu lelaki itu menilai keadaan sebentar sebelum akhirnya mengoper bola pada …

… dirinya.

"Maafkan aku, Murasakibara-kun," lelaki itu setengah berteriak. tidak masalah. Ia sudah terlalu biasa mendengar teriakan Kisechin saat latihan, "Kebiasaan."

Dunia ini tidak tahu betapa Murasakibara Atsushi ingin segera kembali ke tubuhnya sendiri.


Pertandingan sudah memasuki quarter kedua dan hasil sama sekali tidak berubah.

"Kau yakin mereka baik-baik saja, Kuroko-kun?" ada yang aneh dengan pemuda di sampingnya ini. Kuroko Tetsuya biasanya pendiam dan tidak banyak bicara. Namun hari ini dia aktif memberikan saran bahkan duduk di sampingnya.

"Tidak masalah, Pelatih," jawabnya tenang, "Mereka hanya sedang menyesuaikan diri."

Menyesuaikan diri terhadap apa, tepatnya? Ia sendiri tidak tahu.

Sesungguhnya banyak hal aneh yang terjadi hari ini pada timnya. Entah mengapa kapten tim mereka, Akashi Seijuuro berkali-kali menggunakan kalimat kasar dan berbicara dengan nada sedikit membentak dan memaksa.

Tidak hanya itu saja, Kise Ryouta yang biasanya sangat cerewet dan berisik sangat, tiba-tiba menjadi pendiam dan luar biasa sopan. Murasakibara Atsushi tiba-tiba membawa lucky item dan Midorima Shintarou mendadak menjadi banyak bicara dan sangat stylish. Aomine Daiki makan terus dan Kuroko Tetsuya jadi banyak bicara.

Jelas ada yang aneh.

Dan kejadian di lapangan itu? Bagaimana bisa Kise Ryouta memberikan operan tak kasat mata dan Midorima Shintarou meniru gerakan kapten tim lawan? Akashi Seijuuro juga melakukan formless shot tanpa cela dan Murasakibara Atsushi melempar dari luar zona tiga poin. Aomine Daiki memilih menjaga barisan belakang dan melakukan blok yang anehnya mengingatkan pada Murasakibara Atsushi.

Tapi sayangnya semuanya gagal dilakukan.

Jelas ada yang aneh.

Tapi apa…?

Dan apakah hari ini mereka, tim yang dijuluki Generation Miracle itu bisa menang?

.

.

To be Continued

.

.

Dilemma Arleinne dan Azureinne:

Aru : "Halo penghuni Fandom Kurobas! Kami kembali dengan chapter terbaru Kiseki Change yang dua chapter lagi akan selesai, yeeeeeeey!" *selebrasi Aomine*

Azu : "Halo, pembaca Kiseki Change! Senang akhirnya Aru bergerak dan menyelesaikan chapter ini, aduh, Azu terharu!"

Aru : "Sebelumnya, terima kasih banyak untuk semua orang yang mereview! Dan juga yang memfav dan memfollow! Mohon maaf kami tidak dapat membalas review kalian satu-satu seperti chapter yang lalu karena kesibukan yang agak sibuk banget, orz."

Azu : "Kesibukan yang sibuk banget itu maksudnya apa, ya ... Btw, apakah chapter ini membingungkan? Gak apa-apa, pas Azu baca, Azu juga bingung. Makanya proses betanya lama, loading terus soalnya," *lirik Aru*

Aru : *lirik tembok* "Yah! Sekali lagi, terima kasih kepada semua orang yang menunggu! Chapter berikutnya adalah milik adikku tersayang yang entah kenapa main pedang terus-terusan, adios!"

Azu : "... Azu membuka donasi sepatu untuk dilemparkan kepada Aru. Silahkan letakkan sepatu yang mau dilempar ke Aru. Tidak hanya sepatu, boleh panci dan pisau juga, kok. Akhir kata, kami menunggu reaksi kalian semua di kotak review! Terima kasih sudah menunggu, dan Azu harap kalian tidak keberatan menunggu chapter 9, uhuk. Sampai jumpa lagi!"