Waktu yang tersisa di dalam pertandingan dapat dihitung dengan jemari, dan untuk berkata bahwa Generasi Keajaiban yang dipuja semua orang tidak mengalami kesulitan seperti pertandingan mereka yang biasanya adalah sebuah dusta. Dusta yang sangat sangat besar.

Mereka tertinggal beberapa angka, dan waktu yang tersisa tinggal sepuluh menit lagi.

Akashi Seijuuro mengetuk kakinya dengan gestur tidak sabar di sisi pelatihnya yang akhirnya memutuskan untuk mengganti seorang pemain dengan dirinya yang ada di dalam tubuh Kuroko Tetsuya, berharap sang pemain bayangan yang sesungguhnya bukan pemain bayangan beneran itu dapat membalik meja dan membawa Teiko kembali ke kemenangan.

Akashi cukup optimis, tetapi wajah rekan-rekannya mengatakan mereka tidak cukup optimis.

Kuroko yang asli—yang kini menghuni tubuh Kise Ryouta—mengangguk ke arah Akashi dan berjalan menuju bangku panjang yang tersedia. Napasnya memburu dan pemuda itu terlihat seperti siap pingsan kapan saja karena tidak pernah bermain selama itu sebelumnya.

Komentar dan bisikan membahana di dalam gymnasium asing tersebut, bertanya-tanya siapa dan dimana pemain yang menggantikan sosok Kise. Akashi hanya dapat menggelengkan kepalanya perlahan, pemuda itu kini mengerti rasanya menjadi seorang tokoh sampingan.

"Akashicchi," Kise yang berada di dalam tubuh Midorima Shintarou memanggilnya. Sepasang iris sewarna peridot berkilat panik begitu Kise melirik waktu yang tersedia untuk mereka. Mereka harus menang; itu pasti. Namun sulit untuk menang jika caranya begini.

Akashi hanya mengangguk ke arahnya kemudian menggesturkan semua temannya untuk berkumpul. Mereka membentuk sebuah lingkaran kecil, mengundang seluruh pasang mata untuk memperhatikan apa yang mereka lakukan, termasuk tim yang mereka lawan hari ini.

Wakil kapten yang terjebak dalam tubuh tokoh sampingan itu mengambil napas, "Teman-teman, aku percaya ini waktunya rencana D."

.

.

Kiseki Change! is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Azureinne Karale

Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki

Inspired by A picture belong to Akixx ( www . zerochan 1639628 )

A semi-canon, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing

Read at your own risk

.

.

Rencana D adalah singkatan dari Rencana Desperate.

Kise tahu itu, karena dirinya dan Aomine Daiki yang memberinya nama, setelah mendengar betapa absurdnya rencana itu meluncur keluar dari bibir rekan mereka yang paling waras tetapi tidak dapat dibilang benar-benar waras juga; siapa lagi jika bukan Akashi Seijuuro?

Rencana D pada dasarnya adalah gabungan dari rencana Kuroko dan rencana Akashi. Aomine yang terjebak di dalam tubuh sang wakil kapten merah akan tetap melempar shoot setiap tangannya mendapatkan bola, dengan dibantu Midorima yang terjebak di dalam tubuh titan Murasakibara Atsushi—yang sejauh ini sudah cukup membantu mereka mendapatkan angka.

Minus beberapa kecelakaan seperti bola yang malah menabrak wajah Midorima, atau bahkan menabrak sesuatu yang seharusnya tidak boleh ditabrak—yang menyebabkan pertandingan sempat terhenti sejenak. Iya, yang itu sebaiknya tidak usah dihitung, dilihat, dan diceritakan.

Bila itu adalah rencana Kuroko, rekan Kise yang brilian, yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan sekarang tampak terlihat setengah hidup di atas bench, maka rencana Akashi berbeda lagi. Kise tidak tahu apakah itu rencana yang brilian, atau malah sangat tidak brilian.

D untuk Desperate; halalkan segala cara untuk mencetak angka.

Kurang-lebih begitulah rencana Akashi.

"Kise!" Akashi mengoper ke arahnya, dengan sangat ajaib tidak bingung yang mana yang Kise seperti Midorima beberapa menit yang lalu. Kualitas wakil kapten memang berbeda ya. "Jangan lupa, rencana D!" Kise menangkap bola yang terarahnya kemudian menyeringai.

"Siap, Akashicchi!"

Iris sewarna peridot itu berkilat sekali ketika seseorang berusaha menghalanginya untuk membuat shoot, dengan sangat cerdasnya tahu bahwa tubuh tempat Kise berada ini memang selalu mencetak angka dengan shoot super mustahil dari ujung lapangan.

Tetapi yang ada di dalam tubuh itu bukanlah Midorima Shintaro, melainkan model terkenal ahli copy-paste; Kise Ryouta. Pemuda yang beberapa saat lalu berusaha keras memasukkan shoot itu mengkopi gerakan seseorang dari tim lawan yang beberapa menit lalu melewati Aomine dengan mudahnya. Bola di tangan Kise pun meluncur dengan mulus ke dalam ring.

"Aa~ah! Memang tidak ada yang mengalahkan jurus sendiri!"

Katakan saja semua orang terkejut begitu tahu Midorima Shintaro ternyata memiliki talenta untuk mengkopi gerakan seseorang.


Rencana D adalah singkatan dari Rencana Desperate.

Jangan tanya apa rencana A, B, dan C, karena semuanya lepas begitu saja dari kepala Aomine Daiki detik setelah ia melangkah masuk ke dalam lapangan dan berusaha keras membedakan yang mana rekannya, dan siapa yang ada di dalam tubuh rekannya.

Rasanya masih aneh melihat tubuhmu berjaga di teritori timmu, kau tahu.

Aomine kesal karena ia tetap terjebak di dalam rencana Kuroko untuk terus melepaskan shoot demi shoot kendati ia sangat ingin melompat dan memasukkan bola ke dalam ring dengan tangannya sendiri. Kenapa Akashi itu sangat pendek? Kenapa tubuh Akashi tidak didesain untuk melakukan dunk? Apakah Akashi pernah melakukan kejahatan pada hidupnya yang dahulu dan tubuh pendek ini adalah hukumannya untuk itu? Tapi kenapa Akashi sangat kaya?

"Aominecchi! Ingat, rencana D loh! D!" Kise dengan sangat ajaibnya tidak salah melempar bola lagi, dan Aomine dengan senang hati menangkap bola yang terlempar ke arahnya.

Waktu semakin tipis, dan block tim lawan semakin menjadi-jadi. Midorima menangkat tangannya di dekat ring, mengindikasikan dirinya di sana. Aomine bisa saja melempar bolanya ke arah Midorima, tetapi anggota tim lawan terlihat sangat menjulang jika dilihat dari perfektif Akashi, dan Aomine ajaibnya tahu bahwa shoot-nya tidak akan sampai.

Persetan dengan semua itu. Aomine ingin dunk, dan ia akan mendapatkanya.

Aomine menurunkan tangannya yang semula membentuk posisi untuk shoot dan menghindari tangan-tangan serta tubuh lawan yang menghalanginya untuk berlari. Tubuh sang wakil kapten yang mini membuatnya jauh lebih gesit, dan seketika, Aomine sudah berada di hadapan ring.

Pemuda itu menyeringai dan mengambil ancang-ancang sebelum melompat. Tetapi setinggi apapun lompatan seseorang dengan ukuran 158 senti, kemungkinan mencapai ring itu tipis.

Aomine mendecakkan lidahnya.

"Apa yang kau lakukan, Aomine, nanodayo! Sadar diri akan tempatmu, nanodayo!" Midorima yang ada di dalam tubuh Murasakibara menerima bola yang dioper oleh Aomine dan dengan mudah memasukkannya ke dalam ring. Mengundang tatapan super iri dari pemuda di dalam tubuh Akashi yang sedang depresi karena kekurangan asupan untuk dunk.

"Aku sudah desperate, Midorima, desperate!" Aomine berseru heboh.

Midorima mendelik kesal, "Desperate-mu kebanyakan sangat tidak penting, nanodayo! Aku potong anu-mu kalau kita kalah karena kau tidak tetap pada rencana Kuroko, nanodayo!"


Sisa waktu sudah di depan mata, dan kedua tim akhirnya seri.

Tim lawan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah, dan tak lama kemudian, Murasakibara menemukan dirinya menghadapi tiga orang yang berusaha menjebol ring Teiko.

"Aominecchi, rencana D loh, D!" Kise berteriak entah dari mana.

"Hah, matamu kemana Kise!? Aku di sini loh!" Aomine berseru di teritori lawan.

"Murasakibara, pass ke sini, cepat!" Akashi mengangkat tangannya. Agak sulit melihatnya di tengah kumpulan orang-orang tinggi, ditambah tubuh Kuroko dan hawa kehadiran tipis yang identik dengan sehelai rambut dibagi tujuh. Waktu terus berjalan, waktu mereka tak banyak.

Murasakibara mulai kesal karena tiga orang di depannya ini mulai sangat mempersulitnya, selain itu, tinggi tubuh Aomine tidak begitu bagus untuk block, tulangnya pendek, dan jika Murasakibara mengulurkan lengannya terlalu cepat, otot-otot lengannya akan mulai nyeri.

Murasakibara berusaha merebut bola, namun lawannya mendadak mengubah posisinya menjadi pass. Bola kemudian meluncur ke sisi lain lapangan, salah seorang dari tim lawan yang semula ikut mengerubungi Murasakibara sudah berdiri di sudut lapangan entah sejak kapan, sang lawan menangkap bolanya dan melompat untuk melemparkan sebuah tembakan.

Bola berkulit oranye itu meluncur di udara dan Murasakibara melompat untuk menghalanginya. Tetapi nihil, bola itu melayang melewati tubuh Aomine hampir tanpa usaha.

Namun kemudian, sebuah tangan mendadak muncul, menangkap bola itu sebelum sang bola meluncur masuk ke dalam ring. Midorima melempar bola itu ke arah Akashi, yang diterima dengan senang hati. Lawan mereka berubah panik dan berlari pergi dari Murasakibara.

"Tubuh tinggimu memang tidak cocok untuk shoot, tetapi kurasa memang sangat cocok untuk berlari dari ujung lapangan, nanodayo," Midorima menaikkan kacamata imajinernya.

Murasakibara tersenyum malas, "Tentu saja, Mido-chin. Anu-ku kan panjang."


Akashi sudah cukup lama memegang bola, jadi alami ketika tim lawan mulai menyadarinya.

Menit telah berubah menjadi detik, dan Akashi terkepung. Iris sewarna lazuardi berusaha keras mencari jalan keluar, Aomine melambaikan tangannya, tetapi pemuda itu terlalu jauh. Mata Akashi—yang sebenarnya bukan milik Akashi—menangkap sosok Kise di tengah lapangan.

Pandangannya bergerak dengan cepat mencari celah. Ia bukan expert dalam pass seperti Kuroko, tetapi ia dapat berusaha. Lagipula bila gagal juga, toh usahanya akan dihitung kan?

Akashi menangkap celah di antara dua anggota tim lawan di depannya dan melempar bolanya ke arah Kise yang lebih dari siap untuk menangkapnya. Tetapi belum sempat sang model yang terjebak di dalam tubuh Midorima itu men-dribble bola, tim lawan mengepungnya.

Kise tidak memiliki pilihan lain selain melempar bola itu kembali ke Akashi.

Akashi berlari dengan bolanya sebelum tim lawan sempat bereaksi, ia merangsek maju ke wilayah tim lawan. Midorima belum kembali dari teritori Teiko, Akashi tidak memiliki pilihan lain selain menyelesaikan ini sendiri.

Aomine bahkan tidak masuk ke dalam kalkulasi karena pemuda yang masih misuh-misuh di dalam tubuh Akashi itu tidak akan bisa memasukkan bola. Tidak tanpa Midorima. Dan tidak karena tinggi tubuh barunya yang sangat tidak memungkinkan Aomine untuk melompat tinggi.

Tubuh Kuroko lebih pendek dari tubuh Akashi, tetapi Akashi akan berusaha.

Akashi mengambil ancang-ancang dan melompat. Langkahnya tidak sampai, dan lompatannya goyah, sang wakil kapten mencondongkan tubuhnya dan melempar bola di tangannya ke arah ring. Tenaga lebih yang ia keluarkan membuat tubuhnya menjadi terdorong ke belakang.

Bola basket itu terpantul ke sisi ring dan berputar sejenak sebelum akhirnya masuk.

Bel tanda pertandingan berakhir pun berbunyi. Teiko Junior High School menang dengan perbedaan tipis, hanya dua angka.

Akashi menghela napas lega. Lupa bahwa ia masih di udara, siap menerjang tanah dengan kecepatan dan tenaga yang pastinya akan membuat beberapa tulangnya berbunyi nyaring.

"AKASHICCHI!"

"AKASHI!"

"AKA-CHIN!"

"TETSU—EH TUNGGU, SALAH! AKASHI!"

"AKASHI!"


Mereka terbangun bersamaan, di dalam ruang kesehatan yang sama tujuh hari yang lalu, minus Nijimura Shuuzo sayangnya.

Kepala mereka semuanya berdenyut, dan salah satu dari mereka bahkan memakai perban di kepala. Satu pandangan kepada satu sama lainnya, dan mereka berlomba menuju kamar mandi. Selimut berterbangan, pintu ganda itu menabrak dinding dengan suara keras ketika keenam manusia itu berlari menuju lorong dengan urgensi yang amat sangat.

Sesampainya di kamar mandi, bayangan di cermin menatap mereka.

"A-Aku kembaliii! Ah, wajahku, tanganku, rambutku, hatiku, aku merindukanmu!" Kise berseru dan memeluk lengannya sendiri, berputar-putar dengan ekspresi bahagia ketika menyadari bahwa akhirnya ia kembali ke tubuhnya yang fashionable, tidak seperti tubuh yang ia huni beberapa jam sebelumnya.

"Aku jadi tinggi lagi, huoh! Dunia sangat indah dari ketinggian ini!" Aomine melompat dan melakukan tarian selebrasi aneh. Ia dan Kise kemudian melakukan tos sebelum kembali melakukan tarian selebrasi di tengah kamar mandi yang hening minus mereka berenam.

"Ah, aku lega kembali," Kuroko berkomentar datar, mengintip ke atas untuk melihat helai-helai sewarna lazuardi yang menyambutnya, bukan rambut pirang sewarna cahaya matahari.

"Akhirnya, nanodayo," Midorima merogoh sakunya untuk mengenakan kacamata yang selalu ia simpan di saku celananya dan merapikan rambutnya yang disisir ke belakang oleh Kise.

Murasakibara menatap cermin dengan tatapan datar sembari mengunyah makanan kecil yang entah ia dapatkan dari mana. "Akhirnya aku bisa makan banyak lagi," katanya kemudian. Sebelah tangannya naik untuk menyentuh perban yang terbalut di kepalanya, dan Murasakibara berjengit ketika ia merasakan nyeri menyengat inderanya.

Akashi hanya menghela napas, lalu tersenyum.

Tetapi kemudian, senyum itu berubah menjadi seringai.

Akashi memiringkan kepalanya, helai-helai sewarna senja jatuh menutupi matanya yang entah mengapa terlihat berkilat jahat. "Dan sekarang karena kita sudah kembali normal. Aku yakin waktunya kita merefleksi pertandingan dan sikap kita selama beberapa hari belakangan?"

Kelima rekannya seketika merapat.

Aomine menggeliat, keringat mengalir dari pelipisnya ketika ia berusaha menjadikan Murasakibara sebagai tameng, "Sepertinya yang kembali normal bukan tubuh kita saja ya."

.

.

Owari

.

.

Dilema Arleinne dan Azureinne:

Azu: *lempar bola basket* "Halo, semua! Terima kasih sudah membaca! Dengan ini, Kiseki Change akhirnya tamat! Chapter berikutnya adalah sebuah omake, atau bahasa kerennya Encore, dan bahasa tidak kecenya adalah bonus~!"

Aru: *tembak confetti* "Terima kasih sudah membaca hingga akhir! Terima kasih atas reviewnya, favnya, follownya, dan kesudiannya mengikuti project ini hingga akhir!"

Azu: "Dengan ini, project collab pertama kami selesai, yeaaay!"

Aru: "Yup, yup! Sekali lagi, terima kasih atas dukungannya selama hemm ... dua tahun belakangan, kami harap kalian puas dengan akhir dari project yang tercetus secara tidak sengaja ini! Oh iya, omong-omong, anu yang di bahas di chapter ini dan chapter selanjutnya itu adalah kaki. Jadi mohon jangan berpikiran macam-macam ya, kufufufufu~"

Azu: "Baiklah, waktunya membalas review! Untuk ShotaKuroko dan juga untuk AbigailNanodayo terima kasih sudah mereview! Kami harap anda senang dengan update kami, dan maaf bila memakan banyak waktu, ahahaha~"

Aru: "Baiklah, sekarang, mari kita bergerak menuju bonusnya. Selamat menikmati~!"

Azu: "Sampai jumpa di project baru kami lain hari~!"